Tarekat, Banyak Jalan Menuju Allah.

Banyak jalan ke Roma, namun jauh lebih banyak lagi jalan menuju Gusti Allah. Tarekat atau jalan menuju Allah, adalah jalan untuk melaksanakan ajaran serta hukum-hukum Islam sebagaimana diuraikan dalam syariat, yang tidak terbatas jumlahnya. Karena sesungguhnya, jalan untuk mengenal serta menuju Allah itu sebanyak jiwa hamba-hamba-Nya.

 

Setiap hamba Allah dapat memilih serta menentukan jalan yang akan ditempuh, yang dirasakan paling cocok baginya. Bisa dengan jalan zikrullah, bisa dengan sebaik-baiknya melaksanakan rukun iman dan rukun Islam, bisa dengan melaksanakan sebanyak-banyaknya ibadah sunah, bisa dengan berkhalwat, bisa dengan sebanyak-banyaknya melakukan amal saleh dan lain-lain, asalkan jalan itu tidak meninggalkan apalagi bertentangan dengan syariat dan sunah Nabi.

 

Pengertian tentang tarekat menurut Prof.Dr.H.Abubakar Aceh, bermula dari suatu cara mengajar atau mendidik, namun lama kelamaan meluas menjadi kekeluargaan atau  kumpulan, yang mengikat penganut-penganut tasawuf yang sepaham dan sealiran, guna menerima ajaran-ajaran dan latihan-latihan dari pemimpinnya dalam suatu ikatan.

 

Perkumpulan atau ikatan yang kemudian disebut aliran tarekat tertentu itu, tumbuh pesat pada zaman kemajuan Baghdad abad ke-III dan ke-IV Hijriah, tatkala kekuasaan kerajaan Islam berkembang dan pesona dunia lebih mendominasi kehidupan keseharian dibanding keagamaan. Pola hidup yang berorientasi kebendaan dan kemewahan tumbuh subur melunturkan iman dan tauhid, merusak akhlak dan moral. Hal itu memprihatinkan sejumlah ulama, yang kemudian berusaha  memperbaiki kehidupan kerohanian dengan mengembalikan umat kepada kehidupan Islam seperti yang pernah terjadi di masa Nabi Muhammad Saw. Lalu mereka mengumpulkan pengikut-pengikutnya, mengajar dan melatihnya secara khusus, menggunakan amalan zikir, wirid dan doa yang khusus pula, sehingga kemudian berkembang menjadi perkumpulan-perkumpulan tarekat sebagaimana kita kenal sekarang.

 

Prof.K.H.Ali Yafie mengibaratkan perkumpulan tarekat yang seperti itu dengan sekolahan. Perkumpulan-perkumpulan tarekat memiliki metodologi pendidikan bermacam-macam dalam mengembangkan tasawuf. Maka jika dalam pengembangan ilmu pengetahuan ada bermacam-macam sekolah, demikian pula dalam pengembangan tasawuf ada berbagai macam tarekat. Jadi tarekat itu merupakan pelembagaan untuk mengembangkan tasawuf.

 

Demikianlah Sahabatku,

 

Matahari siang tenggelam oleh malam

matahari kalbu tiada pernah

Siapa yang mencintai Sang Kekasih

‘kan terbang sayap rindunya

menemui Kekasihnya.

(Al-Ghazali dalam Raudhatut Thalibien wa ‘Umdatus Saalikien).

 


 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Memaknai Kalimat Basmallah

Bismillaahir rahmaanir rahiim.
Hari ini kita mengawali aktivitas kehidupan kita dengan mengucapkan sekaligus memasang niat, bismillaahir rahmaanir rahiim atau dengan asma Allah Yang Maha Pengasih (atau Pemurah) lagi Maha Penyayang. Bacaan basmallah tersebut bukan hanya kita baca setiap pagi saja, tapi juga kita baca setiap akan memulai sesuatu kegiatan.
Dengan berani kita telah sering membawa asma Allah dalam setiap kegiatan kita. Tahukah, sadarkah kita akan konsekuensinya? Kebanyakan dari kita hanya yakin, dengan membaca basmallah, maka kegiatan kita akan memperoleh ridho dan perkenan dari yang kita sebut asmaNya tadi, yaitu Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Karena kemurahan, karena kasih dan sayangNya, maka kegiatan kita akan terlaksana sesuai kehendak kita. Itu betul. Namun ada sisi konsekuensi yang lain yang sering kita lupakan.
Lantaran kita sudah membawa-bawa asmaNya, bak seorang Menteri, Direktur Jenderal atau Gubernur yang telah mengatasnamakan Presiden untuk menjadi dasar kekuatan tindakannya, maka kita memperoleh sugesti diri yang besar. Tetapi sugesti besar ini baru akan menghasilkan sesuatu yang positif, apabila kita memperoleh ridho atau perkenanNya. Dan ridho akan turun jika kita juga betul-betul mamahami dan menghayati makna Pengasih (Pemurah) dan Penyayang serta sungguh-sungguh taat kepadaNya, melaksanakan perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya. Jangan sampai terjadi, sesudah membaca basmallah perilaku dan perbuatan kita justru bertentangan. Zalim dengan menyerobat atau mengambil hak-hak orang lain, baik yang hanya nampak sepele berupa menyerobot hak pengendara lain di jalanan, maupun hak-hak rakyat banyak dengan melakukan korupsi, serakah, menipu, memfitnah serta perbuatan-perbuatan lain yang tidak sesuai atau bertentangan dengan makna pengasih dan penyayang, apalagi melanggar larangan-laranganNya.
Semoga kita memperoleh ilham untuk bisa senantiasa menghayati dan mengamalkan makna kebesaran asma-asmaNya. Aamiin.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Tasawuf Al Ghazali dan 3 Tingkatan Bersuci Dalam Serat Centini

800×600


 

Dengan mengajarkan ilmu pengamalan dan pembukaan hati (mu’amalah wa mukasyafah), Al Ghazali menceburkan diri ke dunia tasawuf. Namun ia tidak melibatkan diri ke dalam aliran hulul (peleburan antara Tuhan dan manusia, Tuhan menjelma ke dalam insan), ittihad (manunggaling kawulo Gusti, Tuhan dan hamba berpadu menjadi satu), wahdatul wujud (yang ada hanya Satu, alam merupakan penampakan lahir Tuhan) atau aliran-aliran tasawuf lain yang sedang mekar pada zamannya. Buya Hamka dalam bukunya Tasauf Moderen, menyebut Al Ghazali sebagai “orangtua dan kiblat dari segala tabib jiwa”.

 

Al Ghazali menurut Prof.Dr.Muslim Ibrahim MA  dari Banda Aceh (dalam kitab kajian Minhajul Abidin terbitan Yayasan Al Ghazali, Bogor), juga menentang keras orang tasawuf yang mengingkari ibadah ritual. Malahan menurutnya, ibadah ritual perlu dikembangkan dan dipelihara dengan menanamkan arti, makna dan rahasia amaliyah di baliknya. Sebagai contoh bersuci atau berwudhu, menurutnya tidak cukup sekedar menuangkan air dan membersihkan badan dari kotoran, tetapi jauh lebih sempurna dari itu, yakni harus meliputi:

 

1.   Membersihkan lahir (anggota-anggota badan) dari hadats dan berbagai kotoran.

2.   Membersihkan hati dari tingkah laku dan akhlak tercela.

3.   Mensucikan anggota badan dari perbuatan-perbuatan dosa.

4.   Membersihkan diri dari pengabdian selain Allah Swt.

 

Berdasarkan ajaran Al Ghazali yang seperti itulah, para penganut tasawuf di Jawa abad ke 18 – 19 mengajarkan 3 (tiga) tingkatan bersuci dan 4 (empat) tingkatan sembahyang, yang bukan hanya sekedar aktivitas lahiriah semata, tapi juga rasa batin, yang harus  dilanjutkan dengan menempuh perjalanan batin.

 

Dalam kitab Centini, tiga tingkatan bersuci itu ialah yang pertama, bersuci membersihkan badan atau raga dengan air sebagaimana kita kenal dengan berwudhu dan mandi. Kedua, bersuci membersihkan mulut, sehingga mulutnya menjadi suci baik dalam hal makan dan minum maupun dalam bertutur kata. Ketiga, bersuci membersihkan hati. Adapun empat tingkatan sembahyang yaitu pertama, sembah raga. Ini sama dengan salat sesuai syariat. Kedua, sembah cipta yang bisa disamakan dengan tarekat. Ketiga, sembah jiwa atau hakikat dan keempat, sembah rahsa adalah makrifat. Ketiga tingkatan bersuci dan keempat tingkatan sembahyang tersebut harus dilaksanakan secara utuh, lengkap dan tidak boleh hanya salah satu saja.

 

Perjalanan seorang salik atau murid dalam mempelajari tasawuf sampai mencapai makrifat, diuraikan secara panjang lebar dengan sangat indah oleh Al Ghazali di dalam Minhajul ‘Abidin, yang harus melalui 7 (tujuh) tanjakan. Pertama, tanjakan ilmu dan makrifat. Kedua, tanjakan taubat. Ketiga, tanjakan penghalang. Keempat, tanjakan godaan. Kelima, tanjakan pendorong. Keenam, tanjakan pencela dan ketujuh, tanjakan puji syukur.

 

Oleh Kyai Ali Yafie, kajian tasawuf Al Ghazali tadi disarikan secara sederhana dalam empat kelompok besar. Pertama, mawaahidul ilmi, yaitu memberikan pengertian dasar. Manusia sebelum bekerja atau beramal harus ada ilmu, harus memahami masalahnya. Kedua, sesudah memiliki ilmu baru melakukan amal, yang menjadi sasaran untuk mencapai pengabdian.  Dalam hal ini, ada amal pengabdian langsung kepada Allah dan ada yang lewat interaksi dengan sesama manusia. Yakni amal ibadah dan amal muamalah. Ketiga, al-muhlikat, yaitu mengenai hal-hal yang menggiurkan atau mengancam keselamatan dan kesehatan batin. Di sini diuraikan virus-virus yang menimbulkan penyakit di dalam batin manusia, berupa berbagai sifat dan kebiasaan. Keempat, al-munjiyat atau terapi, yaitu hal-hal yang menjadikan manusia berpeluang untuk memiliki kalbu yang sehat, kuat dan bisa menyebabkan manusia menikmati hidup ini, di dalam mengabdi kepada Allah Swt.

 

Di dalam karyanya yang terbesar dan termasyhur, yang menjadi bacaan wajib pesantren-pesantren di Indonesia, yaitu kitab Ihya Ulumiddin atau menghidupkan ilmu agama, Al Ghazali  menegaskan bahwa agama Islam dengan tasawufnya, pada dasarnya mendidik manusia agar memiliki akhlak yang mulia dan terpuji, sebagaimana yang dimiliki oleh Kanjeng Nabi Muhammad dan para sahabatnya.

 

Semoga.

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Ikhlas itu Ibarat Garam dan Akar.

Seorang sahabat bertanya, ikhlas itu yang bagaimana? Yang seperti garam, tanpanya semua makanan akan menjadi hambar, tapi ia sendiri tidak menampakkan wujudnya di dalam makanan tersebut.

Ikhlas itu juga ibarat akar dari sebatang pohon. Karena akar yang sehat, maka pohon bisa tumbuh dan berkembang, memiliki dahan, ranting daun dan bunga yang mengundang decak kekaguman orang. Namun orang tidak pernah memuji sang akar yang memang tidak nampak mata, yang sudah cukup puas bersembunyi di dalam tanah. Dari sikap akar yang seperti itulah pohon menghasilkan buah-buah amal soleh nan lezat. Menghasilkan madu yang bermanfaat bagi kesehatan manusia serta aneka keberkahan lainnya. Selamat menghayati filosofi garam dan akar ya sahabatku.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Ancaman Perang Ibnu Arabi & Al Ghazali

 

Guru Besar tasawuf Muhyiddin Ibnu ‘Arabi (1165 – 1240M), juga berani menulis surat kepada Sultan Mesir Malik Kamil tatkala Sang Raja menolak berperang melawan tentara Salib, “Engkau Pengecut! Ayo bangkit ke medan perang! Atau kami akan memerangi engkau seperti memerangi mereka!” tulisnya.

 

Ibnu ‘Arabi dikenal sebagai salah seorang sufi terbesar dalam dunia Islam, bahkan seorang pemikir mistik besar. Tetapi karena pemikiran-pemikirannya yang kontroversial, beberapa ulama yang lain seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnu al-Jauziah, mengkafirkannya. Ia juga pernah memberikan uraian tertulis terhadap kitab Khal’u an-Na’laini, yang oleh Ibnu Khaldun dianggap bid’ah.

 

Pemikiran tasawufnya yang sangat terkenal dan banyak pengikutnya di Indonesia adalah wahdatul wujud, yakni yang ada itu hanyalah satu, yaitu Tuhan. Segala yang ada selain Tuhan hanyalah penampakan lahir dari Yang Satu itu. Keberadaan yang banyak, yaitu makhluk, tergantung keberadaan Yang Satu, sebagaimana keberadaan bayang-bayang yang tergantung pada keberadaan suatu benda.

 

 

Al Ghazali Juga Pernah Mengancam Raja.

 

Sangat risau mendengar kekalahan dan penderitaan kaum muslimin di Andalusia, Ulama Agung Al Ghazali (1058 – 1111M)  menulis surat kepada Raja Maghribi, Yusuf Ibn Tasyfin sebagai berikut: “Pilihlah salah satu di antara dua. Memanggul senjata untuk menyelamatkan saudara-saudaramu di Andalusia, atau engkau turun tahta untuk diserahkan kepada orang lain yang sanggup memenuhi kewajiban tersebut”.

 

Demikianlah Sahabatku, tulisan tentang uzlah, kelembutan dan juga kekerasan hati para ulama tasawuf. Kami kemukakan sebagai suri tauladan tentang keberanian ulama menghadapi kekuasaan. Ulama harus tegak menjaga fungsinya sebagai pemegang amanah Allah, penjaga waris nabi-nabi serta  penegak keadilan dan jangan sebaliknya tunduk apalagi menutup mata dan mendukung kezaliman. Dalam sejarah, ulama-ulama tasawuf juga sangat peduli  dengan keadaan sosial serta kehidupan masyarakat di sekelilingnya dan tidak sibuk dengan dirinya sendiri saja.

 

Mengenai rakyat, penguasa dan ulama, Al Ghazali dalam kitab “Al-Tibbr Al-Masbuk fi Nasihat Al Muluk atau Nasihat Bagi Penguasa”, menyatakan watak dan perangai rakyat merupakan buah atau hasil dari watak dan perangai para pemimpinnya. Sebab keburukan yang dilakukan orang awam hanyalah meniru dan mengikuti perbuatan para pemimpinnya. Karena itu pada hematnya, rusak rakyat karena rusak umarohnya, dan rusak umaroh karena rusak ulamanya, rusak para cendekiawannya.

 

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Ulama-Ulama Tasawuf Berani Berperang & Berani Memperingatkan Penguasa

800×600


 

Meski berusaha menghindari perang fisik, sejarah mencatat, tatkala pasukan Khalifah Bani Abbas di Baghdad terdesak dan Iraq luluh lantak seperti awal abad ke-21 ini, maka para futuwwah sufiah, para pahlawan tasawuf yang rela mengorbankan kesenangan diri termasuk harta dan keluarganyalah, yang berhasil menghalau musuh, menyelamatkan wilayah-wilayah Islam serta menjaga perbatasan.

 

Pada tahun 1258 M, lebih dari 200.000 tentara Mongol di bawah kepemimpinan Hulagu Khan (cucu Jengis Khan), menyerbu Iraq serta menumbangkan kekuasaan  Bani Abbasiyyah, bahkan Khalifahnya yaitu Al Musta’shin dipenggal kepalanya.  Mengerikan sekali, bukan hanya Istana yang dihancurkan, tapi seluruh bangunan di Baghdad diratakan dengan tanah, seluruh warga kota dibunuh, kecuali segelintir yang berhasil meloloskan diri. Semua bukti-bukti peradaban Islam termasuk buku-buku perpustakaan terbesar di dunia dimusnahkan. Seluruh kebudayaan Islam yang sudah dibangun berabad-abad hancur lebur. Sementara itu 800.000-an rakyat jelata, wanita dan anak-anak tewas mengenaskan di bawah tapak kaki kuda tentara Mongol yang ganas itu, diinjak dengan tapak kaki kuda, dipermainkan dengan ujung tombaknya, dibedah dan dibelek  perutnya dengan alasan mencari permata yang ditelan.

 

Pada saat itulah, tatkala balatentara Islam hancur-lebur, ulama-ulama tasawuf yang secara fisik pada umumnya kelihatan lemah dan rapuh, bangkit mengorganisasikan umat, menggelorakan semangat mereka dengan tausiah serta zikir-zikirnya, mengobarkan perlawanan. Ulama-ulama sufi yang penyair seperti Fariduddin Attar dan Jalaluddin Rumi, menggubah syair-syair yang menggambarkan kepedihan atas kehancuran Baghdad, dan kemudian menggelorakan kebangkitan kembali urat nadi kekuatan Islam menjadi balatentara Allah yang perkasa, yang pada akhirnya berhasil menumbangkan Pasukan Mongol. Bahkan cucu Hulagu Khan yaitu Mahmud Ghazan 37 tahun kemudian, tepatnya pada periode 1295 – 1304,  memeluk Islam dan membangun kembali perabadan Islam.

 

Sejarah telah mengajarkan dan membuktikan,  menganut tasawuf tidaklah berarti asyik dengan dirinya sendiri dan acuh tak acuh terhadap kehidupan sosial-kenegaraan, tapi justru amat peduli terhadap terwujudnya rahmat bagi alam semesta, serta bertanggungjawab terhadap bangsa dan negaranya. Semua itu diniatkan sebagai ibadah dan amal saleh selaku pengemban amanah Allah di muka bumi,  dan bukan untuk memuaskan dahaga pesona dunia.

 

Banyak pengamat dunia yang takjub tak menyangka,  Islam cepat bangkit dan pulih kembali setelah diserbu  Perang Salib dan diluluhlantakkan nyaris  sampai  keakar-akarnya oleh Balatentara Mongol, sampai akhirnya mereka menemukan bahwa sumber  kekuatan Islam itu tidak terletak pada kekuatan yang nampak dari luar, melainkan tersembunyi di dalam lubuk Islam yang dalam, terpilin dengan urat nadinya, dan urat nadi itu ialah tasawuf serta ajaran sufi dalam berbagai bentuk dan coraknya. (Brakell Buys dalam Pengantar Ilmu Tarekat Uraian Tentang Mistik,  Prof.Dr.H.Abubakar Aceh halaman 18 sampai dengan 21).

 

Contoh ulama tasawuf lain yang juga sangat peduli terhadap kehidupan masyarakat adalah Syekh ‘Izzuddin Ibn ‘Abdissalam  (1181 – 1262M). Ulama tasawuf yang diagungkan ini tidak hanya berpangku tangan asyik dengan dirinya sendiri, sampai-sampai berfatwa: “Wajib menangkap raja-raja Mamaluk  yang berkhianat kepada kaum muslimin, rakyat mereka sendiri”.

 

Kerajaan Mamaluk yang wilayahnya meliputi Mesir sampai dengan Syria,  didirikan oleh mantan-mantan budak keturunan Turki. Sebagai rakyat kecil pekerja keras, mereka kecewa terhadap para elit yang malas, lambat tapi korup. Kerajaan ini mempunyai andil besar dalam sejarah kebangkitan Islam, setelah daerah-daerah lain dan Baghdad dibumihanguskan pasukan Mongol. Pasukan Mamaluk di bawah kepemimpinan Sultan Qutuz yang didukung para ulama tasawuf, berhasil menahan laju serbuan Mongol  serta mengalahkannya di Ain Jalut (Palestina). Peperangan yang sangat terkenal dalam sejarah ini terjadi pada tanggal 25 Ramadhan  658 H atau 1260 M, dan merupakan titik balik serta membuka era baru dalam sejarah dan sistem ketentaraan kerajaan-kerajaan Islam.

 

Sejarah juga mencatat, siapakah yang menghancurkan belasan ribu pasukan Barat di Hittin, Galilea, dekat Tiberias (sekarang wilayah Israel) pada tahun 1187M, bertepatan dengan 10 hari terakhir Ramadhan 584H. Dalam Perang Hittin ini, Panglima Perang Sultan Salahuddin Al-Ayubi juga memperoleh dukungan besar dari ajakan jihad ulama-ulama tasawuf.

 

Kembali kepada Syekh Izzuddin, keberaniannya menegur penguasa dengan risiko kehilangan kedudukan dan jabatan, bahkan pernah ditahan, diusir dan hendak dibunuh tidak membuatnya surut dalam membasmi kemungkaran. Ia menegur keras Gubernur Damaskus – Raja Salih Ismail yang mencoba bekerjasama dengan Pasukan Salib serta menegur penguasa-penguasa Mesir yang zalim terhadap rakyat.

 

Sahabatku, inginkah anda mengetahui bagaimana Syekh Izzuddin mengajarkan hakikat dan hikmah? Menurut penuturan anaknya, Syekh Izzuddin menceritakan suatu saat di antara bangun dan terjaga, tapi lebih dekat ke terjaga, ia mendengar suatu suara “Bagaimana kamu mengaku cinta pada-Ku padahal kamu tidak memakai sifat-Ku ?. Aku Maha Penyayang dan pengasih, maka sayangi dan kasihanilah makhluk yang mampu kamu kasihi. Aku adalah zat yang Maha Menutupi aib, maka jadilah kamu insan yang menutupi cacat orang lain. Janganlah kamu memperlihatkan cacat dan dosamu, karena itu membuat murka Allah Yang Maha Mengetahui segala hal yang gaib. Aku adalah zat Yang Maha Pemurah, maka jadilah kamu insan yang pemurah pada setiap orang yang menyakitimu. Aku adalah zat Maha Lembut, maka lembutlah pada setiap makhluk yang Aku perintahkan untuk berbuat lemah-lembut ” (tabligh-biografiulama.blogspot.com).

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Dakwah Ulama-Ulama Tasawuf Sampai ke Jawa

Sejarah mencatat, ulama-ulama tasawuf yang pada umumnya nampak rapuh dan lembut itu, berhasil menyemaikan Islam ke berbagai pelosok dunia yang tidak didatangi Angkatan Bersenjata Islam. Mereka berdakwah tanpa pedang ke Afrika, Iran, Afghanistan, India, China dan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Apakah mereka takut berperang. Marilah kita simak beberapa catatan sejarah selanjutnya.

Bagi orang Indonesia khususnya Jawa yang pernah membaca Kitab Musarar atau Jangka Jayabaya, pasti menjumpai nama seorang ulama yang hebat sehingga pada abad ke 12 itu disebut sebagai Raja Pandhita, yang berasal dari Negeri Rum. Ulama tersebut bernama Maulana Ngali Syamsujen. Mungkin nama sebenarnya Ali Syamsul Zain atau Syamsuddin. Syekh Syamsujen tiba di kerajaan Kedhiri dan disambut sebagai tamu yang sangat dihormati oleh Sang Prabu Jayabaya. Raja Jayabaya yang sakti dan dikenal pandai membaca masa depan, segera menemukan kecocokan dengan sang tamu yang menguasai kitab Musarar yang berisi tentang ilmu falak dan nujum, bahkan selanjutnya mengangkatnya sebagai guru.

Syekh Syamsujen konon diutus oleh Raja Rum untuk menjinakkan tanah Jawa yang banyak dihuni balatentara jin-setan dan raksasa atau dhenawa, yang pada periode-periode sebelumnya telah mengalahkan serta membunuh sekitar 20.000 kepala keluarga rombongan utusan Raja Rum, padahal di dalam rombongan itu terdapat pula pasukan bersenjata. Istilah dhenawa atau raksasa pada masa itu dipakai untuk menyebut pengikut aliran Bhairawa, yaitu salah satu aliran dalam agama sinkretisme Syiwa-Budha. Salah satu utusan Raja Rum yang lain adalah yang dikenal sebagai Syekh Subakir, yang makamnya berada di berbagai tempat di pulau Jawa, dan dikenal sebagai Makam Dowo (makam yang panjang).

