Ikhlas itu Ibarat Garam dan Akar.

Seorang sahabat bertanya, ikhlas itu yang bagaimana? Yang seperti garam, tanpanya semua makanan akan menjadi hambar, tapi ia sendiri tidak menampakkan wujudnya di dalam makanan tersebut.

Ikhlas itu juga ibarat akar dari sebatang pohon. Karena akar yang sehat, maka pohon bisa tumbuh dan berkembang, memiliki dahan, ranting daun dan bunga yang mengundang decak kekaguman orang. Namun orang tidak pernah memuji sang akar yang memang tidak nampak mata, yang sudah cukup puas bersembunyi di dalam tanah. Dari sikap akar yang seperti itulah pohon menghasilkan buah-buah amal soleh nan lezat. Menghasilkan madu yang bermanfaat bagi kesehatan manusia serta aneka keberkahan lainnya. Selamat menghayati filosofi garam dan akar ya sahabatku.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Ancaman Perang Ibnu Arabi & Al Ghazali

 

Guru Besar tasawuf Muhyiddin Ibnu ‘Arabi (1165 – 1240M), juga berani menulis surat kepada Sultan Mesir Malik Kamil tatkala Sang Raja menolak berperang melawan tentara Salib, “Engkau Pengecut! Ayo bangkit ke medan perang! Atau kami akan memerangi engkau seperti memerangi mereka!” tulisnya.

 

Ibnu ‘Arabi dikenal sebagai salah seorang sufi terbesar dalam dunia Islam, bahkan seorang pemikir mistik besar. Tetapi karena pemikiran-pemikirannya yang kontroversial, beberapa ulama yang lain seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnu al-Jauziah, mengkafirkannya. Ia juga pernah memberikan uraian tertulis terhadap kitab Khal’u an-Na’laini, yang oleh Ibnu Khaldun dianggap bid’ah.

 

Pemikiran tasawufnya yang sangat terkenal dan banyak pengikutnya di Indonesia adalah wahdatul wujud, yakni yang ada itu hanyalah satu, yaitu Tuhan. Segala yang ada selain Tuhan hanyalah penampakan lahir dari Yang Satu itu. Keberadaan yang banyak, yaitu makhluk, tergantung keberadaan Yang Satu, sebagaimana keberadaan bayang-bayang yang tergantung pada keberadaan suatu benda.

 

 

Al Ghazali Juga Pernah Mengancam Raja.

 

Sangat risau mendengar kekalahan dan penderitaan kaum muslimin di Andalusia, Ulama Agung Al Ghazali (1058 – 1111M)  menulis surat kepada Raja Maghribi, Yusuf Ibn Tasyfin sebagai berikut: “Pilihlah salah satu di antara dua. Memanggul senjata untuk menyelamatkan saudara-saudaramu di Andalusia, atau engkau turun tahta untuk diserahkan kepada orang lain yang sanggup memenuhi kewajiban tersebut”.

 

Demikianlah Sahabatku, tulisan tentang uzlah, kelembutan dan juga kekerasan hati para ulama tasawuf. Kami kemukakan sebagai suri tauladan tentang keberanian ulama menghadapi kekuasaan. Ulama harus tegak menjaga fungsinya sebagai pemegang amanah Allah, penjaga waris nabi-nabi serta  penegak keadilan dan jangan sebaliknya tunduk apalagi menutup mata dan mendukung kezaliman. Dalam sejarah, ulama-ulama tasawuf juga sangat peduli  dengan keadaan sosial serta kehidupan masyarakat di sekelilingnya dan tidak sibuk dengan dirinya sendiri saja.

 

Mengenai rakyat, penguasa dan ulama, Al Ghazali dalam kitab “Al-Tibbr Al-Masbuk fi Nasihat Al Muluk atau Nasihat Bagi Penguasa”, menyatakan watak dan perangai rakyat merupakan buah atau hasil dari watak dan perangai para pemimpinnya. Sebab keburukan yang dilakukan orang awam hanyalah meniru dan mengikuti perbuatan para pemimpinnya. Karena itu pada hematnya, rusak rakyat karena rusak umarohnya, dan rusak umaroh karena rusak ulamanya, rusak para cendekiawannya.

 

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Ulama-Ulama Tasawuf Berani Berperang & Berani Memperingatkan Penguasa

800×600


 

Meski berusaha menghindari perang fisik, sejarah mencatat, tatkala pasukan Khalifah Bani Abbas di Baghdad terdesak dan Iraq luluh lantak seperti awal abad ke-21 ini, maka para futuwwah sufiah, para pahlawan tasawuf yang rela mengorbankan kesenangan diri termasuk harta dan keluarganyalah, yang berhasil menghalau musuh, menyelamatkan wilayah-wilayah Islam serta menjaga perbatasan.

 

Pada tahun 1258 M, lebih dari 200.000 tentara Mongol di bawah kepemimpinan Hulagu Khan (cucu Jengis Khan), menyerbu Iraq serta menumbangkan kekuasaan  Bani Abbasiyyah, bahkan Khalifahnya yaitu Al Musta’shin dipenggal kepalanya.  Mengerikan sekali, bukan hanya Istana yang dihancurkan, tapi seluruh bangunan di Baghdad diratakan dengan tanah, seluruh warga kota dibunuh, kecuali segelintir yang berhasil meloloskan diri. Semua bukti-bukti peradaban Islam termasuk buku-buku perpustakaan terbesar di dunia dimusnahkan. Seluruh kebudayaan Islam yang sudah dibangun berabad-abad hancur lebur. Sementara itu 800.000-an rakyat jelata, wanita dan anak-anak tewas mengenaskan di bawah tapak kaki kuda tentara Mongol yang ganas itu, diinjak dengan tapak kaki kuda, dipermainkan dengan ujung tombaknya, dibedah dan dibelek  perutnya dengan alasan mencari permata yang ditelan.

 

Pada saat itulah, tatkala balatentara Islam hancur-lebur, ulama-ulama tasawuf yang secara fisik pada umumnya kelihatan lemah dan rapuh, bangkit mengorganisasikan umat, menggelorakan semangat mereka dengan tausiah serta zikir-zikirnya, mengobarkan perlawanan. Ulama-ulama sufi yang penyair seperti Fariduddin Attar dan Jalaluddin Rumi, menggubah syair-syair yang menggambarkan kepedihan atas kehancuran Baghdad, dan kemudian menggelorakan kebangkitan kembali urat nadi kekuatan Islam menjadi balatentara Allah yang perkasa, yang pada akhirnya berhasil menumbangkan Pasukan Mongol. Bahkan cucu Hulagu Khan yaitu Mahmud Ghazan 37 tahun kemudian, tepatnya pada periode 1295 – 1304,  memeluk Islam dan membangun kembali perabadan Islam.

