Black Campaign Itu Mengobarkan Kebencian

Sahabatku, beberapa bulan terakhir ini kita berada dalam suasana kampanye Pemilihan Anggota Legislatif yang dilanjutkan dengan kampanye Pemilihan Presiden. Kampanye kali ini menjadi luar biasa karena suasana kebebasan mengemukakan pendapat juga dilakukan dengan menggunakan jaringan media massa terutama media sosial.

Sungguh kita telah diserbu dengan gelombang penggalangan alam pikiran yang sudah bagaikan gerobak sampah, penuh dengan aneka produk yang dikemas sebagai pencitraan, padahal isinya campur aduk antara informasi yang benar, fitnah, gibah bahkan black campaign, kampanye hitam yang tiada lain adalah teror kebencian, yang menempatkan saudara sebangsa setanah air, bahkan seiman, sebagai musuh besar yang harus dibasmi, dibunuh karakternya. Naudzubillah.

Sahabatku, marilah kita saling mengingatkan tentang firman Gusti Allah Swt, “ dan jangan sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil itu lebih dekat kepada takwa.” (Qs. Al Maidah: 08).
Tentang itu Al Qurthubi menerangkan,”Janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum menjadikan kamu meninggalkan keadilan dan mengedepankan permusuhan dibanding kebenaran. Ini adalah dalil untuk menerapkan hukum permusuhan yang sebenarnya dan juga dalil untuk menerapkan hukum musuh terhadap permusuhannya kepada Allah, serta menerapkan kesaksiannya terhadap mereka karena Allah swt memerintahkan berbuat adil walaupun dia membencinya.” (Al Jami’i li Ahkamil Qur’an juz VI hal 477)

Allah swt meminta kepada setiap hamba-Nya untuk senantiasa mencintai dan membenci seseorang karena-Nya bukan semata-mata karena diri atau latar belakang orang tersebut. Hendaklah seseorang mencintai orang lain karena keislaman atau ketaatannya kepada Allah swt dan membenci orang tersebut karena kemaksiatan atau kekufurannya kepada Allah swt.

Oleh sebab itu wahai Sahabatku, jika anda mendambakan persatuan, kedamaian dan merebaknya kasih sayang di antara sesama kita, marilah kita langsung tinggalkan atau buang saja, dan jangan disebarluaskan, jangan dicopy paste ataupun diforward, materi-materi kampanye yang berbau gibah, fitnah dan kebencian. Dan apabila anda juga sepaham dengan tulisan ini, marilah kita sebarluaskan sebagai ibadah dalam upaya mencegah kemungkaran. Salam takzim.

 

2 Comments

Filed under Uncategorized

Analisa SWOT Capres – Cawapres 2014 ala Jawa

Komisi Pemilihan Umum bekerjasama dengan Rumah Sakit Gatot Subroto, minggu keempat Mei yang lalu telah melakukan tes psikologi terhadap para Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) RI – 2014. Tak kurang dari 500 pertanyaan diajukan kepada mereka guna mengetahui segala aspek kejiwaannya. Gagasan untuk melakukan tes kejiwaan ini patut diacungi jempol, karena dengan itu kita akan bisa mengetahui semua aspek kejiwaan para calon pemimpin kita. Sayang sekali hasil tes ini tidak dibuka untuk umum.

Meskipun demikian bagi kebanyakan orang Jawa, kesempatan untuk meneropong potensi baik-buruk seseorang tidaklah lantas tertutup. Sebagaimana saya kemukakan dalam tulisan terdahulu yang berjudul “Perhitungan (Primbon) Jawa Contoh Kasus Capres – Cawapres” , dalam membuat sesuatu penilaian terhadap seseorang dan sesuatu peristiwa, cara Jawa menggunakan berbagai metode yang dirumuskan berdasarkan pengalaman empiris ratusan atau bahkan ribuan tahun. Metode-metode itu antara lain neptu, jam kelahiran, hari lahir atau weton, bulan dan tahun Jawa, wuku, pranotomongso, nogo dino, pal, paringkelan, poncosudo, kamarokam dan katuranggan. Yang terakhir yaitu katuranggan, sama dengan fisiognomi dalam masyarakat Tionghoa, yaitu menilai seseorang berdasarkan ciri-ciri fisiknya.

Perhitungan Jawa menghasilkan perkiraan potensi diri dan potensi kejadian yang disajikan dalam bentuk analisa yang kuranglebih sama dengan analisa SWOT (strong-weakness-opportunity-threat) di era modern, atau analisa kekepan yaitu kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Bagaimana kita memahami analisa kekepan ini, saya anjurkan anda membaca artikel yang saya sebut di bagian depan tadi.

Kembali kepada potensi diri dan kejiwaan para Capres-Cawapres, berikut saya sajikan analisa ala Jawa, yang saya buat berdasarkan berbagai metode, kecuali metode jam, weton atau hari kelahiran dan nogo dino, karena saya tidak memperoleh informasi yang pasti tentang jam kelahiran mereka. Sekali lagi, ini adalah analisa potensi diri dan bukan ramalan kejadian atau nasib orang. Potensi dan peluang baik belum tentu terwujud jika tidak didayagunakan secara optimal, sebaliknya potensi dan ancaman buruk juga belum tentu terjadi jika bisa diantisipasi secara baik dan memadai.

1.Prabowo Subianto:

Lahir Rabu Pon/Kamis Wage 17 Oktober 1951 atau 16 Muharam 1371 H, atau 16 Suro tahun Alip 1883, wuku 15 atau Julungpujud, pranotomongso Kalimo, shio Kelinci, bintang Libra.

Kekuatan: memperoleh pancaran aura dari Betara Guritno sehingga pada umumnya tampan, berwibawa dan tutur katanya halus sedangkan perbuatannya mudah menjadi buah bibir masyarakat. Ia merupakan tipe orang dengan semua potensi, baik maupun buruk. Ingatannya tajam, bisa menepati janji, tabah hati, tinggi cita-citanya dan cepat meraih keberhasilan. Dengan perlambang burung emprit, jika sudah punya kemauan maka hasratnya besar dan menyala-nyala sukar dihalang-halangi. Kehidupannya makmur dan senang bergaya.

Kelemahan: meski kehidupannya makmur, dalam gambaran wuku ia tidak memiliki gambaran rumah. Itu berarti ia bisa merasakan kemakmuran tanpa harus bersusah payah mencari uang atau memilikinya sendiri, karenanya ia harus berhemat dan jangan cenderung boros. Ia juga tidak memegang “umbul-umbul”, artinya sebetulnya ia kurang begitu cocok untuk posisi yang berkaitan dengan kekuasaan, atau jika berada di posisi itu karena kemauannya yang kuat, maka bila tidak hati-hati kekuasan yang diperjuangkan dengan keras tersebut mudah hilang. Sementara itu perasaannya yang terlalu peka harus dikelola dengan baik. Gengsinya yang tinggi, senang pamer serta dipuji orang bisa membuka peluang dikelilingi para penjilat dan disalahgunakan para penipu.

Peluang: kemauan dan semangat yang besar disertai penampilannya yang tampan simpatik, memberi peluang untuk mewujudkan keinginannya. Jika ia berhasil mengendalikan emosi dan ambisinya, kemudian mengembangkan potensi kearifannya, memantabkan kesucian hati dan budinya, menumbuh-suburkan benih cinta kasihnya terhadap sesama, bisa berpeluang besar menjadi tokoh masyarakat terutama tokoh spiritual yang dihormati dan dibutuhkan orang banyak.

Ancaman: kemauan dan ambisi yang besar disertai perasaanya yang peka juga bisa menimbulkan ekses negatif bila tidak dikendalikan dengan baik, terutama jika tidak bisa mengendalikan emosi dan kemarahannya. Emosi yang tak terkendali dapat mengundang aura Betara Yamadipati yang keras hati mengamuk bak ular berbisa yang keluar dari liangnya, atau bahkan ibarat air hujan yang mestinya berkah, yang berubah menjadi hujan badai dan banjir. Emosi dan kemarahan bisa memicu sakit hati dan kebencian orang lain, lebih-lebih jika sampai terdzolimi.

2.Hatta Rajasa:

Lahir Jumat Legi/Sabtu Pahing 18 Desember 1953 atau 11 Rabiulakhir 1373H atau 11 Bakda Mulut tahun Jimawal 1885, wuku Warigagung (Warigadian), pranotomongso Kanem, shio Ular, bintang Sagitarius.

Kekuatan: seorang yang keras hati, tinggi keinginan dan pendiriannya, kuat dan bersemangat dalam mencari nafkah serta “cerdik” perilakunya. Memiliki rasa tanggungjawab dalam menjalankan tugas, ramah tamah serta manis budi-bahasanya sehingga banyak pengagumnya.

Kelemahan: cenderung banyak omong, suka menggurui, kurang rendah hati dan mudah sombong. Kurang beramal, tidak tahan kesepian dan senang disanjung.

Peluang: Berkat aura utama dari Sang Maha Resi atau Betara Guru, orang dengan tanda-tanda ini bisa menduduki jabatan resmi yang tinggi dengan rejeki yang bagus.

Ancaman: perpaduan keinginan yang tinggi, keras hati dan kecerdikan bisa melambungkan nasibnya, tapi sekaligus juga bisa menjatuhkan dan merusak kehidupannya, terutama “kecerdikan yang kelewatan”. Sungguh dalam kehidupan ini tidak ada sesuatu yang sempurna betul. Aura Sang Maha Resi tidak muncul sendirian, melainkan dibayangi pula oleh aura Betara Kala. Oleh sebab itu “kecerdikannya” tidak boleh dibiarkan liar menjadi kelicikan sekaligus kerakusan seekor monyet. Bila ia tidak mampu mengendalikan, sementara banyak masalah dalam keluarganya, tak pelak lagi berkah “hujan” kedudukan dan rejeki bisa disertai “petir dan tanah longsor”. Untuk mencegahnya ia juga harus menempa serta menanamkan dengan keras kejujuran, pemaaf, membela yang lemah dan rela berkorban demi orang lain.

3.Joko Widodo:

Lahir Rabu Pon/Kamis Wage 21 Juni 1961 atau 7 Muharam 1381H atau 7 Suro tahun Jimawal 1893, wuku Sungsang, pranotomongso Saddha, shio Kerbau, Bintang Cancer.

