Catatan Perjalanan ke Tanjung Harapan (III-5): MELONGOK KAMAR TAHANAN NELSON MANDELA

Selesai mengambil foto-foto mural, Mr.Thulani menghampiri dan memperkenalkan kepada kami, seorang pemuda yang berperawakan tinggi berkulit sebagaimana kulit orang Indonesia. Ia bernama Ilyas Salie dan beragama Islam. Setelah pulang ke Indonesia dan membaca sejumlah buku, penulis baru mengetahui nama marga Salie di Afrika Selatan itu merupakan keturunan orang Jawa.

Ilyas segera mengajak kami dengan mobil van tersendiri, meninggalkan anggota rombongan lainnya yang masih sedang dikumpulkan oleh para pemandu. Ia meminta ijin kami untuk terlebih dulu mengunjungi museum penjara, baru setelah itu ke makam Syeh Motura. Karena kapal harus kembali ke Waterfront jam 12.30 kami mengusulkan agar kunjungan ke museum penjara dibatasi paling lama 40 menit, sedangkan sisa waktunya akan kami pergunakan lebih banyak di makam.

Di depan bangunan penjara, ada sejumlah pria yang sudah siap menerima para wisatawan. Ilyas menemuai seseorang. Ia adalah NToza, nama lengkapnya NTozelizwe Talakumeni (61 tahun), mantan narapidana politik yang menjadi pemandu wisata. Dari sejumlah buku dan tulisan di internet, belakangan saya mengetahui NToza adalah pemandu yang sering menemani tamu-tamu VIP.

Tatkala NToza membuka pintu gerbang penjara dan mengajak kami berdua memasukinya, suasana sungguh sangat sepi, tiada orang lain kecuali kami bertiga. Rombongan yang bersama kami dalam satu kapal dan berkeliling pulau Robben dengan bis belum nampak. NToza membawa satu renteng kunci yang masing-masing berukuran besar. Ia memandu kami menyusuri lorong-lorong dan kamar-kamar, membuka setiap pintu yang terkunci secara kronologis sesuai dengan tahap kedatangan narapidana berikut ruang-ruang pelayanan dan kunjungan. Menjelaskan tahap pemeriksaan dan pencatatan, pemberian nomer tahanan sebagaimana dirinya. Ia narapidana bernomor 58/86. Angka 58 adalah nomer tahanannya sedangkan angka 86 menunjukkan tahun pada saat ia dimasukkan ke penjara, tepatnya 18 Juni 1986. Ia dibebaskan 14 tahun kemudian pada 1990, tahun yang sama dengan masa pembebasan Nelson Mandela.

Selanjutnya ia membawa kami ke halaman dengan langit terbuka namun dikeliling tembok, tepat di belakang barak tahanan Blok B. Foto yang menggambarkan dua deret para narapidana yang tengah memecah batu di halaman ini, sangat popular dan menghiasi sejumlah buku yang mengisahkan Nelson Mandela atau pun Pulau Robben. Di pinggir halaman di pajang foto-foto kenangan kegiatan di halaman tersebut.

Dari halaman tadi ia melanjutkan memasuki barak Blok B, barak di mana Nelson Mandela ditahan. Kami menuju kamar no 5, NToza membuka pintu dan masuk sambil menjelaskan barang-barang yang ada di depan kami yang dengan setia menemani Mandela. Di kamar berukuran sekitar 2,4 m x 2,1 m itu terdapat matlas yang digelar di lantai dengan selimut penghangat tergulung di atasnya. Selain itu hanya terdapat meja kecil berwarna hijau, di atas meja ada seperangkat piring dan cangkir aluminium. Di samping meja ada satu perabot berwarna merah, berbentuk ember atau mirip tempat sampah atau kalau di Jawa tempo dulu juga bisa seperti dandang buat menanak nasi dengan tutupnya yang terbuat dari bahan logam, mungkin seng. Semula saya mau memegang dan melihatnya, tapi terhenti dan batal ketika NToza memberi tahu itu adalah tempat kencing dan buang hajat.

Saya terhenyak dengan perasaan campur aduk dan kemudian memilih duduk bersila merenung di matlas Nelson Mandela. Mengenang perjuangannya dalam membebaskan bangsanya dari belenggu penjajahan nan kejam dan rasialis, sehingga membuatnya menjadi narapidana politik selama 27 tahun, 18 tahun di antaranya dihabiskan sendirian di lantai beralaskan matlas yang kini sedang saya duduki. Suatu masa yang bagi kebanyakan orang pasti sulit membayangkan betapa lama dan beratnya.

Sebelum keluar kamar dan melanjutkan kunjungan ke bagian penjara lainnya, saya dan isteri berpose di balik pintu jeruji besinya serta meminta NToza untuk memfotonya.

Selanjutnya kami berkeliling melihat dapur umum, barak-barak dengan tempat tidur massal seperti bangsal rumah sakit, melihat ruang pertemuan dan papan-papan keterangan. Mengingat waktu yang terbatas dan kami harus ke kramat makam Pangeran Cakraningrat, maka tidak semua ruangan kami kunjungi. Menjelang keluar kami baru berjumpa dengan rombongan yang bersama-sama naik dalam satu kapal.

Foto: Berfose di balik pintu jeruji kamar tahanan Nelson Mandela Blok B/5.

Catatan: Seri tulisan ini merupakan Bagian III dari seri tulisan PARA PAHLAWAN NUSANTARA DI AFRIKA SELATAN. Bagian ini menceritakan perjalanan wisata ziarah ke negeri yang di dalam pelajaran sejarah disebut Tanjung Harapan. Bagaimana menuju negeri tersebut, memesan hotel, kendaraan, mencari pemandu wisata dan makanan halal serta mengamati tempat-tempat yang kita kunjungi. Semoga anda wahai pembaca memperoleh anugerahNya untuk berwisata menziarahi para pahlawan kita di negeri orang nun jauh ini. Aamiin. (Bersambung). 

 

g

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Catatan Perjalanan ke Tanjung Harapan (III-4) : BERLAYAR KE PULAU “PENJARA’ ROBBEN

Seluruh pulau “penjara” Robben adalah museum sekaligus situs warisan dunia. Oleh sebab itu tidak setiap orang boleh begitu saja semaunya sendiri pergi ke sana. Hanya Museum Nelson Mandela yang boleh mengaturnya, dengan kapal penyeberangan yang dermaganya menyatu dengan gedung musem yang berada di kawasan pelabuhan Waterfront.

Jarak antara Hotel Double Tree ke Waterfront adalah sekitar 3 mil atau 4,8 km. Sebagai servis kepada para tamu, Hotel menyediakan layanan angkutan gratis dari Hotel ke kota pelabuhan Waterfront pergi pulang sebanyak empat kali sehari pada hari kerja biasa dan lima kali pada akhir pekan atau Jumat- Sabtu- Minggu. Karena layanan angkatan pertama pada jam 09.00, sedangkan kapal ferry dari Waterfront ke pulau Robben yang akan kami naiki keesokan harinya akan berangkat pukul 09.00 dan kami harus sudah mendaftar paling lambat 15 menit sebelumnya, maka malam itu saya memesan mobil khusus untuk mengantar ke pelabuhan pada jam 07.00 pagi di luar layanan gratis. Untuk itu penulis dikenai biaya sebesar R200, dan kembali yang mengantarkan adalah Jerrith.

Kota pelabuhan Waterfront diberi nama Victoria & Alfred. Victoria adalah nama Ratu Inggris sedangkan Alfred adalah suaminya. Ratu Victoria lahir 24 Mei 1819 dan naik tahta pada 20 Juni 1837 sampai wafat pada 1901. Selama masa keratuannya, mereka pernah mengunjungi Cape Town, sehingga demi menghormatinya, kota pelabuhan yang hidup hampir sepanjang waktu itu diabadikan dengan nama pasangan Ratu dan suaminya tersebut.

Rabu tanggal 11 Oktober, pukul 07.00 kami berangkat meninggalkan hotel menuju Museum Nelson Mandela Gateway, gedung sekaligus dermaga pelabuhan keberangkatan serta kedatangan kapal ferry menuju dan dari pulau Robben. Tempat ini berada di samping salah satu landmark Waterfront, yaitu Clock Tower atau Menara Jam yang bercat merah menyolok. Udara pagi itu masih berkabut, dan kami sudah sampai di Bangunan Museum Nelson Mandela sebelum jam 08.00, setelah berjalan kaki mencarinya sekitar 20 menit.

Suasana di meja pendaftaran agak ramai dengan wisatawan yang pada umumnya berkulit putih, sementara di tempat penjualan tiket masih banyak orang mengantri. Semua pengunjung harus melapor ke petugas untuk dicatat identitasnya. Ada dua orang yang bertugas, namun tatkala penulis melapor bahwa penulis adalah wisatawan yang diatur oleh Ilios Travel seraya menunjukkan email konfirmasi pesanan dari Ilios, mereka tidak mau melayani dan menyuruh saya berjumpa dulu dengan petugas Ilios. Penulis kemudian menelpon ke petugas Ilios yang disebut di dalam email harus saya hubungi. Sayang sekali, pulsa R100 yang penulis beli kemarin siang dan baru dipakai sekali ini, sudah habis sebelum pembicaan selesai. Padahal kantor Ilios Travel yang kami hubungi menurut informasi juga berada di dalam wilayah Waterfront, bahkan tak jauh dari Gedung Museum Nelson Mandela.

Pada jam 08.50, penulis mencoba mencari bantuan sambil membeli air mineral dan makanan kecil di toko di samping tempat pendaftaran. Kepada wanita yang melayani, penulis menceritakan persoalan kami kepadanya. Alhamdulillah, pelayan wanita ini sangat simpati dan langsung menemani penulis berbicara dengan petugas pendaftaran yang semula menolak melayani. Jam 09.00 tepat tempat pendaftaran sudah kosong dan petugas wanita tersebut membantu menelponkan ke Ilios. Tak berapa lama, staf Ilios tiba dengan membawa web tikets atau tiket elektronik kami. Dari tiket ini kita bisa mengetahui, jika bepergian sendiri dan langsung beli ke loket, biayanya hanya sebesar R340 meliputi biaya ferry pergi pulang serta bis keliling pulau Robben, mengunjungi penjara dan sel tahanan Nelson Mandela, makam keramat Cakraningrat dan singgah di satu-satunya café yang ada untuk membeli minuman bagi yang berminat. Jam menunjukkan pukul 09.15. Seharusnya kapal sudah berangkat.

Sepuluh menit kemudian urusan kami beres dan langsung masuk ke antrian naik ke kapal. Dalam antrian ini penulis ditegur ramah oleh seseorang yang berperawakan dan berwajah seperti orang Maluku. Ternyata ia adalah seorang mantan pelaut berkebangsaan Trinidad-Tobago, yang sewaktu muda pernah berkunjung ke Jakarta dan Bali serta mengaku sempat berkenalan dengan raja Bali Cokorda Gede Sukawati. Sekarang ia adalah seorang pengusaha perkapalan, yang bersama teman-temannya yang pada umumnya berkulit putih, sedang berwisata ke Afrika Selatan, dan hendak melihat Museum Penjara Pulau Robben.

Kapal ferry WE DO TOURISM jenis katamaran, membawa puluhan penumpang dari dermaga di Museum Nelson Mandela ke pulau Robben, penulis lupa menghitungnya, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Sepanjang perjalanan grup wisata ini dipimpin oleh Mr.Thulani, dan memperoleh penjelasan dari pemandu wisata tentang perjalanan dengan sesekali menunjukkan beberapa ekor anjing laut yang berenang di dekat kapal. Semua petugas dan pemandu yang melayani kami di kapal, demikian pula para petugas dan pemandu wisata di pulau, sebagian besar adalah mantan tahanan politik yang pernah dipenjara di pulau Robben.

Pukul 10.10, Pulau Robben sudah nampak jelas dari kapal. Mula-mula nampak kubah berwarna hijau makin lama makin jelas seperti sebuah masjid. Di sampingnya berdiri tegak menara segi empat, belum jelas menara apa. Tapi bukan seperti menara masjid.

Kapal WE DO TOURISM merapat di dermaga pelabuhan John Murray, dan alhamdulillah bismillah, kami menjejakkan kaki di pulau Robben, tanah tempat salah seorang pejuang Nusantara dibuang kuranglebih 271 tahun yang lalu, yang kemudian wafat dan dimakamkan tahun 1754. “Kami datang Eyang, untuk mengunjungimu. Untuk menghormati dan berdoa untukmu wahai Pahlawan kami.”

Segera kami disambut bentangan mural yang bernuansa biru dengan berbagai gambar, foto dan slogan perjuangan, dengan tema utama “FREEDOM CANNOT BE MANACLED! KEMERDEKAAN TIDAK AKAN DAPAT DIBELENGGU”. Penulis berfose membentangkan tangan tepat di depan tulisan RELEASE.

Foto:  Berfoto di dermaga sebelum naik kapal, diabadikan oleh fotografer Museum.

Catatan: Seri tulisan ini merupakan Bagian III dari seri tulisan PARA PAHLAWAN NUSANTARA DI AFRIKA SELATAN. Bagian ini menceritakan perjalanan wisata ziarah ke negeri yang di dalam pelajaran sejarah disebut Tanjung Harapan. Bagaimana menuju negeri tersebut, memesan hotel, kendaraan, mencari pemandu wisata dan makanan halal serta mengamati tempat-tempat yang kita kunjungi. Semoga anda wahai pembaca memperoleh anugerahNya untuk berwisata menziarahi para pahlawan kita di negeri orang nun jauh ini. Aamiin. (Bersambung). 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Catatan Perjalanan ke Tanjung Harapan (III-3): PULAU ‘PENJARA’ ROBBEN, SEPERTI APA.

Belanda menyebut sebuah pulau kecil yang gersang yang berjarak beberapa kilometer dari pantai Cape Town, dengan nama pulau Robben atau Robin yang berarti pulau Anjing Laut. Karena pada saat itu di pantai dan lautan sekitar pulau tersebut banyak dijumpai anjing laut dan juga burung penguin khas Afrika.

Daging kedua jenis hewan tadi sangat bermanfaat sebagai bahan makanan bagi orang-orang Eropa yang singgah di pulau Robben untuk menambah persediaan makanan dalam perjalanan selanjutnya, sedangkan bulu anjing laut dijual di Eropa sebagai bahan pakaian. Di kemudian hari, penguasa Pulau Robben juga mendatangkan domba untuk digemukkan sebelum dipotong.

Tentang jarak antara pantai Cape Town dan Pulau Robben, sejumlah buku dan referensi menuliskan angka yang berbeda. Hal itu mungkin terjadi lantaran perbedaan titik ukur di Teluk Meja di pantai Cape Town. Buku Robben Island, A Place of Inspiration: Mandela’s Prison Island menyebutkan angka 11 kilometer. Buku The Island menyebut beberapa kilometer. Buku Robben Island, Out of Despair, Hope menyebut 9,67 km. Robben Island, Wikipedia yang diunggah awal September 2017 menyebut 6,9 km diukur dari pantai dekat Bloubergstrand. Sedangkan dalam Robben Islan, New World Encyclopedia disebutkan sejauh 5 mil atau 8 km.

Meski angka jarak berbeda-beda, hampir semua sumber referensi menyebut waktu tempuh perjalanan dengan kapal ferry yang hampir sama, yakni sekitar setengah jam tergantung cuaca. Perjalanan penulis sendiri pada hari Rabu yang cerah, 11 Oktober 2017, baik berangkat maupun pulangnya memakan waktu masing-masing sekitar 28 menit, tidak termasuk waktu tunggu.

Pulau yang anjing lautnya sudah sangat sedikit namun dua-tiga ekor masih kelihatan dari jendela kapal ferry ini, berbentuk oval dan nyaris datar dengan titik tertinggi 24 meter di atas permukaan laut, dengan panjang utara – selatan sekitar 3 km dan lebar barat – timur sekitar 2 km, meliputi area seluas sekitar 507 hektar dengan lapisan bebatuan utama kapur dan lapisan batu sabak biru. Kata sekitar juga harus penulis pakai untuk menyebut ukuran pulau ini, mengingat beberapa sumber bahan bacaan pun menyebutkan angka-angka yang tidak sama.

Kedua jenis lapisan bebatuan utama itulah yang diambil sebagai bahan galian tambang terbuka untuk membangun benteng di Cape Town oleh Jan van Riebeeck, serta berbagai bangunan bahkan jalanan baik di Cape Town maupun pulau Robben sendiri. Nelson Mandela sewaktu dipenjara selama 18 tahun di sana, hampir setiap hari juga bekerja menambang atau membelah batu yang sudah ditambang, meski matahari bersinar terik. Tidak mengherankan banyak tahanan dan mantan tahanan yang menderita gangguan mata permanen.

Karena tidak memiliki tanaman asli yang berbatang keras, tak pelak lagi pulau Robben pada awalnya adalah pulau yang gersang dan tandus. Waktu kunjungan yang tidak lebih dari dua jam, membuat penulis kekurangan waktu untuk mengetahui bagaimana sumber air bersih di pulau ini, sejak dahulu sampai sekarang. Tapi dari informasi sepintas yang masih harus dicek, air bersih sebagai sumber air minum didatangkan dari Cape Town, yang pada saat saya berkunjung bulan Oktober 2017 juga sedang menghadapi kekurangan suplai. Kabarnya, di pulau Robben sedang akan dibangun sarana pengolahan air laut menjadi air bersih bagi keperluan sehari-hari.

Di kemudian hari terutama pada abad ke 20, beberapa jenis flora dan fauna didatangkan ke pulau Robben yang gersang tersebut. Hewan –hewan itu antara lain beberapa jenis rusa dan kelinci Eropa untuk diambil dagingnya. Di pulau ini kelinci Eropa dengan cepat berkembang biak.

Meski langka hewan darat berkaki empat, pulau Robben kaya dengan aneka jenis burung dan bahan makanan yang bersumber dari laut termasuk oyster dan abalone. Maka tak mengherankan bila para penulis wisata mengibaratkan berjalan-jalan di Pulau Robben, bagaikan berada di dalam sangkar burung, yang kini mencapai sekitar 150 spesies. Khusus untuk abalone, area laut di sekitar pulau sekarang ini dijadikan area penangkaran dan perlindungan abalone. Juga bagi anjing laut dan burung penguin khas Afrika. Penguin Afrika berukuran jauh lebih kecil yakni berat dewasa sekitar 3 kg dengan tinggi antara 60 cm – 70 cm, dibanding penguin Antartika yang bisa berukuran berat 35 kg dengan tinggi lebih dari satu meter.

Semenjak pada akhir abad ke 15, Bartolomeu Dias dan Joao del Infanto menjadikan pulau tandus di ujung Selatan Afrika ini sebagai pangkalan peristirahatan armada-armada Portugis setelah mengarungi Samudra Atlantis, dan bagi Vasco da Gama sebelum menjelajah Samudara Hindia. Jejak itu diikuti armada-armada laut bangsa-bangsa Eropa lainnya yang tertarik mencari peruntungan ke Asia dan Timur Jauh. Bebatuan di lautan sekitar Afrika Selatan yang dikenal ganas dan sudah memakan banyak korban kapal-kapal Eropa, membuat pulau Robben sangat ideal untuk beristirahat, memperbaiki kerusakan-kerusakan kapal dan menambah perbekalan makanan, khususnya daging yang tinggal mengambil dari berburu anjing laut, burung penguin dan penyu. Pada awal abad ke 17, tak kurang dari 4.005 lembar kulit anjing laut telah diekspor oleh Jacob le Maire dan kawan-kawan ke Eropa (Robben Islan, A Place of Inspiration: Mandela’s Prosin Island hal 17).

Rintisan Vasco da Gama dilanjutkan dan dikokohkan oleh dwi fungsi pengusaha-penguasa Belanda Jan van Riebeeck secara lebih terencana dan sistemis, yang bahkan dikembangkan menjadi pulau penjara sekaligus pengasingan bagi penduduk pribumi Afrika Selatan dan pribumi Nusantara yang menolak serta melawan dominasi kekuasaan Belanda yang berkedok perusahaan dagang.

Statusnya sebagai pulau penjara sesungguhnya sudah dimulai oleh Portugis pada 1525. Sedangkan bagi Belanda, tahun 1658 menjadi awal penjara politik bagi penduduk pribumi Afrika yang bernama Autshumato. Tahun 1671 juga tercatat ada lima penduduk pribumi Afrika Selatan yang ditahan di sini, yang dari waktu ke waktu terus bertambah. Hampir bersamaan dengan itu digunakan sebagai lahan pertanian serta penggemukan bagi sapi, domba dan babi. Ironisnya hewan-hewan ternak itu memperoleh perlakuan yang lebih baik dibanding para terpidana, yang bahkan ada yang harus dipotong telinganya dan dirantai lantaran hanya mencuri sayuran.

Pada tahun 1681, Belanda membawa para tahanan dan budak-paksa dari kepulauan Nusantara, India dan Sri Lanka. Tahun 1744 Belanda membuang dua ulama dari Kraton Kartasura, yaitu Kyai Haji Mataram dan seorang ulama keturunan Arab, Sayed Alawie. Mereka diangkut dengan kapal yang berangkat dari Batavia, sekarang Jakarta. Tahun berikutnya Haji Mataram wafat. Namun tak seberapa lama berturut-turut tiba Raja dari Madura, Pangeran Cakraningrat IV dan juga seorang Pangeran dari Makassar, Daeng Mangenan. Tahun 1769, datang lagi Raja Bolaang Mangondow, Eugenius Manopo. Berbeda dengan tahanan lainnya, Eugenius Manopo memperoleh tunjangan selama dua dasawarsa sebesar 36 rix dollar setahun, serta diijinkan untuk membangun pondok sederhana.

Selanjutnya pada 1788 tiba Pangeran Achmet dari Ternate, namun kemudian dipulangkan kembali ke tanah air. Penguasa Belanda di Afrika Selatan memiliki arsip yang memuat daftar orang-orang yang ditahan di Pulau Robben. Pertama adalah Cape Archives CA CJ 3188 untuk rentang waktu 1728 -1795.Kedua, CA CJ 3189 untuk periode 1758 – 1802, namun kenyataan memuat sampai tahun 1806.

Pangeran Cakraningrat yang sewaktu dalam tahanan menggunakan nama Abdurahman Moturu atau Abdurahman dari Madura, oleh masyarakat muslim Cape Town dikenal sangat legendaris. Beberapa buku yang menuliskan namanya, menyebutkan ia mempunyai kemampuan supra natural yang luar biasa, bisa berjalan di atas air dan mampu menembus pintu-pintu tertutup, datang dan pergi kapan dia mau, untuk membantu terutama mengobati tahanan-tahanan yang membutuhkan pertolongannya.

Sejak dikelola oleh Belanda pada 1652, status pulau Robben adalah milik negara yang tidak bebas dikunjungi oleh sembarang orang, lebih-lebih setelah berfungsi sebagai pulau penjara, beralih menjadi pulau karantina bagi penderita lepra, penyakit mental, serta penyakit kronis dan menular lainnya pada periode 1846 – 1931, menjadi daerah militer antara 1931 – 1960, dan sesudah itu kembali menjadi penjara, bahkan ditingkatkan menjadi penjara dengan pengamanan maksimum semenjak 1964.

Sesuai fungsinya sebagai tempat karantina bagi penderita lepra, di pulau ini terdapat tidak kurang dari 1.500 makam mereka. Namun sejalan dengan itu, juga mulai ditanam pohon-pohon tanaman keras sebagai pohon pelindung.

Sebagai wilayah militer, selama Perang Dunia II pulau Robben dilengkapi dengan meriam-meriam tipe BL 9,2 inci dan 6 inci. Meriam BL 9,2 adalah meriam pertahanan buatan Inggris yang lazim dipakai oleh angkatan laut dan pertahanan pantai, yang terdiri dari tipe Mk I – Mk VII, dengan variasi kemampuan jarak tembak dari belasan ribu meter sampai sekitar 26.700 meter.

Bersamaan dengan kembali berfungsi sebagai penjara, kunjungan ke pulau Robben diperketat, termasuk kedatangan orang-orang muslim yang ingin menziarahi makam Pangeran Cakraningrat.

Penduduk, atau lebih tepat disebut penghuni pulau Robben mencapai jumlah tertinggi, yaitu lebih dari 2.000 jiwa pada awal dekade abad 20. Selama periode 1962 sampai 1991, tak kurang dari 3.000 orang tahanan politik telah dipenjara di pulau ini.

Perjalanan sejarah mulai berubah tatkala Presiden FW de Klerk yang dilantik pada September 1989, berjuang mengakhiri pemerintahan rasial dan membebaskan Nelson Mandela pada 11 Februari 1990.

Nelson Mandela telah menghuni penjara pulau Robben selama 18 tahun dari keseluruhan masa tahanannya selama 27 tahun. Segera sesudah itu seluruh tahanan politik dibebaskan. Tahanan politik terakhir meninggalkan penjara pulau Robben pada Mei 1991. Semenjak itu penghuni pulau Robben merosot drastis. Pada Maret 2009 penduduknya hanya tingga 120 jiwa, sebagian besar para mantan tahanan, yang tinggal untuk menjadi pemandu wisata dan mengurus pulau berikut segenap bangunan dan isinya, termasuk 8 (delapan) gereja dan satu kramat, yaitu makam P.Cakraningrat yang dikeramatkan, yang sekaligus berfungsi sebagai musholla.

Pada tahun 1997, Pemerintah Afrika Selatan menetapkan penjara pulau Robben menjadi museum, dan pada 1 Desember 1999 United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESC0) atau Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, menetapkan pulau Robben sebagai situs warisan dunia.

Pulau dengan penjaranya itu menyimpan sejarah kelam, namun sekaligus juga merupakan simbol kemenangan dari semangat perjuangan mewujudkan kebebasan dan demokrasi melawan penindasan. Tak pelak lagi, ribuan wisatawan sepanjang tahun mengunjungi penjara pulau yang bagi Nelson Mandela dan para politisi, dianggap sebagai pulau sumber inspirasi politik.

Pulau Robben pada Rabu 11 Oktober 2017, menurut pengemudi sekaligus pemandu wisata kami Ilyas Salie, dihuni sekitar 200 jiwa termasuk keluarganya. Ilyas adalah seorang muslim dengan dua anak, dan anak laki-lakinya ia beri nama Abdurahman, samadengan nama Pangeran Cakraningrat semasa di Pulau Robben.

Foto: Menara dan Gedung Musem Nelson Mandela di kota pelabuhan Waterfront Victoria. Dari dermaga di balik gedung tersebut wisatawan berangkat dan kembali dari Pulau Robben.

Catatan: Seri tulisan ini merupakan Bagian III dari seri tulisan PARA PAHLAWAN NUSANTARA DI AFRIKA SELATAN. Bagian ini menceritakan perjalanan wisata ziarah ke negeri yang di dalam pelajaran sejarah disebut Tanjung Harapan. Bagaimana menuju negeri tersebut, memesan hotel, kendaraan, mencari pemandu wisata dan makanan halal serta mengamati tempat-tempat yang kita kunjungi. Semoga anda wahai pembaca memperoleh anugerahNya untuk berwisata menziarahi para pahlawan kita di negeri orang nun jauh ini. Aamiin. (Bersambung). 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Catatan Perjalanan ke Tanjung Harapan (III-2): MENJADI TURIS DI CAPE TOWN

Meskipun banyak artikel di internet mengenai pulau Robben dan Cape Town, beserta beberapa biro wisata yang ada di sana, namun tak banyak yang bisa diperoleh tentang bagaimana berkunjung dan berwisata di Cape Town dan sekitarnya termasuk berwisata ziarah ke pulau Robben. Semula sulit mencari orang yang bisa dijadikan narahubung untuk bisa membantu. Bahkan beberapa alamat email yang ada yang kami kontak, tidak membalas.

Di Jakarta, ada sejumlah travel biro yang menyelenggarakan paket tour ke Afrika Selatan. Pada umumnya mereka membuat jadwal kunjungan wisata kota , tempat-tempat belanja dan makan, taman safari, melihat lokasi anjing laut dan penguin Afrika, meninjau kebun anggur, melihat peternakan burung onta dan sejenisnya, yang segala sesuatunya akan ditangani oleh pemandu-pemandu wisata lokal setelah tiba di Cape Town. Informasi tentang bagaimana berziarah ke makam Pangeran Cakraningrat dan jika memungkinkan disambung ke makam Syeh Yusuf, tidak kami dapatkan. Padahal tujuan utama penulis ke Afrika adalah untuk itu.

Sebetulnya agak lebih mudah seandainya penulis berangkat dari Jakarta langsung ke Cape Town, dengan ikut grup wisata yang bisa dicari melalui internet, dengan permintaan khusus untuk mengatur wisata ziarah ke makam Cakraningrat di Pulau Robben, makam Syeh Yusuf dan lain-lain selama satu dua hari, dari keseluruhan paket wisata yang ada. Ada beberapa pilihan biro wisata jika ingin pergi ikut rombongan, atau pilihan perusahaan penerbangan internasional apabila ingin pergi sendiri. Tetapi karena penulis akan berangkat ke Cape Town dari London setelah menengok anak-cucu di Inggris, maka penulis harus mengatur sendiri segala sesuatunya

Bersyukur anak saya memiliki kenalan mantan pramugari yang sering bertugas ke Cape Town. Dari temannya itu penulis memperoleh sedikit gambaran dan rekomendasi nama Ilios Travel untuk mengatur perjalanan ziarah ke Pulau Robben, dan tiga nama hotel yang berjaringan internasional, satu berada di kawasan Waterfront, satu di pusat kota dan satu di daerah Upper Eastside, untuk penginapan. Dari ketiganya, yang melayani dengan lancar email kami adalah Hotel Double Tree Hilton yang berada di daerah Upper Eastside. Untuk antar jemput dari airport – hotel dan sebaliknya, pihak hotel membantu mengatur memesankan ke Evolution Transfer & Shuttle dengan biaya R320 sekali jalan atau 640 bolak-balik. R singkatan dari Rand atau sering juga disingkat Z, dari istilah Belanda Zuid-Afrikaanse Rand, adalah mata uang Afrika Selatan yang nilai tukarnya Rp100.000,- samadengan R101.9 atau kalau dibulatkan 100 rupiah samadengan satu rand atau satu Z.

Ilios Travel bersedia mengatur wisata ziarah penulis beserta isteri ke pulau Robben dengan biaya berdua sebesar R7,104 yang meliputi biaya tiket kapal penyeberangan dari pelabuhan di Waterfront ke pulau Robben pergi pulang, serta pemandu wisata dan mobil khusus untuk kami berdua saja selama maksimum tiga jam berada di pulau Robben. Untuk antar jemput dari Hotel ke Waterfront mereka juga menawarkan dengan biaya tambahan sekitar R800 sekali jalan.

Demikianlah, kami, penulis dan isteri akhirnya berangkat dari London ke Cape Town, Senin 9 Oktober 2017 menggunakan pesawat Turkish Airlines dengan rute London – Istanbul – Cape Town. Dari London sedianya kami lepas landas pukul 18.00, tiba di Istanbul pukul 23.50 dan melanjutkan ke Cape Town 2 jam kemudian atau pukul 01.55. Ternyata keberangkatan kami dari London terlambat lebih dari satu jam sehingga baru mendarat di Istanbul pukul 00.55, sehingga hanya sisa waktu 60 menit untuk turun dari pesawat, berlari tersengal-sengal mencari pintu gerbang naik ke pesawat berikutnya di dalam lapangan terbang internasional yang cukup besar, karena menurut informasi yang kami peroleh di televisi di kursi penumpang, jadwal keberangkatan pesawat yang akan kami tumpangi ke Cape Town tepat waktu yaitu pukul 01.55. Bersyukur papan-papan penunjuk arah dan gate atau pintu naik ke pesawat cukup jelas, sehingga kami masih bisa mengejarnya.

Dari pengalaman ini, kita dapat mengambil pelajaran apabila ingin bepergian antar negara dengan rute yang jauh dan harus ganti pesawat dari satu perusahaan penerbangan yang sama di suatu negara, sebaiknya kalau ada kita memilih penerbangan yang memiliki waktu tunggu pindah pesawat paling sedikit 3 jam. Sehingga jika terjadi keterlambatan pesawat sekitar satu jam, kita masih punya waktu yang agak longgar.

Alhamdulillah kami mendarat di Cape Town sesuai jadwal 12.10 siang. Yang pertama kami lakukan setelah mengambil bagasi adalah menukar uang dollar ke Rand terutama uang receh untuk keperluan-keperluan kecil termasuk tips. Selanjutnya membeli kartu telpon lokal berikut tambahan pulsanya. Untuk pertama kali saya membeli pulsa R100, yang ternyata sudah langsung habis dalam tempo kurang dari 19 jam dan hanya dipakai sekali menelpon ke Ilios Travel untuk konfirmasi, dan itupun belum sampai pembicaraan selesai. Padahal selama di Hotel kami menggunakan Wifi Hotel. Sejumlah kenalan kemudian menyatakan, biaya menelpon di Cape Town memang tergolong mahal.

Bagi wisatawan Indonesia, penulis anjurkan sebaiknya mengurus pulsa perjalanan sebelum berangkat ke luar negeri, agar tidak terkena tariff roaming yang mahal. Pengalaman penulis mengaktifkan telpon genggam tatkala singgah di bandara Suvarnabhumi –Bangkok langsung terkena biaya roaming Rp.150.000,- per hari dan sewaktu tiba di bandara Heathrow – London, langsung terkena Rp.250.000,- per hari begitu mengaktifkan telpon genggam.

Di pintu keluar bandara, seorang anak muda yang ramah, Jerrith, telah menjemput dan langsung mengantarkan kami ke Hotel Double Tree Hilton. Dari Jerrith kami bisa mengetahui betapa tidak mudah menghapus penderitaan dan bekas-bekas kehidupan yang amat pahit akibat diskriminasi rasial, yang dikenal dengan politik apartheid yang berlaku sangat keras selama satu abad. Bagi Jerrith yang tumbuh setelah era kebebasan, hal tersebut tidak membekas dalam dan dengan mudah bisa diatasi, namun tidak demikian halnya bagi orang-orang yang lahir dan dibesarkan di zaman apartheid, yang bisa diketahui terutama dari anggota keluarganya yang sempat mengalami sendiri penderitaan tersebut.

Setelah beristirahat sejenak, mandi dan makan, sekitar pukul 16.30 kami mencoba melemaskan kaki, jalan-jalan di sekitar hotel, mengambil foto-foto dengan latar belakang pegunungan nan indah, seraya berjalan santai menikmati jalanan yang bersih tertata rapi dan naik turun khas jalanan di kaki bukit. Kami berjalan ke kanan, ke arah bawah melewati beberapa toko dan sebuah kedai kopi dengan beberapa pengunjung di teras di tepi trotoar. Penulis bilang ke isteri nanti pulangnya kita ngopi di sini, tempatnya enak. Kami berjumpa dengan beberapa pejalan kaki dan dua kendaraan angkutan penumpang sejenis Elf atau Izuzu, kami belum sempat memperhatikan mereknya, dengan kernet bergelantungan menawari kami ke pusat kota. Rupanya itu angkutan kota. Kelakuan atau cara mengemudikan berikut kernetnya persis angkutan kota di Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi). Geli tapi senang melihatnya, serasa menemukan suasana yang sama.

Tak berapa lama kami merasakan suasana mendadak suyi sepi, bahkan senyap. Kami tak lagi berjumpa atau melihat orang di jalanan. Tanpa kami sadari ternyata toko-toko dan kantor-kantor sudah tutup. Merasa aneh, kami putuskan untuk segera kembali ke hotel. Juga tak jadi singgah ngopi karena kedainya sudah tutup, dan kursi-kursi yang semula ada di teras sudah nampak tertumpuk rapi di dalam kedai.

Terlihat hanya satu toko yang masih buka, yaitu toko makanan dengan tulisan “Halal Food” persis di seberang hotel. Itupun tertutup dengan pintu teralis besi, dan kami lihat dua orang pembeli yang berdiri di luar pintu dengan pelayan di balik pintu teralis bagaikan di balik jeruji penjara. Toko ini dilayani oleh beberapa orang keturunan Bangladesh yang pernah tinggal beberapa tahun di Kuala Lumpur, sehinga bisa berbahasa Melayu serta ramah terhadap penulis. Begitu melihat wajah Melayu dari penulis, sang kasir langsung menegur dengan bahasa Melayu, serta memerintahkan penjaga untuk membuka pintu khusus untuk penulis dan mempersilahkan masuk. Ia menceritakan pengalaman dan kesannya yang indah tentang bangsa Melayu, sementara penulis membeli enam kue sambosa isi daging kambing.

Bagi para pelancong muslim, mencari restoran halal di Cape tidak terlalu sulit, karena tersebar di banyak tempat.

Tiba di hotel saya bertanya kepada petugas keamanan mengapa suasana tiba-tiba menjadi sepi seperti itu? Dia menjawab toko-toko dan kantor di sini tutup pada jam 17.00, dan orang-orang kembali ke rumah masing-masing untuk melakukan kegiatan bersama keluarga di rumah sampai keesokan hari. Akhirnya kami menghabiskan waktu di lobby dan restoran hotel, berkenalan serta ngobrol dengan staf hotel dan restoran yang  ramah-ramah. Mereka memberitahu, perekonomian di Cape Town memang sedang menurun. Beberapa pabrik tekstil dan garmen tutup, juga beberapa jenis industri tertentu, kalah bersaing dengan produk-produk buatan China. Tekstil dan garment dari Indonesia sempat pula masuk ke Afrika Selatan. Sementara itu juga sedang terjadi kekurangan suplai air bersih lantaran sudah lama tidak turun hujan. Perihal kekurangan air bersih ini sudah kami lihat begitu memasuki bandara dan masuk ke kamar mandi di hotel, dengan dipajangnya seruan untuk melakukan penghematan penggunaan air bersih.

Menurut mereka masyarakat khususnya pendatang memang tidak dianjurkan keluar malam, kecuali di daerah pelabuhan yang dikenal dengan nama Waterfront. Di sini kehidupan malam berlangsung sejalan dengan jam buka klub-klub malam.

Dari mereka kami juga memperoleh banyak informasi dan bantuan bagaimana menjadi wisatawan dan melakukan tour di Cape, termasuk berziarah ke makam-makam keramat. Ternyata banyak orang Malay, sebutan untuk orang-orang keturunan Melayu, sebetulnya lebih tepat keturunan Nusantara, yang bisa menjadi pemandu sekaligus pengemudi serta mengatur perjalanan wisata. Kita bisa pula minta bantuan dari Asosiasi Pengelola Keramat (Cape Mazaar Society).

Dua hari berikutnya dalam perjalanan ke makam Syeh Yusuf di daerah Kampung Makassar, Faure yang memakan waktu satu jam perjalanan santai dengan mobil carter, nampak deretan rumah-rumah kumuh di kiri kanan jalan, sangat kontras dengan perumahan di pusat kota. Kesenjangan kehidupan masyarakat yang menyolok, nampaknya membawa konsekuensi dalam masalah keamanan.

Catatan: Seri tulisan ini merupakan Bagian III dari seri tulisan PARA PAHLAWAN NUSANTARA DI AFRIKA SELATAN. Bagian ini menceritakan perjalanan wisata ziarah ke negeri yang di dalam pelajaran sejarah disebut Tanjung Harapan. Bagaimana menuju negeri tersebut, memesan hotel, kendaraan, mencari pemandu wisata dan makanan halal serta mengamati tempat-tempat yang kita kunjungi. Semoga anda wahai pembaca memperoleh anugerahNya untuk berwisata menziarahi para pahlawan kita di negeri orang nun jauh ini. Aamiin. (Bersambung). 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Catatan Perjalanan ke Tanjung Harapan (III-1): HARAPAN EROPA ATAS ASIA

Catatan: Seri tulisan ini merupakan Bagian III dari seri tulisan PARA PAHLAWAN NUSANTARA DI AFRIKA SELATAN. Bagian ini menceritakan perjalanan wisata ziarah ke negeri yang di dalam pelajaran sejarah disebut Tanjung Harapan. Bagaimana menuju negeri tersebut, memesan hotel, kendaraan, mencari pemandu wisata dan makanan halal serta mengamati tempat-tempat yang kita kunjungi. Semoga anda wahai pembaca memperoleh anugerahNya untuk berwisata menziarahi para pahlawan kita di negeri orang nun jauh ini. Aamiin.

Dari sekian banyak nama yang saya kenal tatkala belajar sejarah di bangku Sekolah Dasar sampai Sekolah Menangah Atas, ada tiga yang merujuk ke satu tempat di benua Afrika; yaitu Tanjung Harapan, Bartolomeu Dias dan Vasco da Gama. Yang pertama adalah nama sebuah tanjung raksasa yang terletak di ujung Selatan benua Afrika. Yang kedua, Bartolomeu Dias, adalah pelaut Portugis yang untuk pertama kali berhasil melakukan pelayaran panjang dan berbahaya dari Eropa menyusuri laut Atlantis nan ganas, dan merupakan orang Eropa pertama yang menjejakkan kaki di Angola di pantai Barat Afrika pada Desember 1487, setelah berlayar lebih dari 16 bulan.

Dari Angola ia kemudian melanjutkan perjalanan ke Namibia dan akhirnya tiba di Tanjung Harapan pada 3 Februari 1488. Sebuah daerah yang kala itu pantas disebut negeri antah berantah. Tapi dari Tanjung Harapan jalan menuju Lautan Hindia dan negara-negara asal muasal rempah-rempah di sepanjang lautan itu terbuka, serta menjadi lebih mudah dicapai dibanding apabila melalui darat melewati gurun pasir nan ganas di Timur Tengah atau melalui jalur sutera di Asia Tengah dan Utara.

Lantaran banyak menghadapi badai yang ganas, semula ia menamakan Tanjung di ujung selatan Afrika sebagai Cape of Storms atau Tanjung Badai. Namun oleh Putera Mahkota Portugis, Pangeran John yang menugasinya, nama itu diubah menjadi Cape of Good Hope atau Tanjung Harapan Baik dan selanjutnya lebih dikenal Cape of Hope atau Tanjung Harapan. Setelah naik tahta Pangeran John bergelar John II. Sementara Bartolomeu Dias meninggal di Tanjung Harapan 29 Mei 1500.

Nama yang ketiga yaitu Vasco da Gama, adalah juga pelaut Portugis yang ditugasi oleh Raja John III, untuk melanjutkan penaklukan Bartolomeu ke Asia. Rombongannya berlayar pada 1497 dan menjejakkan kakinya di Calicut (Kozhikode), di pantai Malabar di anak benua India pada 20 Mei 1498. Keberhasilan Vasco da Gama menemukan daerah produsen rempah-rempah yang mengharumkan Eropa berabad-abad sebelumnya itu, mengobati kedukaan pelaut-pelaut Eropa yang sudah kehilangan ribuan orang yang selama ini mencoba mencarinya. Penemuan itu juga membuka lebar-lebar pintu gerbang penjajahan Portugis, yang diikuti oleh Belanda, Inggris dan Perancis selama lebih tiga abad di Afrika dan Asia.

Di kawasan Tanjung Harapan, sebelum meneruskan pelayaran Vasco da Gama sempat singgah dan melakukan konsolidasi kekuatan di pulau Robben, yang berjarak sekitar 9 km dari pantai Tanjung Harapan. Menjadikan pulau Robben sebagai area persinggahan pelayaran dari Eropa mengarungi Lautan Atlantis menuju Asia, khususnya Indonesia sekarang melalui Lautan Hindia, yang di masa-masa berikutnya diteruskan baik oleh Belanda maupun Inggris.

Semenjak itu pula wilayah di Tanjung Harapan beserta pulau Robben menjadi tempat persinggahan, peristirahatan, gudang logistik dan perbaikan pelayaran bangsa-bangsa Eropa ke Asia serta Timur Jauh dan sebaliknya.

Ujung Selatan Benua Afrika tersebut kini menjadi Republik Afrika Selatan, dengan Tanjung Harapan sebagai provinsinya yang beribukota di Cape Town, yang sekaligus menjadi kota pusat lembaga Legislatif. Pusat Pemerintahan sementara itu ditempatkan di kota Pretoria, sedangkan pusat kekuasaan kehakiman di tempatkan di kota Bloemfontein.

Cape Town adalah sebuah kota yang memiliki latar belakang pegunungan yang unik, satu berbentuk seperti meja sehingga disebut Table Mountain dan yang satu lagi bagaikan kepala singa dan disebut Lion’s Head. Dengan kamera tele atau teropong kita bisa melihat dinding-dinding Table Mountain bagaikan sebuah candi alami, karena dindingnya terlihat bagaikan batu-batu raksasa yang dipahat dan disusun rapi, yang bila diresapi bisa menggetarkan batin. Setidaknya bagi penulis.

Daerah hunian membentang dari kaki bukit ke area pantai dengan pusat kota persis di pinggir teluk yang juga dinamakan Table Bay. Dengan bentangan alam yang seperti itu, Cape Town menjadi sebuah kota yang sangat indah.

Perkembangan di Tanjung Harapan dari semula bagaikan negeri antah berantah, berubah cepat semenjak rombongan kapal dagang Belanda yang dipimpin oleh Jan van Riebeeck mendarat pada 6 April 1652.

Ia tiba dengan sejumlah gagasan untuk membangun Tanjung Harapan, bukan hanya sebagai batu loncatan ke dan dari daerah-daerah di sepanjang Lautan Hindia, tetapi juga menjadikan Tanjung Harapan sebagai wilayah pertumbuhan baru dan hunian bagi orang-orang Belanda. Ia membuka perkebunan, membangun peternakan, sarana pelabuhan dan perkapalan bahkan kemudian membangun benteng pertahanan dan berbagai sarana serta prasarana perkotaan.

JS Mayson dalam The Malays of Cape Town dalam History of Muslim in South Africa: 1652 – 1699 oleh Ebrahim Mahomed Mahida dalam South African Hoistory Online menyatakan, beberapa orang Malay yang beragama Islam (sebutan untuk orang-orang yang berasal dari kepulauan Nusantara), sudah ikut mendarat bersama rombongan kapal Belanda tadi. Orang-orang dari Nusantara itu merupakan orang Islam pertama yang menjejakkan kakinya di Tanjung Harapan.

Dalam upayanya membangun wilayah pemukiman dan pertumbuhan, ternyata Jan van Riebeeck tidak memperoleh tenaga kerja dari penduduk asli yang memiliki kualifikasi memadai. Oleh sebab itu ia berpaling ke kepulauan Nusantara, yang sudah memiliki peradaban kerajaan-kerajaan yang maju. Nampaknya ini sudah dipelajari oleh van Riebeeck dan kawan-kawannya semenjak tahun 1641 (Cape Malays, Wikipedia dan South African History Online, diunduh 31 Januari 2018), sehingga pada tahun 1642, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van Diemen sudah menyiapkan peraturan termasuk dalam menjalankan ibadah bagi orang-orang Islam dari Ambon, yang akan dikirim sebagai Mardyckers ke Tanjung Harapan.

Gelombang pertama para Mardyckers atau “Orang-Orang Merdeka”yang bertugas sebagai Satuan Pengamanan datang tahun 1658. Namun sebelumnya sejumlah tenaga kerja yang dijadikan sebagai budak serta beberapa tahanan politik telah mendahului tiba.

Dalam membangun perkotaan yang sekarang bernama Cape Town itu, Belanda membawa dan membudidayakan berbagai hewan ternak dan aneka produk pertanian seperti anggur, sereal, kacang-kacangan, kentang, apel dan jeruk.

Belanda menguasai Tanjung Harapan sampai dengan diambilalih Inggris tahun 1795. Delapan tahun kemudian, yakni 1803, Tanjung Harapan dikembalikan kepada Belanda. Namun itu ternyata tak berlangsung lama, karena pada tahun 1806, melalui pertempuran sengit yang dikenal dengan Pertempuran Blaauwberg, Inggris kembali merebut Tanjung Harapan. Dalam pertempuran Blaauwberg, pasukan Belanda yang paling gigih adalah yang terdiri dari orang-orang Jawa, yang dikenal sebagai Java Artilerie, tetapi bertempur jarak pendek seperti layaknya pasukan infanteri, karena pasukan infanteri yang terdiri dari orang-orang Belanda justru sudah melarikan diri tanpa meletuskan sebutir peluru pun.

Sejak itu Inggris menguasai Afrika Selatan sampai kemudian terbentuk pemerintah persatuan pada 31 Mei 1910. Pada 11 Desember 1931 Afrika Selatan berhak menyelenggarakan pemerintahan sendiri, tetapi pada tahun 1948 negeri ini mulai memberlakukan politik apartheid yang rasialis, yang bahkan semakin ditingkatkan pada 31 Mei 1961, dan terus berlanjut sampai awal 1990an. Semenjak 4 Februari 1994 sampai sekarang Republik Afrika Selatan menghapuskan politik perbedaan ras dan menjamin kebebasan bagi penduduknya. (Bersambung).

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Pergulatan Cakraningrat – Mataram – Kompeni (II-8) : HIKMAH BAGI RAKYAT AFRIKA SELATAN

Setelah Cakraningrat dikalahkan, pada 1746 Kompeni menekan Kasunan untuk memperbarui kontrak kerjasama dengan mencopot semua kekuasaan politik atas Jawa. Pada bulan Mei 1746, Perang Cina menulis, Gubernur Jenderal Van Imhoff memaksa Sunan untuk menyerahkan semua kabupaten pesisir dengan imbalan uang lima ribu reyal setiap tahun. Sunan juga menyerahkan semua pajak pelabuhan selama waktu yang tidak ditentukan. Juga harus menyerahkan semua gerbang pajak di wilayah pedalaman, pajak impor dan ekspor termasuk pajak atas sarang burung dan tembakau. Dalam hal kekuasaan politik lainnya, Sunan juga tidak lagi memiliki hak monopoli pemberian jabatan.

Meski hak-hak Kasunanan sudah sangat kecil, pergulatan internal kraton tidak juga reda, sampai akhirnya menyulut perang saudara pada periode 1755 – 1757, yang mengakibatkan kraton Kasunanan pecah menjadi empat sampai di alam republik sekarang. Keempat kraton tersebut adalah Kasunanan Surakarta dengan rajanya yang bergelar Pakubuwana, Kasultanan Yogyakarta dengan rajanya yang bergelar Hamengkubuwana, kadipaten Mangkunegaran dengan penguasanya yang bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara dan yang keempat, kadipaten Pakualaman dengan penguasanya yang bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Pakualam.

Inilah sejarah pahit yang pernah kita alami dengan pedagang dan pemodal-pemodal asing,yang masuk ke bumi Nusantara dengan dalih bisnis, tapi pada akhirnya berubah menjadi pendudukan dan penjajahan yang berlangsung sekitar tiga setengah abad. Sebetulnya hal itu wajar saja, karena pada dasarnya di sepanjang sejarah kehidupan manusia, manusia yang satu selalu ingin menguasai manusia yang lain, bangsa yang satu ingin menguasai bangsa yang lain. Yang tidak wajar adalah orang atau bangsa yang tidak mau belajar dari sejarah untuk memahami nafsu hegemoni manusia atau sesuatu bangsa atas yang lain.

Sementara itu ribuan rakyat Nusantara dibuang ke Afrika Selatan. Sebagian besar dijadikan budak yang dikirim dalam keadaan tangan dan kaki terbelenggu, sedangkan puluhan lainnya sebagai tokoh politik yang diasingkan, jauh dari tanah tumpah darahnya, jauh dari tahta dan keluarganya, bahkan sebagian besar dari kita tidak mengenal apalagi mengenangnya.

Akan tetapi di Afrika Selatan nun jauh itu, api semangat perjuangan putra-putra Nusantara dan keturunan-keturunannya, berkobar membakar semangat perjuangan saudara-saudaranya para bumiputra Afrika, bangkit melawan penjajahan dan politik perbedaan rasial. Bahkan seonggok makam putera Madura Pangeran Cakraningrat di pulau Robben, telah diakui menjadi sumber inspirasi bagi Nelson Mandela tatkala mengalami masa-masa putus asa lantaran di penjara selama 27 tahun, 18 tahun di antaranya di penjara pulau Robben yang amat sangat ketat, di samping makam keramat Sayed Abdurrahman Motura, dari Madura, atau Pangeran Cakraningrat IV.

Kini kita memahami hikmah dari skenario Gusti Allah, mengapa mengirimkannya ke Pulau Robben. Keberadaannya mengobarkan semangat Nelson Mandela untuk terus memimpin perjuangan kemerdekaan bangsanya, sampai ia dibebaskan pada 11 Februari 1990, yang begitu keluar dari pintu penjara langsung brziarah menuju makam Pangeran Cakraningrat IV, yang tengah berlangsung keramaian besar.

Pada tahun 1994 akhirnya Nelson Mandela bersama rakyat Afrika Selatan berhasil mewujudkan Afrika Selatan yang merdeka dari berbagai bentuk penjajahan dan penindasan rasial, dan dilantik menjadi Presiden pada 10 Mei 1994 dalam usia 76 tahun untuk selama 5 tahun. Pada 14 Juni 1999 ia digantikan oleh Thabo Mbekti, namun terus berkibar sebagai bapak bangsa yang menginspirasi dan sangat dihormati dunia sampai wafat tanggal 5 Desember 2013. Nelson Mandela telah mengajarkan pahit getir sejarah yang diungkapkan apa adanya namun tanpa rasa dendam, sehingga namanya memancarkan aroma harum ke seluruh penjuru dunia.

Uniknya pula hampir dalam setiap penampilannya di depan publik termasuk dalam acara-acara resmi, Mandela mengenakan baju batik Indonesia, satu hal yang sampai buku ini ditulis bahkan tidak dilakukan oleh Presiden Indonesia.

Semoga catatan sederhana ini dengan ridho, rahmat dan berkahNya, dapat ikut mengetuk pintu pemahaman dan kesadaran kita semua. Aamiin.

(Ikuti seri Bagian III : CATATAN PERJALANAN KE TANJUNG HARAPAN, TEMPAT BUANGAN PARA PENENTANG KONGSI DAGANG BELANDA
Foto :  Penulis dan isteri di depan pintu makam.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Pergulatan Cakraningrat – Mataram _ Kompeni (II-7) : CAKRANINGRAT MENABUH GENDERANG PERANG

Berakhirnya pemberontakan Cina dan penyerahan kembali kraton Kartasura oleh pasukan Madura, ternyata tidak membuat hubungan segitiga Kompeni – Sunan – Cakraningrat menjadi baik, bahkan bagai bandul yang mengayun kuat sebentar ke kiri sebentar ke kanan tiada menentu. Apalagi setelah menjelang akhir 1743, Sunan yang semakin lemah bersedia memperbarui perjanjian kerjasama dengan Kompeni, yang menyatakan berbagai kewajiban dan hutang-hutang Sunan, serta semakin memberikan keleluasan dan kekuasaan yang besar kepada Kompeni. Tentu saja ini tidak memuaskan Cakraningrat, yang menyadari dia tidak akan mendapatkan hak-haknya di Jawa Timur. Dengan segera ia menabuh genderang, mengobarkan perang dan memulai pertempuran pada November 1744.

Pasukan bantuan dari Mengui – Bali menjadi tulangpunggung pasukan Cakraningrat IV yang semula merupakan sebab utama keberhasilan. Pasukan Madura dan Bali tidak terhalang oleh keterbatasan tradisional pasukan petani yang membantu Kraton ataupun Kompeni. Pasukan gabungan itu bisa diberangkatkan ke medan perang kapan saja, terutama pada saat pihak-pihak lain tidak mampu memberangkatkan pasukannya. Dalam penyerbuan ke Kartasura tahun 1742 misalkan, pasukan Cakraningrat mengadakan serangan kilat pada musim hujan ketika pasukan petani Jawa sedang ada di rumah dan tatkala pasukan-pasukan lawan baik Cina, Kartasura maupun Belanda tidak dapat bergerak karena tidak punya kuli angkut dan kuda-kuda para pembesar lawan terhalang geraknya oleh lumpur.

Cakraningrat tahu betul Kompeni tidak bisa berbuat serupa sebab artileri dan iringan bagasi Kompeni yang berat tidak dapat bergerak karena hujan, lumpur dan tidak adanya kuli angkut. Hanya ia yang mampu melakukannya. Pasukan Cakraningrat berperlengkapan ringan dan merambah kabupaten-kabupaten pesisir timur tanpa menjumpai banyak perlawanan dan akhirnya berhasil menguasai Kartasura dalam sebuah serangan mendadak pada bulan Novemeber 1742.

Cakraningrat dengan cerdik memanfaatkan kelemahan musuh-musuhnya, termasuk dengan melancarkan serangan-serangan malam terhadap pasukan lawan yang percaya tahayul dan mudah panik sehingga berhasil mematahkan semua perlawanan dari musuh-musuhnya, sampai akhirnya dia dihentikan oleh Kompeni, satu-satunya musuh yang tidak dapat dikalahkan, yang sabar menunggu sampai musim hujan lewat serta jalanan mengering dan kuli angkut tersedia, sekali pun harus berdiam diri tanpa daya dalam lumpur selama beberapa bulan.

Sesungguhnya Pasukan Kompeni yang berperang di Nusantara tidak seluruhnya orang Belanda, tapi bahkan sebagian besar orang-orang pribumi. Sebagai contoh, Babad Tanah Jawi menyebutkan jumlah tentara Kompeni yang membantu Pangeran Adipati Anom menjadi Amangkurat II dan merebut tahta kerajaan Mataram ada sebanyak seribu delapan ratus orang dipimpin Amral Elduwelbeh, terdiri dari seribu orang-orang Makassar, Ambon, Ternate dan Bugis, sedangkan orang Belandanya hanya delapan ratus.

Demikianlah meski semula berhasil menduduki Sedayu, Lamongan, Jipang dan Tuban serta memperoleh dukungan dari Bupati Surabaya, Pamekasan dan Sumenep, akhirnya pada bulan November 1745 Cakraningrat berhasil dikalahkan oleh pasukan gabungan Kompeni yang lebih besar. Bersama kedua putrinya Cakraningrat melarikan diri ke Banjarmasin, namun oleh raja Banjarmasin dia ditangkap dan diserahkan kepada VOC, yang selanjutnya membawa ke Batavia serta mengasingkannya ke Pulau Robben di Afrika Selatan, yang makamnya kini dikeramatkan masyarakat Cape Town. (Wikipedia, Cakraningrat IV, dan http://www.duniapusaka.com/blog/kerajaan-madura,14Maret Maret 2018 jam 08.11).

Foto: Penulis bersama isteri di dermaga Pulau “Penjara” Roben, dengan jauh di latar belakang gerbang selamat datang, dan di samping kanan mural perjuangan rakyat Afrika Selatan

Catatan: Seri tulisan ini merupakan Bagian II dari seri tulisan PARA PAHLAWAN NUSANTARA DI AFRIKA SELATAN. Bagian ini dimaksudkan untuk menggali gambaran situasi yang melatarbelakangi mengapa sampai Pangeran Cakraningrat IV dibuang ke Pulau “Penjara” Robben nun jauh di Afsel. Kami berharap para pembaca dan terutama para ahli sejarah, pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat di berbagai daerah di Nusantara, dengan ridho dan berkahNya tergerak untuk menggali sejarah para pahlawan yang dibuang ke Afsel sampai kemudian menjadi tokoh-tokoh yang dimuliakan oleh masyarakat Afsel. Aamiin.
(Bersambung).

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized