Resensi Buku:Bagaimana Orang Jawa Memahami Agama (Islam)

batin-oj211 Pertama kali membuka halaman awal buku Pengembaraan Batin Orang Jawa di lorong kehidupan (PBOJ), saya seperti dibawa berkelana mengembara ke masa Majapahit di mana budaya Jawa terasa amat kental. Nama pengarangnya – B Wiwoho – yang Jawa banget menjanjikan sebuah voyage to the past. Tetapi kata sambutan yang di berikan oleh KH Ali Yafie akan membuat siapa pun segera terpelanting ke dalam aura keislaman yang tak kalah kental. Tak mungkin rasanya orang sekelas Kyai Haji Ali Yafie mau berpayah-payah menuliskan kata sambutan pada buku PBOJ ini. Dan karena itulah, saya pun jadi memaksa diri untuk melalap seluruh isi buku yang saya duga memiliki banyak noktah penting bagi keislaman pembacanya, termasuk saya.

Tetapi, nuansa keislaman yang saya harapkan ternyata tidak terpenuhi ketika saya tiba pada bagian pertengahan yang membahas bagaimana kebudayaan Jawa merasuk dan berasimilasi nyaris total dengan inti ajaran agama Islam. Dua kalimah syahadat yang sakral, menurut Wiwoho dan dibuktikan oleh para wali ternyata bisa disampaikan dengan mengasimilasikannya dalam budaya wayang yang saat itu masih merupakan media sosialisasi yang efektif. Keberanian Wiwoho dalam membandingkan Islam yang dikesankannya pelit, galak, doyan kawin dan keras, dengan pastur Kristen yang akrab dengan anak-anak dan berwajah dermawan dan saleh. Bagusnya, Wiwoho sudah memberi pengantar agar pembaca tidak tersinggung jika menemui paragraf semacam itu. Karenanya, saya menyarankan agar pembaca tidak melalap buku ini dengan cara ngaclok melompat-lompat menurut keinginan pembaca sendiri, kalau tidak ingin terjebak dan salah tafsir memahami PBOJ.

Bagusnya PBOJ adalah karena keseluruhan buku ini mengajak kita mengembara ke masa lalu (latar belakang budaya Jawa). Bagi mereka yang belum pernah bersentuhan dengan latar budaya Jawa, tentu akan merasa asing atau bahkan aneh. Apalagi jika membaca naskah asli kitabnya Ronggowarsito, yang banyak dikutip Wiwoho. Ada banyak kosa kata aneh yang sudah tidak pernah diucapkan di zaman ini, bahkan dalam kalangan masyarakat Jawa sekalipun. Bagaimana kentalnya budaya Jawa nampak membersit ketika Wiwoho menuliskan dhandanggulo – salah satu jenis lagu budaya Jawa – yang berisi ajakan untuk memaknai asal mula dan tujuan hidup manusia. Kalimat kawruhana sajatining urip adalah perintah untuk memahami hakikat kehidupan. Bagi masyarakat Jawa zaman sekarang, boleh jadi ada semacam pemahaman bahwa ajaran kejawen (kejawaan) adalah bersendikan agama. Tetapi bisa juga dipahami terbalik bahwa Islam sebagai agama menggunakan khazanah budaya Jawa untuk mengasimilasikan ajarannya ke dalam sosial budaya masyarakat Jawa. Paling tidak, Wiwoho mengingatkan kita bahwa para wali songo pada masanya, menggunakan budaya Jawa sebagai strategi memasukkan ajaran Islam ke dalam kancah hidup dan kehidupan masyarakat Jawa saat itu. Tetapi sebelum seluruh strategi itu terlaksana, Belanda masuk dan menjajah Indonesia yang menyebabkan strategi itu tergantung, dan malah menciptakan budaya transisional yang kemudian berkembang menjadi pemahaman Islam yang kejawen.

Belum tuntasnya para wali menyelesaikan pengajaran Islam itu, malah menyebabkan perkembangan dan pengembangan Islam di tanah Jawa menjadi bineristik. Satu cabang menuju pemahaman Islam yang seharusnya, cabang lainnya terus bertumbuh menjadi pemahaman yang agak aneh. Tuhan dan malaikat adalah objek abstrak yang menjadi noktah pembeda kedua cabang bineristik itu. Ketidaksebandingan Tuhan dengan segala makhluk, menjadi cedera ketika roh. Setan dan malaikat dipaksa untuk menjelma lebih konkrit. Dan karenanya, Tuhan juga ‘diseret’ turun agar mudah dipahami oleh budaya masyarakat Jawa. Hasilnya adalah pemahaman tasawuf yang nyeleneh, seperti orang Islam yang merasa tidak wajib shalat.

Membaca buku ini sungguh tidak sia-sia. Wiwoho kelihatannya mengexplore dan mendalami setiap materi yang ditulisnya. Tak heran jika ada terkesan bahwa sang penulis mencoba menghadirkan pemahaman keislamannya dengan terlalu divergen dan tidak fokus. Begitu juga dengan pemahamannya terhadap budaya Jawa. Memang sih, PBOJ bukanlah buku agama, juga bukan melulu buku budaya. PBOJ adalah buku asimilasi agama (Islam) dengan budaya Jawa, yang menurut penulisnya sendiri, membuat orang masa kini tidak mengenali perbedaan budaya dan agama. Kalau dikaji lebih seksama, ada kesan bahwa penulisnya ingin mengajak pembaca untuk lebih membumikan ajaran agama ke dalam konteks bersosial budaya, sehingga agama tidak sekadar berkesan sakral, tetapi menjadi bagian dari keseharian. Lebih jelasnya, Wiwoho ingin meneruskan misi para wali yang mandheg dan membuahkan pemahaman biner tadi. Pada bingkai ini, PBOJ boleh diacungi jempol. Tetapi bukan tak mungkin, bagi pembaca kritis di zaman sekarang ini, PBOJ tidak akan membawa pengaruh positif bagi pemahaman Islam secara kaffah, seperti yang dimaui Qur’an.

Wiwoho terlihat terlalu terikat dengan masa kecil dan latar belakang budaya yang dilalui dalam kehidupannya. Pertanyaan mendasarnya adalah, apakah kita harus membumikan ajaran agama dengan cara mengasimilasikannya dalam sebuah bingkai budaya – seperti yang dilakukan para wali, atau kita yang harus merubah diri dan budaya kita agar lebih sesuai dengan tuntunan (bukan tuntutan) budaya Qur’an. Wiwoho menyindir ini di bab 10 halaman 102 dengan menyatakan bahwa anak sekarang lebih mengenal budaya Arab daripada budayanya sendiri (Jawa). Kalau mau dibahas, apakah gejala ini adalah sebuah keberhasilan atau kemunduran. Jawabannya sangat tergantung dari arah mana kita mengorientasinya. Jika Wiwoho mengatakan ini sebagai nilai yang negatif. Padahal, barangkali itu justru menunjukkan semacam keberhasilan Islam dalam mengubah orientasi manusia. Istilah Wiwoho adalah budaya Arab, tetapi yang terbaca itu adalah budaya Qur’an. Hanya karena latar belakang Qur’an itu Arab, maka yang terbaca oleh Wiwoho adalah budaya Arab. Lalu, apa bedanya dengan PBOJ sendiri, yang lebih memandang kehidupan (dan agama Islam) dari hitam putihnya budaya Jawa.

Setelah mengeksplor keseluruhan isi buku ini, penulis menyimpulkan tidak ada yang bisa disimpulkan. Buku ini menceritakan kisi-kisi Islam terlalu melebar (dan cukup mendasar), selebar bentangan budaya Jawanya. Pembaca hanya diajak berkelana dan mengembara menjelajahi situs-situs budaya kuno dan digiring untuk tiba pada sebuah kesimpulan bahwasanya budaya Jawa adalah budaya luhur yang sangat bersesuaian dengan agama (Islam). Itu sih sah sah saja. Wong Pak Wiwoho itu asli wong Jowo. Yang paling baik lagi adalah jika kita bisa menemukan buku lain yang ditulis oleh orang Padang, Batak, Cina atau puak lainnya. Kita yakin bahwa setiap suku memiliki budaya sendiri yang diyakininya baik dan mulia, bersesuaian dengan agama.

Kekritisan pembaca sangat diperlukan untuk menarik kesimpulan positif dari buku ini. Karena jika PBOJ dibaca secara datar dan tanpa perbandingan, sangat mungkin pembaca akan berkesimpulan bahwa budaya Jawa itu sangat Islam banget. Padahal, jika ini dibiarkan, maka akan lahir aliran Islam Kejawen, Islam Betawi, Islam Padang, Islam Cina, Islam Arab dan Islam-islam lainnya. Kekuatan Islam yang sebenarnya justru pada keasliannya yang kental berbau Arab.

* Penulis Resensi: Djoko Sugiarno

Dimuat di Harian WASPADA Medan, – 18 Januari 2009.

4 Comments

Filed under Uncategorized

4 responses to “Resensi Buku:Bagaimana Orang Jawa Memahami Agama (Islam)

  1. Menarik.
    Saya pernah menulis seputar topik yang mirip dengan ini disini: http://undzurilaina.blogspot.com/2007/12/islam-jawa-may-be-yes-may-be-no.html

  2. “Pertanyaan mendasarnya adalah, apakah kita harus membumikan ajaran agama dengan cara mengasimilasikannya dalam sebuah bingkai budaya – seperti yang dilakukan para wali, atau kita yang harus merubah diri dan budaya kita agar lebih sesuai dengan tuntunan (bukan tuntutan) budaya Qur’an.”

    jadi penasaran pada bab ini ngkong. trims share ripiwnya. salam🙂

  3. islamjawa

    Aswrwb.
    Mbak Erni “Paijah”, alhamdulillah baru saja kami muat seri dakwah Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga di Tanah Jawa. Semoga berkenan.
    Salam ta’zim.
    B.Wiwoho.

  4. islamjawa

    Aswrwb.
    Mas Umar, subhanallah walhamdulillah. Semoga berkenan membagi pengalaman dan pengetahuannya.
    Salam ta’zim.
    B.Wiwoho.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s