Bagaimana Mengamalkan Suluk Kidung Kawedar Sunan Kalijaga.

Kajian & Latihan Seni Mocopat Seri 4, Sabtu Wage, 7 Mulud 1951 (25 November 2017).

Kajian Mocopat Paguyuban Suluk Nusantara Sabtu tg 28 Oktober 2017 tentang Serat Centhini Bab Obat-Obatan, ditutup dengan uraian bahwa ramuan obat hanyalah salah satu sarana.Masih ada sarana lain seperti disinggung dalam Bab 253 Centhini yaitu waktu pengobatan yang tepat. Di samping itu masih diperlukan jalan yang berupa penyatuan secara harmonis antara cipta-rahsa-karsa. Itu pun masih belum cukup. Demi memperoleh kesembuhan dan kesehatan yang barokah, harus punya landasan hakikat penyembuhan, yakni kersaning Allah, ridho Gusti Allah. Bagaimana meraihnya? Insya Allah dalam Kajian Bagaimana Mengamalkan Ajaran Suluk Kidung Kawedar Sunan Kalijaga hal tersebut akan kita bahas secara bertahap, setapak demi setapak. Untuk itu marilah kita simak dan tembangkan:

Bait 6 :

Wiji sawiji mulane dadi,

apan pencar saisining jagad,

kasamadan dening Date,

kang maca kang angrungu,

kang anurat miwah nyimpeni,

dadi ayuning badan,

kinaryo sesembur,

yen winacakna ing toya,

kinarya dus rara tuwa aglis rabi,

wong edan nuli waras.

Artinya :

Semula hanyalah sebuah benih,

kemudian tersebar memenuhi alam raya,

karena berkah dari Dzat (Yang Maha Kuasa),

siapa yang membaca dan mendengar

(tentang hal itu),

siapa yang menuliskan maupun yang menyimpan,

akan memperoleh keselamatan,

bisa dijadikan doa,

yang bila dibacakan di air,

dipakai mandi perawan tua akan cepat menikah,

orang gila pun menjadi sembuh.

Bait 7 :

Lamun ana wong kadhendha kaki,

wong kabanda lan kabotan utang,

yogya wacanen den age,

ing wanci tengah dalu,

ping salawe wacanen ririh,

luwar ingkang kabanda,

kang kadhendha wurung,

aglis nuli sinauran,

mring Hyang Suksma kang utang puniku singgih,

kang agring dadi waras.

Artinya :

Bila ada orang yang didenda

(maksudnya di sini dihukum),

orang yang diikat tangannya

(maksudnya ditangkap) dan terbelit hutang,

baik bila segera membaca (kidung ini),

di kala tengah malam,

sebanyak 25 kali secara lirih,

yang ditangkap akan dilepaskan,

yang dihukum akan bebas,

(yang berhutang) akan segara dibayarkan,

oleh Sang Hyang Suksma (Tuhan Yang Maha Gaib)

sehingga yang berhutang menjadi baik namanya,

yang sakit menjadi sembuh.

Bait 8 :

Sapareke bisa anglakoni,

amutiha lawan anawaa,

patang puluh dina wae,

lan tangi wektu subuh,

miwah sabar sukur ing Widhi,

Insya Allah tinekanan,

sakarsa nireku,

tumrap sanak rayatira,

awit saking sawab pangiketing ngelmi,

duk aneng Kalijaga.

Artinya :

Barang siapa dapat melakukan,

berpuasa dengan hanya makan nasi dan air putih saja

(tawar serta tanpa garam dan gula),

selama 40 hari,

dan bangun di kala subuh,

serta sabar dan bersyukur kepada Yang Maha Esa,

Insya Allah terkabul,

segala kehendaknya,

bagi sanak saudara dan kerabat,

berkat karomah ilmu,

yang diperoleh tatkala menjadi Penjaga Sungai (beruzlah di pinggir sungai).

Bait 9 :

Lamun arsa tulus nandur pari,

puwasaa sawengi sadina,

iderana galengane,

wacanen kidung iku,

kabeh ama pan samya wedi,

yen sira lunga aprang,

wateken ing sekul,

antuka tigang pulukan,

mungsuhira sirep datan nedya wani,

rahayu ing payudan.

Artinya :

Bila menghendaki sukses dalam bertanam padi,

berpuasalah semalam sehari,

kelilingi pematang sawahnya,

seraya membaca Kidung ini,

maka semua hama akan takut,

bila kau hendak berangkat perang,

bacakan kidung ini pada nasi,

makanlah sebanyak tiga suapan tangan,

maka keberanian musuhmu akan lenyap,

sehingga selamat di medan perang.

Kidung Kawedar atau Kidung Rumekso Ing Wengi ini disyiarkan ke masyarakat pada saat budaya tulis belum berkembang, maka sungguh tepat dibuat dalam bentuk tembang mocopat sehingga segera disenangi masyarakat. Bahkan sampai sekarang, bisa dipastikan semua grup kesenian Jawa khususnya karawitan atau gamelan Jawa, para dalang pewayangan dan pesinden (penyanyi tembang-tembang Jawa), tak peduli Islam atau bukan, bisa menyanyikan Kidung Kawedar.

Namun demikian lantaran panjang, yaitu terdiri dari 46 pupuh atau bait, jarang yang hafal semuanya di luar kepala. Begitu pun dalam hal isi baris, kadang-kadang ada perbedaan meski pun hanya kecil dan tidak terlalu mendasar. Sebagai contoh pada bait 2, kata terakhir dari baris kedua ada yang menyebut mirunda dan ada yang miruna, baris ketiga pangulune dan ada yang pandulune, baris ketujuh ada yang menyebut tutut ada pula yang lulut. Kemudian baris kesembilan bait 6, ada yang menyebut rabi dan ada pula yang laki. Baris kelima bait 8, ada yang menyebut miwah tapi ada juga yang lan den. Yang agak berbeda makna adalah bait 5 baris kedua, karena ada yang berbunyi kang minangka rahayuning ngangga, sedangkan versi lain Siti Aminah rahyuning angga.

Dalam hal versi tulis, kita bersyukur seni sastra di Keraton Kasunan Surakarta berkembang pesat pada abad XVII – XIX, sehingga Kidung Kawedar ini bisa dihimpun dalam huruf Jawa. Selanjutnya oleh pujangga Kyai Ronggo Sutrasno, himpunan tersebut disalin ke dalam huruf Latin, dan oleh R.Wiryapanitra Kusumodiningrat, dibuatkan terjemahannya. Terjemahan serta tafsir pertama Kidung Kawedar itu pada tahun 1912 dicetak oleh Penerbit Tan Koen Swi, Kediri.

Dari versi penerbit Tan Koen Swi inilah kita sekarang bisa menemukan Kidung Kawedar secara lengkap 46 bait, baik dalam bentuk berbagai cetakan maupun versi media sosial online, antara lain di blog http://alangalangkumitir.wordpress.com/2010/10/27/serat-kidungan-kawedar/ sebagaimana penulis baca pada 20 September 2014. Dalam bentuk buku saku, versi R.Wiryapanitra tersebut dengan beberapa perbedaan kecil, juga diterbitkan oleh Dahara Prize, Semarang 1995. Meski berasal dari sumber yang sama terdapat sejumlah perbedaan antara versi Dahara dan versi online Alangalang Kumitir.

Dalam tafsir ini, penulis menggunakan semua sumber tersebut, terutama bait-bait versi cetak Dahara Prize, dengan beberapa perubahan sesuai pengalaman serta rasa batin penulis, sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di daerah Pantura Jawa, yang semenjak kecil sudah agak akrab dengan tembang-tembang ciptaan Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga.

Dalam bait ketiga sampai dengan kelima, Sunan Kalijaga memperkenalkan istilah dan nama-nama tokoh yang bagi orang Jawa betul-betul baru sama sekali. Ada malaikat, rasul, Adam, Musa, Isa, Yakob, Yusuf, Dawud, Sulaeman, Ibrahim, Idris, Ayub, Nuh, Yunus, Muhammad, Abubakar, Umar, Usman, Ali dan Fatimah.

Memang Kidung Kawedar tidak menjelaskan secara terinci sejarah dari para nabi, sahabat dan keluarga Kanjeng Nabi Muhammad tersebut. Tetapi marilah kita coba menerapkan pada diri kita sendiri, baik dalam posisi sebagai penutur atau pun sebagai pendengar. Selaku pendengar, kita pasti ingin tahu lebih jauh tentang tokoh yang disebut penutur memiliki kemampuan dan karomah luar biasa, sehingga patut menyatu dalam diri kita, yang selanjutnya akan kita jadikan sebagai senjata andalan dalam kehidupan.

Sebaliknya sebagai penutur, kita pun akan berusaha menjelaskan lebih terperinci siapa tokoh-tokoh atau orang-orang yang kita jagokan, dan mengapa patut kita jadikan panutan serta andalan. Oleh sebab itu tidak mengherankan apabila bagi masyarakat Jawa kebanyakan meskipun Islam Abangan bahkan Islam KTP, yaitu mengaku beragama Islam sekedar demi mengisi kolom agama dalam Kartu Tanda Penduduk, sedikit banyak akan mengenal misalkan Nabi Nuh dengan kisah perahunya dan Nabi Yusuf yang selalu dijadikan idola dalam berdoa selamatan atau tasyakuran tujuh bulan kehamilan.

Dalam doa memohon keselamatan bagi ibu dan bayi yang sedang dikandungnya, sekaligus juga dipanjatkan harapan agar sang bayi memiliki aura ketampanan Nabi Yusuf, yang dikisahkan di dalam suatu perjamuan ibu-ibu, para hadirin diminta masing-masing mengupas buah-buahan dengan sebilah pisau nan tajam. Guna menguji reaksi ibu-ibu itu, maka pada saat seperti itu Nabi Yusuf diminta melintas. Apa yang terjadi? Hadirin terpana dengan ketampanan Nabi Yusuf, sampai-sampai tanpa sadar mereka salah kupas buah, bukan buah-buahan melainkan menggores tangannya sendiri sehingga terluka.

Siapakah yang tidak ingin anak keturunannya tampan atau cantik? Begitu luar biasa ketampanan Nabi Yusuf, sampai menjadi idaman agar Gusti Allah berkenan mengaruniakan kepada sang jabang bayi, agar jika lahir pria akan tampan dan bila perempuan akan cantik jelita.

Pengetahuan terhadap agama baru dengan para tokoh panutannya tersebut, menjadi benih keyakinan. Meskipun baru atau hanya sebutir, benih itu akan tumbuh subur beranak pinak menyebar ke segenap penjuru dunia, ke jagad raya, karena memperoleh berkah dari Dzat Yang Maha Kuasa. Keyakinan itu akan membuahkan keselamatan kepada siapa saja yang membaca, yang menyimak mendengarkan, yang menuliskan dan yang menyimpannya. Bahkan bisa menjadi sumber segala doa, yang bila dibacakan di air dan airnya dipakai mandi oleh seorang perawan tua, maka sang perawan akan segera menemukan jodohnya dan segera menikah. Jika diberikan kepada orang gila maka insya Allah akan sembuh (bait 6).

Dalam bait 6 terdapat kata sesembur, yaitu salah satu cara pengobatan atau pemberian doa restu, yang biasa dilakukan oleh orang yang dituakan atau yang dianggap memiliki kemampuan batin yang tinggi. Setelah berdoa, si orang tua kemudian dengan mulutnya, meniup sampai mengeluarkan bunyi desis ke ubun-ubun atau dahi atau bagian-bagian tertentu si sakit atau orang yang didoakan.

Dengan berkah Dzat Yang Maha Kuasa itu pula, keyakinan yang ditanamkan oleh Kidung Kawedar, mampu menolong orang-orang yang sedang berperkara, yang dihukum, ditahan dan yang terbebani hutang (bait 7). Persis seperti Gusti Allah menolong para nabi dan rasul yang menghadapi kesulitan betapa pun beratnya. Api yang dinyalakan oleh punggawa Raja Namrud untuk membakar Nabi Ibrahim, dengan pertolongan Dzat Yang Maha Esa, Yang Maha Gaib, berubah menjadi sedingin air; bahtera Nabi Nuh mampu menampung dan menyelamatkan makhluk-makhlukNya demi meneruskan kehidupan; Nabi Yunus yang ditelan ikan bisa keluar dengan selamat; demikian pula pertolongan Allah Swt kepada para Nabi yang lain termasuk Nabi Muhammad Saw. dan para sahabatnya.

Dalam upaya menghayati dan memperoleh hakikat dari Kidung ini, Sunan Kalijaga tidak langsung mengajarkan tatacara peribadatan yang baru, melainkan mengikuti adat kebiasaan masyarakat, yaitu dengan menjalankan puasa mutih selama 40 hari penuh siang malam (bait 8). Puasa mutih yaitu pantang tidak memakan makanan dan meminum minuman yang diberi rasa nikmat seperti asin dan manis. Orang yang sedang mutih, hanya boleh makan nasi putih, meminum air putih dan buah-buahan segar yang tidak diolah. Mengenai puasa mutih ini, lebih lanjut bisa dilihat di buku kami Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan halaman 33, 35 dan 105, yang juga bisa diunduh melalui e-bookdi blog https://islamjawa.wordpress.com.

Puasa putih bermanfaat buat mengendalikan hasrat binatang yang kasar atau nafsu hewani, nafsu dan syahwat akan pesona dunia atau materi, sekaligus membangkitkan kekuatan nabati nan lembut yang bersemayam dalam hati nurani manusia beserta pikirannya. Orang yang berhasil mengendalikan karsa dengan nafsu hewaninya yang egois dan kasar, menjadi karsa dengan nafsu nabatinya yang bersifat rohani dan spiritual nan lembut penuh kasih sayang, dipercaya memiliki energi dan kemampuan spiritual yang luar biasa hebat. Tentu saja untuk itu tidak hanya sekedar menjalani puasa mutih.

Selama 40 hari si pelaku harus bangun di waktu subuh, serta senantiasa bersikap sabar dan bersyukur kepada Yang Maha Kuasa. Jika ia bisa melakukan itu semua, insya Allah, ia akan senantiasa dibimbing dan tercerahkan, sehingga bila memiliki keinginan akan dikabulkan serta akan memberikan manfaat kepada sanak keluarga dan kaum kerabat bahkan rakyat. Semua itu diajarkan berdasarkan karomah yang dianugerahkan kepada sang pengarang kidung tatkala sedang menjalani uzlah dan bermunajat di pinggir sungai, bagaikan seorang penjaga sungai atau kali. Dialah Sang Kalijaga yang beruzlah di tengah hutan di pinggir kali di daerah Cirebon selama beberapa tahun.

Perihal makanan dan minuman ini, Kanjeng Nabi Muhammad saw juga sudah berpesan, “ Ketika sesuap haram jatuh pada perut anak cucu Adam , semua malaikat di bumi dan langit memberi laknat padanya selama suapan itu berada dalam dirinya, dan kalau ia mati dalam keadaan begitu maka tempatnya adalah jahanam (Hadis riwayat At-Tabrani, Ibnu Umar dan Ahmad). Lantas berapa lama suapan, dalam hal ini makanan dan atau minuman itu berada di dalam tubuh manusia? Makanan dan minuman yang masuk ke tubuh diolah menjadi sel jaringan tubuh dan sel darah merah. Sel jaringan akan mengalami peremajaan setiap 40 hari, sedangkan sel darah merah setiap 100 hari. Itu berarti sesuap haram yang masuk ke tubuh kita baru akan betul-betul hilang setelah 100 hari (Bertasawuf Di Zaman Edan, halaman 243).

Selanjutnya Kanjeng Nabi juga bersabda, “Demi jiwaku yang berada di tanganNya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal-amalnya selama 40 hari, dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil yang haram, maka neraka lebih layak baginya” ( HR.At –Tabrani). Bahkan lebih tegas lagi beliau menyatakan, “Siapa saja yang membeli pakaian dengan sepuluh dirham, sedang di dalamnya terdapat dirham dari barang haram, maka Allah tidak akan menerima shalatnya selagi pakaian itu ada pada dirinya.” (HR Ibnu Umar dan Ahmad).

Apa hakikat dari uraian di atas? Agar keinginan dan doa kita dikabulkan oleh Gusti Allah, agar kita bisa menjadi hamba-hambaNya yang apabila mempunyai keinginan dan berdoa dikabulkan Gusti Allah, maka lahir batin kita harus suci, termasuk suci dari segala barang haram, yang masuk maupun yang melekat pada tubuh kita. Padahal menyucikan diri tidak mudah. Untuk itu diperlukan latihan, diperlukan polesan-polesan batin antara lain dengan berzikir atau senantiasa mengingatNya, baik dengan melantunkan ayat-ayat suci ataupun kalimat-kalimat dzikir termasuk yang dikemas dalam bentuk Kidung Kawedar ini. Namun itu pun masih belum cukup, tapi harus disertai dengan jiwa raga yang bersih, yang suci dari segala zat dan barang yang haram, yang jika ada yang sudah terlanjur masuk ke dalam tubuh maka harus dibersihkan, selama 40 hari terhadap sel jaringan tubuh, bahkan agar lebih sempurna lagi dilanjutkan menjadi selama 100 untuk membuang sel-sel darah merah yang tercemar tadi, dan menggantinya dengan sel-sel yang suci sama sekali. Tentu yang paling utama adalah sesudah itu untuk selamanya kita harus menghindari semua zat dan barang yang haram.

Kembali dalam bait 8 ini, Sunan Kalijaga memperkenalkan dua istilah baru yakni subuh dan insya Allah. Pembahasan secara lebih rinci tentang insya Allah, juga bisa dilihat di buku Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan halaman 142 – 143. Bagi kita sekarang, 5 – 6 abad kemudian, dua istilah itu bukanlah sesuatu yang baru lagi asing, lantaran sudah menyatu dalam kehidupan kita sehari-hari. Tetapi bagi masyarakat abad ke XV – XVI, tentu menimbulkan pertanyaan dan memancing rasa ingin tahu. Subhanallaah, maasyaa-Allaah.

(B.Wiwoho, Paguyuban Suluk Nusantara : dikutip dengan sedikit koreksi dari buku penulis : ISLAM MENCINTAI NUSANTARA, Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, penerbit Pustaka IIMaN).

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

RESEP OBAT-OBATAN DALAM SERAT CENTHINI & PRIMBON JAWA

Bismillahirrohmanirrohim.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa, dikenal banyak sekali ramuan obat-obatan tradisional yang lazim disebut jamu atau bahasa Jawa halusnya jampi. Ada ramuan untuk ibu hamil dan bayi yang dikandungnya, ramuan untuk sehabis melahirkan, ramuan untuk sang bayi, ramuan untuk membuat hubungan suami isteri menjadi harmonis saling memuaskan serta membahagiakan satu sama lain, ramuan untuk aneka penyakit sampai ramuan dupa setanggi menjaga jenazah yang belum dikuburkan agar aroma ruangan tempat jenazah di semayamkan wangi semerbak.

Ramuan atau resep obat tradisional tersebut dimiliki banyak orang-orang tua di zaman dulu sebagai catatan pribadi dan di buku-buku primbon. Sedangkan yang tertuang dalam bentuk tembang, bisa dijumpai dalam Serat Centhini Bagian atau juz XIII, Bab 251 sampai 253.

Serat Centhini atau juga disebut Suluk Tambanglaras atau Suluk Tambangraras-Amongraga, merupakan salah satu karya sastra terbesar dalam kesusastraan Jawa Baru. Serat Centhini oleh para ahli sastra sering disebut sebagai Ensiklopedi Jawa, karena menghimpun segala macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa, yang disampaikan dalam bentuk tembang, dan penulisannya dikelompokkan menurut jenis lagunya.

Serat atau kitab setebal lebih dari 4000 halaman dalam huruf dan bahasa Jawa yang dihimpun menjadi 12 jilid ini, digubah oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom, putra Susuhunan atau Sunan Pakubuwana IV di Surakarta, , yang kemudian bertakhta menggantikannya sebagai Susuhunan Pakubuwono V (1820 – 1823M). Ia dibantu oleh tiga orang pujangga senior dan sejumlah pujangga lainnya, yang demi penyusunannya, harus disebar mengembara ke berbagai daerah termasuk menunaikan ibadah haji. Mereka adalah Raden Ngabehi Ronggosutrasna, Raden Ngabehi Yosodipuro II dan Raden Ngabehi Sastrodipuro.

Ronggosutrasno bertugas menjelajahi pulau Jawa bagian timur, Yosodipuro II bertugas menjelajahi Jawa bagian barat, sedangkan Sastrodipuro bertugas menunaikan ibadah haji dan menyempurnakan pengetahuannya tentang agama Islam , yang kemudian mengganti nama menjadi K.H.Ahmad Ilhar.Sengkala Serat Centhini, berbunyi paksa suci sabda ji yang berarti tahun Jawa 1742 atau 1814 Masehi, masih dalam masa pemerintahan Sunan Pakubuwana IV (1813 – 1820M ).

Tiga bab dari Serat Centhini yang membahas tentang obat-obatan tersebut ditembangkan dalam Sekar Lonthang sebanyak 78 bait, tembang Balabak 36 bait dan tembang Salisir 40 bait. Pujangga Raden Ngabehi Ronggowarsito dalam serat Mardowo membagi tembang-tembang Jawa ke dalam tigsa golongan, yaitu Tembang Gedhe atau Sekar Ageng, Tembang Tengahan dan Tembang Mocopat atau Sekar Alit. Tembang Lonthang dan Balabak termasuk dalam Tembang Tengahan yang memiliki aturan seperti tembang macapat yaitu guru lagu dan guru wilangan. Namun, cengkok dan lagunya menggunakan Sekar Ageng atau Tembang Gedhe.

Sedangkan Salisir adalah “cakepan gerongan/sindhenan” yang pada umumnya berupa “wangsalan”, saling bebas berpantun sahut-menyahut, berupa empat larik/baris dari Tembang Gedhe. Gerongan yang paling populer atau sering digunakan dalam seni karawitan atau gamelan Jawa adalah sebagai berikut:

  • Parabe Sang Smarabangun,
  • sepat domba kali Oya,
  • aja dolan lan wong priya,
  • gung remeh (gerameh) nora prasaja,”
  •      “Garwa Sang Sindura Prabu,
  •        wicara mawa karana,
  •        aja dolan lan wanita,
  •      tan nyata asring katarka” dan seterusnya.

RESEP OBAT DALAM SERAT CENTHINI. Berikut ini beberapa contoh racikan atau resep obat dalam Serat Centhini:

Dalam Tembang Lonthang.

Jampi benter-etis, wonten kawan warna, kang sawarna: sedhah kapanggih rosira, bengkle dlingo ron ringin temu langya.

Kang dwi warni: ebungipun pisang saba, podhisari murmak dagi asem kresna, apan sami binorehaken sarira.

Katri warni apan namung aben tiga, temu kunir brambang binenem punika,

ugi sami binorehken patrapiro.

Catur warni nanging den-unjuk punika: beras adas kunci mrica kumukusnya, brambang cabe gendhis sawatara.

Bab 251 yang terdiri dari 72 bait tersebut, mengisahkan pengembaraan rombongan Mas Cebolang, menuju sebuah daerah yang dari jauh memancarkan cahaya. Setelah didekati cahaya tersebut hilang, namun di tempat itu mereka bertemu dengan Ki Wanakarta dan isterinya yang sangat mumpuni dalam ilmu pengetahuan. Mereka berguru tentang berbagai hal kehidupan manusia, antara lain obat-obatan. Contoh empat bait di atas adalah obat untuk orang sakit panas tinggi tetapi badannya menggigil kedinginan, berupa empat macam obat.

Dalam Tembang Balabak.

Ki Saloka tanya malih mring ni wisma, jampine, ingkang tumrap dumatheng jaler kewala, pedahe, bilih wonten enggal kawedharena, saene.

Nyai wisma mesem lah ngangkah punapa, sarehne, tiyang sepuh wus nir walangsangkerira, milane, kula weca usada tumrap priya, clemede.

Jampi apes: lung pare tri punggel lawan, benglene, tigang iris pinipisa ingkang lembat, nulya ge, ingurutken dhumateng dedakira, wratane.

Catatan: Bab 252 Serat Centhini ini banyak memberikan berbagai ramuan obat kuat bagi pria. Namun karena agak seronok, maka hanya saya kutipkan satu contoh saja. Bagi yang berminat lebih jauh silahkan membaca langsung dari Serat Centhininya.

Kagem loloh: bendha laos wewahira, bendhane, ingatengan among satunggal kalawan, laose, sapalihe (n)dhas-ayam mung tumrap wreddha, ekase.

Bilih mencret: brambang puyang eron sabrang, wewahe, sadayeku pinipis sareng sadhekan, ingombe, amung bendha laos punika inguntal, patrape.

Bab 252 yang terdiri dari 36 bait itu, menceritakan dialog Ki Saloka yang sambal senyum malu menanyakan resep obat kuat bagi kaum pria kepada Nyi Wanakarta, yang kemudian menjelaskan berbagai jenis resep.

Dalam Tembang Salisir.

Sampun jinentreh sadaya, nyi wisma malih wacana, humanduke kang usada, mrih istijab utaminya.

Saestu kedah ngupaya, ari wuku tigang dasa, pinilih kang pratelakna, asung usada waluya.

Kemis Legi wuku Sinta, lenggahe anjampenana, sakit mripat punika, saestu dadya waluya.

Ngat Kliwon Tolu wukunya, punika usadanana, sadhengah raga tiarda, tartamtu dumadya mulya.

Slasa Wage Gumbreg ika, lenggahe anjampenana, tiyang ewah kang saking raga, mantuka engetanira.

Bab 253 yang terdiri dari 40 bait di atas, menguraikan perihal waktu yang paling tepat buat mengobati sesuatu jenis penyakit, yang dilanjutkan dengan nasihat mengenai watak, sifat dan perilaku manusia, misalkan yang suka padu, yaitu berantem baik mulut maupun fisik seperti anjing; manusia yang sok berlagu seperti badak, manusia yang sok mengandalkan kebesaran dirinya bagaikan gajah dan lain sebagainya seperti contoh berikut:

Yen jalma sok dhemen padu, punika kawongan asu, lamun ginitikan iku, tan na nulung ngaru-biru.

Wong ladak kawongan warak, kumalungkung ngoyak-ngoyak, tan welas ragane gupak, endhut temah gelis rusak.

Agahan kawongan gajah, ngendelken gung luhur miwah, telale gadhinge branggah, blaine lali ing tingkah.

Resep Obat Dalam Primbon.

Masyarakat Jawa memiliki sejumlah Primbon yaitu semacam buku pintar, yang berisi berbagai hal yang menyangkut kehidupan termasuk obat-obatan, yang disusun berdasarkan pengalaman atau data empiris, yang dihimpun dari masa ke

masa baik secara tertulis maupun secara tutur. Satu kelemahan dalam hal obat-obatan, sampai sekarang belum banyak yang didukung dengan uji klinis secara modern, padahal dalam kehidupan sehari-hari kita jumpai berbagai merek obat dan aneka jamu tradisional. Sebagai koleksi masyarakat umum, dan bukan karya sastra, tentu saja ramuan tersebut tidak disajikan dalam bentuk tembang.

Dari sekian banyak resep obat, yang terbanyak adalah obat untuk kesehatan pasangan suami isteri atau obat untuk pria dan wanita dewasa. Dari berbagai sumber, penulis menghimpun untuk pria dan wanita masing-masing tidak kurang dari 60 jenis obat. Mengapa? Karena mereka adalah tiang utama rumahtangga atau keluarga, sehingga harus sehat dan kuat lahir batin. Obat-obatan itu mencakup banyak hal, mulai dari kesehatan fisik secara umum, menjaga kebugaran, menjaga bau badan dan semua hal yang di sekitar babahan hawa sanga (sembilan lubang manusia), resep untuk mencapai hubungan badan suami isteri supaya harmonis dan saling memperoleh kepuasan serta saling membahagiakan, resep agar memiliki keturunan yang sehat, merawat ibu hamil serta bayi di dalam kandungannya, perawatan setelah melahirkan dan lain-lain, misalkan:

Jamu lemah syahwat:

Bahan-bahan: satu ons jahe, satu butir telur ayam kampong, satu butir jeruk limau/nipis yang besar, satu sendok makan kecap manis, satu sendok makan madu asli, tujuh butir merica dan tiga lengkuas.

Cara membuatnya, jahe diperas dan diambil airnya, telur dikocok sampai halus, jeruk diperas diambil airnya, merica ditumbuk halus, campurkan kecap dan madu kemudian dikocok sampai tercampur merata. Diminum sore atau malam hari menjelang berhubungan, sedangkan ampasnya diseduh dengan air hangat-hangat kuku untuk dibalurkan pada “senjata pria” setelah selesai berhubungan suami isteri.

Menjaga agar tubuh wanita langsing tapi padat berisi.

Secara umum, agar tubuh padat dan sehat adalah dengan mengurangi sebanyak mungkin minum sehabis makan, sehingga enzim serta bakteri sehat dalam perut bisa bekerja secara optimal, dan tidak menurun kadar kepekatannya karena air yang kita minum. Khusus untuk wanita, buatlah segelas teh kental pahit yang dicampir air dari perasan satu butir jeruk nipis. Minumlah setengah gelas di pagi hari dan setengah gelas di sore hari.

Jamu agar wanita sehat dan mudah mencapai puncak kenikmatan.

Bahan-bahannya: adas pulosari 2 sendok makan, madu asli 2 sendok makan, kuning telur 2 butir, daun pepaya muda 3 lembar, merica hitam 10 butir. Adas pulosari dan merica ditumbuh sampai halus, demikian pula daun papaya ditumbuk halus dan diperas airnya. Campur sampai merata ketiga bahan tersebut dengan kuning telor, kemudian tambahkan madu dan aduk lagi sampai merata. Hasilnya diminum sekaligus seminggu sekali.

Obat batuk.

Banyak macam obat batuk, untuk itu saya ambilkan dua macam.

Pertama, parut kencur sampai halus dan peras airnya, kemudian campur dengan madu asli secukupnya. Bisa membuat sekaligus sampai memperoleh campuran sebanyak satu cangkir dan disimpan di kulkas. Sebelum diminum keluarkan dari kulkas agar tidak terlalu dingin. Untuk anak-anak minumkan satu sendok makan tiga kali sehari, sedangkan untuk dewasa dua sendok. Jika batuk parah, bisa sampai empat kali sehari.

Kedua, daun pare diperas diambil airnya, diminum seperti obat pertama.

Jamu sakit pinggang karena bekerja atau olahraga berat.

Ambil 8 lembar daun alpukat yang segar dan bagus, tidak terlalu muda dan juga tidak tua, direbus dengan 2 gelas air sampai menjadi tinggal satu gelas. Embunkan di malam hari, yaitu taruhlah di udara bebas yang aman dari berbagai gangguan dan kotoran agar bercampur dengan embun malam. Pagi hari diminum dan lakukan selama satu minggu.

Demikianlah sekedar contoh dari banyak ramuan obat tradisional, yang sayangnya, belum diuji secara klinis. Meskipun demikian secara umum, mencoba obat-obatan tradisional terutama ramuan herbal tidaklah terlalu mengkhawatirkan dibanding obat kimiawi. Sudah barangtentu kita bisa merasakan sendiri setelah dua atau tiga kali minum, apakah tubuh kita bisa menerima dan melanjutkan atau menolak dan menghentikan.

Hakikat Penyembuhan.

Di atas itu semua, dalam ajaran tasawuf Jawa yang sangat kental mewarnai Serat Centhini serta berbagai Primbon Jawa, ada satu ajaran yang menggariskan

bahwa ramuan obat yang kita akan gunakan, hanyalah salah satu sarana. Masih ada sarana lain seperti sudah disinggung dalam Bab 253 (Tembang Salisir). Di samping sarana, masih diperlukan jalan, yang berupa penyatuan secara harmonis antara cipta, rahsa dan karsa. Itu pun masih belum cukup. Demi memperoleh kesembuhan dan kesehatan yang barokah, harus dilandasi oleh hakikat penyembuhan, yakni kersaning Allah. Gusti Allah ngabulake. Dengan ijin dan ridho Gusti Allah Yang Maha Menyembuhkan hamba-hambaNya.

Bagaimana meraihnya? Insya Allah kita bahas dalam waktu yang tepat.

(Sumber: Serat Centhini, Bertasawuf Di Zaman Edan, Primbon Betaljemur Adammakna, Primbon Lukmanakim Adammakna, Aneka Resep Obat Kuno dan catatan keluarga). B.Wiwoho

* Materi Untuk Kajian & Latihan Seni Mocopat Seri ke 3, Paguyuban Suluk Nunsantara,  Sabtu Legi 8 Sapar 1951 (28 Oktober 2017).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Sunan Kalijaga Dalam Buku dan Pentas Kethoprak

Alhamdulillah. Pertama kali dalam sejarah, peluncuran buku yang dikaitkan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, dikemas dalam bentuk seni pertunjukan rakyat kethoprak. Buku “ISLAM MENCINTAI NUSANTARA, JALAN DAKWAH SUNAN KALIJAGA: Tafsir Suluk Kidung Kawedar”, diluncurkan pada hari Minggu malam tanggal 21 Mei 2017 di rumah  Puspa Budaya Nusantara di kawasan Ciputat, Tangerang dalam pentas kethoprak dengan lakon atau cerita Sunan Kalijaga. Acara diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa, Rumah Puspa Budaya dan Penerbit IiMAN. Sedangkan pemain-pemainnya antara lain Sunan Kalijaga diperankan oleh wartawan senior serba bisa sekalius pendiri dan petinggi Dompet Dhuafa mas Parni Hadi,  Sunan Bonang oleh pemilik Puspa Budaya dan mantan Sekretaris Jenderal juga mantan Direktur Jenderal di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pak Luluk Sumiarso, Direktur Penerbit IiMAN mas Rahmad Riyadi memerankan Raden Fatah, Sunan Giri yang radikal diperankan oleh penulis, pakar sastra Universitas Gajah Mada mas DR.Purwadi menjadi gentho, pengikut Sunan Kalijaga sebelum menjadi wali dan sejumlah tokoh profesional lainnya terutama para pimpinan Dompet Dhuafa. Bertindak sebagai sutrada adalah mas Irwan Riyadi, penata acara Alin SP Apriliani. Pentas didukung penuh serta dimeriahkan oleh para penari dan para niyaga dari Rumah Puspa Budaya dengan koordinasi lapangan dan aksi pelayanan masyarakat oleh Dompet Dhuafa. Subhanallah walhamdulillah, Allahuakbar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Sunan Kalijaga Dalam Buku dan Pentas Kethoprak

Alhamdulillah. Pertama kali dalam sejarah, peluncuran buku yang dikaitkan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, dikemas dalam bentuk seni pertunjukan rakyat kethoprak. Buku “ISLAM MENCINTAI NUSANTARA, JALAN DAKWAH SUNAN KALIJAGA: Tafsir Suluk Kidung Kawedar”, diluncurkan pada hari Minggu malam tanggal 21 Mei 2017 di rumah  Puspa Budaya Nusantara di kawasan Ciputat, Tangerang dalam pentas kethoprak dengan lakon atau cerita Sunan Kalijaga. Acara diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa, Rumah Puspa Budaya dan Penerbit IiMAN. Sedangkan pemain-pemainnya antara lain Sunan Kalijaga diperankan oleh wartawan senior serba bisa sekalius pendiri dan petinggi Dompet Dhuafa mas Parni Hadi,  Sunan Bonang oleh pemilik Puspa Budaya dan mantan Sekretaris Jenderal juga mantan Direktur Jenderal di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pak Luluk Sumiarso, Direktur Penerbit IiMAN mas Rahmad Riyadi memerankan Raden Fatah, Sunan Giri yang radikal diperankan oleh penulis, pakar sastra Universitas Gajah Mada mas DR.Purwadi menjadi gentho, pengikut Sunan Kalijaga sebelum menjadi wali dan sejumlah tokoh profesional lainnya terutama para pimpinan Dompet Dhuafa. Bertindak sebagai sutrada adalah mas Irwan Riyadi, penata acara Alin SP Apriliani. Pentas didukung penuh serta dimeriahkan oleh para penari dan para niyaga dari Rumah Puspa Budaya dengan koordinasi lapangan dan aksi pelayanan masyarakat oleh Dompet Dhuafa. Subhanallah walhamdulillah, Allahuakbar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

KIDUNG SUNAN KALIJAGA, MEDITATIF – KONTEMPLATIF

Banyak cara dan ukuran untuk menilai peradaban sesuatu bangsa, antara lain dengan melihat perkembangan kebudayaannya seperti kesenian, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, adat sopan santun pergaulan, sastra dan organisasi kenegaraannya. Dari semua itu yang paling mudah adalah dengan melihat masakannya, pakaian adat, sastra dan musik termasuk alat musiknya.

Seni musik gamelan Jawa beserta alunan irama yang dimainkannya, khususnya irama tembang-tembang macapat, harus diakui memiliki keunggulan yang tinggi dalam hal sastra, seni musik dan teknologi pembuatan peralatan gamelannya pada masa dahulu kala.

Di Inggris, menurut laporan media massa terkemuka BBC 15 Januari 2015 (http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/01/150119_trensosial_gamelan_penjara), gamelan telah dipakai untuk membantu rehabilitasi mental ribuan nara pidana. Mereka mendapatkan bantuan ‘terapi’ dengan belajar dan bermain gamelan bersama melalui satu yayasan yang berkeliling di puluhan penjara dalam 10 tahun ini.

Direktur eksekutif Yayasan Good Vibrations yang didirikan tahun 2003, Katherine Haigh, mengatakan dari sekitar 4050 peserta – sebagian besar adalah narapidana- 75% di antaranya menyebutkan bahwa belajar gamelan membantu meningkatkan kepercayaan diri mereka.

Di Inggris banyak tumbuh kelompok-kelompok gamelan yang dimotori oleh Catherine Eastburn, yang sudah  mahir bermain antara lain kelompok  The Southbank Gamelan Players dan Gamelan Naga Mas.

Pakar gamelan dari Inggris lain yaitu Dr.Helen Loth dalam Seminar “Therapeutic Uses Of Gamelan” yang diselenggarakan Universitas Pelita Harapan  10 September 2016 (http://musicalprom.com/2016/09/19/musik-terapi-menggunakan-gamelan-hasil-penelitian-dari-inggris/ ), memaparkan hasil penelitian di Inggris mengenai penggunaan musik termasuk gamelan sebagai sarana terapi bagi kesehatan mental. Ketua dari Program Magister Bidang Terapi Musik Universitas Anglia Ruskin, Cambridge, Inggris ini melakukan penelitian doktoralnya dengan judul “ An Investigation Into the Relevance of Gamelan Music to the Practise of Music Therapy.”

Berdasarkan hasil wawancaranya dengan berbagai pihak yang berkecimpung dalam dunia gamelan di Inggris, ternyata gamelan telah digunakan di banyak tempat dan kesempatan seperti pendidikan, orkestra dan bahkan rumah sakit. Bermain gamelan, katanya, memberikan banyak manfaat seperti pengembangan kemampuan belajar, kesejahteraan hidup, kemampuan sosial, kemampuan berkomunikasi, kemampuan bekerjasama dan kesadaran sensoris.

Bagaimana halnya dengan di Indonesia? Kecuali di Bali, hampir semua seni tradisonal Nusantara makin meredup keberadaannya. Bukan hanya seni gamelan Jawa dan seni tembang macapat, tapi juga seni musik suku-suku bangsa kita yang lain, hanya merupakan kelompok-kelompok kecil yang jarang, dan pada umumnya sekedar tampil melengkapi upacara-upacara adat pernikahan pada keluarga-keluarga menengah atas.

Gamelan Jawa yang kita kenal sekarang, memilik sejarah panjang yang memperoleh penyempurnaan dan kelengkapan dari para ulama penyebar agama Islam yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga abad ke 15 – 16, terutama dari Sunan Bonang, Sunan Kalijaga dan Sunan Muria. Lebih khas lagi adalah tembang-tembang macapat, yang memang diciptakan Wali Sanga sebagai media untuk berdakwah. Irama tembang-tembang macapat, dipakai untuk mengiringi sastra tutur yang berisi materi-materi dakwah agama Islam khususnya tasawuf, yang pada masa Kesultanan Demak disebut Sastra Suluk. Suluk berarti jalan menuju Tuhan, kemudian juga dipakai untuk pengantar sesuatu babak dalam seni pewayangan.

Dengan suluk tembang-tembang macapat tersebut, agama Islam yang semula diacuhkan masyarakat Jawa, akhirnya diterima dan kemudian berkembang pesat menjadi umat Islam terbesar di dunia sekarang ini. Padahal menurut temuan arkeologi, Islam sudah masuk ke Jawa pada awal abad ke 11, bahkan sejumlah ahli sejarah kini sedang meneliti berbagai data yang mengindikasikan Islam sudah masuk ke Jawa sejak periode awal Islam, yakni abad ke 7 Masehi. Jika kita berpatokan pada temuan arkeologi yaitu inskripsi kuno pada makam Fatimah binti Maimun (1082 M) yang berada di desa Leran, Kecamatan  Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, maka Islam sudah masuk ke Jawa padaabad 11, namun seperti tertahan dan tidak berkembang sampai periode Wali Sanga.

Kidung Kawedar atau Kidung Sariro Ayu atau Kidung Rumekso ing Wengi, selanjutnya penulis sebut Kidung Kawedar, adalah sebuah suluk yang memperkenalkan tentang agama Islam pada masyarakat Jawa abad ke 15 – 16. Masyarakat Jawa penggemar seni gamelan sekarang ini, baik yang Islam maupun bukan, pada umumnya mengenal Suluk Kidung Kawedar  terutama bait pertama sampai ketiga. Sedangkan bagi penghayat kebatinan dan Kejawen, bait ke 17 dan 18 lebih disenangi. Suluk ini jika dikidungkan dengan irama Dandhangula yang diiringi lantunan lembut gamelan, sungguh akan membangun suasana meditatif-kontemplatif yang luar biasa.

Bagi masyarakat umum, meskipun orang Jawa, makna syair-syair Kidung Kawedar sudah mulai sulit dipahami karena disajikan dalam bahasa Jawa Tengahan (Bahasa Jawa Madya). Sedangkan yang berlaku di masyarakat Jawa sekarang adalah bahasa Jawa Baru, yang sudah gado-gado, campur dengan berbagai bahasa daerah dan asing lainnya. Demi memahami Kidung Kawedar, melalui buku ini penulis mempersembahkan terjemahan sekaligus berikut tafsirnya. Sebelum dihimpun menjadi sebuah buku, tulisan-tulisan tersebut telah dimuat di dalam blog/website b.wiwoho.blogspot.com dan islamjawa.wordpress.com serta facebook Bambang Wiwoho, facebook Tasawuf Djawa Full dan grup Tasawuf Djawa.

Tafsir ini diilhami oleh pengalaman penulis sebagai pengurus harian dalam Festival Istiqlal I (tahun 1991) dan Festival Istiqlal II, yaitu festival seni budaya yang bernafaskan Islam, serta nasihat dan dorongan kuat dari ulama sepuh Prof.K.H.Ali Yafie. Untuk itu penulis menyampaikan rasa takzim dan terima kasih nan tak terhingga. Ungkapan terima kasih juga wajib disampaikan kepada tiga sahabat yang telah berkenan memberikan ulasan dan kata pengantar. Pertama kepada putera beliau Helmy A.Yafie (Sekretaris Jenderal Darud Dakwah wal Irsyad), yang bukan orang Jawa tapi telah memberikan ulasan Kidung Kawedar secara mendalam. Kedua, sahabat Gus Anis Sholeh Ba’asyin (pimpinan Suluk Maleman/Orkes Sampak Gusuran dan Rumah Adab Indonesia di Pati) yang sejumlah sahabat sering memanggilnya Habib Anis. Ketiga, sahabat penulis selama lebih 40 tahun, wartawan senior yang memiliki banyak hobi dan pernah menduduki berbagai jabatan penting yaitu mas Parni Hadi. Ungkapan terima kasih selanjutnya kami sampaikan kepada mas Rachmat Riyadi dan mas Faried Wijdan serta sahabat-sahabat dari penerbit Pustaka IIMAN. Juga terima kasih untuk mas Luluk dan mbak Lies Sumiarso pimpinan Rumah Puspo Budoyo/Nusantara Institute serta mas Djoko Muljono, yang secara bersama-sama telah bertekad menggelorakan kembali seni macapat Nusantara, dengan mendayagunakan segenap potensi jejaring seni budaya Nusantara.

Semoga dengan hikmah Kidung Kawedar ini, beserta ridha, rahmat dan berkah-Nya, kita bisa terus tumbuh dan berkembang menjadi bangsa dan umat Islam yang sejahtera, tinggi serta mulia peradabannya. Aamiin.

(Pengantar penulis untuk buku: ISLAM MENCINTAI NUSANTARA, JALAN DAKWAH SUNAN KALIJAGA. Tafsir Suluk Kidung Kawedar)

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Wali Songo dan Penyebaran Islam di Jawa: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga

Oleh: Helmy Ali Yafie

Para Sarjana berbeda pendapat, tentang kedatangan Islam di Indonesia. [1] Tetapi ada satu kenyataan, yang tampaknya disepakati, adalah bahwa kedatangan Islam ke Indonesia dilakukan secara damai. [2] Islam, dalam batas-batas tertentu, di sebarkan oleh pedagang, bersama atau kemudian dilanjutkan oleh para guru dan pengembara sufi. Tampaknya orang yang terlibat dalam kegiatan penyebaran agama (Islam), pada tahap-tahap awal kedatangan Islam, tidak bertendensi apapun selain bertanggung bertanggung jawab menunaikan kewajiban tanpa pamrih, sehingga nama mereka berlalu begitu saja. [3]  Tidak ada catatan-catatan sejarah atau prasasti  pribadi yang sengaja dibuat oleh mereka untuk mengabadikan apa yang telah mereka lakukan.

Oleh karena itu wajar jika terjadi perbedaan pendapat tentang kapan, dari mana dan dimana pertama kali Islam datang ke Indonesia. Yang dapat dikatakan adalah bahwa para penyebar agama yang berdatangan bersama atau menyusul para pedagang, dan kebanyakan adalah para sufi pengembara. Pada proses berikutnya terjadi perkawinan antara para pedangang dan para penyebar agama tersebut dengan penduduk setempat dan anak bangsawan  Indonesia, yang kemudian membentuk keluarga, komunitas inti,  keluarga Muslim dan kemudian masyarakat Muslim.

Perkawinan dengan para anak bangsawan, membuat status social mereka menjadi meningkat lebih tinggi. Apalagi  jika mereka kawin dengan putri Raja, maka keturunannya menjadi pejabat kerajaan, syahbandar, qadi dan lain-lain, bahkan menjadi putra mahkota[4].

Pada periode berikutnya, setelah para pedagangan dan para penyebar agama itu mempunyai kedudukan cukup kuat,  para pedagang menguasai perekonomian terutama bandar-bandar seperti Gresik, mereka kemudian membangun pusat-pusat pendidikan, yang kini disebut pesantren. Di Jawa, pusat-pusat pendidikan itu menjadi semacam tempat penggemblengan kader-kader ulama dan politik. Misalnya Raden Patah, Raja Demak  pertama, adalah santri Ampeldenta. Proses penyebaran agama Islam, peran dan asal usul aktor yang terlibat di dalamnya, juga terdapat perbedaan diantara para ahli, tetapi gambaran umum tampaknya kurang lebih seperti yang disebutkan secara sederhana diatas. Tampaknya hal itu kemudian yang mempercepat proses perkembangan Islam di Indonesia.

Tahap awal penyebaran Islam terlihat lamban, terbatas pada kota-kota pelabuhan. Lalu kemudian pada periode berikutnya  memasuki daerah pesisir lainnya dan pedalaman. Sebagaimana diketahui bahwa sebelum kedatangan Islam,  kepercayaan masyarakat di Nusantara didominasi agama Hindu, Budha dan agama-agama atau kepercayaan lokal. Abad ke-5 sampai dengan abad-14 M dapat dikatakan sebagai abad dominasi Hindu Budha di Nusantara. Bahkan pada satu masa tertentu  kedua agama (yang pada dasarnya bertentangan) itu bergabung, yang dikenal dengan nama Syiwa-Budha,  dan hal ini hanya ditemui di Indonesia[5].

Beberapa kerajaan Hindu dan Budha yang berkembang dan menguasai beberapa daerah, pusat-pusat jalur perdagangan di Nusantara. Di tanah Jawa  pelabuhan-pelabuhan penting yang merupakan daerah pusat jalur perdagangan internasional pada masa berada dibawah pengaruh Hindu-Budha tersebut.  Artinya, ketika Islam masuk  agama Hindu dan Budha, disamping kerecayaan local masyarakat, mendominasi kepercayaan dan  dianut oleh masyarakat Jawa saat itu. Dengan adanya system kepercayaan, yang sudah begitu mengakar kuat dalam dalam masyarakat, di dukung oleh system kerajaan,  seperti itu maka menjadi logis jika penyebaran Islam terlihat lamban. Tetapi pada masa-masa berikutnya terlihat terjadi perubahan, penyebaran Islam berjalan relatif cepat.

Terlihat ada bentangan waktu yang cukup panjang. Kalau patokannya diambil  abad ke 11 M sebagai tahun kedatangan dan abad ke 15,  tepatnya tahun 1481 M,  tahun berdirinya kerajaan Islam yang pertama di tanah Jawa yaitu Kerajaan Demak. Maka terdapat jarak waktu selama kurang lebih empat abad lamanya. Atau kalau ditarik lebih jauh kebelakang, sampai pada abad pertama Hijriyah, maka perkembangannya terlihat sangat lamban.  Tetapi dalam perkembangan berikut, terlihat proses berjalan lebih cepat. Islam  berkembang dengan cepatnya di tanah Jawa,  antara abad 15 sampai 17 M, yang ditandai  dengan adanya beberapa kerajaan Islam yang mendominasi di tanah Jawa yang wilayah kekuasaannya  sangat luas, hampir mencakup seluruh pulau tersebut.

Tampaknya semua itu terkait langsung dengan dengan adanya proses yang lebih terencana dan sistematis. Di beberapa daerah di tanah Jawa, misalnya, pada masa-masa itu, berdiri  beberapa pusat-pusat penyiaran agama Islam. Di Jawa Timur,  dipelopori  oleh Sunan Ampel, di daerah Gresik Jawa Timur dipelopori oleh Sunan Giri. Hal yang sama terjadi di Jawa Barat, dibawah kepemimpinan  Sunan Gunung Jati, di Jawa Tengah bagian utara di pelopori oleh Sunan Kudus dan Sunan Muria, sedangkan di Jawa Tengah bagian selatan dipelopori oleh Sunan Kalijaga

Kemungkinkan hal itu karena adanya kepemimpinan para wali yang konsisten dan solid. Dengan kata lain pada periode itu, ketika para wali, yang dikenal dengan nama Wali Sembilan (Wali Songo), melanjutkan memimpin penyebaran agama Islam di seluruh pulau Jawa, maka penyebaran agama Islam relative berlangsung lebih cepat. [6]

Wali Songo  adalah sebuah dewan wali yang memiliki otoritas tertinggi pada jamannya, dalam keagaman dan penyebaran agama, yang secara berkala melakukan pertemuan (musyawarah), untuk menentukan strategi dan mengeluarkan fatwa[7]. Sesuai namanya, Wali Songo, jumlah wali di Jawa sembilan orang dan menurut urutan dari Timur ke Barat  adalah : Sunan Ampel (Raden Rahmat), makamnya terdapat di Ampel dalam kota Surabaya; Malik Ibrahim (Maulana Magribi) di Gersik, Sunan Drajad (makamnya terletak di Sidayu Lawas); Sunan Giri (Raden Paku) makamnya terletak di Giri tempatnya di Gersik; Sunan Bonang (Raden Maulana Makdum Ibrahim), makamnya terletak di Tuban;  Sunan Kudus (konon adalah panglima bala tentara para wali yang menyerbu Majapahit), Sunan Murya (pejuang melawan Majapahit), Sunan Kalijaga (Jaka Syaid, atau Raden Mas Syahid), Jawa Tengah;  Sunan Gunung Jati (adalah Putera Pasai yang kawin dengan saudara perempuan Sultan Trenggana), di Cirebon, Jawa Barat. [8]

Jelas bahwa Wali Songo memiliki peran yang sangat besar dalam proses penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Mereka tidak hanya berdakwah menyebarkan agama Islam tetapi juga menjadi penasehat raja-raja yang memerintah. Bahkan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah juga raja. Dia mendapat julukan Pandita Ratu. Pada umumnya Wali Sembilan itulah yang mendirikan pesantren-pesantren atau padepokan, yang menjadi pusat-pusat pendidikan untuk melakukan kaderisasi.  Santrinya datang dari berbagai daerah, dari seluruh pelosok Nusantara. Itu  menjadi bagian penting  bagi perkembangan Islam di tanah Jawa.

Tentang Sang Wali

Sunan Kalijaga dapat dikatakan salah satu tokoh sentral dalam proses penyebaran Islam di Tanah Jawa. Pendekatannya unik. Sunan Kalijaga,  melihat keadaan masyarakat Jawa pada waktu itu dimana masyarakatnya masih kental dengan tradisi Hindu, Budha dan kepercayaan-kepercayaan lama  maka dia melakukan pendekatan seni dan budaya, dalam arti mencoba menyerap budaya dan tradisi yang sudah ada dalam menyebarkan ajaran-ajarannya. Dia berkeliling dari satu tempat ketempat lain, memasuki daerah-daerah terpencil.

Ada beberapa versi silsilah Sunan Kalijaga. Hal itu  karena memang  tidak ada catatan atau bahan–bahan yang secara penuh dan datail memberikan informasi secara jelas mengenai asal usul Sunan Kalijaga. Salah satu versi mengatakan bahwa Dia diperkirakan ia lahir sekitar tahun 1450 M.  Nama kecilnya adalah Raden Mas Syahid, putera Tumenggung Wilatika, Bupati Tuban dari Ibu bernama Dewi Ningrum. Sunan Kalijaga kawin dengan Sarah binti Maulana Ishaq dan berputra tiga orang, yakni Raden Umar Said (kelak menjadi Sunan Muria), Dewi Rukayah, dan Dewi Sofihah[9].

Sunan Kalijaga  terkenal,  karena berjiwa besar, toleran, berpandangan tajam dan juga seorang pujangga. Sunan Kalijaga juga dikenal dalam Babad Tanah Jawi. Ia dipandang salah satu dari Sembilan wali yang banyak memperlihatkan mu’jizat.[10] Menurut riwayatnya, masa remajanya nakal, sehingga dia diusir oleh orang tuanya. Dia menadapt julukan Lokajaya, karena sakti dan tidak ada dapat mengalahkannya. Oleh karena itu, sebagai perampok dan penyamun, sangat ditakuti sampai dia bertemu dengan Sunan Bonang yang kemudian dapat menaklukkannya.

Sunan Kalijaga  ingin menjadi murid  Sunan Bonang, tetapi Sunan Bonang menolaknya, dan hanya mau menerimanya sebagai murid apabila dia sanggup menjaga tongkatnya yang dia tancapkan di tepi sungai. Dengan setia Raden Mas Syahid menjaga tongkat itu, menepati janjinya, sehingga karena itu dis disbeut Kalijaga (penjaga kali/sungai). Setelah menjadi Wali dia juga disebut Syekh Malaya, karena dia berdakwah sambil berkelana. Masa hidupnya cukup panjang, dari akhir masa kerajaan Majapahit sampau pada masa kerajaan Pajang (akhir abad ke 15 sampai pertengahan abad 16).[11]

Jasanya bagi Demak cukup besar. Pada waktu pendirian Mesjid Demak, dia salah seorang wali yang berkewajiban menyediakan salah satu dari 4 tiang pokok (soko guru) yang menurut lagenda dia buat dari tatal (serpihan-serpihan kayu sisa)[12]. Konon tiang itu dibuat menurut konstrukti tiang kapal, terdiri dari kepingan-kepingan kayu yang sangat tepat dan rapi. Sangat kuat dapat menahan angina topan.[13] Kalau difahami secara simbolik, maka peranan dalam pendirian masjid itu sangatlah penting.

Dalam menyebarkan agama, Sunan Kalijaga berbeda dengan Sunan Giri. Menurut Sunan Kalijaga, menyampaikan ajaran Islam perlu disesuaikan dengan keadaan setempat, sedikit demi sedikit. Kepercayaan, adat istiadat dan kebudayaan lama tidak harus dihapus, bahkan diisu dengan unsur dan roh ke Islaman.

Sunan Giri, sebaliknya, berpendapat bahwa Islam harus disampaikan menurut aslinya. Kepercayaan lama harus diberantas. Demikian pula dengan adat istiadat dan kebudayaan lama yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tampaknya kedua Wali ini memang berbeda pendekatannya. Sunan Kalijaga lebih beroientasi dan mendekati rakyat, sedangkan Sunan Giri lebih dekat dengan kaum bangsawan dan hartawan. [14] Tetapi tidak berarti bahwa Sunan Kalijaga anti terhadap kaum bangsawan. Karena dia merupakan salah seorang penasehat raja-raja Demak, sejak Raden Patah sampai Sultan Trenggana, sehingga diberi tanah perdikan (tanah bebas pajak) di Kadilangu[15]. Kesepakatan kemudian tercapai bahwa dakwah memang perlu dua pendekatan, ada yang dari atas dan ada pula yang dari bawah.[16]

Sebagai budayawan dan seniman, banyak yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga, dan itu menggambarkan pendiriannya tersebut. Dia menciptakan dua perangkat gamelan yang semula bernama Nagawilaga dan Guntur Madu, kemudian dikenal dengan nama Nyai Sekati (lambang dua kalimat syahadat). Wayang yang pada zaman Majapahit dilukis diatas kertas yang lebar sehingga disebut wayang beber, oleh Sunan Kalijaga dijadikan satu-satu dan dibuat dari kulit kambing, yang sekarang dikenal dengan nama wayang kulit.[17] Banyak lakon-lakon yang digubah untuk kepentingan ini. Diantaranya yang terkenal adalah lakon Jimat Kalimasada dan Dewa Ruci.

Menurut Hazim Amir,  setelah agama Islam datang ke Indonesia (pulau Jawa), lakon wayang mengalami perubahan. Wali Songo mengubah  sistem hirarki kedewaan yang menempatkan para dewa sebagai pelaksana perintah Tuhan saja,  bukan sebagai Tuhan. Untuk itu disusunlah cerita-cerita baru yang bernafas Islami, seperti lakon Dewa Ruci, Jimat Kalimasada dan lakon-lakon wahyu. [18]

Sunan Kalijaga, menjadikan wayang kulit sebagai media pendidikan atau dakwah, dengan menampilkan tokoh-tokoh pewayangan yang menjadi favorit rakyat, ke dalam pewayangan hampir keseluruhan kisahnya dipentaskan ceritera dan dialog-dialog tentang tashawuf dan akhlakul karimah. Karena dia faham betul bahwa yang dihadapi itu (audiens) adalah pemeluk Hindu ataupun Budha, yang keseluruhan ajarannya berpusat pada ajaran kebatinan. Mungkin karena itu,  maka Sunan Kalijaga mengekspose unsur-unsur tashawuf dan akhlaqulkarimah.

Sebagai tahap awal dari suatu proses, tampaknya itu berhasil dalam dakwahnya. Kepercayaan kebatinan memang sangat penting, akan tetapi arti agama (Islam) tidaklah hanya itu[19]. Satu personifkasi yang sangat dekat dengan masyarakat Jawa adalah diciptakannya tokoh Punakawan dalam cerita pewayangan yang terdiri atas Semar, Nala Gareng, Petruk dan Bagong, adalah tokoh-tokoh yang selalu ditunggu-tunggu dalam setiap pergelaran Wayang di Jawa, dan tokoh-tokoh ini tidak ditemui pada cerita Wayang asli yang berasal dari India. Para tokoh Punakawan dibuat sedemikian rupa mendekati kondisi masyarakat Jawa yang beraneka ragam.[20]

Awalnya, apa yang dikembangkan oleh Sunan Kalijaga pada awalnya tidak memperoleh dukungan dari beberapa Wali lainnya.

Sunan Giri, misalnya berpendapat bahwa wayang itu itu hukumnya haram, karena gambarnya menyerupai manusia. Maka terjadi debat. Tetapi Sunan Kalijaga, mengemukakan jalan keluar yang bijaksana. Gambar wayang dirubah bentuknya, agar tidak haram. Ukurannya tangannya dibuat menjadi lebih panjang, begitu pula kakinya. Hidung dibuat panjang, kepala dibuat menyerupai binatang. Gagasan itu disetujui oleh para Wali, bahkan membantu dengan menciptakan gamelannya.[21] Maka menjadilah wayang itu media dakwah yang efektif.

Banyak hal yang telah dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Dia menciptakan baju yang disebut takwo (artinya: Takwa). Kain batik bermotifkan burung, konon dari Sunan Kalijaga juga. Pemanfataan kebudayaan dalam bentuk ide-ide lainnya dapat dijumpai pada makna-makna yang terkandung dalam suluk, seperti Kidung Rumeksa Ing Wengi dan Dhandanggula. Dandanggula, yang dia ciptakan adalah salah satu jenis macapat, yang setiap baitnya terdiri dari 10 baris, dengan guru lagu (jumlah suku kata) dan guru swara (bunyi akhir bait). [22]

Agaknya karena Sunan Kalijaga adalah asli Jawa maka pengaruhnya lebih merata di kalangan rakyat. Dia wafat pada usia relative tua, dan di makamkan di desa Kalidangu, sebelah timur kota Demak.

Warisan Sang Wali

Sunan Kalijaga, adalah salah seorang dari Wali Sembilan (Wali Songo). Salah seoarng tokoh sentral dalam proses penyebaran Islam di Tanah Jawa. Terkenal,  karena berjiwa besar, toleran, berpengatahuan luas dan dalam, serta berpandangan tajam. Dia juga seorang pujangga.  Dia adalah gabungan dari seorang ulama dan budayawan. Dia tampak unik dengan pendekatannya. Dia meninggalkan banyak karya, meninggalkan banyak jejak dengan apa yang telah dilakukannya, pada tempat-tempat tertentu  yang masih dipelajari dan digunakan sampai sekarang.

Buku yang berjudul SULUK[23] KIDUNG KAWEDAR SUNAN KALIJAGA (ISLAM MENCINTAI NUSANTARA: JALAN DAKWAH SUNAN KALIJAGA. Tafsir Suluk Kidung Kawedar), di tulis oleh B. Wiwoho, berisi salah satu warisan dari Sunan Kalijaga. Buku ini memuat, mengurai, menafsirkan dan mencoba menempatkan posisi karya Sunan Kaligjaga tersebut dalam peta penyebaran Islam.

Suluk Kidung Kawedar disusun  dalam bentuk Kidung, sebagaimana sudah disebutkan diatas adlah sebuah bentuk karya sastra dalam bahasa Jawa Tengahan yang digubah dalam bentuk puisi menggunakan metrum Jawa Tengahan atau tembang tengahan (sekar madya).  Kawedar  adalah kidung pujian dalam bentuk puisi Jawa, yang dilagukan dengan apa yang disebut macapat (maca papat-papat; membaca empat-empat).

Suluk Kidung Kawedar juga memberikan gambaran tentang keadalaman pengetahuan keagamaannya dan pemahamanannya terhadap masyarakatnya.  Kita bisa membayangkan bagaimana sulitnya masyarakat ketika itu untuk memahami bahasa dan tradisi keagamaan (Islam) yang baru bagi mereka; sementara mereka hidup dalam tradisi keagamaan dan pemahan keagamaan yang sudah mengakar kuat dalam diri diri dan lingkungan mereka.  Bagi orang Jawa tidak mudah mengucapkan dan memahami doa dalam bahasa Arab, maka Sunan Kalijaga menyusun doa dalam bahasa Jawa, dengan bentuk kalimat dan gaya bahasa kidung sesuai dengan alam pikiran Jawa.

Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian Pertama, berisi  kidung-kidung SULUK KIDUNG KAWEDAR,  tentang ajaran Islam. Uniknya,  dimulai  dengan kidung mantra penolak bala, yang secara sepintas seperti tidak begitu prinsipil. Tetapi ketika dibaca dengan teliti, direnungkan maknanya, ternyata ini merupakan ajaran tentang keimanan kepada Ke Maha Esaan, Ke Maha Kuasaan dan Ke Maha Besaran Allah SWT. Bahwa semua hal yang ada disekitar kita ini; penyakit, senjata tajam, hama, binatang buas, bisa ditaklukkan.  Kawasan-kawasan angker, keadaan gawat, kekeringan bisa dirubah menjadi keadan yang indah damai, subur, damai dan penuh kebahagiaan.  Jika kita bersandar kepada Allah SWT. Ini adalah pesan keimanan, keimanan yang tidak terbagi. Bahwa Allah Swt mengatasi segalanya, hanya dengan menyebut namanya.  Ini juga tentang konsistensi, dengan mengacu  Nabi Adam (perasaan), Nabi Sis (pemikiran) dan Nabi Musa (Ucapan).

Lalu dengan cara yang sama Sunan Kalijaga lebih jauh mengenalkan  Islam, dengan mengenalkan para Nabi, sejarah Nabi Saw, para sabahatnya dan keluarganya.

Bagian berikutnya, menggambarkan hubungan antara Allah Swt dengan hamba-hambaNya dan ciptaanNya.  Bahwa hidup yang berasal dari Allah, sebenarnya hanya berlangsung singkat. Dunia ini hanya tempat persingahan untuk sejenak beristirahat, bagi seorang musafir, penuh dengan godaan dan jebakan yang membuat orang bisa terpeleset dan tersesat, sehingga kesulitan mencapai tujuan. Maka hidup yang singkat itu, digunakan sebaik-baiknya dengan aktivitas yang bermanfaat bagi sesama, bagi diri sendiri, sebagi bekal untuk menuju tujuan. Untuk kepentingan itu, sebaiknya manusia selalu mengingat dan berdoa kepada Tuhan. Ini penting karena setan atau iblis diberi mandat untuk menggoda manusia selama dalam perjalanannya.

Ada ajaran yang sangat mendalam, yang membutuhkan perenungan mendalam dengan menangkap tanda-tanda yang disekitar kita,  yakni ‘mangunggaling kawulo gusti’. Ini soal pengetahuan dan  pemahaman hubungan antara manausia dengan Sang Pencipta. Penyatuan di sini bisa bermakna penyatuan kehendak, dan itu bisa dilakukan jika manusia mampu mengendalikan segala nafsu dan kemauan. Manusia yang menyatu dengan Tuhannya bisa berarti manusia bisa mengendalikan segala macam nafsu dan kemauannya, sehingga menyatu dengan kehendak Allah Swt. Dan ini mencapai derajat yang dicapai para wali Allah.  Manusia yang bisa memahami, menaklukann dan mengendalikan hawa nafsunya juga akan memiliki arta daya, atau kebijakan atau kekuatan batin yang luar biasa. Proses dan cara penyatuan, begitu juga dampak dari penyatuan itu, tergambar pada Kidung Dewa Ruci.

Kembali tentang kandungan Suluk Kidung Kawedar, penulis melihat pendekatan atau metode yang dikembangkan oleh Sunan Kalijaga. Sebagaimana di ketahui bahwa pada abad ke 15 – 16 adalah zaman dimana ajaran-ajaran dominan, Hindu Budha, atau kepercayaan lama yang memuja roh-roh halus, mempercayai hal-hal gaib dan mistis. Dalam situasi seperti itulah Sunan Kalijaga menciptakan Suluk Kidung Kawedar yang di dendangkan dengan irama dhandanggula yang bernuansa kontemplatif,  untuk mengatasai segala macam problem kehidupan sehari-hari. Itu semua dikemas dengan bahasa dan tradisi yang sudah dikenal masyarakat.

Keakraban semakin terasa karena kidung ini juga terkait dengan problem-peroblem kehidupan sehari-hari.  Jadi kidung dibangun dengan bentuk kalimat dan gaya bahasa kidung sesuai dengan alam pikiran Jawa. Tidak salah jika kemudian menggunakan istilah ‘menyusup’. Maksudnya, Sunan Kalijaga mengajarkan Islam tanpa menghadap-hadapkannya dengan  budaya dan tradisi yang sudah ada. Bahkan beberapa bagian diangkat dan diberi landasan dan roh Islam.

Sunan Kalijaga, dengan Suluk Kidung Kawader, seperti datang memberi energi baru kepada kepercayaan masyarakat. Dia tidak mengecam kepercayaan yang sudah  ada dalam masyarakat. Bahkan seperti menguatkannya. Tetapi sesungguhnya dia menggantikan nilai-nilai dan makna-makna dasar. Kalau dikembalikan kepada pertanyaan, ‘kenapa pada abad-abad 15-17 Islam tampak cepat diterima dan menyebar, dibanding dengan sebelumnya?’. Mungkin salah satu jawaban adalah sosok Sunan Kalijaga. Maka, kalau kita berkaca pada masa kita ini yang penuh dengan benturan, kita bisa memahami ajakan penulis

Bagian Kedua di beri judul “Berguru pada Sunan Kalijaga”. Kalau dilihat  sub judul terakhir pada bagian kedua ini, tampak penulis  berefleksi, melihat kembali dan merenungkan apa yang sudah dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Ini merupakan bagian penting, kalau bukan yang terpenting, dalam proses membangun peradaban Jawa yang berpijak pada ajaran dan nilai-nilai  Islam.

Pada masa itu adalah masa ketika masyarakat masih sangat kuat dipengaruhi kepercayaan-kepercayaan kepada hal-hal yang gaib, mistis. Alam masih dipengaruhi atau didominasi oleh kekuatan-kekuatan gaib, yang ada di mana-mana, dan menentukan nasib manusia. Situasinya mirip dengan keadaan sekarang, ketika masyarakat sangat kuat dipengaruhi oleh nilai-nilai individuliasme, henodisme dan pragmatisme. Mesikipun nuansanya berbeda, tetapi cengkermannya kurang lebih sama. Bahkan mungkin lebih kuat karena kondisi sosial ekonomi, politik dan budaya, yang mendukung.

Sunan Kalijaga mengambil sikap yang  berbeda dengan para Wali lainnya, seperti Sunan Bonang atau Sunan Giri, yang cenderung tidak mau konpromi dalam situasi seperti itu. Sesungguhnya Sunan Kalijagatidak hanya berhadapan dengan situasi masyarakat, tetapi juga menghadapi persoalan-persoalan dengan sesama Wali. Dia mendapat tantangan dari dalam. Pendekatannya dipertanyakan.  Jalan yang dilaluinya cukup terjal dan berliku.

Tetapi situasi itu dihadapi dengan bijaksana penuh empati, sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan dan dakwah dalam Islam. Maka ke dalam dia membangun dialog, menjawab kritik dengan memberikan alternatif pemecahan yang logis dan realistis. Keluar, kepada masyarakat dan lingkungan luar, dia mencari inspirasi dari kepercayaan atau tradisi yang sudah, bahkan yang dianggap harus diberantas oleh kawan-kawannya. Ketika dia berhadapan dengan masyarakat yang tidak kenal dengan Islam, dia tidak langsung mengajarkan tentang rukun Islam, syahadat dan shalat, melainkan dengan terlebih dahulu menanamkan sugesti, bernuansa magis, sesuai dengan kondisi batin orang-orang Jawa pada umumnya, pada masa itu. Kemudian mengenalkan tokoh-tokoh panutan dalam Islam, dan beberapa istilah penting (istilah kunci). Baru kemudian mengenalkan rukun Iman.

Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga, melakukan pendekatan atau cara yang sangat bijaksana, masuk melalui pendidikan dan budaya, dalam arti memberikan warna dasar pada budaya. Bukan dengan cara yang frontal, membongkar atau menendang agama dan kepercayaan, ada istiadat dan kearifan lokal. Tetapi dengan cara bijak menyusup, menggeser setapak demi setapak atau membungkus selapis dengan selapis dengan Islam atau dengan nilai-nilai Islam.

Catatan akhir

Betul kata penulis bahwa tidak ada gading yang tidak retak. Tidak ada sesuatu yang sempurna, apalagai kalau itu adalah cara atau sratagi atau pendekatan. Karena ia selalu terikat pada waktu tertentu, pada tempat dan masa tertentu. Ia ada untuk menjawab kebutuhan zamannya di tempatnya dilahirkan. Pendekatan Sunan Kalijaga,  pada bagian tertentu, terlihat berhasil melahirkan peradaban yang harmonis, yang nyaris sempurna. Tetapi juga mendapat banyak kritik, karena dianggap melahirkan sinkritisme, yang mengaburkan ajaran yang murni.

Pendekatan Sunan Kalijaga cenderung sufistik, dan itu ditegaskan dengan menggunakan istilah suluk. Pendekatan ini mengajak orang untuk lebih banyak merenungkan makna kata dan realitas. Dalam situasi yang relatif tenangpun cara ini memerlukan waktu dan ketenangan. Orang tidak bisa merenungan realitas sambil bekerja atau beraktivitas. Oleh karena itu perlu menetapkan waktu-waktu tertentu untuk merenungkan makna-makna dari realitas untuk memperoleh makna baru atau pembelajaran yang mencerahkan. Disamping itu juga perlu seorang pendamping, atau seorang pembimbing. Kalau dalam istilah tarekat, perlu seorang mursyid. Tanpa pendamping, atau kawan berdiskusi, maka orang bisa memiliki tafsir sendiri tentang apa yang dibaca, dan itu bisa berarti jauh dari apa yang dimaksudkan oleh penulis atau sang Guru.

Buku ini sangat menarik, menginspirasi, tetapi ini bukan bacaan yang ringan. Untuk mencernanya, perlu melengkapi diri dengan pengetahuan sejarah, khususnya sejarah tentang masuknya Islam di Nusantara khususnya di Jawa, pengetahuan tentang sufisme, dan posisinya dalam Islam, tentang Wali Sanga sendiri. Karena buku ini tidak secara spesifik menyebut menyentuh itu secara memadai. Mungkin pembaca tertolong jika sudah terbiasa dengan bacaan tentang Wali Sembilan, atau memiliki pengetahuan memadai tentang sejarah penyebaran Islam.

Wamaa taufiqi illa billah ‘alaihi tawakkaltu wailaihi unib.

Jakarta, 2 November 2016.

Helmy Ali Yafie

Sekjen Darud Dakwah wal Irsyad (DDI)

Pengantar untuk buku: ISLAM MENCINTAI NUSANTARA: JALAN DAKWAH SUNAN KALIJAGA. Tafsir Suluk Kidung Kawedar, diterbitkan oleh Pustaka IIMaN (0851-0000-76920).

___________________________________________

Catatan kaki:

Kebanyakan sarjana Orientalis berpendapat bahwa Islam datang ke Indonesia abad ke 13 M dari Gujarat (bukan dari Arab Langsug). Sedangkan kebanyakan sarjana Muslim berpendapat bahwa Islam sudah sampai ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah (sekitar abad ke 7 samapi abad 8 Masehi), langsung dari Arab. Pendapat ini misalnya dikemukakan oleh Prof. Hamka, dalam seminar “Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia”, 1968, di Medan. Hamka mengatakan bahwa pada masa itu Arab sudah membuka hubungan (perdagangan) dengan berbagai negeri. Ke Timur, melalui Selat Malaka  berhubungan dengan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara. Pendapat yang sama di di lontarkan oleh Alwi Shihab.  Taufiq Abdullah mencoba mengkompromikan kedua pendapat itu, mengatakan bahwa betul Islam sudah datang ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah (abad 7-8 Masehi), tetapi baru dianut oleh para pendatang itu sendiri, yakni pedagang Timur Tengah, Barulah pada abad 13  Islam masuk dan menyebar setelah mempunyai kekuatan politik dengan berdirinya Kerajaan Samudara Pasai. Dan itu terkait dengan kehancuran Dinasty Abbasiyah, yang menyebabkan para pedagang Muslim mengalihkan aktivitas perdagangannya ke Asia Selatan, Asia Timut dan Asia Tenggara. Lihat Musyrifah Sunanto, Prof. Dr., Sejarah Peradaban Islam Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005, halaman 8-9; Lihat, Alwi Shihab, Akar Tasaawuf Indonesia, Pustaka Iman, Depok, 2009, halaman.7; Lihat juga A. Hasymy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Bandung, Al Maarif, 19981, halaman 385; Taufiq Abdullah, (ed), Sejarah Umat Islam Indonesia, Majelis Ulama Indonesia, Jakarta, 1991, halaman 39-40

2 Azymardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara, Sejarah Wacana dan Kekuasaan, PT Remaja Rosda Karya, Bandung, 1999, halaman 8.

3 Musyrifah Sunanto, Prof. Dr., Sejarah Peradaban Islam Indonesia, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005, halaman 8.

4 Uka Tjandrasasmita, (Ed), Sejarah Nasional III, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1976.

5 Solihin Salam, Sekitar Wali Songo, Menara Kudus, 1960.

6Semua Wali itu disebut  atau memiliki gelar Sunan. Tetapi kata Rifcklefs, kemungkinannya istilah berasal dari kata “suhun” yang berarti menghgormati. Dalam bentuk fasifnya, berarti yang dihormati. Dengan demikian gelar itu diberikan oleh masyarakat sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh-tokoh tersebut. Lihat,  Ricklefs, M.C., Sejarah Indonesia Modern, 1200-2008, Serambi, Jakarta, 2008. Halaman 18.

7 Budiono Hadisustrisno, Sejarah Wali Songo, Graha Pustaka, Yogyakarta, 2009, halaman147.

8 Solihin Salam, opcit, halaman 23.

9IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, Jilid 2, Penerbit Jembatan, Jakarta, 2002, halaman 568.

10Slamet Mulyana, Prof. Dr., Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, LKis, Yogyakarta, 2005, halaman 100-101.

11 Ensiklopedi Islam Indonesia, Opcit.,

12Ibid.,

13Runtuhnya Kerjaan Hindu-Jawa, Opcit,

14Ensiklopedi Islam Indonesia, Opcit.,

15Ibid.

16Ibid.

17Ibid

18 Purwadi, Upacara Tradisional Jawa,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005. Halaman 21.

19 Saifudin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, Al Maarif, Bandung, 1979, halaman 232-233.

20 Banyak hal yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga, misalnya Upacara Grebeg  yang dihentikan dihentikan tidak dibolehkan oleh Kraton Demak, setelah kejatuhan Majapahit, diusulkannya  menghidupkan itu kembali, dengan menambahkan istilah sekaten (penabuh gamelan disebutnya sekaten), Purwadi, 2005, halaman 645-65; Slametan dan Kenduri, yang bagi masyarakat merupakan syarat spirit yang wajib, dan jika dilanggar yang bersangkutan akan mendapat kecelakaan atau kesialan, tetap dihidupkan tetapi diberikan semangat sadaqah, lihat Solihin Salam; puja-puji dalam sesajen diganti dengan doa-doa dan membacara al Qur’an, lihat Budi Hadisutrisno.

21Ibid

22 Dandanggula, salah satu jenis macapat yang setiap baiatnya terdiri dari 10 baris, dengan guru lagu dan guru swara, sebagai berikut : 1. 10/i (wulu); 2. 10/a (legena); 3. 8/e (taling); 4. 7/u (suku); 5. 9/i (wulu); 6. 7/a (legena); 8. 8/a (legena); 9. 12/i (wulu); 10. 7/a (legena); Ensiklopedi Islam, loc cit.,

23 Suluk berasal dari kata yang berarti melalui, menmpuh jalan atau cara. Salaka adalah kata kerja, bentuk masdarnya adalah sulukun, yang bermakna perjalanan atau menempuh jalan. Suluk merupakan sebuah perwujudan cara manusia untuk lebih dekat kepada Tuhannya, serta memahami hakekat kehidupan dan pencarian kebenaran  sejati yang berbentuk seni suara atau kidung Jawa; Lihat Purwadi, Upacara Tradisional Jawa, halaman 16; Lihat juga Ensiklopedi Islam, Opcit.,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Kidung Rumekso Ing Wengi/Sariro Ayu/Kawedar: ISLAM, SEJARAH DAN BUDAYA

Oleh Anis Sholeh Ba’asyin

Suatu hari KH. Chudlori Tegalrejo Magelang didatangi dua kelompok warga desa yang sedang berselisih tentang penggunaan kas desa. Satu kelompok menghendaki dana tersebut digunakan untuk memperbaiki masjid; kelompok lain menghendaki agar digunakan untuk membeli seperangkat gamelan.

Kalau ditinjau hanya dari satu sisi, tentu ini bukan soal yang pelik, karena persoalan yang terkait dengan ibadah pasti berada pada skala prioritas yang lebih tinggi dari persoalan kesenian. Untuk memutuskan pun tak perlu pendapat seorang kiai, tapi cukup level santri.

Namun, sebagai seorang kiai yang faham betul peta masyarakatnya, KH. Chudlori tidak serta merta menyikapi masalah ini hanya dari satu sudut pandang, tapi menimbang seluruh sisinya dengan matang. Dengan pertimbangan tersebut, beliau akhirnya memutuskan: kas desa sebaiknya lebih dahulu digunakan untuk membeli gamelan.

Tentu saja keputusan ini mengejutkan kalangan santri, yang semula berharap KH. Chudlori akan membela dan menguatkan pendapat mereka. Meski terkejut, mereka tak menentang, karena percaya bahwa kiainya pasti punya pertimbangan matang.

Di kemudian hari terbukti bahwa keputusan tersebut memang tepat: masjid makin penuh jamaah. Tak lama kemudian, dengan gotong-royong seluruh elemen masyarakat, masjid pun akhirnya diperbaiki sehingga menjadi lebih megah.

Semangat di balik keputusan KH. Chudlori inilah yang sepertinya kini sedang coba diangkat kembali ke permukaan dan diberi tajuk Islam Nusantara (saya sendiri lebih nyaman menyebutnya dengan istilah Muslim Nusantara).

Semangat ini dipautkan dengan pola awal proses pengIslaman Nusantara, yang di Jawa diidentikkan dengan pola Wali Songo (Sembilan Wali); juga semangat kiai-kiai sepuh dahulu dalam merangkul dan mengembangkan Islam.

***

Tafsir Kidung Kawedar yang ditulis Pak Wie -panggilan akrab saya untuk pak Bambang Wiwoho- ini memberi kita perspektif baru dalam menyikapi karya sastra dan sejarah. Ketika kita memperlakukan sebuah teks sekedar sebagai dokumen sejarah, yang paling jauh akan kita temukan hanyalah data-data kering tanpa rekonstruksi konteks-konteks sosio-historisnya. Mungkin kita akan manggut-manggut, atau paling banter memahami latar tindakan atau tulisan tertentu; tapi akan menyikapinya tak lebih sekedar sebagai monumen dari masa lalu yang sangat mungkin sulit kita cari korelasinya dengan masa hidup kita sendiri; sehingga sebagai konsekuensinya kita tak bisa menarik pelajaran darinya.

Apa yang digali dan ditulis Pak Wie, agak berbeda. Lewat antaran-antaran yang mengajak kita membayangkan lanskap sosial-budaya masa lampau, meski pendek dan kadang singkat, kita diajak untuk membayangkan situasi-situasi dimana teks-teks ini lahir. Dari sana kita diajak untuk membangun penghargaan sekaligus pemaknaan yang lebih tepat dari teks yang dibahas.

Apa yang dilakukan pak Wie ini nyaris sama sebangun dengan metode pembacaan berbasis asbabun nuzul dalam ilmu tafsir, atau asbabul wurud dalam mempelajari hadits; dimana kita diajak untuk lebih memahami teks lewat konteks-konteksnya. Tanpa memahami konteks kita punya potensi untuk salah atau gagal atau setidaknya salah memahami secara tepat makna sebuah teks.

Dalam kaitan ini, sebenarnya sangat menarik menempatkan hasil tulisan pak Wie ini dalam bingkai besar pemahaman ulang atas upaya penerapan Islam dalam ruang budaya (dalam hal ini Jawa terutama) yang dilakukan oleh para wali, terutama Sunan Kalijaga. Hal ini menjadi sangat penting, setidaknya mengingat fakta bahwa semakin kesini semakin banyak generasi baru yang bukan saja tidak memahami bagaimana para pendahulu dulu berjuang menerapkan Islam secara bertahap lewat jalur budaya; tapi bahkan lebih jauh lagi, malah menganggap para pendahulu tersebut seolah sebagai peletak dasar dari apa yang secara tergesa mereka kategorikan sebagai kesyirikan atau setidaknya tradisi bid’ah.

Kekurang-fahaman atau bahkan penghakiman semacam ini, tampaknya muncul karena selama ini ada keterputusan ummat Islam atas sejarahnya sendiri. Bahkan, sangat mungkin, tanpa memahami lanskap sosial-budaya Jawa awal abad 20, kita juga akan gagal memahami kebijakan KH. Chudlori di atas. Padahal semangat dasar kebijakan yang diambil KH. Chudlori tersebut taklah berbeda dengan semangat dasar para penyebar Islam di Nusantara dulu.

Mengingat kenyataan tersebut, kita berharap semoga buku ini mampu memancing para sejarahwan untuk lebih fokus menyambung keterputusan penulisan sejarah dan budaya Islam di Nusantara; keterputusan yang dampaknya sangat terasa di masa sekarang, bukan saja bagi ummat Islam tapi juga bagi keberadaan bangsa Indonesia; karena, sebagaimana diyakini banyak sejarahwan, sejatinya Islam dan kaum Muslim-lah landasan dasar sekaligus perekat bangunan kebangsaan yang kini kita sebut Indonesia.

Pengantar untuk buku: ISLAM MENCINTAI NUSANTARA: JALAN DAKWAH SUNAN KALIJAGA. Tafsir Suluk Kidung Kawedar, diterbitkan oleh Pustaka IIMaN (0851-0000-76920).

Leave a comment

Filed under Uncategorized