Kekuatan:punya potensi sebagai pemimpin dengan semangat dan daya kekuatan yang besar, rajin bekerja dan gigih, disiplin, cerdas, intuisinya tinggi, pendengar yang baik, suka menolong orang yang meminta bantuan meskipun kadang-kadang kurang ikhlas. Ia juga lapang dada, tahan menderita, pemaaf dan cukup berwibawa. Meski pada dasarnya pemaaf dan sabar, namun jangan mempermainkan melebihi batas kesabarannya, sebab ia bisa bertindak bagai banteng ketaton.

Kelemahan:keinginannya mudah tergoda, cenderung boros, agak gegabah dan kurang bisa membalas budi.

Peluang: bila suci budinya, mampu mengendalikan keinginannya secara baik dan mengelola semua kekuatannya, bisa menjadi orang yang sukses hidupnya terutama dalam perdagangan dan melayani orang banyak. Bagaikan mantri sinaroja, bahagia kehidupannya.

Ancaman: jika keinginannya lepas tanpa kendali disertai ketidakjujuran, apalagi kalau juga rumahtangganya tidak tenteram, bisa mengalami kekecewaan serta kesedihan yang mendalam.

4.Jusuf Kalla:

Lahir Jumat Legi/Sabtu Pahing, 15 Mei 1942 atau 28 Rabiulakhir 1361 atau 28 Bakda Mulud tahun Wawu 1873, wuku Wukir, pranotomongso Desta, shio Kuda, bintang Taurus.

Kekuatan: dermawan dan suka membantu orang lain, roman mukanya mudah menimbulkan simpati, baik hati, berwibawa sehingga perintahnya dipatuhi dan menonjol dalam lingkungannya, hidup sederhana meskipun rejekinya cukup buat lebih dari sederhana. Rasa percaya dirinya tinggi, cekatan serta tangkas dalam bertindak termasuk pandai berdebat, sistematis, praktis dan santai. Sayang keluarga dan banyak sahabat.

Kelemahan: sesungguhnya berpotensi kurang tabah dalam pendirian, tidak suka diatasi atau diremehkan. Rasa sayang terhadap keluarga jika berlebihan, sekaligus juga bisa menjadi kelemahan dan ancaman.

Peluang: menjadi pemimpin yang cekatan dalam melaksanakan tugas-tugasnya, berbakat bisnis, bisa menjadi tempat bernaung bagi orang yang kesusahan serta menjadi tempat bertanya di hari tuanya.

Ancaman: walau banyak memiliki kelebihan, tetapi segala sesuatu itu ada batasnya. Bagaikan buah durian yang rasanya legit baunya harum, jika sudah melampui saatnya, maka akan berubah rasa dan aromanya. Sementara itu pembawaannya yang kalem juga ada batasnya, yang apabila dilampaui ia bisa marah sekali dan sanggup melakukan tindakan yang drastis tak terduga.

5.Potensi Hubungan & Kerjasama Antar Calon.

Prabowo – Jokowi :hubungan serasi yang kokoh dalam tim akan terbentuk apabila keduanya bisa menghilangkan keengganan satu sama lain.

Prabowo – Hatta Rajasa :hubungan yang produktif dalam meraih tujuan, asalkan dapat menjalin dan menjaga ikatan serta daya tarik yang tulus dan mendalam.

Prabowo – Jusuf Kalla :kurang serasi, tak banyak memiliki persamaan kesenangan dan berpotensi besar untuk konflik.

Jokowi – Jusuf Kalla : serasi asalkan bisa menghilangkan jurang komunikasi.

Jokowi – Hatta Rajasa :paling ideal, menguntungkan dan bisa kekal.

Jusuf Kalla – Hatta Rajasa :dingin, formal, cenderung kurang bisa saling memahami.

Demikianlah sahabatku, sekali lagi perlu saya ingatkan bahwa semua itu adalah analisa potensi dan bukan ramalan nasib. Potensi kekuatan dan peluang dapat terwujud jika yang memiliki mampu memahami dirinya dengan baik, kemudian mendayagunakana secara optimal potensi kekuatan dan peluang emasnya. Sementara itu potensi kelemahan dan ancaman diantisipasi secara tepat sehingga bisa dibendung dan dicegah. Namun sebaliknya, meskipun seseorang memiliki potensi kekuatan dan peluang emas, tapi kalau tidak didayagunakan secara optimal maka peluang tersebut juga tidak akan terwujud. Lebih-lebih apabila potensi kelemahan dan ancamannya diumbar, dibiarkan lepas tanpa kendali.

Semoga kita bisa menjadi insan yang bisa memahami potensi diri kita sendiri, selanjutnya dapat menempatkan dan membawa diri secara baik dalam menapaki kehidupan yang fana ini.  Aamiin.

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

JANGAN PERNAH MERASA SOK MENJADI PEMEGANG KUNCI SURGA.

Belakangan ini banyak beredar isyu khususnya di berbagai media sosial, yang menyerang dan menyangsikan kadar keislaman seseorang. Janganlah kita merasa sok menjadi pemegang kunci surga. Sesuai nasehat Kanjeng Nabi Muhammad Saw, seorang muslim sejati adalah orang yang tidak akan menyakiti hati saudara seimannya. Marilah sahabatku, kita bersangka baik kepada sesamanya, dan bersyukurlah atas keislaman seseorang.

Marilah kita camkan dan hayati peringatan Kanjeng Nabi yang diriwayatkan oleh Muslim sbb, “Demi zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang kamu telah melakukan amalan penghuni surga. Namun tatkala perjalanannya tinggal sehasta saja, karena ketentuan takdir bisa jadi berbalik melakukan amalan penghuni neraka. Sebaliknya salah seorang kamu telah melakukan amalan penghuni neraka. Tetapi ketika perjalanan tinggal sehasta saja, lantaran ketentuan takdir bisa jadi berubah melakukan amalan penghuni sUrga, sehingga bisa masuk ke dalamnya.”.

Nah tidakkah itu semua sudah lebih dari cukup buat mengingatkan kita semua agar tidak sok suci? Semoga kita dijauhkan dari perlaku buruk yang seperti itu, serta dianugerahi kemuliaan untuk dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, yang penuh limpahan kasih sayang Allah Swt.

Aamiin.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Bagaimana Kita Memilih Presiden?

Rabu Wage tanggal 9 Juli 2014 atau 11 Ramadhan 1345H, insya Allah kita rakyat Indonesia akan memilih Presiden, satu dari dua pasang yaitu Calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto dengan Calon Wakil Presiden (Cawapres) Hatta Rajasa, dan Capres Joko Widodo dengan Cawapres M.Jusuf Kalla. Suara yang kita berikan pada hari itu akan dihitung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), dan akan menghasilkan angka-angka statistik yang berujung pada pemberian mandat untuk selama lima tahun, kepada pasangan yang memperoleh suara terbanyak.

Sesuai dengan Undang-Undang, jika rakyat ternyata kecewa terhadap Presiden yang dipilihnya, maka harus menunggu sampai masa jabatan lima tahun tersebut selesai. Karena itu sebelum menentukan pilihan untuk memberikan mandat, kita tidak boleh bagaikan membeli kucing dalam karung, yang kita tidak tahu apakah itu kucing buduk yang berpenyakitan ataukah kucing yang sehat lagi berbulu indah. Oleh sebab itu kita tidak boleh percaya sepenuhnya pada kontes popularitas apalagi yang hanya berupa aneka jenis penggalangan citra dan iklan dengan sejuta embel-embel visi-misi serta janji-janji muluk untuk membangun bangsa dan menyejahterakan rakyat.

Sudah menjadi ketentuan umum, jika kita ingin melamar pekerjaan, bahkan untuk setingkat prajurit atau satuan pengamanan saja, kita harus menyertakan daftar riwayat hidup yang berisi rekam jejak kehidupan kita. Perusahaan-perusahaan asing khususnya perbankan, menjadikan penelusuran rekam jejak calon rekanan atau nasabah besar, sebagai prioritas. Mereka menyewa intelijen-intelijen bisnis guna menelusuri dan mengetahui rekam jejak kehidupan serta bisnis calon rekanannya itu. Bahkan di perusahaan-perusahaan besar atau untuk jabatan-jabatan tertentu, tidak jarang kita harus menjalani tes psikologi. Di lingkungan TNI/Polri kita juga mengenal apa yang disebut pra kesehatan jiwa (prakeswa).

Terhadap calon anggota legislatif (caleg), KPU mengumumkan secara terbuka dalam jangka waktu tertentu, daftar para caleg kepada masyarakat luas, agar membantu meneliti rekam jejaknya sekaligus memberikan tanggapan. Hal yang sama diberlakukan pula kepada calon-calon pejabat yang akan menjadi anggota Komisi-Komisi Negara. Nah, untuk Capres/Cawapres yang kedudukannya jauh lebih vital-strategis dan luar biasa, sayang sekali hal ini justru tidak diberlakukan.

Meskipun demikian, ada secerah harapan tatkala KPU-2014 mengumumkan selain akan melakukan tes kesehatan, juga akan melakukan tes psikologi dengan sekitar 500 pertanyaan kepada Capres/Cawapres. Tes psikologi diperlukan bukan hanya sekedar buat mengetahui tingkat kecerdasan yang dikenal dengan istilah IQ (intelligence quotient) sebagaimana yang orang awam pahami, tetapi lebih jauh dari itu, guna mengetahui potensi serta kecenderungan emosi, perilaku, waham dan sejumlah aspek-aspek kejiwaan lainnya.

Sesungguhnya Indonesia memiliki pengalaman yang menarik tentang analisa psikologi para Capres, namun sayang kita abai terhadap pengalaman tersebut. Pada sekitar bulan September 2004 atau beberapa hari sebelum Pemilu Presiden putaran kedua, dua orang psikolog senior Universitas Indonesia, yaitu Niniek L Karim dan Bagus Takwin mengeluarkan buku “Sang Kandidat, Analisis Psikologi Politik Lima Kandidat Presiden dan Wakil Presiden RI Pemilu 2004”.

Tentang Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) misalkan, Sang Kandidat menilai antara lain (1) kurang gigih dalam memperjuangkan idenya; (2) terlalu banyak pertimbangan sehingga lambat mengambil keputusan; (3) terkesan ragu-ragu karena menunggu banyak masukan dari pihak lain sebelum mengambil keputusan; (4) datar secara emosional dan emosi tidak lepas; (5) kurang tegas dan kurang memiliki kontrol terhadap orang; (6) dapat menimbulkan kesan berpura-pura dan tidak menampilkan yang sebenarnya.

Kita harus memberikan acungan jempol kepada kedua psikolog tersebut, meskipun dalam membuat analisa tidak melakukan tes mendalam dengan sekitar 500 pertanyaan seperti terhadap Capres/Cawapres 2014, analisa Sang Kandidat terbukti tak jauh meleset. Mestinya hasil tes KPU 2014 lebih sahih dibanding hasil pengamatan Sang Kandidat. Tetapi sayang sekali hasil tes yang dibiayai dengan uang rakyat itu, tidak dilaporkan kepada yang membiayai dan patut memanfaatkan hasil tesnya, tidak diumumkan secara luas kepada rakyat, sehingga sampai memasuki masa kampanye sekarang ini, rakyat tidak bisa mengetahui kondisi kejiwaan para calon pemimpin yang akan dipilihnya. Jika terhadap para caleg dan calon komisioner negara saja masyarakat diberikan waktu dan kesempatan luas untuk melakukan penilaian, maka sudah seharusnya terhadap Capres/Cawapres, waktu dan kesempatan itu juga diberikan, bahkan lebih leluasa lagi. Namun nyatanya tidak.

Sementara kesempatan buat melakukan penilaian secara benar terhadap para Capres/Cawapres semakin meredup, kampanye pencitraan melalui instrumen-instrumen penggalangan alam pikiran rakyat ala kapitalisme global seperti media massa termasuk media sosial, periklanan dan unsur-unsur industri hiburan bergulung-gulung gegap gempita merasuki kita.

Agar alam pikiran kita tetap jernih dan mata batin kita tajam dalam membuat penilaian dan pilihan, maka saya mengajak para sahabat untuk mengasah serta mendayagunakan pedoman-pedoman keagamaan dan kearifan-kearifan lokal yang sudah kita miliki. Dengan demikian insya Allah kita akan bisa menyaring kampanye-kampanye hitam, gibah dan fitnah yang bersimaharajalela dalam beberapa tahun terakhir, lebih-lebih setahun terakhir tatkala hawa pemilu mulai menghangat.

Kini kita sedang menyaksikan para elit politik yang semula saling mendukung dan memuji, hanya dalam kurun beberapa bulan, bahkan ada yang hanya berbilang hari, saling serang dan mencerca satu sama lain. Fenomena ini mengingatkan nasehat Sang Guru kepada Antigone dalam kisah Oedipus dari mitoligi Yunani yang amat termasyhur, “….dari semua kejahatan yang bagai cacing mengerikiti jalan menuju istana raja-raja, yang terburuk adalah nafsu berkuasa. Nafsu berkuasa mengadu saudara lawan saudara, ayah lawan anak dan anak lawan tenggorokan orangtuanya.”

Berbagai senjata dan amunisi, tak peduli baik-buruk, halal-haram dan dosa yang menyertai nafsu-nafsu kekuasaan, kini sedang menyelimuti kita. Sementara para kandidat, dengan sejuta gaya berakting merayu rakyat. Maka dalam suasana gegap gempita kontestasi Pilpres yang terlanjur dikemas oleh para elit bagaikan perang suci dengan jargon dan istilah-istilah peperangannya, cara yang paling sederhana adalah jangan memilih yang paling mendekati atau yang memang sudah menjadi “raja tega”, tega melakukan kampanye hitam, tega memfitnah dan memutar-balikkan fakta, tega menggunakan isu-isu SARA (Suku-Agama-Ras-Antar Golongan) yang sangat berpotensi memecah-belah bangsa.

Marilah kita hayati pula peringatan Kanjeng Nabi Muhammad Saw kepada sahabat-sahabatnya yang meminta jabatan dan kekuasaan, “ Demi Allah aku tidak akan memberikan pekerjaan tersebut kepada seorang yang memintanya, apalagi kepada seseorang yang amat loba kepadanya.” (HR.Muslim). Tapi siapa yang paling loba, paling haus kekuasaan diantara para kandidat? Ayo kita lakukan salat istikharah, tafakur dengan khusyuk dan jujur pada diri sendiri.

Masih ada satu lagi tolok ukur yang diajarkan Rasulullah Saw sebagaimana diriwayatkan Abu Daud, “ Apabila Allah berkenan untuk munculnya kebaikan bagi seorang pemimpin, maka Allah akan memperuntukkan baginya para pembantu yang jujur, yang bila pemimpin itu lupa maka para pembantunya akan mengingatkannya, dan bila ia ingat maka para pembantunya pun akan membantunya. Sebaliknya bila Allah berkehendak selain itu, maka Allah akan menyediakan baginya para pemimpin yang jahat, yang bila sang pemimpin lupa, maka para pembantunya tidak mengingatkannya, dan bila ingat maka para pembantu tersebut tidak membantunya.”

Melengkapi hadis tadi, adalah sebuah nasehat bijak yang berlaku secara universal di berbagai bangsa dari zaman ke zaman, yaitu “jenis itu berkumpul dengan jenis. Rusa akan berkumpul dengan sesama rusa, serigala berkumpul dengan sesama serigala, kerbau berkumpul sesama kerbau dan harimau sesama harimau.” Maknanya, dalam menilai seseorang lihatlah orang-orang di sekelilingnya, lihatlah teman-temannya, orang-orang dekatnya. Sebab tidak mungkin rusa hidup nyaman bersama kerbau apalagi dengan serigala dan harimau. Penjudi akan nyaman jika berkumpul dengan sesama penjudi. Penari nyaman berkumpul dengan sesama penari. Teman bermain orang-orang baik ya orang baik pula. Pun demikian sebaliknya.

Nah sahabatku, sekarang silahkan anda membuat penilaian sendiri. Dalam tulisan pendek ini, saya hanya sekedar mengingatkan beberapa metode penilaiannya saja, yaitu metode-metode yang sudah lazim, namun sering kita lupakan. Dan kalau anda berkenan lagi pula ada waktu silahkan juga mencoba membuka serta membaca tulisan saya yang berjudul “Cara Presiden Soeharto Merekrut Para Menterinya”, dalam buku “34 Wartawan Istana Bicara Tentang Pak Harto”, yang sudah diterbitkan oleh Universitas Mercu Buana atau buka blog http://bwiwoho.blogspot.com atau langsung saja bertanya kepada mbah google.

Semoga Gusti Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, menyayangi kita bangsa Indonesia, dengan menganugerahkan petunjuk, pertolongan, rahmat dan berkahNYA. Menganugerahi kita pemimpin yang terbaik dari semua yang baik. Pemimpin yang mumpuni, amanah serta peduli pada rakyatnya.
Aamiin,
Depok, 3 Juni 2014.

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Belajar Memetik Hikmah Kehidupan dari Al Hikam

Kitab inilah yang patut dikaji
dan umpama mas yang sudah diuji
dan umpama pula makanan yang dihidangkan
dan yang lain itu tudung sajinya
dan umpama pula buah-buahan
isinya dan minyak dalam bijinya
karena dialah yang menyampaikan kepada Tuhan
lagi besar pahala dan imbalannya
dan yang mendapat ilmu dan mengamalkan
orang itulah yang patut dipuji-Nya
surga itulah kediaman yang kekal
ilmu itu pintu dan bajinya
dan yang jahil dengan dia api neraka
selar, sengat tikam gergajinya
ya rabbi kurniakan pintu pembuka-Mu
bagi tiap-tiap hamba yang mengajinya.

(Sajak Melayu-Patani tentang kitab Al-Hikam, dalam Kitab Kuning, Martin Van Bruinessen, Penerbit Mizan 1995, halaman 136).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Perhitungan (Primbon) Jawa, Contoh Kasus Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden

Boleh percaya boleh tidak, tapi tidak ada ruginya bila mengikuti nasihatnya.

Dalam membuat sesuatu penilaian terhadap seseorang dan sesuatu peristiwa, cara Jawa menggunakan berbagai metode yang dirumuskan berdasarkan pengalaman empiris ratusan atau bahkan ribuan tahun. Metode-metode itu antara lain neptu, jam kelahiran, hari lahir atau weton, bulan dan tahun Jawa, wuku, pranotomongso, nogo dino, pal, paringkelan, poncosudo, kamarokam dan katuranggan (fisiognomi kalau menurut cara China).

Semua metode perhitungan yang dikenal umum sebagai primbon itu, kecuali katuranggan yang berpedoman pada ciri-ciri fisik dan cahaya serta aura orang, metode-metode yang lain didasarkan pada ciri dan sifat alam semesta yang sangat terinci, yang dianggap bisa memberikan pengaruh kepada seseorang atau sesuatu kejadian. Karena itu, perhitungan ini sesungguhnya bukanlah ramalan gaib, melainkan sebuah ilmu pengetahuan yang sudah teruji dalam jutaan kasus dalam kurun waktu yang panjang. Lantaran tulis-menulis belum menjadi tradisi yang ketat pada orang Jawa zaman dahulu, maka pengetahuan tersebut menyebar dari mulut ke mulut secara turun-menurun. Akibatnya bumbu cerita dan eksesnya tidak bisa dibendung, terutama bumbu-bumbu gaib.

Perhitungan Jawa menghasilkan perkiraan potensi diri dan potensi kejadian, yang disajikan dalam bentuk analisa “kekepan’ atau kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman, beserta antisipasi dan solusinya. Karena itu meskipun seseorang misalkan, memiliki potensi kelemahan dan peluang atau berpontensi terjadinya hal buruk , tidak otomatis semua potensi tersebut akan menjadi kenyataan, asalkan yang bersangkutan bisa tau dan memahami dirinya, selanjutnya dengan itu tau menempatkan dan tau membawa diri. Demikian pula kemungkinan sebaliknya.

Sesunguhnyalah, perhitungan Jawa itu tidak ada bedanya dengan sebuah analisa SWOT (Strong-Weakness- Opportunity –Threat) di era modern ini, yang menggambarkan hal-hal baik seperti kekuatan dan peluang serta hal-hal buruk seperti kelemahan dan ancaman. Seseorang yang memahami kelebihannya dan bisa mendayagunakan dengan baik, lebih-lebih bisa menangkap serta memanfaatkan peluang yang timbul, sementara itu ia juga bisa mengatasi kelemahan dan membendung potensi ancamannya, maka orang tersebut akan sukses dan bahagia dalam kehidupannya.

Sebaliknya, orang yang tidak tau diri, tidak mengenal, tidak memahami dirinya, kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman diri serta kehidupannya, tentu ia akan menjadi orang yang tidak bisa menempatkan diri dan tidak bisa membawa diri. Kekekuatan dan kelebihan dirinya dibiarkan sia-sia, kelemahannya tidak diatasi justru diobral dan ditonjol-tonjolkan, peluang baik disia-siakan, sedangkan ancaman marabahaya disongsongnya bahkan nyaris tanpa persiapan apa-apa. Maka celakalah hidupnya. Naudzubillah.

