Daily Archives: 27 September 2012

MANTERA SASAHIDAN DALAM TASAWUF JAWA

Seorang teman bertanya tentang sasahidan yang diajarkan oleh guru spiritualnya yang berasal dari Jawa Tengah, yang dipercaya dan diyakininya sebagai mantera sakti. Mengapa demikian?

Kata sasahidan berasal dari bahasa Arab “syahida atau syahadat”, yang berarti kesaksian atau pengakuan iman. Jadi sebagaimana yang kita pahami selama ini, sasahidan atau syah

adat adalah ikrar yang menunjukkan bukti bahwa orang yang mengucapkan kesaksian tersebut telah beriman atau menjadi mukmin. Bagi orang Islam Jawa tempo dulu, dua kalimat syahadat sering disebut Kalimasada (kalimat syahadat), atau juga Sasahidan Taukid dan Sasahidan Rasul. Sasahidan Taukid, ada juga yang mengucapkan Tokid yaitu “Asyhadu an-laa ilaaha illallaah (saya bersaksi bahwa tiada sesembahan – yang haq – selain Allah)”. Sedangkan Sasahidan Rasul yaitu, “Wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah (dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”.

Kata sasahidan juga sering dipakai untuk mengawali wirid sifat 20 (dua puluh) Gusti Allah, sebagai penegasan pengakuan keimanan atas keduapuluh sifat tersebut. Misalkan, “Asyhadu Allah kang tanpa wiwitan, tanpa wekasan, urip tan kena pati ( Aku bersaksi bahwa Allah tidak bermula dan tidak berakhir, lagi hidup kekal selamanya)”.

Dalam perkembangannya, setelah ulama sekaligus pujangga Keraton Kasunanan Surakarta yang tersohor, R.Ngabehi Ranggawarsita (lahir 15 Maret 1802 dan wafat 24 Desember 1873) menulis kitab atau serat “Wirid Hidayat Jati”, muncul sebuah ajaran Sasahidan ajaran Syekh Siti Jenar. Dari kitab Wirid Hidayat Jati ini pula, lahir ajaran untuk tidak menyebut atau pun memanggil asma Tuhan dengan Allah saja, tetapi dianjurkan dengan menambah gelar yang amat sangat terhormat yaitu Gusti, sehingga menjadi Gusti Allah.

Syekh Siti Jenar yang misterius dan legendaris ini dipercaya mengajarkan Wirid Sasahidan yang terkenal sampai sekarang, yang pada umumnya diajarkan secara lisan dari mulut ke mulut oleh para guru spiritual, kebatinan atau pun penganut tasawuf Jawa aliran Syekh Siti Jenar. Padahal siapa sesungguhnya Syekh Siti Jenar, tidak ada bukti sejarah yang kuat yang menyebutkan. Bahkan apakah benar itu ajaran Syekh Siti Jenar ataukah Ranggawarsita? Ataukah pujangga-pujangga penulis kisahnya pada empat abad kemudian? Waallahualam.

Kisah tentangnya, pun ajaran-ajarannya, ditulis sekitar tiga atau empat abad kemudian. Beliau konon berkiprah pada masa kejayaan Wali Songo dan Kesultanan Demak pada awal abad ke 15, namun kisahnya baru ditulis dalam “Serat Centini” (periode 1814 – 1823), kitab “Wirid Hidayat Jati” sebagaimana di atas dan dalam “Serat Siti Jenar” pada abad ke 19.

Wirid Sasahidan yang merupakan inti sari ajarannya tersebut adalah sebagai berikut:

Ingsun anekseni ing datingsun dhewe
Satuhune ora ono pangeran among ingsun
Lan nekseni satuhune Muhammad iku utusaningsun
Iya sejatine kang aran Allah iku badaningsun
Rasul iku rahsaningsun
Muhammad iku cahyaningsun
Iya ingsun kang urip tan kena ing pati
Iya ingsun kang eling tak kena lali
Iya ingsun kang langgeng ora kena owah gingsir ing kahanan jati
Iya ingsun kang waskitha ora kasamaran ing sawiji-wiji
Iya ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana ora kekurangan ing pakerti
Byar
Sampurna padhang terawangan
Ora kerasa apa-apa
Ora ana katon apa-apa
Mung ingsun kang nglimputi ing alam kabeh
Kalawan kodratingsun.

Artinya:

Aku bersaksi di hadapan Dzat-ku sendiri
Sesungguhnya tiada tuhan selain Aku
Aku bersaksi sesungguhnya Muhammad itu utusan-Ku
Sesungguhnya yang disebut Allah itu badan-Ku
Rasul itu rasa-Ku
Muhammad itu cahaya-Ku
Akulah yang hidup tidak terkena kematian
Akulah yang senantiasa ingat tanpa tersentuh lupa
Akulah yang kekal tanpa terkena perubahan di segala keadaan
Akulah yang selalu mengawasi dan tidak ada sesuatupun yang luput dari pengawasan-Ku
Akulah yang maha kuasa, yang bijaksana, tiada kekurangan dalam pengertian
Byar
Sempurna terang benderang
Tidak terasa apa-apa
Tidak kelihatan apa-apa
Hanya aku yang meliputi seluruh alam
Dengan kodrat-Ku

Di samping Wirid Sasahidan tadi, sering pula kita menjumpai wiridan syahadat atau sasahidan yang lain, misalkan “Syahadat Sakarat Wiwitane Pati (Syahadat Sakarat Permulaan Kematian)”. Syahadat ini dianjurkan untuk jadi bacaan wirid bagi orang-orang yang mendekati ajal, atau orang-orang yang sudah bisa melihat akan akhir hayatnya, yang berbunyi:

“Ashadu ananingsun,
anuduhake marga kang padhang,
kang urip tan kena ing pati,
mulya tan kawoworan,
eling tan kena lali,
iya rasa iya rasulullah,
sirna manjing sarira ening,
sirna wening tunggal idhep jumeneng langgeng amisesa budine,
angen-angene tansah amadhep ing Pangeran.

Artinya:

Aku bersaksi tentang keberadaanku,
yang menunjukkan ke jalan yang terang,
yang hidup dan tidak akan mati (kekal abadi),
yang mulia dan tidak ternodai,
yang senantiasa ingat dan tidak memiliki sifat lupa,
iya rasa ini ya Rasulullah,
hilang masuk meresap ke badan yang hening,
hilang menyatu dengan keabadian menguasai perbuatan baiknya,
angan-angannya senantiasa menghadap Sang Pangeran (Gusti Allah)”.

Tak kalah menarik dari sasahidan ala Jawa Tengahan, di daerah yang konon banyak disebut sebagai daerah asal Syekh Siti Jenar, yaitu Cirebon juga tercipta berbagai Syahadat, antara lain Syahadat Gunung Jati dan Syahadat Urip. Syahadat Cirebon – Gunung Jati misalkan:

Niat ingsun syahadat cirebon,
lir gua gunung jati,
cameti astana popoh,
penggotekan petaunan,
murup mancur cahyane Allah,
rat jagat urip innsun,
ngadeg aken Cirebon kersane Pangeran
lailaha ilallah muhammadurrasulullah,

Sedangkan Syahadat Urip berbunyi:

Asyhadu urip tan kena ing pati,
ilaha raga tan kena ing lara,
illallah wit tanpa wiwitan,
dzat les dzat les tanpa wekasan,
sahadat jati tegang pati,
sahadat kagawa mati,
les pangeran tandana ,
kari yahu tanda sawiji,
kalbu putih tanpa dzat les,
pangeran muliya kang putih ratna gumilang
numawa rasa mulya menter putih,
rat kerat.

Jika Syahadat Gunung Jati menggambarkan tentang niat, tekad dan semangat sekaligus doa untuk mendirikan Kesultanan Cirebon yang dilimpahi nur ilahi serta ditutup dengan dua kalimat syahadat, maka Syahadat Urip merupakan inti sari dari gabungan Wirid Sasahidan dan Syahadat Sakarat Wiwitane Pati.

Kelima contoh Sasahidan tadi, yaitu tiga versi Surakarta dan dua versi Cirebon, menunjukkan adanya berbagai jenis persaksian. Ada kesaksian tentang sifat-sifat Gusti Allah, ada tentang “manunggaling kawulo – Gusti (wahdatul wujud atau penyatuan hamba dengan Allah)”, ada tentang niat dan doa untuk mendirikan Cirebon (Kesultanan) dan ada pula tentang penguatan tauhid sebagai persiapan menghadapi kematian. Namun dari sekian banyak sasahidan, yang paling terkenal karena disamping digunakan sebagai judul wiridan, juga merupakan inti ajaran wahdatul wujud dari Syekh Siti Jenar, yaitu Wirid Sasahidan tersebut. Hanya saja, banyak pro kontra tentang makna dan hakekat wirid ini. Bahkan di antara sesama penganut tasawuf. Sedangkan sasahidan yang lain sudah mulai dilupakan.

Mengenai pertanyaan apakah berbagai sasahidan itu, khususnya sasahidan Sifat Dua Puluh, benar merupakan mantera sakti? Terpulang kepada kita, sebagaimana kita juga selama ini menyikapi serta meyakini berbagai bacaan wirid atau zikir yang lazim diamalkan, misalkan wiridan asmaul husna.
Semoga berkenan.
Subhanallah walhamdulillah.

Beji, 25 September 2012.

9 Comments

Filed under Uncategorized