Suluk, tembang dakwah Walisongo (6): SLUKU – SLUKU BATOK PLESETAN JAWA – ARAB

Ada satu tembang dolanan yang sekilas seperti sepenuhnya berbahasa Jawa, tetapi sesungguhnya merupakan gado-gado atau bahkan “plesetan” bahasa Jawa  – Arab. Plesetan adalah sebuah permainan pengucapan kata-kata, dari kata-kata asli yang biasanya merupakan bahasa asing ke dalam bahasa Jawa atau Indonesia, dengan lafal yang mirip.

Penulis masih ingat, pada akhir tahun 1960-an sampai awal 1970-an, lagu Bee Gees “It’s Only Words” sedang ngetop di kota pelajar Yogyakarta. Lagu yang dimulai dengan kalimat:

“Smile an everlasting smile

A smile can bring you near to me

………………. dan diakhiri dengan kalimat:

It’s only words and words are all I have

To take your heart away”,

diplesetkan oleh  kawan para mahasiswa  pendatang sebagai berikut:

“ Senyum selalu tersenyum

Senyum bikin perut kenyang

…………………………………..

Ra iso ngliwet ora duwe duwit

Duwite mlayu wae”, maksudnya “ Tidak bisa ngliwet (menanak nasi), tidak punya uang. Uangnya lari terus”.

Plesetan seperti ini lazim terjadi di Jawa. Salah satu tembang dolanan ciptaan Sunan Giri, yaitu “Sluku – Sluku Batok”, juga diduga merupakan hasil plesetan dari tembang yang aslinya berbahasa Arab, karena baris pertamanya tidak ada artinya di dalam bahasa Jawa. Tembang “Sluku – Sluku Batok” versi masyarakat awam seperti halnya penulis sewaktu kecil adalah:

Sluku – sluku batok

Batoke ela – elo

Sri Rama menyang Solo (kutho)

Oleh – olehe payung mutho

Mak jentit lolo lobah

Wong mati ora obah

Yen obah medeni bocah

Yen urip goleko duwit.

Tembang ini enak lagi mudah dinyanyikan serta kental dengan nuansa  Jawa. Namun demikian ternyata sulit dicerna maknanya. “Sluku” terkesan seperti suku yang berarti kaki. Tetapi sluku tidak ada artinya. Sedangkan “batok”, mempunyai dua arti yaitu tempurung kelapa dan tempurung kepala. “Ela atau elo” bisa berarti ukuran panjang yaitu 0,688 meter. Tapi bisa juga berarti menarik. Dalam konteks lagu ini, kependekan dari kata “gela – gelo”, maksudnya kepala (batok) menggeleng ke kanan – kiri.

“Sri Rama”, bisa berarti ayahanda, bisa juga berarti nama tokoh wayang Sri Rama dalam kisah Ramayana. “Menyang Solo (kutho)”, pergi ke Solo (atau ke kota). “Oleh – olehe payung mutho”, oleh – olehnya payung besar dari bahan kertas yang biasa dipakai untuk menaungi jenazah. “Mak jentit lolo lobah”, sulit diterjemahkan, tapi bisa ditafsirkan sebagai gerakan mendadak. “Wong mati ora obah”, orang mati tidak bergerak. “Yen obah medeni bocah”, jika bergerak (maksudnya orang mati tersebut), akan membuat anak kecil ketakutan. “Yen urip goleko duwit”, jika (masih) hidup carilah uang. Nampak bahwa makna secara keseluruhan kurang jelas.

Sementara itu versi kalangan pesantren jauh berbeda yaitu:

Ghuslu-ghuslu bathnaka

Bathnaka lailaha illallah

Sharima yasluka

Lailaha illallah hayun (wal) mauta

Mandzalik muqarabah

Hayun (wal) mauta innalillah

Mahabbatan mahrajuhu taubah

Yasrifu innal khalaqna insana mindhafiq (diambil dari Surat At Thaariq ayat 5 – 6, “Fan yanzhuril insaanu mimma khuliq. Khuliqa mim maa-in daafiq).

Artinya:

Sucikanlah batinmu

Batin senantiasa berzikir lailaha illallah

Ambillah jalan masuk

Esakan Tuhan selagi hidup (sebelum maut tiba).

Siapa yang ingin dekat dengan Allah

Hidup dan mati itu milik Allah

Kecintaan menuju pertobatan

Perhatikanlah, manusia itu diciptakan dari apa, ia diciptakan dari air yang memancar.

Dibanding tembang dolanan karya Sunan Kalijaga yakni “Gundul-Gundul Pacul”,  “Sluku – Sluku Batok” sangat kental kandungan Al Qur’annya. Hal itu sangat wajar karena ia digubah oleh Sunan Giri yang merupakan tokoh Islam Putihan yang tidak suka berputar-putar, tidak suka menggunakan tamzil dan sejenisnya. Meskipun demikian, satu persamaan para wali di masa itu, mereka sama-sama menggunakan media kesenian sebagai media dakwah.

Sungguh luar biasa pemahaman mereka mengenai cara berkomunikasi dan berdakwah ke masyarakat. Mereka tidak menggunakan pedang dan menumpahkan darah. Tidak juga dengan mengobarkan kebencian dan permusuhan, tidak menakut-nakuti dengan ancaman api neraka, melainkan dengan kelembutan dan kasih sayang. Sungguh kita patut berterimakasih kepada mereka, dan bersyukur kepada Gusti Allah Swt. Karena dengan semua itu, kita menjadi umat yang memperoleh hidayah cahaya keislaman seperti sekarang ini.

Subhanallah walhamdulillah.

 

Depok, 6 Maret 2013.

About these ads

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s