 

Sejarah telah mengajarkan dan membuktikan,  menganut tasawuf tidaklah berarti asyik dengan dirinya sendiri dan acuh tak acuh terhadap kehidupan sosial-kenegaraan, tapi justru amat peduli terhadap terwujudnya rahmat bagi alam semesta, serta bertanggungjawab terhadap bangsa dan negaranya. Semua itu diniatkan sebagai ibadah dan amal saleh selaku pengemban amanah Allah di muka bumi,  dan bukan untuk memuaskan dahaga pesona dunia.

 

Banyak pengamat dunia yang takjub tak menyangka,  Islam cepat bangkit dan pulih kembali setelah diserbu  Perang Salib dan diluluhlantakkan nyaris  sampai  keakar-akarnya oleh Balatentara Mongol, sampai akhirnya mereka menemukan bahwa sumber  kekuatan Islam itu tidak terletak pada kekuatan yang nampak dari luar, melainkan tersembunyi di dalam lubuk Islam yang dalam, terpilin dengan urat nadinya, dan urat nadi itu ialah tasawuf serta ajaran sufi dalam berbagai bentuk dan coraknya. (Brakell Buys dalam Pengantar Ilmu Tarekat Uraian Tentang Mistik,  Prof.Dr.H.Abubakar Aceh halaman 18 sampai dengan 21).

 

Contoh ulama tasawuf lain yang juga sangat peduli terhadap kehidupan masyarakat adalah Syekh ‘Izzuddin Ibn ‘Abdissalam  (1181 – 1262M). Ulama tasawuf yang diagungkan ini tidak hanya berpangku tangan asyik dengan dirinya sendiri, sampai-sampai berfatwa: “Wajib menangkap raja-raja Mamaluk  yang berkhianat kepada kaum muslimin, rakyat mereka sendiri”.

 

Kerajaan Mamaluk yang wilayahnya meliputi Mesir sampai dengan Syria,  didirikan oleh mantan-mantan budak keturunan Turki. Sebagai rakyat kecil pekerja keras, mereka kecewa terhadap para elit yang malas, lambat tapi korup. Kerajaan ini mempunyai andil besar dalam sejarah kebangkitan Islam, setelah daerah-daerah lain dan Baghdad dibumihanguskan pasukan Mongol. Pasukan Mamaluk di bawah kepemimpinan Sultan Qutuz yang didukung para ulama tasawuf, berhasil menahan laju serbuan Mongol  serta mengalahkannya di Ain Jalut (Palestina). Peperangan yang sangat terkenal dalam sejarah ini terjadi pada tanggal 25 Ramadhan  658 H atau 1260 M, dan merupakan titik balik serta membuka era baru dalam sejarah dan sistem ketentaraan kerajaan-kerajaan Islam.

 

Sejarah juga mencatat, siapakah yang menghancurkan belasan ribu pasukan Barat di Hittin, Galilea, dekat Tiberias (sekarang wilayah Israel) pada tahun 1187M, bertepatan dengan 10 hari terakhir Ramadhan 584H. Dalam Perang Hittin ini, Panglima Perang Sultan Salahuddin Al-Ayubi juga memperoleh dukungan besar dari ajakan jihad ulama-ulama tasawuf.

 

Kembali kepada Syekh Izzuddin, keberaniannya menegur penguasa dengan risiko kehilangan kedudukan dan jabatan, bahkan pernah ditahan, diusir dan hendak dibunuh tidak membuatnya surut dalam membasmi kemungkaran. Ia menegur keras Gubernur Damaskus – Raja Salih Ismail yang mencoba bekerjasama dengan Pasukan Salib serta menegur penguasa-penguasa Mesir yang zalim terhadap rakyat.

 

Sahabatku, inginkah anda mengetahui bagaimana Syekh Izzuddin mengajarkan hakikat dan hikmah? Menurut penuturan anaknya, Syekh Izzuddin menceritakan suatu saat di antara bangun dan terjaga, tapi lebih dekat ke terjaga, ia mendengar suatu suara “Bagaimana kamu mengaku cinta pada-Ku padahal kamu tidak memakai sifat-Ku ?. Aku Maha Penyayang dan pengasih, maka sayangi dan kasihanilah makhluk yang mampu kamu kasihi. Aku adalah zat yang Maha Menutupi aib, maka jadilah kamu insan yang menutupi cacat orang lain. Janganlah kamu memperlihatkan cacat dan dosamu, karena itu membuat murka Allah Yang Maha Mengetahui segala hal yang gaib. Aku adalah zat Yang Maha Pemurah, maka jadilah kamu insan yang pemurah pada setiap orang yang menyakitimu. Aku adalah zat Maha Lembut, maka lembutlah pada setiap makhluk yang Aku perintahkan untuk berbuat lemah-lembut ” (tabligh-biografiulama.blogspot.com).

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Dakwah Ulama-Ulama Tasawuf Sampai ke Jawa

Sejarah mencatat, ulama-ulama tasawuf yang pada umumnya nampak rapuh dan lembut itu, berhasil menyemaikan Islam ke berbagai pelosok dunia yang tidak didatangi Angkatan Bersenjata Islam. Mereka berdakwah tanpa pedang ke Afrika, Iran, Afghanistan, India, China dan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Apakah mereka takut berperang. Marilah kita simak beberapa catatan sejarah selanjutnya.

Bagi orang Indonesia khususnya Jawa yang pernah membaca Kitab Musarar atau Jangka Jayabaya, pasti menjumpai nama seorang ulama yang hebat sehingga pada abad ke 12 itu disebut sebagai Raja Pandhita, yang berasal dari Negeri Rum. Ulama tersebut bernama Maulana Ngali Syamsujen. Mungkin nama sebenarnya Ali Syamsul Zain atau Syamsuddin. Syekh Syamsujen tiba di kerajaan Kedhiri dan disambut sebagai tamu yang sangat dihormati oleh Sang Prabu Jayabaya. Raja Jayabaya yang sakti dan dikenal pandai membaca masa depan, segera menemukan kecocokan dengan sang tamu yang menguasai kitab Musarar yang berisi tentang ilmu falak dan nujum, bahkan selanjutnya mengangkatnya sebagai guru.

Syekh Syamsujen konon diutus oleh Raja Rum untuk menjinakkan tanah Jawa yang banyak dihuni balatentara jin-setan dan raksasa atau dhenawa, yang pada periode-periode sebelumnya telah mengalahkan serta membunuh sekitar 20.000 kepala keluarga rombongan utusan Raja Rum, padahal di dalam rombongan itu terdapat pula pasukan bersenjata. Istilah dhenawa atau raksasa pada masa itu dipakai untuk menyebut pengikut aliran Bhairawa, yaitu salah satu aliran dalam agama sinkretisme Syiwa-Budha. Salah satu utusan Raja Rum yang lain adalah yang dikenal sebagai Syekh Subakir, yang makamnya berada di berbagai tempat di pulau Jawa, dan dikenal sebagai Makam Dowo (makam yang panjang).