Dalam prakteknya, karena memang tidak mudah mempelajari semua metode, orang hanya membuat perhitungan berdasarkan satu metode saja, misalkan weton atau hari dan pasaran kelahirannya. Yang dimaksud hari itu ada 7 yaitu Ahad sampai Sabtu, sedangkan pasaran ada 5 yaitu Pahing, Pon, Wage, Kliwon, Legi. Kombinasi hari dan pasaran akan menghasilkan jumlah 35 (tiga puluh lima) weton yang masing-masing akan berulang setiap 35 hari sekali.
Perkiraan keadaan dan analisa SWOT mana yang paling tepat. Tentu saja yang paling banyak menggunakan parameter perhitungan, alias menggunakan berbagai metode secara kombinasi, yang bisa saling melengkapi, mengisi dan memperkuat. Namun demikian itu tidak mudah, sebab memerlukan kecermatan tinggi.

Berikut ini saya sajikan sebuah analisa tentang pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Republik Indonesia yang pendaftarannya dilakukan pada tanggal 19 dan 20 Mei 2014 yang lalu. Agar tidak memihak, saya akan sajikan gambaran umum secara singkat saja berdasarkan pengaruh alam terhadap peristiwa dan manusia pelaku peristiwa tersebut, dan tidak akan menyajikan analisa pribadi apalagi dengan menyebut nama orang.

Kedua pasangan Capres-Cawapres, selanjutnya saya sebut kandidat, sama-sama mempunyai pendirian yang kokoh dan tidak mudah goyah, yang mampu menarik perhatian serta mempengaruhi orang banyak. Mereka royal, suka menghamburkan-hamburkan dana tidak menentu dan berpotensi mengalami kekurangan. Keduanya mudah jatuh hati, terpesona dengan orang atau tokoh. Kalau meminjam istilah play-boy, mereka mudah tergiur dengan wanita dan selalu berusaha memiliki bahkan merebutnya. Apabila tidak bisa menahan diri, akan menjadi sabet sana-sini, tubruk sana-sini.

Salah satu pasangan berpotensi bagaikan api yang berkobar panas, pencemburu dan cenderung membesarkan-besarkan perkara. Tetapi Gusti Allah memang Maha Adil, meski potensial panas, ia selalu siap membantu dan terbuka dalam menerima petunjuk dari orang yang dipercaya dan mempercayainya. Sedang yang satunya bagaikan bulan yang cenderung berbudi luhur dan mencintai kejujuran dan cerdas serta bertanggungjawab. Namun demikian ia pun mudah tersinggung bila disepelekan, dan jika sudah begitu bisa bagaikan bumi yang walaupun pendiam lagi terbuka hatinya bagi orang lain, tapi berpotensi bikin ribut pula.

Pengaruh wuku Galungan dan pranatamangsa Saddha kepada kedua kandidat, memberikan sifat ramah dan tangkas dalam berkampanye, suka menghibur orang lain yang kesusahan, ingin cepat dalam menyelesaikan setiap tugas sehingga bisa grusa-grusu, gegabah lagi pula mudah gusar. Mereka bisa bagai burung elang yang bernafsu besar lagi ganas yang meluncur hendak menerkam anak kambing yang terikat. Menerkam, menerjang, menggilas apa saja.

Pasangan kandidat yang mempunyai ciri bulan, lebih suka menata rumahtangga negara dan mengembangkan pertanian. Mereka berpotensi menjadi penurut jika menemukan kecocokan, sehingga bisa menjadi sahabat yang baik tapi mudah dimanfaatkan orang. Sayangnya, juga sekaligus punya hawa kurang bisa membalas budi dan berani kepada atasan atau senior. Bila ini yang menonjol, sang penurut bisa berubah menjadi susah diredakan.

Sementara itu Sang Api, sesungguhnya berpotensi terkendali jiwanya bila dikelilingi penasehat-penasehat yang dingin. Keahlian dan minatnya luas, tetapi ambisinya yang besar mudah mengundang para pendukung yang menyalakan emosinya. Seperti peribahasa “melik anggendong lali”, ambisi dan nafsu besar untuk memiliki sesuatu bisa membuat kita lupa diri, lupa segala hal baik. Orang bisa menjadi ganas, penghasut, pemfitnah dan berusaha mencapai kehendaknya dengan caranya sendiri. Naudzubillah.

Aura tahun membuat Pemilihan Presiden (Pilpres) ini bisa seperti sebuah drama petualangan yang berlangsung cepat dan campur aduk, penuh romantisme, kegembiraan, impulsif, liar ugal-ugalan, sembrono, menguras tenaga dan dibayangi oleh frustasi serta kehampaan. Maka siapa yang bisa mengendalikan diri, dingin, jernih serta mengelola tim dengan baik akan bisa meraih kemajuan.

Oleh sebab itu yang harus diwaspadai oleh kedua kandidat beserta para pendukungnya adalah potensi mudah marah, cepat tersinggung dan besar irihatinya terhadap yang lain. Agar persaingan merebut RI-1 dan RI-2 berlangsung baik dan tidak memicu hura-hara besar, sebaiknya para kandidat mencari penasehat-penasehat yang dingin dan jernih bagaikan air dari telaga makrifat yang dalam dan tenang, serta sungguh-sungguh menghindari kampanye hitam, fitnah dan kecurangan. Kedua kandidat harus bisa menahan diri serta menghormati satu sama lain, mengendalikan para pendukungnya dan menghayati hakekat Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, serta taat dengan sesungguh-sungguhnya taat kepadaNYA. Kalau saja pendaftaran bisa dilakukan antara hari Rabu – Sabtu (21 – 24 Mei 2014) potensi aura positif akan lebih besar.

Sementara itu masyarakat luas jangan mudah terpancing ikut memperkeruh suasana dengan menyebarluaskan fitnah dan kampanye hitam yang menyesatkan, yang bisa menimbulkan luka mendalam sekaligus dimurkai Gusti Allah Yang Maha Suci. Janganlah kita terpancing menjadi sok tahu, sok bersih, sok suci serasa memegang kunci pintu surga. Memang kita harus berani menegakkan amar makruf nahi munkar, namun hendaklah kita adil dan waspada, sungguh-sungguh tahu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, bukan karena sekedar kata atau foto dan berita kiriman teman. Jangan lupa, kita masing-masing akan memanen buah perbuatan kita sendiri. Maka jika anda tidak ingin tersapu badai, janganlah suka menabur angin, menyebarkan gibah dan fitnah.

Para ulama nan bijak bestari dan TNI/Polri harus bisa berdiri tegak secara netral, menjadikan dirinya bagaikan air sejuk yang bisa mendinginkan suasana panas nan membara, dan bukan sebaliknya ikut-ikutan memperbesar nyala api permusuhan. Bisa menjadi bagaikan tali pengikat sapu lidi, bisa menjadi lem yang merekatkan serpihan-serpihan kayu atau tatal, menjadi sebuah tiang seperti tiang Masjid Agung Demak yang kokoh kuat.

Aura abad, bumi dan langit sungguh sedang kurang berpihak kepada negara kepulauan seperti Nusantara kita ini. Yang bila kita tidak hati-hati dan bijaksana dalam bertindak, bahaya perpecahan bangsa dan negara akan menerjang. Dalam kondisi yang seperti ini kita semua harus mengutamakan persatuan dan persaudaraan dengan pelukan kasih sayang yang menenangkan dan menenteramkan satu sama lain.

Demikianlah sahabatku, sekilas catatan selingan di tengah hiruk pikuk menjelang kampanye Pemilihan Presiden.

Jumat, 23 Mei 2014.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Hadis tentang Berdebat: Jangan Suka Main Takwil-Takwilan dan Berdebat

Imam Baihaqi, ahli hadis terkemuka dan pengikut mazhab Syafii meriwayatkan, pada suatu waktu Kanjeng Nabi Muhammad menyaksikan sejumlah orang berdebat seru tentang takdir. Melihat itu, merah padam muka beliau dan lalu berpidato: “Sesatnya orang-orang yang dulu itu karena suka berdebat, antara lain tentang qadha dan qadar. Orang-orang yang pada mulanya benar, tapi kemudian sesat itu, dimulai karena suka berbantah-bantahan”. Beliau melanjutkan, sebagian besar dari penghuni surga itu adalah orang-orang yang pikirannya sederhana saja.

Berdasarkan hadis tersebut, maka banyak ulama, mursyid dan perkumpulan tarekat yang mengatur adab buat para muridnya untuk meninggalkan perdebatan, tebak-tebakan serta pertengkaran tentang sesuatu pembahasan ilmu, sebab yang demikian itu acapkali membangkitkan takabur, ujub-riya, menimbulkan kealpaan dan kekeruhan. Ulama terkenal, mursyid pada Majelis Al-Ghazaly – Bogor, KH. Abdullah bin Nuh, secara tegas melarang kita main takwil-takwilan apalagi terus diselingi ayat Qur’an. “Jangan mengobrol tak karuan”, pesannya.

Ada sekitar belasan sampai duapuluhan adab murid penganut perkumpulan-perkumpulan tarekat, salah satunya yang lazim ada ialah meninggalkan tanya-menanya dan perdebatan, apalagi pertengkaran tentang sesuatu pembahasan ilmu, karena yang demikian itu acapkali membawa manusia kepada kealpaan dan kekeruhan. Jikalau sesuatu perdebatan sudah terjadi, maka segeralah minta ampun kepada Allah, dan meminta diri kepada mereka yang ingin melakukan perdebatan atau melanjutkan pembahasan itu. Demikian pula, seorang murid harus mencegah perdebatan tentang diri orang lain.

Semoga kita semua senantiasa dikaruniai hidayah untuk bisa menghindari perdebatan sebagamana tersebut di atas, serta dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-NYA yang rendah hati dan ikhlas. Aamiin.

KEBERHAMBAAN.

Ya Allah
Ya Khaaliq – Ya Qudduus
Ya Malik – Ya ‘Azhiim
Ya Qaadir – Ya Muqtadir
Ya Jabbaar – Ya Salaam

Duh Gusti, Sang Maha Sutradara
hamba ini adalah bidak Paduka
yang tak pernah punya hak ikut campur urusan Paduka
juga tak punya hak mengurusi kewenangan Paduka
dalam mengatur peran nasib bidak-bidak Paduka
kalau pun hamba berdoa dan meminta
itulah penegasan
bukti penghambaan dan ketakberdayaan hamba
karena itu tenangkanlah jiwa hamba
untuk senantiasa berserah diri
dalam limpahan kasih sayang Paduka.

 

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized