Zaman Khianat


dsc_6536BERIKUT ini adalah intisari sambutan Ketua Badan Pengelola Pesantren Kepemimpinan Amanah, K.H. Moehammad Zain, selaku Pemrakarsa pada peluncuran buku ”Pengembaraan Batin Orang Jawa Di Lorong Kehidupan”, karya B. Wiwoho, Selasa malam 6 Januari 2009 atau malam 10 Muharam 1430H di Jakarta. Kalimat-kalimat tegur sapa, basa basi dan sebagian istilah-istilah asing disunting oleh Redaksi

MALAM hari ini adalah suatu kehormatan bagi kami dari Pengelola Pesantren Kepemimpinan Amanah yang dimotori oleh K.H. Ali Yafie, untuk meluncurkan buku karya Bambang Wiwoho. Prof. K.H. Ali Yafie memilih malam 10 Muharam ini guna memperingati Tahuh Baru Hijriah, sekaligus yang terpenting mengambil hikmah dari peristiwa hijrahnya Rasulullah Saw. Oleh karena itu perkenankan kami sedikit mengungkap peristiwa hijrah yang didahului dengan Perjanjian Aqobah, yang merupakan prasyarat Rasulullah untuk hijrah dari Mekah ke Yastrib (Madinah).

Beliau akan hijrah jika penduduk Madinah bersedia memenuhi 6 pasal perjanjian tersebut yaitu :

  1. Tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu
  2. Tidak serakah dan tidak mengambil hak orang lain
  3. Tidak berzinah
  4. Tidak membunuh anak-anak
  5. Tidak memfitnah
  6. Tidak durhaka terhadap perintah kebajikan

Setelah penduduk Madinah bersedia memenuhi enam hal tersebut, maka Rasulullah pun hijrah dari Mekah ke Madinah. Peristiwa hijrah ini pada hemat saya adalah sebuah revolusi. Maaf kalau saya menyebut revolusi, jangan diasosiasikan dengan Revolusi Bolsewyk, Revolusi Perancis, dan revolusi-revolusi sejenis lainnya. Revolusi yang saya maksud adalah keberanian untuk menjungkirbalikkan nilai-nilai jahiliyah dan menggantinya dengan nilai-nilai moral luhur menuju masyarakat madani.

Masyarakat madani pada hemat saya bukan sekedar social society, tetapi adalah sebuah tatanan masyarakat yang terdiri dari 5 (lima) unsur yaitu : (1) masyarakat religius, (2) masyarakat yang mengutamakan intelektual, (3) masyarakat yang menjunjung tinggi keadilan, (4) masyarakat yang berorientasi pada perdamaian, (5) masyarakat yang gemar menuntut ilmu sepanjang zaman, sepanjang hayat di kandung badan.

Dengan gambaran masyarakat madani yang seperti itu, bagaimanakah keadaan kita sekarang? Untuk itu ijinkanlah saya mengutip hadis Rasulullah, yang menggambarkan tentang nasib sesuatu umat di akhir zaman, yaitu antara lain akan datang kepada manusia di satu zaman, yang cita-cita mereka hanya perut semata-mata, yang kehormatan mereka diukur dengan harta bendanya, misal rumah besar dan mobil yang mengkilap, dan yang naudzubillah, kiblatnya nanti tergantung istri-istri mereka atau di bawah ketiak istri. Dan yang terakhir menurut Rasulullah, agama mereka itu nanti tergantung pada dirham dan dinar (red : uang).

Demikianlah kenyataan sekarang ini, karena tidak sedikit umat Islam, juga sebagaimana dikuatirkan Rasulullah, akan datang suatu zaman, di mana orang yang dusta dikatakan benar, yang benar dikatakan dusta, yang khianat dikatakan amanah dan sebaliknya yang amanah dikatakan khianat. Akan datang suatu zaman di mana orang bebicara plin-plan, mengatasnamakan orang banyak padahal untuk kepentingannya sendiri. Inilah kenyataan hidup sekarang ini.

Umat Islam di akhir zaman, menurut Rasulullah, akan menjadi seperti orang berebut makanan di atas meja. Mereka cakar-cakaran mencarai pengaruh atas umat Islam tersebut. Bertanya seorang sahabat, apakah karena saat itu jumlah kami sedikit? Jawab Rasulullah, tidak. Justru saat itu jumlah umat Islam banyak, tetapi seperti buih di atas air. Pada saat itu dicabut rasa takut lawan-lawan atau musuh Islam terhadap Islam. Sementara umat Islam dijangkiti penyakit cinta dunia takut mati.

Dalam rangka mengambil hikmah hijrah di tahun baru hijriah ini, maka peluncuran buku ”Pengembaraan Batin Orang Jawa Di Lorong Kehidupan” karya B. Wiwoho pada hemat saya merupakan berkah Allah SWT.

Secara pribadi, perkenalan saya dengan Pak Wiwoho terjadi pada acara Muktamar Muhammadiyah yang diawal 1990-an di Yogyakarta. (Waktu itu B. Wiwoho adalah salah seorang anggota panitia pada sidang-sidang Majelis Ekonomi Red). Sedangkan saya, maaf saya bukan Muhammadiyah dan juga bukan Nahdiyin, tetapi Muhammadinu. Mengambil pelajaran dari seorang ulama Bekasi, Almarhum K.H. Nur Ali, tuntutlah ilmu seperti orang Muhammadiyah dan beribadalah seperti orang Nahdiyin. Maka saya mengambil jalan tengah seperti itu, tidak memihak kanan kiri tetapi merangkul semuanya. Semoga rangkulan itu dapat menyatukan umat Islam. Amiin.

Alhamdulillah di tahun 2001, Pak Wiwoho, Pak Ali Yafie dan saya ditakdirkan menunaikan ibadah haji bersama-sama. Di tanah suci itulah kami bertiga berikrar, sepulang ke Indonesia nanti akan mengajak umat Islam mewakafkan diri dan sisa-sisa kehidupannya untuk kepentingan nusa dan bangsa, bukan untuk kepentingan golongannya.

Ikrar itu kami wujudkan antara lain dengan menyelenggarakan Pesantren Kepemimpinan Amanah, yang telah diikuti oleh sejumlah tokoh nasional yang antara lain hadir pula di acara ini. Juga para pembimbingnya seperti Prof. Dr. Mubarok dan Pak Qashim Saleh.

Sebagai putera Indonesia yang lahir di Singaraja, Bali, buku Pengembaraan Batin Orang Jawa ini menimbulkan gagasan untuk membuat perbandingan. Oleh karena itu dalam kesempatan ini saya juga mengundang keluarga mulsim Bali.

Kami melihat komperatifnya yaitu diawali dengan ma’rifatullah, sama kita, kemudian yang kedua, syariat, tarekat, hakekat naik lagi yang tertinggi adalah ma’rifatullah. Tapi di Jawa diambil ma’rifatullah sebagai awal, kemudian melompat ma’rifatullah advance. Di Bali tidak, kami runtut itu. Ma’arifatullah kemudian syariat. Karena itu tatkala memperkenalkan nama Allah, kami diajar untuk mengenal sifat 20 Allah yang selalu dilagukan dalam bentuk, barangkali kalau di Jawa dengan gamelan, dengan kidung, maka di Bali ada yang dipakai dalam bahasa Arab. Ternyata waktu saya pergi ke Istambul, Turki, lagu ini ada di sana. Sehingga saya katakan pada orang Turki, I dont know with this song, come from Turki to Indonesia? From Turki or from Bali, from Indonesia come to Turki, I dont know. Ini kebetulan lagunya sama. Itulah sekelumit barangkali apa yang dapat kami ungkapkan sebagai pemrakarsa dari peluncuran buku Bambang Wiwoho ini. ****

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s