Setelah wafat, Syekh Syamsujen di makamkan di Makam Setanan Gedong, kota Kediri sekarang, dengan nama Syekh Syamsuddin al Wasil, sesuai dengan inskripsi yang ada di makam tadi. Yang disebut dengan istilah Rum bagi orang Jawa pada zaman dahulu adalah Persia, dan bukan Romawi sebagaimana yang lazim dikenal umum.

Dari inskripsi di makam Fatimah binti Maimun di desa Loran atau Leran (ler adalah bahasa Jawa halus dari kata lor), Gresik, Jawa Timur, yang bertarikh 475H atau 1082M, dapat diketahui bahwa agama Islam sudah masuk ke Jawa jauh sebelum periode Walisongo. Bahkan S.Q.Fatimi dalam Islam Comes to Malaysia (Atlas Walisongo, Agus Sunyoto, penerbit Pustaka IIMaN, Trans Pustaka dan LTN PBNU halaman 46) mencatat pada abad ke-10 Masehi, terjadi migrasi keluarga-keluarga Persia ke Nusantara. Yang terbesar dari keluarga-keluarga itu adalah:

(1) Keluarga Lor, yang bermigrasi pada masa raja Nasiruddin bin Badr, yang memerintah wilayah Lor – Persia tahun 300H/912M. Mereka tiba di Jawa dan tinggal di daerah-daerah yang kemudian disebut desa Loran atau Leran. Di daerah Gresik juga terdapat nama desa Rumo, yang konon dahulu kala merupakan tempat tinggal orang-orang dari negeri Rum.

(2) Keluarga Jawani yang bermigrasi di masa Raja Jawani al-Kurdi sekitar 301H/913M. Mereka tinggal di Pasai, Sumatera.

(3) Keluarga Syiah yang bermigrasi pada masa pemerintahan Ruknuddaulah bin Hasan bin Buwaih ad-Dailami sekitar tahun 357H/969M, dan tinggal di Sumatera yang kini kita sebut Siak.

(4) Keluarga Rumai dari puak Sabankarah yang tinggal di wilayah timur Sumatera.

Sahabatku, Atlas Walisongo juga menggambarkan agama Islam sesungguhnya sudah masuk ke pulau Jawa semenjak abad ke 7 Masehi, dibawa oleh pedagang-pedagang dari Timur Tengah dan India, namun masih hanya merupakan agama dari komunitas-komunitas internal mereka sendiri saja, belum berkembang ke masyarakat luas. Islam baru mulai agak berkembang setelah terjadi migrasi besar-besaran muslim Cina dan muslim Campa, yang semakin memperoleh dukungan dari 7 kali muhibah Laksamana Cheng Ho ke Nusantara khususnya ke kerajaan Majapahit pada abad ke-15. Ma Huan yang mengikuti kunjungan Cheng Ho mencatat dalam buku Ying-yay sheng-lan (dalam Masa Akhir Majapahit, Hasan Djafar, skripsi tahun 1975 yang diolah dan dilengkapi kembali kemudian diterbitkan oleh Komunitas Bambu 2009, halaman 79), di Majapahit terdapat tiga golongan penduduk, salah satunya adalah penduduk muslim. Mereka ini merupakan saudagar-saudagar pendatang dari berbagai kerajaan Barat.

Jika pada abad ke – 10 M rombongan besar dari Persi justru menghadapi perlawanan keras, sehingga dari 20.000 keluarga tersisa tinggal puluhan orang, tidak demikian halnya sewaktu para ulama tasawuf dari Timur Tengah, Persi, India dan Cina datang dengan berdagang, mengobati orang sakit dan ikut mengembangkan seni budaya Jawa. Mereka disambut secara baik bahkan dianggap sebagai Raja Pandhita atau ahli agama yang dimuliakan

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Sebaik-Baik Uzlah, Zuhud dan Wara

 

Dalam tasawuf, ada salah satu ajaran yang cukup penting yaitu tentang uzlah atau mengasingkan diri. Tasawuf memang meyakini, tiada yang dapat memberi manfaat kepada seseorang agar bisa selalu dekat dengan Gusti Allah kecuali beruzlah. Sebab dengan beruzlah manusia dapat berfikir jernih.

 

Menurut Al Ghazali dalam Raudhatut Thalibien wa ‘Umdatus Saalikien (Raudhah, Taman Jiwa Kaum Sufi, edisi Indonesia, penerbit Risalah Gusti), uzlah itu ada dua macam yaitu faridhah dan fadhilah. Uzlah faridhah yaitu menghindar dari segala keburukan dan golongan buruk. Sedangkan uzlah fadhilah adalah menghindari segala yang berlebih-lebihan beserta para pendukungnya.

 

Perjalanan seorang salik atau penempuh jalan tasawuf dalam mengenal dan mendekat ke Gusti Allah, akan banyak menjumpai godaan dan rintangan yang dapat mengancam kesela-matannya. Sedangkan keselamatan itu terdiri dari sepuluh bagian. Yang sembilan bagian tersembunyi di balik diam, yaitu diam dari segala hal yang tidak berguna,  dan yang satu lagi ada dalam uzlah.

 

Al-Imam Ibnu Athaillah Askandary dalam  kitab Al-Hikamnya yang amat termasyhur berpendapat, sebaik-baik uzlah adalah menghindarkan hati dari keramaian pikiran duniawi. Orang Jawa Tempo dulu menyebut hal itu sebagai topo ngrame, bertapa di tengah keramaian. Secara fisik kita berada di tengah keramaian, namun jiwa kita sesungguhnya sedang bertapa.

 

Oleh karena itu wahai Sahabatku, menganut  tasawuf tidak berarti harus mengasingkan diri ke tempat sunyi di gua-gua, gunung atau hutan, membenamkan diri sepenuhnya dalam ritual-ritual ibadah, salat, puasa, duduk tafakur dan wirid semalam suntuk, memperbanyak amalan sunah sampai melupakan kewajiban selaku khalifatullah fil ardh. Melupakan tugasnya selaku wakil dan utusan Gusti Allah dalam mengelola dan mewujudkan rahmatan lil alamin, rahmat bagi alam semesta dan segenap isinya, sampai-sampai tak peduli dengan kezaliman, tak peduli dengan kemungkaran yang merajalela.

 

Kehidupan penganut tasawuf harus meneladani kehidupan Kanjeng Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya, yang dalam suka dan duka selalu berada di tengah rakyatnya, mengatur keseimbangan urusan dunia dan akhirat tanpa mengganggu hatinya  dengan fantasi-fantasi pesona dunia.

 

Sahabatku, saya berharap anda masih ingat tiga hadis yang cukup populer dan melengkapi satu sama lain, yang banyak menjadi bahan ceramah. Yang satu mengisahkan kejadian tatkala Rasulullah kembali dari Perang Tabuk, bertemu dengan sahabatnya, Mu’az. Jadi Rasullullah pun ikut berperang bersama para sahabatnya. Sewaktu bersalaman, terasa olehnya telapak tangan Mu’az kesat, menandakan banyak melakukan pekerjaan kasar. Lantas beliau bertanya mengapa tangan Mu’az kasar. Dengan berseri sahabat utama itu menjawab: “Saya membajak tanah, untuk nafkah ahli rumahku, ya junjungan”. Alangkah jernih muka Rasulullah mendengar jawaban sahabatnya yang tidak ikut berperang itu, sehingga diciumnya keningnya seraya bersabda: “Engkau tak akan disentuh api neraka, Mu’az”.

 

Kejadian yang kedua adalah, sebagaimana dikisahkan Ibnu Abbas, datang suatu kaum kepada Rasulullah yang menceritakan mengenai segolongan kawan mereka yang setiap hari berpuasa, setiap malam bersembahyang tahajud dan banyak berzikir.

 

Mendengar itu Rasulullah bertanya: “Adakah di antara kalian yang hadir yang mempunyai makanan dan minuman cukup?”. Mereka menjawab: “Mudah-mudahan kami semua adalah demikian. Jawab Nabi berikutnya: “Kalian lebih baik dari mereka”.

 

Peristiwa ketiga adalah tatkala para sahabat tengah membanggakan seseorang yang siang malam hanya tekun beribadah sehingga tidak ke mana-mana. Lalu Nabi bertanya: “Siapa yang menjamin makan minumnya?”. Jawab para sahabat: “Saudaranya”. Maka Kanjeng Nabi pun menegas-kan: “Saudaranya itu lebih baik dari dia”.

 

Ketiga hadis tersebut menegaskan bahwa semangat Islam adalah semangat berjuang, semangat berkorban dan semangat bekerja keras atau mujaahadah. Kerja keras menurut Prof.K.H.Ali Yafie, “itu polanya di dalam tasawuf bermacam-macam; ada yang disebut riyaadhah, uzlah dan zuhud. Semua itu adalah kiat-kiat kerja keras yang tidak berdiri sendiri-sendiri dan merupakan suatu proses mujaahadah, yang pada ujungnya adalah mengabdi. Artinya, kita memerlukan segala sesuatu yang bermanfaat untuk diri kita dan masyarakat.”

 

Di dalam tasawuf, disamping uzlah, kita juga mengenal dua istilah lain yang ketiganya saling berkaitan, yaitu zuhud dan wara. Zuhud adalah kondisi mental yang tidak mau terpengaruh oleh harta benda dan pesona dunia dalam mengabdikan diri kepada Allah, dan bukan berarti tidak mau sama sekali memiliki harta benda serta tidak suka mengenyam nikmat dunia.

 

Mengenai sifat zuhud, Sayidina Ali bin Abi Thalib berpendapat, terletak di antara dua kalimat dalam Al Qur’an, yaitu firman Allah, yang artinya: “Agar kamu tidak berdukacita atas apa yang lepas dari dirimu, tidak pula bersukaria atas sesuatu yan diberikan oleh-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (Surat Al Hadiid: 23). Maka siapa saja yang tidak berputus asa dan berduka atas sesuatu yang telah pergi darinya, dan tidak pula bersukacita dengan sesuatu yang diperolehnya, sesungguhnya ia telah memiliki sifat zuhud yang sempurna.

 

Kanjeng Nabi Muhammad Saw juga menegaskan perihal zuhud ini tatkala menjawab pertanyaan seorang sahabat yang meminta ditunjukkan amal perbuatan yang apabila dikerjakan disukai Allah dan sekaligus disukai sesamanya. Sabda beliau, “Berzuhudlah di dalam dunia niscaya dikasihi Allah, dan berzuhudlah di antara sesama manusia  niscaya engkau dikasihi manusia”. (HR.Ibnu Majah).

 

Mengutip pendapat Ibn Qayyim Al-Jauziyah dalam Madarijus Salikin dan Al-Harawi dalam Manazilus Sa’iirin, Prof.Dr.H.Abubakar Aceh menyatakan ada tiga derajat zuhud. Derajat pertama, menjauhkan segala pekerjaan yang buruk, memperbanyak perkerjaan yang baik dan memperdalam keyakinan serta iman. Derajat kedua, memelihara taqwa, meningkat naik dari kecemaran jiwa dan menjaga jangan sampai melanggar batas-batas larangan Allah. Derajat ketiga, ialah berlaku wara’ pada tiap waktu dan ketika, menghindarkan segala sebab yang dapat menimbulkan syirik dalam ibadah dan meresapkan fana dalam tauhid yang sebulat-bulatnya.

 

Sedangkan wara’ adalah meninggalkan apa-apa yang membahayakan, serta menahan diri dari hal-hal yang bisa memudharatkan, termasuk apa-apa yang syubhat dan lebih-lebih yang haram.

 

Banyak contoh kisah-kisah kehidupan zuhud dan wara’ di masa Rasulullah dan para sahabat yang bisa kita jadikan suri tauladan. Ahli hadis ternama Syekh Muhammad Zakariyya al-Khandhalawi dari Kandhlah-Muzhafar Nagar-India misalkan, telah menghimpun kisah-kisah teladan kehidupan Rasulullah beserta para sahabat untuk menjadi cermin dan pedoman kehidupan, ke dalam buku Fadhail A’mal, edisi bahasa Indonesia oleh Tim Pustaka Nabawi, Cirebon, 2003. Juga Syaikh Muhammad Yusuf Al-Kandallawy dalam Sirah Sahabat, Pustaka Al-Kautsar 1998.

 

Sahabatku, mungkin anda masih ingat kisah Khalifah Abubakar dan Khalifah Umar, yang memuntahkan makanan dan susu yang telah diminumnya karena berpegang pada prinsip hidup wara’ tadi. Abubakar memiliki seorang budak yang selalu memberikan sebagian pendapatannya kepada beliau. Pada suatu hari ia menghidangkan sedikit makanan kepada Abubakar yang segera mencicipinya. Kemudian hambanya berkata, “Tuan, biasanya tuan selalu bertanya kepadaku, dari manakah penghasilanmu ini? Namun pada hari ini tuan tidak menanyakannya”. Jawab Abubakar, “Aku sangat lapar sehingga tidak sempat menanya-kannya. Sekarang jelaskan tentang makanan itu”.

 

Hambanya menjawab, “Pada zaman jahiliyah dulu, aku bertemu suatu kaum dan membacakan mereka mantera. Mereka berjanji kepadaku akan memberi imbalan atas jasaku. Dan pada hari ini aku melewati perkampungan mereka. Kebetulan mereka sedang melangsungkan pernikahan, jadi mereka memberiku makanan ini”. Abubakar langsung berteriak, “Kamu nyaris membinasa-kanku”. Ia pun dengan susah payah segera berusaha memuntahkan makanan yang telah ditelannya itu, sampai betul-betul berhasil.

 

Seorang sahabat yang melihatnya berkata, “Semoga Allah merahmati anda. Anda telah bersusah payah mengeluarkan isi perut anda, hanya karena sesuap makanan”. Jawab Abubakar, “Walaupun aku harus kehilangan nyawa untuk mengeluarkan makanan itu, pasti tetap akan kukeluarkan. Kudengar sabda Nabi saw., “Badan yang tumbuh dengan makanan haram, maka api neraka pantas untuknya. Aku khawatir, jika sebagian dari badanku ini tumbuh dari makanan itu”.

 

Khalifah Umar pun memiliki pengalaman yang hampir sama dengan Abubakar. Suatu ketika ia mencicipi susu. Ternyata rasa susu itu lain dari biasanya, sehingga Umar langsung bertanya kepada si pembawa susu, dari mana dan bagaimana mendapatkannya. Orang itu menjawab, “Ada beberapa ekor unta hasil sedekah sedang merumput di hutan. Lalu para penggembala memerah sedikit susu dari unta-unta tersebut dan memberiku sedikit”. Mendengar itu, Umar segera memasukkan tangannya ke mulut, lalu memuntah-kan semuanya.

 

Baginda Rasul juga mempunyai pengalaman yang membuatnya tidak bisa memejamkan mata sepanjang malam. Berkali-kali beliau gelisah mengubah posisi tidur, sehingga isterinya bertanya, “Mengapa engkau tidak dapat tidur, ya Rasulullah?”. Jawab beliau, “Tadi ada tergeletak sebuah kurma. Karena khawatir kurma itu terbuang sia-sia, maka aku memakannya. Sekarang aku khawatir, mungkin kurma itu dikirim ke sini untuk disedekahkan”.

 

Itulah tiga contoh sikap kehati-hatian yang merupakan inti dari perilaku wara’. Kanjeng Nabi yang tidak bisa tidur dan Abubakar serta Umar yang memuntahkan isi perutnya, menggambarkan prinsip hidup dalam menyikapi harta yang meragukan, yang syubhat, apalagi yang haram. Sikap seperti itulah yang seyogyanya kita jadikan pegangan hidup.

 

Begitulah Sahabatku, jadi tasawuf itu tidak berarti meninggalkan sama sekali pesona dunia dengan hidup apa adanya di tempat-tempat nan sunyi-sepi. Namun jangan sampai pula hati kita terbelenggu oleh nafsu dunia, apalagi kemudian menutupinya berlagak membuat keseimbangan sebagai dermawan yang obral hadiah atau pun sedekah. Naudzubillah.

 

 

 

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Arti dan Tujuan Mempelajari Tasawuf

 

Bertasawuf di era globalisasi, mana mungkin? Mau jadi apa nanti umat dan komunitas Islam? Semua menyepi, tinggal di gunung, gua dan tempat-tempat sunyi dengan mengenakan baju sangat sederhana dari kulit binatang dan makan seadanya. Bukankah itu akan sama dengan kehidupan zaman primitif ? Begitulah pertanyaan sejumlah sahabat yang mengkuatirkan jika semakin banyak umat Islam yang menganut tasawuf, agar bisa bermakrifat yaitu mengenal, mengasihi dan dikasihi Allah Swt dengan sepenuh kasih.

Kekuatiran itu wajar, karena memang ada penganut-penganut tasawuf yang beruzlah dengan hidup menyendiri seadanya di tempat-tempat sepi. Tetapi bagi yang memahami sejarah kehidupan junjungan kita Nabi Muhammad Saw, kekuatiran tadi tidak perlu terjadi. Meskipun demikian, bagi orang awam kekuatiran itu wajar adanya. Saya pun pada mulanya berpendapat seperti itu. Kecewa dengan berbagai kemunafikan serta hedonisme masyarakat, selama beberapa bulan di paruh pertama dasa warsa 90an, hampir setiap hari sepulang kerja saya menyendiri di menara khalwat, berusaha membulatkan tekad untuk beruzlah menyepi meninggalkan semua hiruk-pikuk serta pesona dunia. Sampai kemudian di suatu tengah malam ustadz Buya Endang Bukhari Ukasyah yang kasih sayangnya kepada saya luar biasa, datang dari Sumedang dan langsung menyusul ke menara khalwat saya.

Buya nan arif dan waskita ini selalu bisa membaca isi serta pergolakan hati saya, tanpa saya perlu mengutarakan atau mengungkapkannya. Begitu sudah duduk bersila, beliau langsung mengingat-kan kehidupan Kanjeng Nabi sehari-hari yang senantiasa berada di tengah dan bersama umatnya dalam suka dan duka. Dengan cara yang seperti itulah Baginda Rasul bermakrifat, bukan dengan hidup menyendiri di tempat sunyi. Dan adakah umat Islam termasuk para ulama-ulama tasawuf yang tingkat makrifatnya bisa menandingi Rasulullah? Tentu saja tidak ada.

Karena itu wahai Sahabatku, marilah kita sama-sama menjadi salik, menjadi murid yang menapaki jalan tasawuf dengan saling mencerahkan satu sama lain. Untuk itu, pertama-tama, mari kita mencoba memahami arti tasawuf, yang secara etimologis diperselisihkan oleh para ahli, karena perbedaan mereka dalam memandang asal-usul kata itu, misalkan saff, saufanah, suffah dan safwah. Kata saff merujuk pada barisan dalam salat berjamaah. Seorang sufi akan berada di baris pertama di depan Allah Swt. Kata saufanah menurut Ensiklopedi Islam (Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta) adalah sejenis buah-buahan kecil berbulu yang banyak tumbuh di gurun pasir Arab Saudi. Pengambilan kata ini karena banyak orang sufi memakai pakaian berbulu atau kulit binatang yang masih kasar. Kata suffah berarti pelana, yang banyak dipakai oleh para sahabat Kanjeng Nabi Muhammad Saw yang miskin, untuk bantal tidur di samping Masjid Nabawi di Madinah. Sedangkan kata safwah berarti sesuatu yang terpilih atau terbaik.

Secara sederhana dapat dirumuskan, tasawuf adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Gusti Allah dengan tiga pendekatan atau tiga inti pokok ajaran yaitu (1) tekun ibadah, (2) bulat hati kepada Gusti Allah, (3) berpaling dari godaan pesona  dunia atau tidak cenderung pada kemewahan dan pesona dunia.

Bagaimana mengamalkannya? Sebagai contoh, mari kita mencoba memahami hakikat berwudhu atau bersuci. Bersuci dalam faham tasawuf tidak cukup hanya menuangkan air dan membuang kotoran yang melekat di tubuh kita sebagaimana yang lazim kita lakukan selama ini, tapi juga harus bisa membersihkan hati, lahir batin kita, diri kita dari pikiran, keinginan, tingkah laku dan perbuatan tercela. Membersihkan dan selanjutnya menjaga jiwa raga dari segala perbuatan dosa dan tercela; menjaga agar tidak bergelimang dengan pesona dunia.

Bahkan lebih jauh lagi kita niatkan, kita tekadkan agar seluruh anggota tubuh kita, khususnya yang kita sucikan dapat melakukan amal saleh, dapat menghasilkan perbuatan-perbuatan baik yang memberikan kemaslahatan bagi sesamanya. Amalan batin ini harus kita usahakan selalu menyertai kita sewaktu berwudhu, terus diingat sampai wudhu berikutnya, sekaligus menjaga agar kita senantiasa dalam keadaan memiliki wudhu.

Dengan tiga pendekatan tadi, maka tujuan mempelajari tasawuf bukanlah untuk bisa melihat Gusti Allah dengan mata telanjang, juga bukan untuk menjadi sakti penuh karomah sebagaimana penilaian kebanyakan orang, melainkan untuk beribadah dan beramal saleh secara baik, untuk memelihara hati dari kotoran-kotoran hati serta hal-hal yang tercela, sehingga hati menjadi jernih. Hati yang jernih seperti itu akan dapat menangkap apa-apa yang tersirat dari yang tersurat, dapat memahami hikmah dari segala ketentuan Gusti Allah atas diri kita.

Tentang tasawuf, Ibnu Khaldun menjelaskan, adalah semacam pengembangan ilmu syariah yang semula dimaksudkan untuk tekun beribadah dengan memutuskan pertalian terhadap segala hal selain Allah, hanya menghadap Allah semata, menolak pesona dunia serta membenci segala hal yang bisa memperdaya orang. Untuk itu penganut tasawuf perlu menyendiri dalam menapaki jalan Tuhan dengan berkhalwat dan ibadah.

Para ulama tasawuf sepakat, tasawuf juga mendidik budi pekerti manusia agar tidak tamak, tidak ujub dan tidak riya, tapi menjadi manusia yang ikhlas dalam beribadah, rendah hati dan damai dalam perbuatan. Dengan demikian kita bisa menjadi sangat dekat dengan Sang Maha Pencipta, Gusti Allah Yang Maha Suci. Tasawuf menurut tokoh sufi Al Junaid, adalah keluar dari budi serta perangai tercela, dan masuk ke budi dan perangai yang terpuji.

Buya Hamka dalam buku Tasauf Moderen yang ditulis dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1939 menyatakan, di zaman Nabi Muhammad hidup, semua orang menjadi sufi, yaitu sufi sepanjang artian Al Junaid tadi. Baik Nabi dan sahabatnya yang berempat atau yang beribu-ribu itu, semuanya berakhlak tinggi, berbudi mulia, sanggup menderita  lapar dan haus, dan jika beroleh kekayaan, tidaklah kekayaan itu lekat di dalam hatinya, sehingga merasa sedih bila harta itu habis.

Tatkala wilayah Islam bertambah luas, kekuasaan kerajaan dan kekayaannya tumbuh luar biasa, banyak orang melalaikan ibadah lantaran tenggelam dalam pesona dunia. Hal itu membuat banyak ulama yang berselisih faham. Akibatnya ada yang merasa kecewa, sehingga kemudian menyisih dari pergaulan ramai. Mereka inilah yang merupakan cikalbakal kaum sufi dalam pengertian yang hidup sangat sederhana di tempat-tempat sepi, yang semula bermaksud baik, tetapi akhirnya menempuh jalan sesat.

Menurut Buya Hamka, mereka bermaksud memerangi hawa nafsu, dunia dan setan, tetapi kadang-kadang menempuh jalan yang tidak digariskan agama, bahkan mengharamkan hal dan barang yang dihalalkan Allah, menyumpahi harta, tidak mau mencari rezeki dan membenci kerajaan. Sehingga tatkala balatentara Mongol masuk ke negeri Islam, tidak ada lagi senjata yang ampuh buat menangkis, sebab kekuatan Islam telah terbagi, terpecah dan lemah.

Para penganut tasawuf yang seperti itu, telah tenggelam dalam khalwat dengan pakaian sufinya yang amat sederhana, tidak peduli apa-apa, tidak menangkis serangan, karena “lezat” di dalam kesunyian tasawufnya. Pada hemat Buya, hal itu tidak berasal dari pelajaran Islam. “Zuhud yang melemahkan itu bukanlah ajaran Islam. Semangat Islam ialah semangat berjuang. Semangat berkurban, bekerja, bukan bermalas-malasan, lemah-paruh dan melempem”.

Prof.K.H.Ali Yafie dalam bukunya Jati Diri Tempaan Fiqih mengajarkan, ruang lingkup kajian tasawuf itu adalah mengenai pengenalan diri manusia, terutama pengenalan batinnya. Berdasarkan pengenalan itu, tasawuf memberikan kiat-kiat pembinaan manusia agar bisa memiliki sifat kebersihan, kesederhanaan dan pengabdian. Bahasa populernya bisa hidup BSM, yaitu bersih, sederhana dan mengabdi.

Sejalan dengan Kyai Ali Yafie dan Buya Hamka,  Prof.Dr.H.Abubakar Aceh dalam Pengantar Ilmu Tarekat, Uraian Tentang Mistik, penerbit Ramadhani 1963/1986, juga membuat rumusan yang sederhana mengenai tasawuf, yakni mendidik budi pekerti manusia agar tidak hidup tamak, tetapi menjadi manusia yang wara’, yaitu yang ikhlas dalam ibadah serta damai dalam perbuatan.

Sahabatku, demikianlah makna dan semangat tasawuf menurut para ulama. Jelas mana yang sesuai dengan semangat Islam dan mana yang tidak. Untuk itu marilah tanpa kecuali, kita saling mengingatkan lagi saling mencerahkan.

Salam damai sejahtera, penuh limpahan rahmat dan berkah-Nya. Aamiin.

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Menyambut “Wiyosan Dalem” Kanjeng Nabi Muhammad, Dengan Menyerap Api, Semangat dan Energi Ajarannya, Bukan Abunya.

Catatan: artikel ini kami unggah kembali dari artikel yang sebelumnya berjudul: “Berhala Baru, Gaya Hidup Hedonarsis”. Kami beri judul yang lain sesuai konteks waktunya, yaitu peringatan Maulid Nabi. Semoga berkenan dan bermanfaat.

Gaya hidup hedonis dan narsis (hedonarsis) yang banal, yang memuja pesona dunia, harus kita akui tengah melanda masyarakat kita. Marilah coba kita kaji beberapa peristiwa yang sempat menjadi topik hangat pemberitaan media massa. Rita misalkan, bukan nama sebenarnya tapi dari peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi, adalah seorang mahasiswi berusia 19 tahun. Siang itu, bukannya di perpustakaan untuk belajar, ia nongkrong di sebuah kafe di Plaza Senayan, Jakarta. Tak jauh dari mejanya, duduk beberapa orang, salah satu di antaranya pengusaha tajir bernama Abu Fatah, juga nama yang disamarkan.

Singkat kata mereka berkenalan dan berjanji malam hari bertemu di sebuah hotel berbintang lima.Tapi siapa menyangka malam itu di kamar hotelnya, mereka digerebek dan ditangkap petugas-petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Rupanya Abu Fatah sedang menjadi target pengawasan atas dugaan korupsi berjamaah, yang dipantau ketat oleh KPK.

Begitulah jika Gusti Allah sudah membiarkan tabir penutup aib hamba-hamba-Nya tersingkap.Rita adalah seorang mahasiswi muda beliau dari keluarga sederhana, yang tak menyadari kemampuan ekonomi serta statusnya sebagai wanita dan mahasiswa, bergaya hidup bak orang kaya. Sementara Abu Fatah, adalah putera seorang ulama, alumni pondok pesantren dan bagian dari jaringan persahabatan tokoh-tokoh partai yang berlabel Islam, yang sedang hidup bergelimang pesona dunia.

Contoh kisah yang kedua, mahasiswa Ridho Ramanda, juga nama yang disamarkan, adalah seorang putera pejabat tinggi ternama, yang mengalami kecelakaan di jalan tol Jagorawi, pagi-pagi sekali pukul 05.45, setelah semalaman bergadang merayakan pesta tahun baru 2013 Masehi, yang tidak ada di dalam kamus kegiatan islami. Lantaran mengantuk, Ridho yang berusia 22 tahun ini menabrak mobil lain sehingga menewaskan dua orang dan mencederai tiga orang lainnya.

Kasus yang menyerupai Ridho, dialami oleh Abu Jamal, pun nama yang disamarkan, pelajar di bawah umur dengan usia 13 tahun yang ngebut dengan mobilnya di jalan tol pukul 00.45 sehingga mencelakai kendaraan lain dan merenggut tujuh nyawa manusia serta melukai sejumlah orang.

Ketiga contoh tadi, menggambarkan betapa gaya hidup generasi muda kita telah melenceng dari apa yang diajarkan oleh Islam dan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Bukan hanya pada keluarga mereka, tapi harus kita akui bahwa kekuasaan, kekayaan, harta benda dan pesona dunia telah menyilaukan matahati kehidupan banyak rumahtangga masyarakat kita dewasa ini. Padahal kita yakin mereka adalah keluarga-keluarga muslim yang pasti sering mengumandangkan tasbih, menyebut asma Allah nan Maha Suci serta shalawat nabi.

Namun memang tidak mudah menangkap energi api ajaran islami dibanding menangkap abunya. Sebagaimana dikisahkan perawi hadis Bukhari, suatu hari tatkala Baginda Rasul sedang berwudhu, para sahabat berebut menampung limbah atau musta’mal air tetesan wudhu yang mengalir dari sela-sela jari tangan Rasulullah. Para sahabat tersebut memanfaatkan air limbah itu buat membasuh muka masing-masing.

Kanjeng Nabi terkejut melihat air limbah wudhunya dipakai mambasuh muka para sahabat yang bersih itu.Beliau bertanya, “Wahai sahabat-sahabatku, apa yang sedang kalian lakukan? Mengapa air kotor bekas wudhuku kalian pakai membasuih muka?” Salah seorang menjawab, “Kami sedang menunjukkan rasa cinta kami kepadamu ya Rasulullah.” Kanjeng Nabi menggeleng dan bersabda, “ Tidak para sahabatku tercinta, bukan seperti itu cara kalian membuktikan cinta kepadaku. Jika memang kalian bena-benar mencintaiku, maka patuhilah ajaranku, dan kerjakan sunahku.”Beliau kemudian menegaskan, “Barangsiapa mencintai sunahku, berarti dia mencintaiku.Dan barangsiapa mencintaiku, pasti akan bersamaku di dalam surga.”

Sahabatku, kita sering secara gegap gempita merayakan hari-hari besar Islam, memperingati maulud atau hari kelahiran Nabi Muhammad Saw, bahkan mengumandangkan atau membaca shalawat setiap hari.Tentu itu semua bagus. Namun akan jauh lebih bagus lagi dan bermakna apabila kita bisa memetik hikmah dengan meneladani perilaku kehidupan mulianya, serta mentaati sabda, hadis dan sunahnya. Lebih jauh lagi, jangan sampai mulut kita mengumandangkan shalawat dan jari kita menghitungnya ratusan, bahkan ribuan, tapi perilaku kita menyimpang dan bertentangan dengan hadis serta sunahnya.

Tiga contoh peristiwa di atas, jelas-jelas menggambarkan betapa pragmatisme dan hedonarsis telah mempengaruhi kehidupan generasi muda penerus masa depan bangsa dan umat. Mereka hanyalah beberapa titik pada puncak gunung es berhala-berhala modern, penghamba pesona dunia, sebagai akibat bergesernya filosofi dan tata nilai kehidupan dari idealisme dan akhlak mulia, ke pragmatisme-materialisme yang berkembang semakin banal.Sebagian generasi muda kita telah menganut slogan kehidupan, “Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya dan mati masuk surga.Hidup sekali, mati sudah pasti, karena itu nikmatilah dunia selagi kita hidup.”

Pergeseran filosofi dan tata nilai kehidupan ini, memang dirancang secara sengaja oleh Kapitalisme Global, yang secara sadar dan terpola, membentuk suatu tata dunia baru dengan gaya hidup masyarakat yang menekankan pentingnya kekuatan modal, ilmu dan teknologi, yang selanjutnya menghasilkan aneka produk gaya hidup moderen dalam segala bentuknya, baik yang berupa jasa maupun barang.

Dengan dukungan media massa yang berbasis teknologi canggih, mereka menggalang citra gaya hidup yang menekankan pada kebebasan individu, kepentingan diri dan pasar bebas. Sebuah contoh gaya hidup yang tidak islami namun bisa marak di Indonesia dengan penduduk mayoritas beragama Islam ini, adalah perayaan Hari Kasih Sayang setiap tanggal 14 Pebruari, yang dikenal sebagai Hari Valentine.Penggalangan citra super luar biasa ini, ditandai aneka produk dengan ciri warna dasar merah jambu, gambar simbol hati, bunga mawar dan coklat.Padahal hari Valentine adalah hari peringatan Katholik Roma untuk martir Santo Valentine.

Demikianlah, Kapitalisme Global telah menciptakan musik jiwa yang mampu membuat nilai tukar sebagai tujuan utama, dengan mengabaikan nilai-nilai kebenaran termasuk tradisi luhur bangsa-bangsa dan agama. Musik jiwa ini menurut Herbert Marcuse (One Dimensional Man,dalam berbagai tulisan di internet antara lain ungumerahmuda.blogspot.com, Abdul Muin Angkat blog dan Manusia Satu Dimensi, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta 2000 ) bahkan telah menjadi sumber kekuasaan baru pasca Perang Dunia II, yaitu kekuasaan selera dan gaya hidup, yang dikemas dengan penggalangan citra, iklan dan promosi secara besar-besaran. Ia menyerbu ke segenap pelosok dunia, termasuk Indonesia, yang secara kebetulan sedang mengalami lompatan-lompatan budaya.

Kapitalisme Global dengan dalih rasionalitas, efektivitas dan produktivitas, menawarkan kebebasan berfikir, berbicara dan berkesadaran, telah menggilas nalar, budi luhur dan kearifan-kearifan tradisional, selanjutnya memobilisasi masyarakat secara total.

Kapitalisme Global telah melancakan perang semesta, sebagaimana perang yang paling dikuatirkan Rasulullah Saw, yaitu bukan perang fisik seperti Perang Badar, melainkan perang di wilayah batin dan jiwa manusia. Perang semesta merupakan perang moderen yang paling dahsyat, yang bukan lagi ditentukan oleh benteng-benteng batu nan kokoh serta meriam-meriam, melainkan perang budaya dan gaya hidup yang mampu menembus masuk ke ruang-ruang pribadi di dalam rumahtangga setiap penduduk dunia.

Perang semesta bisa dengan cepat dan tanpa disadari target sasarannya, menyingkirkan budaya, nilai-nilai agamis dan tata nilai lainnya, sekaligus membangun alam pikiran baru yang terpadu secara total, yang pada hakekatnya membangun gaya hidup yang individualistis, pragmatis, hedonis, materialistis dan narsis.

Dengan musik jiwa dan gaya hidup, Kapitalisme Global telah menciptakan kebutuhan-kebutuhan palsu yang menyihir dan menghisap individu-individu ke dalam pusaran sistem produksi dan konsumsi. Media massa, budaya termasuk film dan musik, industri periklanan, penggalangan citra, manajemen dan cara-cara berfikir sempit, semuanya diarahkan untuk memproduksi sistem represif yang melenyapkan negativitas, kritik dan perlawanan. Sistem yang seperti ini membentuk masyarakat industri maju lintas negara yang moderen, dengan pola pemikiran yang berdimensi satu, yang tidak mengenal alternatif.

Di dalam ketatanegaraan dan politik praktis, hal itu bisa dilihat dari fenomena partai-partai, yang secara ideologis tidak lagi memiliki perbedaan. Mereka seolah-olah menawarkan perbedaan dan perubahan, namun sejatinya tidak ada bedanya antara partai satu dengan yang lain.

Manusia moderen mengira dirinya benar-benar hidup bebas dalam dunia yang menawarkan aneka kemungkinan untuk dipilih, diraih dan diwujudkan, padahal kebebasan yang dikehendakinya sesungguhnya hanyalah apa yang sudah didiktekan oleh Kapitalisme Global kepadanya.

Ketiga contoh peristiwa yang mengawali tulisan ini, dengan gamblang menggambarkan serangkaian perilaku masyarakat yang mengabdi pesona dunia dengan kebebasannya. Demikian pula berbagai fakta di persidangan kasus-kasus korupsi yang hampir setiap hari digelar beberapa tahun belakangan ini, menunjukkan keterlibatan para tokoh dari lintas profesi dan pilar kekuasaan, mulai dari pengusaha, legislatif, eksekutif sampai dengan yudikatif. Mereka menunjukkan perilaku mengejar kekuasaan dan kekayaan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dengan segala cara. Mau serba enak secara instan, sehingga mengabaikan ajaran-ajaran moral dan agama.Kesalehan hanya sebatas formalitas bahkan dijadikan sebagai topeng.Puji-pujian terhadap Yang Maha Kuasa dan Kanjeng Nabi hanyalah penghias bibir belaka.

Sahabatku, tasawuf mengajarkan para penganutnya untuk membangun akhlak luhur dan budi mulia, hidup bersih, sederhana dan mengabdi, yang tidak silau apalagi memuja pesona dunia.Islam diturunkan bukan untuk meluapkan kebebasan individual dan kepentingan diri, melainkan mengabdi pada kebersamaan dan harmonisasi dalam mewujudkan rahmat bagi semesta alam. Bukan hanya bagi manusia, bahkan bukan hanya untuk sesama muslim. Karena itu Rasulullah senantiasa menunjukkan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau hidup sangat sederhana, zuhud dan wara, lembut lagi penuh kasih sayang terhadap sesamanya, sampai-sampai semua benda perlengkapan hidupnya, juga binatang piaraannya diberi nama serta panggilan kesayangan. Beliau juga sangat menjaga perasaan orang lain, sebagaimana contoh sederhana yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, “Apabila kalian bertiga, maka janganlah dua orang berbisik-bisik dengan membiarkan, tidak mengajak yang ketiganya.”

Maka, marilah sama-sama kita renungkan dan hayati gumaman isteri beliau, Siti Aisyah, di pinggir makam Rasulullah pada malam pertama setelah pemakaman:

“ Wahai laki-laki yang tak pernah mengenakan sutera.
Wahai laki-laki yang tak pernah tidur di atas tilam nan lembut.
Wahai laki-laki yang hingga saat meninggalnya belum pernah
kenyang dengan roti gandum yang lezat-lezat.
Wahai laki-laki yang menyukai dipan kasar dibanding ranjang mewah.
Wahai laki-laki yang sering beberapa malam tidak tidur karena takutnya pada neraka (yang mengancam umatnya).”

(Sumber: K.H.Abdurrahman Arroisi dalam 30 Kisah Teladan dan K.H.Firdaus AN dalam Detik-Detik Terakhir Kehidupan Rasulullah).

Leave a comment

Filed under Uncategorized