JANGAN PERNAH MERASA SOK MENJADI PEMEGANG KUNCI SURGA.

Belakangan ini banyak beredar isyu khususnya di berbagai media sosial, yang menyerang dan menyangsikan kadar keislaman seseorang. Janganlah kita merasa sok menjadi pemegang kunci surga. Sesuai nasehat Kanjeng Nabi Muhammad Saw, seorang muslim sejati adalah orang yang tidak akan menyakiti hati saudara seimannya. Marilah sahabatku, kita bersangka baik kepada sesamanya, dan bersyukurlah atas keislaman seseorang.

Marilah kita camkan dan hayati peringatan Kanjeng Nabi yang diriwayatkan oleh Muslim sbb, “Demi zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang kamu telah melakukan amalan penghuni surga. Namun tatkala perjalanannya tinggal sehasta saja, karena ketentuan takdir bisa jadi berbalik melakukan amalan penghuni neraka. Sebaliknya salah seorang kamu telah melakukan amalan penghuni neraka. Tetapi ketika perjalanan tinggal sehasta saja, lantaran ketentuan takdir bisa jadi berubah melakukan amalan penghuni sUrga, sehingga bisa masuk ke dalamnya.”.

Nah tidakkah itu semua sudah lebih dari cukup buat mengingatkan kita semua agar tidak sok suci? Semoga kita dijauhkan dari perlaku buruk yang seperti itu, serta dianugerahi kemuliaan untuk dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, yang penuh limpahan kasih sayang Allah Swt.

Aamiin.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Bagaimana Kita Memilih Presiden?

Rabu Wage tanggal 9 Juli 2014 atau 11 Ramadhan 1345H, insya Allah kita rakyat Indonesia akan memilih Presiden, satu dari dua pasang yaitu Calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto dengan Calon Wakil Presiden (Cawapres) Hatta Rajasa, dan Capres Joko Widodo dengan Cawapres M.Jusuf Kalla. Suara yang kita berikan pada hari itu akan dihitung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), dan akan menghasilkan angka-angka statistik yang berujung pada pemberian mandat untuk selama lima tahun, kepada pasangan yang memperoleh suara terbanyak.

Sesuai dengan Undang-Undang, jika rakyat ternyata kecewa terhadap Presiden yang dipilihnya, maka harus menunggu sampai masa jabatan lima tahun tersebut selesai. Karena itu sebelum menentukan pilihan untuk memberikan mandat, kita tidak boleh bagaikan membeli kucing dalam karung, yang kita tidak tahu apakah itu kucing buduk yang berpenyakitan ataukah kucing yang sehat lagi berbulu indah. Oleh sebab itu kita tidak boleh percaya sepenuhnya pada kontes popularitas apalagi yang hanya berupa aneka jenis penggalangan citra dan iklan dengan sejuta embel-embel visi-misi serta janji-janji muluk untuk membangun bangsa dan menyejahterakan rakyat.

Sudah menjadi ketentuan umum, jika kita ingin melamar pekerjaan, bahkan untuk setingkat prajurit atau satuan pengamanan saja, kita harus menyertakan daftar riwayat hidup yang berisi rekam jejak kehidupan kita. Perusahaan-perusahaan asing khususnya perbankan, menjadikan penelusuran rekam jejak calon rekanan atau nasabah besar, sebagai prioritas. Mereka menyewa intelijen-intelijen bisnis guna menelusuri dan mengetahui rekam jejak kehidupan serta bisnis calon rekanannya itu. Bahkan di perusahaan-perusahaan besar atau untuk jabatan-jabatan tertentu, tidak jarang kita harus menjalani tes psikologi. Di lingkungan TNI/Polri kita juga mengenal apa yang disebut pra kesehatan jiwa (prakeswa).

Terhadap calon anggota legislatif (caleg), KPU mengumumkan secara terbuka dalam jangka waktu tertentu, daftar para caleg kepada masyarakat luas, agar membantu meneliti rekam jejaknya sekaligus memberikan tanggapan. Hal yang sama diberlakukan pula kepada calon-calon pejabat yang akan menjadi anggota Komisi-Komisi Negara. Nah, untuk Capres/Cawapres yang kedudukannya jauh lebih vital-strategis dan luar biasa, sayang sekali hal ini justru tidak diberlakukan.

Meskipun demikian, ada secerah harapan tatkala KPU-2014 mengumumkan selain akan melakukan tes kesehatan, juga akan melakukan tes psikologi dengan sekitar 500 pertanyaan kepada Capres/Cawapres. Tes psikologi diperlukan bukan hanya sekedar buat mengetahui tingkat kecerdasan yang dikenal dengan istilah IQ (intelligence quotient) sebagaimana yang orang awam pahami, tetapi lebih jauh dari itu, guna mengetahui potensi serta kecenderungan emosi, perilaku, waham dan sejumlah aspek-aspek kejiwaan lainnya.

Sesungguhnya Indonesia memiliki pengalaman yang menarik tentang analisa psikologi para Capres, namun sayang kita abai terhadap pengalaman tersebut. Pada sekitar bulan September 2004 atau beberapa hari sebelum Pemilu Presiden putaran kedua, dua orang psikolog senior Universitas Indonesia, yaitu Niniek L Karim dan Bagus Takwin mengeluarkan buku “Sang Kandidat, Analisis Psikologi Politik Lima Kandidat Presiden dan Wakil Presiden RI Pemilu 2004”.

Tentang Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) misalkan, Sang Kandidat menilai antara lain (1) kurang gigih dalam memperjuangkan idenya; (2) terlalu banyak pertimbangan sehingga lambat mengambil keputusan; (3) terkesan ragu-ragu karena menunggu banyak masukan dari pihak lain sebelum mengambil keputusan; (4) datar secara emosional dan emosi tidak lepas; (5) kurang tegas dan kurang memiliki kontrol terhadap orang; (6) dapat menimbulkan kesan berpura-pura dan tidak menampilkan yang sebenarnya.

Kita harus memberikan acungan jempol kepada kedua psikolog tersebut, meskipun dalam membuat analisa tidak melakukan tes mendalam dengan sekitar 500 pertanyaan seperti terhadap Capres/Cawapres 2014, analisa Sang Kandidat terbukti tak jauh meleset. Mestinya hasil tes KPU 2014 lebih sahih dibanding hasil pengamatan Sang Kandidat. Tetapi sayang sekali hasil tes yang dibiayai dengan uang rakyat itu, tidak dilaporkan kepada yang membiayai dan patut memanfaatkan hasil tesnya, tidak diumumkan secara luas kepada rakyat, sehingga sampai memasuki masa kampanye sekarang ini, rakyat tidak bisa mengetahui kondisi kejiwaan para calon pemimpin yang akan dipilihnya. Jika terhadap para caleg dan calon komisioner negara saja masyarakat diberikan waktu dan kesempatan luas untuk melakukan penilaian, maka sudah seharusnya terhadap Capres/Cawapres, waktu dan kesempatan itu juga diberikan, bahkan lebih leluasa lagi. Namun nyatanya tidak.

Sementara kesempatan buat melakukan penilaian secara benar terhadap para Capres/Cawapres semakin meredup, kampanye pencitraan melalui instrumen-instrumen penggalangan alam pikiran rakyat ala kapitalisme global seperti media massa termasuk media sosial, periklanan dan unsur-unsur industri hiburan bergulung-gulung gegap gempita merasuki kita.

Agar alam pikiran kita tetap jernih dan mata batin kita tajam dalam membuat penilaian dan pilihan, maka saya mengajak para sahabat untuk mengasah serta mendayagunakan pedoman-pedoman keagamaan dan kearifan-kearifan lokal yang sudah kita miliki. Dengan demikian insya Allah kita akan bisa menyaring kampanye-kampanye hitam, gibah dan fitnah yang bersimaharajalela dalam beberapa tahun terakhir, lebih-lebih setahun terakhir tatkala hawa pemilu mulai menghangat.

Kini kita sedang menyaksikan para elit politik yang semula saling mendukung dan memuji, hanya dalam kurun beberapa bulan, bahkan ada yang hanya berbilang hari, saling serang dan mencerca satu sama lain. Fenomena ini mengingatkan nasehat Sang Guru kepada Antigone dalam kisah Oedipus dari mitoligi Yunani yang amat termasyhur, “….dari semua kejahatan yang bagai cacing mengerikiti jalan menuju istana raja-raja, yang terburuk adalah nafsu berkuasa. Nafsu berkuasa mengadu saudara lawan saudara, ayah lawan anak dan anak lawan tenggorokan orangtuanya.”

Berbagai senjata dan amunisi, tak peduli baik-buruk, halal-haram dan dosa yang menyertai nafsu-nafsu kekuasaan, kini sedang menyelimuti kita. Sementara para kandidat, dengan sejuta gaya berakting merayu rakyat. Maka dalam suasana gegap gempita kontestasi Pilpres yang terlanjur dikemas oleh para elit bagaikan perang suci dengan jargon dan istilah-istilah peperangannya, cara yang paling sederhana adalah jangan memilih yang paling mendekati atau yang memang sudah menjadi “raja tega”, tega melakukan kampanye hitam, tega memfitnah dan memutar-balikkan fakta, tega menggunakan isu-isu SARA (Suku-Agama-Ras-Antar Golongan) yang sangat berpotensi memecah-belah bangsa.

Marilah kita hayati pula peringatan Kanjeng Nabi Muhammad Saw kepada sahabat-sahabatnya yang meminta jabatan dan kekuasaan, “ Demi Allah aku tidak akan memberikan pekerjaan tersebut kepada seorang yang memintanya, apalagi kepada seseorang yang amat loba kepadanya.” (HR.Muslim). Tapi siapa yang paling loba, paling haus kekuasaan diantara para kandidat? Ayo kita lakukan salat istikharah, tafakur dengan khusyuk dan jujur pada diri sendiri.

Masih ada satu lagi tolok ukur yang diajarkan Rasulullah Saw sebagaimana diriwayatkan Abu Daud, “ Apabila Allah berkenan untuk munculnya kebaikan bagi seorang pemimpin, maka Allah akan memperuntukkan baginya para pembantu yang jujur, yang bila pemimpin itu lupa maka para pembantunya akan mengingatkannya, dan bila ia ingat maka para pembantunya pun akan membantunya. Sebaliknya bila Allah berkehendak selain itu, maka Allah akan menyediakan baginya para pemimpin yang jahat, yang bila sang pemimpin lupa, maka para pembantunya tidak mengingatkannya, dan bila ingat maka para pembantu tersebut tidak membantunya.”

Melengkapi hadis tadi, adalah sebuah nasehat bijak yang berlaku secara universal di berbagai bangsa dari zaman ke zaman, yaitu “jenis itu berkumpul dengan jenis. Rusa akan berkumpul dengan sesama rusa, serigala berkumpul dengan sesama serigala, kerbau berkumpul sesama kerbau dan harimau sesama harimau.” Maknanya, dalam menilai seseorang lihatlah orang-orang di sekelilingnya, lihatlah teman-temannya, orang-orang dekatnya. Sebab tidak mungkin rusa hidup nyaman bersama kerbau apalagi dengan serigala dan harimau. Penjudi akan nyaman jika berkumpul dengan sesama penjudi. Penari nyaman berkumpul dengan sesama penari. Teman bermain orang-orang baik ya orang baik pula. Pun demikian sebaliknya.

Nah sahabatku, sekarang silahkan anda membuat penilaian sendiri. Dalam tulisan pendek ini, saya hanya sekedar mengingatkan beberapa metode penilaiannya saja, yaitu metode-metode yang sudah lazim, namun sering kita lupakan. Dan kalau anda berkenan lagi pula ada waktu silahkan juga mencoba membuka serta membaca tulisan saya yang berjudul “Cara Presiden Soeharto Merekrut Para Menterinya”, dalam buku “34 Wartawan Istana Bicara Tentang Pak Harto”, yang sudah diterbitkan oleh Universitas Mercu Buana atau buka blog http://bwiwoho.blogspot.com atau langsung saja bertanya kepada mbah google.

Semoga Gusti Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, menyayangi kita bangsa Indonesia, dengan menganugerahkan petunjuk, pertolongan, rahmat dan berkahNYA. Menganugerahi kita pemimpin yang terbaik dari semua yang baik. Pemimpin yang mumpuni, amanah serta peduli pada rakyatnya.
Aamiin,
Depok, 3 Juni 2014.

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Belajar Memetik Hikmah Kehidupan dari Al Hikam

Kitab inilah yang patut dikaji
dan umpama mas yang sudah diuji
dan umpama pula makanan yang dihidangkan
dan yang lain itu tudung sajinya
dan umpama pula buah-buahan
isinya dan minyak dalam bijinya
karena dialah yang menyampaikan kepada Tuhan
lagi besar pahala dan imbalannya
dan yang mendapat ilmu dan mengamalkan
orang itulah yang patut dipuji-Nya
surga itulah kediaman yang kekal
ilmu itu pintu dan bajinya
dan yang jahil dengan dia api neraka
selar, sengat tikam gergajinya
ya rabbi kurniakan pintu pembuka-Mu
bagi tiap-tiap hamba yang mengajinya.

(Sajak Melayu-Patani tentang kitab Al-Hikam, dalam Kitab Kuning, Martin Van Bruinessen, Penerbit Mizan 1995, halaman 136).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Perhitungan (Primbon) Jawa, Contoh Kasus Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden

Boleh percaya boleh tidak, tapi tidak ada ruginya bila mengikuti nasihatnya.

Dalam membuat sesuatu penilaian terhadap seseorang dan sesuatu peristiwa, cara Jawa menggunakan berbagai metode yang dirumuskan berdasarkan pengalaman empiris ratusan atau bahkan ribuan tahun. Metode-metode itu antara lain neptu, jam kelahiran, hari lahir atau weton, bulan dan tahun Jawa, wuku, pranotomongso, nogo dino, pal, paringkelan, poncosudo, kamarokam dan katuranggan (fisiognomi kalau menurut cara China).

Semua metode perhitungan yang dikenal umum sebagai primbon itu, kecuali katuranggan yang berpedoman pada ciri-ciri fisik dan cahaya serta aura orang, metode-metode yang lain didasarkan pada ciri dan sifat alam semesta yang sangat terinci, yang dianggap bisa memberikan pengaruh kepada seseorang atau sesuatu kejadian. Karena itu, perhitungan ini sesungguhnya bukanlah ramalan gaib, melainkan sebuah ilmu pengetahuan yang sudah teruji dalam jutaan kasus dalam kurun waktu yang panjang. Lantaran tulis-menulis belum menjadi tradisi yang ketat pada orang Jawa zaman dahulu, maka pengetahuan tersebut menyebar dari mulut ke mulut secara turun-menurun. Akibatnya bumbu cerita dan eksesnya tidak bisa dibendung, terutama bumbu-bumbu gaib.

Perhitungan Jawa menghasilkan perkiraan potensi diri dan potensi kejadian, yang disajikan dalam bentuk analisa “kekepan’ atau kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman, beserta antisipasi dan solusinya. Karena itu meskipun seseorang misalkan, memiliki potensi kelemahan dan peluang atau berpontensi terjadinya hal buruk , tidak otomatis semua potensi tersebut akan menjadi kenyataan, asalkan yang bersangkutan bisa tau dan memahami dirinya, selanjutnya dengan itu tau menempatkan dan tau membawa diri. Demikian pula kemungkinan sebaliknya.

Sesunguhnyalah, perhitungan Jawa itu tidak ada bedanya dengan sebuah analisa SWOT (Strong-Weakness- Opportunity –Threat) di era modern ini, yang menggambarkan hal-hal baik seperti kekuatan dan peluang serta hal-hal buruk seperti kelemahan dan ancaman. Seseorang yang memahami kelebihannya dan bisa mendayagunakan dengan baik, lebih-lebih bisa menangkap serta memanfaatkan peluang yang timbul, sementara itu ia juga bisa mengatasi kelemahan dan membendung potensi ancamannya, maka orang tersebut akan sukses dan bahagia dalam kehidupannya.

Sebaliknya, orang yang tidak tau diri, tidak mengenal, tidak memahami dirinya, kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman diri serta kehidupannya, tentu ia akan menjadi orang yang tidak bisa menempatkan diri dan tidak bisa membawa diri. Kekekuatan dan kelebihan dirinya dibiarkan sia-sia, kelemahannya tidak diatasi justru diobral dan ditonjol-tonjolkan, peluang baik disia-siakan, sedangkan ancaman marabahaya disongsongnya bahkan nyaris tanpa persiapan apa-apa. Maka celakalah hidupnya. Naudzubillah.

Dalam prakteknya, karena memang tidak mudah mempelajari semua metode, orang hanya membuat perhitungan berdasarkan satu metode saja, misalkan weton atau hari dan pasaran kelahirannya. Yang dimaksud hari itu ada 7 yaitu Ahad sampai Sabtu, sedangkan pasaran ada 5 yaitu Pahing, Pon, Wage, Kliwon, Legi. Kombinasi hari dan pasaran akan menghasilkan jumlah 35 (tiga puluh lima) weton yang masing-masing akan berulang setiap 35 hari sekali.
Perkiraan keadaan dan analisa SWOT mana yang paling tepat. Tentu saja yang paling banyak menggunakan parameter perhitungan, alias menggunakan berbagai metode secara kombinasi, yang bisa saling melengkapi, mengisi dan memperkuat. Namun demikian itu tidak mudah, sebab memerlukan kecermatan tinggi.

Berikut ini saya sajikan sebuah analisa tentang pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Republik Indonesia yang pendaftarannya dilakukan pada tanggal 19 dan 20 Mei 2014 yang lalu. Agar tidak memihak, saya akan sajikan gambaran umum secara singkat saja berdasarkan pengaruh alam terhadap peristiwa dan manusia pelaku peristiwa tersebut, dan tidak akan menyajikan analisa pribadi apalagi dengan menyebut nama orang.

Kedua pasangan Capres-Cawapres, selanjutnya saya sebut kandidat, sama-sama mempunyai pendirian yang kokoh dan tidak mudah goyah, yang mampu menarik perhatian serta mempengaruhi orang banyak. Mereka royal, suka menghamburkan-hamburkan dana tidak menentu dan berpotensi mengalami kekurangan. Keduanya mudah jatuh hati, terpesona dengan orang atau tokoh. Kalau meminjam istilah play-boy, mereka mudah tergiur dengan wanita dan selalu berusaha memiliki bahkan merebutnya. Apabila tidak bisa menahan diri, akan menjadi sabet sana-sini, tubruk sana-sini.

Salah satu pasangan berpotensi bagaikan api yang berkobar panas, pencemburu dan cenderung membesarkan-besarkan perkara. Tetapi Gusti Allah memang Maha Adil, meski potensial panas, ia selalu siap membantu dan terbuka dalam menerima petunjuk dari orang yang dipercaya dan mempercayainya. Sedang yang satunya bagaikan bulan yang cenderung berbudi luhur dan mencintai kejujuran dan cerdas serta bertanggungjawab. Namun demikian ia pun mudah tersinggung bila disepelekan, dan jika sudah begitu bisa bagaikan bumi yang walaupun pendiam lagi terbuka hatinya bagi orang lain, tapi berpotensi bikin ribut pula.

Pengaruh wuku Galungan dan pranatamangsa Saddha kepada kedua kandidat, memberikan sifat ramah dan tangkas dalam berkampanye, suka menghibur orang lain yang kesusahan, ingin cepat dalam menyelesaikan setiap tugas sehingga bisa grusa-grusu, gegabah lagi pula mudah gusar. Mereka bisa bagai burung elang yang bernafsu besar lagi ganas yang meluncur hendak menerkam anak kambing yang terikat. Menerkam, menerjang, menggilas apa saja.

Pasangan kandidat yang mempunyai ciri bulan, lebih suka menata rumahtangga negara dan mengembangkan pertanian. Mereka berpotensi menjadi penurut jika menemukan kecocokan, sehingga bisa menjadi sahabat yang baik tapi mudah dimanfaatkan orang. Sayangnya, juga sekaligus punya hawa kurang bisa membalas budi dan berani kepada atasan atau senior. Bila ini yang menonjol, sang penurut bisa berubah menjadi susah diredakan.

Sementara itu Sang Api, sesungguhnya berpotensi terkendali jiwanya bila dikelilingi penasehat-penasehat yang dingin. Keahlian dan minatnya luas, tetapi ambisinya yang besar mudah mengundang para pendukung yang menyalakan emosinya. Seperti peribahasa “melik anggendong lali”, ambisi dan nafsu besar untuk memiliki sesuatu bisa membuat kita lupa diri, lupa segala hal baik. Orang bisa menjadi ganas, penghasut, pemfitnah dan berusaha mencapai kehendaknya dengan caranya sendiri. Naudzubillah.

Aura tahun membuat Pemilihan Presiden (Pilpres) ini bisa seperti sebuah drama petualangan yang berlangsung cepat dan campur aduk, penuh romantisme, kegembiraan, impulsif, liar ugal-ugalan, sembrono, menguras tenaga dan dibayangi oleh frustasi serta kehampaan. Maka siapa yang bisa mengendalikan diri, dingin, jernih serta mengelola tim dengan baik akan bisa meraih kemajuan.

Oleh sebab itu yang harus diwaspadai oleh kedua kandidat beserta para pendukungnya adalah potensi mudah marah, cepat tersinggung dan besar irihatinya terhadap yang lain. Agar persaingan merebut RI-1 dan RI-2 berlangsung baik dan tidak memicu hura-hara besar, sebaiknya para kandidat mencari penasehat-penasehat yang dingin dan jernih bagaikan air dari telaga makrifat yang dalam dan tenang, serta sungguh-sungguh menghindari kampanye hitam, fitnah dan kecurangan. Kedua kandidat harus bisa menahan diri serta menghormati satu sama lain, mengendalikan para pendukungnya dan menghayati hakekat Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, serta taat dengan sesungguh-sungguhnya taat kepadaNYA. Kalau saja pendaftaran bisa dilakukan antara hari Rabu – Sabtu (21 – 24 Mei 2014) potensi aura positif akan lebih besar.

Sementara itu masyarakat luas jangan mudah terpancing ikut memperkeruh suasana dengan menyebarluaskan fitnah dan kampanye hitam yang menyesatkan, yang bisa menimbulkan luka mendalam sekaligus dimurkai Gusti Allah Yang Maha Suci. Janganlah kita terpancing menjadi sok tahu, sok bersih, sok suci serasa memegang kunci pintu surga. Memang kita harus berani menegakkan amar makruf nahi munkar, namun hendaklah kita adil dan waspada, sungguh-sungguh tahu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, bukan karena sekedar kata atau foto dan berita kiriman teman. Jangan lupa, kita masing-masing akan memanen buah perbuatan kita sendiri. Maka jika anda tidak ingin tersapu badai, janganlah suka menabur angin, menyebarkan gibah dan fitnah.

Para ulama nan bijak bestari dan TNI/Polri harus bisa berdiri tegak secara netral, menjadikan dirinya bagaikan air sejuk yang bisa mendinginkan suasana panas nan membara, dan bukan sebaliknya ikut-ikutan memperbesar nyala api permusuhan. Bisa menjadi bagaikan tali pengikat sapu lidi, bisa menjadi lem yang merekatkan serpihan-serpihan kayu atau tatal, menjadi sebuah tiang seperti tiang Masjid Agung Demak yang kokoh kuat.

Aura abad, bumi dan langit sungguh sedang kurang berpihak kepada negara kepulauan seperti Nusantara kita ini. Yang bila kita tidak hati-hati dan bijaksana dalam bertindak, bahaya perpecahan bangsa dan negara akan menerjang. Dalam kondisi yang seperti ini kita semua harus mengutamakan persatuan dan persaudaraan dengan pelukan kasih sayang yang menenangkan dan menenteramkan satu sama lain.

Demikianlah sahabatku, sekilas catatan selingan di tengah hiruk pikuk menjelang kampanye Pemilihan Presiden.

Jumat, 23 Mei 2014.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Hadis tentang Berdebat: Jangan Suka Main Takwil-Takwilan dan Berdebat

Imam Baihaqi, ahli hadis terkemuka dan pengikut mazhab Syafii meriwayatkan, pada suatu waktu Kanjeng Nabi Muhammad menyaksikan sejumlah orang berdebat seru tentang takdir. Melihat itu, merah padam muka beliau dan lalu berpidato: “Sesatnya orang-orang yang dulu itu karena suka berdebat, antara lain tentang qadha dan qadar. Orang-orang yang pada mulanya benar, tapi kemudian sesat itu, dimulai karena suka berbantah-bantahan”. Beliau melanjutkan, sebagian besar dari penghuni surga itu adalah orang-orang yang pikirannya sederhana saja.

Berdasarkan hadis tersebut, maka banyak ulama, mursyid dan perkumpulan tarekat yang mengatur adab buat para muridnya untuk meninggalkan perdebatan, tebak-tebakan serta pertengkaran tentang sesuatu pembahasan ilmu, sebab yang demikian itu acapkali membangkitkan takabur, ujub-riya, menimbulkan kealpaan dan kekeruhan. Ulama terkenal, mursyid pada Majelis Al-Ghazaly – Bogor, KH. Abdullah bin Nuh, secara tegas melarang kita main takwil-takwilan apalagi terus diselingi ayat Qur’an. “Jangan mengobrol tak karuan”, pesannya.

Ada sekitar belasan sampai duapuluhan adab murid penganut perkumpulan-perkumpulan tarekat, salah satunya yang lazim ada ialah meninggalkan tanya-menanya dan perdebatan, apalagi pertengkaran tentang sesuatu pembahasan ilmu, karena yang demikian itu acapkali membawa manusia kepada kealpaan dan kekeruhan. Jikalau sesuatu perdebatan sudah terjadi, maka segeralah minta ampun kepada Allah, dan meminta diri kepada mereka yang ingin melakukan perdebatan atau melanjutkan pembahasan itu. Demikian pula, seorang murid harus mencegah perdebatan tentang diri orang lain.

Semoga kita semua senantiasa dikaruniai hidayah untuk bisa menghindari perdebatan sebagamana tersebut di atas, serta dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-NYA yang rendah hati dan ikhlas. Aamiin.

KEBERHAMBAAN.

Ya Allah
Ya Khaaliq – Ya Qudduus
Ya Malik – Ya ‘Azhiim
Ya Qaadir – Ya Muqtadir
Ya Jabbaar – Ya Salaam

Duh Gusti, Sang Maha Sutradara
hamba ini adalah bidak Paduka
yang tak pernah punya hak ikut campur urusan Paduka
juga tak punya hak mengurusi kewenangan Paduka
dalam mengatur peran nasib bidak-bidak Paduka
kalau pun hamba berdoa dan meminta
itulah penegasan
bukti penghambaan dan ketakberdayaan hamba
karena itu tenangkanlah jiwa hamba
untuk senantiasa berserah diri
dalam limpahan kasih sayang Paduka.

 

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Buku Saku Mutiara Hikmah Ramadhan

MARI MEMPERSIAPKAN DIRI MENYAMBUT BULAN RAMADHAN yang segera tiba, dengan terus menyegarkan dan meningkatkan pemahaman kita tentang Ramadhan tersebut. Untuk itu itu kami telah menghimpun berbagai tulisan tentang Ramadhan di facebook Tasawuf Djawa Full dan blog http://islamjawa.wordpress.com/ dalam sebuah buah saku sederhana (11,5 x 17,5 cm) setebal 60 halaman, sehingga mudah dan enak dibaca di mana saja.
Terima kasih nan tak terhingga kepada para sahabat yang sudah bersama-sama menghayati dan mengamalkan sebuah hadis sahih, yang diriwayatkan oleh sahabat Rasulullah Saw, yaitu Abdullah bin ‘Amr, yang berbunyi: “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat” (H.R.Bukhari), dengan sangat mudah yakni ikut share, membagikan dan menyebarkan tulisan-tulisan kami tersebut. Alhamdulillaah.
Sungguh semua kita ini, telah dan akan terus berdakwah, menyebarkan ajaran-ajaran mulia yang amat diperlukan dalam kehidupan, meskipun hanya satu ayat. Khusus terhadap tulisan-tulisan kami, baik yang di buku, blog, facebook dan aneka jejaring media sosial lainnya, bisa langsung share atau bagikan, retweet, memperbanyak dan menyebarluaskan hanya dengan cukup menyebut sumbernya tanpa perlu ijin tertulis dari penulis/penerbit, asalkan tidak untuk tujuan komersial. Atau bisa juga bekerjasama dengan penerbit, bersama-sama mencetak ulang dan menyebarluaskan.
Bagi yang ingin mendapat kiriman langsung juga bisa menghubungi kami via telpon/sms: Sdr.Purwanto : 085217279283 atau Sdr.Saudin 02135897472, atau e_mail: ybp1612@gmail.com dengan mengganti ongkos kirim (Jabodetabek Rp.4.500,-luar Jabodetabek Rp.5.500,- per buku) dan infaq sukarela untuk biaya menerbitkan ulang melalui rekening BCA: No.Rek.7150808736 a/n Saudin.
Semoga perhatian dan syiar Anda memperoleh ridho dan hidayah dari Gusti Allah Swt. serta dijadikan sebagai bekal ibadah dan amal saleh Anda. Aamiin.
Billahi taufiq walhidayah
Wassalamu’alaikum wr wb.
Foto: MARI MEMPERSIAPKAN DIRI MENYAMBUT BULAN RAMADHAN yang segera tiba, dengan terus menyegarkan dan meningkatkan pemahaman kita tentang Ramadhan tersebut. Untuk itu itu kami telah menghimpun berbagai tulisan tentang Ramadhan di facebook Tasawuf Djawa Full dan blog http://islamjawa.wordpress.com dalam sebuah buah saku sederhana (11,5 x 17,5 cm) setebal 60 halaman, sehingga mudah dan enak dibaca di mana saja.<br />
Terima kasih nan tak terhingga kepada para sahabat yang sudah bersama-sama menghayati dan mengamalkan sebuah hadis sahih, yang diriwayatkan oleh sahabat Rasulullah Saw, yaitu Abdullah bin ‘Amr, yang berbunyi: “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat” (H.R.Bukhari), dengan sangat mudah yakni ikut share, membagikan dan menyebarkan tulisan-tulisan kami tersebut. Alhamdulillaah.<br />
Sungguh semua kita ini, telah dan akan terus berdakwah, menyebarkan ajaran-ajaran mulia yang amat diperlukan dalam kehidupan, meskipun hanya satu ayat. Khusus terhadap tulisan-tulisan kami, baik yang di buku, blog, facebook dan aneka jejaring media sosial lainnya, bisa langsung share atau bagikan, retweet, memperbanyak dan menyebarluaskan hanya dengan cukup menyebut sumbernya tanpa perlu ijin tertulis dari penulis/penerbit, asalkan tidak untuk tujuan komersial. Atau bisa juga bekerjasama dengan penerbit, bersama-sama mencetak ulang dan menyebarluaskan.<br />
Bagi yang ingin mendapat kiriman langsung juga bisa menghubungi kami via telpon/sms: Sdr.Purwanto : 085217279283 atau Sdr.Saudin 02135897472, atau e_mail: ybp1612@gmail.com dengan mengganti ongkos kirim (Jabodetabek Rp.4.500,-luar Jabodetabek Rp.5.500,- per buku) dan infaq sukarela untuk biaya menerbitkan ulang melalui rekening BCA: No.Rek.7150808736 a/n Saudin.<br />
Semoga perhatian dan syiar Anda memperoleh ridho dan hidayah dari Gusti Allah Swt. serta dijadikan sebagai bekal ibadah dan amal saleh Anda. Aamiin.<br />
Billahi taufiq walhidayah<br />
Wassalamu’alaikum wr wb.” width=”347″ height=”504″ /></div>
</div>
</div>
<div id=

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Belajar Mengenal Diri Demi Bisa Mengenal Allah

Kita sering mendengar hadis yang berbunyi, “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” yang berarti, barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Berapa kali kita pernah mendengar atau membacanya? Saya sendiri rasanya sudah tak terhitung. Namun demikian ternyata tidak mudah bagi saya untuk memahami, apalagi menghayati. Berbagai teori dan cara telah saya coba. Kidung, Suluk, Serat dan entah apa lagi. Metode gotak-gatik-gatuk juga sudah. Setiap penjelasan, setiap bacaan bagaikan barisan titik-titik. Memang makin lama makin rapat, tetapi belum menyambung menjadi satu garis. Barulah setelah membaca Minhajul Abidin-nya Al-Ghazali serta Al-Hikam-nya Syekh Athaillah Askandary, itu pun juga harus berulang kali, alhamdulillah, titik-titik tersebut mulai menyambung, Allaahumma aamiin menjadi sebuah garis.

Untuk menjalani tasawuf dengan makrifatnya, menurut Al-Ghazali kita harus mengenal di samping kedua hal tadi, juga dua hal lain lagi yang merupakan kelengkapan dari kedua hal utama tersebut, yaitu mengenal dunia dan mengenal akhirat. Pengenalan atas perihal dunia dan perihal akhirat, memudahkan kita melatih mengenal diri kita dan Tuhan.

Hakikat mengenal diri adalah bagaimana bisa selalu merasa bahwa kita ini hanyalah seorang hamba yang rendah, yang tak memiliki apa-apa, yang tak berdaya, yang senantiasa membutuhkan apa saja dari Gusti Allah Yang Maha Kuasa. Mata, mulut, pendengaran, nafas, denyut jantung, harta benda suami-istri, anak-anak, teman serta apa saja termasuk ilmu dan kepandaian yang selama ini kita akui, kita klaim sebagai milik kita, sesungguhnya adalah milik Allah yang dititipkan, diamanahkan kepada kita untuk sementara waktu saja, yang sewaktu-waktu, setiap saat, dapat dan akan diminta kembali sekaligus pertanggungjawaban selama kita pergunakan.

Hakikat mengenal Tuhan adalah bagaimana kita senantiasa menyadari dan tahu benar, yakin seyakin-yakinnya, bahwa hanya Gusti Allah Yang Maha Agung dan Maha Berkuasa yang berhak dipertuhan, yang berhak disembah serta dimintai pertolongan. Pemilik sesungguhnya atas apa saja yang selama ini kita klaim sebagai milik kita. Coba kita renungkan yang sederhana saja, bagaimana jadinya seseorang yang semula pandai, ingatannya tajam luar biasa, tampan, kuat gagah perkasa, tiba-tiba secara mendadak Allah mengambil kembali semua itu, saraf-saraf otaknya disumbat dan stroke, seketika lunglai tak berdaya, jatuh terpuruk di lantai, mulutnya miring, badannya lumpuh, ingatannya lenyap seketika. Naudzubillah.

Dalam mempelajari serta menghayati hakikat mengenal Tuhan, marilah sering kita jadikan sebagai zikir empat buah ayat, yakni :

1. Al-Fatihah ayat 5
2. Ayat Kursi (Al-Baqarah : 255)
3. Al-Insyiraah ayat terakhir (8)
4. Al Ikhlash ayat 2

Keempatnya sengaja tidak saya kutip, agar masing-masing dari kita mengingat sendiri sambil bertafakur menghayatinya, insya Allah kita semakin mengenalnya.

Sahabatku, hakikat mengenal dunia, adalah memahami dan menghayatinya sebagai stasiun persinggahan dalam pengembaraan menuju stasiun tujuan di Kerajaan Akhirat. Oleh karena hanya sebagai stasiun persinggahan, maka kita tak boleh terpikat habis-habisan olehnya. Agar kita tak terlena oleh daya pesona dunia yang luar biasa, sebaliknya justru harus menaklukkannya sebagai bekal membangun istana abadi kita di Kerajaan Akhirat, Gusti Allah Yang Maha Kuasa telah membekali kita dengan sebuah mandat untuk menjadi khalifah fil ard. Menjadi pengemban amanah Allah di muka bumi, guna menegakkan rahmat bagi alam semesta dan segenap isinya, dengan senantiasa taat kepada Gusti Allah dan Rasulullah dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar. Ini berarti pesona dunia itu harus kita jadikan rahmat yang harus dinikmati oleh sesamanya, bukan hanya oleh diri sendiri dan keluarga kita, dengan cara yang baik dan menghindari kemungkaran.

Akan halnya dunia, sang ahli hikmah Lukman mengajarkan, “Sesungguhnya dunia itu seperti lautan yang dalam, banyak manusia yang karam tenggelam di dalamnya. Karena itu jadikanlah taqwa sebagai bahteramu, muatannya iman dan layarnya tawakal kepada Allah. Insya Allah engkau selamat.”

Kecintaan terhadap pesona dunia khususnya harta dan kekuasaan, bisa menyebabkan orang mengabaikan ketaatan kepada Allah. Pesona dunia mampu membius manusia yang menganggapnya sebagai berhala-berhala yang patut ditaati. Sehingga tidak berlebihan apabila Buya Hamka menyebut bagaikan “agama sendiri, di luar agama Islam dan Kristen, di luar agama Brahmana dan Budha, yaitu agama yang diwahyukan oleh harta itu sendiri, mana yang halal kata harta, walaupun haram kata agama, diikut orang juga wahyu harta, larangan harta itu juga yang dihentikan orang.”

Lantaran harta menurut Buya, terbitlah aturan masyarakat, puji dan sanjung bisa dibeli dengan harta. Orang menghormati orang kaya lantaran hartanya, meskipun dia seorang pencuri halus, laksana tikus mencuri daging tumit orang yang tidur nyenyak tengah malam.

Orang yang karam dalam lautan pesona dunia, hatinya terhunjam terbenam dalam pusaran ketidakpastian kehidupan, dan hidup bagai menghasta kain sarung, berputar di sana ke sana juga. Padahal bukan harta sedikit yang menyebabkan susah, dan bukan harta yang banyak pula yang menyebabkan gembira. Pokok gembira dan susah payah adalah jiwa yang gelisah atau jiwa yang tenang dan damai.

Perihal mengenal akhirat, saya senang mengibaratkan sebagai stasiun atau kota tujuan terakhir dari suatu pengembaraan yang panjang, Seorang pengembara yang mempunyai tujuan yang jelas yang diimpi-impikan, yang dirindukan, pada umumnya akan mempersiapkan diri plus bekal yang memadai, berkonsentrasi serta menegakkan disiplin yang tinggi, menjaga diri dan perjalanannya supaya tetap sehat dan selamat tiba di kota tujuan.

Dengan setiap saat membayangkan hidup bahagia di istana Kerajaan Akhirat, kita akan selalu berhati-hati dan waspada selama di perjalanan. Karena sadar sedang mengemban amanah Allah, maka sewaktu singgah di stasiun Dunia, kita pun senantiasa mempersiapkan, melatih diri dan cermat sehingga dapat menunaikan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya.

Itu semua akan membangun kekuatan bawah sadar, batin dan jiwa kita untuk menjadi Sang Pemenang. Akan terus mengobarkan kecintaan dan kerinduan pada Sang Kekasih yang setia menunggu Sang Pemenang di Istana Akhirat. Kecintaan dan kerinduan nan membara akan meningkatkan ketaqwaan sehingga sampai ke maqam yang disebut dalam Al Hikam, hilang pandangan makhluk sebab pandangan Allah, serta melihat Allah dalam melihat alam. Kalam hikmah dari yang mulia Imam Ibnu Athaillah Askandary itu menyatakan: “Barang siapa mengenal Al Haq (Allah), niscaya dia melihat-NYA dalam tiap-tiap sesuatu. Barang siapa yang mendalam ingatannya kepada Allah, maka lenyaplah penglihatan dan perasaannya dari tiap-tiap sesuatu (selain Allah). Dan barang siapa yang mencintai Allah niscaya tidak ada sesuatu apa pun yang mempengaruhi kecintaannya.”

Maka jika kita melihat sesuatu, yang nampak adalah Sang Kekasih Yang Maha Pencipta. Jika menghadapi sesuatu keadaan, kita akan teringat pada Sang Kekasih yang adalah Sang Maha Sutradara. Jika mengerjakan sesuatu yang terbayang hanyalah Sang Kekasih Yang Maha Penentu lagi Maha Kuasa.

Alhamdulillaah, alhamdulillaah, alhamdulillaah

 

2 Comments

Filed under Uncategorized