Sunan Kalijaga Dalam Buku dan Pentas Kethoprak

Alhamdulillah. Pertama kali dalam sejarah, peluncuran buku yang dikaitkan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, dikemas dalam bentuk seni pertunjukan rakyat kethoprak. Buku “ISLAM MENCINTAI NUSANTARA, JALAN DAKWAH SUNAN KALIJAGA: Tafsir Suluk Kidung Kawedar”, diluncurkan pada hari Minggu malam tanggal 21 Mei 2017 di rumah  Puspa Budaya Nusantara di kawasan Ciputat, Tangerang dalam pentas kethoprak dengan lakon atau cerita Sunan Kalijaga. Acara diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa, Rumah Puspa Budaya dan Penerbit IiMAN. Sedangkan pemain-pemainnya antara lain Sunan Kalijaga diperankan oleh wartawan senior serba bisa sekalius pendiri dan petinggi Dompet Dhuafa mas Parni Hadi,  Sunan Bonang oleh pemilik Puspa Budaya dan mantan Sekretaris Jenderal juga mantan Direktur Jenderal di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pak Luluk Sumiarso, Direktur Penerbit IiMAN mas Rahmad Riyadi memerankan Raden Fatah, Sunan Giri yang radikal diperankan oleh penulis, pakar sastra Universitas Gajah Mada mas DR.Purwadi menjadi gentho, pengikut Sunan Kalijaga sebelum menjadi wali dan sejumlah tokoh profesional lainnya terutama para pimpinan Dompet Dhuafa. Bertindak sebagai sutrada adalah mas Irwan Riyadi, penata acara Alin SP Apriliani. Pentas didukung penuh serta dimeriahkan oleh para penari dan para niyaga dari Rumah Puspa Budaya dengan koordinasi lapangan dan aksi pelayanan masyarakat oleh Dompet Dhuafa. Subhanallah walhamdulillah, Allahuakbar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Sunan Kalijaga Dalam Buku dan Pentas Kethoprak

Alhamdulillah. Pertama kali dalam sejarah, peluncuran buku yang dikaitkan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, dikemas dalam bentuk seni pertunjukan rakyat kethoprak. Buku “ISLAM MENCINTAI NUSANTARA, JALAN DAKWAH SUNAN KALIJAGA: Tafsir Suluk Kidung Kawedar”, diluncurkan pada hari Minggu malam tanggal 21 Mei 2017 di rumah  Puspa Budaya Nusantara di kawasan Ciputat, Tangerang dalam pentas kethoprak dengan lakon atau cerita Sunan Kalijaga. Acara diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa, Rumah Puspa Budaya dan Penerbit IiMAN. Sedangkan pemain-pemainnya antara lain Sunan Kalijaga diperankan oleh wartawan senior serba bisa sekalius pendiri dan petinggi Dompet Dhuafa mas Parni Hadi,  Sunan Bonang oleh pemilik Puspa Budaya dan mantan Sekretaris Jenderal juga mantan Direktur Jenderal di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pak Luluk Sumiarso, Direktur Penerbit IiMAN mas Rahmad Riyadi memerankan Raden Fatah, Sunan Giri yang radikal diperankan oleh penulis, pakar sastra Universitas Gajah Mada mas DR.Purwadi menjadi gentho, pengikut Sunan Kalijaga sebelum menjadi wali dan sejumlah tokoh profesional lainnya terutama para pimpinan Dompet Dhuafa. Bertindak sebagai sutrada adalah mas Irwan Riyadi, penata acara Alin SP Apriliani. Pentas didukung penuh serta dimeriahkan oleh para penari dan para niyaga dari Rumah Puspa Budaya dengan koordinasi lapangan dan aksi pelayanan masyarakat oleh Dompet Dhuafa. Subhanallah walhamdulillah, Allahuakbar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

KIDUNG SUNAN KALIJAGA, MEDITATIF – KONTEMPLATIF

Banyak cara dan ukuran untuk menilai peradaban sesuatu bangsa, antara lain dengan melihat perkembangan kebudayaannya seperti kesenian, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, adat sopan santun pergaulan, sastra dan organisasi kenegaraannya. Dari semua itu yang paling mudah adalah dengan melihat masakannya, pakaian adat, sastra dan musik termasuk alat musiknya.

Seni musik gamelan Jawa beserta alunan irama yang dimainkannya, khususnya irama tembang-tembang macapat, harus diakui memiliki keunggulan yang tinggi dalam hal sastra, seni musik dan teknologi pembuatan peralatan gamelannya pada masa dahulu kala.

Di Inggris, menurut laporan media massa terkemuka BBC 15 Januari 2015 (http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/01/150119_trensosial_gamelan_penjara), gamelan telah dipakai untuk membantu rehabilitasi mental ribuan nara pidana. Mereka mendapatkan bantuan ‘terapi’ dengan belajar dan bermain gamelan bersama melalui satu yayasan yang berkeliling di puluhan penjara dalam 10 tahun ini.

Direktur eksekutif Yayasan Good Vibrations yang didirikan tahun 2003, Katherine Haigh, mengatakan dari sekitar 4050 peserta – sebagian besar adalah narapidana- 75% di antaranya menyebutkan bahwa belajar gamelan membantu meningkatkan kepercayaan diri mereka.

Di Inggris banyak tumbuh kelompok-kelompok gamelan yang dimotori oleh Catherine Eastburn, yang sudah  mahir bermain antara lain kelompok  The Southbank Gamelan Players dan Gamelan Naga Mas.

Pakar gamelan dari Inggris lain yaitu Dr.Helen Loth dalam Seminar “Therapeutic Uses Of Gamelan” yang diselenggarakan Universitas Pelita Harapan  10 September 2016 (http://musicalprom.com/2016/09/19/musik-terapi-menggunakan-gamelan-hasil-penelitian-dari-inggris/ ), memaparkan hasil penelitian di Inggris mengenai penggunaan musik termasuk gamelan sebagai sarana terapi bagi kesehatan mental. Ketua dari Program Magister Bidang Terapi Musik Universitas Anglia Ruskin, Cambridge, Inggris ini melakukan penelitian doktoralnya dengan judul “ An Investigation Into the Relevance of Gamelan Music to the Practise of Music Therapy.”

Berdasarkan hasil wawancaranya dengan berbagai pihak yang berkecimpung dalam dunia gamelan di Inggris, ternyata gamelan telah digunakan di banyak tempat dan kesempatan seperti pendidikan, orkestra dan bahkan rumah sakit. Bermain gamelan, katanya, memberikan banyak manfaat seperti pengembangan kemampuan belajar, kesejahteraan hidup, kemampuan sosial, kemampuan berkomunikasi, kemampuan bekerjasama dan kesadaran sensoris.

Bagaimana halnya dengan di Indonesia? Kecuali di Bali, hampir semua seni tradisonal Nusantara makin meredup keberadaannya. Bukan hanya seni gamelan Jawa dan seni tembang macapat, tapi juga seni musik suku-suku bangsa kita yang lain, hanya merupakan kelompok-kelompok kecil yang jarang, dan pada umumnya sekedar tampil melengkapi upacara-upacara adat pernikahan pada keluarga-keluarga menengah atas.

Gamelan Jawa yang kita kenal sekarang, memilik sejarah panjang yang memperoleh penyempurnaan dan kelengkapan dari para ulama penyebar agama Islam yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga abad ke 15 – 16, terutama dari Sunan Bonang, Sunan Kalijaga dan Sunan Muria. Lebih khas lagi adalah tembang-tembang macapat, yang memang diciptakan Wali Sanga sebagai media untuk berdakwah. Irama tembang-tembang macapat, dipakai untuk mengiringi sastra tutur yang berisi materi-materi dakwah agama Islam khususnya tasawuf, yang pada masa Kesultanan Demak disebut Sastra Suluk. Suluk berarti jalan menuju Tuhan, kemudian juga dipakai untuk pengantar sesuatu babak dalam seni pewayangan.

Dengan suluk tembang-tembang macapat tersebut, agama Islam yang semula diacuhkan masyarakat Jawa, akhirnya diterima dan kemudian berkembang pesat menjadi umat Islam terbesar di dunia sekarang ini. Padahal menurut temuan arkeologi, Islam sudah masuk ke Jawa pada awal abad ke 11, bahkan sejumlah ahli sejarah kini sedang meneliti berbagai data yang mengindikasikan Islam sudah masuk ke Jawa sejak periode awal Islam, yakni abad ke 7 Masehi. Jika kita berpatokan pada temuan arkeologi yaitu inskripsi kuno pada makam Fatimah binti Maimun (1082 M) yang berada di desa Leran, Kecamatan  Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, maka Islam sudah masuk ke Jawa padaabad 11, namun seperti tertahan dan tidak berkembang sampai periode Wali Sanga.

Kidung Kawedar atau Kidung Sariro Ayu atau Kidung Rumekso ing Wengi, selanjutnya penulis sebut Kidung Kawedar, adalah sebuah suluk yang memperkenalkan tentang agama Islam pada masyarakat Jawa abad ke 15 – 16. Masyarakat Jawa penggemar seni gamelan sekarang ini, baik yang Islam maupun bukan, pada umumnya mengenal Suluk Kidung Kawedar  terutama bait pertama sampai ketiga. Sedangkan bagi penghayat kebatinan dan Kejawen, bait ke 17 dan 18 lebih disenangi. Suluk ini jika dikidungkan dengan irama Dandhangula yang diiringi lantunan lembut gamelan, sungguh akan membangun suasana meditatif-kontemplatif yang luar biasa.

Bagi masyarakat umum, meskipun orang Jawa, makna syair-syair Kidung Kawedar sudah mulai sulit dipahami karena disajikan dalam bahasa Jawa Tengahan (Bahasa Jawa Madya). Sedangkan yang berlaku di masyarakat Jawa sekarang adalah bahasa Jawa Baru, yang sudah gado-gado, campur dengan berbagai bahasa daerah dan asing lainnya. Demi memahami Kidung Kawedar, melalui buku ini penulis mempersembahkan terjemahan sekaligus berikut tafsirnya. Sebelum dihimpun menjadi sebuah buku, tulisan-tulisan tersebut telah dimuat di dalam blog/website b.wiwoho.blogspot.com dan islamjawa.wordpress.com serta facebook Bambang Wiwoho, facebook Tasawuf Djawa Full dan grup Tasawuf Djawa.

Tafsir ini diilhami oleh pengalaman penulis sebagai pengurus harian dalam Festival Istiqlal I (tahun 1991) dan Festival Istiqlal II, yaitu festival seni budaya yang bernafaskan Islam, serta nasihat dan dorongan kuat dari ulama sepuh Prof.K.H.Ali Yafie. Untuk itu penulis menyampaikan rasa takzim dan terima kasih nan tak terhingga. Ungkapan terima kasih juga wajib disampaikan kepada tiga sahabat yang telah berkenan memberikan ulasan dan kata pengantar. Pertama kepada putera beliau Helmy A.Yafie (Sekretaris Jenderal Darud Dakwah wal Irsyad), yang bukan orang Jawa tapi telah memberikan ulasan Kidung Kawedar secara mendalam. Kedua, sahabat Gus Anis Sholeh Ba’asyin (pimpinan Suluk Maleman/Orkes Sampak Gusuran dan Rumah Adab Indonesia di Pati) yang sejumlah sahabat sering memanggilnya Habib Anis. Ketiga, sahabat penulis selama lebih 40 tahun, wartawan senior yang memiliki banyak hobi dan pernah menduduki berbagai jabatan penting yaitu mas Parni Hadi. Ungkapan terima kasih selanjutnya kami sampaikan kepada mas Rachmat Riyadi dan mas Faried Wijdan serta sahabat-sahabat dari penerbit Pustaka IIMAN. Juga terima kasih untuk mas Luluk dan mbak Lies Sumiarso pimpinan Rumah Puspo Budoyo/Nusantara Institute serta mas Djoko Muljono, yang secara bersama-sama telah bertekad menggelorakan kembali seni macapat Nusantara, dengan mendayagunakan segenap potensi jejaring seni budaya Nusantara.

Semoga dengan hikmah Kidung Kawedar ini, beserta ridha, rahmat dan berkah-Nya, kita bisa terus tumbuh dan berkembang menjadi bangsa dan umat Islam yang sejahtera, tinggi serta mulia peradabannya. Aamiin.

(Pengantar penulis untuk buku: ISLAM MENCINTAI NUSANTARA, JALAN DAKWAH SUNAN KALIJAGA. Tafsir Suluk Kidung Kawedar)

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Wali Songo dan Penyebaran Islam di Jawa: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga

Oleh: Helmy Ali Yafie

Para Sarjana berbeda pendapat, tentang kedatangan Islam di Indonesia. [1] Tetapi ada satu kenyataan, yang tampaknya disepakati, adalah bahwa kedatangan Islam ke Indonesia dilakukan secara damai. [2] Islam, dalam batas-batas tertentu, di sebarkan oleh pedagang, bersama atau kemudian dilanjutkan oleh para guru dan pengembara sufi. Tampaknya orang yang terlibat dalam kegiatan penyebaran agama (Islam), pada tahap-tahap awal kedatangan Islam, tidak bertendensi apapun selain bertanggung bertanggung jawab menunaikan kewajiban tanpa pamrih, sehingga nama mereka berlalu begitu saja. [3]  Tidak ada catatan-catatan sejarah atau prasasti  pribadi yang sengaja dibuat oleh mereka untuk mengabadikan apa yang telah mereka lakukan.

Oleh karena itu wajar jika terjadi perbedaan pendapat tentang kapan, dari mana dan dimana pertama kali Islam datang ke Indonesia. Yang dapat dikatakan adalah bahwa para penyebar agama yang berdatangan bersama atau menyusul para pedagang, dan kebanyakan adalah para sufi pengembara. Pada proses berikutnya terjadi perkawinan antara para pedangang dan para penyebar agama tersebut dengan penduduk setempat dan anak bangsawan  Indonesia, yang kemudian membentuk keluarga, komunitas inti,  keluarga Muslim dan kemudian masyarakat Muslim.

Perkawinan dengan para anak bangsawan, membuat status social mereka menjadi meningkat lebih tinggi. Apalagi  jika mereka kawin dengan putri Raja, maka keturunannya menjadi pejabat kerajaan, syahbandar, qadi dan lain-lain, bahkan menjadi putra mahkota[4].

Pada periode berikutnya, setelah para pedagangan dan para penyebar agama itu mempunyai kedudukan cukup kuat,  para pedagang menguasai perekonomian terutama bandar-bandar seperti Gresik, mereka kemudian membangun pusat-pusat pendidikan, yang kini disebut pesantren. Di Jawa, pusat-pusat pendidikan itu menjadi semacam tempat penggemblengan kader-kader ulama dan politik. Misalnya Raden Patah, Raja Demak  pertama, adalah santri Ampeldenta. Proses penyebaran agama Islam, peran dan asal usul aktor yang terlibat di dalamnya, juga terdapat perbedaan diantara para ahli, tetapi gambaran umum tampaknya kurang lebih seperti yang disebutkan secara sederhana diatas. Tampaknya hal itu kemudian yang mempercepat proses perkembangan Islam di Indonesia.

Tahap awal penyebaran Islam terlihat lamban, terbatas pada kota-kota pelabuhan. Lalu kemudian pada periode berikutnya  memasuki daerah pesisir lainnya dan pedalaman. Sebagaimana diketahui bahwa sebelum kedatangan Islam,  kepercayaan masyarakat di Nusantara didominasi agama Hindu, Budha dan agama-agama atau kepercayaan lokal. Abad ke-5 sampai dengan abad-14 M dapat dikatakan sebagai abad dominasi Hindu Budha di Nusantara. Bahkan pada satu masa tertentu  kedua agama (yang pada dasarnya bertentangan) itu bergabung, yang dikenal dengan nama Syiwa-Budha,  dan hal ini hanya ditemui di Indonesia[5].

Beberapa kerajaan Hindu dan Budha yang berkembang dan menguasai beberapa daerah, pusat-pusat jalur perdagangan di Nusantara. Di tanah Jawa  pelabuhan-pelabuhan penting yang merupakan daerah pusat jalur perdagangan internasional pada masa berada dibawah pengaruh Hindu-Budha tersebut.  Artinya, ketika Islam masuk  agama Hindu dan Budha, disamping kerecayaan local masyarakat, mendominasi kepercayaan dan  dianut oleh masyarakat Jawa saat itu. Dengan adanya system kepercayaan, yang sudah begitu mengakar kuat dalam dalam masyarakat, di dukung oleh system kerajaan,  seperti itu maka menjadi logis jika penyebaran Islam terlihat lamban. Tetapi pada masa-masa berikutnya terlihat terjadi perubahan, penyebaran Islam berjalan relatif cepat.

Terlihat ada bentangan waktu yang cukup panjang. Kalau patokannya diambil  abad ke 11 M sebagai tahun kedatangan dan abad ke 15,  tepatnya tahun 1481 M,  tahun berdirinya kerajaan Islam yang pertama di tanah Jawa yaitu Kerajaan Demak. Maka terdapat jarak waktu selama kurang lebih empat abad lamanya. Atau kalau ditarik lebih jauh kebelakang, sampai pada abad pertama Hijriyah, maka perkembangannya terlihat sangat lamban.  Tetapi dalam perkembangan berikut, terlihat proses berjalan lebih cepat. Islam  berkembang dengan cepatnya di tanah Jawa,  antara abad 15 sampai 17 M, yang ditandai  dengan adanya beberapa kerajaan Islam yang mendominasi di tanah Jawa yang wilayah kekuasaannya  sangat luas, hampir mencakup seluruh pulau tersebut.

Tampaknya semua itu terkait langsung dengan dengan adanya proses yang lebih terencana dan sistematis. Di beberapa daerah di tanah Jawa, misalnya, pada masa-masa itu, berdiri  beberapa pusat-pusat penyiaran agama Islam. Di Jawa Timur,  dipelopori  oleh Sunan Ampel, di daerah Gresik Jawa Timur dipelopori oleh Sunan Giri. Hal yang sama terjadi di Jawa Barat, dibawah kepemimpinan  Sunan Gunung Jati, di Jawa Tengah bagian utara di pelopori oleh Sunan Kudus dan Sunan Muria, sedangkan di Jawa Tengah bagian selatan dipelopori oleh Sunan Kalijaga

Kemungkinkan hal itu karena adanya kepemimpinan para wali yang konsisten dan solid. Dengan kata lain pada periode itu, ketika para wali, yang dikenal dengan nama Wali Sembilan (Wali Songo), melanjutkan memimpin penyebaran agama Islam di seluruh pulau Jawa, maka penyebaran agama Islam relative berlangsung lebih cepat. [6]

Wali Songo  adalah sebuah dewan wali yang memiliki otoritas tertinggi pada jamannya, dalam keagaman dan penyebaran agama, yang secara berkala melakukan pertemuan (musyawarah), untuk menentukan strategi dan mengeluarkan fatwa[7]. Sesuai namanya, Wali Songo, jumlah wali di Jawa sembilan orang dan menurut urutan dari Timur ke Barat  adalah : Sunan Ampel (Raden Rahmat), makamnya terdapat di Ampel dalam kota Surabaya; Malik Ibrahim (Maulana Magribi) di Gersik, Sunan Drajad (makamnya terletak di Sidayu Lawas); Sunan Giri (Raden Paku) makamnya terletak di Giri tempatnya di Gersik; Sunan Bonang (Raden Maulana Makdum Ibrahim), makamnya terletak di Tuban;  Sunan Kudus (konon adalah panglima bala tentara para wali yang menyerbu Majapahit), Sunan Murya (pejuang melawan Majapahit), Sunan Kalijaga (Jaka Syaid, atau Raden Mas Syahid), Jawa Tengah;  Sunan Gunung Jati (adalah Putera Pasai yang kawin dengan saudara perempuan Sultan Trenggana), di Cirebon, Jawa Barat. [8]

Jelas bahwa Wali Songo memiliki peran yang sangat besar dalam proses penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Mereka tidak hanya berdakwah menyebarkan agama Islam tetapi juga menjadi penasehat raja-raja yang memerintah. Bahkan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah juga raja. Dia mendapat julukan Pandita Ratu. Pada umumnya Wali Sembilan itulah yang mendirikan pesantren-pesantren atau padepokan, yang menjadi pusat-pusat pendidikan untuk melakukan kaderisasi.  Santrinya datang dari berbagai daerah, dari seluruh pelosok Nusantara. Itu  menjadi bagian penting  bagi perkembangan Islam di tanah Jawa.

Tentang Sang Wali

Sunan Kalijaga dapat dikatakan salah satu tokoh sentral dalam proses penyebaran Islam di Tanah Jawa. Pendekatannya unik. Sunan Kalijaga,  melihat keadaan masyarakat Jawa pada waktu itu dimana masyarakatnya masih kental dengan tradisi Hindu, Budha dan kepercayaan-kepercayaan lama  maka dia melakukan pendekatan seni dan budaya, dalam arti mencoba menyerap budaya dan tradisi yang sudah ada dalam menyebarkan ajaran-ajarannya. Dia berkeliling dari satu tempat ketempat lain, memasuki daerah-daerah terpencil.

Ada beberapa versi silsilah Sunan Kalijaga. Hal itu  karena memang  tidak ada catatan atau bahan–bahan yang secara penuh dan datail memberikan informasi secara jelas mengenai asal usul Sunan Kalijaga. Salah satu versi mengatakan bahwa Dia diperkirakan ia lahir sekitar tahun 1450 M.  Nama kecilnya adalah Raden Mas Syahid, putera Tumenggung Wilatika, Bupati Tuban dari Ibu bernama Dewi Ningrum. Sunan Kalijaga kawin dengan Sarah binti Maulana Ishaq dan berputra tiga orang, yakni Raden Umar Said (kelak menjadi Sunan Muria), Dewi Rukayah, dan Dewi Sofihah[9].

Sunan Kalijaga  terkenal,  karena berjiwa besar, toleran, berpandangan tajam dan juga seorang pujangga. Sunan Kalijaga juga dikenal dalam Babad Tanah Jawi. Ia dipandang salah satu dari Sembilan wali yang banyak memperlihatkan mu’jizat.[10] Menurut riwayatnya, masa remajanya nakal, sehingga dia diusir oleh orang tuanya. Dia menadapt julukan Lokajaya, karena sakti dan tidak ada dapat mengalahkannya. Oleh karena itu, sebagai perampok dan penyamun, sangat ditakuti sampai dia bertemu dengan Sunan Bonang yang kemudian dapat menaklukkannya.

Sunan Kalijaga  ingin menjadi murid  Sunan Bonang, tetapi Sunan Bonang menolaknya, dan hanya mau menerimanya sebagai murid apabila dia sanggup menjaga tongkatnya yang dia tancapkan di tepi sungai. Dengan setia Raden Mas Syahid menjaga tongkat itu, menepati janjinya, sehingga karena itu dis disbeut Kalijaga (penjaga kali/sungai). Setelah menjadi Wali dia juga disebut Syekh Malaya, karena dia berdakwah sambil berkelana. Masa hidupnya cukup panjang, dari akhir masa kerajaan Majapahit sampau pada masa kerajaan Pajang (akhir abad ke 15 sampai pertengahan abad 16).[11]

Jasanya bagi Demak cukup besar. Pada waktu pendirian Mesjid Demak, dia salah seorang wali yang berkewajiban menyediakan salah satu dari 4 tiang pokok (soko guru) yang menurut lagenda dia buat dari tatal (serpihan-serpihan kayu sisa)[12]. Konon tiang itu dibuat menurut konstrukti tiang kapal, terdiri dari kepingan-kepingan kayu yang sangat tepat dan rapi. Sangat kuat dapat menahan angina topan.[13] Kalau difahami secara simbolik, maka peranan dalam pendirian masjid itu sangatlah penting.

Dalam menyebarkan agama, Sunan Kalijaga berbeda dengan Sunan Giri. Menurut Sunan Kalijaga, menyampaikan ajaran Islam perlu disesuaikan dengan keadaan setempat, sedikit demi sedikit. Kepercayaan, adat istiadat dan kebudayaan lama tidak harus dihapus, bahkan diisu dengan unsur dan roh ke Islaman.

Sunan Giri, sebaliknya, berpendapat bahwa Islam harus disampaikan menurut aslinya. Kepercayaan lama harus diberantas. Demikian pula dengan adat istiadat dan kebudayaan lama yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tampaknya kedua Wali ini memang berbeda pendekatannya. Sunan Kalijaga lebih beroientasi dan mendekati rakyat, sedangkan Sunan Giri lebih dekat dengan kaum bangsawan dan hartawan. [14] Tetapi tidak berarti bahwa Sunan Kalijaga anti terhadap kaum bangsawan. Karena dia merupakan salah seorang penasehat raja-raja Demak, sejak Raden Patah sampai Sultan Trenggana, sehingga diberi tanah perdikan (tanah bebas pajak) di Kadilangu[15]. Kesepakatan kemudian tercapai bahwa dakwah memang perlu dua pendekatan, ada yang dari atas dan ada pula yang dari bawah.[16]

Sebagai budayawan dan seniman, banyak yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga, dan itu menggambarkan pendiriannya tersebut. Dia menciptakan dua perangkat gamelan yang semula bernama Nagawilaga dan Guntur Madu, kemudian dikenal dengan nama Nyai Sekati (lambang dua kalimat syahadat). Wayang yang pada zaman Majapahit dilukis diatas kertas yang lebar sehingga disebut wayang beber, oleh Sunan Kalijaga dijadikan satu-satu dan dibuat dari kulit kambing, yang sekarang dikenal dengan nama wayang kulit.[17] Banyak lakon-lakon yang digubah untuk kepentingan ini. Diantaranya yang terkenal adalah lakon Jimat Kalimasada dan Dewa Ruci.

Menurut Hazim Amir,  setelah agama Islam datang ke Indonesia (pulau Jawa), lakon wayang mengalami perubahan. Wali Songo mengubah  sistem hirarki kedewaan yang menempatkan para dewa sebagai pelaksana perintah Tuhan saja,  bukan sebagai Tuhan. Untuk itu disusunlah cerita-cerita baru yang bernafas Islami, seperti lakon Dewa Ruci, Jimat Kalimasada dan lakon-lakon wahyu. [18]

Sunan Kalijaga, menjadikan wayang kulit sebagai media pendidikan atau dakwah, dengan menampilkan tokoh-tokoh pewayangan yang menjadi favorit rakyat, ke dalam pewayangan hampir keseluruhan kisahnya dipentaskan ceritera dan dialog-dialog tentang tashawuf dan akhlakul karimah. Karena dia faham betul bahwa yang dihadapi itu (audiens) adalah pemeluk Hindu ataupun Budha, yang keseluruhan ajarannya berpusat pada ajaran kebatinan. Mungkin karena itu,  maka Sunan Kalijaga mengekspose unsur-unsur tashawuf dan akhlaqulkarimah.

Sebagai tahap awal dari suatu proses, tampaknya itu berhasil dalam dakwahnya. Kepercayaan kebatinan memang sangat penting, akan tetapi arti agama (Islam) tidaklah hanya itu[19]. Satu personifkasi yang sangat dekat dengan masyarakat Jawa adalah diciptakannya tokoh Punakawan dalam cerita pewayangan yang terdiri atas Semar, Nala Gareng, Petruk dan Bagong, adalah tokoh-tokoh yang selalu ditunggu-tunggu dalam setiap pergelaran Wayang di Jawa, dan tokoh-tokoh ini tidak ditemui pada cerita Wayang asli yang berasal dari India. Para tokoh Punakawan dibuat sedemikian rupa mendekati kondisi masyarakat Jawa yang beraneka ragam.[20]

Awalnya, apa yang dikembangkan oleh Sunan Kalijaga pada awalnya tidak memperoleh dukungan dari beberapa Wali lainnya.

Sunan Giri, misalnya berpendapat bahwa wayang itu itu hukumnya haram, karena gambarnya menyerupai manusia. Maka terjadi debat. Tetapi Sunan Kalijaga, mengemukakan jalan keluar yang bijaksana. Gambar wayang dirubah bentuknya, agar tidak haram. Ukurannya tangannya dibuat menjadi lebih panjang, begitu pula kakinya. Hidung dibuat panjang, kepala dibuat menyerupai binatang. Gagasan itu disetujui oleh para Wali, bahkan membantu dengan menciptakan gamelannya.[21] Maka menjadilah wayang itu media dakwah yang efektif.

Banyak hal yang telah dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Dia menciptakan baju yang disebut takwo (artinya: Takwa). Kain batik bermotifkan burung, konon dari Sunan Kalijaga juga. Pemanfataan kebudayaan dalam bentuk ide-ide lainnya dapat dijumpai pada makna-makna yang terkandung dalam suluk, seperti Kidung Rumeksa Ing Wengi dan Dhandanggula. Dandanggula, yang dia ciptakan adalah salah satu jenis macapat, yang setiap baitnya terdiri dari 10 baris, dengan guru lagu (jumlah suku kata) dan guru swara (bunyi akhir bait). [22]

Agaknya karena Sunan Kalijaga adalah asli Jawa maka pengaruhnya lebih merata di kalangan rakyat. Dia wafat pada usia relative tua, dan di makamkan di desa Kalidangu, sebelah timur kota Demak.

Warisan Sang Wali

Sunan Kalijaga, adalah salah seorang dari Wali Sembilan (Wali Songo). Salah seoarng tokoh sentral dalam proses penyebaran Islam di Tanah Jawa. Terkenal,  karena berjiwa besar, toleran, berpengatahuan luas dan dalam, serta berpandangan tajam. Dia juga seorang pujangga.  Dia adalah gabungan dari seorang ulama dan budayawan. Dia tampak unik dengan pendekatannya. Dia meninggalkan banyak karya, meninggalkan banyak jejak dengan apa yang telah dilakukannya, pada tempat-tempat tertentu  yang masih dipelajari dan digunakan sampai sekarang.

Buku yang berjudul SULUK[23] KIDUNG KAWEDAR SUNAN KALIJAGA (ISLAM MENCINTAI NUSANTARA: JALAN DAKWAH SUNAN KALIJAGA. Tafsir Suluk Kidung Kawedar), di tulis oleh B. Wiwoho, berisi salah satu warisan dari Sunan Kalijaga. Buku ini memuat, mengurai, menafsirkan dan mencoba menempatkan posisi karya Sunan Kaligjaga tersebut dalam peta penyebaran Islam.

Suluk Kidung Kawedar disusun  dalam bentuk Kidung, sebagaimana sudah disebutkan diatas adlah sebuah bentuk karya sastra dalam bahasa Jawa Tengahan yang digubah dalam bentuk puisi menggunakan metrum Jawa Tengahan atau tembang tengahan (sekar madya).  Kawedar  adalah kidung pujian dalam bentuk puisi Jawa, yang dilagukan dengan apa yang disebut macapat (maca papat-papat; membaca empat-empat).

Suluk Kidung Kawedar juga memberikan gambaran tentang keadalaman pengetahuan keagamaannya dan pemahamanannya terhadap masyarakatnya.  Kita bisa membayangkan bagaimana sulitnya masyarakat ketika itu untuk memahami bahasa dan tradisi keagamaan (Islam) yang baru bagi mereka; sementara mereka hidup dalam tradisi keagamaan dan pemahan keagamaan yang sudah mengakar kuat dalam diri diri dan lingkungan mereka.  Bagi orang Jawa tidak mudah mengucapkan dan memahami doa dalam bahasa Arab, maka Sunan Kalijaga menyusun doa dalam bahasa Jawa, dengan bentuk kalimat dan gaya bahasa kidung sesuai dengan alam pikiran Jawa.

Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian Pertama, berisi  kidung-kidung SULUK KIDUNG KAWEDAR,  tentang ajaran Islam. Uniknya,  dimulai  dengan kidung mantra penolak bala, yang secara sepintas seperti tidak begitu prinsipil. Tetapi ketika dibaca dengan teliti, direnungkan maknanya, ternyata ini merupakan ajaran tentang keimanan kepada Ke Maha Esaan, Ke Maha Kuasaan dan Ke Maha Besaran Allah SWT. Bahwa semua hal yang ada disekitar kita ini; penyakit, senjata tajam, hama, binatang buas, bisa ditaklukkan.  Kawasan-kawasan angker, keadaan gawat, kekeringan bisa dirubah menjadi keadan yang indah damai, subur, damai dan penuh kebahagiaan.  Jika kita bersandar kepada Allah SWT. Ini adalah pesan keimanan, keimanan yang tidak terbagi. Bahwa Allah Swt mengatasi segalanya, hanya dengan menyebut namanya.  Ini juga tentang konsistensi, dengan mengacu  Nabi Adam (perasaan), Nabi Sis (pemikiran) dan Nabi Musa (Ucapan).

Lalu dengan cara yang sama Sunan Kalijaga lebih jauh mengenalkan  Islam, dengan mengenalkan para Nabi, sejarah Nabi Saw, para sabahatnya dan keluarganya.

Bagian berikutnya, menggambarkan hubungan antara Allah Swt dengan hamba-hambaNya dan ciptaanNya.  Bahwa hidup yang berasal dari Allah, sebenarnya hanya berlangsung singkat. Dunia ini hanya tempat persingahan untuk sejenak beristirahat, bagi seorang musafir, penuh dengan godaan dan jebakan yang membuat orang bisa terpeleset dan tersesat, sehingga kesulitan mencapai tujuan. Maka hidup yang singkat itu, digunakan sebaik-baiknya dengan aktivitas yang bermanfaat bagi sesama, bagi diri sendiri, sebagi bekal untuk menuju tujuan. Untuk kepentingan itu, sebaiknya manusia selalu mengingat dan berdoa kepada Tuhan. Ini penting karena setan atau iblis diberi mandat untuk menggoda manusia selama dalam perjalanannya.

Ada ajaran yang sangat mendalam, yang membutuhkan perenungan mendalam dengan menangkap tanda-tanda yang disekitar kita,  yakni ‘mangunggaling kawulo gusti’. Ini soal pengetahuan dan  pemahaman hubungan antara manausia dengan Sang Pencipta. Penyatuan di sini bisa bermakna penyatuan kehendak, dan itu bisa dilakukan jika manusia mampu mengendalikan segala nafsu dan kemauan. Manusia yang menyatu dengan Tuhannya bisa berarti manusia bisa mengendalikan segala macam nafsu dan kemauannya, sehingga menyatu dengan kehendak Allah Swt. Dan ini mencapai derajat yang dicapai para wali Allah.  Manusia yang bisa memahami, menaklukann dan mengendalikan hawa nafsunya juga akan memiliki arta daya, atau kebijakan atau kekuatan batin yang luar biasa. Proses dan cara penyatuan, begitu juga dampak dari penyatuan itu, tergambar pada Kidung Dewa Ruci.

Kembali tentang kandungan Suluk Kidung Kawedar, penulis melihat pendekatan atau metode yang dikembangkan oleh Sunan Kalijaga. Sebagaimana di ketahui bahwa pada abad ke 15 – 16 adalah zaman dimana ajaran-ajaran dominan, Hindu Budha, atau kepercayaan lama yang memuja roh-roh halus, mempercayai hal-hal gaib dan mistis. Dalam situasi seperti itulah Sunan Kalijaga menciptakan Suluk Kidung Kawedar yang di dendangkan dengan irama dhandanggula yang bernuansa kontemplatif,  untuk mengatasai segala macam problem kehidupan sehari-hari. Itu semua dikemas dengan bahasa dan tradisi yang sudah dikenal masyarakat.

Keakraban semakin terasa karena kidung ini juga terkait dengan problem-peroblem kehidupan sehari-hari.  Jadi kidung dibangun dengan bentuk kalimat dan gaya bahasa kidung sesuai dengan alam pikiran Jawa. Tidak salah jika kemudian menggunakan istilah ‘menyusup’. Maksudnya, Sunan Kalijaga mengajarkan Islam tanpa menghadap-hadapkannya dengan  budaya dan tradisi yang sudah ada. Bahkan beberapa bagian diangkat dan diberi landasan dan roh Islam.

Sunan Kalijaga, dengan Suluk Kidung Kawader, seperti datang memberi energi baru kepada kepercayaan masyarakat. Dia tidak mengecam kepercayaan yang sudah  ada dalam masyarakat. Bahkan seperti menguatkannya. Tetapi sesungguhnya dia menggantikan nilai-nilai dan makna-makna dasar. Kalau dikembalikan kepada pertanyaan, ‘kenapa pada abad-abad 15-17 Islam tampak cepat diterima dan menyebar, dibanding dengan sebelumnya?’. Mungkin salah satu jawaban adalah sosok Sunan Kalijaga. Maka, kalau kita berkaca pada masa kita ini yang penuh dengan benturan, kita bisa memahami ajakan penulis

Bagian Kedua di beri judul “Berguru pada Sunan Kalijaga”. Kalau dilihat  sub judul terakhir pada bagian kedua ini, tampak penulis  berefleksi, melihat kembali dan merenungkan apa yang sudah dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Ini merupakan bagian penting, kalau bukan yang terpenting, dalam proses membangun peradaban Jawa yang berpijak pada ajaran dan nilai-nilai  Islam.

Pada masa itu adalah masa ketika masyarakat masih sangat kuat dipengaruhi kepercayaan-kepercayaan kepada hal-hal yang gaib, mistis. Alam masih dipengaruhi atau didominasi oleh kekuatan-kekuatan gaib, yang ada di mana-mana, dan menentukan nasib manusia. Situasinya mirip dengan keadaan sekarang, ketika masyarakat sangat kuat dipengaruhi oleh nilai-nilai individuliasme, henodisme dan pragmatisme. Mesikipun nuansanya berbeda, tetapi cengkermannya kurang lebih sama. Bahkan mungkin lebih kuat karena kondisi sosial ekonomi, politik dan budaya, yang mendukung.

Sunan Kalijaga mengambil sikap yang  berbeda dengan para Wali lainnya, seperti Sunan Bonang atau Sunan Giri, yang cenderung tidak mau konpromi dalam situasi seperti itu. Sesungguhnya Sunan Kalijagatidak hanya berhadapan dengan situasi masyarakat, tetapi juga menghadapi persoalan-persoalan dengan sesama Wali. Dia mendapat tantangan dari dalam. Pendekatannya dipertanyakan.  Jalan yang dilaluinya cukup terjal dan berliku.

Tetapi situasi itu dihadapi dengan bijaksana penuh empati, sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan dan dakwah dalam Islam. Maka ke dalam dia membangun dialog, menjawab kritik dengan memberikan alternatif pemecahan yang logis dan realistis. Keluar, kepada masyarakat dan lingkungan luar, dia mencari inspirasi dari kepercayaan atau tradisi yang sudah, bahkan yang dianggap harus diberantas oleh kawan-kawannya. Ketika dia berhadapan dengan masyarakat yang tidak kenal dengan Islam, dia tidak langsung mengajarkan tentang rukun Islam, syahadat dan shalat, melainkan dengan terlebih dahulu menanamkan sugesti, bernuansa magis, sesuai dengan kondisi batin orang-orang Jawa pada umumnya, pada masa itu. Kemudian mengenalkan tokoh-tokoh panutan dalam Islam, dan beberapa istilah penting (istilah kunci). Baru kemudian mengenalkan rukun Iman.

Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga, melakukan pendekatan atau cara yang sangat bijaksana, masuk melalui pendidikan dan budaya, dalam arti memberikan warna dasar pada budaya. Bukan dengan cara yang frontal, membongkar atau menendang agama dan kepercayaan, ada istiadat dan kearifan lokal. Tetapi dengan cara bijak menyusup, menggeser setapak demi setapak atau membungkus selapis dengan selapis dengan Islam atau dengan nilai-nilai Islam.

Catatan akhir

Betul kata penulis bahwa tidak ada gading yang tidak retak. Tidak ada sesuatu yang sempurna, apalagai kalau itu adalah cara atau sratagi atau pendekatan. Karena ia selalu terikat pada waktu tertentu, pada tempat dan masa tertentu. Ia ada untuk menjawab kebutuhan zamannya di tempatnya dilahirkan. Pendekatan Sunan Kalijaga,  pada bagian tertentu, terlihat berhasil melahirkan peradaban yang harmonis, yang nyaris sempurna. Tetapi juga mendapat banyak kritik, karena dianggap melahirkan sinkritisme, yang mengaburkan ajaran yang murni.

Pendekatan Sunan Kalijaga cenderung sufistik, dan itu ditegaskan dengan menggunakan istilah suluk. Pendekatan ini mengajak orang untuk lebih banyak merenungkan makna kata dan realitas. Dalam situasi yang relatif tenangpun cara ini memerlukan waktu dan ketenangan. Orang tidak bisa merenungan realitas sambil bekerja atau beraktivitas. Oleh karena itu perlu menetapkan waktu-waktu tertentu untuk merenungkan makna-makna dari realitas untuk memperoleh makna baru atau pembelajaran yang mencerahkan. Disamping itu juga perlu seorang pendamping, atau seorang pembimbing. Kalau dalam istilah tarekat, perlu seorang mursyid. Tanpa pendamping, atau kawan berdiskusi, maka orang bisa memiliki tafsir sendiri tentang apa yang dibaca, dan itu bisa berarti jauh dari apa yang dimaksudkan oleh penulis atau sang Guru.

Buku ini sangat menarik, menginspirasi, tetapi ini bukan bacaan yang ringan. Untuk mencernanya, perlu melengkapi diri dengan pengetahuan sejarah, khususnya sejarah tentang masuknya Islam di Nusantara khususnya di Jawa, pengetahuan tentang sufisme, dan posisinya dalam Islam, tentang Wali Sanga sendiri. Karena buku ini tidak secara spesifik menyebut menyentuh itu secara memadai. Mungkin pembaca tertolong jika sudah terbiasa dengan bacaan tentang Wali Sembilan, atau memiliki pengetahuan memadai tentang sejarah penyebaran Islam.

Wamaa taufiqi illa billah ‘alaihi tawakkaltu wailaihi unib.

Jakarta, 2 November 2016.

Helmy Ali Yafie

Sekjen Darud Dakwah wal Irsyad (DDI)

Pengantar untuk buku: ISLAM MENCINTAI NUSANTARA: JALAN DAKWAH SUNAN KALIJAGA. Tafsir Suluk Kidung Kawedar, diterbitkan oleh Pustaka IIMaN (0851-0000-76920).

___________________________________________

Catatan kaki:

Kebanyakan sarjana Orientalis berpendapat bahwa Islam datang ke Indonesia abad ke 13 M dari Gujarat (bukan dari Arab Langsug). Sedangkan kebanyakan sarjana Muslim berpendapat bahwa Islam sudah sampai ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah (sekitar abad ke 7 samapi abad 8 Masehi), langsung dari Arab. Pendapat ini misalnya dikemukakan oleh Prof. Hamka, dalam seminar “Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia”, 1968, di Medan. Hamka mengatakan bahwa pada masa itu Arab sudah membuka hubungan (perdagangan) dengan berbagai negeri. Ke Timur, melalui Selat Malaka  berhubungan dengan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara. Pendapat yang sama di di lontarkan oleh Alwi Shihab.  Taufiq Abdullah mencoba mengkompromikan kedua pendapat itu, mengatakan bahwa betul Islam sudah datang ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah (abad 7-8 Masehi), tetapi baru dianut oleh para pendatang itu sendiri, yakni pedagang Timur Tengah, Barulah pada abad 13  Islam masuk dan menyebar setelah mempunyai kekuatan politik dengan berdirinya Kerajaan Samudara Pasai. Dan itu terkait dengan kehancuran Dinasty Abbasiyah, yang menyebabkan para pedagang Muslim mengalihkan aktivitas perdagangannya ke Asia Selatan, Asia Timut dan Asia Tenggara. Lihat Musyrifah Sunanto, Prof. Dr., Sejarah Peradaban Islam Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005, halaman 8-9; Lihat, Alwi Shihab, Akar Tasaawuf Indonesia, Pustaka Iman, Depok, 2009, halaman.7; Lihat juga A. Hasymy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Bandung, Al Maarif, 19981, halaman 385; Taufiq Abdullah, (ed), Sejarah Umat Islam Indonesia, Majelis Ulama Indonesia, Jakarta, 1991, halaman 39-40

2 Azymardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara, Sejarah Wacana dan Kekuasaan, PT Remaja Rosda Karya, Bandung, 1999, halaman 8.

3 Musyrifah Sunanto, Prof. Dr., Sejarah Peradaban Islam Indonesia, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005, halaman 8.

4 Uka Tjandrasasmita, (Ed), Sejarah Nasional III, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1976.

5 Solihin Salam, Sekitar Wali Songo, Menara Kudus, 1960.

6Semua Wali itu disebut  atau memiliki gelar Sunan. Tetapi kata Rifcklefs, kemungkinannya istilah berasal dari kata “suhun” yang berarti menghgormati. Dalam bentuk fasifnya, berarti yang dihormati. Dengan demikian gelar itu diberikan oleh masyarakat sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh-tokoh tersebut. Lihat,  Ricklefs, M.C., Sejarah Indonesia Modern, 1200-2008, Serambi, Jakarta, 2008. Halaman 18.

7 Budiono Hadisustrisno, Sejarah Wali Songo, Graha Pustaka, Yogyakarta, 2009, halaman147.

8 Solihin Salam, opcit, halaman 23.

9IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, Jilid 2, Penerbit Jembatan, Jakarta, 2002, halaman 568.

10Slamet Mulyana, Prof. Dr., Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, LKis, Yogyakarta, 2005, halaman 100-101.

11 Ensiklopedi Islam Indonesia, Opcit.,

12Ibid.,

13Runtuhnya Kerjaan Hindu-Jawa, Opcit,

14Ensiklopedi Islam Indonesia, Opcit.,

15Ibid.

16Ibid.

17Ibid

18 Purwadi, Upacara Tradisional Jawa,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005. Halaman 21.

19 Saifudin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, Al Maarif, Bandung, 1979, halaman 232-233.

20 Banyak hal yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga, misalnya Upacara Grebeg  yang dihentikan dihentikan tidak dibolehkan oleh Kraton Demak, setelah kejatuhan Majapahit, diusulkannya  menghidupkan itu kembali, dengan menambahkan istilah sekaten (penabuh gamelan disebutnya sekaten), Purwadi, 2005, halaman 645-65; Slametan dan Kenduri, yang bagi masyarakat merupakan syarat spirit yang wajib, dan jika dilanggar yang bersangkutan akan mendapat kecelakaan atau kesialan, tetap dihidupkan tetapi diberikan semangat sadaqah, lihat Solihin Salam; puja-puji dalam sesajen diganti dengan doa-doa dan membacara al Qur’an, lihat Budi Hadisutrisno.

21Ibid

22 Dandanggula, salah satu jenis macapat yang setiap baiatnya terdiri dari 10 baris, dengan guru lagu dan guru swara, sebagai berikut : 1. 10/i (wulu); 2. 10/a (legena); 3. 8/e (taling); 4. 7/u (suku); 5. 9/i (wulu); 6. 7/a (legena); 8. 8/a (legena); 9. 12/i (wulu); 10. 7/a (legena); Ensiklopedi Islam, loc cit.,

23 Suluk berasal dari kata yang berarti melalui, menmpuh jalan atau cara. Salaka adalah kata kerja, bentuk masdarnya adalah sulukun, yang bermakna perjalanan atau menempuh jalan. Suluk merupakan sebuah perwujudan cara manusia untuk lebih dekat kepada Tuhannya, serta memahami hakekat kehidupan dan pencarian kebenaran  sejati yang berbentuk seni suara atau kidung Jawa; Lihat Purwadi, Upacara Tradisional Jawa, halaman 16; Lihat juga Ensiklopedi Islam, Opcit.,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Kidung Rumekso Ing Wengi/Sariro Ayu/Kawedar: ISLAM, SEJARAH DAN BUDAYA

Oleh Anis Sholeh Ba’asyin

Suatu hari KH. Chudlori Tegalrejo Magelang didatangi dua kelompok warga desa yang sedang berselisih tentang penggunaan kas desa. Satu kelompok menghendaki dana tersebut digunakan untuk memperbaiki masjid; kelompok lain menghendaki agar digunakan untuk membeli seperangkat gamelan.

Kalau ditinjau hanya dari satu sisi, tentu ini bukan soal yang pelik, karena persoalan yang terkait dengan ibadah pasti berada pada skala prioritas yang lebih tinggi dari persoalan kesenian. Untuk memutuskan pun tak perlu pendapat seorang kiai, tapi cukup level santri.

Namun, sebagai seorang kiai yang faham betul peta masyarakatnya, KH. Chudlori tidak serta merta menyikapi masalah ini hanya dari satu sudut pandang, tapi menimbang seluruh sisinya dengan matang. Dengan pertimbangan tersebut, beliau akhirnya memutuskan: kas desa sebaiknya lebih dahulu digunakan untuk membeli gamelan.

Tentu saja keputusan ini mengejutkan kalangan santri, yang semula berharap KH. Chudlori akan membela dan menguatkan pendapat mereka. Meski terkejut, mereka tak menentang, karena percaya bahwa kiainya pasti punya pertimbangan matang.

Di kemudian hari terbukti bahwa keputusan tersebut memang tepat: masjid makin penuh jamaah. Tak lama kemudian, dengan gotong-royong seluruh elemen masyarakat, masjid pun akhirnya diperbaiki sehingga menjadi lebih megah.

Semangat di balik keputusan KH. Chudlori inilah yang sepertinya kini sedang coba diangkat kembali ke permukaan dan diberi tajuk Islam Nusantara (saya sendiri lebih nyaman menyebutnya dengan istilah Muslim Nusantara).

Semangat ini dipautkan dengan pola awal proses pengIslaman Nusantara, yang di Jawa diidentikkan dengan pola Wali Songo (Sembilan Wali); juga semangat kiai-kiai sepuh dahulu dalam merangkul dan mengembangkan Islam.

***

Tafsir Kidung Kawedar yang ditulis Pak Wie -panggilan akrab saya untuk pak Bambang Wiwoho- ini memberi kita perspektif baru dalam menyikapi karya sastra dan sejarah. Ketika kita memperlakukan sebuah teks sekedar sebagai dokumen sejarah, yang paling jauh akan kita temukan hanyalah data-data kering tanpa rekonstruksi konteks-konteks sosio-historisnya. Mungkin kita akan manggut-manggut, atau paling banter memahami latar tindakan atau tulisan tertentu; tapi akan menyikapinya tak lebih sekedar sebagai monumen dari masa lalu yang sangat mungkin sulit kita cari korelasinya dengan masa hidup kita sendiri; sehingga sebagai konsekuensinya kita tak bisa menarik pelajaran darinya.

Apa yang digali dan ditulis Pak Wie, agak berbeda. Lewat antaran-antaran yang mengajak kita membayangkan lanskap sosial-budaya masa lampau, meski pendek dan kadang singkat, kita diajak untuk membayangkan situasi-situasi dimana teks-teks ini lahir. Dari sana kita diajak untuk membangun penghargaan sekaligus pemaknaan yang lebih tepat dari teks yang dibahas.

Apa yang dilakukan pak Wie ini nyaris sama sebangun dengan metode pembacaan berbasis asbabun nuzul dalam ilmu tafsir, atau asbabul wurud dalam mempelajari hadits; dimana kita diajak untuk lebih memahami teks lewat konteks-konteksnya. Tanpa memahami konteks kita punya potensi untuk salah atau gagal atau setidaknya salah memahami secara tepat makna sebuah teks.

Dalam kaitan ini, sebenarnya sangat menarik menempatkan hasil tulisan pak Wie ini dalam bingkai besar pemahaman ulang atas upaya penerapan Islam dalam ruang budaya (dalam hal ini Jawa terutama) yang dilakukan oleh para wali, terutama Sunan Kalijaga. Hal ini menjadi sangat penting, setidaknya mengingat fakta bahwa semakin kesini semakin banyak generasi baru yang bukan saja tidak memahami bagaimana para pendahulu dulu berjuang menerapkan Islam secara bertahap lewat jalur budaya; tapi bahkan lebih jauh lagi, malah menganggap para pendahulu tersebut seolah sebagai peletak dasar dari apa yang secara tergesa mereka kategorikan sebagai kesyirikan atau setidaknya tradisi bid’ah.

Kekurang-fahaman atau bahkan penghakiman semacam ini, tampaknya muncul karena selama ini ada keterputusan ummat Islam atas sejarahnya sendiri. Bahkan, sangat mungkin, tanpa memahami lanskap sosial-budaya Jawa awal abad 20, kita juga akan gagal memahami kebijakan KH. Chudlori di atas. Padahal semangat dasar kebijakan yang diambil KH. Chudlori tersebut taklah berbeda dengan semangat dasar para penyebar Islam di Nusantara dulu.

Mengingat kenyataan tersebut, kita berharap semoga buku ini mampu memancing para sejarahwan untuk lebih fokus menyambung keterputusan penulisan sejarah dan budaya Islam di Nusantara; keterputusan yang dampaknya sangat terasa di masa sekarang, bukan saja bagi ummat Islam tapi juga bagi keberadaan bangsa Indonesia; karena, sebagaimana diyakini banyak sejarahwan, sejatinya Islam dan kaum Muslim-lah landasan dasar sekaligus perekat bangunan kebangsaan yang kini kita sebut Indonesia.

Pengantar untuk buku: ISLAM MENCINTAI NUSANTARA: JALAN DAKWAH SUNAN KALIJAGA. Tafsir Suluk Kidung Kawedar, diterbitkan oleh Pustaka IIMaN (0851-0000-76920).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Kidung Kawedar/Sariro Ayu/Rumekso Ing Wengi: TEMBANG PENGANTAR MEMAHAMI TUHAN SECARA ISLAMI ALA SUNAN KALIJAGA.

Tembang Pengantar Memahami Tuhan Secara Islami Ala Sunan Kalijaga.

Oleh: Parni Hadi. 

Ini lebih soal rasa daripada rasio. Perasaan lebih berperanan daripada pikiran.Menurut kajian psikologi, pikiran dan perasaan saling mempengaruhi dan atamelengkapi. Karena itu, sebagian orang berujar: “ Saya rasa”. Padahal, maksudnya: “Saya pikir”. Kedua kata secara maknawi sering saling berkelindan.

Berbicara soal agama dan keyakinan serta hal-hal yang bersifat spiritual, menurut saya, menyoal sesuatu beyond logic. Di luar atau melampaui logika atau jangkauan akal. Perasaan, lebih tepatnya, penghayatan memegang peranan penting.

Demikian pula ketika membaca buku “Suluk Kidung Kawedar: Jalan Makrifat Sunan Kalijaga karya Mas Bambang Wiwoho, yang biasa saya panggil Mas Wie, ini.

Suluk berasal dari kata Arab yang berarti cara, jalan dan atau laku untuk mendekatkan diri kepada Alah, Tuhan yang Maha Kuasa. Dalam agama Islam, Suluk adalah bagian Tasawuf, yang berarti ajaran tentang tata laku untuk memahami dan mendekatkan diri menuju kepada Allah. Pelaku Tasawuf disebut sufi.

Suluk yang saya kenal sejak kecil adalah nyanyian oleh dalang sebelum membuka dan atau memulai babak (adegan) baru dalam pertunjukan wayang. Cara menyanyi sang dalang berbeda dengan para penyanyi lainnya, yakni pesinden (penyanyi wanita) dan wirasawra (penyanyi pria) sekalipun dalam pertunjukan yang sama.

Suluk terdengar lain, menggiring ke sebuah suasana batin pendengarnya sesuai suasana yang akan ditampilkan dalam pertunjukan: gembira, sedih, mengibur dan memberi semangat. Suluk berfungsi memimpin, membuka jalan. Sama dengan dalang yang juga berfungsi sebagai pemimpin dan penangungjawab seluruh pertunjukan dan para pendukung pertunjukan. Dalam kehidupan sehari-hari dikenal istilah dalang atau mastermind, otak, sebuah peristiwa, yang sering tidak kelihatan atau tidak mau muncul alias di belakang layar.

Dalam pertunjukan wayang kulit, dalang duduk di depan layar, membelakangi penonton, yang berada di depan, di halaman luar. Sang dalang hanya tampak blangkon (tutup kepala)-nya punggung dan keris yang diselipkan dalam sabuknya. Ia menghadap layar atau kelir (tabir) dan penonton yang duduk di dalam rumah, biasanya sang tuan rumah, yang menanggap, sesepuh, tokoh yang dihormati dan kerabat dekatnya.

Sang dalang tidak dapat melihat dengan jelas wajah penonton di depannnya karena terhalang layar atau kelir (tabir atau hijab). Demikian pula para penonton. Namun tentu dalang dan sang penanggap tempat duduknya lebih dekat dan lebih mudah berkomunikasi dibanding penonton umum.

Dalam dunia spiritual, Tuhan sering dilukisan sebagai dalang, sedangkan manusia dan makhluk lain ciptannya sebagai wayang.

Kidung sama dengan tembang, nyanyian atau lagu. Tapi, karena didahului dengan kata suluk, ini lagu tidak sembarang lagu. Ini lagu tentang tata laku mencapai makrifat, memahami hal-ihwal yang gaib-gaib, misterius dan bersifat spiritual. Kidung ini diyakini mengandung tuah atau daya yang membawa keselamatan bagi yang menyanyikan, mendengarkan dan bahkan hanya menyimpannya. Kidung ini mengandung kekuatan magis. Kidung ini diyakini oleh penggubah dan pengikutnya sebagai mantera tolak bala.

Kawedar berasa dari kata bahasa Jawa. Artinya: tergelar atau digelar, terbuka atau dibuka agar mudah difahami. Jadi, Suluk Kidung Kawedar bisa dimaknai sebagai penjelasan tentang cara atau laku mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, melalui kidung tembang (dan atau mengidung/ menembang).

Manusia Terpilih

Orang yang memberi penjelasan atau juru penerang dalam bahasa Jawa disebut pamedhar. Karena itu, dalam kosa kata bahasa Jawa ada pamedhar sabda atau penceramah atau orang yang menyampaikan pidato. Biasanya, yang berpidato itu orang yang dianggap memiliki pengetahuan dan kemampuan lebih daripada rata-rata hadirin atau pendengarnya.

Umumnya, tugas memberikan pidato diserahkan kepada orang yang usianya sudah tua, sesepuh atau pinisepuh, seorang yang dianggap memiliki banyak pengetahuan karena pengalaman hidupnya yang lama, dan atau seorang ahli di bidangnya. Tegasnya, orang yang mumpuni.

Nah, yang medhar (menjelaskan) kidung ini adalah Kanjeng Sunan Kalijaga, salah seorang dari “Wali Songo”, penyebar agama Islam di Pulau Jawa pada abad ke-15 sampai 16 Masehi. Seorang Wali, biasa disebut Waliyullah atau Awliya (jamak) adalah wakil Allah. Seorang wali adalah manusia terpilih (janma pinilih). Yang memilih Allah sendiri. Manusia pilihan ini umumnya pernah mengalami beban hidup yang tidak tertahankan oleh orang biasa. Ia tahan ujian fisik, otak dan mental lewat berbagai macam godaan.

Hal itu dilakoni oleh Sunan Kalijaga (diduga lahir tahun 1430M) yang bernama kecil Raden Mas Said, putra Adipati Tuban, Wilwatika. Berdarah biru, tapi pernah menjalani hidup sebagai kecu (begal, berandal, maling) dengan nama Begal Lokajaya, sebelum berjumpa dengan Sunan Bonang, waliyullah, yang kemudian menjadi gurunya.

Menurut sejumlah legenda dan atau mitos, Lokajaya disuruh sang guru menunggui tongkatnya di pinggir kali selama beberapa waktu (tahun), hingga tongkat itu tumbuh menjadi dhapuran pring (serumpun pohon bambu). Ia setia menunggui tongkat itu dan sekaligus menjaga kali, hingga ia mendapat julukan Sunan Kalijaga.

Apa yang dituangkan dalam kidung yang tediri dari 46 pupuh (bait) itu adalah pengalaman batin (spiritual) ketika beliau menunggu tongkat dan kali itu. Di situ Lokajaya mendapat pencerahan batin, spiritual enlightenment, penglihatan batin. Ia dikaruniai kemampuan melihat sesuatu yang gaib-gaib, tidak kasat mata, berkat kasih sayang Allah, yang telah memilihnya. Ia mencapai makrifatullah, memahami rahasia Allah, Sang Maha Gaib.

Ia sudah merasa mengalami asarira tunggal (beberapa dzat Tuhan menyatu dalam dirinya) atau Manunggaling Kawula-Gusti, bersatunya hamba dan Khalik (Sang Pencipta) dalam rasa, bukan seperti menyatunya benda-benda yang kasat mata.

Bagi manusia terpilih, semuanya telah manunggal menjadi satu seperti hakikat Allah Yang Tunggal adanya, sekalipun disebut dengan berbagai nama oleh manusia sesuai tempat, budaya dan keyakinannya. Bagi Sunan Kalijaga, Suluk, Kidung, Wedaran (ajaran), dan dirinya telah menjadi satu terliput dalam dzat Allah. “The song, the content, the composer and the singer are one in God” (Lagu, pesan, komponis dan penyanyinya adalah satu dalam liputan dzat Tuhan). Ini tercermin dalam ungkapan salah satu bait “kidung angidung” (tembang yang menembang). “A singing song” (lagu yang menyanyikan dirinya sendiri).

Jadi Sunan Kalijaga adalah penggubah dan pelantun, sekaligus isi lantunan itu sendiri berkat kuasa Allah yang terlibat di dalamnya. Sunan Kalijaga berfungsi sebagai penafsir dan sekaligus juru penerang apa yang dialaminya sendiri berkat kehendak Allah. Beliau manusia terpilih.

Demikian pula, Mas Wie, penulis buku Suluk Kawedar Sunan Kalijaga. Ia menafsirkan apa yang telah ditafsirkan oleh Jeng Sunan Kali atas apa yang difahaminya tentang Allah. Mas Wie telah terpilih oleh Allah sebagai penafsir ajaran Sunan Kalijaga.

Mas Wie, sama dengan Sunan Kali, tapi dengan derajat (maqam) mungkin berbeda, adalah salah satu dari penafsir Allah, yang tak pernah bakal bisa ditafsirkan secara sempurna oleh manusia karena Tuhan bersifat “tan kena kinoyo ngopo” (laisa kamitslihi syai’un) alias Allah tidak sama dengan sesuatupun atau tak terlukiskan dengan apa pun jua. Saya yakin, Mas Wie juga pernah mendapat pengalaman batin luar biasa, yang tak sembarang orang memperolehnya. Kalau ditanya, Mas Wie tentu tidak akan mau menceritakannya karena itu pantangan, kecuali sesama murid tunggal guru dan tunggal ilmu (pemahaman atas suatu ajaran)

Sebetulnya, karya Mas Wie sudah lengkap. Setiap pupuh (bait) yang tertulis dalam bahasa Jawa diikuti terjemahan artinya dalam bahasa Indonesia. Rujukan atau referensi pustakanya juga berjibun. Maklum ia seorang wartawan senior, yang kini berusia 68 tahun. Rujukan utama adalah Al Quran dan Hadits, buku-buku karya tokoh sufi tingkat dunia, termasuk Al-Ghazali, dan kitab-kitab karya tokoh Islam Indonesia terkemuka Prof. Dr. Hamka, mistikus Islam Jawa, terutama Raden Ngabehi Ronggowarsito.

Bertebaran kutipan dari buku piwulang (ajaran) faslafah Jawa seperti Wedhatama, Wulangreh dan Centhini. Juga beberapa ajaran yang disebut Kejawen, Islam Jawa atau Islam “rasa” Jawa perguruan ilmu kebathinan dan spiritual merujuk atau bersumber dari Suluk Kidung Kawedar.

Mas Wie mengutip langsung dari buku-buku dan atau yang sudah tersiar di media on-line. Jadi, sebenarnya buku karyanya ini tidak perlu kata pengantar lagi. Ibarat nguyahi segara (menggarami lautan). Tapi, dengan rendah hati ia meminta saya tetap membuat pengantar. Alasannya, tidak ada sesuatu yang dapat dibilang sudah legkap kalau berbicara tentang Tuhan. Ibarat daun seluruh jagad sebagai kertas dan air seluruh samudera sebagai tinta tidak akan cukup untuk mengulas tentang Allah, yang maha segalanya.

Pendekatan Budaya

Sunan Kalijaga melakukan penyebaran Islam dengan cara yang up to date, paling mutakhir waktu itu nut jaman kelakone (menurut semangat jaman) seperti kata Ki Dalang Narto Sabdo (alm) atau Zeitgeist, kata orang Jerman.

Njeng Sunan Kali (jaga) memperkenalkan Islam selapis demi selapis melalui pendekatan budaya dan kearifan lokal (local wisdoms) Jawa, yang waktu itu masih didominasi oleh agama Syiwa-Budha. Beliau tidak sekaligus memperkenalkan Islam secara frontal, melainkan dengan memadukan istilah-istilah Islam dengan istilah-istilah dalam agama yang masih berlaku. Hasilnya, Islam diadopsi orang Jawa secara damai, tanpa kekerasan dan perang yang memakan korban jiwa dan harta benda serta trauma.

Banyak teori yang menyatakan mudahnya orang Jawa masuk agama Islam. Antara lain, karena Islam tidak mengenal kasta, tidak seperti agama yang mereka anut sebelumnya. Beberapa bentuk seni budaya diadopsi dan disinergikan dengan seni budaya yang berasal dan bernuansa Arab, tempat asal Islam.

Beliau menciptakan seni-budaya baru, yang menggabungkan keduanya. Gamelan, tembang dan wayang dipertahankan dan bahkan diperkaya dengan perangkat dan lakon-lakon baru. Misalnya, lakon Wahyu Jamus Kalimasada untuk memperkenalkan Kalimat Syahadat.

Ia mempergunakan falsafah empan papan atau local setting, di mana bumi dipijak, di situ adat dijunjung. Sunan Drajat, juga seorang wali, yang berdakwah di Lamongan, pantura Jawa Timur, menyampaikan nasihat agar orang suka tolong menolong dengan idiom-idiom lokal, bukan Arab. Berikut adalah nasihatnya: “Menehana payung marang wong kang kodanan, menehana teken marang wong kang kalunyon, menehana pangan marang wong kang kaluwen lan menehana sandang marang wong kang kawudan”.

Nasihat itu mengandung ajakan: Berilah payung kepada orang yang kehujanan, berilah tongkat kepada orang yang berjalan di tempat licin, berilah makan kepada orang yang kelaparan dan berilah pakaian kepada orang yang telanjang. Yang banyak hujan dan tanahnya licin kalau kena air adalah Pulau Jawa, termasuk Lamongan dan sekitranya, Arab Saudi jarang mendapat hujan dan wilayahnya berupa padang pasir, jadi orang jarang mengalami berjalan di tanah yang licin. Sunan Drajat tidak langsung menyebut ayat Al-Quran yang mewajibkan muslim untuk membayar zakat, infaq dan sedekah serta wakaf.

Tawarkan Keselamatan

Dengan piawinya, Njeng Sunan Kali meramu kidungnya dengan pembukaan yang pas untuk semua orang di setiap jaman, lebih-lebih waktu itu, yakni keselamatan. Islam sendiri bermakna selamat dan pasrah kepada kehendak Allah.

Kidung itu dibuka dengan kata-kata yang bermakna mistis, magis untuk menolak bala: penyakit, bencana dan gangguan makhluk halus. Guna-guna, tenung, teluh, santet, niat jahat, pencuri, binatang buas, senjata tajam, kayu dan tanah wingit dan hama penyakit semuanya menyingkir, tidak mempan. Perawan tua dapat segera dapat jodoh dan orang gila dapat sembuh. Semua musuh menjadi sayang, jatuh cinta kepada membaca kidung ini.

Maka tembang itu juga disebut sarira ayu (badan sehat segar, bugar, cantik). Pengidung dikelilingi bidadari, dijaga malaikat, semua rasul. Semua “manunggal”, menyatu dalam dirinya. Sejumlah nama nabi disebut: Adam sebagai hati, Syits sebagai otak, Musa sebagai ucapan, Isa sebagai nafas, Yakub sebagai telinga, Yusuf sebagai rupa, Daud sebagai suara, Sulaiman sebagai kesaktian, Ibrahim sebagai nyawa, Idris sebagai rambut, Nuh di jantung, Yunus di otot dan Muhammad (saw) sebagai mata/penglihatan.

Disebut juga nama para sahabat dan keluarga Muhammad telah menyatu dalam dirinya. Patimah (Fatimah) putri Nabi Muhammad sebagai sumsum, Baginda Ngali (Ali) kulit, Abubakar darah, Ngumar (Umar) daging dan Ngusman (Usman) sebagai tulangnya.

Penyebutan nama-nama dalam bait 3 sampai 5 itu, masih perlu tafsir atau penjelasan lebih luas, walau itu mungkin pemahaman atas pengalaman gaib pribadi, yang tidak bisa difahami orang lain, lebih-lebih bagi banyak orang sekarang. Setiap “salik” (pelaku suluk) mempunyai pengalaman masing-masing yang unik. Mungkin, nama-nama mulia itu disebut karena semangat, sifat dan karomah mereka agar masuk, merasuk dalam diri sang pengidung sebagai pelindung atau tolak bala, sesuai sikon lokal dan keperluan masyarakat saat itu, yakni keselamatan. Penyebutan nama itu mungkin juga dikaitkan dengan ungkapan; “Allah melihat, mendengar dan berucap dengan mata, telinga dan mulut saya”. Inti maknanya, merasuk Islam berarti terjaminnya keselamatan lahir-batin.

Penyebutan nama-nama itu jelas untuk mempermudah cara memperkenalkan malaikat, para nabi, Muhammad (saw), keluarga dan empat sahabatnya dalam penyebaran Islam kepada orang Jawa yang semula beragama Syiwa-Budha.

Kidung itu diyakini punya banyak kesaktian: mudah cari rezeki, jodoh, mudah mencari pekerjaan (mengabdi), mau terkena denda bebas dan yang punya hutang atau tidak jadi ditagih. Musuh menyingkir, semuannya takluk. Pokoknya, banyak deh, manfaatnya. Kalau tidak percaya, ya silahkan membaca sendiri!

Sunan Kali melalui kidung juga memperkenalkan beberapa surat dan ayat Al-Quran, yang dianggap ampuh. Di antaranya surat Al-Ikhlas, yang disebutnya Surat Kulhu, karena dibuka dengan Qulhu, surat An’Aam, yang disebut suratul Ngam Ngam. Maklum, orang Jawa dulu sulit mengucap bunyi huruf Arab ‘ain. Sehingga, ada orang Jawa yang namanya Sangidu (dari Sayyidu), Sangit (dari Sayyid), Fatongah (dari Fathonah). Ayat Kursi yang dikenal luas ampuh untuk mengusir segala macam godaan juga disebut. Kidung itu diyakini begitu ampuh, hingga jika dibaca di laut, air laut pun mengering (segara asat). Mungkin berlebihan. Tapi, itulah yang tertulis dan dipercaya banyak orang untuk mencapai keselamatan hidup.

Tapi keampuhan atau kesaktian itu akan mewujud jika yang menyanyikan kidung itu menjalani laku tertentu, seperti berpuasa “mutih” (makan nasi putih tanpa garam), berpuasa selama 40 hari dan kidung itu disenandungkan pada malam hari tatkala sunyi-sepi. Artinya, pelantun harus menjalani “laku”, seperti berpuasa dengan mengurangi tidur (tentang ini bisa dilihat di buku tulisan Mas Wie dengan pengantar antara lain dari saya, yaitu Bertasawuf di Zaman Edan, bab Bila Mati Dengan Sesuap Haram, halaman 243).

Sunan Kali juga mengenalkan Allah, sebutan Tuhan dalam bahasa Arab, bahasa yang dipakai Al Quran. Orang Jawa sebelummya sudah mempunyai beberapa sebutan untuk Tuhan, seperti Pangeran, Gusti Pangeran, Hyang Widhi Wasa, Hyang Kang Murbeng Dumadi, Gusti Kang Maha Kuwasa, Hyang Tunggal (nama dewa dalam pewayangan), Hyang Suksma Kawekas dan setelah Islam masuk, yang sering digunakan adalah Gusti Allah. Beberapa sebutan itu dipakai Sunan Kali. Maksud dari berbagai sebutan nama Tuhan itu adalah sama, yakni Yang Satu, Yang Tunggal, Yang Maha Esa itu seperti disebut dalam Suratul Kulhu.

Tumbuh Di Tanah Yang Subur

Pendekatan budaya yang dilakukan Njeng Sunan Kali dalam memperkenalkan Islam ibarat menyebar biji di tanah yang subur. Orang Jawa, penduduk Pulau Jawa, menurut buku “Bawarasa Kawruh Kejawen: Ngelmu Hidup” (Senandung rasa tentang Ilmu Kjawen; Falsafah Bekal Hidup) karya Ki Sondong Mandali, menyebutkan, sebelum agama Syiwa (Hindu)-Budha dan Islam masuk, orang Jawa sudah memiliki sistem religi sendiri.

Orang Jawa memiliki ritual menyembah (manembah) Tuhan berdasar tiga konsep:

  1. Menyembah/berbakti kepada Tuhan, penguasa alam semesta dengan selalu eling (sadar) terus menerus.
  2. Melakukan hubungan baik dengan alam semesta dan seluruh isinya, termasuk melakukan berbagai ritul ‘sesaji’.
  3. Melakukan hubungan antar sesama manusia dengan berkeadaban.

Ketiga konsep itu sama dengan ajaran Islam. Konsep pertama disebut hablum-minallah, konsep kedua terkait dengan rahmatan lil ‘alamiin dan konsep ketiga hablum-minannas. Yang banyak disebut hanya yang pertama dan kedua, yakni hablum-minallah dan hablum-minannas. Seorang ustadz yang tertarik dengan tasawuf, mengatakan mestinya hablum-min’alam perlu juga disebut.

Jadi, ada trilogi semboyan mengabdi kepada Alllah:

1 Hablum-minallah

  1. Hablum-min’alam
  2. Hablum-minannas

Dengan alasan semua makhluk isi alam semesta ini, termasuk makhluk halus, binatang dan tanaman adalah sesama saudara ciptaan Allah, orang Jawa melakukan sesaji untuk menghormati saudaranya dan para leluhurnya, bukan untuk menyembah. Praktek sesaji ini dianggap musyrik atau klenik.

Sunan Kalijaga mengubah sesaji ini dengan sedekah. Toh, makanan dan minuman yang disajikan untuk makhluk halus halus dan arwah para leluhur itu akhirmya juga dimakan manusia dan atau binatang, makhluk hidup ciptaan Allah jua. Makhluk halus hanya ingin dan cukup menghirup bau atau sarinya saja. Wallahu a’lam.

Sunan Kali juga menggunakan simbol burung yang diberi nama “Segara Rob” dalam melukiskan betapa sulitnya mencari, menemukan dan manunggal dengan Tuhan. Mistikus Islam, Abū Ḥamīd bin Abū Bakr Ibrāhīm Farīd ud-Dīn ʿAṭṭār (1145-1221) menggunakan simbol burung “Simurgh”. Dikisahkan, ribuan Simurgh ingin mencari Tuhan. Dari ribuan, tinggal 40 dan tersaring lagi tinggal empat ekor. Dan burung itu menemukan Tuhan itu ternyata dirinya sendiri. Jumlah empat itu dalam khasanah budaya spiritual Jawa dikemas dengan istilah “sedulur papat kelima pancer“ (empat saudara, kelima pusat, dirinya sendiri).

Angka empat juga dikaitkan dengan arah mata angin, empat unsur bahan manusia, yakni bumi (tanah), air, api dan angin, dan empat nafsu manusia, yakni amarah, lawwamah, sufiah dan mutmainah dengan empat warna masing-masing, yakni merah, hitam, kuning dan putih. Juga dikaitkan dengan empat sahabat Nabi Muhammad (saw). Mungkin serba “othak-athikl, mathuk-gathuk” atau dicocok-cocokkan. Yang jelas, penyebaran Islam di Tanah Jawa bisa mudah masuk berkat pendekatan budaya local.

Fenomena Universal

Prinsip-prinsip Islam purba, istilah yang digunakan dalam buku “Nonviolent Soldier of Islam” karya Eknath Easwaran, menyebut persaudaraan universal, ketakwaan kepada Tuhan dan mengabdi kepada Tuhan dengan cara memelihara seluruh ciptaan-Nya. Buku itu diterbitkan oleh Bentang Yogyakarta, 2008 itu dengan judul Badshah Khan, Kisah Pejuang Muslim Anti Kekerasan yang terlupakan. Ia adalah sahabat, pengikut setia Mahatma Gandhi, sehingga ada yang menjuluki keduanya sebagai “Dua Gandhi”.

Menggubah tembang (dan atau puisi) sebagai alat penyampai gagasan dalam pendidikan tasawuf, sufisme dan makrifat dilakukan sejak dulu kala, sebelum Sunan Kali Jaga lahir (diperkirakan lahir 1430 M). Berikut adalah beberapa contoh: Bhagavad Gita (bagian Mahabaratha) karya Resi Vyasa, Minhajul’ Abidin (Menuju Mukmin Sejati) karya Al Ghazali (1058-1111M), Mastnawi karya Jalaluddin Rumi (1207-1273M), Gitanjali karya Rabindranath Tagore, peraih hadiah Nobel bidang sastra pertama dari Asia tahun 1913 dan para penyair pemula, perintis sastra Indonesia (Nusantara) seperti Nuruddin Araniri dan Hamzah Fansuri. Sunan Bonang, guru Sunan Kalijaga juga menggubah tembang “Suluk Wujil” dan mencipta alat musik gamelan Jawa, yakni bonang.

Tentang penyatuan dengan Tuhan, Kidung Sunan Kali mulai membahasnya di bait 15 sampai 18. Manunggaling Kawula Gusti adalah hal yang musykil. Banyak orang yang mencela itu keliru dengan alasan tidak mungkin hamba bertmu dengan Khalik, Tuhan Sang Maha Pencipta. Yang pro menjawab, ini bukan pertemuan fisik, tetapi pertemuan “rasa”, sesuatu yang gaib, misterius, mistik, unik dan hanya bisa dicapai para salik dan manusia terpilih dan hanya dengan ijin Tuhan belaka.

Soal manunggalnya manusia dengan Tuhan itu, seorang tua pernah berkata “Allah iku sak jatine ora liya ya Ingsun”. Artinya, Allah itu sejatinya tidak lain saya Ingsun (Saya). Konon itu kutipan dari sebuah hadits, yang berbunyi “waman ‘arafa nafsahu faqad’ arafa rabbahum. (Siapa yang tahu dirinya, sungguh ia tahu Tuhannya”. Ungkapan ini jika diterima harfiah bisa geger, Syeh Siti Jenar, salah seorang wali, konon dihukum mati karena ucapannya tentang itu, yang menganggap dirinya Allah.

Karena itu, buku “Kunci Swarga” (Miftahul Jannati), melengkapi ungkapan itu dengan: waman ‘ arafa rabbahu faqad jahilla nafsahu”, Artinya, Siapa (yang merasa) tahu Tuhannya sejatinya ia benar-benar bodoh dalam ilmu).

Buku karya Ki Brata Kesawa dalam Bahasa Jawa yang terbit tahun 1952 ini mengungkapkan, yang dianggap sebagai Allah oleh orang yang mengaku tadi hanyalah “bayangan”-Nya. Buku ini mengibaratkan ada seribu “jembangan” (tempayan dari tanah liat) berisi air di alun-alun, di masing-masing jembangan ada “bayangan” matahari. Mataharinya, tetap satu, bukan seribu. Ini ajaran tentang Tauhid (ke-Maha-Esa-an Tuhan). Agar bisa melihat bayangan matahari dengan jelas, air harus dijaga tetap bening, tidak keruh, dan tenang, tidak beriak.

Sunan Kali dalam kidung itu mempergunakan diksi Mami,Wang (ingwang) dan Ingsun, yang berarti aku atau saya. Ini sesuatu yang pelik, rumit dan susah, tapi dilukiskan secara indah dengan ungkapan “bertanya tentang sarangnya angin, “galih kangkung” (inti batang kangkung), mengambil air dengan pikulan yang terbuat dari air”, mengambil api dengan pelita dan batas antara samudera dan langit. Sesuatu yang sudah “jumbuh” (manunggal).

Dalam cerita wayang kulit, kisah itu terdapat dalam lakon “Dewa Ruci”. Bima menyemplungkan dirinya ke dalam samudra yang bergolak (lambang nafsu) dan di kedalaman samudera ia menemukan Dewa Ruci, Tuhannya, yang rupanya persis seperti dirinya. Walau wujudnya kecil, sepert “anak bajang” sebesar kelingking Bima, tapi Bima bisa masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci melalui kuping kirinya dan di dalam diri Dewa Ruci, ia mendapatkan ajaran kesempurnaan hidup. Bima telah mencapai makrifat dan katrem (tenggelam) dalam nikmat Ilahiah yang tidak ada bandingannnya. Ia tidak merasa lapar, haus, khawatir. Yang ada hanya perasaan tenteram, aman dan damai. Ia tidak punya keinginan apapun. Ia minta ijin untuk menetap di dalam diri Dewa Ruci, tapi ditolak karena tugas atau darma hidupnya di dunia belum selesai, yakni melalukan ‘amar ma’ruf dan nahi mungkar’ untuk membinasakan angkara murka yang menjelma dalam wujud Kurawa lewat Perang Bharatayudha. Istilahnya Bima harus “tapa ngrame” (bertapa di tempat ramai dengan melalukannya tanpa pamrih.

Untuk mengendalikan hawa nafsu dan menjernihkan serta menenangkan pikiran, perasaan dan jiwa, Sunan Kalijaga menyarankan sang pencari Allah berpuasa, menahan hawa nafsu sambil berzikir. Zikirnya berbunyi :” Ya Hu Dat (Dzat)”, yang kemudian berkembang dalam praktek menjadi: “Ya Hu Allah, Hu Allah, Allahu”.

Rumi (1207-1273M) dalam “Fihi ma Fihi” melukiskan dualisme yang manunggal itu. Dr. Wheeler Thackson menerjemahkan “Fihi ma Fihi”, yang berisi ceramah, diskursus and dialog tentang berbagai topik sebagai “Signs of the Unseen” (Tanda-Tanda Yang Tidak Dapat Dilihat). “ In It, What is In It” (Di dalam, tapi apa yang di dalam). Orang Jawa memilih ungkapan “Ana ning ora ana, ora ana ning ana” (Ada, tapi tidak ada, tidak ada, tapi ada). Bingung? Tidak perlu bingung, coba lakukan mengidung dan atau berzikir dengan penuh perasaan (penghayatan), Insya Allah, akan terbuka hijab atau tabir itu dengan bimbingan seorang guru (mursyid), yang sudah mengalami sendiri.

Selalu bersama Tuhan.

Zikir dan wirid adalah mengucapkan (reciting) secara berulang-ulang sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Ada yang berpendapat zikir atau wirid di dalam hati (batin) dan atau boleh sambil berguman lebih baik daripada dibaca keras-keras. Isi zikir dan wirid adalah puji-pujian persembahan kepada keagungan Tuhan, sekaligus doa. Demikian pula kidung. Di agama Hindu dikenal ada mantra dan Mazmur di agama Kristen. Tujuan semuanya adalah agar kita selalu ingat kepada Tuhan. Orang Jawa bilang eling (sadar, terjaga, waspada) atas kehadiran Tuhan di sembarang tempat dan waktu, karena Tuhan tidak pernah mengantuk dan tidur. Bagi kaum pencari hakikat, sholat (sembahyang) yang terbaik adalah “sholat daim”, yakni sholat sepanjang waktu, di sembarang tempat dan sedang melakukan apa saja. Apa yang dipikirkan, dikatakan dan dikerjakan diniatkan sebagai ibadah, menyembah Tuhan dalam pengawasan, penjagaan, penyelenggaraan dan pemeliharaan Allah.

Apa manfaat Suluk Kidung Kawedar di era modern, teknologi digital dan medsos (media sosial) yang serba instan kini. Tentu ada dan bahkan banyak, di-antaranya memperluas wawasan pemikiran, mengetahui sejarah bangsa yang kaya, mempelajari strategi penyebaran ilmu secara damai dengan pendekatan budaya (keaifan) lokal dengan khasanah tak terbayangkan yang perlu dilestarikan dan dapat “dijual” sebagai obyek wisata spiritual. Yang paling pokok, kidung itu menawarkan keselamatan sebagai sumber kebahagiaan dan kedamaian batin (peace of mind).

Yang saya maksud dengan wisata spiritual, tentu bukan “klenik”, tapi sesuatu yang bisa diverifikasi secara ilmu pengetahuan modern, terutama medis. Bentuknya, layanan pengobatan holistis (menyeluruh), yang menggabungkan cara pengobatan medis Barat dan Timur, khususnya Nusantara, meliputi obat herbal, pijat (fisioterafi), layanan kesehatan jiwa (psikologi) dalam bentuk kontemplasi dan meditasi dengan mengidung dan berzikir yang diiringi alunan musik Nusantara yang ritmistis, kontemplatif dan meditatif. Gamelan Jawa, hanya dengan beberapa alat, yakni siter, gender dan gambang, mampu menyajikan situasi kebersamaan, kerukunan dan keselarasan hidup bersama seluruh alam semesta (hablun min’alam). Untuk gamelan Sunda, mungkin bisa dengan kecapi dan suling. Untuk jenis musik Nusantara lainnya dapat menyesuaikan. Perlu keterlibatan etnomusikolog. Untuk Itu, Mas Wie dkk tengah menyusun Jejaring Macapatan Nusantara, sebab Macapat (membaca empat-empat dengan bersenandung dan iringan music/gamelan terdapat di beberapa wilayah Nusantara.

Pelayanan pengobatan holistik, perlu keterlibatan dokter, ahli farmasi, psikolog, fisioterafis, budayawan dan ruhaniawan, terutama “salikien” (para pelaku suluk), lintas agama/keperacayaan. Plus peralatan uji klinis modern.

Apa Suluk Kidung Kawedar tidak perlu “purifikasi” (pemurnian), mengingat sudah berusia lima abad lebih dan ada kesan bernuansa campuran praktek ritual berbasis budaya Jawa dan Islam? Sebagai orang yang bukan ahli agama Islam, saya lebih cenderung memakai istilah “penyempurnaan”. Peminat, pembelajar dan mungkin pengikut (yang mempraktekkan) kidung meliputi berbagai pengikut agama dan kepercayaan. Sejumlah “romo” (pastur), pimpinan agama Katholik melakukan riset mendalam tentang budaya Jawa. Diantaranya, Romo J.P. Zoetmulder, yang desertasinya berjudul “Manunggaling Kawula Gusti”, yang sudah dibukukan. Sebelumnya, ia menulis buku “Kalangwan” (Mempesembahkan yang serba indah).

Pengalaman batin merasa bersatu dengan Tuhan, bagi yang pernah mencicipinya, sungguh sangat menggairahkan, membahagiakan dan mendamaikan, tiada bandingannya dengan kenikmatan duniawi. Serba indah dan damai.

Rabindranath Tagore dalam salah satu puisinya melukiskan dengan indah kemanunggalan setiap saat dengan Tuhan sbb:

They who are sitting near me, do not know that You are nearer than they are,

They who are speaking with me, do not know that my heart is full with Your unspoken words,

They who are crowding in my path, do not know that I am walking only with You,

And they who love me, their loves bring You into my heart.

Terjemahan bebasnya:

Mereka yang duduk di dekat saya tidak tahu bahwa Engkau lebih dekat daripada mereka,

Mereka yang berbicara denganku, tidak tahu bahwa hatiku penuh dengan kata-kata Mu yang tak terucapkan,

Mereka yang berjubel di jalanku, tidak tahu bahwa aku berjalan sendirian bersama Engkau,

Dan, mereka yang mencintaiku, cinta mereka membawa Mu ke dalam hatiku.

Yang dimaksud You atau Engkau di sini adalah Tuhan. Tentu selalu mengingat Tuhan membuat seseorang selamat, terjaga dari perbuatan tercela atau maksiat, seperti korupsi.

Selalu eling memang penting. Tapi, tidak berarti sholat wajib, lima waktu tidak perlu atau boleh ditinggalkan. Tetap perlu, bahkan harus. Kitab piwulang (ajaran) Wedhatama sendiri menganjurkan agar Syariat (terutama sholat wajib, yang disebut sembah raga ) harus tetap dijalani sebagai tangga pertama, sebelum Tarekat (sembah cipta/kalbu) dan Hakikat (sembah jiwa) menuju Makrifat (sembah rasa).

Nabi Muhammad Saw, sang sufi agung, tetap menjalankan syariat. Contoh kongkrit dari manusia biasa, yang terpilih dan masih hidup kini dan dapat dijadikan “mursyid (guru pembimbing) dalam belajar Tasawuf adalah Prof. Kyai Ali Yafie yang terkenal dengan motto hidupnya BSM (Bersih, Sederhana dan Mengabdi). Mas Bambang Wiwoho pernah menuliskan itu dalam bukunya “Bertasawuf di Zaman Edan”.

Rumi yang dikenal sebagai mistikus Islam paling top di dunia saja, sebagai penganjur CINTA, saja pernah dikutip sebagai mengatakan: “Saya cuma debu di jalan Muhammad”. Kanjeng Nabi Muhammad diyakini para pengikutnya sebagai manusia terpilih, paling mulia sedunia, yang pernah mencapai puncak makrifat tertinggi melalui peristiwa spiritual paling agung, Isra’ Mi’raj

Ada orang Jawa yang menyamakan dan menyebut “Isra’ Mi ‘raj” dengan laku “merogoh suksma”
(ngrogoh suksma”, melakukan “mati sajroning urip” (mati dalam hidup), masih berbadan wadag, tapi suksma (nyawa) nya bisa pergi mengembara ke alam gaib. Nabi Muhammad dikisahkan dalam “mi’raj” dapat berjumpa Allah. Tapi karena tugas hidupnya belum selesai, suksmanya diperintahkan Allah untuk kembali lagi ke dunia untuk mengajak pengikutnya, kaum Muslimin, melakukan sholat lima waktu. Begitu ceramah yang sering saya denngar dari kyai di kampung sekitar 60 tahun lalu.

Imam Al Ghazali menegaskan kaum Muslimin perlu “thaat”, disiplin dalam melaksanakan tata tertib, untuk menyembah Allah, mulai tertib bangun tidur, wudhu, sholat, berpuasa dsb sampai tetib dalam pergaulan. Itu tertuang dalam salah satu buku Al Ghazali yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul “Bimbingan Permulaan Mencapai Hidayah”, karya alih bahasa Hm. Asa’ad EH. Jadi, untuk belajar Suluk Kidung Kawedar karya Sunan Kalijaga juga perlu pembimbing. Wallahu alam.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Tafsir Suluk Kidung Kawedar: ISLAM MENCINTAI NUSANTARA, JALAN DAKWAH SUNAN KALIJAGA

  • Pertama kali, peluncuran buku dikemas dalam pentas seni tradisional Ketoprak.
  • Buku tentang dakwah Islam yang lembut dengan pendekatan budaya.

Untuk pertama kali, sebuah peluncuran buku dilakukan serta dikemas dalam seni pertunjukkan tradisional Jawa yaitu ketoprak, dengan cerita “Sunan Kalijaga”, Minggu malam 21 Mei 2017 bertempat di Rumah Puspo Budoyo, Ciputat. Judul cerita tersebut sesuai dengan tema buku yaitu “ISLAM MENCINTAI NUSANTARA, JALAN DAKWAH SUNAN KALIJAGA: Tafsir Suluk Kidung Kawedar”. Buku ditulis oleh B.Wiwoho dengan penerbit IIMAN.

Buku tentang dakwah Islam yang lembut dengan pendekatan budaya ini relevan dengan situasi di tanah air dewasa ini. Oleh karena itu pemrakarsa peluncuran yakni Dompet Dhuafa, Rumah Nusantara Puspo Budoyo dan Penerbit IIMAN, menjadikannya sebagai kegiatan puncak Peringatan Kebangkitan Nasional 20 Mei 2017, sekaligus dengan pencanangan Jejaring Macapat Nusantara dan Saresahan Budaya serta Deklarasi Asosiasi Penari Tradisi Indonesia (APTI).

Sunan Kalijaga adalah salah satu tokoh sentral dalam penyebaran Islam di Tanah Jawa. Pendekatannya unik. Sunan Kalijaga yang melihat keadaan masyarakat pada waktu itu, yang masih kental dengan tradisi Hindu, Buddha, dan kepercayaan-kepercayaan lama, melakukan pendekatan seni dan budaya. Dia mencoba menyerap budaya dan tradisi yang sudah ada untuk menyebarkan ajaran-ajarannya. Dia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, memasuki daerah-daerah terpencil.

Sebagai ulama, budayawan dan seniman sekaligus, Sunan Kalijaga menciptakan banyak karya seni. Dia menciptakan dua perangkat gamelan,yang semula bernama Nagawilaga dan Guntur Madu, kemudian dikenal dengan nama Nyai Sekati (lambang dua kalimat syahadat). Wayang, yang pada zaman Majapahit dilukis di atas kertas lebar sehingga disebut wayang beber, oleh Sunan Kalijaga dijadikan satu-satu, dibuat dari kulit kambing, yang sekarang dikenal dengan nama wayang kulit. Banyak lakon-lakon yang digubah untukkepentingan ini. Di  antaranya yang terkenal adalah lakon Jimat Kalimasada,  Dewa Ruci dan Petruk Jadi Ratu.

Sunan Kalijaga melakukan penyebaran Islam dengan cara yang up to date, paling mutakhir waktu itu nut zaman kelakone (menurut semangat jaman) seperti kata Ki Dalang Narto Sabdo (alm) atau Zeitgeist, kata orang Jerman. Njeng Sunan Kali (jaga) memperkenalkan Islam selapis demi selapis melalui pendekatan budaya dan kearifan local (local wisdoms) Jawa, yang waktu itu masih didominasi oleh agama Syiwa-Buddha. Beliau yang didukung oleh para ulama lainnya, tidak sertamerta memperkenalkan Islam secara frontal, melainkan menyusup pelan-pelan, melpis tata kehidupan yang ada selapis demi selapis, memadukan istilah-istilah Islam dengan istilah-istilah dalam agama yang masih berlaku. Hasilnya, setelah selama lebih 4 (empat) abad Islam tidak bisa berkembang di Jawa, hanya dalam hitungan puluhan tahun, pada sekitar abad 15 dan 16, Islam diterima dan dipeluk secara damai, tanpa kekerasan dan perang yang memakan korban jiwa dan harta benda serta trauma.

Banyak teori yang menyatakan mudahnya orang  Jawa masuk agama Islam. Antara lain, karena Islam tidak mengenal kasta, tidak seperti agama yang mereka anut sebelumnya. Beberapa bentuk seni budaya diadopsi dan disinergikan dengan seni budaya yang berasal dan bernuansa Arab, tempat asal Islam. Pendekatan budaya yang dilakukan Njeng Sunan Kali dalam memperkenalkan Islam ibarat menyebar biji di tanah yang subur.

Ketika masyarakat Jawa sedang mengalami zaman peralihan, dari Kerajaan Majapahit ke Kesultanan Demak. Demikian pula dalam hal agama dan kepercayaan. Mereka menganut agama Hindu-Buddha atau  Syiwa-Buddha, Kapitayan, dan percaya bahkan banyak yang memuja roh-roh halus. Mereka juga sangat memercayai hal-hal gaib dan mistis, serta mengaitkan hampir semua aspek kehidupan dengan hal tersebut. Dalam suasana kehidupan yang seperti itulah agama Islam diperkenalkan oleh para pendakwah, yang kemudian dikenal sebagai para wali, dan diberi sebutan atau nama panggilan “Sunan”. Dua dari para wali itu adalah Sunan Bonang dan muridnya, Sunan Kalijaga. Mereka dikenang masyarakat sampai sekarang karena jago berdakwah menggunakan media kebudayaan, terutama musik tradisional gamelan berserta tembang-tembang Jawa dan wayang. Salah satu dari tembang tadi adalah sebuah tembang suluk atau tembang dakwah Islam, yang dikenal dengan tiga nama, yaitu Kidung Kawedar atau Kidung Rumekso Ing Wengi, atau juga Kidung Sariro Ayu.

Kepada masyarakat yang sangat memercayai hal-hal gaib dan mistis, Sunan Kalijaga menciptakan Suluk Kidung Kawedar yang didendangkan dengan irama Dhandanggula bernuansa meditatif-kontemplatif. Dikemas dan diberi sugesti sebagai mantra sakti, guna mengatasi segala problem kehidupan masyarakat sehari-hari.

Islam itu rahmatan lil alamin. Al-Quran jelas menyebutkan itu dalam banyak ayatnya. Ia mendatangi siapa saja dengan cinta dan kasih. Sejarah Nusantara pun mencatat bahwa Islam berhasil merasuk ke dalam jiwa manusia Nusantara, terutama Jawa, melalui jalur yang sangat lembut. Lelaku dakwah Sunan Kalijaga memberi kita pelajaran tentang semua itu. B. Wibowo, dalam buku ini, mengupas tuntas salah satu “jurus” Sunan Kalijaga untuk menanamkan Islam di dada orang Jawa; melalui taktik modifikasi budaya yang tak menyakiti siapapun—dengan mengajarkan tauhid melalui Kidung Kawedar. Dari buku ini kita bisa kembali belajar, bahwa sudah seharusnyalah Islam berwajah ramah. Islam tidak berantitesa dengan kearifan lokal manapun. Islam justru menyempurnakannya. Islam akan merasuk paripurna dalam hati melalui jalan yang lembut penuh cinta, bukannya dengan teriakan kemarahan dan pedang yang terhunus. Inilah DNA Islam di Nusantara, memposisikan agama sebagai jembatan perekat, bukan penyekat berbagai kehidupan sosial dan budaya.

Sangat menarik menempatkan buku Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Tafsir Suluk Kidung Kawedar ini dalam bingkai besar pemahaman ulang atas upaya penerapan Islam dalam ruang budaya (dalam hal ini Jawa terutama) yang dilakukan oleh para wali, terutama Sunan Kalijaga. Hal ini menjadi sangat penting, setidaknya mengingat fakta bahwa semakin  ke sini semakin banyak generasi baru yang bukan saja tidak memahami bagaimana para pendahulu berjuang menerapkan Islam secara bertahap lewat jalur budaya; tapi bahkan lebih jauh lagi, malah menganggap para pendahulu tersebut seolah sebagai peletak dasar dari apa yang secara  tergesa mereka kategorikan sebagai kesyirikan atau, setidaknya tradisi bid’ah.

Walhasil, “Tak ada yang abadi termasuk Nusantara. Buku yang mengajak kita tersenyum dalam beragama ini setidaknya akan menunda kepunahan itu. Biar beragama secara ‘non Sunan Kalijaga’ saja yang akan mempercepatnya.” Komentar Sujiwo Tejo, penulis buku Megabestseller Tuhan Maha Asyik terhadap buku ini.

Informasi Produk Buku

Islam Mencintai Nusantara

Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Tafsir Suluk Kidung Kawedar

Penulis: B. Wiwoho

 

Format: 14 X 21 cm, soft cover

ISBN: 978-602-864820-2 Jumlah halaman: 306, kertas isi book paper 57 gram
Harga: Rp 65.000,- Kode buku: XI-03
Penerbit/ terbit: Pustaka IIMaN, Mei 2017                                  Kategori: SEJARAH ISLAM
 

Sinopsis Cover:

Islam itu rahmatan lil alamin. Al-Quran jelas menyebutkan itu dalam banyak ayatnya. Ia mendatangi siapa saja dengan cinta dan kasih. Sejarah Nusantara pun mencatat bahwa Islam berhasil merasuk ke dalam jiwa manusia Nusantara, terutama Jawa, melalui jalur yang sangat lembut. Lelaku dakwah Sunan Kalijaga memberi kita pelajaran tentang semua itu. B. Wibowo, dalam buku ini, mengupas tuntas salah satu “jurus” Sunan Kalijaga untuk menanamkan Islam di dada orang Jawa; melalui taktik modifikasi budaya yang tak menyakiti siapapun—dengan mengajarkan tauhid melalui Kidung Kawedar. Dari buku ini kita bisa kembali belajar, bahwa sudah seharusnyalah Islam berwajah ramah. Islam tidak berantitesa dengan kearifan lokal manapun. Islam justru menyempurnakannya. Islam akan merasuk paripurna dalam hati melalui jalan yang lembut penuh cinta, bukannya dengan teriakan kemarahan dan pedang yang terhunus. Inilah DNA Islam di Nusantara, memposisikan agama sebagai jembatan perekat, bukan penyekat berbagai kehidupan sosial dan budaya.

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized