Nasihat Ulama Sepuh Kyai Ali Yafie Terhadap Demo Umat Islam 212.

 Teguh, Istiqomah.

Sami’na wa atho’na, yang berarti kami dengar dan kami taat, adalah sikap hormat dan patuh yang diajarkan di dalam Islam kepada seorang muslim untuk hormat dan patuh pada ulama. Ungkapan kepatuhan itu berasal dari ayat suci Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 285.

Perihal ulama, Junjungan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. dalam hadis yang sangat termasyhur, yang diriwayatkan oleh Abdu Dawud, bersabda, “Ulama adalah pewaris Nabi.”

Berdasarkan adab mulia yang diajarkan Al Qur’an dan hadis itu, saya mempunyai kebiasaan jika menghadapi keadaan yang besar dan luas pengaruhnya di masyarakat, memohon nasihat serta petunjuk dari ulama yang sudah sangat sepuh dan saya percaya sudah bisa menjalani “topo ngrame”, yaitu Prof.K.H.Ali Yafie.

Kali ini saya memohon nasihat bagaimana menyikapi “Demo Super Damai 212” ( Jumat 2 Desember 2016 di lapangan Monas Jakarta.

Kalimat pertama yang keluar dari beliau adalah, “Ya, Zaman Edan. Seperti yang sudah kita bicarakan dan bahas dalam buku Zaman Edan kita.” Maksudnya adalah buku BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN, yang diluncurkan pada Selasa tanggal 22 Safar 1438 H (22 November 2016), menandai acara Tasyakur 93 tahun hitungan kalender Hijriah usia beliau.

“Jadi harus bagaimana Puang Kyai?”

“Teguh, istiqomah. Jalan terus. Ingat hadis yang saya kutip untuk catatan buku Zaman Edan tersebut. Itu hadis dan bukan ucapan saya.”

“Bacaan dzikir apa yang paling tepat untuk dilantunkan dan dipanjatkan dalam situasi yang jungkir balik ini?”

“Berserah diri sepenuh hati kepada Allah Yang Mahapenolong, yaitu hasbunallah wa ni’mal wakil.. Cukuplah Allah yang menjadi penolong kita.” Demikian penegasan dan nasihat beliau.

Agar kita bisa memahami lebih lengkap nasihatnya, berikut ini saya kutipkan catatan Prof.K.H.Ali Yafie yang menjadi halaman pertama, yang langsung kita jumpai apabila membuka sampul depan buku BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN, sebagai berikut:

“Kita mengenal istilah populer Zaman Edan dari syair Pujangga Ronggowarsito. Namun sebelumnya salah satu ulama dari Walisongo, yaitu Sunan Kalijogo juga sudah mengajarkan bagaimana jika kita menghadapi suasana kehidupan dengan tata nilai “jungkir balik” seperti Zaman Edan. Sesungguhnya keadaan yang seperti itu pun sudah diingatkan dan digambarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Kitab Mukhtarul Ahadist an-Nabawiyah karya Assayid Ahmad al-Hasyimi mengungkapkan hal tersebut antara lain: “Kelak akan datang banyak sekali fitnah. Pada waktu itu orang yang duduk lebih baik dari orang yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik dari orang yang berjalan, serta orang yang berjalan lebih baik dari orang yang berlari”.

Hadis lain menyebutkan, Rasulullah bersabda: “ Nanti pada suatu masa akan tampil pemimpin-pemimpin yang menguasai harta benda kamu, mereka akan berbicara dengan kalian dan membohongi kalian, mereka bekerja tetapi mencela pekerjaan itu, tidak akan senang pada kalian sampai kalian menganggap baik keburukannya, dan membenarkan kebohongannya. Maka berikanlah kepada mereka apa maunya, dan kalau mereka itu melampaui batas maka siapa saja yang terbunuh dalam keadaan seperti itu dia akan mati sahid.”

Mengapa dunia ini bisa kacau? Karena terlalu banyak orang yang tidak tahu diri, tidak tahu menempatkan diri dan tidak bisa membawa diri. Dalam dunia Tasawuf sering diungkapkan “man arafa nafsahu faqad arafa rabahu” (siapa saja yang mengetahui dirinya maka akan mengetahui Tuhannya). Ada dua rumus untuk memahami siapa kita. Pertama, manusia adalah makhluk yang cerdas karenanya manusia itu adalah makhluk yang diberikan derajat yang mulia dan tinggi (terhormat), (QS al-Isra [17]: 70). Jika ada manusia yang berbuat tidak terhormat maka orang itu mengingkari hakikat dirinya atau manusia yang tidak tahu diri. Kedua, manusia adalah makhluk sosial yang beradab, dia senantiasa membutuhkan orang lain dan di sisi yang lain tidak boleh memandang remeh orang lain.”

(Penerbit BukuRepublika, 410 halaman (xxxiv+376), tlp./sms 081285304767 www.bukurepublika.com atau https://islamjawa.wordpress.com atau bwiwoho.blogspot.com atau bukusahabatwiwoho.wordpress.com).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Penjajah Belanda dan Islam Menyatukan Indonesia

Jangan Sakiti Hati Umat Islam.

Pewarta: Parni Hadi*

Penjajahan Belanda dan perlawanan yang dilakukan oleh penduduk di berbagi pulau di kawasan antara benua Asia dan Australia, yang mayoritas beragama Islam, telah membentuk bangsa Indonesia dan melahirkan NKRI (Negara Kesatuan Republik Inonesia).
“Imperialisme Belanda adalah penjajahan yang menyatukan (uniting imperialism),” kata Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia Van Roijen, awal tahun 1990an.

Apa yang dikatakan Dubes Belanda itu betul, sebab wilayah Republik Indonesia seperti tertulis dalam UUD 1945 adalah seluruh bekas jajahan pemerintah Hindia Belanda.
Perlawananan terhadap penjajah Belanda dilakukan rakyat, baik Muslim maupun non-Muslim, hampir di seluruh wilayah Indonesia. Tercatat dalam  buku sejarah tokoh-tokoh pejuang nasional, antara lain Sultan Agung, Imam Bonjol, dan Pangeran Diponegoro.
Pejuang lain adalah Teuku Umar, Tjut Nya Dien, Pangeran Antasari, Sultan Hasanuddin, Martha Christina Tiahahu, Thiomas Matulessy Pattimura dan IG Ngurah Rai.

Sesuai prosentase penduduk, mayoritas perlawanan dilakukan dan dipimpin oleh umat Islam.
Pertempuran Surabaya November 1945, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan, juga dikobarkan Bung Tomo dengan seruan “Allahu Akbar”. Orang rela mati berkat panggilan yang mengagungkan asma Allah itu. Belum lagi, jika penjajah Belanda dianggap kafir, maka berperang melawan kafir diyakini sebagai berjihad.

“Kita mencintai bangsa kita dan dengan ajaran agama kita (Islam), kita berusaha sepenuhnya untuk mempersatukan seluruh atau sebagian terbesar bangsa kita,” kata HOS Tjokroaminoto, Ketua Sarekat Islam (SI) dalam salah satu rapat akbar SI seperti diungkap buku “Jang Oetama” (Yang Utama), Jejak dan Perjuangan HOS Tjokroaminoto (1882-1934), karya Aji Dedi Mulawarman.

Sementara itu, buku “OS Tjokroaminoto, Pelopor Pejuang, Guru Bangsa dan Penggerak SI” karya HM Nasruddin Anshory Ch dan Agus Hendratno, mengungkap pendapat Tjokroaminoto bahwa Islam adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dan dipersatukan sebagai dasar kebangsaan Indonesia.
Tjokroaminoto adalah guru dari sejumlah tokoh besar yang setelah Indonesia merdeka saling bertentangan, di antaranya Bung Karno, tokoh nasionalis yang kemudian menjadi Presiden pertama RI. Kemudian Musso, pentolan  PKI (Partai Komunis Indonesia) yang memimpin pemberontakan PKI Madiun 1948  dan SM Kartosuwiryo, pimpinan Darul Islam (DI) yang memberontak kepada pemerintah RI.
Musso tewas oleh serangan pasukan TNI dari Divisi Siliwangi. Kartosuwiryo ditangkap tahun 1962 dan dijatuhi hukuman mati sesuai keputusan pengadilan.

Jangan sakiti hati umat Islam

Hariman Siregar, pimpinan gerakan mahasiswa yang melahirkan apa yang terkenal dengan peristiwa Malari (Mala Petaka Januari), 1974, sebuah demonstrasi anti pemerintahah Presiden Soeharto, berpendapat bahwa pemerintah jangan menyakiti hati umat Islam, mayoritas penduduk Indonesia.
“Jangan sakiti hati umat Islam,” kata Hariman dalam sambutannya pada peluncuran buku “Bertasawuf Di Zaman Edan” karya Bambang Wiwoho di Jakarta pada 22 November 2016.

Hariman mengaku pengetahuannya tentang Islam baru sedikit, belajar dari mertuanya, Prof. Sarbini Sumawinta, ekonom UI, orang Sunda yang lahir di Madiun, beraliran Sosialis (PSI) dan pernah menjadi ketua tim ahli politik Jendral Suharto di awal Orde Baru .
Pembangunan, lanjut Hariman, jangan lebih berfokus untuk kepentingan golongan tertentu yang sudah kaya, melainkan untuk kepentingan rakyat, yang mayoritas beragama Islam.
Orang boleh berdebat, suara Islam tidak satu, tapi terbagi dalam berbagai aliran, mahzab dan organisasi. Tapi, bila keyakinan akan tauhid (keesaan Tuhan), kesucian Nabi Muhammad  SAW dan kebenaran Al-Quran  dilecehkan, maka mayoritas umat Islam, terlepas perbedaan aliran, mahzab dan organisasi, akan bangkit bersatu.

Tjokroaminoto, guru para tokoh  pergerakan nasionalis, komunis dan Islam sekaligus,  pun segera bangkit membentuk dan memimpin Tentara Kanjeng Nabi Muhammad SAW (TKNM) gara-gara  Rasulullah Saw dilecehkan oleh sebuah tulisan di majalah “Jawi Hisworo” yang terbit di Solo awal tahun 1918.

Artikel tersebut membuat umat Islam marah, menyulut reaksi keras dengan pembentukan TKNM tanggal 17 Februari 1918. TNKM berdiri hampir di seluruh Jawa, kecuali Semarang dan Yogyakarta, serta sebagian Sumatera.  Gerakan TKNM berhasil menghimpun aksi massa yang melibatkan  sekitar 175 ribu orang
.
Pak Tjokro, yang tercatat lahir di desa Bakur, kecamatan Sawahan Madiun adalah tokoh Islam terpelajar pada jamannya. Anggota SI disebut mencapai 2,5 juta orang, jumlah terbesar yang pernah dapat diraih sebuah organisasi waktu itu. Karena besarnya jumlah pengikutnya, ia digelari “Raja Jawa Tanpa Mahkota”.

Sebagai jago pidato atau orator ulung yang dapat memukau pendengarnya selama beberapa jam, Pak Tjokro  mendapat gelar “Singa Podium”. Kemampuan serupa dimiliki oleh sang murid, Bung Karno, yang berani menilai pidato sang guru kurang berwarna alias monoton.

Orang boleh menyebut  tingkat pendidikan mayoritas rakyat Indonesia belum tinggi dan menjadi Muslim karena sangat dipengaruhi emosi (perasaan). Tentang peranan perasaaan, ada pendapat bahwa keimanan penganut agama dan keyakinan apa pun  dipengaruhi oleh perasaan.
Dalam politik praktis, kondisi umat Islam yang mayoritas dianggap masih kurang terpelajar dan belum sejahtera  adalah sebuah realitas politik (real politik) yang harus diperhatikan secara seksama oleh para politisi dan penguasa.

Alasannya, mereka adalah sumber suara mayoritas. Jika mau sukses meraih dan mempertahankan kekuasan, umat Islam harus didekati, dirangkul dan diajak berdialog.
Generasi muda penerus Eyang Tjokro sekarang sudah jauh lebih maju. Sudah banyak yang menempuh pendidikan di negara Barat dengan menggondol gelar S3. Generasi “Y” Muslim kini juga menguasai teknologi muthakir dan sanggup menandingi serbuan  “Buzzer”  yang dianggap merugikan kepentingan umat Islam.

Tentang cinta Tanah Air dan bela negara, di kalangan umat Islam ada semboyan: “Hubbul Wathan Minal Iman” (Mencintai Tanah Air adalah bagian dari Iman).
*Penulis adalah Wartawan senior, Inisiator/Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa dan Penulis “Jurnalisme Profetik”.
Editor: Mulki
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Bertasawuf di Zaman Edan, Meneladani KH Ali Yafie

 

BSM: Bersih – Sederhana – Mengabdi

Oleh Parni Hadi.

Jakarta (ANTARA News) – Bertasawuf (mengenal diri untuk mengenal Tuhan) di zaman edan perlu bagi setiap insan untuk mencapai kedamaian batin dan kebahagiaan orang lain dengan melakoni hidup bersih, sederhana, mengabdi (BSM) ala ahli fiqih (hukum Islam), Prof KH Ali Yafie.

Hal itu terungkap dalam buku “Bertasawuf di Zaman Edan”, karya Bambang Wiwoho, wartawan senior, yang diluncurkan di Jakarta, 22 November 2016. Peluncuran buku sekaligus memperingati HUT mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia yang tahun ini genap berusia 90 tahun.
Zaman edan adalah masa ketika tata nilai kehidupan “jungkir balik” yaitu yang salah dibenarkan dan yang benar disalahkan, yang salah dibela dan yang benar dicela. Orang yang kurang atau tidak waras pikirannya disebut edan atau gila.
Ungkapan zaman edan dipopulerkan oleh pujangga Jawa Ronggowarsito. Sebelumnya oleh Sunan Kalijogo, salah seorang Wali Songo. Bahkan, Nabi Muhammad SAW sudah menyampaikan akan datang suatu masa seperti itu, menurut kitab Mukhtarul Ahadist an-Nabawiyah seperti dikutip Puang (Eyang) KH Ali Yafie dalam buku itu.
Hadir dalam acara peluncuran buku tersebut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan sejumlah tokoh nasional, termasuk Prof Dr M Quraish Shihab, Prof Dr Jimly Assidiqie, mantan Gubernur DKI Soerjadi Soedirdja, Fahmi Idris, Marzuki Usman, AM Fatwa, Hariman Siregar, dan adik almarhum Gus Dur, Hj Lilly Wahid.
Buku ini adalah sebuah kisah penulisnya, seorang pencari hakikat Tuhan, Kebenaran Tertinggi atau Kebenaran Mutlak Tanpa Batas. Bentuk, cara, dan gaya penyajian kisah pencariannya diwarnai oleh latar belakang budaya, agama, dan profesi sang penulis: seorang Jawa, beragama Islam dan wartawan.
Bambang artinya satria yang hidup dan tumbuh berkembang di pertapaan, padepokan atau perguruan bersama sang pertapa dan sang guru sekaligus. Wiwoho berarti dimuliakan. Begitu maksud sang pemberi nama.
Tasawuf adalah sebuah ajaran dalam agama Islam untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah. Sebuah ilmu, cara, dan sekaligus jalan menuju Tuhan dengan laku-laku tertentu yang berintikan dan dimulai dengan pengenalan diri sendiri melalui pengendalian nafsu, penataan batin, dan berakhir pada pasrah kepada Allah.
Sebagai orang Jawa yang budayanya terkenal suka meramu segala macam ilmu dan laku menjadi satu padu, Mas Wie, begitu orang biasa memanggilnya, membingkai keislamannya dengan nama Islam Jawa. Ada yang menyebutnya “Islam rasa Jawa” dan atau “Jawa rasa Islam”. Ada juga: “Wadah Islam, rasa Jawa” dan atau “Wadah Jawa, rasa Islam”. Wadah dan isi menyatu. Syariat dan hakikat telah saling mengikat. Keduanya adalah tajali (pengejawantahan) Sang Maha Hakikat.
Seorang wartawan adalah sosok yang senang mempertanyakan segala sesuatu. “A questioning mind” atau batin yang selalu bertanya. Tidak gampang percaya begitu saja pada segala hal, selalu resah, gelisah, ingin membuktikannya sendiri. Minimal, ingin melakukan klarifikasi dengan ahlinya. Di sini sang pelaku, pencari dan pejalan (traveller) menuju hakikat, perlu pemandu yang bertindak sebagai guru.
Praktik hidup keseharian

Allah mempertemukan Mas Wie dengan Sang Guru, yakni Puang Profesor Kyai Haji Ali Yafie, seorang tokoh Islam terkemuka dari Sulawesi Selatan, yang menurut perhitungan Hijriah, tahun ini genap berusia 93 tahun.
Tampilnya sang Guru yang non Jawa menunjukkan bahwa hakikat itu bersifat universal, tidak mengenal SARA (suku, agama/aliran, ras dan antar-golongan), istilah top zaman Pak Harto, serta kebangsaan, ideologi, apalagi partai politik.
Tasawuf tidak identik dengan ilmu “klenik” yang umumnya dianggap bertujuan untuk memiliki kekuatan supranatural, seperti kesaktian menggandakan uang. Bertasawuf tidak berarti hidup menyepi sendiri di hutan, gua atau pucuk gunung dengan hanya khusyuk berdoa (khalwat). Tetap bekerja seperti biasa, bahkan lebih keras, tapi tujuan utamanya untuk beribadah. Orang Jawa menyebutnya “topo ngrame, sepi ing pamrih rame ing gawe” (bertapa di tempat ramai).
Seorang sufi (pengikut tasawuf) tetap harus menjalani ibadah syariat, sholat, seraya menempuh tarekat menuju hakekat untuk menggapai makrifat.
Kyai Ali Yafie memenuhi syarat untuk menjadi guru sesuai ajaran Jawa yang termaktub dalam “Serat Wulangreh” buku karya Kanjeng Sinuhun Pakubuwono IV, Raja Surakarta.
Sang pujangga-raja atau raja-pujangga dalam Tembang Dhandhanggula menasehatkan: jika mencari guru pilihlah manusia yang nyata, yang bagus martabatnya, tahu hukum (syariah), yang beribadah dan “wirangi” (wara), syukur petapa, yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, tidak berpikir lagi tentang pemberian orang lain.
Puang Ali Yafie sangat pantas menyandang gelar “mursyid” (guru tasawuf). Laku hidup Pak Kyai, yang juga tokoh Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), dapat diperas secara bernas menjadi BSM.

Ia terkenal bersikap tegas. Karena menolak SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah), yang dianggapnya judi, ia memilih mundur dari jabatan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Laku sangat penting dalam menempuh jalan (tarekat) menuju hakikat dan makrifat seperti ajaran Sri Mangku Negoro IV, Raja Puri Mangkunegaran, Surakarta dalam karyanya Serat Wedhatama: “ngelmu iku kalakone kanthi laku” (ilmu itu mewujudnya dengan laku).
BSM sebagai laku menjiwai buku ini dari awal sampai akhir. Kebetulan, wartawan adalah pengemban profesi mulai sebagai pewaris tugas kenabian: menyampaikan kabar gembira dan peringatan seperti tersurat dalam Al-Khafi, QS 18:56, (lihat “Jurnalisme Profetik”) demi kesejahteraan bagi seluruh alam semesta. Buku ini diterbitkan PT Buku Republika.
Islam mengajarkan pengendalian nafsu, bukan penghilangan nafsu, karena nafsu adalah perangkat hidup sebagai sunatullah. Berkat nafsu, kehidupan dapat berkembang maju. Kata kuncinya adalah pengendalian berdasar ajaran budaya dan agama sesuai tuntunan Allah melalui para rasul dan atau orang pilihan-Nya.
BSM perlu menjadi pedoman setiap insan, terutama para pemimpin, dalam mengarungi Zaman Edan di era globalisasi kini. Ini gampang diomongkan, tapi sulit diamalkan. Banyak orang mendapat gelar “Jarkoni”, bisa berujar, tidak bisa melakoni. Sederet gelar akademis dan keagamaan tidak menjamin dan mencerminkan kualitas intelektualitas dan religiusitas seseorang.
Era globalisasi yang dipicu oleh kapitalisme mempengaruhi sikap hidup hampir semua orang sejagat menjadi: individualis, egoistis, egosentris, dan hedonis. Semua cenderung memperturutkan hawa nafsunya. Pengendalian nafsu terkait erat dengan disiplin diri yang ketat.
Seorang dosen tasawuf, baru-baru ini berkata: Hanya sufi yang lurus dapat memandu menyelamatkan perjalanan bangsa ini dan seluruh umat manusia menuju kebahagiaan melewati jalan cinta untuk semua (rahmatan lil alamin).
Prof Dr KH Ali Yafie dengan BSM-nya adalah suri teladan. Beliau konsisten suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan (Dasadharma Pramuka) dalam kehidupan sehari-hari. (*)
*Penulis adalah Wartawan, Inisiator/Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa dan Penulis “Jurnalisme Profetik”.
Editor: Ruslan Burhani

Leave a comment

Filed under Uncategorized

PELUNCURAN BUKU BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN MENANDAI TASYAKUR 93 TH PROF.K.H.ALI YAFIE.

PELUNCURAN BUKU BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN MENANDAI TASYAKUR 93 TH PROF.K.H.ALI YAFIE.

Alhamdulillah, dengan ridho, rahmat dan berkah Gusti Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang, buku BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN telah diluncurkan menandai tasyakuran usia Prof.K.H.Ali Yafie  93 tahun, bertempat di Telaga Sampireun, Bintaro, Selasa 22 November 2016. Meski undangan baru diedarkan hanya sekitar 4 hari sebelum acara dan pada umumnya dalam bentuk kiriman media sosial What’s Ap, sekitar 150 tamu termasuk Menteri Agama RI Lukman Hakim Saaifuddin menghadiri tasyakuran tersebut. Berikut foto-fotonya

Leave a comment

Filed under Uncategorized

BUKU BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN

Penerbit BukuRepublika, 410 halaman (xxxiv+376), tlp./sms 081285304767 www.bukurepublika.com atau https://islamjawa.wordpress.com atau bwiwoho.blogspot.com atau bukusahabatwiwoho.wordpress.com

Leave a comment

29 November 2016 · 2:59 pm

BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN

Bertasawuf di Kancah Globalisasi

Dengan Tata Nilai Yang Jungkir Balik

 Penerbit BukuRepublika, 410 halaman (xxxiv+376), tlp./sms 081285304767 www.bukurepublika.com atau https://islamjawa.wordpress.com atau bwiwoho.blogspot.com atau bukusahabatwiwoho.wordpress.com

 Zaman Edan

Amenangi zaman edan

Ewuh aya ing pambudi

Melu edan ora tahan

Yen tan melu anglakoni

Boya kaduman melik

Kaliren wekasanipun

Ndilalah karsa Allah

Begja-begjane kang lali

Luwih begja kangeling lan waspada.

Artinya:

Mengalami hidup di zaman edan (gila)

Sungguh repot lagi serba sulit

Mau ikut edan tidak tahan (tidak bisa)

Jika tidak (mau) ikut menjalani (edan)

Tidak akan kebagian

Akhirnya kelaparan

Namun sudah (menjadi) ketetapan Allah

Sebesar apapun keberuntungan orang yang lupa (diri karena edan)

Masih lebih beruntung (bahagia) orang yang ingat (Tuhan) dan waspada.

(Pujangga Ranggawarsita, Serat Kalatida bait ke 7).

Judul buku ini BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN, memiliki dua pengertian yang dipadukan menjadi satu. Yang pertama, bertasawuf atau menjalankan tasawuf dalam kehidupan kita sehari-hari. Yang kedua, di zaman edan, yaitu suatu zaman dimana tatanilai dalam kehidupan jungkir balik. Oleh Pujangga Keraton Kasunanan Surakarta Ranggawarsita (1802 – 1873) kehidupan bermasyarakat dan bernegara di zaman edan digambarkan rusak dan sangat buruk, tiada pemimpin yang bisa dijadikan panutan, para cendekiawannya tidak memiliki jatidiri dan hanya mengejar pesona dunia. Tata nilai kebaikan dikalahkan oleh kejahatan.

Empat abad sebelumnya, ulama legendaris Sunan Kalijaga juga sudah mewaspadai akan datangnya zaman seperti itu. Padahal di kala itu, tanah Jawa masih berupa hutan belantara dengan sungai-sungai besarnya yang bisa dilayari perahu. Menurut Sunan Kalijaga, kelak akan datang suatu masa yang amat buruk, yang ditandai dengan hilangnya lubuk-lubuk di sungai-sungai (lantaran terjadi pendangkalan akibat erosi seperti sekarang ini), gaung pasar-pasar tradisional hilang, kaum lelaki kehilangan wibawa dalam rumahtangga, perempuan tak lagi punya rasa malu, orang tamak-rakus-serakah menjadi-jadi, orang jujur justru kojur (celaka).

Perihal zaman yang digambarkan kedua ulama di Tanah Jawa tersebut, guru dan orangtua kita Prof.K.H.Ali Yafie mengingatkan sudah pula diantisipasi oleh Kanjeng Nabi Muhammad Saw di abad ketujuh, melalui sabdanya sebagai berikut: “Nanti pada suatu masa akan tampil pemimpin-pemimpin yang menguasai harta benda kalian, mereka akan berbicara dengan kalian dan membohongi kalian, mereka bekerja tetapi pekerjaannya tercela, serta tidak akan senang pada kalian sampai kalian menganggap baik keburukannya dan membenarkan kebohongannya. Maka berikanlah kepada mereka apa maunya, dan kalau mereka itu melampaui batas maka siapa saja yang terbunuh dalam keadaan seperti itu akan mati sahid.”

Apakah suasana kehidupan kita sekarang ini sudah bisa disamakan dengan gambaran zaman edan tadi? Tentu belum sepenuhnya, namun jika tidak segera diantisipasi bukanlah tidak mungkin, sebab gejalanya sudah mengarah ke sana.

Ciri-ciri masyarakat Indonesia yang dulu diunggulkan yaitu sopan, sabar, tertib, penuh toleransi serta menghargai hak orang lain, gotongroyong, idealis, hemat dan sejumlah budi luhur lainnya ternyata tanpa kita sadari telah berubah menjadi pragmatis, hedonis, individualis, materialis dan narsis. Perubahan itu terjadi akibat serbuan Perang Semesta Global yang dilancarkan oleh para Kapitalis Global baik Kapitalis Barat maupun Utara khususnya China. Ironisnya, ditengarai sistem nilai serta struktur sosial masyarakat Indonesia tidak terkonstruksi untuk mengakomodasi, apalagi melawan, gelombang dahsyat globalisasi yang menerjang bergulung-gulung tanpa henti. Serbuan Divisi Perang Moral dengan missile-missile tata nilai hedonis dan para sekutunya tersebut apabila tidak bisa diatasi, tentu akan membawa bangsa Indonesia masuk ke dalam pusaran krisis multidimensi yang besar, berat dan kompleks.

Buku ini menggambarkan suasana kehidupan di sekitar kita sehari-hari yang sudah diwarnai oleh pragmatisme, hedonisme, individualisme, materialisme dan narsisme yang bisa merusak mental dan moral kita baik secara individu maupun koleksi sebagai bangsa, beserta tawaran solusi mengatasinya, yaitu mengikuti jalan tasawuf yang mengajarkan hidup BERSIH – SEDERHANA – MENGABDI.

Menurut Helmy A.Yafie, Sekjen Darud Dakwah wal Irsyad (DDI) yang juga putera Prof.K.H.Ali Yafie, buku ini mengajak kita untuk berefleksi dengan keadaan sekarang, yang sesungguhnya merisaukan, atau bahkan menakutkan, dan mencoba menunjukkan bahwa sebenarnya ada cara atau jalan yang bisa digunakan untuk menghadapinya, yakni apa yang disebut tasawuf. Tidak perlu menempuh cara seekstrim yang pernah ditempuh oleh para sufi zaman dahulu. Tidak perlu menjadi sufi seperti orang-orang terdahulu. Tetapi yang perlu adalah  mengikuti jalan itu, jalan tasawuf yang lebih moderat. Itulah yang dicoba diungkapkan melalui buku ini.

Sebagian besar isi buku ini merupakan hasil nyantri Penulis dengan Prof.K.H.Ali Yafie, serta dari beberapa ceramah beliau. Penulis berinteraksi secara intensif dengan Prof.Ali Yafie sejak akhir 1980an. Isi buku ini bertumpu pada pesan “hidup bersih, sederhana dan mengabdi.”

Tasawuf pada hemat Prof Ali Yafie, bagaikan Salon Kecantikan Jiwa dan juga Rumah Sakit, yang memberikan kiat-kiat pembinaan agar manusia bisa hidup BSM yakni bersih, sederhana dan mengabdi.

Demi hidup sesuai jalan tasawuf, salah seorang mursyid penulis yang lain yakni Buya K.H.Endang Bukhari Ukhasyah, mengajak kita meneladani kehidupan sehari-hari Kanjeng Nabi Muhammad Saw, yang senantiasa berada di tengah dan bersama umatnya dalam suka dan duka. Dengan cara yang seperti itulah beliau bermakrifat, dan bukan dengan hidup menyendiri di tempat sunyi.

Tasawuf adalah jalan kehidupan yang dilandasi kebulatan hati pada Gusti Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, yang seluruh jiwa raga dan kehidupan kita senantiasa dalam genggaman-Nya, yang dilakukan dengan tekun ibadah dalam arti yang luas, serta tidak cenderung pada kemewahan.

Di dalam jalan tasawuf memang dikenal ada berbagai ajaran antara lain zuhud, yaitu kondisi mental yang dalam membulatkan hati serta tekun ibadah kepada Allah, tidak terpengaruh oleh harta benda dan pesona dunia.  Namun demikian Buya Hamka menegaskan, itu tidak berarti tidak mau sama sekali memiliki harta benda dan tidak suka mengenyam nikmat dunia; karena yang seperti itu adalah zuhud yang melemahkan, dan itu bukanlah ajaran Islam. Semangat Islam menurut beliau ialah semangat berjuang. Semangat berkurban, bekerja dan bukan bermalas-malasan, lemah paruh dan melempem.

Atas buku ini, sahabat penulis, wartawan senior Parni Hadi menyatakan, bertasawuf di Zaman Edan (Globalisasi) ini wajib hukumnya. Laku hidup BSM (Bersih, Sederhana, Mengabdi) ala Prof.KH. Ali Yafie bisa menjadi tuntunan. Karena itu perlu dibaca siapa pun yang gandrung kedamaian bathin. Sementara itu Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Prof.Dr.Muhammadiyah Amin M.Ag menilai, buku ini mengemas, mengulas, dan menghadirkan potret sosial berupa fragmen-fragmen kehidupan masyarakat yang dijumpai sehari-hari di sekitar kita, serta mengajak pembaca agar mengambil makna, hikmah, pelajaran dan perbandingan dari pengalaman hidup sendiri dan orang lain.

Meski bicara perihal tasawuf, buku ini hanyalah torehan pengalaman kehidupan yang dijumpai penulis, baik yang dialami sendiri secara langsung maupun dialami oang lain di sekitarnya. Dengan mengingat petuah, pengalaman adalah guru yang terbaik, maka dengan bimbingan guru sekaligus orangtua kita, Puang atau mbah atau Eyang Kyai Ali Yafie, penulis memberanikan diri menuangkannya secara tertulis. Sudah barang tentu tiada gading nan tak retak, dan bila itu terjadi, adalah lantaran kesalahan penulis sendiri, bukan orang lain dan pihak lain. Sebaliknya jika ada manfaatnya bagi pembaca, itu adalah karena hikmah dan hidayah-Nya. Oleh sebab itu kami  mohon maaf.

Subhanallah walhamdulillah walailahaillallah wallahuakbar.

Link Media Online Berita Buku “Bertasawuf di Zaman Edan”

http://bukurepublika.id/products/detail/281/Bertasawuf-di-Zaman-Edan

Menag: Banyak Sumbangsih yang Diberikan KH Ali Yafie (REPUBLIKA ONLINE) http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/11/22/oh1esg313-menag-banyak-sumbangsih-yang-diberikan-kh-ali-yafie

Tokoh-Tokoh Indonesia Hadiri Tasyakuran KH Ali Yafie (REPUBLIKA ONLI0NE) http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/11/22/oh1d2p313-tokohtokoh-indonesia-hadiri-tasyakuran-kh-ali-yafie

*KH Ali Yafie Teladan Pelaku Tasawuf* –  http://www.timesindonesia.co.id/read/137231/20161123/084655/kh-ali-yafie-teladan-pelaku-tasawuf/

http://bukurepublika.id/page/detail/63/Katalog

http://bukurepublika.id/products/detail/281/Bertasawuf-di-Zaman-Edan

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/11/23/oh2n7k396-menag-kh-ali-yafie-teladan-pelaku-tasawuf-zaman-kini

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/11/22/oh1m3d396-jimly-kh-ali-yafie-guru-semua-tokoh-intelektual-saat-ini

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/11/22/oh1lmx396-quraish-shihab-kh-ali-yafie-bagai-api-di-atas-gunung

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/11/22/oh1lfq396-jajaki-93-tahun-kh-ali-yafie-masih-pikirkan-keselamatan-indonesia

http://www.mediagaruda.co.id/2016/11/23/menag-buku-bertasawuf-di-zaman-edan-hadir-di-waktu-yang-tepat/

http://my-bukukuning.blogspot.co.id/2016/11/anregurutta-prof-kh-ali-yafie-berulang.html?m=1

http://www.kbknews.id/2016/11/24/bertasawuf-zaman-edan-melakoni-hidup-bsm-ala-prof-kh-ali-yafie/

http://bukurepublika.id/products/detail/281/Bertasawuf-di-Zaman-Edan

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

ULAMA DAN PENGUASA

      Minggu ini sedang terjadi perbincangan yang sangat menarik perihal keulamaan. Berikut ini kami muat ulang tulisan tentang Ulama dan Penguasa, yang sudah kami terbitkan 5 tahun yang di berbagai blog dan facebook, disertai doa semoga ulama-ulama Indonesia termasuk pada golongan ulama-ulama hujjah dan atau ulama-ulama hajjaj, dan bukan ulama-ulama mahjuj lagi juhala. Aamiin.

Beberapa sahabat fesbuker bertanya sekaligus meminta pendapat tentang hubungan antara ulama dan umaro (penguasa), dan lebih khusus lagi mengenai pernyataan serta kedatangan sejumlah pemuka agama atau ulama ke Istana Negara hari Senin, 17 Januari 2011. Saya tidak ingin menjawab secara langsung, tapi saya kutipkan saja pandangan guru besar kita Al Ghazali tentang ulama.

Pandangan Al Ghazali ini banyak dibahas dalam kitabnya yang sangat termasyhur, dan saya yakin sudah dihafal di luar kepala oleh para ulama kita, yaitu kitab Al-Tibbr Al-Masbuk fi Nasihat Al Muluk (Nasihat Bagi Penguasa).

Al Ghazali membagi ulama dalam tiga golongan. Pertama, ulama hujjah, yaitu ahli ilmu agama yang mengutamakan perintah Tuhan, dan bekerja menurut jalan yang benar. Kedua, ulama hajjaj, yaitu ahli ilmu agama yang berjuang menegakkan agama Tuhan, berdiri di baris terdepan memimpin umat mempertahankan politik keadilan, bagaikan bintang terang yang menyinari jalan dan memimpin perjuangan. Ketiga, ulama mahjuj, yaitu ulama yang menghambakan diri pada duniawi, menjadi budak kaum penguasa yang menjalankan politik kezaliman.

Para pemikir Islam klasik jauh-jauh hari sudah menyadari dan mengingatkan, bahwa ulama yang paling buruk adalah ulama yang datang ke penguasa, kecuali untuk memperingatkan dan menegur Sang Penguasa. Oleh karena itu pula pada hematnya, ulama harus tegak menjaga fungsinya sebagai pemegang amanah Allah, penjaga waris Nabi-Nabi dan penegak politik keadilan. Para ulama dan cendekiawan harus bersikap waspada dan jangan menundukkan diri pada politik kezaliman, bahkan jika dianggap perlu harus mengambil sikap uzlah, menjauhkan diri dari segala soal yang berbau politik kekuasaan.

Berkenaan dengan ulama dan keulamaan, cendekiawan Prof.Dr.Nurcholis Madjid (dalam K.H.Ali Yafie, Jati Diri Tempaan Fiqih), mengajak kita memahami pandangan Abu Hayyan sebagaimana dikutip Ibn Taimiyah dalam kitabnya yang tersohor Majmu al- Fatawa, yang juga menyatakan ada tiga macam. Pertama, ulama yang berilmu tentang Allah dan tentang ajaran Allah. Kedua, yang berilmu tentang Allah tapi tidak berilmu tentang ajaran Allah. Ketiga, ulama yang berilmu tentang ajaran Allah tapi tidak berilmu tentang Allah. Seorang ulama yang berilmu tentang Allah, akan senantiasa takut kepada-Nya, sedangkan yang berilmu tentang ajaran Allah akan senantiasa mengetahui batas-batas dan kewajibannya.

Jadi menurut isyarat Abu Hayyan, selalu ada kemungkinan tampilnya seorang “ulama bodoh”, suatu ungkapan yang mengesankan kontradiksi terminologi, tapi

benar-benar ada dalam kenyataan. Yaitu seorang ulama yang tidak merasa takut di hadapan Allah, dan tidak mencerminkan kualitas keulamaan. Lebih buruk lagi, menurut tokoh yang akrab dipanggil Cak Nur ini, ialah “ulama jahat” sebagaimana istilah yang juga digunakan oleh Al-Ghazali, sesuai peringatan Ali bin Abi Thalib sebagai berikut: “Akan datang pada umat manusia zaman ketika dari Islam tinggal hanya namanya, dan dari Al-Qur’an tinggal hanya hurufnya. Mereka beramai-ramai ke masjid, namun bangunan itu kosong dari ingat kepada Allah. Sejahat-jahat warga zaman itu ialah para ulama mereka. Dari para ulama itulah keluar fitnah, dan kepada mereka pulalah fitnah itu menimpa kembali; yaitu, mereka berilmu namun tidak melakukan amal sesuai dengan keharusan adanya ilmu mereka itu.” ( dalam Tafsir Al-Qurthubiy atas surat Ali  Imran ayat 159).

Menutup uraiannya tentang ulama dan keulamaan, Cak Nur dengan penuh keprihatinan mengajak kita berdoa, semoga kita tidak mengalami zaman seperti diperingatkan oleh Ali bin Abi Thalib tersebut, yaitu zaman tampilnya “ulama bodoh atau ulama juhala”, yang menjadi sumber fitnah dan bencana bagi masyarakat, karena di antara kita yang menyandang gelar kehormatan sebagai ulama hanya menginginkan hidup enak dan senang, seringkali disertai kemewahan, dan tidak bersedia berkorban dengan menempuh hidup tabah dan bersahaja, tidak pula bersedia melakukan pengingkaran terhadap diri sendiri (zuhud, self denial) demi kebahagiaan hakiki dan abadi yang meliputi semua, tidak hanya untuk diri pribadi.

Sahabatku, peranan kepemimpinan dalam Islam sungguh sangat menentukan kehidupan bermasyarakat, karena watak dan perangai masyarakat merupakan buah atau hasil dari watak dan perangai pemimpin-pemimpinnya. Rusak rakyat karena rusak penguasa, dan rusak penguasa karena rusak ulamanya. Semua itu membenarkan kesimpulan bahwa pemimpin adalah teladan, sehingga teladan yang baik akan memberikan hasil yang baik, dan demikian pula sebaliknya. Semoga kita senantiasa dianugerahi para pemimpin dan ulama-ulama yang amanah, yang beriman dan beramal saleh.

Aamiin.

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized