Sunat, Puasa dan Lebaran di Mata Anak-Anak

Di samping sisi-sisi negatif, anak-anak priyayi Jawa juga mengenal sisi-sisi positif yang amat mengesankan sekaligus menyenangkan tentang Islam. Secara umum kesan positif itu diperoleh pada berbagai upacara dan selamatan yang menandai tahap-tahap penting dalam kehidupan, yaitu kelahiran, khitanan atau sunatan, perkawinan dan kematian. Pada tahap-tahap itu para priyayi Jawa akan menyelenggarakan upacara dan kenduri yang selalu menarik perhatian anak-anak, yang ditandai dengan banyaknya makanan dan orang berkumpul bersama-sama membaca shalawat, tahlil dan beberapa surat Al-Quran.

Tetapi dari semua itu yang paling mengesankan adalah sunatan, puasa dan lebaran, karena langsung menyentuh diri pribadi anak-anak. Sunatan menjadikan saya dan teman-teman bagai raja yang dimanja, dipestakan. Dan yang istimewa, memiliki uang banyak dari hasil sumbangan atau hadiah para tamu. Demikian pula puasa Ramadhan dengan Lebarannya sekaligus. Meskipun pada mulanya terasa berat, saya diharuskan berlatih puasa pada usia 5 tahun, puasa biasanya dapat dilalui dengan baik karena sepanjang hari penuh sanjungan dan perhatian dari orangtua.

saya sering menjumpai para orangtua memuji anak-anaknya yang masih kecil yang sudah mulai berlatih puasa, meskipun baru selama setengah hari. Sementara itu aneka masakan dan kue menyemarakkan waktu buka puasa sampai hari raya Idul Fitri atau Lebaran. Bahkan hari Lebaran sudah bisa dipastikan sebagai hari raya anak-anak dengan pakaian yang serba baru, bermain serta bertamu ke sana ke mari sambil mencicipi aneka minuman dan hidangan, dan tidak ketinggalan hadiah uang atau wisit dari kaum kerabat.

Kegembiraan nan luar biasa, membuai kami hingga tak letih bermain nyaris dua hari dua malam, Lebaran Pertama dan Kedua, seraya mendendangkan lagu permainan pengobar semangat yang dipercaya sebagai karya seorang Wali Allah, Sunan Kalijaga:

Lir ilir, lir ilir
tandure wus sumilir
tak ijo royo-royo
tak sengguh temanten anyar

cah angon, cah angon
penekno blimbing kuwi
lunyu-lunyu penekno
kanggo mbasuh dododira

dododira dododiro,
kumitir bedah ing pinggir
domono jlumatono
kanggo sebo mengko sore

mumpung padhang rembulane
mumpung jembar kalangane
sun surako,
surak hore………
(Seri Islam Dalam Masyarakat Jawa (4): dari buku Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan halaman 9 – 11. Lebih jauh mengenai tembang Ilir-Ilir, bisa dilihat pada artikel:  Ilir-Ilir, Kolaborasi Tokoh Islam Abangan Dengan Islam Putihan)

3 Comments

Filed under Uncategorized

Kehebatan Tapi Sekaligus Kelemahan Syiar Islam

Pak Haji yang tidak ramah, yang tidak akrab dan tidak menaruh kasih sayang terhadap anak-anak, serta citra Islam yang cenderung menyelesaikan masalah dengan pedang dan darah, entah dari mana asal muasalnya, tiba-tiba sudah menjadi cetak biru pandangan dan pemikiran. Apalagi tatkala menerima bentakan keras bapak guru agama Islam yang tidak bersedia pembicaraannya saya sela dengan pertanyaan. Lebih-lebih pula setiap melihat wajah “galak” pak Haji di sebelah rumah saudara sepupu saya.

Sementara itu saya sering iri melihat Romo Pastur dan Suster di sekolah Katholik, pasturan dan susteran, dengan mukanya yang teduh dan ceria, asyik bermain dengan kanak-kanak. Demikian pula pak Pendeta Kristen Protestan yang senang bercerita, bermain dan bernyanyi di Sekolah Minggu di balai pertemuan pabrik gula Trangkil, Pati, yang sering saya lihat dan dengarkan sambil bermain-main sendirian di halaman balai tersebut. Dalam hati saya menuntut, se¬harus¬¬nya pak guru agama Islam di sekolah, pak Kyai dan terutama pak Haji harus pandai, ramah, baik dan menyayangi anak-anak kecil seperti Pastur dan Pendeta tadi.

Di belakang hari saya baru mengetahui bahwa gelar haji ternyata bukanlah jaminan keikhlasan dan kepandaian berdakwah. Dari gelar haji, kyai dan ustadz tidak serta-merta dapat dituntut bersikap dan berperilaku sebagaimana pastur dan pendeta yang telah melewati jenjang sekolah tinggi dengan berbagai mata pelajaran tentang ilmu pendidikan, psikologi, sosiologi dan komunikasi.

Sementara itu gelar panggilan para guru agama kita, para ustadz dan kyai, tidaklah wajib memenuhi syarat pendidikan sekolah tinggi formal yang ketat sebagaimana para pastur dan pendeta. Guru mengaji Al Quran anak-anak di rumah entah apa pendidikannya, sudah bisa kita panggil ustadz atau guru. Kenalan yang fasih baca doa sudah bisa dipanggil Kyai. Beberapa kenalan pegawai negeri yang penghasilan resminya rendah, namun kaya dan sudah menunaikan ibadah haji, dipanggil Pak Haji. Inilah kehebatan tapi sekaligus kelemahan syiar Islam, semuanya diserahkan dan menjadi tanggungjawab individu masing-masing pemeluknya.

Subhaanallaah, maasyaa-Allahu la quwwata illaa billaah.

(Seri Islam Dalam Masyarakat Jawa (3), dari buku Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan, halaman 8 – 9)

1 Comment

Filed under Uncategorized

Lima Stasiun Pengembaraan Manusia Menurut Islam Kejawen

Stasiun Pengembaraan manusia
Dalam buku Memaknai Kehidupan halaman 19 – 22, yang juga sudah pernah kita bahas dalam tulisan-tulisan sebelum ini, perjalanan kehidupan manusia menurut faham Islam Kejawen mengikuti Lima Stasiun Pengembaraan. Secara sederhana, pengembaran tersebut kami ringkaskan dalam bentuk bagan berikut ini. Semoga dengan memahami bagan itu, kita bisa mengambil hikmah serta mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, termasuk melengkapi dengan bekal-bekal perjalanannya, sehingga bisa mencapai Istana Idaman di Kampung Akhirat. Aamiin.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Serat Wedhatama: Priyayi Jawa Ingin Menjadi Orang Jawa Yang Beragama Islam

Para santri yang sering berbusana dengan jubah ala orang Arab, para kyai yang jika khotbah Jum’at dan berdoa sepenuhnya dalam bahasa Arab yang tidak dimengerti oleh khalayak umum, juga dicemooh sebagai orang Jawa yang tidak memiliki jatidirinya sebagai orang Jawa. Bahkan dianggap sok memonopoli tiket surga. Disindir, jika sudah mengenakan surban dan jubah atau gamis Arab, apakah merupakan jaminan masuk surga? Bukankah musuh Kanjeng Nabi Muhammad, yaitu Abu Jahal dan Abu Lahab juga berbahasa Arab serta memakai jubah Arab? Demikian pula apakah Gusti Allah hanya bisa berbicara bahasa Arab? Tidak paham bahasa Jawa? Kalau demikian halnya, maka itu hanya Tuhannya orang Arab, bukan Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Tahu. Gusti Allah haruslah Tuhan seluruh umat manusia, baik Belanda, Arab, India, Jepang, Cina, Indonesia maupun Jawa. Priyayi-priyayi Jawa itu ingin tetap menjadi orang Jawa tapi yang beragama Islam, bukan menjadi orang Arab ataupun bangsa lain.

Di samping logika yang sederhana tadi, sebagian priyayi Jawa juga masih menyenangi beberapa kitab tentang ajaran Islam yang dianggap sesuai dengan adat budaya Jawa seperti Centini, Wulangreh dan Wedhatama. Dalam kitab Wedhatama misalkan, sang penulis yaitu Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegara IV (3 Maret 1811 – 8 September 1881) menyindir hal-hal yang berbau Arab sebagai berikut:

Nanging enak ngupa boga
rehne ta tinitah langit
apa ta suwiteng nata
tani tanapi agrami
mangkono mungguh mami
padune wong dahat cubluk
durung wruh cara Arab
Jawaku bae tan ngenting
parandene paripeksa mulang putra.
(bait 25).

Yeku patut
tinulad-tulad tinurut
sapituduhira
aja kaya jaman mangkin
keh pra mudha mundhi dhiri rapal makna.

Durung pecus
kesusu kaselak besus
amaknani rapal
kaya sayid weton Mesir
pendhak-pendhak angendhak gunaning janma.

Kang kadyeku
kalebu wong ngaku-aku
akale alangka
elok Jawane den mohi
paksa ngangkah langkah met kawruh ing Mekah.
(bait 37 – 39).

Terjemahan bebas kurang lebih :

Tapi enak mencari nafkah
karena ditakdirkan sebagai makhluk yang diperintah langit (makhluk yang lemah)
apakah mengabdi raja
bertani dan berdagang
begitulah menurut hematku
karena aku orang bodoh
belum paham bahasa Arab
bahasa Jawaku saja belum memadai
tetapi memaksa diri mengajari anak.
(bait 25).

Yaitu patut dicontoh diturut
semua petunjuknya
Jangan seperti zaman kini
banyak muda-mudi menyombongkan rapal dan makna

Belum mampu
terburu ingin lekas pandai
mengartikan rapal
bagai sayid dari Mesir
sering meremehkan (menyalahkan) kemampuan orang lain

Yang seperti itu
termasuk orang yang mengaku-aku
pikirannya tidak masuk akal
aneh tak mengakui ke Jawaannya
memaksa ingin mencari ilmu ke Mekah”
(bait 37-39).

Astaghfirullahal’azhiim.

(Seri Islam Dalam Masyarakat Jawa (2) dari buku Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan, halaman 5 – 8)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Islam di Mata Anak-Anak Priyayi Jawa

Ini adalah cerita apa adanya. Kesan yang salah tetapi jujur. Saya sendiri tidak tahu atau tidak ingat lagi siapa yang mengajarkan, siapa yang menanam benih prasangka buruk dalam benak saya dan juga benak kawan-kawan sepermainan, anak-anak Jawa Abangan, anak-anak priyayi Jawa. Kalau saya berkisah secara apa adanya, tolong jangan tersinggung. Sebab Islam di mata kami anak-anak Jawa Abangan pada masa itu, identik dengan jorok, kawin cerai, tidak ramah dan tidak kasih terhadap anak kecil, tidak memiliki jati diri bangsanya dan cenderung menyelesaikan masalah dengan pedang dan darah. Astaghfirullahal ‘azhiim.

Masih terbayang, pengalaman saya bermain ke beberapa pesantren pada dasa warsa 1950-an, yaitu lebih dari 4 abad setelah Sunan Bonang wafat (diperkirakan tahun 1525). Pondok-pondok bambu yang sangat sederhana dan kumuh. Fasilitas mandi, cuci dan kakus yang ala kadarnya dengan bau kotoran yang menyengat. Kolam berwudu di masjid yang keruh, di mana para santri berjongkok atau membungkuk, mencelupkan tangannya ke dalam kolam atau bak air, mencuci tangan, berkumur, kecipak-kecipuk dan seterusnya sampai membasuh dan mencuci kaki dengan air yang sama, dari kolam, di dalam kolam, kembali lagi ke kolam yang sama. Waktu itu maaf, merinding jijik bulu kuduk saya.

Sekarang pun kadang-kadang saya masih menjumpai hal seperti itu. Pada tahun 1992 yang lalu misalkan, saya mengurungkan dan menunda salat maghrib dalam perjalanan di Sukabumi karena kolam wudunya sekaligus adalah empang, di tempat mana air hujan yang waktu itu jatuh ke tanah, keruh mengalir ke dalamnya. Di rumah Gusti Allah yang amat sangat sederhana, gelap lagi pengap itu, saya bersimpuh. Berbeda dengan masa kanak-kanak, kini saya terhempas sedih menyaksikan kebodohan, keterbelakangan dan kemelaratan saudara-saudara seiman. Saya lakukan sujud syukur tanpa berwudu, kemudian duduk tafakur, merenungkan keadaan. Adapun salat maghrib saya jamak di rumah. Saya bersyukur telah dikaruniai iman Islam. Bersyukur dikaruniai kepedulian dengan keterharuan dan rasa sedih sekaligus terhadap keterbelakangan saudara-saudara saya seiman.

Tentang kawin cerai, bahkan sampai sekarang masih suka mendengar, kawan-kawan dari agama lain, terutama dari suku bukan Jawa dan bukan Islam, mengolok-olok teman atau saudara wanitanya agar jangan berpacaran apalagi menikah dengan orang Islam. Sebab nanti gampang dimadu atau dicerai.

Di mata priyayi Jawa, pasangan suami istri selalu didambakan hidup rukun sampai tua renta, sampai kakikaki-nininini, sampai kakekkakek-neneknenek, bagaikan mimi dan mintuna. Mimi dan mintuna adalah sepasang binatang laut sejenis ketam (Limulus molusceanus) tapi sekilas seperti kura-kura kecil yang sering ditemukan dalam keadaan menempel satu sama lain, ke mana-mana senantiasa berenang berpasangan. Hanya kematianlah yang dapat memisahkannya. Sedemikian besar dambaan hidup berumahtangga, sehingga tamsil mimi-mintuna sering disebut dalam nasihat perkawinan.

Memang raja-raja Jawa juga dikenal beristri lebih dari satu, namun itu adalah pengecualian yang tidak boleh ditiru orang lain. Oleh sebab itu jika ada orang yang mudah kawin cerai atau memiliki istri lebih dari satu apalagi sampai empat, sering menjadi bahan olok-olok. Demikian pula suami istri yang sering bertengkar dan rumahtangganya panas, kecuali bagi anak kandungnya sendiri, diusahakan untuk tidak terlibat dalam upacara pernikahan, agar aura dan pengaruh buruknya tidak menular ke pasangan pengantin baru.
Naudzubillahi maindzalik.

(Seri Islam dalm Masyarakat Jawa (1): dari Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan halaman 3 -5).

2 Comments

Filed under Uncategorized

Silaturahmi – Rahmatan lil Alamien dan Kepedulian Terhadap Sesamanya.

Mungkinkah Menegakkan Rahmatan
lil Alamien Jika Terhadap Yang Dekat
Saja Tidak Peduli?

Ini adalah sebuah kisah nyata. Rupanya kebiasaan menumpang kendaraan yang lazim kita jumpai dan lihat di film-film Holywood itu, ternyata bukan hanya berlangsung di era moderen ini saja, tapi sudah semenjak pertengahan abad ke 18, bahkan mungkin sebelum itu.

Di suatu petang di musim dingin di bagian utara Virginia, Amerika Serikat, seorang lelaki tua berjenggot lebat yang memutih lantaran diselimuti salju, menggigil kedinginan menunggu tumpangan untuk menyeberangi sungai. Dari jauh terdengar sayup-sayup derap kaki kuda. Bukan hanya satu tapi serombongan. Sekilas wajahnya berbinar penuh harap. Namun harapan itu sempat sirna tatkala penunggang pertama tak melirik, apa lagi menengoknya sama sekali. Demikian pula penunggang kedua, ketiga dan seterusnya sampai akhirnya tinggal penunggang yang terakhir.

Harapan pak tua timbul kembali melihat sang penunggang dari jauh sudah memperlambat kuda seraya memperhatikannya. Serentak ia lambaikan tangan menghentikan sang penunggang terakhir, yang segera berhenti dan membantu mengangkat tubuh renta, yang setengah membeku dan nyaris tidak bisa bangkit itu. Sang penunggang bukan hanya membantu menyeberangi sungai, bahkan mengantarkan sejauh beberapa mil ke pondoknya yang mungil lagi nyaman.

Sambil membantu pak tua turun, Sang Penunggang bertanya, mengapa pak tua itu tidak menghentikan penunggang-penunggang kuda sebelumnya, dan memilih menghentikannya padahal ia yang terakhir? Bagaimana bila ia menolak membantu sementara cuaca malam sangat dingin?

Pak tua menjawab, “Aku telah hidup di dunia cukup lama, sehingga bisa mengenali manusia dengan baik. Ketika para penunggang kuda itu lewat, aku melihat pandangan mata mereka tidak menampakkan kepedulian terhadap keadaanku. Namun ketika kulihat pandanganmu, tampak jelas keramahan dan kasih sayang. Aku pun tahu bahwa jiwamu yang lembut pasti takkan melewatkan kesempatan untuk menolongku”.

Ucapan pak tua tersebut menyentak perasaan sang penunggang kuda. “Aku sungguh merasa bersyukur dengan perkataanmu. Semoga aku tidak terlalu sibuk dengan urusanku sendiri sehingga lalai dengan kepentingan orang lain.”

Itulah sebuah tekad atau bahkan mungkin janji untuk peduli terhadap orang lain. Setelah berkata demikian, Sang Penunggang yang tiada lain adalah Thomas Jefferson, yang bersama sejumlah teman seperjuangannya, berhasil memerdekakan Amerika Serikat, dan di kemudian hari berkantor di Gedung Putih sebagai Presiden yang ketiga, di masa-masa sulit, di mana kekuasaan para politisi dan parlemen sangat dominan seperti di Indonesia sekarang. (Story by Unknwon Author, yang dihimpun oleh Drs.Abu ‘Abdillah Al- Husainy, Pustaka Zawiyah).

Silaturahim dan bertetangga baik.

Bangsa Indonesia ini sungguh luar biasa. Kita semua, baik muslim maupun bukan, baik yang puasa maupun yang tidak, baru saja menikmati libur bersama demi merayakan Idul Fitri, ber halal bi halal dan mudik ramai-ramai guna bersilaturahim dengan sanak saudara, kaum kerabat dan handai tolan di kampung halaman. Untuk itu kita rela mengorbankan banyak tenaga, waktu dan uang.

Kata silaturahmi atau silaturahim, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti tali persaudaraan atau tali persahabatan. Semua agama, tradisi dan kearifan-kearifan lokal di berbagai belahan bumi yang menjunjung tinggi moral dan etika, menempatkan masalah silaturahim sebagai salah satu ajaran utama. Sedangkan kunci dari silaturahim tiada lain adalah kepedulian. Dengan peduli, maka kita mulai memperhatikan orang lain di luar diri dan keluarga kita, baru selanjutnya diwujudkan dengan mengulurkan tali persaudaraan dalam bentuk berbagai sikap dan perbuatan baik.

Tuhan berfirman dalam Surat An Nisaa ayat 36: “ Dan sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, orang-orang yang sedang dalam perjalanan dan budak-budak kamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri.”

Masalah kepedulian, silaturahim dan hidup bertetangga baik, ternyata tidak bisa dipisahkan. Kanjeng Nabi Muhammad Saw banyak membahas kedua hal tersebut. Perawi Hadis, Bukhari, Muslim dan At-Tirmidzi misalnya, mencatat tidak kurang ada 17 nasehat keteladanan Rasulullah khusus tentang silaturahim dan 9 tentang bagaimana berbuat baik dan menjalin tali persaudaraan dengan tetangga. Keduapuluh enam hadis tersebut saling melengkapi satu sama lain, dan cukup jelas memberikan tuntunan bagaimana mengamalkan firman Allah Swt dalam Surat An Nisaa di atas, terutama dalam berbuat baik kepada sanak keluarga, kaum kerabat dan tetangga.

Tidak banyak hadis yang diungkapkan Baginda Rasul dengan mengulang-ulang menyebut asma Allah lantaran saking kesalnya. Namun ada dua yang terkenal, yang satu tegoran keras terhadap pelaku korupsi terutama rasuah atau riswa atau suap-menyuap, dan yang satu lagi adalah tentang hubungan bertetangga. Abu Hurairah mengisahkan bagaimana Kanjeng Nabi bersabda: “ Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman”. Siapa ya Rasulullah? “Yaitu seseorang yang selalu mengganggu keamanan tetangganya”.

Mengenai ajaran untuk bersilaturahim serta berlaku baik terhadap tetangga, Ibnu Umar dan Aisyah ra menuturkan betapa Jibril berpesan wanti-wanti, berpesan dengan amat sangat kepada Rasulullah, agar kita selalu berperilaku baik terhadap tetangga, sampai-sampai Rasulullah sempat menyangka Jibril akan menyuruh memberi hak waris kepada tetangga.

Oleh sebab itu sangatlah beralasan, apabila hampir semua agama dan kaum bijak bestari mengajarkan betapa penting menjalin hubungan persaudaraan dengan para tetangga, karena sesungguhnya merekalah saudara terdekat kita, yang akan paling cepat menolong jika kita tertimpa musibah misalkan kebakaran, dan bukan saudara kandung kita nan jauh di mata. Naudzubillah.

Sahabat-sahabatku.
Masih banyak ayat-ayat suci, hadis dan petuah-petuah bijak dari seluruh penjuru dunia di sepanjang masa mengenai silaturahim, hubungan bertetangga dan berbuat baik kepada sesamanya. Saya yakin kita semua memahaminya. Hanya saja karena gelombang globalisasi yang melancarkan perang semesta terhadap segenap anak manusia, membuat kita sering lupa pada masalah-masalah yang kelihatannya sepele tersebut. Gelombang globalisasi yang mengaduk-aduk kehidupan kita, bisa memisahkan masalah keimanan dengan amal saleh. Padahal di dalam Al Qur’an cukup banyak ayat yang menegaskan pentingnya keterkaitan antara iman dan amal saleh, karena amal saleh itu memang merupakan realisasi dari iman, merupakan bukti dan perwujudan dari iman (antara lain Surat An-Nahl ayat 97 dan Surat Al-Bayyinah ayat 7).

Jika berbicara mengenai iman saja, maka itu merupakan rahasia antara kita dengan Tuhan. Tiada seorang pun kecuali diri kita sendiri yang tahu apakah kita sungguh-sungguh beriman ataukah hanya sekedar kamuflase dan topeng kehidupan. Akan tetapi bila iman dikaitkan dengan tindakan, dengan perbuatan, dengan amalan, maka menjadi nampak perwujudannya di dalam perilaku sehari-hari. Dengan demikian iman menjadi sempurna karena ada buktinya (http://islamjawa.wordpress.com/2013/12/31/seri-tasawuf-salon-kecantikan-jiwa-di-era-globalisasi-1-gelombang-globalisasi-ii/).

Waspadai Globalisasi.

Mengapa saya menyebut Gelombang Globalisasi telah mengaduk-aduk kehidupan dan keimanan kita? Sungguh tidak cukup berbicara globalisasi hanya dalam beberapa menit. Tetapi intinya, gelombang globalisasi adalah suatu bentuk perang semesta yang dilancarkan oleh Kapitalisme Global yang mendendangkan musik jiwa, yang menggempur nilai-nilai dasar negara bangsa, menggerus norma-norma agama, tradisi dan kearifan lokal.

Musik jiwa tersebut berusaha keras membentuk tatanan masyarakat dunia baru, dengan menggalang alam pikiran kita agar terpadu secara total pada dimensi rasionalitas, yang memuja pesona dunia dengan menciptakan kebutuhan-kebutuhan palsu. Masyarakat tata dunia baru ini terdiri dari individu-individu masyarakat yang hedonis, individualis, pragmatis, materialis dan narsis. Individu-individu yang hanya mementingkan dirinya sendiri saja, tanpa peduli terhadap orang lain dan lingkungan sekitarnya (http://bwiwoho.blogspot.com/2014/02/kapitalisme-global-kekuatan-perang. html).

Marilah kita coba mawas diri, menilai diri kita sendiri masing-masing, sejauh mana sikap-sikap individual yang buruk tersebut sudah mempengaruhi diri kita. Naudzubillah.
Sahabat-sahabatku.

Baru saja kita merayakan Idul Fitri. Dalam kaitan Idul Fitri ini masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan yang oleh para ulama dinilai baik, yakni saling menyatakan “Minal ‘Aidin wal Faizin”. Ungkapan ini sebenarnya adalah doa agar Gusti Allah Swt menjadikan kita sebagai orang-orang yang kembali dan meraih kemenangan. Kembali ke mana? Ke fitrah, yakni asal kejadian atau kesucian atau agama yang benar.

Menurut Prof.Dr.Quraish Shihab (Lentera Hati, Penerbit Mizan), setelah mengasah dan mengasuh jiwa, yaitu berpuasa sebulan penuh, setiap muslim diharapkan dapat kembali ke asal kejadiannya dengan menemukan jatidirinya, yaitu kembali suci sebagaimana ketika baru dilahirkan, serta kembali mengamalkan ajaran agama yang benar. Ini semua menuntut keserasian hubungan, al aidin al mu’amalah, yakni keserasian hubungan antara sesama manusia, lingkungan dan alam semesta.

Demikianlah dengan puasa, kita diharapkan mengingat kembali tugas kita selaku khalifah fil ard, yaitu hamemayu hayuning bawono atau mewujudkan rahmatan lil alamien, mewujudkan keserasian hubungan manusia-lingkungan-alam, yang harus dimulai dari lingkaran kehidupan yang terkecil yaitu diri sendiri; selanjutnya menjangkau lingkaran yang semakin besar yakni keluarga dan rumahtangga, orang-orang terdekat seperti tetangga dan teman kerja, masyarakat luas, lingkungan dan alam semesta.

Masalahnya bagaimana mungkin kita bisa menjalin kerserasian hubungan dengan masyarakat luas, lingkungan dan alam semesta beserta segenap isinya, kalau perilaku kita hedonis-individualis-pragmatis-materialis dan narsis, yang tidak lagi peduli terhadap orang lain dan terhadap siapa pun, baik itu lingkungan, tetangga, teman kerja bahkan terhadap alam semesta? Apakah sudah benar, kita jauh-jauh bersilaturahim ke sanak saudara nan jauh di kampung, sementara silaturahim dengan tetangga diabaikan? Apakah benar acara mudik yang menuntut pengorbanan berhari-hari perjalanan itu adalah silaturahim yang sesuai dengan nilai-nilai kegamaan, ataukah bukannya suatu upaya pemuasan atas sikap hedonis-individualis-pragmatis-materialis dan narsis. Hanya diri kita dan Allah Swt saja yang tahu.

Mungkinkah kita bisa berbuat baik, bisa bersilaturahim secara al aidin al mu’amalah, melaksanakan tugas kehidupan kita selaku khalifah fil ard, jika kepada yang terdekat dan nampak sehari-hari saja kita tidak peduli dan tidak bisa menjalin hubungan baik? Mungkinkah memintal tali persaudaraan yang terjulur jauh memanjang, sementara yang dekat tidak terhubung?

Khusus bagi para elit nasional, mungkinkan mereka peduli kepada Jakobus di pedalaman Papua, peduli kepada si Agam dan si Inong di pedalaman Aceh Tenggara, jika terhadap orang-orang dekatnya, terhadap tetangganya, terhadap orang-orang yang pernah dekat dan membantunya saja mereka tidak peduli? Bahkan lalai, dilupakan dan tidak bisa mempertahankan tali silaturahim?

Semoga saja, Tuhan Yang Maha Pengasih memaafkan kita semua khususnya penulis, serta menganugerahi kita terutama para pemimpin bangsa, sikap kepedulian terhadap sesamanya yang tulus dan tinggi, minimal sebagaimana tekad Thomas Jefferson di bagian awal tulisan ini. Aamiin. (B. Wiwoho)

Beji, Depok 16 Agustus 2014.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Seri Tasawuf, Salon Kecantikan Jiwa di Era Globalisasi (5): Menjadi Gunung Karang di Tengah Gelombang Globalisasi

Tasawuf dan globalisasiSahabatku, kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan perkembangan zaman itu adalah sebuah keniscayaan. Demikian pula kehidupan di dunia dan alam raya. Semua berlangsung sesuai sunatullah. Kita tidak mungkin lari darinya, apalagi dengan bersikap bagaikan burung onta yang mencoba menyembunyikan kepalanya ke dalam tanah bila menghadapi bahaya, sementara badannya yang besar teronggok di permukaan.

Karena itu kita mesti mengarungi gelombang kehidupan ini dengan persiapan diri dan bekal yang memadai. Dunia dan apa-apa yang ada di dalamnya menurut Al Ghazali mengutip Rasulullah, terkutuk kecuali yang digunakan untuk apa-apa yang diridhoi Allah. Oleh karena itu dunia harus ditaklukkan untuk beribadah kepada Allah.

Ia menjelaskan, segala perbuatan dan tindakan yang ditujukan untuk akhirat, sudah tidak dikategorikan dunia lagi. Umpamanya, seorang pedagang yang bermaksud mencari rejeki untuk bekal ibadah dan bukan untuk memuaskan hawa nafsu serta keserakahannya. Dagang yang demikian itu termasuk amal akhirat, asal benar-benar niatnya dilaksanakan. Begitu pula dengan amal-amal mubah yang dilaksanakan dengan niat ibadah dan memang sungguh-sungguh diwujudkan. Misalkan, makan agar badan kuat, dan setelah itu menolong fakir miskin. Juga tidur agar badan sehat, dan dengan badan yang sehat itu kita melakukan kegiatan-kegiatan yang diridhoi Allah. Status hukum mubah adalah kegiatan yang bila dikerjakan tidak berpahala tapi juga tidak berdosa, sedangkan bila ditinggalkan pun tidak berdosa dan tidak berpahala.

Adapun batasan bekal ibadah, yaitu betul-betul untuk bekal ibadah, berhubungan dengan urusan akhirat dan tujuannya harus mutlak untuk itu.Bukan hanya sekedar penghias bibir yang tidak diwujudkan dalam perbuatan. Maka dalam kaitan ini menurut Al Ghazali, mengharapkan kebaikan bukanlah riya. Juga apabila kita ingin dihormati orang dengan tujuan agar seruan dan ajakannya menegakkan amar makruf nahi munkar diikuti orang banyak.Yang harus senantiasa kita waspadai, semua itu dengan tidak bermaksud memuliakan diri sendiri atau untuk memenuhi dahaga pesona dunia.

Orang-orang yang memiliki pengikut dan pengaruh besar di masyarakat serta mempunyai ilmu dan kemampuan yang dibutuhkan bagi kemaslahatan orang banyak,karenanya juga tidak boleh uzlah mengasingkan diri. Seperti Kanjeng Nabi, ia harus berdiri kokoh bagaikan gunung karang di tengah samudera kehidupan, berada di tengah masyarakat menegakkan urusan agama, menegakkan yang haq memberantas yang batil. Mengajak masyarakat melaksanakan kebaikan dan memberantas kemungkaran, memberi nasehat, menjelaskan hukum-hukum Allah.

Orang yang seperti itu mempunyai potensi besar untuk masuk ke dalam golongan orang-orang yang mampu menjalankan firman Allah dalam surat Al-Bayyinah ayat 7, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.”Perintah buat mengerjakan amal saleh juga ditegaskan sebelumnya dalam Surat An-Nahl ayat 97, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”

Di dalam Al-Qur’an cukup banyak kata iman yang dikaitkan dengan amal saleh, karena amal memang merupakan realisasi dari iman.Perwujudan nyata dari iman adalah amal saleh.Jika hanya berbicara mengenai iman saja, maka itu merupakan rahasia antata kita dengan Gusti Allah.Tiada seorang pun kecuali diri sendiri yang tahu apakah kita betul-betul beriman atau tidak.Oleh sebab itu jika iman dikaitkan dengan amal, menjadi nampak perwujudannya di dalam perilaku sehari-hari, sehingga dengan demikian iman menjadi sempurna karena ada buktinya. Mewujudkan iman menjadi amal saleh merupakan tahapan-tahapan perjalanan seorang salik dalam menapaki jalan ketuhanan.

Amal saleh atau kerja yang mulia dan baik, seringkali hanya ditafsirkan secara sempit, terbatas pada perbuatan ibadah ritual yang kita kenal sehari-hari seperti salat, puasa dan haji.Bahkan ada lagi yang membuat sekedar ukuran formalitas.Misalkan orang yang berpeci putih atau bersorban diberi predikat orang beriman yang saleh. Tentu saja ini menyedihlkan, sebab iman dan amal saleh hanya diukur sebatas itu. (Memaknai Kehidupan).

Menurut Prof.K.H. Ali Yafie, pengertian amal saleh yang perlu kita miliki dan yang harus dikembangkan adalah seluruh aktivitas yang dilakukan orang beriman, yang dimulai dengan kebersihan, dikembangkan dalam kesederhanaan dengan sasaran pengabdian. Itulah gambaran yang lengkap dari amal saleh.Dan itu pula yang dikembangkan dalam pembinaan tasawuf, yang menitikberatkan pada pembinaan personal-individual.

Sahabatku, dengan pemahaman mengenai tasawuf dan gelombang globalisasi sebagaimana telah kita bahas di atas, maka dengan berbekal tasawuf kita akan berani berdiri tegar dan kokoh. Dengan tasawuf kita akan bisa membangun semangat dan pola hidup meneladani pola kehidupan Kanjeng Nabi Muhammad dan para sahabatnya, yaitu bersih – sederhana – mengabdi (BSM). Pola hidup yang tidak konsumtif, yang tidak larut dalam gemerlap pesona dunia dengan serba kemewahannya.

Sederhana pada hemat Puang Yafie, tidak identik dengan kemiskinan atau pun hidup miskin. Sederhana tidak tergantung pada materi yang dimiliki, tetapi pada sikap. Sikap inilah yang perlu diluruskan. Tidak ada halangan bagi seseorang, bahkan seorang sufi sekalipun, untuk hidup kaya. Sebab banyak di dalam cerita, sufi itu adalah orang-orang kaya. Seperti yang paling terkenal adalah Imam Malik, seorang sufi yang kaya raya. Sahabat Nabi Saw, yang bernama Abdurrahman bin ‘Auf dan Usman bin ‘Affan adalah sufi yang kaya raya. Akan tetapi, kekayaannya betul-betul digunakan sesuai dengan tuntunan Islam.

Sederhana adalah tidak berlebih-lebihan dan tidak bermewah-mewahan. Oleh karena itu, pola hidup sederhana ini memerlukan penjelasan untuk menepis pengertian yang tidak positif. Biasanya hidup sederhana diartikan dengan miskin dan serba kekurangan. Ini merupakan pengertian yang tidak positif. Yang tepat, hidup sederhana adalah hidup berkecukupan. Dalam bahasa fiqih disebut “kifaayah” , yakni hidup yang tidak berlebih-lebihan. Jadi, hidup yang tidak bermewah-mewahan dan tidak foya-foya, tetapi berkecukupan. Itulah arti hidup sederhana secara positif.

Kalau kita mendengar kata “sederhana”, konotasinya pada kemiskinan, serba kekurangan. Itu yang perlu diluruskan, karena tidak benar. Sederhana itu berbeda dengan miskin. Orang kaya itu perlu hidup sederhana, karena batasannya adalah berkecukupan, dengan catatan tidak berlebih-lebihan, dan tidak berfoya-foya. (Prof. Dr. Muhammadiyah Amin dalam Jati Diri Tempaan Fiqih).

Jika kita bisa mengembangkan pola hidup BSM di kancah dunia yang sedang dikendalikan oleh Kapitalisme Global ini, insya Allah perekonomian Indonesia akan bergeser dari perekonomian yang konsumtif menjadi perekonomian yang produktif. Devisa kita akan bisa banyak dihemat. Ekonomi berbiaya tingggi akan dapat ditekan. Lapangan kerja akan banyak tersedia. Pengangguran ditekan sekecil mungkin, sumber daya alam terkelola dengan baik, lingkungan hidup terjaga dan terpelihara, kesenjangan sosial terjembatani, korupsi dapat diberantas, keadilan sosial dapat ditegakkan, keamanan dan ketertiban umum terpelihara baik lagi terkendali.

Demi mempraktekkan pola hidup BSM, Puang Kyai Ali Yafie dalam Ramadhan Menggugah Semangat Proklamasi (Bina Rena Pariwara, 2005) menekankan, segala macam aktivitas yang kita lakukan harus dimulai dengan kebersihan jiwa, kebersihan hati dan niat, dikembangkan dalam pola kehidupan serta perilaku kesederhanaan, dengan sasaran pengabdian demi kemaslahatan umat. Pola hidup BSM harus dikembangkan menjadi moral ekonomi, politik, hukum dan terus dikembangkan ke sektor-sektor kehidupan lainnya.

Sahabatku, secara individu, orang yang sudah memiliki tasawuf sebagai pertahanan jiwanya, akan melaksanakan pola hidup BSM dalam situasi dan kondisi apa pun termasuk di era globalisasi sekarang, sehingga bersama golongan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, akan senantiasa bertawakal kepada Gusti Allah, yang tidak akan pernah terpengaruh dengan kesusahan dan kepayahan dunia. Akan senantiasa lapang dada, jauh dari pikiran kusut yang merepotkan.Senantiasa tenteram dan tidak menjadi boyongan makhluk, yang tidak terhempas dan tidak terbenam oleh ombak perobahan tempat, masa dan keadaan. Bagaikan gunung karang yang perkasa, tetap tegak kokoh walau dihempas bertubi-bertubi oleh Gelombang Globalisasi yang menerjang bergulung-gulung, di tengah lautan kehidupan nan ganas.

Semoga kita memperoleh anugerah-Nya, dimasukkan dan senantiasa berada di dalam golongan hamba-hamba sekaligus kekasih-Nya yang seperti itu.

Duh Gusti,
anugerahkanlah kepada hamba,
gelora pesona cinta nan membara,
‘tuk kepakkan sayap jiwa,
terbang suka cita luar biasa
ke haribaan Paduka.

Alhamdulillaah, alhamdulillaah, alhamdulillaah,
aamiin, aamiin, aamiin ya rabbill ‘aalamiin.

Beji, Depok: Jumat 13 Desember 2013.

2 Comments

Filed under Uncategorized