Setelah wafat, Syekh Syamsujen di makamkan di Makam Setanan Gedong, kota Kediri sekarang, dengan nama Syekh Syamsuddin al Wasil, sesuai dengan inskripsi yang ada di makam tadi. Yang disebut dengan istilah Rum bagi orang Jawa pada zaman dahulu adalah Persia, dan bukan Romawi sebagaimana yang lazim dikenal umum.

Dari inskripsi di makam Fatimah binti Maimun di desa Loran atau Leran (ler adalah bahasa Jawa halus dari kata lor), Gresik, Jawa Timur, yang bertarikh 475H atau 1082M, dapat diketahui bahwa agama Islam sudah masuk ke Jawa jauh sebelum periode Walisongo. Bahkan S.Q.Fatimi dalam Islam Comes to Malaysia (Atlas Walisongo, Agus Sunyoto, penerbit Pustaka IIMaN, Trans Pustaka dan LTN PBNU halaman 46) mencatat pada abad ke-10 Masehi, terjadi migrasi keluarga-keluarga Persia ke Nusantara. Yang terbesar dari keluarga-keluarga itu adalah:

(1) Keluarga Lor, yang bermigrasi pada masa raja Nasiruddin bin Badr, yang memerintah wilayah Lor – Persia tahun 300H/912M. Mereka tiba di Jawa dan tinggal di daerah-daerah yang kemudian disebut desa Loran atau Leran. Di daerah Gresik juga terdapat nama desa Rumo, yang konon dahulu kala merupakan tempat tinggal orang-orang dari negeri Rum.

(2) Keluarga Jawani yang bermigrasi di masa Raja Jawani al-Kurdi sekitar 301H/913M. Mereka tinggal di Pasai, Sumatera.

(3) Keluarga Syiah yang bermigrasi pada masa pemerintahan Ruknuddaulah bin Hasan bin Buwaih ad-Dailami sekitar tahun 357H/969M, dan tinggal di Sumatera yang kini kita sebut Siak.

(4) Keluarga Rumai dari puak Sabankarah yang tinggal di wilayah timur Sumatera.

Sahabatku, Atlas Walisongo juga menggambarkan agama Islam sesungguhnya sudah masuk ke pulau Jawa semenjak abad ke 7 Masehi, dibawa oleh pedagang-pedagang dari Timur Tengah dan India, namun masih hanya merupakan agama dari komunitas-komunitas internal mereka sendiri saja, belum berkembang ke masyarakat luas. Islam baru mulai agak berkembang setelah terjadi migrasi besar-besaran muslim Cina dan muslim Campa, yang semakin memperoleh dukungan dari 7 kali muhibah Laksamana Cheng Ho ke Nusantara khususnya ke kerajaan Majapahit pada abad ke-15. Ma Huan yang mengikuti kunjungan Cheng Ho mencatat dalam buku Ying-yay sheng-lan (dalam Masa Akhir Majapahit, Hasan Djafar, skripsi tahun 1975 yang diolah dan dilengkapi kembali kemudian diterbitkan oleh Komunitas Bambu 2009, halaman 79), di Majapahit terdapat tiga golongan penduduk, salah satunya adalah penduduk muslim. Mereka ini merupakan saudagar-saudagar pendatang dari berbagai kerajaan Barat.

Jika pada abad ke – 10 M rombongan besar dari Persi justru menghadapi perlawanan keras, sehingga dari 20.000 keluarga tersisa tinggal puluhan orang, tidak demikian halnya sewaktu para ulama tasawuf dari Timur Tengah, Persi, India dan Cina datang dengan berdagang, mengobati orang sakit dan ikut mengembangkan seni budaya Jawa. Mereka disambut secara baik bahkan dianggap sebagai Raja Pandhita atau ahli agama yang dimuliakan

Leave a comment

Filed under Uncategorized