Tafsir Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (8) : DEWA RUCI, JAGAD BESAR – JAGAD KECIL.

Bait 23 :
Bumi gunung segara myang kali,
sagunging kang sesining bawana,
kasor ing arta dayane,
sagara sat kang gunung,
guntur sirna guwa samyo nir,
singawruh arta daya,
dadya teguh timbul,
lan dadi paliyasing prang,
yen lelungan kang kapapag widi asih,
sato galak suminggah.
Artinya :
Bumi gunung lautan dan sungai,
segenap isi dunia,
tunduk kepada arta daya,
lautan mengering (,) itu gunung,
dan guntur sirna (,) goa lenyap,
siapa yang paham arta daya,
menjadi manusia tangguh,
dan mampu mencegah peperangan,
siapa yang berjumpa dalam perjalanan menjadi segan dan sayang, binatang buas menyingkir.

Bait 24 :
Jim peri prayangan padha wedi,
mendhak asih sakehing drubiksa,
rumeksa siyang dalune,
singa anempuh lumpuh,
tan tumama ing ngawak mami,
kang nedya tan raharja,
kabeh pan linebur,
sakehe kang nedya ala,
larut sirna (,) kang nedya becik basuki,
kang sinedya waluya.

Artinya :
Jin setan semua takut,
semua hantu takluk,
karena dilindungi siang malam,
siapa yang melawan akan tak berdaya,
tidak akan mengenai (mencederai) diriku,
siapa yang berniat merusak kesejahteraan (berniat jahat),
semua akan lebur,
semua yang berniat buruk,
larut lenyap (,) yang berniat baik mulia,
yang diinginkan keselamatan.
Bait 25 :
Siyang dalu rineksa ing Widhi,
dinulur saking karseng Hyang Suksma,
kaidhep ing janma akeh,
aran wikuning wiku,
wikan liring mudya semedi,
dadi sasedyanira,
mangunah linuhung,
paparab Hyang Tegalana,
kang asimpen yen tawajuh jroning ngati,
kalising panca baya.

Artinya :
Siang malam dilindungi Tuhan,
segala urusannya lancar karena kehendak Yang Maha Menguasai Jiwa
dihormati oleh banyak manusia,
disebut pendetanya para pendeta,
menguasai cara berkomunikasi dengan Tuhan,
terwujud segala kehendaknya,
berkat pertolongan Allah karena keteguhan imannya,
memiliki sebutan sebagai orang yang ikhlas dan tulus,
pandai menyimpan dalam hati kemampuannya bertatapan wajah dengan Allah,
terhindar dari mara bahaya.

Bait 26 :
Yen kinaryan atunggu wong sakit,
ejim setan datan wani ngambah,
rineksa malaekate,
nabi wali angepung,
sakeh lara padha sumingkir,
ingkang sedya mitenah,
marang awak ingsun,
rinusak dening Pangeran,
eblis lanat sato mara mara mati,
tumpes tapis sadaya.
Artinya :
Jika digunakan buat menunggui orang sakit,
jin setan tiada yang berani mendekat,
dijaga malaikat,
nabi dan wali mengepung melindungi,
segala penyakit menyingkir,
yang hendak memfitnah,
kepada diriku,
dirusak oleh Tuhan,
iblis laknat dan binatang yang mendekat
(,) datang untuk mati,
semuanya tumpas tiada bersisa.

Sebelum mulai pembahasan, dalam terjemahan bait 23 – 26 terdapat beberapa tanda (,). Ini dimaksudkan sebagai tambahan tanda baca koma, untuk memudahkan membaca serta memahami maknanya . Tanda baca koma tersebut dalam naskah asli sesungguhnya memang ada meskipun tidak ditulis, sesuai kaidah membaca macapat.
Bait 23 – 26 menguraikan apa yang disebut dalam filosofi Jawa, “jagad gede – jagad cilik atau jagad besar – jagad kecil”, yang tiada lain merupakan ajaran tasawuf tentang bagaimana mengendalikan hawa nafsu manusia agar bisa mencapai tahap manunggaling kawula – Gusti.

Bumi, gunung, lautan, sungai dan alam raya dengan segenap isinya, dalam pandangan orang awam adalah jagad atau dunia atau alam raya. Alam raya ini dalam tasawuf bisa tunduk kepada seseorang, apabila orang tersebut mampu mendayagunakan arta dayanya. Orang yang seperti ini akan diangkat derajatnya menjadi kekasih Gusti Allah yang dianugerahi segala macam kelebihan, walaupun yang bersangkutan tidak meminta bahkan sudah tidak memiliki keinginan apa-apa kecuali menempatkan diri sepenuhnya sebagai hamba sekaligus kekasih Allah, yang senantiasa taat, tunduk dan patuh kepada-Nya.

Dalam ajaran tasawuf, diri manusia pada umumnya diibaratkan sebagai jagad kecil yang merupakan copy dan miniatur dari alam raya, sedangkan alam raya disebut jagad besar. Manusia akan tetap menjadi jagad kecil apabila kerohaniannya tidak dapat mengalahkan kemanusiaannya yang dipenuhi hawa nafsu. Sebaliknya jika rohaninya bisa menundukkan unsur kemanusiaan atau unsur lahiriahnya, sehingga hakikat dirinya lebih menonjol dibandingkan jangkauan pancainderanya, maka masuklah ia ke dalam “alam malakut yang jabarut”, yaitu alam yang dihuni para malaikat dan ruh suci. Dalam keadaan yang seperti itu manusia menjadi jagad besar, sedangkan alam raya yang kita lihat justru berbalik menjadi jagad kecil. Begitu besar rohani kita sehingga tidak dapat ditampung oleh bumi dan langit. Sementara itu bumi, langit dan seisinya menjadi kecil bagi manusia. Mereka semua tunduk dan takluk kepada manusia yang seperti itu.

Dalam filosofi Jawa, hubungan jagad besar – jagad kecil diajarkan secara indah melalui cerita wayang dengan kisah Dewa Ruci, yaitu kisah khas Jawa yang disisipkan dalam babon kisah induk Mahabarata. Kisah ini menurut penelitian Prof.Dr.RM.Ngabehi Purbotjaroko dan Dr.Stutterheim (kariyan.wordpress.com, diunduh pada 8 Oktober 2014), dikarang oleh Mpu Syiwamurti dalam bahasa Jawa Kuno pada masa peralihan kerajaan Majapahit ke Demak. Oleh Sunan Bonang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa peralihan Jawa Kuno – Jawa Tengahan, dan selanjutnya oleh pujangga Keraton Surakarta, Yasadipura yang hidup pada abad 18, digubah lagi dengan bahasa Jawa Tengahan – Jawa Baru, sebagaimana naskah Serat Suluk Dewa Ruci yang selama ini dikenal masyarakat.

Kisah Dewa Ruci adalah sebuah ajaran tasawuf mengenai manunggaling kawula – Gusti, yang akan bisa dicapai apabila manusia dalam hal ini tokoh wayang Bima, bisa mengendalikan dan menguasai sepenuhnya hawa nafsunya, sehinga bisa menemukan jati diri atau hakikat kemanusiaanya. Sedangkan Dewa Ruci yang berarti Dewa Cerdik, digambarkan sebagai Dewa yang kerdil, yang hanya sebesar telapak tangan Bima, dan merupakan miniatur dari Bima. Dewa Ruci sesungguhnya adalah jati diri Bima yang meskipun secara fisik kecil, namun bisa menelan Bima; karena jatidiri Bima (yaitu Dewa Ruci) telah berubah menjadi jagad besar, yang mampu menundukkan alam raya sesisinya termasuk kemanusiaan Bima, yang menjadi jagad kecil di dalam diri Dewa Ruci.

Oleh Sunan Kalijaga yang merupakan murid Sunan Bonang, kisah Dewa Ruci bersama kisah Jimat Kalimasada (Ajimat Sakti Dua Kalimat Syahadat) dan kisah-kisah carangan (ranting) khas Jawa lainnya seperti Petruk Jadi Ratu, dipopulerkan ke masyarakat dalam bentuk pertunjukkan wayang kulit, sebagai sarana dakwah agama Islam. Kisah-kisah wayang dakwah tersebut masih sangat populer di kalangan penggemar wayang sampai sekarang.

Serupa dengan kisah Dewa Ruci, cucu pujangga Ranggawarsita yang juga cicit Yasadipura, yaitu Iman Anom, pada tahun 1884 M, menggubah Suluk Ling Lung Sunan Kalijaga (Syeh Malaya). Suluk Ling Lung secara jelas merupakan ajaran tasawuf yang dituangkan dalam kisah pencarian jati diri Sunan Kalijaga, semenjak dari pemuda berandalan, kemudian disadarkan dan berguru ke Sunan Bonang, sampai akhirnya berjumpa dengan Nabi Khidir. Perjumpaan Sunan Kalijaga dengan Nabi Khidir dilukiskan hampir sama dengan perjumpaan Bima dengan Dewa Ruci, namun dalam bentuk ajaran tasawuf yang cukup kental.

Dalam tasawuf, manusia digambarkan terdiri dari dua unsur yaitu ruh atau roh dan tubuh. Dari kinerja keduanya menghasilkan apa yang kita sebut dengan jiwa. Jiwa manusia ini apabila suci dari segala kekeruhan yang datang dari alam lahiriah, maka naiklah kedudukan dan status jiwa tersebut ke alam malakut-jabarut. Dalam keadaan seperti itu manusia bisa bertawajuh, membulatkan hati dan menghadapkan diri sepenuhnya kepada Allah (bait 25), sehingga tiada lagi dinding penghalang antara sang jiwa dengan Sang Pencipta. Di mata orang ini, alam raya dengan segala pesona dunianya menjadi nampak begitu kecil bagaikan sebutir biji sawi. Alam atau jagad raya yang tertangkap oleh mata batinnya menjadi jagad kecil, karena dirinya telah berubah menjadi jagad besar.

Manusia yang seperti itu memperoleh sebutan rohaniyin malakutiyin, manusia-manusia rohani yang berada dalam alam malaikat, yang tak dapat dijangkau oleh pancaindera manusia. Meskipun tubuhnya bergaul berada di tengah sesama manusia lainnya, tetapi jiwanya sedang melakukan perjalanan yang tak terbatas lagi tiada ujung, senantiasa berada di sisi Gusti Allah Yang Maha Agung. Ia telah mencapai tingkat yang oleh orang Jawa disebut tapa ngrame, mati sak jeroning urip dan urip sak jeroning mati. Hidup bagaikan bertapa di tengah keramaian, dan menjalani kematian di dalam kehidupan serta hidup di dalam kematian.

Al Ghazali dalam Raudhatut Thalibien wa ‘Umdatus Saalikien (Raudah, Taman Jiwa Kaum Sufi) menyatakan, orang tersebut sudah mencapai tingkatan mati dari nafsunya dalam keadaan masih hidup di dunia, dan menghidupkan hatinya yang mati, sampai kedudukannya kokoh dalam penyaksiaannya terhadap yang Qadim (yang ada terus menerus tanpa awal dan tanpa akhir), serta menempatkan selain Dia pada tempat ketiadaan.                                                                                                 Secara sederhana bisa dikatakan ia telah mematikan, sebetulnya lebih tepat mampu mengendalikan sepenuhnya nafsu pesona dunianya, dan sebaliknya menghidupkan atau mengutamakan kemuliaan rohaninya.

Tidak sembarang orang bisa menghadap Presiden lebih-lebih selalu berada di sisinya. Apalagi berhadapan dengan Gusti Allah tanpa penghalang sama sekali. Hanya orang-orang yang disayang lagi dikasihi Gusti Allahlah yang bisa. Sebagai kekasih Allah, kalau mau ia bisa dianugerahi banyak hal dan segala keinginannya akan dipenuhi. Ia memperoleh mangunah linuhung sebagaimana diuraikan dalam bait 25, juga bait-bait awal serta bait-bait selanjutnya. Betapa tidak. Kalaulah kita menjadi kesayangan seorang Raja, Presiden atau konglomerat, banyak kesenangan yang bisa kita dapat. Apalagi menjadi kekasih Gusti Allah, menjadi wali Allah. Hanya sayang, orang yang menjadi kekasih Gusti Allah adalah justru orang-orang yang sudah mati sak jeroning urip, sehingga bisa disebut sudah tidak punya keinginan apa-apa lagi bagi dirinya sendiri, kecuali semata-mata mengabdi kepada Gusti Allah.

Orang yang senantiasa taat dan ikhlas kepada Allah, yang sudah bisa mengendalikan hawa nafsunya , akan sampai ke maqam makrifat, bisa berhadapan dengan Gusti Allah tanpa penghalang, menurut Al Gazhali dalam kitab Minhajul ‘Abidin, bisa memperoleh anugerah 40 kemuliaan, dua puluh ketika masih di dunia dan dua puluh lagi di akhirat. Mulai dari yang berbentuk pujian, kekayaan hati, keberkahan, sampai pun tatkala sudah wafat masih diijinkan memberikan syafaat kepada orang lain di padang mahsyar dan lain-lain.

Lantas apa yang harus dilakukan lagi di dunia ini oleh orang-orang yang sudah mencapai maqam makrifat? Seperti Bima dalam cerita Dewa Ruci, harus kembali ke kerajaan Amarta, kembali ke masyarakat mewujudkan rahmatan lil alamin, hamemayu hayuning bawono, mewujudkan rahmat bagi alam semesta dengan segenap isinya, bukan hanya bagi keluarga Pandawa, apalagi bagi diri Bima pribadi. Bima harus kembali ke tengah rakyatnya untuk tegar memberantas kebatilan dan menegakkan kebenaran, serta melindungi dan menyejahterakan mereka. Ketegaran memberantas kemungkaran dan kebatilan tanpa kompromi sedikit jua itulah, yang menimbulkan ungkapan bagi orang-orang yang tegar, kokoh dan lurus dalam membasmi kemungkaran dan kebatilan, bagaikan Bima yang tidak peduli tembok kokoh pun akan ditabrak demi kebaikan dan kebenaran.

Manusia sebagai abdullah atau hamba Allah, mengemban tugas khalifah fil ard, atau wakil dan utusan Gusti Allah untuk mengelola alam raya demi terwujudnya rahmatan lil alamin. Bukan dengan lantas berzuhud pergi uzlah, menyepi lari dari hiruk pikuk masyarakat. Dia harus tapa ngrame, berzuhud dan wara di tengah keramaian dunia, menjalankan tugasnya sebagai khalifah fil ard, yang semuanya semata-mata demi Allah, seperti dilakukan Kanjeng Nabi Muhammad Saw, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga dan para wali lainnya. Selaku duta Allah yang menjalankan tugas-tugas kemanusiaan semata-mata demi Allah, maka segala tindak-tanduk dan caranya pun harus betul-betul taat dan sesuai dengan aturan Allah, antara lain berani membasmi kemungkaran dan menegakkan kebenaran, ikhlas, tulus, jujur dan tawadhu. Hidupnya harus bersih, sederhana serta mengabdi pada kemaslahatan umat dan alam raya.

Marilah kita berdoa, semoga kita khususnya penulis dan para pembaca, dianugerahi masuk ke dalam golongan hamba-hambaNya yang seperti itu, yang senantiasa beriman dan beramal saleh.
Alhamdulillaah, aamiin

2 Comments

Filed under Uncategorized

Tafsir Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (7) : SANG GURU SEJATI, HARTATI dan ARTA DAYA.

Bait 19 :
Ana kayu apurwa sawiji,
wit buwana epang keblat papat,
agodong mega rumembe,
apradapa kukuwung,
kembang lintang salaga langit,
semi andaru kilat,
woh surya lantengsu,
asirat bun lan udan,
apepucuk akasa bungkah pratiwi,
oyode bayu braja.

Artinya :
Ada batang kayu bermula dari satu,
pohon dunia bercabang empat penjuru,
berdaun mega yang tergerai subur,
berpucuk pelangi,
berbunga bintang bertaburan di langit,
bersemi kayu kilat (petir),
berbuah matahari dan bulan,
percikan embun dan hujan,
berpucuk langit beralaskan bumi,
akarnya angin dan halilintar.

Bait 20 :
Wiwitane duk anemu candi,
gegedhongan miwah wawarangan (versi lain:wawarangkan),
sihing Hyang kabesmi kabeh,
tan ana janma kang wruh,
yen weruha purwane dadi,
candi segara wetan,
ingobar karuhun,
kayangane sang Hyang Tunggal,
sapareke kang jumeneng mung Hartati,
katon tengahing tawang.

Artinya :
Bermula tatkala menemukan candi (bangunan suci),
gedung-gedung dan pestanya (versi lain : kandang),
kasih sayang Tuhan dibakar semua,
tiada makhluk yang tahu,
bila tahu akan lebih dulu jadi,
candi lautan timur,
berkobar lebih dulu,
kayangan (istana langit) Sang Maha Esa,
ternyata yang ada hanya karsa utama,
nampak di tengah angkasa.

Bait 21 :
Gunung Agung segara Serandil,
langit ingkang amengku buwana,
kawruhana ing artine,
gunung segara umung,
guntur sirna amangku bumi,
duk kang langit buwana,
dadya weruh iku,
mudya madyaning ngawiyat,
mangrasama ing gunung Agung sabumi,
candi-candi segara.

Artinya :
Gunung Agung laut Serandil,
langit yang menyelimuti bumi,
pahamilah artinya,
gunung lautan gaduh,
guntur lenyap memenuhi bumi,
tatkala langit dan bumi,
jadi ketahuilah itu,
memuja tengahnya (pusat) langit,
membangun pondok satu negeri di gunung Agung,
candi-candi lautan.

Bait 22 :
Gunung luhure kagiri-giri,
sagara agung datanpa sama,
pan sampun kawruhan reke,
arta daya puniku,
datan kena cinakreng budi,
nanging kang sampun prapta ,
ing kuwasanipun ,
angadeg tengahing jagad,
wetan kulon lor kidul ngandhap myang nginggil,
kapurba kawisesa.

Artinya :
Gunung tinggi nan luar biasa,
laut pasang yang tiada tara,
semua sudah diketahui,
arta daya itu,
tak terbayangkan oleh akal,
namun yang sudah sampai,
pada kuasanya,
berdiri di tengah jagad,
timur barat utara selatan atas bawah,
semua atas kuasaNya.

Bait 19 sampai 22 ini menunjukkan betapa Sunan Kalijaga sebagai penggubah kidung, memiliki pengetahuan yang luas dan perasaan yang peka terhadap alam semesta. Karena itu ia bisa menuangkan nuansanya secara indah ke dalam kiasan-kiasan yang memiliki daya sugesti spiritual yang tinggi. Ia juga bisa bertutur tentang Gunung Agung di Bali dan segara Serandil yang ada di daerah Cilacap. Keduanya pada saat itu cukup jauh jaraknya dari daerah Pantai Utara Jawa, dan bagi penganut kepercayaan dan kebatinan, dipercaya memiliki kekuatan magis alam semesta yang dahsyat.

Ia memulai bait 19 dengan gambaran sebuah pohon keyakinan yang bersumber dari sawiji yang bisa berarti satu, tapi bisa juga berarti dari sebuah biji. Maknanya sama saja yakni berasal dari Yang Satu. Pohon keyakinan itu tumbuh subur dan menyebar ke segenap penjuru mata angin. Pohon keyakinan yang berpijak berakar kokoh di bumi, menjulang tinggi ke angkasa menembus langit.

Bait 20 sampai 22 menceritakan pencarian seorang hamba pada keyakinan terhadap yang Maha Kuasa dari waktu ke waktu. Untuk itu ia bisa meninggalkan kehidupan yang penuh pesona dunia. Tak ada yang tahu di mana istana Tuhan. Namun akhirnya ia menemukan Hartati atau karsa yang utama, yaitu daya kekuatan jiwa yang luar biasa, yang mendorong makhluk hidup untuk berkehendak.

Hartati yang berasal sekaligus merupakan manifestasi dari Tuhan pada setiap diri manusia itu, tidak mudah diketemukan, apabila sang manusia tidak bisa menaklukan hawa nafsunya yang setinggi gunung, bergelora bak laut pasang dan menggelegar bagaikan guntur, meskipun ia berada di dalam rumah peribadatan yang disucikan.

Manusia yang bisa memahami, menaklukkan serta mengendalikan hawa nafsunya juga akan memiliki arta daya, yaitu kebijaksanaan dan kekuatan batin yang luar biasa. Orang yang seperti itu akan berdiri kokoh di dunia, serta dihormati manusia sejagad lantaran sudah memperoleh berkah kekuasaan Yang Maha Kuasa. Arta daya akan menuntunnya di dalam kehidupan di dunia. Manusia yang seperti itu oleh para penganut tasawuf disebut sudah menguasai ilmu hikmah, dan bagi para penghayat Kejawen akan selalu dibimbing oleh Sang Guru Sejati.

Perihal Sang Guru Sejati, ada dua pendapat. Satu pendapat meyakini Sang Guru Sejati itu tiada lain adalah Gusti Allah yang bersemayam di dalam rahsa manusia. Sedangkan bagi yang lain, Sang Guru Sejati itu hanyalah utusan atau pembawa pesan Gusti Allah kepada rahsa manusia. Si pembawa pesan itu adalah malaikat atau ruh suci yang ditugasi Gusti Allah untuk menyampaikan pesan, dan bukan Gusti Allah itu sendiri. Sungguh hal-hal gaib seperti itu, sebaiknyalah kita kembalikan pada firman-Nya dalam Surat Al Israa ayat 85, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘ruh itu urusan Rab-ku, dan tidaklah kamu diberi ilmu melainkan hanya sedikit’.

Subhanallaah, maasyaa Allaah.

4 Comments

Filed under Uncategorized

Tafsir Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (6): MANUNGGALING KAWULA – GUSTI.

Bait 15 :
Panunggale kawulo lan Gusti,
nila hening arane duk gesang,
duk mati nila arane,
lan suksma ngumbareku,
ing asmara mong raga yekti,
durung darbe peparab,
duk rarene iku,
awayah bisa dedolan,
aran Sang Hyang Jati iya sang Hartati,
yeka sang arta daya.

Artinya :
Penyatuan sang hamba dengan Gusti Allah,
nila hening namanya tatkala hidup,
ketika mati nila namanya,
dan suksma yang mengembara,
yang senang mengasuh raga,
belum punya nama,
sewaktu masih kecil,
saat masih suka bermain-main,
disebut Sang Hyang Jati atau Sang Hartati,
yakni sang arta daya.

Bait 16 :

Dadya wisa mangkya amartani,
lamun marta atemahan wisa,
marma arta daya rane,
duk lagya aneng gunung,
ngalih aran Asmara Jati,
wayah tumekang tuwa,
emut ibunipun,
ni Panjari lunga ngetan,
ki Hartati nurut gigiring Marapi,
anulya mring Sundara.

Artinya:

Jadilah bisa (racun yang berasal dari binatang) yang dapat bermanfaat bagi kehidupan,
tapi kehidupan yang tenang dapat pula berubah menjadi bisa (racun),
Itulah rahasia yang disebut arta daya,
ketika berada di gunung,
kemudian berganti nama Asmara Jati,
teringat ibunya,
ni Panjari pergi ke timur,
ki Hartati menyusuri punggung Marapi,
kemudian sampai di Sundara.
Bait 17:

Ana pandhita akarya wangsit,
mindha kombang angajap ing tawang,
susuh angin ngendi nggone,
lawan galihing kangkung,
watesane langit jaladri,
isining wuluh wungwang,
lan gigiring punglu,
tapaking kuntul nglayang,
manuk miber uluke ngungkuli langit,
kusuma jrah ing tawang.

Artinya:

Ada pendeta menciptakan ilham,
bagai kumbang menggapai langit,
di manakah sarang angin berada,
serta inti batang kangkung,
batas antara langit dan lautan,
isi dari buluh kosong,
dan punggung bola besi,
jejak burung kuntul melayang,
burung terbang melampaui langit,
bunga mekar memenuhi angkasa.

Bait 18:

Ngampil banyu apikulan warih,
amek geni sarwi adedamar,
kodhok ngemuli elenge,
miwah kang banyu denkum,
myang dahana murub kabesmi,
bumi pinethak ingkang,
pawana katiup,
tanggal pisan kapurnaman,
yen anenun senteg pisan anegesi,
kuda ngrap ing pandengan.

Artinya:

Membawa air dengan pikulan yang terbuat dari air,
mengambil api dengan pelita,
katak menyelimuti liangnya,
dan air direndam air,
membakar api menyala,
bumi yang dikuburkan,
angin ditiup,
bulan tanggal satu memperoleh purnama,
bila menenun sekali gerak selesai,
kuda berderap dalam pandangan.

Bait 15 sampai dengan 18 ini menguraikan tentang manunggaling kawulo – Gusti atau penyatuan sang hamba dengan Tuhannya. Sebagaimana kelaziman penyair-penyair sufi di berbagai negara, penggambaran hubungan antara sang hamba dengan Sang Khalik itu dilakukan dengan menggunakan bahasa-bahasa kiasan serta ungkapan-ungkapan simbolik dan metaforis. Begitu pula dalam Kidung Kawedar yang merupakan suluk yang berupa tembang puisi yang kontemplatif-meditatif ini.

Agar segera bisa menarik perhatian khalayak, Sunan Kalijaga seperti gurunya Sunan Bonang, juga menggunakan kiasan-kiasan yang lazim berlaku pada saat itu, sehingga langsung bisa diterima oleh sebagian besar masyarakat yang masih menganut Syiwa-Buddha, berbagai aliran kepercayaan serta percaya pada roh-roh gaib.

Berbeda dengan bait-bait awal, dalam bait 15 – 18 tidak disisipkan sama sekali istilah dan kata-kata dari bahasa Arab atau pun Islam, sehingga karenanya, bagi penganut berbagai aliran kepercayaan dan Syiwa-Buddha, juga bisa ditafsirkan sesuai metode meditasi mereka. Keempat bait itu selanjutnya dan bahkan sampai sekarang, menjadi pegangan dari banyak aliran kebatinan dan Kejawen.

Bait 15 dan 16 ditafsirkan sebagai keadaan manusia semenjak masih di alam ruh, di dunia tatkala ruh dan raga menyatu maupun setelah kematian. Di alam ruh ia bagai cahaya kebiruan yang jernih, bening, suci tak bernoda. Tatkala mengembara di dunia, nafsunya yang menyenangi pesona dunia, dapat menjadi racun yang menyebar dalam kehidupannya. Bisa atau racun itu dapat bermanfaat bagi kehidupan, sebaliknya kehidupan yang semula tenang juga bisa berubah menjadi racun. Namun sesungguhnya ia memiliki kekuatan tersembunyi yang disebut arta daya atau kebijaksanaan dan kekuatan batin dengan rasa belas kasihnya, yang mampu menjadi daya kekuatan jiwa yang luar biasa, yang sebenarnya selalu berusaha mengingatkan pada asal mula dan jati dirinya.

Bait 17 – 18 adalah bait yang yang menggambarkan kemustahilan sekaligus kekosongan atau suwung. Semuanya dilukiskan dalam kalimat yang dimulai dari, ada pendeta yang ingin menciptakan ilham sehingga diibaratkan kumbang menggapai langit. Dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang sarang angin, inti batang (empulur yang mengeras seperti batu) kangkung, letak cakrawala, isi buluh atau batang bambu yang kosong, jejak burung yang sedang terbang serta punggung dari bola besi dan seterusnya, yang pada dasarnya tidak ada, kosong dan mustahil.

Bait 18 masih melanjutkan kemustahilan dan kekosongan yang diuraikan di bait 17, namun sudah mulai memasukkan isyarat-isyarat pencarian manusia terhadap jati diri dan Sang Pencipta. Pencarian itu ibarat mau mengambil air dengan pikulan yang terbuat dari air, mengambil api dengan pelita yang menyala sampai merendam air dalam air, membakar api yang membara, mengubur bumi dan seterusnya. Sesungguhnya apa yang dicari dan diinginkan, sudah ada pada dirinya.

Bagi penganut aliran-aliran kebatinan dan kejawen, keadaan kemustahilan itu adalah tan kena kinaya ngapa, tidak tergambarkan atau tidak dapat disepertikan. Jadi hakikat Tuhan adalah kekosongan yang tak terbayangkan tetapi memiliki energi yang luar biasa, sehingga mampu mengatur kehidupan serta keserasian alam raya.

Energi yang luar biasa itu memancar dan masuk ke dalam mahluk-makhluk hidup. Pada manusia, energi itu adalah cahaya kehidupan atau atman atau ruh atau jiwa. Hubungan sumber asal energi dengan ruh dikiaskan sebagai Brahman dengan atman, atau matahari dengan cahaya-cahayanya yang memancar menerangi serta menghidupi alam raya dan makhluk-makhluknya.

Dalam mencapai tingkatan penyatuan antara atman dengan Brahman, antara cahaya dan sumber cahaya yang kosong tak terbayangkan itu, maka manusia harus terlebih dulu mengosongkan dirinya dari berbagai nafsu dan keinginan yang membebani, yang mewarnai atmannya. Cara membersihkan atman yang bak nila hening dari berbagai kotoran dunia kehidupan tersebut, bisa dilakukan dengan melakukan berbagai semedi, tapa brata dan tirakat , yaitu puasa dengan berpantang aneka makanan dan minuman 24 jam tanpa henti sehari semalam selama suatu periode tertentu, misalkan satu minggu dan empat puluh hari. Dengan semedi dan tirakat diharapkan semua nafsu dan keinginan manusiawi dapat dimatikan sehingga atman menjadi kosong. Kosong akan mudah menyatu, manunggal dengan yang sama kosongnya pula. Dengan pemahaman yang seperti itulah Kidung Kawedar sampai sekarang bisa diterima, bahkan dijadikan sumber referensi utama oleh semua kalangan masyarakat Jawa yang menyenangi olah batin, baik yang Islam maupun bukan.

Sunan Kalijaga adalah murid kesayangan Sunan Bonang. Keduanya merupakan wali-Allah yang menyebarkan agama Islam di pulau Jawa, dengan menggunakan metode komunikasi yang hebat termasuk memanfaatkan seni budaya, menyusup masuk ke dalam adat istiadat dan kepercayaan masyarakat tanpa menimbulkan gejolak besar (Tonggak-tonggak awal Tasawuf Jawa, http://islamjawa.wordpress.com). Bersama para wali lainnya, mereka menciptakan suluk-suluk khas Jawa dalam bentuk tembang-tembang puisi dengan metrum atau irama-irama tertentu seperti halnya Kidung Kawedar dengan metrum dhandanggula ini.

Kata suluk berasal dari bahasa Arab yang secara etimologis berarti cara, jalan, kelakukan dan tingkah laku. Dalam tasawuf, suluk berarti jalan atau cara mendekatkan diri ke Gusti Allah Swt yang pada umumnya ditempuh secara tahap demi tahap, tanjakan demi tanjakan, tapi secara garis besar bisa dikelompokkan menjadi dua tahap.

Tahap pertama adalah tahap penyucian diri antara lain dengan bertobat dan berhenti melakukan dosa serta berbagai perbuatan tercela lebih-lebih yang dilarang Gusti Allah. Tahap kedua yaitu penyerahan diri secara total kepada Allah swt. Jika diibaratkan salon kecantikan, tahap pertama adalah tahap membersihkan wajah sedangkan tahap kedua adalah tahap membuat pondasi yang dilanjutkan dengan merias wajah agar menjadi cantik. Sementara itu bila diibaratkan dunia kesehatan, maka tahap pertama adalah mengenali dan membuang semua penyakit, sedangkan tahap kedua adalah perbaikan dan perawatan menuju manusia yang sehat lahir dan batin.

Tahap pertama disebut juga tahapan takhalli atau pengosongan jiwa dari sifat-sifat tercela. Tahap kedua disebut tahali atau mengisi kembali setelah kosong, dengan sifat-sifat terpuji seperti ikhlas, sabar, jujur, taat, tawakal, tawadlu, ridho dan merasa cukup atau qanaah. Hasil dari kedua tahapan ini adalah tajalli, yaitu manusia baru dengan wajah batin yang nampak indah sempurna, yang dengan itu ia bisa melihat serta merasakan keagungan Gusti Allah (Tasawuf, Salon Kecantikan Jiwa di Era Globalisasi, http://islamjawa.wordpress.com).

Perjalanan seorang salik, yaitu sang penempuh jalan menuju Allah, digambarkan oleh guru Sunan Kalijaga yakni Sunan Bonang dalam Suluk Gentur atau Suluk Bentur, yang juga diperjelas secara saling melengkapi dengan karya-karyanya yang lain seperti Gita Suluk Lastri, Suluk Khalifah, Suluk Jebeng dan terutama Suluk Wujil (Memahami Suluk-Suluk Sunan Bonang, http://islamjawa.wordpress.com).

Dalam Suluk Gentur, Sunan Bonang antara lain membuat tamzil, garam jatuh ke laut dan lenyap, tetapi tidak dapat dikatakan menjadi laut. Pun tidak hilang dalam kekosongan atau suwung. Demikian pula apabila manusia mencapai keadaan fana’, maka tidak lantas tercerap ke dalam Wujud Mutlak. Yang lenyap adalah kesadaran akan keberadaan atau kewujudan jasmaninya.

Pencapaian tertinggi seorang salik, lanjutnya, ialah fana’ ruh idafi, yaitu keadaan dapat melihat peralihan atau pertukaran segala bentuk lahir dan gejala lahir. Di sini ia mencapai makrifat dengan kesadaran intuitif, yang menyempurnakan penglihatannya tentang Allah sebagai Yang Kekal dan Yang Tunggal. Dalam fana’ ruh idafi, seseorang sepenuhnya menyaksikan kebenaran hakiki ayat Al Qur’an 28 : 88, “Segala sesuatu binasa kecuali Wajah Allah.”

Mengapa Sunan Kalijaga tidak memperjelas makna kekosongan (suwung) sebagaimana sudah dilakukan oleh Gurunya? Kemungkinan pertama, pada saat menciptakan Kidung tersebut, beliau belum memperoleh referensi yang lengkap. Kedua wali ini memang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sunan Bonang semenjak lahir sudah dididik dalam suasana kehidupan yang Islami termasuk mempelajari Al Qur’an, hadis serta berbagai kitab dan ajaran para ulama pendahulunya dari TimurTengah. Sedangkan Sunan Kalijaga, baru mempelajari Islam secara sungguh-sungguh setelah melewati tahap penyadaran oleh Sunan Bonang, dari seorang pemuda yang berandalan, langsung menjadi seorang salik yang berjuang keras mencapai hakikat dan makrifat, tanpa terlebih dulu membaca berbagai kitab . Sementara itu, karena ia adalah putera Adipati Tuban, Sunan Kalijaga menguasai tata pemerintahan dan seni budaya, yang kemudian dijadikan sarana andalan dalam berdakwah.

Kemungkinan kedua, memang beliau sengaja membuat multi tafsir supaya bisa menarik perhatian masyarakat luas yang masih dalam suasana peralihan, yang masih kuat menganut animisme, Syiwa-Buddha dan percaya pada roh-roh gaib, agar mau mendengarkan, menerima dan selanjutnya menyenangi Kidungannya.

Suasana peralihan itu juga digambarkan Sunan Bonang antara lain dalam Suluk Wijil, yang dikupas dan ditafsirkan oleh DR.Abdul Hadi WM ( dalam jamaluddinab.blogspot.com, diunduh pada 13.02.2012), sebagai berikut: “Wujil menjadi tenang setelah mendengarkan pitutur gurunya. Akan tetapi dia tetap merasa asing dengan lingkungan kehidupan keagamaan yang dijumpainya di Bonang. Berbeda dengan di Majapahit dahulu, untuk mencapai rahasia Yang Satu, orang harus melakukan tapa brata dan yoga, pergi jauh ke hutan, menyepi dan melakukan kekerasan ragawi.
Di Pesantren Bonang kehidupan sehari-hari berjalan seperti biasa. Shalat fardu lima waktu dijalankan dengan tertib. Majelis-majelis untuk membicarakan pengalaman kerohanian dan penghayatan keagamaan senantiasa diadakan. Di sela-sela itu para santri mengerjakan pekerjaan sehari-hari di samping mengadakan pentas-pentas seni dan pembacaan tembang.”

Mengenai manunggaling kawula – Gusti, Kitab Al Hikam yang tersohor dan menjadi salah satu pegangan penganut tasawuf, karya Al Imam Ibnu Athaillah Askandary menyatakan apabila jiwa manusia suci dari segala kekeruhan yang datang dari alam lahiriah, maka naiklah jiwa tersebut ke alam jabarut, yaitu alam yang dihuni para malaikat. Dalam keadaan begitu, tidak ada dinding penghalang antara sang jiwa dan Sang Pencipta. Di mata orang yang memiliki jiwa seperti itu, alam raya nampak begitu kecil bagaikan sebutir biji sawi. Alam atau jagad raya yang tertangkap oleh pancainderanya menjadi jagad kecil, sedangkan dirinya menjadi jagad besar. Maka berlangsunglah apa yang disebut manunggaling kawula – Gusti. Manusia menyatu dengan Tuhannya, dalam arti jiwa manusia mampu mengendalikan segala nafsu dan keinginannya, sehingga menyatu dengan kehendak Allah, mampu melaksanakan dengan baik tugas-tugasnya selaku wakil dan utusan Allah di muka bumi (Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan, halaman 100 – 115 dan 143, serta Memaknai Kehidupan halaman 32 – 33).

Al Ghazali dalam Raudhatut Thalibien wa ‘Umdatus Saalikien atau Raudah, Taman Jiwa Kaum Sufi, menggambarkan suasana penyatuan antara sang hamba dengan Sang Pencipta, tercapai tatkala dzat dari sang hamba mencapai tahap fana’, sifatnya telah sirna dan kefanaannya lebur dalam keabadian-Nya. Maka bagi sang hamba bisa berlaku “ dengan diri-Ku ia mendengar dan dengan diri-Ku ia melihat”. Jadilah Dia yang melimpahkan kewalian sang hamba dan menjadi wali (kekasih) sang hamba. Jika sang hamba berkata, maka berkata dengan zikir-zikir-Nya. Jika memandang dengan cahaya-cahaya-Nya. Jika bergerak maka akan bergerak dengan kekuasaan-Nya. Jika memukul dengan limpahan keperkasaan-Nya.

Sangat mudah diucapkan oleh siapa pun, namun tidak sembarang orang bisa melakukannya. Semoga kita wahai sahabat-sahabatku, termasuk golongan yang langka dan sedikit itu.

Subhanallaah walhamdulillaah, aamiin.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Tafsir Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (5): KEUTAMAAN ORANG YANG MEMAHAMI TUJUAN HIDUP

Bait 12 :
Lawan rineksa dening Hyang Widhi,
sasedyane tinekan dening Hyang,
kinedhep mring janma akeh,
kang maca kang angrungu,
kang anurat miwah nyimpeni,
yen nora bisa maca,
simpenana iku,
temah ayu kang sarira,
yen linakon dinulur sasedyaneki,
lan rineksa dening Hyang.

Artinya :
Dan dijaga oleh Tuhan Yang Maha Esa,
segala keinginannya dikabulkan Tuhan,
disayang banyak orang,
bagi yang membaca dan yang mendengar,
yang menulis dan menyimpan,
bila tidak bisa membaca,
simpanlah itu,
tentu akan selamat dirimu,
bila diamalkan akan terkabul segala keinginannya,
dan dijaga oleh Tuhan.

Bait 13 :

Kang sinedya tenekan Hyang Widhi,
kang kinarsan dumadakan kena,
tur sinihan Pangerane,
nadyan tan weruh iku,
namun nedya muja semedi,
sasaji ing segara,
dadya ngumbareku,
dumadi sarira tunggal,
tunggal jati swara awor ing Hartati,
aran sekar jempina.

Artinya :
Kemauannya dikabulkan Tuhan,
keinginannya mendadak terwujud,
lagi disayang Tuhan,
meski tidak nampak,
apabila hendak bersemedi,
sesaji di lautan,
jadi sadar diri,
menjadi diri nan menyatu,
menyatukan jati (hakikat) suara di dalam karsa yang utama,
disebut bunga jempina.

Bait 14 :
Somahira ing ngaran penjari,
melu urip lawan melu pejah,
tan pisah ing saparane,
paripurna satuhu,
anirmala waluya jati,
kena ing kene kana,
ing wasananipun,
ajejuluk adi Suksma,
cahya hening jumeneng aneng Hartati,
anom tan keno tuwo.
Artinya :
Pasangannya disebut penjari,
menyertai hidup dan mati,
tak berpisah ke mana pun pergi,
sempurna ketulusannya,
tanpa cacat cela senantiasa pulih sejati,
bisa di sana-sini,
yang pada akhirnya,
disebut adi sukma (sukma nan mulia),
cahaya hening bersemayam di hartati (daya kekuatan hidup yang istimewa),
senantiasa muda tak bisa menjadi tua.
Dalam pembahasan bait 9 – 11, kita sudah sedikit mengulas mengenai tujuan hidup manusia atau untuk apa Tuhan menciptakan manusia. Masalah ini sesungguhnya telah banyak saya tulis dalam buku Memaknai Kehidupan halaman 19 – 22 dan buku Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan halaman 96 – 101 yang bisa diunduh dari e-book http://islamjawa.wordpress.com .

Filosofi hakikat dan tujuan hidup, sangat populer dan menjadi panduan kehidupan bagi orang-orang Islam Kejawen. Folosofi ini dinamai “sangkan paraning dumadi”, yang berarti asal mula dan tujuan dijadikannya manusia atau kehidupan manusia. Filosofi ini menggambarkan perjalanan kehidupan manusia sedari masih di dalam alam ruh sampai dengan kehidupan di akhirat kelak.
Perjalanan kehidupan itu dilukiskan secara sederhana ke dalam lima stasiun pengembaraan manusia. Stasiun I adalah stasiun kota asal atau alam ruh. Di dalam alam ruh, manusia masih berupa ruh suci yang memiliki arta-daya atau kebijaksanaan dan kekuatan yang luar biasa hebat, yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Tatkala Gusti Allah Yang Maha Kuasa hendak menugaskan salah satu ruh untuk turun ke dunia nan fana, yang tidak kekal ini, maka diberikanlah kepada sang ruh skenario perannya sebagai hamba Allah, sekaligus selaku khalifah fil ard, wakil dan utusan-Nya di muka bumi. Sebagaimana orang yang hendak berpergian, Sang Ruh dibekali pula dengan berbagai perlengkapan dan aturan. Setelah itu ditiupkanlah ia ke rahim seorang ibu.
Di dalam rahim ibu yang merupakan Stasiun II, Sang Ruh mulai digembleng dengan berbagai pengalaman. Dia yang semula bagaikan kain kanvas bahan lukisan yang putih bersih, disapu oleh kuas-kuas sang bunda dengan warna-warna dasar, berupa emosi-emosi kejiwaan dan energi-energi ragawi.
Dari Stasiun II, Sang Ruh lahir ke dunia, menjadi manusia yang mengembara di Stasiun III. Kehidupan di Stasiun III digambarkan oleh almarhum Ki Nartosabdo (1925 – 1985), yaitu dalang wayang kulit legendaris, juga dalam tembang Dhandanggula sebagai berikut:

Kawruhana sajatining urip,
manungsa urip ing donya,
prasasat mung mampir ngombe,
umpama manuk mabur,
oncat saking kurunganeki,
ngendi pencokan benjang,
ywa kongsi keliru,
umpama wong lunga sanja,
njan sinanjan nora wurung mesthi mulih,
mulih mula mulanya.

Artinya :

Ketahuilah perihal hakikat hidup,
manusia hidup di dunia,
ibarat hanya singgah untuk minum,
ibarat burung terbang,
lepas dari sangkar,
akan hinggap di mana nanti,
jangan sampai salah,
ibarat orang bertandang,
kunjung-mengunjungi tapi toh akhirnya harus pulang,
pulang ke tempat asal mula.

Ungkapan yang menyatakan manusia hidup ibarat sekedar singgah untuk minum, amat populer bagi orang Jawa. Sama populernya dengan ungkapan, Gusti Allah ora sare atau Gusti Allah tidak tidur. Yang pertama berasal dari sabda Kanjeng Nabi Muhammad, sedangkan yang kedua berasal dari Al Qur’an ayat Kursi. Karena hanya sekedar singgah minum dalam suatu perjalanan seorang musafir, maka waktu untuk singgah adalah pendek. Waktu yang pendek ini harus digunakan sebaik-baiknya, serta diisi dengan kegiatan dan hal-hal yang bermanfaat sebagai bekal demi sukses dan tercapainya maksud dan tujuan perjalanan.

Bait kedua tembang Ki Nartosabdo di atas selanjutnya menyatakan, manusia dan semua makhluk diciptakan oleh Sang Maha Pencipta Alam Raya Yang Maha Agung. Dialah asal mula sekaligus tujuan akhir dari semua yang ada.

Di Stasiun III ini manusia diuji apakah taat dan teguh pada perjanjian serta menjalankan tugas sesuai skenario Tuhan. Dalam menguji manusia, Tuhan juga memberikan mandat kepada setan untuk menggodanya. Selanjutnya dari Stasiun III manusia wafat, dan jiwanya yaitu kinerja dari ruh dan raganya, masuk ke Stasiun IV yakni alam kubur atau alam barzah untuk menunggu peradilan Tuhan. Setelah sampai pada gilirannya diadili, ditimbang amal perbuatannya selama di Stasiun III, Sang Jiwa menyelesaikan pengembaraan masuk ke Stasiun V, stasiun terakhir yang tiada lain adalah Kampung Ahirat. Di Kampung ini ia akan tinggal di rumah sesuai amal perbuatannya, apakah Istana Surga ataukah Neraka.

Manusia akan bisa menghayati tujuan serta hakikat kehidupan apabila selalu ingat serta menyatukan segala potensi dirinya, terutama karsa utamanya dengan Sang Maha Pencipta. Manusia yang seperti itu akan selalu dijaga dan disayang Tuhan, sehingga keinginan-keinginannya mudah dikabulkan. Untuk bisa memahami tujuan serta hakikat hidup, tidaklah harus bisa membaca dan menuliskan Kidung Kawedar ini, namun yang paling penting adalah menyimpan di hati nuraninya pemahaman dan makna Kidung, dan selanjutnya, ini justru yang terpenting, mengamalkan dalam kehidupan (bait 12 dan 13).

Bait 13 adalah bait yang banyak menggunakan kata-kata Jawa Kuno dan Jawa Tengahan yang multi tafsir, misalkan muja semedi, sasaji ing segara, dadya ngumbareku, hartati dan sekar jempina. Muja semedi dalam kidung ini tidaklah berarti bersemedi dalam pemahaman Syiwa – Buddha, melainkan mengingat dan berdoa kepada Tuhan. Sedangkan yang dimaksud dengan sasaji ing segara adalah menyiapkan diri sebelum memasuki arena kehidupan yang amat sangat luas yang digambarkan dengan lautan.

Lautan bagi orang Jawa adalah sesuatu yang tanpa batas, yang mampu menelan serta menampung apa saja, mulai dari makhluk-makhluk yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop sampai dengan ikan paus dan kapal-kapal raksasa. Begitu pula lautan kehidupan, bisa menampung hawa nafsu yang tak terbatas besarnya, termasuk segala kebaikan dan keburukan.

Ada pun sesaji, dalam bahasa Jawa Kuno bisa berarti barang untuk sesajian atau piranti upacara ritual, tapi bisa juga berarti menyiapkan.
Ngumbareku secara umum berarti membiarkan bebas, membuka, melepaskan atau memperhatikan dan sadar diri. Tentang hartati sudah dibahas di bagian depan, yakni karsa yang utama, yaitu daya kekuatan jiwa yang luar biasa yang mendorong makhluk hidup untuk berkehendak. Sementara sekar jempina atau bunga jempina, berasal dari kata jampi atau obat.

Demikianlah, meskipun Tuhan itu tidak nampak. Tetapi bila manusia bisa senantiasa ingat dan berdoa kepada-Nya, sadar serta menyiapkan dirinya dengan baik dalam kehidupan yang membentang luas, maka ia bisa menyatu dengan Tuhan, menyatukan hakikat nyanyian kehidupannya ke dalam karsa yang utama. Dalam situasi seperti itu ia bisa disebut bunga pengobatan, yang langsung bisa mengobati segala penyakit kehidupannya, sehingga tidak akan pernah merasa sakit, tidak akan pernah merasa susah dan menderita.

Bait 14 masih melanjutkan keutamaan-keutamaan yang diuraikan di bait 13. Manusia memiliki pasangan setia, yang dalam kidung disebut penjari. Penulis masih belum bisa menemukan makna yang tepat untuk kata penjari. Kata penjari atau panjari akan ditemukan lagi pada bait 16. Ki Wiryapanitra menyebut penjari itu sebagai rahsa atau inti sari ruh.

Rahsa merupakan pasangan setia manusia, yang senantiasa menyertai tatkala hidup maupun mati. Rahsa itu sempurna dan bisa disebut pula sebagai sukma nan indah-mulia, yang luar biasa, yang istimewa, yang muda dan tidak bisa menjadi tua, yang berupa cahaya dari cahaya yang bersemayam di karsa utama manusia.

Rahsa atau sirr juga berarti rahasia. Dalam kitab Wirid Hidayat Jati terbitan Dahara Prize, rahsa diartikan sebagai rahasia. Pada wejangan ketiga halaman 20 – 21 disebutkan, “Sajatine manungsa iku rahsaningsun. Lan Ingsun iki rahsaning manungsa. (Sesungguhnya manusia itu adalah rahasia-Ku. Dan Aku ini rahasia manusia ). Ini sesuai bunyi Surat Al Israa ayat 85, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘ruh itu urusan Rab-ku, dan tidaklah kamu diberi ilmu melainkan hanya sedikit’.

Subhanallaah, maasyaa-Allaah.

2 Comments

Filed under Uncategorized

Tafsir Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (4): MEMAHAMI TUJUAN HIDUP.

Bait 9 :
Lamun arsa tulus nandur pari,
puwasaa sawengi sadina,
iderana galengane,
wacanen kidung iku,
kabeh ama pan samya wedi,
yen sira lunga aprang,
wateken ing sekul,
antuka tigang pulukan,
mungsuhira sirep datan nedya wani,
rahayu ing payudan.

Artinya :
Bila menghendaki sukses dalam bertanam padi,
berpuasalah semalam sehari,
kelilingi pematang sawahnya,
seraya membaca Kidung ini,
maka semua hama akan takut,
bila kau hendak berangkat perang,
bacakan kidung ini pada nasi,
makanlah sebanyak tiga suap,
maka keberanian musuhmu akan lenyap,
sehingga selamat di medan perang.

Bait 10 :
Ana kidung rekeki Hartati,
sapa weruh reke araning wang,
duk ingsun ana ing ngare,
miwah duk aneng gunung,
ki Samurta lan ki Samurti,
ngalih aran ping tiga,
arta daya engsun,
araning duk jejaka,
ki Hartati mengko araningsun ngalih,
sapa wruh araning wang.

Artinya :
Ada kidung bernama Hartati,
siapa yang tahu itu adalah namaku,
tatkala aku masih tinggal di ngarai,
dan ketika tinggal di gunung,
ki Samurta dan ki Samurti (samurta berasal dari kata samur atau samar atau tidak nampak jelas. Samurta menunjukkan jenis laki-laki, sedangkan samurti adalah perempuan),
berganti nama tiga kali,
aku adalah arta-daya,
namaku tatkala masih perjaka,
kelak namaku berganti ki Hartati,
siapa yang tahu namaku.

Bait 11 :
Sapa weruh tembang tepus kaki,
sasat weruh reke arta daya,
tunggal pancer ing uripe,
sapa weruh ing panuju,
sasat sugih pagere wesi,
rineksa wong sajagad,
kang angidung iku,
lamun dipun apalena,
kidung iku den tutug padha sawengi (ada versi sedasa wengi),
adoh panggawe ala.

Artinya :
Siapa yang tahu bunga tepus,
tentu tahu yang dimaksud dengan arta daya,
yang menyatu dengan kehidupannya,
siapa yang tahu tujuan hidup,
berarti kaya dan dipagari besi,
dijaga orang sejagad,
yang melantunkan kidung itu,
bila dihafalkan,
dibaca selesai dalam semalam ( versi lain: dibaca selama sepuluh malam),
jauh dari perbuatan buruk ( terutama maksud buruk pihak lain).

Bait 9 Kidung, masih menunjukkan betapa besar fadilah serta hikmah dari Kidung Kawedar. Begitu besar manfaatnya, mulai dari untuk urusan bercocok tanam misalkan padi, sampai dengan hendak berangkat ke medan perang. Semuanya bisa diatasi dengan daya perbawa atau hikmah dan fadilah Kidung yang tiada lain merupakan berkah dari Gusti Allah Yang Maha Kuasa.

Bait 10 adalah bait yang tergolong sulit menafsirkannya, bisa banyak tafsir. Bait ini penuh tamzil, apalagi jika di benak kita sudah memiliki tujuan tersendiri tanpa bisa mengosongkannya. Apabila semata-mata menelaah berdasarkan huruf dan kata-kata, bisa jadi itu menggambarkan pengembaraan Sunan Kalijaga semenjak masih sebagai remaja yang nakal luar biasa di daerah Tuban, Jawa Timur, sampai disadarkan oleh saudaranya yakni Sunan Bonang sehingga kemudian berguru kepadanya, dan selanjutnya beruzlah bertahun-tahun di tengah hutan di pinggir sungai (kali) di daerah Cirebon, Jawa Barat. Sehingga diberi sebutan Sang Penjaga Kali atau Kalijaga. Kanjeng Sunan Kali yang nama aslinya Raden Mas Said dan merupakan putera Adipati Tuban, harus banyak berjalan naik-turun gunung dengan segala daya kemampuannya, mencari jati diri dan Tuhannya. Di banyak tempat ia memiliki banyak nama panggilan, sebagaimana kebiasaan rakyat jelata di Jawa memanggil nama seseorang berdasarkan penampakan fisik, perilaku dan atau kelebihannya. Tentu saja itu semua adalah nama yang semu, nama yang samar atau samur, terutama guna menyamarkan dirinya agar tidak dikultuskan masyarakat.

Sementara tidak ditemukan naskah tertulis yang menceritakan apa dan bagaimana Sunan Kalijaga menjelaskan Kidung Kawedar, sebagian penganut Islam Kejawen memiliki banyak versi tafsir khususnya mengenai bait ini. Mereka pada umumnya memaknai berdasarkan Serat Wirid Hidayat Jati ( Hidayat Jati Kawedar, penerbit Citra Jaya Murti, Surabaya dan Wirid Hidayat Jati, penerbit Dahara Prize, Semarang), yang ditulis oleh ulama-pujangga Keraton Kasunanan Surakarta yang lahir pada 23 Maret 1802 atau tiga abad kemudian, yakni Raden Ngabehi Ronggowarsito.

Bait tersebut dimaknai sebagai penggambaran hubungan Gusti Allah dan manusia tatkala masih dalam alam ruh, serta gambaran tentang singgasana dan kediaman Allah di Baitul Makmur, Baitul Muharram dan Baitul Muqaddas. Di Baitul Makmur, para malaikat setiap hari silih berganti memohon ampun dan bertawaf seperti orang bertawaf di Ka’bah. Dari baitul Makmur pula Allah bertitah serta mengatur alam raya, dunia akhirat dan para makhlukNya.

Baitul Muharram digambarkan sebagai rumah tempat Allah menyendiri, tempat terlarang sehingga bahkan malaikat pun tidak boleh masuk. Sedangkan Baitul Muqaddas adalah tempat yang disucikan.
Ketiga rumah Gusti Allah tersebut banyak diulas dalam kajian-kajian kebatinan Jawa, namun tidak demikian halnya di dalam Al Qur’an maupun hadis. Dalam kedua sumber rujukan utama umat Islam itu, Baitul Haram atau rumah suci tiada lain adalah ka’bah yang berada di Mekah., yang disebut dalam Surat Al Maidah dan sebelumnya juga dalam Surat Ali Imron ayat 96. “ Ja’ alallaahul ka’batal baital haraama qiyaamal lin naasi, (Allah telah menjadikan ka’bah rumah suci itu sebagai pusat peribadatan manusia,” (Al Maidah: 97).

Sedangkan mengenai Baitul Makmur, Surat At-Thur : 4 – 6 Gusti Allah berfirman, “ dan demi Baitul Makmur, dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya terdapat api,” . Uraian lebih lanjut tentang Baitul Makmur diterangkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad Saw tatkala mengisahkan perjalanan Isra’ Mi’rajnya. Beliau bersabda, “ Saat melewati langit ke tujuh, aku diangkat menuju Baitul Makmur. Padanya datang setiap hari 70.000 malaikat yang tidak akan kembali lagi. Mereka beribadah dan berthawaf sebagaimana penduduk bumi berthawaf di Ka’bah. Demikianlah Baitul Makmur, ia adalah ka’bah bagi penduduk langit ke tujuh. Di situ terlihat Nabi Ibrahim Al Khalil alihisshalatu wasalam menyandarkan badannya (Shahihain).

Ada pun Baitul Maqdis, disebut dalam hadis riwayat Muslim dari Abu Dzar, Baginda Rasul menyatakan Baitul Maqdis di Palestina itu adalah rumah suci yang kedua di bumi, yang dibangun 40 tahun setelah Baitul Haram.
Kembali pada pokok bahasan yaitu Kidung Kawedar menurut penafsiran terdahulu, manusia yang masih berupa ruh dan berada di alam ruh digambarkan kekuatan dan perjalanannya sampai ditiupkan ke rahim ibu. Kidung Kawedar juga bisa disebut Kidung Hartati, yaitu Kidung yang memiliki karsa yang utama. Karsa adalah daya kekuatan jiwa yang mendorong makhluk hidup untuk berkehendak. Ruh ini dianugerahi arta daya, yakni kebijaksanaan dan kekuatan batin termasuk rasa belas kasih.

Setelah turun ke bumi menjadi manusia, Gusti Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang, membekali manusia dengan hakikat kediamannya yaitu hakikat Baitul Makmur di kepala dan otak, Baitul Muharram di dada dan kalbu, serta Baitul Muqaddas di dalam kemaluan berupa inti sari benih kehidupan.

Bagi penafsir, sungguh masalah ruh adalah masalah yang sangat rumit dan tetap merupakan misteri, sebagaimana firman Gusti Allah Swt dalam Surat Al Israa ayat 85, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘ruh itu urusan Rab-ku, dan tidaklah kamu diberi ilmu melainkan hanya sedikit’ “.

Sahabatku, bait 11 mengajarkan kepada manusia untuk memahami diri dan tujuan hidupnya. Siapa yang bisa memahami diri dalam bertindak, bisa tepa slira atau mencoba terlebih dahulu menerapkan pada dirinya sendiri terutama apabila mau berbuat yang kurang baik terhadap orang lain, ibarat orang yang tahu kebijaksanaan dan kekuatan hidup. Orang yang tahu tujuan perjalanan kehidupannya, ke mana dan mengapa Allah menurunkan ke dunia, berarti bagaikan orang kaya yang rumahnya berpagar besi. Di masa lalu, hanya Raja yang mampu memagari istananya dengan besi atau tembok. Rakyat kebanyakan hanya bisa membuat pagar hidup dari tetumbuhan yang hidup subur atau pagar kayu dan bambu yang dipotong-potong ditata rapi. Orang yang tahu tujuan hidupnya, akan dijaga oleh orang sejagad. Pembahasan perihal tujuan hidup ini insya Allah kita lanjutkan di seri berikutnya.

Bait kesebelas ini kembali ditutup dengan fadilah dan hikmah bagi siapa yang melantunkan dan menghafalnya. Jika dibaca tamat dalam semalam maka yang membacanya akan dihindarkan dari perbuatan jelek, baik dirinya sendiri yang tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan buruk atapun perbuatan buruk dari orang lain kepadanya.

Di bagian atas sudah kita singgung versi lain yang menyatakan membaca selama sepuluh malam. Masalah angka dan hitungan juga disinggung dalam bait 7 baris kelima “bacalah 25 kali dengan lembut”, serta bait 8 baris ketiga “selama 40 hari saja.” Pada hemat serta pengalaman penafsir, hitungan angka seperti halnya kita sering berzikir, sangat bermanfaat guna melatih indera pendengaran dan batin kita. Tetapi yang lebih penting lagi adalah memahami serta menghayati makna dan hakikat sesuatu bacaan zikir di dalam pikiran dan perbuatan kita. Itu bisa terjadi jika kita sudah bisa melaksanakan zikir kalbu, yaitu kalbu kita senantiasa mengingat Allah, mengikuti denyut jantung serta tarikan nafas kita. Semoga.

Subhanallaah walhamdulillaah.

4 Comments

Filed under Uncategorized

Tafsir Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (3) : MEMPERKENALKAN ISTILAH INSYA ALLAH.

Bait 6 :
Wiji sawiji mulane dadi,
apan pencar saisining jagad,
kasamadan dening Date,
kang maca kang angrungu,
kang anurat miwah nyimpeni,
dadi ayuning badan,
kinaryo sesembur, yen winacakna ing toya,
kinarya dus rara tuwa aglis rabi,
wong edan nuli waras.

Artinya :
Semula hanyalah sebuah benih,
kemudian tersebar memenuhi alam raya,
karena berkah dari Dzat (Yang Maha Kuasa),
siapa yang membaca dan mendengar (tentang hal itu),
siapa yang menuliskan maupun yang menyimpan,
akan memperoleh keselamatan, bisa dijadikan doa,
yang bila dibacakan di air,
dipakai mandi perawan tua akan cepat menikah,
orang gila pun menjadi sembuh.

Bait 7 :

Lamun ana wong kadhendha kaki,
wong kabanda lan kabotan utang,
yogya wacanen den age,
ing wanci tengah dalu,
ping salawe wacanen ririh, l
uwar ingkang kabanda,
kang kadhendha wurung,
aglis nuli sinauran,
mring Hyang Suksma kang utang puniku singgih,
kang agring dadi waras.

Artinya :
Bila ada orang yang didenda (maksudnya di sini dihukum),
orang yang diikat tangannya (maksudnya ditangkap) dan terbelit hutang, baik bila segera membaca (kidung ini),
di kala tengah malam,
sebanyak 25 kali secara lirih,
yang ditangkap akan dilepaskan,
yang dihukum akan bebas,
(yang berhutang) akan segara dibayarkan,
oleh Sang Hyang Suksma (Tuhan Yang Maha Kuasa) sehingga yang berhutang menjadi baik namanya,
yang sakit menjadi sembuh.

Bait 8 :
Sapareke bisa anglakoni,
amutiha lawan anawaa,
patang puluh dina wae,
lan tangi wektu subuh,
miwah sabar sukur ing Widhi,
Insya Allah tinekanan,
sakarsa nireku,
tumrap sanak rayatira,
awit saking sawab pangiketing ngelmi,
duk aneng Kalijaga.

Artinya :
Barang siapa dapat melakukan,
berpuasa dengan hanya makan nasi dan air putih saja (tawar serta tanpa garam dan gula),
selama 40 hari,
dan bangun di kala subuh,
serta sabar dan bersyukur kepada Yang Maha Esa,
Insya Allah terkabul,
segala kehendaknya,
bagi sanak saudara dan kerabat,
berkat karomah ilmu,
yang diperoleh tatkala menjadi Penjaga Sungai (beruzlah di pinggir sungai).

Kidung Kawedar ini disyiarkan ke masyarakat pada saat budaya tulis belum berkembang, maka sungguh tepat dibuat dalam bentuk tembang macapat sehingga segera disenangi masyarakat. Bahkan sampai sekarang, bisa dipastikan semua grup kesenian Jawa khususnya karawitan atau gamelan Jawa, para dalang pewayangan dan pesinden (penyanyi tembang-tembang Jawa), bisa menyanyikan Kidung Kawedar.

Namun demikian lantaran panjang, yaitu terdiri dari 46 pupuh atau bait, jarang yang hafal semuanya di luar kepala. Begitu pun dalam hal isi baris, banyak perbedaan meski pun hanya beda kecil dan tidak terlalu mendasar. Sebagai contoh pada bait 2, kata terakhir dari baris kedua ada yang menyebut mirunda dan ada yang miruna, baris ketiga pangulune dan ada yang pandulune, baris ketujuh ada yang menyebut tutut ada pula yang lulut. Kemudian baris kesembilan bait 6, ada yang menyebut rabi dan ada pula yang laki. Baris kelima bait 8, ada yang menyebut miwah tapi ada juga yang lan den. Yang agak berbeda makna adalah bait 5 baris kedua, karena ada yang berbunyi kang minangka rahayuning ngangga, sedangkan versi lain Siti Aminah rahyuning angga.

Dalam hal versi tulis, kita bersyukur seni sastra di Keraton Kasunan Surakarta berkembang pesat pada abad XVII – XIX, sehingga Kidung Kawedar ini bisa dihimpun dalam huruf Jawa. Selanjutnya oleh pujangga Kyai Ronggo Sutrasno, himpunan tersebut diterjemahkan ke dalam huruf Latin, dan oleh R.Wiryapanitra Kusumodiningrat, dibuatkan tafsirnya. Terjemahan serta tafsir pertama Kidung Kawedar itu pada tahun 1912 dicetak oleh Penerbit Tan Koen Swi, Kediri.
Dari versi penerbit Tan Koen Swi inilah kita sekarang bisa menemukan Kidung Kawedar secara lengkap 46 bait, baik dalam bentuk berbagai cetakan maupun versi media sosial online, antara lain di blog http://alangalangkumitir.wordpress.com/2010/10/27/serat-kidungan-kawedar/ sebagaimana penulis baca pada 20 September 2014.Dalam bentuk buku saku, versi R.Wiryapanitra tersebut dengan beberapa perbedaan kecil, juga diterbitkan oleh Dahara Prize, Semarang 1995. Meski berasal dari sumber yang sama terdapat sejumlah perbedaan antara versi Dahara dan versi online Alangalangkumitir.

Dalam tafsir ini, penulis menggunakan semua sumber tersebut, terutama bait-bait versi cetak Dahara Prize, dengan beberapa perubahan sesuai pengalaman serta rasa batin penulis, sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di daerah Pantura Jawa, yang semenjak kecil sudah agak akrab dengan tembang-tembang ciptaan Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga.

Dalam bait ketiga sampai dengan kelima, Sunan Kalijaga memperkenalkan istilah dan nama-nama tokoh yang bagi orang Jawa betul-betul baru sama sekali. Ada malaikat, rasul, Adam, Musa, Isa, Yakob, Yusuf, Dawud, Sulaeman, Ibrahim, Idris, Ayub, Nuh, Yunus, Muhammad, Abubakar, Umar, Usman, Ali dan Fatimah.

Memang Kidung Kawedar tidak menjelaskan secara terinci sejarah dari para nabi, sahabat dan keluarga Kanjeng Nabi Muhammad tersebut. Tetapi marilah kita coba menerapkan pada diri kita sendiri, baik dalam posisi sebagai penutur atau pun sebagai pendengar. Selaku pendengar, kita pasti ingin tahu lebih jauh tentang tokoh yang disebut penutur memiliki kemampuan dan karomah luar biasa, sehingga patut menyatu dalam diri kita, yang selanjutnya akan kita jadikan sebagai senjata andalan dalam kehidupan.

Sebaliknya sebagai penutur, kita pun akan berusaha menjelaskan lebih terperinci siapa tokoh-tokoh atau orang-orang yang kita jagokan, dan mengapa patut kita jadikan panutan serta andalan. Oleh sebab itu tidak mengherankan apabila bagi masyarakat Jawa kebanyakan meskipun Islam Abangan, sedikut banyak akan mengenal misalkan Nabi Nuh dengan kisah perahunya dan Nabi Yusuf yang selalu dijadikan idola dalam berdoa selamatan atau tasyakuran tujuh bulan kehamilan.

Dalam doa memohon keselamatan bagi ibu dan bayi yang sedang dikandungnya, sekaligus juga dipanjatkan harapan agar sang bayi memiliki aura ketampanan Nabi Yusuf, yang dikisahkan di dalam suatu perjamuan ibu-ibu, para hadirin diminta masing-masing mengupas sebuah apel dengan sebilah pisau nan tajam. Guna menguji reaksi ibu-ibu itu, maka pada saat seperti itu Nabi Yusuf diminta melintas. Apa yang terjadi? Hadirin terpana dengan ketampanan Nabi Yusuf, sampai-sampai tanpa sadar mereka salah kupas apel, melainkan menggores tangannya sehingga terluka.
Siapakah yang tidak ingin anak keturunannya tampan atau cantik? Begitu luar biasa ketampanan Nabi Yusuf, sampai menjadi idaman agar Gusti Allah berkenan mengaruniakan kepada sang jabang bayi, agar jika lahir pria akan tampan dan bila perempuan akan cantik jelita.

Pengetahuan terhadap agama baru dengan para tokoh panutannya tersebut, menjadi benih keyakinan. Meskipun baru atau hanya sebutir, benih itu akan tumbuh sumbur beranak pinak menyebar ke segenap penjuru dunia, ke jagad raya, karena memperoleh berkah dari Dzat Yang Maha Kuasa. Keyakinan itu akan membuahkan keselamatan kepada siapa saja yang membaca, yang menyimak mendengarkan, yang menuliskan dan yang menyimpannya. Bahkan bisa menjadi sumber segala doa, yang bila dibacakan di air dan airnya dipakai mandi oleh seorang perawan tua, maka sang perawan akan segera menemukan jodohnya dan segera menikah. Jika diberikan kepada orang gila maka akan segera sembuh (bait 6).

Dalam bait 6 terdapat kata sesembur, yaitu salah satu cara pengobatan atau pemberian doa restu, yang biasa dilakukan oleh orang yang dituakan atau yang dianggap memiliki kemampuan batin yang tinggi. Setelah berdoa, si orang tua kemudian dengan mulutnya meniup sampai mengeluarkan bunyi desis ke ubun-ubun atau dahi atau bagian-bagian tertentu si sakit atau orang yang didoakan.

Dengan berkah Dzat Yang Maha Kuasa itu pula, keyakinan yang ditanamkan oleh Kidung Kawedar, mampu menolong orang-orang yang sedang berperkara, yang dihukum, ditahan dan yang terbebani hutang (bait 7). Persis seperti Gusti Allah menolong para nabi dan rasul yang menghadapi kesulitan betapa pun beratnya. Api yang dinyalakan oleh punggawa Raja Namrud untuk membakar Nabi Ibrahim, dengan pertolongan Dzat Yang Maha Esa, Yang Maha Gaib, berubah sedingin air; bahtera Nabi Nuh mampu menampung dan menyelamatkan makhluk-makhlukNya demi meneruskan kehidupan; Nabi Yunus yang ditelan ikan bisa keluar dengan selamat; demikian pula pertolongan Allah Swt kepada para Nabi yang lain termasuk Nabi Muhammad Saw. dan para sahabatnya.

Dalam upaya menghayati dan memperoleh hakikat dari Kidung ini, Sunan Kalijaga tidak langsung mengajarkan tatacara peribadatan yang baru, melainkan mengikuti adat kebiasaan masyarakat, yaitu dengan menjalankan puasa mutih selama 40 hari penuh siang malam (bait 8). Puasa mutih yaitu pantang tidak memakan makanan dan meminum minuman yang diberi rasa nikmat seperti asin dan manis. Orang yang sedang mutih, hanya boleh makan nasi putih, meminum air putih dan buah-buahan segar yang tidak diolah. Mengenai puasa mutih ini, lebih lanjut bisa dilihat di buku kami Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan halaman 33, 35 dan 105, yang juga bisa diunduh melalui e-book di blog http://bwiwoho.blogspot.com.

Selama 40 hari si pelaku harus bangun di waktu subuh, serta senantiasa bersikap sabar dan bersyukur kepada Yang Maha Kuasa. Jika ia bisa melakukan itu semua, insya Allah, keinginannya akan dikabulkan dan akan memberikan manfaat kepada sanak keluarga dan kaum kerabat bahkan rakyat. Semua itu berdasarkan karomah yang dianugerahkan kepada sang pengarang kidung tatkala sedang menjalani uzlah dan bermunajat di pinggir sungai, bagaikan seorang penjaga sungai atau kali. Dialah Sang Kalijaga yang beruzlah di tengah hutan di pinggir kali di daerah Cirebon selama beberapa tahun.

Kembali dalam bait 8 ini, Sunan Kalijaga memperkenalkan dua istilah baru yakni subuh dan insya Allah. Pembahasan secara lebih rinci tentang insya Allah, juga bisa dilihat di buku Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan halaman 142 – 143. Bagi kita sekarang, 5 – 6 abad kemudian, dua istilah itu bukanlah sesuatu yang baru lagi asing, lantaran sudah menyatu dalam kehidupan kita sehari-hari. Tetapi bagi masyarakat abad ke XV – XVI, tentu menimbulkan pertanyaan dan memancing rasa ingin tahu.

Subhanallaah, maasyaa-Allaah.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Tafsir Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (2): Orang Jawa Mulai Mempelajari Sejarah Para Nabi, Sahabat dan Keluarganya

Bait 4 :
Napasku Nabi Ngisa linuwih,
Nabi Yakuub pamiyarsaning wang,
Yusup ing rupaku mangke,
Nabi Dawud swaraku,
Jeng Suleman kasekten mami,
Nabi Ibrahim nyawa,
Idris ing rambutku,
Bagendhali kuliting wang,
getih daging Abubakar Ngumar singgih,
balung Bagendha Ngusman.

Artinya:

Nabi Isa dengan kelebihannya merasuk dalam napasku,
Nabi Yakob di pendengaranku,
Yusuf ke wajahku,
Nabi Dawud suaraku,
Kanjeng Nabi Suleman kesaktianku,
Nabi Ibrahim nyawaku,
Idris rambutku,
Baginda Ali kulitku,
Abubakar dan Umar sebagai panutan menjadi darah daging,
tulang Baginda Usman.

Bait 5 :

Sungsum ingsun Patimah linuwih,
kang minangka rahayuning angga (ada versi lain: Siti Aminah rahyuning angga),
Ayub minangka ususe,
Nabi Nuh ing jejantung,
Nabi Yunus ing otot mami,
netraku ya Muhammad, panduluku Rasul,
pinayungan Adam sarak,
sampun pepak sakathahing para Nabi,
dadya sarira tunggal.

Artinya:

Fatimah dengan segala kelebihannya merasuk dalam sumsumku,
sebagai keselamatan diri (versi lain: Siti Aminah menjadi keselamatan diri),
Ayub sebagai usus,
Nabi Nuh berada di jantung,
Nabi Yunus di urat saya,
mataku adalah Muhammad,
pandanganku Rasul, dinaungi syariat Adam,
sudah lengkap semua Nabi,
menyatu dalam diriku.

Dalam tafsir sebelumnya telah kita bahas, Sunan Kalijaga mulai memperkenalkan istilah dan nama-nama baru kepada masyarakat, yaitu malaikat, rasul, Adam, Sis dan Musa. Pengenalan istilah, tokoh dan sejarah Islam tersebut dilanjutkan dalam bait keempat dan kelima, dengan sekaligus menjelaskan hikmah dan karomahnya di dalam diri manusia, apabila kita mempercayai dan mampu menghayatinya.

Dalam kedua bait tersebut, kata linuwih dipakai untuk mengakhiri baris pertama. Linuwih arti sebenarnya adalah kemampuan lebih atau di atas rata-rata orang pada umumnya, atau bisa juga berarti utama. Namun demikian tidak berarti Nabi Isa (Ngisa) dan Fatimah, puteri Kanjeng Nabi Muhammad lebih utama dibanding tokoh-tokoh yang disebut di bawahnya termasuk Nabi Muhammad Saw. sendiri, melainkan sekedar sebagai daya tarik serta untuk memenuhi ketentuan-ketentuan dalam membuat puisi Jawa yang berupa tembang macapat itu.

Kidung Kawedar adalah sebuah kidung pujian dalam bentuk puisi Jawa, yang cara mengungkapkannya dilakukan dengan menyanyi yang disebut sebagai macapat, dalam irama Dhandanggula. Macapat sebagai metrum atau irama puisi Jawa, berasal dari kata maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu cara membacanya berirama dalam setiap empat suku kata.

Di beberapa daerah di Indonesia, dengan nama lain macapat juga ditemukan dalam kebudayaan Bali, Madura, Sunda, Palembang dan Banjarmasin. Kapan sesungguhnya macapat itu mulai ada di daerah-daerah tersebut, khususnya di pulau Jawa, belum ada kata sepakat di antara para peneliti. Poerbotjaraka dan Zoetmulder (sumber Wikipedia, diunduh Sabtu 20 Septemeber 2014), memperkirakan sudah ada semenjak sebelum masa Kerajaan Majapahit, namun pada waktu itu kalah dengan tembang Kakawin yang bermetrum India.

Setelah kekuasaan Majapahit memudar dan agama Islam mulai menyebar, Sunan Bonang yang diikuti para Wali lainnya, melakukan dakwah dengan cara menciptakan tembang-tembang macapat dalam berbagai irama yang baku, ada yang bernuansa kontemplatif meditatif, ada yang garang, ada yang bernuansa dimabok asmara dan ada pula yang jenaka. Masing-masing irama memiliki aturan baku antara lain setiap pupuh atau bait terdiri dari sejumlah baris atau gatra tertentu, setiap baris terdiri dari sejumlah suku kata dan pada suku kata terakhir dicirikan dengan sesuatu huruf hidup tertentu. Irama Dhandanggula yang dipakai dalam Kidung Kawedar ini misalkan, dicirikan dalam setiap bait harus terdiri 10 (sepuluh) baris. Baris atau gatra I terdiri dari 10 suku kata (guru wilangan) dengan suku kata terakhir (guru lagu) yang memiliki huruf hidup i. Baris II terdiri dari 10 suku kata dengan suku kata terakhir memiliki huruf hidup a. Gatra III terdiri dari 8 guru wilangan dengan guru lagu e, dibaca seperti kita membaca nama kota Ende atau benua Eropa. Gatra IV terdiri dari 7 guru wilangan dengan guru lagu u. Gatra V terdiri dari 9 guru wilangan dengan guru lagu i. Gatra VI terdiri dari 7 guru wilangan dengan guru lagu a. Gatra VII terdiri dari 6 guru wilangan dengan guru lagu u. Gatra VIII terdiri dari 8 guru wilangan dengan guru lagu a. Gatra IX terdiri dari 12 guru wilangan dengan guru lagu i, dan gatra terakhir atau yang X, terdiri dari 7 guru wilangan dengan guru lagu a.

Guna memperindah serta menyesuaikan dengan aturan baku jumlah suku kata dalam sesuatu baris, seorang pengarang seringkali harus menggabungkan dua kata menjadi satu atau mencari padanannya. Contohnya adalah bait keempat di atas, baris ke 8 tertulis Bagendhali kuliting wang. Bagendhali adalah gabungan dua kata Bagendha atau baginda dan Ali, maksudnya adalah Khalifah Ali bin Abu Thalib. Tapi karena baris tersebut harus terdiri dari 8 suku kata, maka Bagendha Ali, digabung menjadi Bagendhali. Baris kedelapan ini terjemahannya adalah Baginda Ali menjadi kulit saya. Juga penggabungan Abubakar Ngumar, adalah untuk Khalifah Abubakar dan Khalifah Umar, guna memenuhi ketentuan guru wilangan sebanyak 12. Contoh lain lagi akan ditemukan di bait 6 baris ke 9 yaitu kata-kata kinarya dus, adalah singkatan dari kinarya adus.

Masih di baris kedelapan, ada sejumlah sinonim untuk kata saya dalam bahasa Jawa, antara lain ingsun, aku, mami dan wang. Tetapi mengingat guru lagu atau huruf hidup pada suku kata terkahir baris tersebut adalah a, maka dipilihlah kata wang yang kurang lazim dipakai sehari-hari dibanding kata ingsun, aku dan mami.

Menterjemahkan apalagi menafsirkan karya sastra puisi Jawa abad XV – XVI, meskipun oleh orang Jawa seperti penulis, ternyata tidak sesederhana yang semula saya bayangkan. Karena masa itu adalah masa peralihan besar kebudayaan yang ditandai dengan hidup bersamanya tiga bahasa Jawa, yaitu akhir dari Jawa Kuno, Jawa Tengahan dan awal dari Jawa Baru. Bahasa Jawa Baru yang masih berlaku sekarang pun sudah banyak berbeda dengan yang berlaku pada masa kanak-kanak saya tahun 1950-an. Sudah banyak kata-kata dan istilah Jawa Baru yang hilang digantikan oleh kata dan istilah bahasa daerah lain bahkan istilah bahasa asing. Apalagi kata-kata Jawa Kuno dan Jawa Tengahan, banyak yang tidak dimengerti oleh masyarakat sekarang.

Akan halnya kata linuwih untuk Nabi Ngisa (Isa) dan Patimah (Fatimah) serta singgih untuk Abubakar Ngumar (Abubakar dan Umar), tidaklah menggambarkan kelebihan dari keempatnya dibanding yang lain. Penambahan kata linuwih dan singgih dimaksudkan untuk memenuhi unsur guru wilangan dan guru lagu pada ke dua baris kalimat yang bersangkutan. Sedangkan penulisan Ngisa dan Patimah untuk Nabi Isa dan Fatimah, puteri Rasulullah Saw, serta Ngumar untuk Khalifah Umar, adalah kelaziman pengucapan pada masyarakat Jawa pada saat itu, bahkan di beberapa kalangan masyarakat masih berlangsung sampai sekarang. Seperti bila mereka mengucapkan Patekah untuk Fatihah, ngarokhmanirokhim untuk arrahmaanirrahiim.

Demikanlah, Sunan Kalijaga menceriterakan tentang sejarah Islam dan para nabi sebagaimana dikisahkan dalam Al Qur’an, serta para sahabat dan keluarga Kanjeng Nabi Muhammad. Nama-nama mereka disebutkan seraya mengikuti pola pikir orang Jawa yang menyenangi cerita wayang, terutama tentang tokoh-tokoh sakti yang manjing, merasuk menyatu dalam jiwa raga seorang tokoh wayang yang lain, sehingga tokoh yang dirasuki menjadi sakti mandraguna.

Para Nabi dengan keutamaan masing-masing mulai dari Nabi Adam, Nabi Ibrahim yang merupakan bapak dari para nabi agama samawi, agama langit dan pencetus monoteisme, sampai ke Nabi Muhammad dan para sahabat serta keluarganya, diperkenalkan melalui suatu tembang Dhandanggula yang indah memukau, kontemplatif meditatif bagai sebuah mantera sakti.

Bisa dibayangkan, pasti banyak pertanyaan dari masyarakat tentang hal-hal baru tersebut. Jika selama ini mereka hanya mengenal para dewa dan roh gaib sebagai sesembahan mereka, dengan Kidung Kawedar mereka diperkenalkan kepada sesembahan baru, yang tunggal lagi maha kuasa, yang para utusannya saja sudah sakti luar biasa.

Namun demikian, Kanjeng Sunan Kalijaga tidak langsung mengecam dan membuang nilai-nilai agama dan kepercayaan lama masyarakat, terutama yang sudah menjadi kebiasaan hidup sehari-hari. Beliau menyusupkan nilai-nilai baru ke dalam agama, kepercayaan, tatacara dan adat kebiasaan hidup yang sudah ada sebelumnya. Nilai-nilai lama, dibungkus selapis demi selapis, digeser sedikit demi sedikit. Dengan metode dakwah yang seperti itulah maka Nusantara khususnya pulau Jawa diislamkan, sehingga sekarang menjadi negara dengan penganut agama Islam terbesar di dunia.

Subhanallaah walhamdulillaah.

Leave a comment

Filed under Uncategorized