Gelar Budaya Suluk Nusantara dan Wakaf Gamelan

DEPOK – Berbeda dengan biasanya, Sabtu (27/1/2018), Komplek Perumahan Pondok Mulya I yang tenang, damai, mendadak ramai. Massa terkosentrasi di salah satu rumah warga, di Blok K No. 90. Di sana adalah rumah wartawan senior dan budayawan Bambang Wiwoho.

Di belakang rumah Mas Wi, begitu sang budayawan pemilik rumah itu akrab dipanggil, sebelumnya adalah kebun yang ditanam pohon rambutan. Kini berdiri kokoh sebuah pendopo. Di pendopo inilah aktivitas budaya dijalankan. Rumah Mas Wi menjadi tempat warga sekitar bersilaturrahim dan menyalurkan bakat seni. Di sana mereka juga mengekspresikan diri melestarikan budaya, warisan leluhur.

Namun bagi Mas Wi, pengarang buku “Islam Mencintai Nusantara” ini, aktivitas seni di pendopo itu agar tidak menjadi hiburan biasa, ia sisipkan nilai agama. Berkaca dari Jalan Dakwah para Sunan, seni yang dikembangan di Pendopo itu pun menjadi aktivitas Budaya Suluk. Budaya inilah yang menurut Mas Wi, bisa meluluhkan tatanan nilai yang ada di tanah air, ketika para sunan menyampaikan Dakwah Islam tempo doeloe. Sehingga Islam dapat diterima di hati masyarakat nusantara, karena ia datang dengan damai dan masuk dengan seni yang menyenangkan.

“Ketika Islam datang ke nusantara, penduduknya sudah memiliki perdaban yang tinggi. Ini terlihat dari hasil karya mereka seperti candi yang luar biasa unggul apabila diukur dari segi apapun, dari science, arsitek maupun estetikanya. Jika Islam datang dengan kekerasan tentu tidak akan diterima oleh rakyat nusantara. Tapi Islam yang dibawa para sunan dengan pendekatan budaya akhirnya Islam pun dapat diterima,” jelas Mas Wi.

Karena itu pula, Mas Wi berikhtiar dengan jalan dakwah yang dicontohkan para Sunan itu. Di Pendopo itu Mas Wi memprakarsai “Gelar Budaya Suluk Nusantara, Eskepresi Seni Memahami Ilahi”, seperti yang diadakan Sabtu (27/1) itu. Langkah Mas Wi, ini didukung penuh oleh rekannya Wartawan Senior Parni Hadi, yang juga Pendiri dan Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa. “Aktivitas Dakwah melalui budaya sejalan dengan misi Dompet Dhuafa yang memperhatikan para kaum dhuafa untuk berdaya dan menjadikan pendekatan budaya sebagai jalan dakwah yang damai,” jelas Parni.

Tentunya Budaya Suluk yang mengutamakan dakwah Islam dengan cinta yang diprakarsai Mas Wi, lanjut Parni Hadi, kita dukung karena kita membangun peradaban yang penuh nilai kasih sayang dan jauh dari kekerasan.

Dikatakan Parni, suluk itu adalah jalan mencari tuhan. Syarat dari sebuah suluk dengan menata hati dan bathin. Sementara ungkapan merupakan utusan atau cermin dari hati dan bathin. Ungkapan akan bagus terlahir dari hati dan bathin yang tertata. Ungkapan seperti halnya dakwah Islam tentu akan diterima oleh orang lain kalau berasal dari hati yang tertata, damai dan penuh cinta.

“Dari situlah kita membangun peradaban,” terang Parni.

Dikesempatan yang sama, Parni Hadi mengusulkan nama pada pendopo untuk berkativitas dakwah itu dengan Pendopo Mulyo Budoyo. Nama itu diaminkan oleh Mas Wi, si empu rumah dan para hadirin.

Bukan hanya Parni Hadi, adik mantan Presiden Abdurrahman Wahid, Lily Wahid juga mendukung langkah Mas Wi mengembangkan Budaya Suluk itu. Menurutnya bangsa ini bisa disatukan dengan seni dan budaya. Salah satunya Suluk bukan hanya sekedar seni yang memberi hiburan tapi mengandung nilai dakwah yang menentramkan.

“Budaya Suluk ini dapat dikembangkan ke seluruh nusantara, ia bisa disampaikan dengan bahasa lokal tapi tetap dengan langgam aslinya seperti para Sunan menembangkan materi dakwah itu,” ungkap Lily Wahid.

Dukungan lain yang tak kalah berartinya adalah dari Trusti Mulyono, mantan penari nasional yang sudah menari keliling dunia. Ia mewakafkan satu set gamelan kuno, melalui Dompet Dhuafa. Dan bagi Dompet Dhuafa gamelan itu diamanahkan ke Paguyuban Suluk Nusantara untuk dirawat dan dimanfaatkan guna mendukung kegiatan seni dan budaya di Pendopo Mulyo Budoyo itu.

“Gamelan ini sudah menemukan rumahnya,” ungkap Trusti ketika menyerahkan gamelan itu sebelum Gelar Budaya Suluk Nusantara dilanjutkan.

Sebagai keluarga seniman, gamelan ini sangat berarti bagi Trusti. Gamelan itu, katanya, merupakan warisan dari Ki Nyoto Carito, seorang dalang yang terkenal di Jawa di masa lalu. Ketika ia wafat gamelan itu diwarisan ke anaknya. Nah dari anaknya, gamelan itu diamanahkan ke Bu Trusti dan keluarga, dengan cara tukar guling dengan sebuah rumah.

Setelah Trusti pensiun jadi penari dan sibuk dalam aktivitas sosial, gamelan ini sempat mangkrak di rumah. Supaya berguna ia titipkan ke sebuah sekolah di Cileduk untuk diberdayakan mengajar murid-murid di sana. Sekitar 10 tahun di sekolah itu, kemudian karena kurang terawat gamelan itu ditarik kembali dan dipinjam oleh Diknas kebudayaan untuk mempromosikan seni dan budaya keliling nusantara dan dunia. “Bersama diknas ada selama 6 tahun, kemudian ditarik kembali ke rumah karena ketika keliling gamelan ini sempat ada yang hilang,” jelas Trusti.

Ia juga menyatakan, banyak ingin membeli gamelan itu, tapi bagi Trusti dan keluarga, karena menghormati Dalang Ki Nyoto Carito, dia tidak mau menjual warisan itu, walaupun digoda dengan harga yang tinggi. Nah akhirnya gamelan ini kembali mangkrak di rumah.

Barulah di pertengahan tahun 2017, rekannya sesama aktivis sosial Parni Hadi mampir ke rumahnya ketika itu Trusti mengadakan Pelatihan Totok Punggung untuk orang tua dengan anak-anak tuna grahita. Di kesempatan itu Trusti menyampaikan kepada Parni Hadi bahwa ia memiliki gamelan yang butuh diberdayakan. Karena ia lihat Dompet Dhuafa sedang giat mendukung inisiatif dakwah dengan pendekatan budaya seperti Paguyuban Mocopat Nusantara dan Suluk Nusantara, Trusti punya niat mewakafkan gamelan warisan itu ke Dompet Dhuafa.

Tentunya Parni Hadi senang menerimanya. Di saat yang sama Parni Hadi teringat dengan Mas Wi yang sedang menggiatkan Suluk dan Mocopatan di Depok. Akhirnya gamelan itu diterima oleh Dompet Dhuafa sebagai aset wakaf dan bagi Dompet Dhuafa diamanahkan kepada Mas Wi untuk diberdayakan.

Ketika Gelar Budaya Suluk Nusantara di Pendopo Rumah Mas Wi itu, diserahkan secara resmi Wakaf Gamelan dari ibu Trusti itu kepada Yayasan Dompet Dhuafa Republika, yang diterima Ketua Yayasan Ismail A. Said, yang kemudian Gamalen tersebut dengan perjanjian kesepakatan kerja, gamelan itu diamanahkan kepada Mas Wi untuk diberdayakan di Pendopo Mulyo Budoyo.

Tanpa disadari Trusti berlinang air matanya ketika Gamelan itu diserahkan, ia haru karena gamelan tersebut kembali dapat berguna dan diserahkan kepada lembaga yang tepat dan diberdayakan oleh orang yang tepat juga. .

Setelah seremonial penyerahan wakaf selesai, para hadirin pun dapat menyaksikan pagelaran budaya yang diiringi alunan gamelan yang baru saja diwakafkan. Semoga lestari.

( http://www.kbknews.id/2018/01/27/gelar-budaya-suluk-nusantara-dan-wakaf-gamelan/)

 

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Gelar Budaya Suluk Nusantara: Ekspresi Seni Memahami Ilahi

Assalamualaikum wrwb. Salam Sejahtera.
Dompet Dhuafa dan Paguyuban Suluk Nusantara, mengundang kehadiran bapak/ibu pada Gelar Budaya Suluk Nusantara: Ekspresi Seni Memahami Ilahi, insya Allah
pada hari: Sabtu 27 Januari 2018
dari pukul: 09.00 sd makan siang
alamat: Pendopo Suluk Nusantara, kediaman B.Wiwoho, Perumahan Depok Mulya I Blok K No.90, Beji – Depok.
Karena tempat terbatas, mohon konfirmasi kehadiran via WA ke (1) Pramono Sudomo: 081319321139 – 087785147734 atau (2) B.Wiwoho : 081282833479.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Wedhatama: Kitab Tentang Keutamaan

Kajian & Latihan Seni Mocopat Seri 5, Sabtu Pahing, 5 Bakda Mulud 1951 ( 23 Desember 2017).

Keutamaan atau keluhuran hidup, menjadi tujuan utama masyarakat Jawa tempo dulu. Ukuran keutamaan bukanlah harta benda, mobil berapa dan merek apa serta rumahnya di mana saja. Membicarakan tentang harta benda apalagi bertanya atau pamer, bahkan dianggap tabu dan tidak sopan. Keutamaan seseorang dinilai dari budi pekerti yang luhur dan cita-cita hidupnya, serta setinggi apa masyarakat terutama di sekelilingnya menghormati dengan sepenuh takzim. Tak jarang menjadi tempat bertanya dan sering diminta doa restunya.

Pengetahuan dan ajaran tentang keutamaan hidup, diajarkan turun-temurun atau dari orang tua ke anak secara lisan. Sejalan dengan perkembangan sastra Jawa yang mencapai puncak keemasan pada abad ke 19, lahirlah sejumlah karya sastra yang berisi ajaran dan filosofi kehidupan. Dua diantaranya yang sangat popular adalah Serat atau Kitab Wulangreh dan Kitab Wedhatama.

Wulang artinya pitutur atau ajaran, sedangkan reh berarti jalan atau cara mencapai sesuatu. Dalam hal ini adalah ajaran untuk mencapai hidup yang sempurna. Kitab Wulangreh selesai disusun oleh Raja Kasunanan Surakarta Pakubuwana IV (1768 – 1820) pada tahun 1808. Sedangkan Wedhatama disusun oleh Kanjeng Gusti Pangeran Arya Adipati Mangkunegara IV (1809 – 1881). Wedha artinya pengetahuan dan tama berasal dari kata utama yang berarti keutamaan atau keluhuran. Dengan demikian makna kedua kitab tersebut pada hakikatnya sama, yakni pelajaran tentang mewujudkan kehidupan yang baik, yang sarat dengan kandungan-kandungan filosofis, moral, spiritual dan budi pekerti.

Wedhatama disusun dalam 100 bait tembang macapat, yang terdiri dari tembang Pangkur sebagai pembuka sebanyak 14 bait, Sinom 18 bait, Pocung 15 bait, Gambuh 35 bait dan ditutup dengan Kinanthi 18 bait. Berikut beberapa contoh, sedangkan bait-bait yang lain insya Allah kita bahas di lain kesempatan:

Tembang Pangkur bait 1 dan 2.

Mingkar-mingkuring angkara

akarana karenan mardi siwi

sinawung resmining kidung

sinuba sinukarta

mrih kretarta pakartining ngelmu luhung

kang tumrap neng tanah Jawa

agama ageming aji.

 

Jinejer neng Wedhatama

mrih tan kemba kembenganing pambudi

mangka nadyan tuwa pikun

yen tan mikani rasa

yekti sepi asepa lir sepah samun

samangsane pakumpulan

gonyak-ganyuk nglilingsemi.

Artinya:

Menghindarkan diri dari angkara (perilaku buruk, jahat)

karena hendak mendidik anak (dan murid)

yang tersirat dalam keindahan kidung

dihias sehingga indah syairnya

demi menjiwai hakikat ilmu luhur

yang berlaku di tanah Jawa

agama sebagai pakaian kehidupan yang mulia.

Diuraikan dalam Wedhatama

agar tidak kekurangan pegangan budi

padahal meski tua renta

apabila tidak memahami perasaan

sungguh bagaikan sepah (ampas) makanan yang sudah tak ada rasanya

tatkala di dalam pertemuan

sering canggung memalukan.

Dua bait pembuka tersebut menjelaskan manusia harus menghindarkan dari dari perbuatan angkara (murka), demi mendidik generasi muda, yang dikemas dalam sebuah tembang dengan syair-syair yang indah. Tembang yang penuh dengan hakikat ilmu luhur yang menjiwai kehidupan orang Jawa, bagaikan agama-agami ageming aji. Yakni pakaian kehidupan yang membuat diri yang memakainya menjadi berharga. Pengetahuan itu dituangkan dalam Wedhatama, agar hidup kita tidak kekurangan budi (baik). Karena begitulah kenyataan dalam kehidupan. Ada saja meski orang sudah tua renta, yang jika tidak bisa memahami budi dan perasaan, sungguh akan bagaikan ampas makanan yang tidak ada rasanya, jiwanya hampa, yang akan nampak di pertemuan-pertemuan, tindak-tindak dan pekataannya memalukan.

Di dalam Serat Wedhatama ini ada bait-bait yang sangat populer yang sering ditembangkan dalam irama Sinom oleh kelompok-kelompok karawitan dan penggemar seni mocopat, yaitu bait 15 sampai dengan 20 sebagai berikut:

Bait 15.

Nulada laku utama

tumraping wong tanah Jawi

wong agung ing Ngeksigondo

Panembahan Senopati

kapati amarsudi

sudaning hawa lan nepsu

pinesu tapa brata

tanapi ing siyang ratri

amamangun karyenak tyasing sasama.

Artinya:

Contohlah perilaku terbaik

bagi masyarakat Jawa

tokoh mulia dari Kerajaan Mataram

Panembahan Senopati

orang yang sangat tekun menempa diri

mengurangi hawa nafsu

dengan menjalani tapabrata

siang maupun malam

membangun kebahagiaan hati sesama.

Bait 16.

Samangane pasamuan

mamangun marta martani

sinambi ing saben mangsa

kala-kalaning ngasepi

lalana teki-teki

nggayuh geyonganing kayun

kayungyun eninging tyas

sanityasa pinrihatin

puguh panggah cegah dhahar lawan nendra.

Artinya

Dalam setiap pertemuan

membangun kebahagiaan bersama

secara teratur memerlukan

pergi menyepi (uzlah)

berkelana ke tempat-tempat sunyi

menggalang cita-cita (membangun cipta)

menguatkan rahsa (nurani/kalbu)

senantiasa prihatin

berpegang teguh mencegah makan dan tidur.

  

Bait 17.

Saben mendra saking wisma

lelana laladan sepi

ngingsep sepuhing sopana

mrih pana pranaweng kapti

tis-tising tyas marsudi

mardawaning budya tulus

mesu reh kasudarman

neng tepining jalanidhi

sruning brata kataman wahyu dyatmika

Artinya.

Setiap pergi dari rumah

berkelana ke tempat sepi

menyerap (menghisap) energi keutamaan

agar jelas tujuan hidup (cipta)

meneguhkan rahsa (nurani/kalbu)

mengokohkan ketulusan budi

memperdalam ajaran dalam berdarma (berbakti pada sesama)

sampai di pinggir samudera

sehingga pada akhirnya memperoleh wahyu keutamaan.

Bait 18.

Wikan wengkoning samodra

kederan wus den ideri

kinemat kamot ing driya

rinegem sagegem dadi

dumadya angratoni

nenggih Kanjeng Ratu Kidul

ndedel nggayuh nggegana

umara marak maripih

sor prabawa lan Wong Agung Ngeksiganda.

Artinya.

Paham keluasaan samudera

semua (jagat raya) sudah dikitari

diserap dalam inderanya

digenggam sekali genggam

sehingga menjadi penguasa jagat raya

sampai kemudian Penguasa Alam Gaib Kanjeng Ratu Kidul melesat ke angkasa,

menghadap mengendap-endap

menghamba karena kalah wibawa dengan Orang Agung dari Mataram.

Bait 19.

Dahat denira aminta

sinupeket pangkat kanthi

jroning alam palimunan

ing pasaban saben sasi

sumanggem anyanggemi

ing karsa kang wus tinamtu

pamrihe mung aminta

supangate teki-teki

nora ketang teken janggut suku jaja.

Artinya.

Memohon dengan sangat

agar direngkuh jadi pengikut

dalam alam gaib

yang menghadap di kala sunyi

berjanji menyanggupi

membantu upaya (karsa) yang telah dicipta (dirancang)

kehendaknya hanya mengharap

restu (ijin) dari sang pertapa

meski harus menjadikan jangut sebagi tongkat dan dada menjadi kaki.

Bait 20.

Prajanjine abipraya

saturun-turun wuri

mangkono trahing awirya

yen amasah mesu budi

dumadya glis dumugi

iya ing sakarsanipun

wong Agung Ngeksiganda

nugrahane prapteng mangkin

trah tumerah darahe padha wibawa.

Artinya.

Berjanji mempersembahkan hidupnya demi kelestarian jagat raya

beserta anak keturunan di kemudian hari

demikian itu tekad keturunan ksatria (manusia utama)

dalam mengasah kesempurnaan budi

agar cepat tercapai

apa yang diinginkan

orang Agung dari Mataram

anugrah pun tiba

semua keturunannya berwibawa.

Bait 15 sampai 20 ini bait yang sesungguhnya memerlukan renungan khusus yang hening, mengingat sebagian membahas masalah gaib, yang tidak semua orang percaya. Dan jika ada yang percaya pun belum tentu sama pemahamannya. Salah mempelajari ilmu gaib, alih-alih memperoleh ilmu hakikat, malah hidup kita justru bisa tersesat. Namun tidak berarti kita tidak bisa mempelajari Wedhatama kapan dan di mana saja, karena bait-bait tersebut juga memuat pengetahuan yang terang benderang bagi kacamata awam yang mau berpikir.

Wedhatama mengajak kita meneladani kehidupan pendiri kerajaan Mataram Islam, yaitu Panembahan Senopati. Ia tekun mengasah jiwa raganya (rahsa), menyatu dengan alam semesta, mengendalikan hawa nafsu (karsa) dan bercita-cita mewujudkan kebahagiaan (cipta) bagi sesamanya, bagi sesama umat Tuhan (rahsa).

Ada dua versi pemahaman bait ke 19. Disamping versi terjemahan sesuai kata dan kalimat sebagaimana di atas, ada versi lain yang disebut versi hakekat yang kurang lebih bermakna sebagai berikut: “ Karena kuatnya keinginan untuk berbakti kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, maka meskipun sangat berat, bahkan menjadikan dagu sebagai tongkat dan dada sebagai kaki untuk berjalan mencapainya, ia terus prihatin, bertirakat, memohon ridho-Nya, agar bisa berperilaku, bertindak-tanduk yang benar dan suci seusai dengan kehendak-Nya.”

Sebagai bait penutup dalam kajian seri ini, marilah kita hayati bait ke 33 dalam tembang Pocung yang terjemahannya sudah sangat gamblang, maknanya sebagai berikut:

Ngelmu iku

kalakone kanthi laku

lekase lawan kas

tegese kas nyantosani

setya budya pangekese dur angkara.

Artinya:

Ngelmu itu

terwujudnya atau hanya bisa dicapai dengan amal perbuatan

diawali dengan kemauan atau tekad

artinya tekad yang menguatkan

budidaya yang teguh akan menghancurkan angkara murka.

Demikianlah sahabatku, semua ilmu, semua ajaran kebaikan itu hanya akan terwujud dan bermakna, apabila dipraktekkan serta diamalkan dalam perilaku dan kehidupan nyata kita. Apalah artinya ilmu, jika itu hanya berada di alam pikiran, dan paling jauh berhenti di ujung lidah Maka hanya akan seperti peringatan Kanjeng Nabi Muhammad Saw, “Bagaikan keledai memanggul sekeranjang buku, keledai yang tidak memahami sama sekali makna dan hakekat ilmu yang dipanggulnya, apalagi mengamalkannya.” Semoga kita dijauhkan dari gambaran buruk tersebut, dan sebaliknya senantiasa memperoleh inayah dan hidayah-Nya. Aamiin. *** (B.Wiwoho

Paguyuban Suluk Nusantara – Depok Mulya I. Kajian & Latihan Seni Mocopat Seri 5, Sabtu Pahing, 5 Bakda Mulud 1951 ( 23 Desember 2017).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Bagaimana Mengamalkan Suluk Kidung Kawedar Sunan Kalijaga.

Kajian & Latihan Seni Mocopat Seri 4, Sabtu Wage, 7 Mulud 1951 (25 November 2017).

Kajian Mocopat Paguyuban Suluk Nusantara Sabtu tg 28 Oktober 2017 tentang Serat Centhini Bab Obat-Obatan, ditutup dengan uraian bahwa ramuan obat hanyalah salah satu sarana.Masih ada sarana lain seperti disinggung dalam Bab 253 Centhini yaitu waktu pengobatan yang tepat. Di samping itu masih diperlukan jalan yang berupa penyatuan secara harmonis antara cipta-rahsa-karsa. Itu pun masih belum cukup. Demi memperoleh kesembuhan dan kesehatan yang barokah, harus punya landasan hakikat penyembuhan, yakni kersaning Allah, ridho Gusti Allah. Bagaimana meraihnya? Insya Allah dalam Kajian Bagaimana Mengamalkan Ajaran Suluk Kidung Kawedar Sunan Kalijaga hal tersebut akan kita bahas secara bertahap, setapak demi setapak. Untuk itu marilah kita simak dan tembangkan:

Bait 6 :

Wiji sawiji mulane dadi,

apan pencar saisining jagad,

kasamadan dening Date,

kang maca kang angrungu,

kang anurat miwah nyimpeni,

dadi ayuning badan,

kinaryo sesembur,

yen winacakna ing toya,

kinarya dus rara tuwa aglis rabi,

wong edan nuli waras.

Artinya :

Semula hanyalah sebuah benih,

kemudian tersebar memenuhi alam raya,

karena berkah dari Dzat (Yang Maha Kuasa),

siapa yang membaca dan mendengar

(tentang hal itu),

siapa yang menuliskan maupun yang menyimpan,

akan memperoleh keselamatan,

bisa dijadikan doa,

yang bila dibacakan di air,

dipakai mandi perawan tua akan cepat menikah,

orang gila pun menjadi sembuh.

Bait 7 :

Lamun ana wong kadhendha kaki,

wong kabanda lan kabotan utang,

yogya wacanen den age,

ing wanci tengah dalu,

ping salawe wacanen ririh,

luwar ingkang kabanda,

kang kadhendha wurung,

aglis nuli sinauran,

mring Hyang Suksma kang utang puniku singgih,

kang agring dadi waras.

Artinya :

Bila ada orang yang didenda

(maksudnya di sini dihukum),

orang yang diikat tangannya

(maksudnya ditangkap) dan terbelit hutang,

baik bila segera membaca (kidung ini),

di kala tengah malam,

sebanyak 25 kali secara lirih,

yang ditangkap akan dilepaskan,

yang dihukum akan bebas,

(yang berhutang) akan segara dibayarkan,

oleh Sang Hyang Suksma (Tuhan Yang Maha Gaib)

sehingga yang berhutang menjadi baik namanya,

yang sakit menjadi sembuh.

Bait 8 :

Sapareke bisa anglakoni,

amutiha lawan anawaa,

patang puluh dina wae,

lan tangi wektu subuh,

miwah sabar sukur ing Widhi,

Insya Allah tinekanan,

sakarsa nireku,

tumrap sanak rayatira,

awit saking sawab pangiketing ngelmi,

duk aneng Kalijaga.

Artinya :

Barang siapa dapat melakukan,

berpuasa dengan hanya makan nasi dan air putih saja

(tawar serta tanpa garam dan gula),

selama 40 hari,

dan bangun di kala subuh,

serta sabar dan bersyukur kepada Yang Maha Esa,

Insya Allah terkabul,

segala kehendaknya,

bagi sanak saudara dan kerabat,

berkat karomah ilmu,

yang diperoleh tatkala menjadi Penjaga Sungai (beruzlah di pinggir sungai).

Bait 9 :

Lamun arsa tulus nandur pari,

puwasaa sawengi sadina,

iderana galengane,

wacanen kidung iku,

kabeh ama pan samya wedi,

yen sira lunga aprang,

wateken ing sekul,

antuka tigang pulukan,

mungsuhira sirep datan nedya wani,

rahayu ing payudan.

Artinya :

Bila menghendaki sukses dalam bertanam padi,

berpuasalah semalam sehari,

kelilingi pematang sawahnya,

seraya membaca Kidung ini,

maka semua hama akan takut,

bila kau hendak berangkat perang,

bacakan kidung ini pada nasi,

makanlah sebanyak tiga suapan tangan,

maka keberanian musuhmu akan lenyap,

sehingga selamat di medan perang.

Kidung Kawedar atau Kidung Rumekso Ing Wengi ini disyiarkan ke masyarakat pada saat budaya tulis belum berkembang, maka sungguh tepat dibuat dalam bentuk tembang mocopat sehingga segera disenangi masyarakat. Bahkan sampai sekarang, bisa dipastikan semua grup kesenian Jawa khususnya karawitan atau gamelan Jawa, para dalang pewayangan dan pesinden (penyanyi tembang-tembang Jawa), tak peduli Islam atau bukan, bisa menyanyikan Kidung Kawedar.

Namun demikian lantaran panjang, yaitu terdiri dari 46 pupuh atau bait, jarang yang hafal semuanya di luar kepala. Begitu pun dalam hal isi baris, kadang-kadang ada perbedaan meski pun hanya kecil dan tidak terlalu mendasar. Sebagai contoh pada bait 2, kata terakhir dari baris kedua ada yang menyebut mirunda dan ada yang miruna, baris ketiga pangulune dan ada yang pandulune, baris ketujuh ada yang menyebut tutut ada pula yang lulut. Kemudian baris kesembilan bait 6, ada yang menyebut rabi dan ada pula yang laki. Baris kelima bait 8, ada yang menyebut miwah tapi ada juga yang lan den. Yang agak berbeda makna adalah bait 5 baris kedua, karena ada yang berbunyi kang minangka rahayuning ngangga, sedangkan versi lain Siti Aminah rahyuning angga.

Dalam hal versi tulis, kita bersyukur seni sastra di Keraton Kasunan Surakarta berkembang pesat pada abad XVII – XIX, sehingga Kidung Kawedar ini bisa dihimpun dalam huruf Jawa. Selanjutnya oleh pujangga Kyai Ronggo Sutrasno, himpunan tersebut disalin ke dalam huruf Latin, dan oleh R.Wiryapanitra Kusumodiningrat, dibuatkan terjemahannya. Terjemahan serta tafsir pertama Kidung Kawedar itu pada tahun 1912 dicetak oleh Penerbit Tan Koen Swi, Kediri.

Dari versi penerbit Tan Koen Swi inilah kita sekarang bisa menemukan Kidung Kawedar secara lengkap 46 bait, baik dalam bentuk berbagai cetakan maupun versi media sosial online, antara lain di blog http://alangalangkumitir.wordpress.com/2010/10/27/serat-kidungan-kawedar/ sebagaimana penulis baca pada 20 September 2014. Dalam bentuk buku saku, versi R.Wiryapanitra tersebut dengan beberapa perbedaan kecil, juga diterbitkan oleh Dahara Prize, Semarang 1995. Meski berasal dari sumber yang sama terdapat sejumlah perbedaan antara versi Dahara dan versi online Alangalang Kumitir.

Dalam tafsir ini, penulis menggunakan semua sumber tersebut, terutama bait-bait versi cetak Dahara Prize, dengan beberapa perubahan sesuai pengalaman serta rasa batin penulis, sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di daerah Pantura Jawa, yang semenjak kecil sudah agak akrab dengan tembang-tembang ciptaan Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga.

Dalam bait ketiga sampai dengan kelima, Sunan Kalijaga memperkenalkan istilah dan nama-nama tokoh yang bagi orang Jawa betul-betul baru sama sekali. Ada malaikat, rasul, Adam, Musa, Isa, Yakob, Yusuf, Dawud, Sulaeman, Ibrahim, Idris, Ayub, Nuh, Yunus, Muhammad, Abubakar, Umar, Usman, Ali dan Fatimah.

Memang Kidung Kawedar tidak menjelaskan secara terinci sejarah dari para nabi, sahabat dan keluarga Kanjeng Nabi Muhammad tersebut. Tetapi marilah kita coba menerapkan pada diri kita sendiri, baik dalam posisi sebagai penutur atau pun sebagai pendengar. Selaku pendengar, kita pasti ingin tahu lebih jauh tentang tokoh yang disebut penutur memiliki kemampuan dan karomah luar biasa, sehingga patut menyatu dalam diri kita, yang selanjutnya akan kita jadikan sebagai senjata andalan dalam kehidupan.

Sebaliknya sebagai penutur, kita pun akan berusaha menjelaskan lebih terperinci siapa tokoh-tokoh atau orang-orang yang kita jagokan, dan mengapa patut kita jadikan panutan serta andalan. Oleh sebab itu tidak mengherankan apabila bagi masyarakat Jawa kebanyakan meskipun Islam Abangan bahkan Islam KTP, yaitu mengaku beragama Islam sekedar demi mengisi kolom agama dalam Kartu Tanda Penduduk, sedikit banyak akan mengenal misalkan Nabi Nuh dengan kisah perahunya dan Nabi Yusuf yang selalu dijadikan idola dalam berdoa selamatan atau tasyakuran tujuh bulan kehamilan.

Dalam doa memohon keselamatan bagi ibu dan bayi yang sedang dikandungnya, sekaligus juga dipanjatkan harapan agar sang bayi memiliki aura ketampanan Nabi Yusuf, yang dikisahkan di dalam suatu perjamuan ibu-ibu, para hadirin diminta masing-masing mengupas buah-buahan dengan sebilah pisau nan tajam. Guna menguji reaksi ibu-ibu itu, maka pada saat seperti itu Nabi Yusuf diminta melintas. Apa yang terjadi? Hadirin terpana dengan ketampanan Nabi Yusuf, sampai-sampai tanpa sadar mereka salah kupas buah, bukan buah-buahan melainkan menggores tangannya sendiri sehingga terluka.

Siapakah yang tidak ingin anak keturunannya tampan atau cantik? Begitu luar biasa ketampanan Nabi Yusuf, sampai menjadi idaman agar Gusti Allah berkenan mengaruniakan kepada sang jabang bayi, agar jika lahir pria akan tampan dan bila perempuan akan cantik jelita.

Pengetahuan terhadap agama baru dengan para tokoh panutannya tersebut, menjadi benih keyakinan. Meskipun baru atau hanya sebutir, benih itu akan tumbuh subur beranak pinak menyebar ke segenap penjuru dunia, ke jagad raya, karena memperoleh berkah dari Dzat Yang Maha Kuasa. Keyakinan itu akan membuahkan keselamatan kepada siapa saja yang membaca, yang menyimak mendengarkan, yang menuliskan dan yang menyimpannya. Bahkan bisa menjadi sumber segala doa, yang bila dibacakan di air dan airnya dipakai mandi oleh seorang perawan tua, maka sang perawan akan segera menemukan jodohnya dan segera menikah. Jika diberikan kepada orang gila maka insya Allah akan sembuh (bait 6).

Dalam bait 6 terdapat kata sesembur, yaitu salah satu cara pengobatan atau pemberian doa restu, yang biasa dilakukan oleh orang yang dituakan atau yang dianggap memiliki kemampuan batin yang tinggi. Setelah berdoa, si orang tua kemudian dengan mulutnya, meniup sampai mengeluarkan bunyi desis ke ubun-ubun atau dahi atau bagian-bagian tertentu si sakit atau orang yang didoakan.

Dengan berkah Dzat Yang Maha Kuasa itu pula, keyakinan yang ditanamkan oleh Kidung Kawedar, mampu menolong orang-orang yang sedang berperkara, yang dihukum, ditahan dan yang terbebani hutang (bait 7). Persis seperti Gusti Allah menolong para nabi dan rasul yang menghadapi kesulitan betapa pun beratnya. Api yang dinyalakan oleh punggawa Raja Namrud untuk membakar Nabi Ibrahim, dengan pertolongan Dzat Yang Maha Esa, Yang Maha Gaib, berubah menjadi sedingin air; bahtera Nabi Nuh mampu menampung dan menyelamatkan makhluk-makhlukNya demi meneruskan kehidupan; Nabi Yunus yang ditelan ikan bisa keluar dengan selamat; demikian pula pertolongan Allah Swt kepada para Nabi yang lain termasuk Nabi Muhammad Saw. dan para sahabatnya.

Dalam upaya menghayati dan memperoleh hakikat dari Kidung ini, Sunan Kalijaga tidak langsung mengajarkan tatacara peribadatan yang baru, melainkan mengikuti adat kebiasaan masyarakat, yaitu dengan menjalankan puasa mutih selama 40 hari penuh siang malam (bait 8). Puasa mutih yaitu pantang tidak memakan makanan dan meminum minuman yang diberi rasa nikmat seperti asin dan manis. Orang yang sedang mutih, hanya boleh makan nasi putih, meminum air putih dan buah-buahan segar yang tidak diolah. Mengenai puasa mutih ini, lebih lanjut bisa dilihat di buku kami Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan halaman 33, 35 dan 105, yang juga bisa diunduh melalui e-bookdi blog https://islamjawa.wordpress.com.

Puasa putih bermanfaat buat mengendalikan hasrat binatang yang kasar atau nafsu hewani, nafsu dan syahwat akan pesona dunia atau materi, sekaligus membangkitkan kekuatan nabati nan lembut yang bersemayam dalam hati nurani manusia beserta pikirannya. Orang yang berhasil mengendalikan karsa dengan nafsu hewaninya yang egois dan kasar, menjadi karsa dengan nafsu nabatinya yang bersifat rohani dan spiritual nan lembut penuh kasih sayang, dipercaya memiliki energi dan kemampuan spiritual yang luar biasa hebat. Tentu saja untuk itu tidak hanya sekedar menjalani puasa mutih.

Selama 40 hari si pelaku harus bangun di waktu subuh, serta senantiasa bersikap sabar dan bersyukur kepada Yang Maha Kuasa. Jika ia bisa melakukan itu semua, insya Allah, ia akan senantiasa dibimbing dan tercerahkan, sehingga bila memiliki keinginan akan dikabulkan serta akan memberikan manfaat kepada sanak keluarga dan kaum kerabat bahkan rakyat. Semua itu diajarkan berdasarkan karomah yang dianugerahkan kepada sang pengarang kidung tatkala sedang menjalani uzlah dan bermunajat di pinggir sungai, bagaikan seorang penjaga sungai atau kali. Dialah Sang Kalijaga yang beruzlah di tengah hutan di pinggir kali di daerah Cirebon selama beberapa tahun.

Perihal makanan dan minuman ini, Kanjeng Nabi Muhammad saw juga sudah berpesan, “ Ketika sesuap haram jatuh pada perut anak cucu Adam , semua malaikat di bumi dan langit memberi laknat padanya selama suapan itu berada dalam dirinya, dan kalau ia mati dalam keadaan begitu maka tempatnya adalah jahanam (Hadis riwayat At-Tabrani, Ibnu Umar dan Ahmad). Lantas berapa lama suapan, dalam hal ini makanan dan atau minuman itu berada di dalam tubuh manusia? Makanan dan minuman yang masuk ke tubuh diolah menjadi sel jaringan tubuh dan sel darah merah. Sel jaringan akan mengalami peremajaan setiap 40 hari, sedangkan sel darah merah setiap 100 hari. Itu berarti sesuap haram yang masuk ke tubuh kita baru akan betul-betul hilang setelah 100 hari (Bertasawuf Di Zaman Edan, halaman 243).

Selanjutnya Kanjeng Nabi juga bersabda, “Demi jiwaku yang berada di tanganNya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal-amalnya selama 40 hari, dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil yang haram, maka neraka lebih layak baginya” ( HR.At –Tabrani). Bahkan lebih tegas lagi beliau menyatakan, “Siapa saja yang membeli pakaian dengan sepuluh dirham, sedang di dalamnya terdapat dirham dari barang haram, maka Allah tidak akan menerima shalatnya selagi pakaian itu ada pada dirinya.” (HR Ibnu Umar dan Ahmad).

Apa hakikat dari uraian di atas? Agar keinginan dan doa kita dikabulkan oleh Gusti Allah, agar kita bisa menjadi hamba-hambaNya yang apabila mempunyai keinginan dan berdoa dikabulkan Gusti Allah, maka lahir batin kita harus suci, termasuk suci dari segala barang haram, yang masuk maupun yang melekat pada tubuh kita. Padahal menyucikan diri tidak mudah. Untuk itu diperlukan latihan, diperlukan polesan-polesan batin antara lain dengan berzikir atau senantiasa mengingatNya, baik dengan melantunkan ayat-ayat suci ataupun kalimat-kalimat dzikir termasuk yang dikemas dalam bentuk Kidung Kawedar ini. Namun itu pun masih belum cukup, tapi harus disertai dengan jiwa raga yang bersih, yang suci dari segala zat dan barang yang haram, yang jika ada yang sudah terlanjur masuk ke dalam tubuh maka harus dibersihkan, selama 40 hari terhadap sel jaringan tubuh, bahkan agar lebih sempurna lagi dilanjutkan menjadi selama 100 untuk membuang sel-sel darah merah yang tercemar tadi, dan menggantinya dengan sel-sel yang suci sama sekali. Tentu yang paling utama adalah sesudah itu untuk selamanya kita harus menghindari semua zat dan barang yang haram.

Kembali dalam bait 8 ini, Sunan Kalijaga memperkenalkan dua istilah baru yakni subuh dan insya Allah. Pembahasan secara lebih rinci tentang insya Allah, juga bisa dilihat di buku Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan halaman 142 – 143. Bagi kita sekarang, 5 – 6 abad kemudian, dua istilah itu bukanlah sesuatu yang baru lagi asing, lantaran sudah menyatu dalam kehidupan kita sehari-hari. Tetapi bagi masyarakat abad ke XV – XVI, tentu menimbulkan pertanyaan dan memancing rasa ingin tahu. Subhanallaah, maasyaa-Allaah.

(B.Wiwoho, Paguyuban Suluk Nusantara : dikutip dengan sedikit koreksi dari buku penulis : ISLAM MENCINTAI NUSANTARA, Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, penerbit Pustaka IIMaN).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

RESEP OBAT-OBATAN DALAM SERAT CENTHINI & PRIMBON JAWA

Bismillahirrohmanirrohim.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa, dikenal banyak sekali ramuan obat-obatan tradisional yang lazim disebut jamu atau bahasa Jawa halusnya jampi. Ada ramuan untuk ibu hamil dan bayi yang dikandungnya, ramuan untuk sehabis melahirkan, ramuan untuk sang bayi, ramuan untuk membuat hubungan suami isteri menjadi harmonis saling memuaskan serta membahagiakan satu sama lain, ramuan untuk aneka penyakit sampai ramuan dupa setanggi menjaga jenazah yang belum dikuburkan agar aroma ruangan tempat jenazah di semayamkan wangi semerbak.

Ramuan atau resep obat tradisional tersebut dimiliki banyak orang-orang tua di zaman dulu sebagai catatan pribadi dan di buku-buku primbon. Sedangkan yang tertuang dalam bentuk tembang, bisa dijumpai dalam Serat Centhini Bagian atau juz XIII, Bab 251 sampai 253.

Serat Centhini atau juga disebut Suluk Tambanglaras atau Suluk Tambangraras-Amongraga, merupakan salah satu karya sastra terbesar dalam kesusastraan Jawa Baru. Serat Centhini oleh para ahli sastra sering disebut sebagai Ensiklopedi Jawa, karena menghimpun segala macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa, yang disampaikan dalam bentuk tembang, dan penulisannya dikelompokkan menurut jenis lagunya.

Serat atau kitab setebal lebih dari 4000 halaman dalam huruf dan bahasa Jawa yang dihimpun menjadi 12 jilid ini, digubah oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom, putra Susuhunan atau Sunan Pakubuwana IV di Surakarta, , yang kemudian bertakhta menggantikannya sebagai Susuhunan Pakubuwono V (1820 – 1823M). Ia dibantu oleh tiga orang pujangga senior dan sejumlah pujangga lainnya, yang demi penyusunannya, harus disebar mengembara ke berbagai daerah termasuk menunaikan ibadah haji. Mereka adalah Raden Ngabehi Ronggosutrasna, Raden Ngabehi Yosodipuro II dan Raden Ngabehi Sastrodipuro.

Ronggosutrasno bertugas menjelajahi pulau Jawa bagian timur, Yosodipuro II bertugas menjelajahi Jawa bagian barat, sedangkan Sastrodipuro bertugas menunaikan ibadah haji dan menyempurnakan pengetahuannya tentang agama Islam , yang kemudian mengganti nama menjadi K.H.Ahmad Ilhar.Sengkala Serat Centhini, berbunyi paksa suci sabda ji yang berarti tahun Jawa 1742 atau 1814 Masehi, masih dalam masa pemerintahan Sunan Pakubuwana IV (1813 – 1820M ).

Tiga bab dari Serat Centhini yang membahas tentang obat-obatan tersebut ditembangkan dalam Sekar Lonthang sebanyak 78 bait, tembang Balabak 36 bait dan tembang Salisir 40 bait. Pujangga Raden Ngabehi Ronggowarsito dalam serat Mardowo membagi tembang-tembang Jawa ke dalam tigsa golongan, yaitu Tembang Gedhe atau Sekar Ageng, Tembang Tengahan dan Tembang Mocopat atau Sekar Alit. Tembang Lonthang dan Balabak termasuk dalam Tembang Tengahan yang memiliki aturan seperti tembang macapat yaitu guru lagu dan guru wilangan. Namun, cengkok dan lagunya menggunakan Sekar Ageng atau Tembang Gedhe.

Sedangkan Salisir adalah “cakepan gerongan/sindhenan” yang pada umumnya berupa “wangsalan”, saling bebas berpantun sahut-menyahut, berupa empat larik/baris dari Tembang Gedhe. Gerongan yang paling populer atau sering digunakan dalam seni karawitan atau gamelan Jawa adalah sebagai berikut:

  • Parabe Sang Smarabangun,
  • sepat domba kali Oya,
  • aja dolan lan wong priya,
  • gung remeh (gerameh) nora prasaja,”
  •      “Garwa Sang Sindura Prabu,
  •        wicara mawa karana,
  •        aja dolan lan wanita,
  •      tan nyata asring katarka” dan seterusnya.

RESEP OBAT DALAM SERAT CENTHINI. Berikut ini beberapa contoh racikan atau resep obat dalam Serat Centhini:

Dalam Tembang Lonthang.

Jampi benter-etis, wonten kawan warna, kang sawarna: sedhah kapanggih rosira, bengkle dlingo ron ringin temu langya.

Kang dwi warni: ebungipun pisang saba, podhisari murmak dagi asem kresna, apan sami binorehaken sarira.

Katri warni apan namung aben tiga, temu kunir brambang binenem punika,

ugi sami binorehken patrapiro.

Catur warni nanging den-unjuk punika: beras adas kunci mrica kumukusnya, brambang cabe gendhis sawatara.

Bab 251 yang terdiri dari 72 bait tersebut, mengisahkan pengembaraan rombongan Mas Cebolang, menuju sebuah daerah yang dari jauh memancarkan cahaya. Setelah didekati cahaya tersebut hilang, namun di tempat itu mereka bertemu dengan Ki Wanakarta dan isterinya yang sangat mumpuni dalam ilmu pengetahuan. Mereka berguru tentang berbagai hal kehidupan manusia, antara lain obat-obatan. Contoh empat bait di atas adalah obat untuk orang sakit panas tinggi tetapi badannya menggigil kedinginan, berupa empat macam obat.

Dalam Tembang Balabak.

Ki Saloka tanya malih mring ni wisma, jampine, ingkang tumrap dumatheng jaler kewala, pedahe, bilih wonten enggal kawedharena, saene.

Nyai wisma mesem lah ngangkah punapa, sarehne, tiyang sepuh wus nir walangsangkerira, milane, kula weca usada tumrap priya, clemede.

Jampi apes: lung pare tri punggel lawan, benglene, tigang iris pinipisa ingkang lembat, nulya ge, ingurutken dhumateng dedakira, wratane.

Catatan: Bab 252 Serat Centhini ini banyak memberikan berbagai ramuan obat kuat bagi pria. Namun karena agak seronok, maka hanya saya kutipkan satu contoh saja. Bagi yang berminat lebih jauh silahkan membaca langsung dari Serat Centhininya.

Kagem loloh: bendha laos wewahira, bendhane, ingatengan among satunggal kalawan, laose, sapalihe (n)dhas-ayam mung tumrap wreddha, ekase.

Bilih mencret: brambang puyang eron sabrang, wewahe, sadayeku pinipis sareng sadhekan, ingombe, amung bendha laos punika inguntal, patrape.

Bab 252 yang terdiri dari 36 bait itu, menceritakan dialog Ki Saloka yang sambal senyum malu menanyakan resep obat kuat bagi kaum pria kepada Nyi Wanakarta, yang kemudian menjelaskan berbagai jenis resep.

Dalam Tembang Salisir.

Sampun jinentreh sadaya, nyi wisma malih wacana, humanduke kang usada, mrih istijab utaminya.

Saestu kedah ngupaya, ari wuku tigang dasa, pinilih kang pratelakna, asung usada waluya.

Kemis Legi wuku Sinta, lenggahe anjampenana, sakit mripat punika, saestu dadya waluya.

Ngat Kliwon Tolu wukunya, punika usadanana, sadhengah raga tiarda, tartamtu dumadya mulya.

Slasa Wage Gumbreg ika, lenggahe anjampenana, tiyang ewah kang saking raga, mantuka engetanira.

Bab 253 yang terdiri dari 40 bait di atas, menguraikan perihal waktu yang paling tepat buat mengobati sesuatu jenis penyakit, yang dilanjutkan dengan nasihat mengenai watak, sifat dan perilaku manusia, misalkan yang suka padu, yaitu berantem baik mulut maupun fisik seperti anjing; manusia yang sok berlagu seperti badak, manusia yang sok mengandalkan kebesaran dirinya bagaikan gajah dan lain sebagainya seperti contoh berikut:

Yen jalma sok dhemen padu, punika kawongan asu, lamun ginitikan iku, tan na nulung ngaru-biru.

Wong ladak kawongan warak, kumalungkung ngoyak-ngoyak, tan welas ragane gupak, endhut temah gelis rusak.

Agahan kawongan gajah, ngendelken gung luhur miwah, telale gadhinge branggah, blaine lali ing tingkah.

Resep Obat Dalam Primbon.

Masyarakat Jawa memiliki sejumlah Primbon yaitu semacam buku pintar, yang berisi berbagai hal yang menyangkut kehidupan termasuk obat-obatan, yang disusun berdasarkan pengalaman atau data empiris, yang dihimpun dari masa ke

masa baik secara tertulis maupun secara tutur. Satu kelemahan dalam hal obat-obatan, sampai sekarang belum banyak yang didukung dengan uji klinis secara modern, padahal dalam kehidupan sehari-hari kita jumpai berbagai merek obat dan aneka jamu tradisional. Sebagai koleksi masyarakat umum, dan bukan karya sastra, tentu saja ramuan tersebut tidak disajikan dalam bentuk tembang.

Dari sekian banyak resep obat, yang terbanyak adalah obat untuk kesehatan pasangan suami isteri atau obat untuk pria dan wanita dewasa. Dari berbagai sumber, penulis menghimpun untuk pria dan wanita masing-masing tidak kurang dari 60 jenis obat. Mengapa? Karena mereka adalah tiang utama rumahtangga atau keluarga, sehingga harus sehat dan kuat lahir batin. Obat-obatan itu mencakup banyak hal, mulai dari kesehatan fisik secara umum, menjaga kebugaran, menjaga bau badan dan semua hal yang di sekitar babahan hawa sanga (sembilan lubang manusia), resep untuk mencapai hubungan badan suami isteri supaya harmonis dan saling memperoleh kepuasan serta saling membahagiakan, resep agar memiliki keturunan yang sehat, merawat ibu hamil serta bayi di dalam kandungannya, perawatan setelah melahirkan dan lain-lain, misalkan:

Jamu lemah syahwat:

Bahan-bahan: satu ons jahe, satu butir telur ayam kampong, satu butir jeruk limau/nipis yang besar, satu sendok makan kecap manis, satu sendok makan madu asli, tujuh butir merica dan tiga lengkuas.

Cara membuatnya, jahe diperas dan diambil airnya, telur dikocok sampai halus, jeruk diperas diambil airnya, merica ditumbuk halus, campurkan kecap dan madu kemudian dikocok sampai tercampur merata. Diminum sore atau malam hari menjelang berhubungan, sedangkan ampasnya diseduh dengan air hangat-hangat kuku untuk dibalurkan pada “senjata pria” setelah selesai berhubungan suami isteri.

Menjaga agar tubuh wanita langsing tapi padat berisi.

Secara umum, agar tubuh padat dan sehat adalah dengan mengurangi sebanyak mungkin minum sehabis makan, sehingga enzim serta bakteri sehat dalam perut bisa bekerja secara optimal, dan tidak menurun kadar kepekatannya karena air yang kita minum. Khusus untuk wanita, buatlah segelas teh kental pahit yang dicampir air dari perasan satu butir jeruk nipis. Minumlah setengah gelas di pagi hari dan setengah gelas di sore hari.

Jamu agar wanita sehat dan mudah mencapai puncak kenikmatan.

Bahan-bahannya: adas pulosari 2 sendok makan, madu asli 2 sendok makan, kuning telur 2 butir, daun pepaya muda 3 lembar, merica hitam 10 butir. Adas pulosari dan merica ditumbuh sampai halus, demikian pula daun papaya ditumbuk halus dan diperas airnya. Campur sampai merata ketiga bahan tersebut dengan kuning telor, kemudian tambahkan madu dan aduk lagi sampai merata. Hasilnya diminum sekaligus seminggu sekali.

Obat batuk.

Banyak macam obat batuk, untuk itu saya ambilkan dua macam.

Pertama, parut kencur sampai halus dan peras airnya, kemudian campur dengan madu asli secukupnya. Bisa membuat sekaligus sampai memperoleh campuran sebanyak satu cangkir dan disimpan di kulkas. Sebelum diminum keluarkan dari kulkas agar tidak terlalu dingin. Untuk anak-anak minumkan satu sendok makan tiga kali sehari, sedangkan untuk dewasa dua sendok. Jika batuk parah, bisa sampai empat kali sehari.

Kedua, daun pare diperas diambil airnya, diminum seperti obat pertama.

Jamu sakit pinggang karena bekerja atau olahraga berat.

Ambil 8 lembar daun alpukat yang segar dan bagus, tidak terlalu muda dan juga tidak tua, direbus dengan 2 gelas air sampai menjadi tinggal satu gelas. Embunkan di malam hari, yaitu taruhlah di udara bebas yang aman dari berbagai gangguan dan kotoran agar bercampur dengan embun malam. Pagi hari diminum dan lakukan selama satu minggu.

Demikianlah sekedar contoh dari banyak ramuan obat tradisional, yang sayangnya, belum diuji secara klinis. Meskipun demikian secara umum, mencoba obat-obatan tradisional terutama ramuan herbal tidaklah terlalu mengkhawatirkan dibanding obat kimiawi. Sudah barangtentu kita bisa merasakan sendiri setelah dua atau tiga kali minum, apakah tubuh kita bisa menerima dan melanjutkan atau menolak dan menghentikan.

Hakikat Penyembuhan.

Di atas itu semua, dalam ajaran tasawuf Jawa yang sangat kental mewarnai Serat Centhini serta berbagai Primbon Jawa, ada satu ajaran yang menggariskan

bahwa ramuan obat yang kita akan gunakan, hanyalah salah satu sarana. Masih ada sarana lain seperti sudah disinggung dalam Bab 253 (Tembang Salisir). Di samping sarana, masih diperlukan jalan, yang berupa penyatuan secara harmonis antara cipta, rahsa dan karsa. Itu pun masih belum cukup. Demi memperoleh kesembuhan dan kesehatan yang barokah, harus dilandasi oleh hakikat penyembuhan, yakni kersaning Allah. Gusti Allah ngabulake. Dengan ijin dan ridho Gusti Allah Yang Maha Menyembuhkan hamba-hambaNya.

Bagaimana meraihnya? Insya Allah kita bahas dalam waktu yang tepat.

(Sumber: Serat Centhini, Bertasawuf Di Zaman Edan, Primbon Betaljemur Adammakna, Primbon Lukmanakim Adammakna, Aneka Resep Obat Kuno dan catatan keluarga). B.Wiwoho

* Materi Untuk Kajian & Latihan Seni Mocopat Seri ke 3, Paguyuban Suluk Nunsantara,  Sabtu Legi 8 Sapar 1951 (28 Oktober 2017).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Sunan Kalijaga Dalam Buku dan Pentas Kethoprak

Alhamdulillah. Pertama kali dalam sejarah, peluncuran buku yang dikaitkan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, dikemas dalam bentuk seni pertunjukan rakyat kethoprak. Buku “ISLAM MENCINTAI NUSANTARA, JALAN DAKWAH SUNAN KALIJAGA: Tafsir Suluk Kidung Kawedar”, diluncurkan pada hari Minggu malam tanggal 21 Mei 2017 di rumah  Puspa Budaya Nusantara di kawasan Ciputat, Tangerang dalam pentas kethoprak dengan lakon atau cerita Sunan Kalijaga. Acara diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa, Rumah Puspa Budaya dan Penerbit IiMAN. Sedangkan pemain-pemainnya antara lain Sunan Kalijaga diperankan oleh wartawan senior serba bisa sekalius pendiri dan petinggi Dompet Dhuafa mas Parni Hadi,  Sunan Bonang oleh pemilik Puspa Budaya dan mantan Sekretaris Jenderal juga mantan Direktur Jenderal di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pak Luluk Sumiarso, Direktur Penerbit IiMAN mas Rahmad Riyadi memerankan Raden Fatah, Sunan Giri yang radikal diperankan oleh penulis, pakar sastra Universitas Gajah Mada mas DR.Purwadi menjadi gentho, pengikut Sunan Kalijaga sebelum menjadi wali dan sejumlah tokoh profesional lainnya terutama para pimpinan Dompet Dhuafa. Bertindak sebagai sutrada adalah mas Irwan Riyadi, penata acara Alin SP Apriliani. Pentas didukung penuh serta dimeriahkan oleh para penari dan para niyaga dari Rumah Puspa Budaya dengan koordinasi lapangan dan aksi pelayanan masyarakat oleh Dompet Dhuafa. Subhanallah walhamdulillah, Allahuakbar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Sunan Kalijaga Dalam Buku dan Pentas Kethoprak

Alhamdulillah. Pertama kali dalam sejarah, peluncuran buku yang dikaitkan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, dikemas dalam bentuk seni pertunjukan rakyat kethoprak. Buku “ISLAM MENCINTAI NUSANTARA, JALAN DAKWAH SUNAN KALIJAGA: Tafsir Suluk Kidung Kawedar”, diluncurkan pada hari Minggu malam tanggal 21 Mei 2017 di rumah  Puspa Budaya Nusantara di kawasan Ciputat, Tangerang dalam pentas kethoprak dengan lakon atau cerita Sunan Kalijaga. Acara diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa, Rumah Puspa Budaya dan Penerbit IiMAN. Sedangkan pemain-pemainnya antara lain Sunan Kalijaga diperankan oleh wartawan senior serba bisa sekalius pendiri dan petinggi Dompet Dhuafa mas Parni Hadi,  Sunan Bonang oleh pemilik Puspa Budaya dan mantan Sekretaris Jenderal juga mantan Direktur Jenderal di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pak Luluk Sumiarso, Direktur Penerbit IiMAN mas Rahmad Riyadi memerankan Raden Fatah, Sunan Giri yang radikal diperankan oleh penulis, pakar sastra Universitas Gajah Mada mas DR.Purwadi menjadi gentho, pengikut Sunan Kalijaga sebelum menjadi wali dan sejumlah tokoh profesional lainnya terutama para pimpinan Dompet Dhuafa. Bertindak sebagai sutrada adalah mas Irwan Riyadi, penata acara Alin SP Apriliani. Pentas didukung penuh serta dimeriahkan oleh para penari dan para niyaga dari Rumah Puspa Budaya dengan koordinasi lapangan dan aksi pelayanan masyarakat oleh Dompet Dhuafa. Subhanallah walhamdulillah, Allahuakbar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized