Seri Tasawuf, Salon Kecantikan Jiwa di Era Globalisasi (5): Menjadi Gunung Karang di Tengah Gelombang Globalisasi

Tasawuf dan globalisasiSahabatku, kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan perkembangan zaman itu adalah sebuah keniscayaan. Demikian pula kehidupan di dunia dan alam raya. Semua berlangsung sesuai sunatullah. Kita tidak mungkin lari darinya, apalagi dengan bersikap bagaikan burung onta yang mencoba menyembunyikan kepalanya ke dalam tanah bila menghadapi bahaya, sementara badannya yang besar teronggok di permukaan.

Karena itu kita mesti mengarungi gelombang kehidupan ini dengan persiapan diri dan bekal yang memadai. Dunia dan apa-apa yang ada di dalamnya menurut Al Ghazali mengutip Rasulullah, terkutuk kecuali yang digunakan untuk apa-apa yang diridhoi Allah. Oleh karena itu dunia harus ditaklukkan untuk beribadah kepada Allah.

Ia menjelaskan, segala perbuatan dan tindakan yang ditujukan untuk akhirat, sudah tidak dikategorikan dunia lagi. Umpamanya, seorang pedagang yang bermaksud mencari rejeki untuk bekal ibadah dan bukan untuk memuaskan hawa nafsu serta keserakahannya. Dagang yang demikian itu termasuk amal akhirat, asal benar-benar niatnya dilaksanakan. Begitu pula dengan amal-amal mubah yang dilaksanakan dengan niat ibadah dan memang sungguh-sungguh diwujudkan. Misalkan, makan agar badan kuat, dan setelah itu menolong fakir miskin. Juga tidur agar badan sehat, dan dengan badan yang sehat itu kita melakukan kegiatan-kegiatan yang diridhoi Allah. Status hukum mubah adalah kegiatan yang bila dikerjakan tidak berpahala tapi juga tidak berdosa, sedangkan bila ditinggalkan pun tidak berdosa dan tidak berpahala.

Adapun batasan bekal ibadah, yaitu betul-betul untuk bekal ibadah, berhubungan dengan urusan akhirat dan tujuannya harus mutlak untuk itu.Bukan hanya sekedar penghias bibir yang tidak diwujudkan dalam perbuatan. Maka dalam kaitan ini menurut Al Ghazali, mengharapkan kebaikan bukanlah riya. Juga apabila kita ingin dihormati orang dengan tujuan agar seruan dan ajakannya menegakkan amar makruf nahi munkar diikuti orang banyak.Yang harus senantiasa kita waspadai, semua itu dengan tidak bermaksud memuliakan diri sendiri atau untuk memenuhi dahaga pesona dunia.

Orang-orang yang memiliki pengikut dan pengaruh besar di masyarakat serta mempunyai ilmu dan kemampuan yang dibutuhkan bagi kemaslahatan orang banyak,karenanya juga tidak boleh uzlah mengasingkan diri. Seperti Kanjeng Nabi, ia harus berdiri kokoh bagaikan gunung karang di tengah samudera kehidupan, berada di tengah masyarakat menegakkan urusan agama, menegakkan yang haq memberantas yang batil. Mengajak masyarakat melaksanakan kebaikan dan memberantas kemungkaran, memberi nasehat, menjelaskan hukum-hukum Allah.

Orang yang seperti itu mempunyai potensi besar untuk masuk ke dalam golongan orang-orang yang mampu menjalankan firman Allah dalam surat Al-Bayyinah ayat 7, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.”Perintah buat mengerjakan amal saleh juga ditegaskan sebelumnya dalam Surat An-Nahl ayat 97, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”

Di dalam Al-Qur’an cukup banyak kata iman yang dikaitkan dengan amal saleh, karena amal memang merupakan realisasi dari iman.Perwujudan nyata dari iman adalah amal saleh.Jika hanya berbicara mengenai iman saja, maka itu merupakan rahasia antata kita dengan Gusti Allah.Tiada seorang pun kecuali diri sendiri yang tahu apakah kita betul-betul beriman atau tidak.Oleh sebab itu jika iman dikaitkan dengan amal, menjadi nampak perwujudannya di dalam perilaku sehari-hari, sehingga dengan demikian iman menjadi sempurna karena ada buktinya. Mewujudkan iman menjadi amal saleh merupakan tahapan-tahapan perjalanan seorang salik dalam menapaki jalan ketuhanan.

Amal saleh atau kerja yang mulia dan baik, seringkali hanya ditafsirkan secara sempit, terbatas pada perbuatan ibadah ritual yang kita kenal sehari-hari seperti salat, puasa dan haji.Bahkan ada lagi yang membuat sekedar ukuran formalitas.Misalkan orang yang berpeci putih atau bersorban diberi predikat orang beriman yang saleh. Tentu saja ini menyedihlkan, sebab iman dan amal saleh hanya diukur sebatas itu. (Memaknai Kehidupan).

Menurut Prof.K.H. Ali Yafie, pengertian amal saleh yang perlu kita miliki dan yang harus dikembangkan adalah seluruh aktivitas yang dilakukan orang beriman, yang dimulai dengan kebersihan, dikembangkan dalam kesederhanaan dengan sasaran pengabdian. Itulah gambaran yang lengkap dari amal saleh.Dan itu pula yang dikembangkan dalam pembinaan tasawuf, yang menitikberatkan pada pembinaan personal-individual.

Sahabatku, dengan pemahaman mengenai tasawuf dan gelombang globalisasi sebagaimana telah kita bahas di atas, maka dengan berbekal tasawuf kita akan berani berdiri tegar dan kokoh. Dengan tasawuf kita akan bisa membangun semangat dan pola hidup meneladani pola kehidupan Kanjeng Nabi Muhammad dan para sahabatnya, yaitu bersih – sederhana – mengabdi (BSM). Pola hidup yang tidak konsumtif, yang tidak larut dalam gemerlap pesona dunia dengan serba kemewahannya.

Sederhana pada hemat Puang Yafie, tidak identik dengan kemiskinan atau pun hidup miskin. Sederhana tidak tergantung pada materi yang dimiliki, tetapi pada sikap. Sikap inilah yang perlu diluruskan. Tidak ada halangan bagi seseorang, bahkan seorang sufi sekalipun, untuk hidup kaya. Sebab banyak di dalam cerita, sufi itu adalah orang-orang kaya. Seperti yang paling terkenal adalah Imam Malik, seorang sufi yang kaya raya. Sahabat Nabi Saw, yang bernama Abdurrahman bin ‘Auf dan Usman bin ‘Affan adalah sufi yang kaya raya. Akan tetapi, kekayaannya betul-betul digunakan sesuai dengan tuntunan Islam.

Sederhana adalah tidak berlebih-lebihan dan tidak bermewah-mewahan. Oleh karena itu, pola hidup sederhana ini memerlukan penjelasan untuk menepis pengertian yang tidak positif. Biasanya hidup sederhana diartikan dengan miskin dan serba kekurangan. Ini merupakan pengertian yang tidak positif. Yang tepat, hidup sederhana adalah hidup berkecukupan. Dalam bahasa fiqih disebut “kifaayah” , yakni hidup yang tidak berlebih-lebihan. Jadi, hidup yang tidak bermewah-mewahan dan tidak foya-foya, tetapi berkecukupan. Itulah arti hidup sederhana secara positif.

Kalau kita mendengar kata “sederhana”, konotasinya pada kemiskinan, serba kekurangan. Itu yang perlu diluruskan, karena tidak benar. Sederhana itu berbeda dengan miskin. Orang kaya itu perlu hidup sederhana, karena batasannya adalah berkecukupan, dengan catatan tidak berlebih-lebihan, dan tidak berfoya-foya. (Prof. Dr. Muhammadiyah Amin dalam Jati Diri Tempaan Fiqih).

Jika kita bisa mengembangkan pola hidup BSM di kancah dunia yang sedang dikendalikan oleh Kapitalisme Global ini, insya Allah perekonomian Indonesia akan bergeser dari perekonomian yang konsumtif menjadi perekonomian yang produktif. Devisa kita akan bisa banyak dihemat. Ekonomi berbiaya tingggi akan dapat ditekan. Lapangan kerja akan banyak tersedia. Pengangguran ditekan sekecil mungkin, sumber daya alam terkelola dengan baik, lingkungan hidup terjaga dan terpelihara, kesenjangan sosial terjembatani, korupsi dapat diberantas, keadilan sosial dapat ditegakkan, keamanan dan ketertiban umum terpelihara baik lagi terkendali.

Demi mempraktekkan pola hidup BSM, Puang Kyai Ali Yafie dalam Ramadhan Menggugah Semangat Proklamasi (Bina Rena Pariwara, 2005) menekankan, segala macam aktivitas yang kita lakukan harus dimulai dengan kebersihan jiwa, kebersihan hati dan niat, dikembangkan dalam pola kehidupan serta perilaku kesederhanaan, dengan sasaran pengabdian demi kemaslahatan umat. Pola hidup BSM harus dikembangkan menjadi moral ekonomi, politik, hukum dan terus dikembangkan ke sektor-sektor kehidupan lainnya.

Sahabatku, secara individu, orang yang sudah memiliki tasawuf sebagai pertahanan jiwanya, akan melaksanakan pola hidup BSM dalam situasi dan kondisi apa pun termasuk di era globalisasi sekarang, sehingga bersama golongan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, akan senantiasa bertawakal kepada Gusti Allah, yang tidak akan pernah terpengaruh dengan kesusahan dan kepayahan dunia. Akan senantiasa lapang dada, jauh dari pikiran kusut yang merepotkan.Senantiasa tenteram dan tidak menjadi boyongan makhluk, yang tidak terhempas dan tidak terbenam oleh ombak perobahan tempat, masa dan keadaan. Bagaikan gunung karang yang perkasa, tetap tegak kokoh walau dihempas bertubi-bertubi oleh Gelombang Globalisasi yang menerjang bergulung-gulung, di tengah lautan kehidupan nan ganas.

Semoga kita memperoleh anugerah-Nya, dimasukkan dan senantiasa berada di dalam golongan hamba-hamba sekaligus kekasih-Nya yang seperti itu.

Duh Gusti,
anugerahkanlah kepada hamba,
gelora pesona cinta nan membara,
‘tuk kepakkan sayap jiwa,
terbang suka cita luar biasa
ke haribaan Paduka.

Alhamdulillaah, alhamdulillaah, alhamdulillaah,
aamiin, aamiin, aamiin ya rabbill ‘aalamiin.

Beji, Depok: Jumat 13 Desember 2013.

2 Comments

Filed under Uncategorized

Hakikat Puasa dan Lebaran Bagi Orang Jawa

Masyarakat Jawa mengenal beberapa tembang atau kidung tentang upaya melatih diri mengasah kalbu, dengan jalan berpuasa serta aneka cara mengurangi makan dan tidur. Salah satu tembang itu, ada dalam Serat Wulangreh yang sudah penulis kutip untuk sub judul Orang Jawa Berlatih Mengasah Kalbu, dan satunya lagi berasal dari Serat Wedhatama juga sudah penulis kutip untuk sub judul Nafsu, Pangkal Kemaksiatan dan Kelalaian dalam buku Orang Jawa Belajar Mengenal Gusti Allah. Marilah coba kita renungkan kembali tembang yang berasal dari Serat Wulangreh tersebut:

Padha gulangen ing kalbu
ing sasmita amrih lantip
aja pijer mangan nendra
ing kaprawiran den kesti
pesunen sariranira
sudanen dhahar lan guling

terjemahan bebasnya adalah :

Berlatihlah mengasah kalbu
agar kita menjadi waskita (atau arief)
jangan banyak makan dan tidur
keperwiraan harus menjadi cita-cita
latihlah dengan tekun dirimu
dengan mengurangi makan dan tidur

Kewajiban melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan bagi orang Jawa tempo dulu tidak bisa dipisahkan dari hakikat tembang di atas, yaitu dalam rangka melatih diri mengasah kalbu, memohon ridho Gusti Allah, agar kita diberi kewaskitaan atau kemampuan menembus hijab sebagai bekal mewujudkan cita-cita keperwiraan, hamemayu hayuning bawono, mensyukuri, melestarikan dan menjaga harmoni alam semesta dengan segenap isinya.

Hakikat tembang itu sendiri, jauh sebelumnya sudah diajarkan oleh Walisongo, kepada masyarakat Jawa yang sebelumnya sudah gemar bertapa dan berlatih menempa diri dengan banyak mengurangi makan dan tidur. Latihan seperti itu disebut “tirakat atau prihatin”, dari asal kata perih (pedih)nya batin. Sedangkan orang yang senang melaksanakan tirakat disebut sebagai orang yang “gentur tapane”.

Gusti Allah itu, dalam faham Jawa, Maha Adil. Rahmat Allah meliputi segala hal namun tidak pernah menjadikan hamba-Nya betul-betul sempurna. Masing-masing diberi kelebihan dan kekurangan. Hanya sayang, kita sering tidak bisa melihat kelebihan maupun kekurangan tersebut. Padahal kehidupan telah mengajarkan bahwa segala sesuatu selalu diwarnai dua hal yang nampak saling bertentangan. Sedih dan bahagia, suka dan duka, kenyang dan lapar, gelap dan terang.

Hidup tidak selamanya suka, senang dan bahagia. Oleh sebab itu agar kita tahan serta terlatih menghadapi dua hal yang bertentangan dalam kehidupan yang bisa datang setiap saat, maka kita harus menggembleng diri kita dengan sering melakukan tirakat, salah satunya adalah puasa. Dari pada kita memperoleh cobaan susah dan prihatin dari Gusti Allah, maka lebih baik kita sendiri yang memilih jenis prihatin, yaitu dengan jalan tirakat, mengurangi makan tidur, menarik diri dari keramaian dan sejumlah cara pengendalian hawa nafsu, kadang sampai 40 bahkan 100 hari.

Dengan berbagai jenis tirakat, anak-anak Jawa dilatih ikut merasakan penderitaan rakyat kecil, penderitaan fakir miskin. Tirakat disamping membuat hati lembut penuh kasih sayang, pandai mensyukuri nikmat, juga sekaligus dilatih tegar dan kokoh bagai gunung karang di samudra nan ganas, dilatih tabah menghadapi berbagai tantangan guna mewujudkan keperwiraan. Tirakat melatih hidup di tengah gemerlap pesona dunia, namun dapat membuat jarak dengannya, tidak mengikuti kebiasaan-kebiasaan buruknya, dan selanjutnya terbebas dari jeratan-jeratan hasrat rendahnya.

Orang Jawa yang memeluk Islam menambahkan tujuan puasa sebagai latihan menundukkan dan mengendalikan hawa nafsu, serta mengalahkan setan khususnya setan yang berada di dalam diri kita sendiri.

Karena itu puasa bukanlah tujuan melainkan sarana atau latihan. Bulan Ramadhan bagi ksatria Jawa adalah ibarat kawah Candradimuka, yaitu kawah pendadaran dalam cerita wayang, atau semacam Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat). Maka bulan Ramadhan atau bulan Puasa adalah sama dengan bulan pendadaran, agar sebelas bulan berikutnya kita menjadi hamba Allah yang tangguh, ulet, sabar, senantiasa taat dan tawakal. Menjadi manusia yang memiliki kesadaran diri serta mengenal dirinya sendiri dengan baik. Oleh sebab itu paling sedikit sebulan dalam setahun, kita harus masuk Pusdiklat seperti itu, yaitu Pusdiklat Ramadhan, disamping membersihkan kotoran jiwa dan raga, juga untuk meningkatkan maqam kita selaku hamba Allah. Di dalam Pusdiklat, fisik kita dilatih menahan penderitaan, dilatih menghadapi lapar dan haus. Sedangkan batin kita diasah agar menjadi tajam, tajam kalbunya, tajam mata hatinya, setajam kalbu dan mata hati orang-orang yang arif.

Selama Ramadhan kita harus berusaha memahami dengan sungguh-sungguh peringatan Kanjeng Nabi Muhammad Saw, “Banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa pun dari puasanya kecuali lapar dan haus. Banyak orang yang bangun malam, tetapi tidak mendapatkan apa pun dari bangunnya kecuali terjaga.”

Kalam hikmah yang merupakan hadis Rasulullah tersebut diungkapkan kembali dalam bahasa yang sederhana, dan karena itu kadang-kadang disalahartikan, apakah artinya puasa sehari penuh jika cuma memperoleh lapar dan haus? Apalah artinya salat jengkang jengking jika cuma memperoleh capek? Apalah artinya mengurangi tidur, mata melotot tapi pikiran mengembara tak menentu? Sebab itu yang terpenting bukanlah semata-mata berpuasa secara fisik dan harfiah, tetapi yang jauh lebih utama adalah maknawiyah, hakikatnya. Supaya dapat memetik buah hakikat dan hikmah puasa, di samping mengerjakan apa-apa yang selama ini sudah diajarkan seperti memperbanyak salat sunah terutama tarawih, membaca Al-Qur’an, sedekah dan lain-lain, juga memperbanyak tafakur, mawas diri dan bersyukur.

Melalui tafakur, mawas diri dan banyak bersyukur, kalbu diasah ketajamannya. Digembleng agar kokoh kuat, senantiasa bangun, berjaga dan waspada. Meskipun badan jasmani tergolek di pembaringan, kalbu tidak boleh ikut tidur, apalagi membiarkan badan jasmani dengan pikiran berikut perbuatannya melakukan hal-hal buruk dan kemungkaran.

Dengan demikian, insya Allah kita bisa menjadi hamba Allah, pengemban amanah sekaligus balantentara-Nya, yang di samping bisa melaksanakan amar ma’ruf, yang anak kecil pun bisa melakukan, terlebih lagi, ini yang tidak sembarang orang bisa melakukannya, yaitu juga berani nahi munkar.

Tirakat yang disertai dengan banyak tafakur, mawas diri dan bersyukur, harus terus dilakukan meskipun tidak dalam bulan puasa, sehingga secara bertahap kita menuju dan mencapai tingkatan kehidupan yang tidak lagi terpengaruh oleh pasang surut gelombang kehidupan dan keadaan, serta mampu merasakan kaya tanpa harta – menyerbu tanpa pasukan dan menang tanpa harus mengalahkan. Allaahumma aamiin.

Pusdiklat Ramadhan diakhiri dengan apa yang disebut Lebaran, yaitu Hari Raya Idul Fitri. Lebaran, artinya kita sudah selesai mengikuti penggemblengan dan selanjutnya memasuki syawal, siap mengawali perjuangan panjang sebelas bulan ke depan selaku khalifah fil ard-Nya, yang harus senantiasa beriman dan beramal saleh dalam “hamemayu hayuning bawono”, mewujudkan rahmat bagi seisi alam semesta.

Karena beratnya medan perjuangan, masih dalam bulan syawal, dianjurkan lagi untuk menjalani puasa penyempurnaan selama 6 hari. Puasa Syawal ditutup dengan sebuah syukuran yang disebut Lebaran Ketupat atau Hari Raya Ketupat. Ketupat adalah bekal perjalanan yang awet dan bulat, makna hakikatnya yaitu bulatkan tekad bukan hanya sekedar atau semata-mata sebagai hamba Allah, tapi juga sekaligus sebagai Balatentara Allah.

Adakah semua itu masih kita temukan sekarang ini? Mari kita masing-masing menjawabnya sendiri.

Subhaanallaah.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Santri & Pesantren, Cikal-Bakal Pendidikan Nasional

Santri & Pesantren, Cikal-Bakal Pendidikan Nasional.
Kata santri sekarang sedang ngetop gara-gara Pilpres. Saya sendiri, tidak terlalu peduli dengan masing-masing Capres – Cawapres. Tetapi saya ingin mengajak para sahabat memanfaatkan peristiwa yang bergulir heboh dari kampanye Pilpres, yang membuat kata santri itu jadi ngetop. Saatnya kita bicara benar tentang sejarah pendidikan nasional di Indonesia.

Santri dengan pesantrennya adalah cikal bakal lembaga pendidikan bumiputera, pendidikan nasional yang merupakan bukti adanya kearifan lokal Nusantara.
Memang belum banyak ahli dan tokoh nasional yang meneliti dan peduli dengan masalah santri, kecuali para elite partai politik menjelang Pemilu/Pilpres. Itu pun hanya karena ingin memperebutkan dukungan suara para santri itu saja. Tidak lebih. Bahasa terangnya, mencoba memanfaatkan para santri. Sesudah itu semua terlupakan sampai nanti menjelang Pemilu/Pilpres berikutnya.

Bagi orang Jawa tempo dulu, baik yang muslim maupun bukan, kata santri sudah merupakan hal yang akrab, karena berasal dari kata dasar sastri (dari bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno) yaitu orang yang menguasai sastra dan bisa baca tulis. Anak-anak muda yang ingin pandai serta menguasai berbagai ilmu kehidupan, harus sastri. Untuk itu mereka berguru ke para cendekiawan, yang pada zaman dulu adalah para pendeta. Para pendeta ini pada umumnya tinggal di daerah yang sepi yang diberi nama dengan kata depan Padepokan. Pendeta A misalkan, memberi nama wilayah tempat tinggalnya dengan nama Padepokan A atau nama apa saja yang dia senangi, sebut saja Tumaritis. Maka tumbuhlah Padepokan Tumaritis.

Para murid yang ingin belajar ke Pendeta A biasanya tinggal di Padepokan Tumaritis. Mereka tidak membayar, tetapi ngenger, yaitu mengikuti semua kegiatan yang ada di Padepokan dan yang diperintahkan oleh gurunya, yaitu Sang Pendeta A. Murid-murid yang belajar menimba ilmu itu kemudian disebut sastri yang kemudian mengalami perubahan pengucapan menjadi cantrik. Mereka belajar sambil bekerja dan tunduk patuh sepenuhnya kepada sang guru.

Pada awal abad ke 15, datanglah seorang mubaligh muda kelahiran Campa tahun 1401 M yang bernama Bong Swi Hoo ke JawaTimur menyusul kedua orang tuanya, yaitu suami isteri Maulana Malik Ibrahim. Di Tuban, Malik Ibrahim dikenal sebagai pendeta sakti aliran Muhammad yang bergelar Syekh Maulana Malik Ibrahim Asmarakandi, yaitu syekh yang berasal dari Samarkand. Isteri Malik Ibrahim adalah saudara kandung dari salah seorang istri Raja Majapahit, Brawijaya, yang terkenal dengan sebutan Putri Cempo.

Bong Swi Hoo disayang oleh Raja Brawijaya dan dianugerahi gelar bangsawan dengan nama Raden Rahmat, serta mendapat ijin untuk berdakwah dan bertempat tinggal di daerah Ampel Denta. Oleh masyarakat beliau dikenal sebagai Pandhita Ampel, dan kemudian berubah menjadi Sunan Ampel. Di Ampel, Surabaya, yang sekarang sangat tersohor inilah, Sunan Ampel mengajarkan agama Islam mengikuti pola padepokan dengan para murid sebagai cantriknya, sedangkan kegiatan belajarnya disebut nyantrik.

Dalam berdakwah di pulau Jawa, baik Sunan Ampel maupun ayahandanya Maulana Malik Ibrahim, menggunakan metode membaur dan menyusup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat setempat, sehingga kehadirannya disambut secara baik. Kedua ulama tersebut, yang kemudian diikuti oleh para murid dan terutama putera Sunan Ampel, yaitu Maulana Makdum Ibrahim, sangat menghargai kearifan dan budaya lokal, termasuk sistem pendidikan nyantrik.

Di antara para cantrik tersebut, tiga orang di antaranya menjadi sangat terkenal. Mereka adalah Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang, Sunan Giri dan Raden Fatah yang kelak kemudian menjadi Sultan Kerajaan Islam Pertama di Jawa berkedudukan di Demak.
Kata nyantrik, lama kelamaan berubah menjadi nyantri, sedangkan kata cantrik menjadi santri. Perubahan itu diterima atau mungkin lebih tepat dilakukan oleh para mubaligh karena sesuai dengan asal kata bahasa Arab “santaro” yang berarti menutup dan terdiri dari empat huruf yakni (1) sin dari satrul al aurah, yaitu orang yang menutup aurat; (2) nun dari na’ibul ulama, yang berarti wakil ulama; (3) ta’ dari ‘tarku al ma’shi atau meninggalkan kemaksiatan; (4) ra’ dari raisul ummah atau pemimpin umat. Demikianlah gotak-gatik-gatuk khas Jawa, yang berlangsung sejak dahulu kala sampai sekarang.

Dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit (1478M) dan berdirinya Kesultanan Demak yang dipimpin Raden Fatah (lidah Jawa mengucapkan Patah) serta didampingi oleh Wali Songo (Sembilan Wali), penyebaran agama Islam tumbuh secara pesat. Jika semula jumlah para santri yang ikut tinggal bersama para mubaligh khususnya Wali Songo bisa dihitung dengan jari, makin lama makin banyak sehingga tidak bisa ditampung lagi dalam satu rumah induk sang mubaligh.

Oleh karena itu mereka kemudian mendirikan rumah-rumah kecil yang terbuat dari bambu yang disebut pondok. Kata pondok ini juga sesuai dengan kata funduq dari bahasa Arab yang berarti hotel atau asrama. Hatta, istilah padepokan para cantrik, kemudian berubah menjadi pondok pesantren sebagaimana lazim kita kenal sekarang ini.
Di luar Jawa khususnya Aceh, dakwah para mubaligh kepada masyarakat umum sebenarnya telah lebih dahulu dimulai. Bahkan tatkala petualang Eropa yang legendaris, Marco Polo, berkunjung ke Aceh tahun 1293 M, di sana telah berdiri Kesultanan Islam Samudra Pasai.

Demikian pula ketika petualang Maroko, Ibnu Batuta berkunjung tahun 1345 dan akhir 1346, ia diterima secara bersahabat oleh raja kedua yaitu Sultan Malik az-Zahir, putera dari Sultan Maliku’l Saleh. Saat itu, Samudera Pasai telah menjadi kota kosmopolitan yang ramah bagi suku dan bangsa dari mana pun berasal. Di sana banyak mukim ulama-ulama yang mengajarkan agama Islam. Bahkan Sunan Bonang dan Sunan Giri semasa muda juga pernah menimba ilmu ke Aceh. Di Aceh, tempat para ulama mengajar tadi disebut dayah atau menuasa.

Hampir bersamaan dengan itu, yakni pada sekitar periode abad ke 14 – 16, pusat-pusat pendidikan Islam di berbagai daerah di Nusantara juga mulai tumbuh. Para peneliti keislaman Nusantara berpendapat Pondok Pesantren telah mulai berkembang menjelang akhir abad ke 16, sejalan dengan berdirinya Kesultanan Demak yang menjalin komunikasi luas dengan kerajaan-kerajaan lain mulai dari Malaka, Aceh sampai ke Maluku dan Nusatenggara.

Para santri dari berbagai daerah di Nusantara datang menimba ilmu ke pondok-pondok pesantren di Jawa, dan tatkala kembali ke kampung halamannya, banyak diantara mereka yang juga kemudian mendirikan pondok pesantren. Inilah sesungguhnya cikal bakal dunia pedidikan nasional Nusantara, dan bukan sekolah-sekolah Belanda yang baru mulai didirikan pada tahun 1900, sesuai dengan kebijakan Politik Etis Hindia Belanda.

Tanpa mengurangi rasa hormat dan penghargaan yang luar biasa kepada tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara dengan lembaga pendidikan Taman Siswanya, pada hemat saya Pondok Pesantrenlah yang lebih tepat dijadikan tonggak sejarah Hari Pendidikan Nasional. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan pahlawan bangsanya. Kepada Ki Hajar Dewantara, kita harus menghargai. Demikian pula terhadap sejarah perjuangan Pondok Pesantren dalam mencerdaskan anak bangsa, membuat para santri melek huruf, baik Arab, Jawa maupun Latin.

Dari Pondok Pesantren itu pula lahir sejumlah tokoh pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional yang menjadi bapak bangsa, yang bersama putera-putera bangsa yang lain berjuang memproklamasikan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Karena itu, kita harus sambut gembira bahkan harus kita manfaatkan dengan baik, wacana Hari Santri yang digulirkan dalam Kampanye Pemilihan Presiden Joko Widodo, terlepas dia terpilih atau tidak. Lagi pula saya yakin, wacana tersebut “dibisikkan” atau paling tidak diilhami oleh tokoh-tokoh santri yang banyak mendampingi pak Jokowi. Dirgahayu Santri Nusantara.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Doa Pilpres (Pemilihan Presiden).

SAHABATKU, MARILAH KITA PANJATKAN DOA DENGAN SETIDAK-TIDAKNYA MENGAMINI SBB: Duh Gusti Yang Maha Luar Biasa, di malam Ramadhan yang ke 11 ini, ampunilah kami Bangsa Indonesia pada umumnya dan diri hamba pada khususnya, yang belakangan ini banyak saling bergibah, fitnah, menghina bahkan mencoba melakukan pembunuhan karakter pada lawan-lawan politik kami, meski sesungguhnya mereka adalah saudara-saudara sebangsa bahkan seiman kami.

Duh Gusti Yang Maha Pengampun, ampunilah kami yang selama ini merasa menjadi penguasa pintu surga yang dengan mudah mengkafirkan, atau setidak-tidaknya merendahkan kadar keimanan saudara-saudara kami sesama muslim.

Duh Gusti Yang Maha Kuasa, celakalah kami apabila Paduka tidak mengampuni perbuatan-perbuatan kami yang selama ini telah merusak tali silaturahim bahkan ukhuwah Islamiyah, yang telah mengganggu, membuat tidak tenteram serta menyakitkan hati saudara-saudara kami sesama. muslim. Oleh karena itu wahai Yang Kasihsayang dan AmpunanNya Tidak Terhingga, ampunilah kami.

Duh Gusti yang seluruh nasib dan jiwaraga kami senantiasa dalam genggaman Paduka, jadikanlah Pemilihan Presiden kami ini, penuh hikmah dan berkah bagi bangsa Indonesia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya dan lebih khusus lagi pada diri hamba serta keluarga hamba. Aamiin.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Ayo Berpuasa Dengan Tidak Ikut Terjerumus Ke Dalam Golongan Dua Perempuan Yang Dimurkai Rasulullah

Sahabatku, Sabtu besok dan atau lusa hari Minggu , insya Allah kita menjalankan ibadah puasa. Berkaitan dengan ibadah yang mulia itu, selama dua minggu terakhir ini kita banyak menerima dan mungkin juga mengirimkan ucapan selamat menjalankan ibadah puasa sekaligus permohonan maaf.

Sayang sekali bersamaan dengan itu kita juga melihat begitu banyak bertaburan materi-materi kampanye Pilpres yang gampang menjerumuskan diri kita (menjadi sang pengirim baik yang orisinal mapun yang sekedar ikut menyebarluaskan) menjadi bagaikan Allah Swt, Sang Maha Hakim yang di satu pihak menilai calon kita bagaikan Nabi yang tiada cacat cela, sementara di lain pihak calon lawan bagaikan setan yang sangat terkutuk. Padahal apakah kita sungguh-sungguh mengenal dengan baik keduanya?
Saya yakin sebagian besar tidak betul-betul mengenalnya luar dalam. Ayolah kita jujur, pasti kita lebih banyak mengenal kedua atau keempatnya (Capres – Cawapres) lewat aneka bentuk dan cara pencitraan, termasuk kata teman, kata saudara, menurut face book, sms, bbm , twiter, selebaran gelap, kampanye hitam dan sejenisnya.

Mengapa kita harus ikut bergibah, memfitnah dan mengecap si A buruk sebaliknya memuja si B baik? Mengapa kita mengorbankan ibadah dan kemuliaan diri kita dengan perbuatan-perbuatan zalim yang dimurkai Allah Swt tersebut? Saya kuatir, jika kita benar-benar mengenal keempat Capres-Cawpres tersebut dan bertindak sebagai penilai atau Hakim yang adil, jangan-jangan penilaian kita selama ini, langsung berbalik 180 derajat.

Sahabatku, dalam memasuki bulan suci Ramadhan ini, marilah kita saling mengingatkan dengan menghayati sebuah hadis yang sangat terkenal yang dikisahkan oleh Ahmad sebagai berikut. Kanjeng Nabi pernah mengirimkan mangkuk kepada dua wanita yang sedang bergunjing dan memerintahkan keduanya memuntahkan ke dalamnya apa yang mereka makan, padahal mereka sedang berpuasa. Maka salah seorang dari keduanya memuntahkan darah dan daging segar, dan yang lain muntah yang sama pula sehingga memenuhi mangkuk. Lalu orang-orang heran dan nabi pun bersabada: “Kedua perempuan itu berpuasa dari apa yang dihalalkan oleh Allah, dan keduanya berbuka dengan apa yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Mereka menggunjing orang lain. Inilah daging orang yang dimakan oleh keduanya”.

Dalam hadis lain yang diriwayatkan Imam Al Baihaqi dan At-Thabrani dari Jabir dan Abu Sa’id, Kanjeng Nabi bersabda: “Berhati-hatilah engkau terhadap perbuatan gibah. Karena sebenarnya gibah itu lebih dahsyat dari zina”. Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana bisa begitu?”. Baginda Rasul menjawab, “ Sesungguhnya seseorang muslim yang berzina, dia lalu bertobat dan tobatnya diterima Allah, sedangkan orang yang ngrasani itu tidak tidak dapat diampuni oleh Allah sebelum yang dirasani itu mengampuni.”

Sahabatku, di tengah badai gibah dan fitnah sebagai ekses kampanye Pilpres sekarang ini, marilah kita bahu-membahu, saling membantu agar kita tidak terjerumus masuk ke dalam golongan perempuan yang dimurkai Rasulullah tersebut. Ingatlah, puasa Ramadhan adalah wahana pemusatan pendidikan dan latihan, agar sebelas bulan sesudah Ramadhan itu, lahir batin kita tahan uji dari segala yang dilarang dan diharamkan Gusti Allah Yang Maha Agung.

Oleh sebab itu pula, ijinkan saya mendoakan, “Selamat mengikuti Pusdiklat Ramadhan 1435H. Semoga kita bisa lulus dan menjadi khalifah fil ardNYA yang senantiasa beriman dan beramal saleh, yang saling berlomba dalam kebaikan (dan bukan kezoliman) untuk mewujudkan rahmat bagi alam semesta dan segenap isinya. Aamin”.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Melihat Debat Capres 2014: Ancaman Atas Ketahanan Nasional Bukan Sekedar Perang Konvensional

Minggu malam 22 Juni 2014, bangsa Indonesia menyaksikan “Panggung Spektakuler” debat Calon Presiden Republik Indonesia, antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo, tentang kebijakan luar negeri dan ketahanan nasional.

Mengenai debat Calon Presiden, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menulis dalam bukunya, “SBY- Selalu Ada Pilihan – Untuk Pecinta Demokrasi dan Para Pemimpin Indonesia Mendatang” (Kompas, Selasa 24 Juni 2014 halaman 2: Nasihat SBY Soal Debat Capres – Cawapres), banyak pemilih di Indonesia yang tidak memperhatikan isi atau substansi dari debat itu. “Mereka lebih tertarik pada penampilan para capres, termasuk sikap, gaya, dan tutur katanya.”

Saya setuju dengan penilaian pak SBY tadi, bahkan juga penilaian yang sama terhadap debat Prabowo – Jokowi. Sungguh saya kecewa terhadap substansi debat untuk sekaliber Capres ini. Dengan masing-masing menggunakan mik berwarna keemasan seperti yang lazim dipakai artis-artis cantik, yang satu bicara visi besar tanpa menukik ke misi-misi dengan strategi besar untuk mewujudkan visi besar tersebut, sehingga menjadi terkesan hanya normatif saja; sedangkan yang satu lagi, sebenarnya sudah mulai dengan pengantar debat yang bagus, tapi kemudian bertele-tele dengan contoh-contoh kasus. Yang lebih memprihatinkan, perihal ketahanan nasional, mereka nampak hanya berkutat pada sekitar perang konvensional belaka.
Terasa betul, satu sama lain lebih berkonsentrasi untuk berusaha “menyerang”. Anehnya, Prabowo bertanya pada bidang yang selama ini terkait dengan bisnis yang digeluti Jokowi, yaitu perdagangan internasional, sementara Jokowi juga bertanya mengenai bidang yang selama ini digeluti Prabowo yaitu masalah peralatan perang khususnya tank atau kendaraan lapis baja.

Mereka telah mengabaikan kenyataan di era globalisasi ini, bahwa ketahanan nasional dan kebijakan luar negeri sesuatu bangsa, sangat erat keterkaitannya dengan hubungan internasional, yang tidak semata-mata ditentukan oleh kemakmuran dalam negeri, perbatasan negara, alat perang konvensional dan pesawat pengintai tanpa awak.

Sebagaimana sudah saya kemukakan dalam berbagai tulisan sebelum ini, dengan era globalisasi, seluruh dunia diibaratkan bagai selembar kain yang terbentang rata tanpa lipatan. Di zaman yang juga disebut sebagai era kesejagatan ini, sebuah kejadian di sebuah titik atau tempat, dalam tempo hanya sekejap sudah bisa diketahui oleh seluruh penghuni dunia lainnya.

Dalam era ini muncul suatu gelombang kehidupan yang dahsyat yang membuat seluruh penduduk dunia bagai tidak berjarak lagi. Gelombang ini saya sebut Gelombang Globalisasi-II, yang ditandai antara lain dengan hadirnya sebuah teknologi informasi yang super canggih, yang dikendalikan oleh kekuatan modal yang juga berskala global, yang kita namakan Kapitalisme Global.
Gelombang Globalisasi-I, telah terjadi pada abad 19 dan terus berlangsung sampai Perang Dunia II tahun 1940-an. Setelah Perang Dunia II, Gelombang Globalisasi-I, sedikit mereda, namun bangkit kembali menjelang akhir abad 20 dalam bentuk Gelombang Globalisasi-II.

Seperti halnya Gelombang Globalisasi-II, Gelombang Globalisasi-I juga ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diawali oleh James Watt dari Inggris yang menemukan mesin uap pada tahun 1765. Empat tahun berikutnya, penemuan ini dipatenkan dan mulai memicu hadirnya mesin-mesin industri moderen berkapasitas produksi tinggi, yang kemudian menjadi dasar lahirnya Revolusi Industri yang terus berkembang dan kita kenal sampai sekarang.

Tahun 1807, Robert Fulton bersama keluarga Robert R.Livingston, secara spektakuler mengoperasikan kapal komersial pertama yang digerakkan oleh mesin uap, yang mampu menempuh jarak 300 mil antara New York City – Albany, dalam tempo 62 jam.

Penemuan-penemuan yang mampu mengubah wajah dunia ini, terus berlanjut dengan ditemukannya teknologi komunikasi jarak jauh, telegraf, oleh Samuel Finley Breese Morse tahun 1837, disusul pula dengan penemuan telpon oleh Alexander Graham Bell tahun 1876.

Hampir bersamaan dengan itu, jalur transportasi yang menghubungkan benua Eropa dengan Asia, yang semula hanya bisa ditempuh melalui tiga jalur, bertambah satu jalur lagi secara sangat berarti pada tahun 1870. Sebelum itu jalur perhubungan terdiri dari, pertama sepenuhnya jalur darat melalui “Jalur Sutra (Utara dan Selatan)” menembus kaki gunung Himalaya dan gurun Gobi yang sulit tiada tara. Kedua sepenuhnya jalur laut mengelilingi benua Afrika dengan lautannya yang ganas. Ketiga, kombinasi laut dan darat melalui kawasan Timur Tengah. Adapun jalur keempat adalah Terusan Suez, yang merupakan terusan buatan manusia terbesar yang menghubungkan Mesir dengan semenanjung Sinai sejauh 163 kilometer dengan lebar 300 meter atau terpanjang kedua di dunia.Terusan ini dibuat selama hampir sebelas tahun, selesai pada tahun 1869 dan mulai dioperasikan tahun 1870. Terusan terpanjang adalah Terusan Laut Putih – Baltik di Rusia sepanjang 227 km, yang dibuka pada 1933 atau 63 tahun kemudian.

Melalui terusan Suez, apalagi dengan kapal-kapal bertenaga uap yang menggantikan kapal-kapal layar, jalur perhubungan antara Eropa dan Asia termasuk Indonesia, menjadi jauh lebih mudah, aman dan cepat. Semua itu kian berkembang dengan keberhasilan Wright Bersaudara, yaitu Orvile Wright dan Wilbur Wright, membuat pesawat terbang tahun 1903.

Berbagai penemuan tadi, membangkitkan syahwat kekuasan dan pesona dunia para pemilik modal dan negara-negara Barat, khususnya Eropa. Syahwat hegemoni kekuasaan yang memang selalu melekat pada diri siapa pun para penguasa dan pemilik uang semenjak zaman baheula, mendorong mereka berusaha menguasai wilayah dan aset-aset dunia yang penduduk dan penguasanya lemah atau bisa dilemahkan. Syahwat kekuasaan dan pesona dunia itulah yang menyerbu serta melanda dunia, bergulung-gulung bagai gelombang yang dikendalikan oleh para pemilik modal atau para kapitalis. Dan demi mempertahankan area yang sudah dikuasainya, mereka selanjutnya membangun imperium-imperium kekuasaan. Maka timbullah apa yang disebut dengan kapitalisme-imperialisme, yang secara menyolok merupakan penjajahan terhadap bangsa-bangsa lain.

Sejarah mengajarkan, sesungguhnya penjajahan serta penguasaan manusia dan suatu bangsa atas yang lain, telah berlangsung semenjak awal peradaban manusia.Lebih-lebih sesudah revolusi industri mampu menghasilkan produk-produk konsumsi yang masal, yang harus dipasarkan dan terjual, supaya menghasilkan keuntungan besar bagi para pemodalnya. Sejarah juga mengajarkan, selalu saja ada pihak yang dikorbankan demi memberikan kepuasan besar yang tiada batas kepada pihak lain.

Kekuasaan mutlak, penindasan, penjajahan dan perbudakan serta penyimpangan tata nilai pada akhirnya juga akan memicu kesadaran pihak yang tertindas, yang bisa tumbuh bergelora menjadi ideologi pembebasan. Dalam sejarah peradaban semenjak Nabi Ibrahim, ideologi pembebasan telah mampu mengorbarkan “perang pembebasan” melawan rezim-rezim penindas yang mapan, zalim dan atau yang menjungkirbalikkan akhidah ketuhanan.

Di kepulauan Nusantara, Proklamator kita, Bung Karno dan Bung Hatta, bahkan bukan hanya mengobarkan perang kemerdekaan Indonesia, tetapi juga semangat kemerdekaan bangsa-bangsa Asia-Afrika lainnya. Dengan ideologi pembebasan yang bercirikan sosio-nasionalisme, keduanya bersama kekuatan rakyat berhasil memanfaatkan momentum Perang Dunia II, mengusir penjajahan dari bumi Nusantara, dan untuk sementara membendung Gelombang Globalisasi-I.

Pasca Perang Dunia-II, Gelombang Globalisasi-I nampak mereda dalam situasi yang disebut “Perang Dingin”, yang terjadi antara dua kekuatan super power, yaitu antara Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet.Tetapi Perang Dingin itu pun akhirnya meletihkan dan berakhir pelan-pelan, dimulai dengan tampilnya kaum pragmatis di Republik Rakyat China (RRC) yang dipimpin Deng Hsiaoping setelah Mao Zedong wafat Januari 1978.Deng menyadari bahwa ideologi komunis yang berlandaskan pada Marxisme/Leninisme yang menjadi andalan Blok Timur ternyata tidak dapat menjawab semua persoalan yang dihadapi RRC. Oleh karena itu ia kemudian menyesuaikan penerapan ideologi komunisme dengan tuntutan nyata pembangunan RRC, terutama demi mengejar berbagai ketertinggalannya.

Deng Hsiaoping selanjutnya melancarkan program pembaharuan yang mencakup empat bidang, yaitu pertanian, industri, ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta militer. Guna menunjang itu semua, RRC harus membuka diri untuk memperoleh bantuan dan kerjasama luar negeri. (Memori Jenderal Yoga, Bab 17: Perubahan Di Negara-Negara Komunis, B.Wiwoho dan Banjar Chaeruddin, Bina Rena Pariwara, 1991).

Setelah RRC membuka tirai bambunya, demikian julukan terhadapnya, Uni Soviet yang dipimpin oleh Mikhail Gorbachev pada dasa warsa 1980an, juga ikut membuka tirai besinya.Ia melancarkan kebijakan baru yang dikenal sebagai perestroika atau restrukturisasi ekonomi dan glasnost atau keterbukaan.Dengan itu Soviet mengambil langkah besar dalam memperbaiki hubungan dengan Blok Barat, serta memberikan kesempatan kepada negara-negara sekutu dan satelitnya buat memempuh jalan masing-masing.Dalam pidato di Vladivostok 28 Juli 1986, Gorbachev menegaskan “Kita butuh perdamaian.” Dan dengan segera pula ia menarik 100.000 lebih tentara Soviet dari Afghanistan yang sudah diintervensi dan dikuasainya semenjak 1979.

Musik Jiwa Dalam Perang Semesta.

Hampir bersamaan dengan meredanya Perang Dingin, ilmu pengetahuan dan teknologi juga mengalami perkembangan yang luar biasa pesat, terutama di bidang teknologi informasi.Jika perkembangan iptek di abad ke-19 telah menghasilkan industri moderen serta membuat hubungan antar benua dan daerah menjadi suatu keniscayaan, maka perkembangan iptek di akhir abad ke-20 telah membuat dunia serasa tidak berjarak, dan manusia merasa seolah bisa mewujudkan semua mimpinya.Bahkan ruang-ruang pribadi dalam rumahtangga pun seakan tidak bersekat lagi.

Lompatan-lompatan besar dalam iptek yang sangat spektakuler di paruh kedua abad ke-20, sebenarnya dipicu oleh Perang Dunia II. Masing-masing pihak yang berperang yaitu Jerman dan Jepang di satu pihak melawan Amerika Serikat dan sekutunya di pihak lain, berusaha menemukan alat-alat perang baru yang bisa mengalahkan musuhnya. Maka pada tahun 1941, insinyur Jerman Konrad Zuse membuat komputer guna merancang pengoperasian pesawat terbang dan peluru kendali. Sementara Inggris membuat komputer buat memecahkan kode-kode rahasia Jerman. Selanjutnya Amerika pun tidak mau ketinggalan.

Pada generasi pertama, komputer tersebut berukuran sangat besar, hampir sebesar lapangan bola. Namun dengan penemuan transistor yang menggantikan tabung vakum di radio, televisi, peralatan elektronik dan komputer tahun 1948, maka ukuran-ukuran mesin dan alat-alat elektronik menurun drastis, dan terus mengecil seperti yang kita pakai sekarang. Di samping itu pemanfaatan komputer juga melesat luar biasa menjadi apa yang kita kenal sebagai teknologi informasi, yaitu teknologi apapun yang bisa membantu manusia dalam membuat, mengubah, menyimpan, mengkomunikasikan serta menyebarluaskan informasi dengan kecepatan sangat tinggi, malahan bisa dibilang hanya sekejap.

Di bidang perhubungan dan pengangkutan atau distribusi barang, Perang Dunia II juga mendorong Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, US Army, untuk merancang sistem mobilisasi peralatan perang yang mudah, aman dan tepat guna, yang kemudian kita kenal dengan peti kemas. Seperti halnya penemuan komputer, suasana Perang Dingin setelah berakhirnya Perang Dunia II, memacu negara-negara maju untuk mengembangkan dan menyempurnakan penemuan-penemuannya semasa perang, termasuk penemuan sistem peti kemas. Sistem yang semula hanya dipakai di kalangan militer, kemudian dikembangkan menjadi untuk bisnis, dengan diluncurkannya pelayaran perdana kapal peti kemas Gate Way City tahun 1957, menempuh jalur Houston – New York. Selanjutnya pada tahun 1972, sistem peti kemas mulai go international melayari jalur Eropa, Jepang dan Australia, dan dalam tempo lima tahun sudah melayari hampir seluruh dunia.
Sistem peti kemas mampu memuat apa saja, mulai dari produk dalam bentuk curah sampai produk-produk jadi yang berupa perakitan seberat puluhan ton. Ini merupakan revolusi multi moda transportasi yang luar biasa, meliputi darat – laut – udara.

Lompatan besar iptek lainnya yang bahkan sedang berlangsung yang belum bisa diketahui persis ujungnya, adalah apa yang disebut nano teknologi. Konsep nano teknologi diperkenalkan pertama kali oleh ahli fisika Amerika, Richard Feynman, pada tahun 1959. Istilah nano teknologi itu sendiri diresmikan oleh Prof.Norio Taniguchi di Jepang tahun 1974, dan sejak itu terus berkembang.
Nano teknologi adalah pembuatan dan penggunaan materi atau devais pada ukuran yang amat sangat kecil, mulai dari 0,1 hingga 100, selanjutnya disebut skala nano dengan kode nano meter (nm). Satu nm sama dengan satu per milyar meter (0,000.000.000.1m atau 10-9), yang berarti 50.000 kali lebih kecil dibanding garistengah rambut manusia.Contoh pembanding lainnya yaitu ukuran protein dalam sel tubuh manusia sebesar sekitar 5nm. Materi pada dimensi skala nano menunjukkan sifat fisis yang berbeda, sehingga dengan itu para ahli berharap dapat membuat terobosan baru di bidang iptek khususnya kesehatan. Sungguh tak terbayangkan, seberapa besar ukuran seperlimapuluhribu rambut manusia, terutama pula bagaimana memahami serta mendayagunakan materi sebesar itu bagi kehidupan kita.

Toh kini sudah terbukti. Beberapa contoh terobosan penting yang sudah dipakai di berbagai produk yang digunakan di seluruh dunia, meliputi penggunaan di komputer, elektronik, kosmetika, pupuk, bahan polimer hingga ramuan herbal, misalkan: (1) katalis pengubah pada kendaraan yang mereduksi polutan udara, (2) devais pada komputer yang membaca serta menulis dari dan ke hard disk, (3) beberapa pelindung terik matahari dan kosmetika yang secara transparan dapat menghalangi radiasi berbahaya dari matahari.
Tetapi lagi-lagi, tekonologi informasi super canggih itu pun dikuasai oleh kaum kapitalis, yang dengan dalih rasionalitas, efektivitas dan produktivitas, menawarkan kebebasan individu, kepentingan diri dan pasar bebas, yang kemudian memicu timbulnya Gelombang Globalisasi-II, melanda segenap pelosok dunia, bergulung-gulung, menggilas nalar serta melibas kearifan-kearifan tradisional dan agama.

Kapitalisme Global juga menggubah musik jiwa yang mendendangkan pemujaan pada pesona dunia dengan aneka selera dan gaya hidupnya, menggalang alam pikiran manusia agar terpadu secara total menjadi satu dimensi yang mengagungkan rasionalitas, yang pada hakekatnya membangun gaya hidup yang individualistis, materialistis, hedonistis dan bahkan narsis.
Bersama musik jiwa tersebut, Kapitalisme Global menciptakan kebutuhan-kebutuhan palsu yang menghisap individu-individu ke dalam pusaran sistem produksi dan konsumsi. Berbagai komponen penunjang seperti manajemen, media massa, industri periklanan, film dan cara-cara berrfikir sempit, semuanya diarahkan untuk memproduksi sistem represif dalam suatu masyarakat industri maju yang moderen yang tak mengenal alternatif. Manusia-manusia moderen di segenap pelosok bumi, mengira dirinya benar-benar hidup bebas dalam panggung pesona dunia yang menawarkan aneka kemungkinan untuk dipilih, diraih dan diwujudkan. Padahal kebebasan beserta kepuasan diri yang dikehendakinya, sesungguhnya hanyalah apa yang didiktekan oleh Kapitalisme Global kepadanya.

Perkembangan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan tekonologi, sesungguhnya harus kita syukuri. Namun pendayagunaannya yang melampaui batas kewajaran kebutuhan hidup, telah mendorong para kapitalis yang menguasainya menjadi serakah dan tamak,
Maka bila nafsu serakah dan ketamakan manusia membara kemudian berkobar, ia menjadi lebih buas dibanding binatang yang paling buas sekalipun, lebih buas dari harimau, lebih berbahaya dibanding ular yang paling berbisa. Harimau menerkam dan membunuh mangsanya hanya untuk sekedar makan penangsal perut, tidak lebih.Harimau tidak menyimpan dan menimbun makanannya.Sedangkan manusia membunuh rusa, harimau, gajah dan lain-lain bukan untuk makan tapi demi memuaskan dahaga ujub dan riya, berbangga lagi menyombongkan diri semata.Ia bangga dapat memamerkan fotonya di atas bangkai binatang buruannya, memajang kulit harimau, tanduk rusa yang bercabang-cabang dan gading gajah hasil buruannya. (Memakanai Kehidupan, B.Wiwoho, Bina Rena Pariwara, 2006).

Alunan musik jiwa yang dihembuskan Gelombang Globalisasi II, pada hemat saya telah menjadi “Perang Semesta” yang mengancam ketahanan nasional setiap negara, dan juga menentukan corak hubungan luar negerinya. Perang Semesta merupakan perang moderen terdahsyat, yang bukan lagi ditentukan oleh perbatasan fisik suatu negara, benteng-benteng batu nan kokoh, tank dan meriam, melainkan perang dalam segala bentuk, khususnya perang budaya dan gaya hidup yang mampu menembus masuk ke ruang-ruang pribadi di dalam rumahtangga setiap penduduk dunia.

Demi memenangkan peperangannya, para Kapitalis Global terus berusaha menggelorakan pesona gaya hidup beserta produk-produk konsumtifnya, dengan akibat di samping kerusakan tata nilai budi luhur dan keagamaan, juga terkurasnya sumber daya alam dan kerusakan lingkungan hidup.

Ancaman Ketahanan Negara Terdahsyat Adalah Perang Budaya.

Gaya hidup hedonis dan narsis (hedonarsis) yang banal, yang memuja pesona dunia, harus kita akui tengah melanda masyarakat kita. Marilah coba kita kaji beberapa peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi dan sempat menjadi topik hangat pemberitaan media massa. Rita misalkan, bukan nama sebenarnya tapi, adalah seorang mahasiswi berusia 19 tahun. Siang itu, bukannya di perpustakaan untuk belajar, ia nongkrong di sebuah kafe di Plaza Senayan, Jakarta. Tak jauh dari mejanya, duduk beberapa orang, salah satu di antaranya pengusaha tajir bernama Abu Fatah, juga nama yang disamarkan.

Singkat kata mereka berkenalan dan berjanji malam hari bertemu di sebuah hotel berbintang lima.Tapi siapa menyangka malam itu di kamar hotelnya, mereka digerebek dan ditangkap petugas-petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Rupanya Abu Fatah sedang menjadi target pengawasan atas dugaan korupsi berjamaah, yang dipantau ketat oleh KPK.

Begitulah jika Gusti Allah sudah membiarkan tabir penutup aib hamba-hamba-Nya tersingkap. Rita adalah seorang mahasiswi muda beliau dari keluarga sederhana, yang tak menyadari kemampuan ekonomi serta statusnya sebagai wanita dan mahasiswa, bergaya hidup bak orang kaya. Sementara Abu Fatah, adalah putera seorang ulama, alumni pondok pesantren dan bagian dari jaringan persahabatan tokoh-tokoh partai yang berlabel Islam, yang sedang hidup bergelimang pesona dunia.

Contoh kisah yang kedua, mahasiswa Ridho Ramanda, juga nama yang disamarkan, adalah seorang putera pejabat tinggi ternama, yang mengalami kecelakaan di jalan tol Jagorawi, pagi-pagi sekali pukul 05.45, setelah semalaman bergadang merayakan pesta tahun baru 2013 Masehi, yang tidak ada di dalam kamus kegiatan islami. Lantaran mengantuk, Ridho yang berusia 22 tahun ini menabrak mobil lain sehingga menewaskan dua orang dan mencederai tiga orang lainnya.
Kasus yang menyerupai Ridho, dialami oleh Abu Jamal, pun nama yang disamarkan, pelajar di bawah umur dengan usia 13 tahun yang ngebut dengan mobilnya di jalan tol pukul 00.45 sehingga mencelakai kendaraan lain dan merenggut tujuh nyawa manusia serta melukai sejumlah orang.

Ketiga contoh tadi, menggambarkan betapa gaya hidup generasi muda kita telah melenceng dari apa yang diajarkan oleh Islam dan Kanjeng Nabi Muhammad Saw., sebagaimana ajaran agama yang mereka anut. Bukan hanya pada keluarga mereka, tapi harus kita akui bahwa kekuasaan, kekayaan, harta benda dan pesona dunia telah menyilaukan matahati kehidupan banyak rumahtangga masyarakat kita dewasa ini.

Fakta-fakta yang banal sekarang ini juga membukakan mata kita, lantaran kekuasaan maka para elite yang semula bersahabat, berjuang bahu membahu, hanya berbilang bulan bahkan hari menjadi berseteru keras. Naudzubillah. Padahal sebagian besar dari mereka adalah keluarga-keluarga muslim yang pasti sering mengumandangkan tasbih, menyebut asma Allah nan Maha Suci lagi Maha Pengasih serta shalawat nabi.

Contoh-contoh di atas, jelas-jelas menggambarkan betapa pragmatisme dan hedonarsis telah mempengaruhi kehidupan generasi muda penerus masa depan bangsa. Mereka hanyalah beberapa titik pada puncak gunung es berhala-berhala modern, penghamba pesona dunia, sebagai akibat bergesernya filosofi dan tata nilai kehidupan dari idealisme dan akhlak mulia, ke pragmatisme-materialisme yang berkembang semakin banal. Sebagian generasi muda kita telah menganut slogan kehidupan, “Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya dan mati masuk surga. Hidup sekali, mati sudah pasti, karena itu nikmatilah dunia selagi kita hidup.”
Pergeseran filosofi dan tata nilai kehidupan ini, memang dirancang secara sengaja oleh Kapitalisme Global, yang secara sadar dan terpola, membentuk suatu tata dunia baru dengan gaya hidup masyarakat yang menekankan pentingnya kekuatan modal, ilmu dan teknologi, yang selanjutnya menghasilkan aneka produk gaya hidup moderen dalam segala bentuknya, baik yang berupa jasa maupun barang.

Dengan dukungan media massa yang berbasis teknologi canggih, mereka menggalang citra gaya hidup yang menekankan pada kebebasan individu, kepentingan diri dan pasar bebas. Sebuah contoh gaya hidup yang tidak islami, sesuai agama mayoritas di Indonesia, namun bisa marak di Indonesia dengan penduduk mayoritas beragama Islam ini, adalah perayaan Hari Kasih Sayang setiap tanggal 14 Pebruari, yang dikenal sebagai Hari Valentine. Penggalangan citra super luar biasa ini, ditandai aneka produk dengan ciri warna dasar merah jambu, gambar simbol hati, bunga mawar dan coklat. Padahal hari Valentine adalah hari peringatan Katholik Roma untuk martir Santo Valentine.

Demikianlah, Kapitalisme Global telah menciptakan musik jiwa yang mampu membuat nilai tukar sebagai tujuan utama, dengan mengabaikan nilai-nilai kebenaran termasuk tradisi luhur bangsa-bangsa dan agama. Musik jiwa ini menurut Herbert Marcuse (One Dimensional Man,dalam berbagai tulisan di internet antara lain ungumerahmuda.blogspot.com, Abdul Muin Angkat blog dan Manusia Satu Dimensi, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta 2000 ) bahkan telah menjadi sumber kekuasaan baru pasca Perang Dunia II, yaitu kekuasaan selera dan gaya hidup, yang dikemas dengan penggalangan citra, iklan dan promosi secara besar-besaran. Ia menyerbu ke segenap pelosok dunia, termasuk Indonesia, yang secara kebetulan sedang mengalami lompatan-lompatan budaya.

Kapitalisme Global dengan dalih rasionalitas, efektivitas dan produktivitas, menawarkan kebebasan berfikir, berbicara dan berkesadaran, telah menggilas nalar, budi luhur dan kearifan-kearifan tradisional, selanjutnya memobilisasi masyarakat secara total.
Kapitalisme Global telah melancakan perang semesta, sebagaimana perang yang paling dikuatirkan Rasulullah Saw, yaitu bukan perang fisik seperti Perang Badar, melainkan perang di wilayah batin dan jiwa manusia. Perang semesta merupakan perang moderen yang paling dahsyat, yang bukan lagi ditentukan oleh benteng-benteng batu nan kokoh serta mobil lapis baja dan meriam, melainkan perang budaya dan gaya hidup yang mampu menembus masuk ke ruang-ruang pribadi di dalam rumahtangga setiap penduduk dunia.

Perang semesta bisa dengan cepat dan tanpa disadari target sasarannya, menyingkirkan budaya, nilai-nilai agamis dan tata nilai lainnya, sekaligus membangun alam pikiran baru yang terpadu secara total, yang pada hakekatnya membangun gaya hidup yang individualistis, pragmatis, hedonis, materialistis dan narsis.

Dengan musik jiwa dan gaya hidup, Kapitalisme Global telah menciptakan kebutuhan-kebutuhan palsu yang menyihir dan menghisap individu-individu ke dalam pusaran sistem produksi dan konsumsi. Media massa, budaya termasuk film dan musik, industri periklanan, penggalangan citra, manajemen dan cara-cara berfikir sempit, semuanya diarahkan untuk memproduksi sistem represif yang melenyapkan negativitas, kritik dan perlawanan. Sistem yang seperti ini membentuk masyarakat industri maju lintas negara yang moderen, dengan pola pemikiran yang berdimensi satu, yang tidak mengenal alternatif.

Di dalam ketatanegaraan dan politik praktis, hal itu bisa dilihat dari fenomena partai-partai, yang secara ideologis tidak lagi memiliki perbedaan. Mereka seolah-olah menawarkan perbedaan dan perubahan, namun sejatinya tidak ada bedanya antara partai satu dengan yang lain. Mereka sama-sama memuja pesona dunia, kekuasan, uang dan transaksional. Nyaris tidak ada bedanya antara partai nasionalis, sekuler maupun yang agamis. Bahkan para elitenya juga sama-sama berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi. Dan di tangan para elite yang seperti itulah kini ketahanan nasional Indonesia , bahkan nasib serta masa depan negara kita dipertaruhkan.
Manusia moderen termasuk para pendukung Capres-Cawpres sekarang, mengira dirinya benar-benar hidup bebas dalam dunia yang menawarkan aneka kemungkinan untuk dipilih, diraih dan diwujudkan, padahal kebebasan yang dikehendakinya sesungguhnya hanyalah apa yang sudah didiktekan oleh Kapitalisme Global kepadanya. Dalam memuja kebebasan itu, mereka tidak peduli lagi pada tata nilai, etika dan moral agama. Mereka saling hujat, fitnah dan menabur serta menyemai kebencian. Sungguh tak terbayangkan betapa kelak jika mereka harus menuai badai kebencian yang telah mereka taburkan sendiri. Naudzubillah.

Ketiga contoh peristiwa yang saya  sebutkan tadi, dengan gamblang menggambarkan serangkaian perilaku masyarakat yang mengabdi pesona dunia dengan kebebasannya. Demikian pula berbagai fakta di persidangan kasus-kasus korupsi yang hampir setiap hari digelar beberapa tahun belakangan ini, menunjukkan keterlibatan para tokoh dari lintas profesi dan pilar kekuasaan, mulai dari pengusaha, legislatif, eksekutif sampai dengan yudikatif. Mereka menunjukkan perilaku mengejar harta dan tahta, ingin cepat berkuasa dan kaya raya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dengan segala cara. Mau serba enak secara instan, sehingga mengabaikan ajaran-ajaran moral dan agama. Kesalehan hanya sebatas formalitas bahkan dijadikan sebagai topeng. Puji-pujian terhadap Yang Maha Kuasa, Nabi dan para orang sucinya hanyalah penghias bibir belaka.

Menguji Serangan Perang Semesta Terhadap Ketahanan Nasional

Berdasarkan uraian di atas marilah kita coba simulasikan, ancaman apa saja yang bisa menggoyahkan ketahanan nasional kita. Catatan di dalam tanda kurung adalah situasinya di Indonesia

I.Siapa Yang Menguasai Kekuatan Kapitalisme Global?
1.Freemasonry dan Illuminati atau Zionis
2.Imperialis – Neolib.
Butir 1 dan 2 di atas dalam banyak hal adalah sama.

II. Unsur Utama Kapitalisme Global.
1.Modal (Asing kuat, Dalam Negeri lemah).
2.Teknologi khususnya yang super canggih – nanotek-biotek-farmasi dan lain-lain. (Dengan ratifikasi hak paten, Indonesia sangat tergantung pada Asing).

III. Unsur Penunjang.
1.Manajemen. (Mulai 2015, Asing boleh masuk).
2.Media Massa. (Dikuasai para pemodal yang bekerjasama dengan Asing atau go public di pasar bebas).
3.Industri Periklanan. (Dikuasai iklan produk-produk Asing + tenaga periklanan Asing mulai masuk).
4.Film & industri hiburan. (Serbuan dahsyat produk, artis dan gaya hidup yang memuja pesona dunia).
5.Ilmu Pengetahuan. (Cenderung berkiblat ke Asing dan kurang menghargai Dalam Negeri).

IV. Tujuan Perang Semesta.
Mewujudkan masyarakat tata dunia baru yang – seolah – hidup bebas dalam pesona dunia yang :
1.hedonis – individualis
2.pragmatis- materialis
3.narsis.
yang dikuasai dan dikendalikan sepenuhnya oleh Kapitalisme Global. (Gaya hidup seperti itu sudah merambah di masyarakat, bahkan kita menyenangi hal-hal yang bersifat “opera sabun” yang banal).

V. Untuk Mewujudkan Masyarakat Tata Dunia Baru Yang
Seperti Itu Maka Harus Diciptakan/Dibentuk:
1.Sistem Pasar Bebas yang bercirikan:
1.1.Rasionalitas.
1.2.Efektivitas.
1.3.Produktivitas.
(Indonesia sudah mulai terperangkap ke dalamnya).
2.Sistem Sosial Politik Demokratis yang bercirikan:
2.1.Kepentingan diri.
2.2.Kebebasan individu.
(UUD 1945-Amandemen + berbagai UU turunannya telah membuat demokrasi Indonesia hanya sekedar demokrasi prosedural yang transaksional).

3.Sistem Sosial Budaya yang bercirikan lepas bebas dari aturan dan tatanan agama serta tradisi yang ada selama ini. (Tradisi termasuk kepercayaan dan kearifan lokal mulai ditinggalkan, sementara agama: terjadi pendangkalan, sekedar formalitas dan muncul aliran/sekte-sekte yang berpotensi memecah belah ummat).

VI. Masyarakat Tata Dunia Baru Dengan 3 Pilar Utama yang digelorakan oleh gelombang globalisasi yang digubah dalam suatu musik jiwa yang mendendangkan:
1.Penggalangan alam pikiran manusia agar terpadu secara total menjadi satu dimensi rasionalitas dengan ciri hedonistis-individualistis-pragmatis-materialistis – narsistis.
2.Pemujaan pada pesona dunia dengan aneka selera dan gaya hidup.
3.Kebutuhan-kebutuhan palsu yang “menyihir” dan menghisap individu-individu ke dalam pusaran sistem produksi dan konsumsi.
(Mari coba kita renungkan, rasanya ketiga pilar tersebut sudah menyolok kehadirannya dalam kehidupan masyarakat Indonesia).

VII. Bagi masyarakat “Negara Bangsa”, semua itu bagaikan serbuan dahsyat yang dilancarkan dalam “Perang Semesta” oleh Kapitalisme Global dengan Divisi-Divisi Perang yang berupa:
1.Finance/Keuangan: hancurkan, kendalikan-kuasai, jadikan bersifat global. (Indonesia lemah dan sudah masuk dalam sistem global).
2.Pangan: hancurkan, kendalikan-kuasai. (Kita sudah mengalami ketergantungan pada impor/asing).
3.Energi & Sumber Daya Alam: hancurkan, kendalikan-kuasai. (Ketergantungan energi pada asing dan Sumber Daya Alam juga dikuasai modal asing).
4.Ekonomi: hancurkan-keterpurukan, kendalikan-kuasai, jadikan pasar bebas global. (Sektor riil lemah dan secara umum perekonomian sudah masuk dalam pasar bebas/global. Namun demikian sektor informal masih bisa jadi potensi besar untuk kebangkitan nasional).
5.Logistik: hancurkan, ekonomi biaya tinggi, kuasai. (Ekonomi kita sekarang adalah ekonomi biaya tinggi sehingga melemahkan daya saing nasional).
6.Sosial-budaya: sex bebas dan sex sejenis, gelorakan budaya hidup yang hedonistis-individualistis, pragmatis-materialistis dan narsistis, rusak dan hancurkan bangunan tata nilai keluarga-kebersamaan-gotongroyong, rusak-hancurkan moral rakyat. (Sudah merebak di masyarakat). Bangun pola pikir, ethos, tata nilai serta perilaku generasi muda dan Sumber Daya Manusianya, agar mengikuti irama musik jiwa Kapitalisme Global. (Sudah mulai terasa hasilnya).
7.Agama & tradisi: hancurkan agama dan tradisi, ciptakan dan kembangkan aliran-aliran sesat, kembangkan sekularisme, pendangkalan nilai-nilai moral-spiritual dan deislamisasi di negara-negara mayoritas Islam (Gejalanya mulai terasa, semakin hari semakin kuat).
8.Narkoba & minuman keras: sebarkan untuk merusak dan menghancurkan moral serta fisik generasi mudanya. (Sudah membahayakan, masuk ke desa-desa dan ke anak-anak sekolah).
9.Aset informasi & media massa: kuasai dan kendalikan sepenuhnya, baik soft ware, hardware, gelombang, sarana dan prasarananya. (Media-media formal besar sudah dikuasa para pemodal yang berafiliasi dengan asing dan atau go public).
10.Ideologi: pendangkalan yang pada akhirnya semu dan sama, yaitu kebebasan serta kepuasaan diri-individual, kembangkan multi partai. (Sudah terasa, ideologi masyarakat adalah materi dan kekuasaan, demikian juga ideologi partai-partai politik semu belaka).
11.Nasionalisme: lunturkan-dangkalkan, disintegrasi, separatisme, pecahbelah, hancurkan militansi rakyat, ciptakan kesenjangan sosial-ekonomi, suburkan konflik horizontal dan vertikal. (Gejalanya mulai dirasakan, tapi potensi nasional masih cukup kuat untuk kebangkitan).
12.Politik & Hukum: rusak, hancurkan dan kuasai, jadikan prasarana untuk mengundang globalisasi, adu domba elit politiknya, rusak moral Sumber Daya Manusianya.(Sedang terjadi).
13.Teknologi: kuasai sepenuhnya, ciptakan ketergantungan, remote-control khususnya nanotek-biotek-farmasi. (Indonesia sangat tergantung pada Asing).
14.Militer: pecah belah, buat sel-sel perlawanan rakyat (Melawan Pemerintah Nasional), invasi militer dengan menciptakan status legal intervention, Pasukan Perdamaian. (Harus diwaspadai dan diantisipasi).
15.Perang: ciptakan revolusi nasional, separatisme dan sel-sel perlawanan, perang multinasional. (Harus diwaspadai dan diantisipasi).
16.Persenjataan: kembangkan dan kuasai sepenuhnya persenjataan yang berbasis nanoteknologi, biotek dan cuaca, ciptakan ketergantungan dan remote-control. (Sistem persenjataan yang canggih khususnya pesawat tempur, tank, kapal perang dan komunikasi kita sangat tergantung pada Asing. Padahal potensi produksi Dalam Negeri cukup besar).
17.Pasca Perang: rekonstruksi dan kendalikan Tata Dunia Baru. (Harus diwaspadai dan diantisipasi).

Itulah masalah-masalah vital dan strategis yang serius, yang sedang kita hadapi dewasa ini dan di masa mendatang, yang pada gilirannya akan mempengaruhi ketahanan nasional kita, bahkan nasib serta masa depan bangsa dan negara Republik Indonesia.

Dengan memahami permasalahan tersebut, kita bisa membangun mimpi kenegarawanan, merumuskan visi bangsa dan negara di masa depan. Selanjutnya menjabarkannya dalam misi sampai ke program dan targetnya. Tentang energi dan pangan misalkan, tentu kita tidak semata-mata membangun ketahanan melainkan juga kemandirian, yang masing-masing pendekatannya berbeda, termasuk bagaimana pengembangan nanoteknologinya.

Demikian pula masalah perbatasan dan kemaritiman, saya berharap ada keberanian untuk mengubah total sudut pandang terhadap pulau-pulau terpencil dan terluar, menjadi pulau-pulau di halaman depan rumah Indonesia, menjadikan Zone Ekonomi Eksklusif sebagai pagar halaman, “pagar laut”, dalam kerangka strategi pembangunan industri maritim dari sebuah negara maritim nan jaya sejahtera.

Sedangkan daerah perbatasan darat yaitu Kalimantan, Papua dan Timor, harus dijadikan semacam “benteng perdikan”, modifikasi dan pengembangan dari konsep daerah perdikan di masa kerajaan tempo dulu, menjadi kawasan-kawasan pertumbuhan terpadu, baik secara ekonomi maupun Sumber Daya Manusianya. Contoh lain lagi adalah misi membangun industri nasional mengikuti pola pohon industri yang tumbuh subur di atas bumi Nusantara dengan potensi Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusianya, termasuk komponen, keunggulan dan kearifan-kearifan lokalnya.

Semula saya berharap hal-hal itu akan dikupas dalam Debat Capres-Cawapres 2014. Namun sampai seri Debat ke 3, saya belum melihatnya, kecuali beberapa program. Sementara para pengamat nan cendekia, lebih sibuk mengulas retorika, gaya, gestur dan aneka kemasan ala panggung hiburan. Semoga dengan tidak mengupasnya dalam debat, tidak berarti para Capres-Cawapres termasuk para Tim Sukses dan Tim Ahlinya, bukan belum memahaminya, melainkan karena desakan untuk membangun citra demi merebut kemenangan. Syukur-syukur dalam seri debat yang masih tersisa, bangsa Indonesia bisa melihat kepiawian mereka dalam memahami masalah-masalah vital dan strategis bangsa, menguasai bagaimana cara mengatasi serta membangun visi sekaligus muwujudkan visi-misinya tersebut.

Bila tidak? Ya kita berdoa saja memohon ampunan dan pertolongan Gusti Allah Yang Maha Kuasa.

Depok, 24 Juni 2014.

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Black Campaign Itu Mengobarkan Kebencian

Sahabatku, beberapa bulan terakhir ini kita berada dalam suasana kampanye Pemilihan Anggota Legislatif yang dilanjutkan dengan kampanye Pemilihan Presiden. Kampanye kali ini menjadi luar biasa karena suasana kebebasan mengemukakan pendapat juga dilakukan dengan menggunakan jaringan media massa terutama media sosial.

Sungguh kita telah diserbu dengan gelombang penggalangan alam pikiran yang sudah bagaikan gerobak sampah, penuh dengan aneka produk yang dikemas sebagai pencitraan, padahal isinya campur aduk antara informasi yang benar, fitnah, gibah bahkan black campaign, kampanye hitam yang tiada lain adalah teror kebencian, yang menempatkan saudara sebangsa setanah air, bahkan seiman, sebagai musuh besar yang harus dibasmi, dibunuh karakternya. Naudzubillah.

Sahabatku, marilah kita saling mengingatkan tentang firman Gusti Allah Swt, “ dan jangan sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil itu lebih dekat kepada takwa.” (Qs. Al Maidah: 08).
Tentang itu Al Qurthubi menerangkan,”Janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum menjadikan kamu meninggalkan keadilan dan mengedepankan permusuhan dibanding kebenaran. Ini adalah dalil untuk menerapkan hukum permusuhan yang sebenarnya dan juga dalil untuk menerapkan hukum musuh terhadap permusuhannya kepada Allah, serta menerapkan kesaksiannya terhadap mereka karena Allah swt memerintahkan berbuat adil walaupun dia membencinya.” (Al Jami’i li Ahkamil Qur’an juz VI hal 477)

Allah swt meminta kepada setiap hamba-Nya untuk senantiasa mencintai dan membenci seseorang karena-Nya bukan semata-mata karena diri atau latar belakang orang tersebut. Hendaklah seseorang mencintai orang lain karena keislaman atau ketaatannya kepada Allah swt dan membenci orang tersebut karena kemaksiatan atau kekufurannya kepada Allah swt.

Oleh sebab itu wahai Sahabatku, jika anda mendambakan persatuan, kedamaian dan merebaknya kasih sayang di antara sesama kita, marilah kita langsung tinggalkan atau buang saja, dan jangan disebarluaskan, jangan dicopy paste ataupun diforward, materi-materi kampanye yang berbau gibah, fitnah dan kebencian. Dan apabila anda juga sepaham dengan tulisan ini, marilah kita sebarluaskan sebagai ibadah dalam upaya mencegah kemungkaran. Salam takzim.

 

2 Comments

Filed under Uncategorized