Prof. Bismar Siregar, SH : INDAH dan BERSEJARAH

dsc_668810

Alhamdulillah dengan niat yang ikhlas dan tulus kita berhimpun di sini mensyukuri karunia rahmat, dengan telah terbit satu buku, yang bagi saya luar biasanya bagusnya. Saya tidak membayangkan Pak Wiwoho mampu menuangkan pemikirannya di dalam buku yang sedemikian itu.  Tapi yang paling berkesan bagi saya ialah, sebutannya kepada ibunda almarhumah. Saya juga, selalu ibu yang menjadi panduan hidup saya. Ibu saya, ibu saya dan ibu saya. Bukan tidak ada peran bapak saya, ada. Tetapi ibu saya itulah yang mengandung saya 9 bulan 10 hari. Menangis saya, tersenyum ia, disapih dan seterusnya, oleh karena itu sampai dengan usia 100 tahun, saya berdoa illahi ya robbi, janganlah panggil aku mendahului ibuku, biarkan aku antar ke pemakaman sebagai anak yang berbakti kepada ibunya. Lima tahun yang lalu ia telah tiada. Subhanallah alhamdulillah.

Oleh karena itu, saya sangat-sangat seperasaan, dengan apa yang dikatakan oleh Pak Wiwoho. Bedanya hanya satu, ibunda guru sekolah rakyat, ibu saya buta aksara, sehingga saya tidak tau dari mana ibu saya mampu mendidik saya menjadi Bismar yang seperti sekarang ini. 

Tentang judul buku Pengembaraan Batin Orang Jawa, barulah juga saya tahu, betapa makna Jawa itu dalam kehidupan kita sebagai insan di Indonesia. Memang Islam selalu tidak membedakan suku dan sebagainya. Dalam Surah An-Nisa dinyatakan: “kuciptakan kau dari yang satu, kulengkapi dengan pasangan, beranak pinak dan seterusnya, untuk saling berkenalan dan seterusnya”. Oleh karena itu Jawa itu bukan sesuatu yang dipantangkan, malahan kita bahagia terdiri dari suku-suku. Namanya Batak, tapi Hariman tadi beda wataknya dengan saya. Hariman menggebu-gebu, saya ingin menyampaikan kata-kata yang halus dan menyejukkan. Karena situasi kita sudah panas sekarang ini, kalau ikut memanasi lagi, mau kemana lagi kita.

Saya juga bahagia, tadi katanya, Ketua Partai Demokrat Pak Mubarok, ada hadir. Saya baca salah satu bukunya, mungkinkah barangkali ini, Etika dan Moral Kepemimpinan, ditulis oleh Dr. Achmad Mubarok MA dan Bapak B. Wiwoho. Saya baca dan baca, barulah saya mengetahui betapa dalamnya pengetahuan keIslaman mereka di dalam kepemimpinan. Mudah-mudahan itu juga menjadi kenyataan nanti, kalau kita dalam pilpres, jangan pilih orang yang menghendaki jabatan, orang yang menghendaki jabatan, salah, tidak boleh ditiru. Jangan pilih orang yang minta-minta jabatan, jangan sekali-sekali. Jangan. Saya bukan memanas-manasi Hariman, bukan. Saya ingin menempatkan segala sesuatunya dalam proporsinya.

Oleh karena itu pada kesempatan ini, saya ingin sampaikan sebuah buku, baru juga, tetapi belum diluncurkan, meskipun telah ada di tengah masyarakat yaitu, judulnya ”Surat-surat Mantan Hakim Agung kepada pemimpin-pemimpin”. SBY, Habibie, Gus Dur, kemudian Mega, juga Pak Harto. Di situ antara lain saya sebut-sebut SBY-SBY bertobatlah kepada Tuhan, terlampau banyak dosamu di dalam kehidupan negara ini. Saya bukan mengada-ada, karena saya cinta SBY seperti mencintai diri saya sendiri, karena di dalam Islam dipesankan cintailah sesamamu seperti mencintai dirimu. Kenapa saya ajak dia bertobat, di halaman satu tulisan saya, saya mengatakan, jangan biarkan lama-lama rakyat menderita, SBY, setahun mereka telah menangis, baru setahun engkau pergi ke lumpur panas Sidoarjo. Engkau melihat dan engkau pun berkata, menangis aku. Kenapa setelah setahun engkau datang ke situ, kenapa engkau tidak segera menangani masalah mereka? Lupakah engkau bahwa doa orang teraniaya langsung diterima oleh Allah dan Allah akan membalas dan seterusnya.

Saya sama, Pak Wiwoho, saya dilahirkan bukan dari pesantren. Saya juga tidak tau bahasa Arab, tetapi saya mau untuk menyampaikan ajaran agama. Karena bahasa Arab itu memang benar penting untuk memaknai Islam, tetapi bukan itu dan bukan itu, kalau mengerti hati kita mampu menjabarkannya. Karena itu kalau saya berkata pada kesempatan ini, marilah kita membaca Wal Ashri, kalau saya berdialog dengan Allah dan berkata Illahi robbi, kenapa engkau bersumpah demi masa makhlukmu itu, seakan beliau menjawab hamba Ku Bismar, jangan engkau tergolong yang merugi. Bagaimana jangan sampai saya tergolong yang merugi Illahi Robbi? Berbuat kebajikan, berbuat kebajikanlah selama nafas masih berada dalam dirimu. Jangan abaikan, jangan abaikan nafasmu itu. Itulah Illahi Robbi. Betul. Saling ingat-mengingatkan.

Oleh karena itu, saya tulis buku ini, mungkin bagi sementara orang, kasar kali kau Bismar. Kasar atau tidak, menurut penilaian manusia, saya tidak pedulikan asal Allah tidak berkata engkau kasar dan engkau menyampaikan sesuatu yang baik untuk peringatan kepada sesamanya. Oleh karena itulah makanya kalau tadi demokrasi, apa sih demokrasi, bagi saya sangat sederhana. Demokrasi itu tidak lain, apa pun yang engkau perbuat lillahi ta’ala.  Tolong pakai demokrasi juga kalau memilih nanti, lillahi ta’ala. Kalau sudah terpilih jangan abaikan lagi rakyat. Rakyat menunggu. Oleh karena itu lah di dalam membaca buku itu, saya baca buku yang sangat indah Pak Wiwoho, di sini juga (buku Pak Bismar, red), yaitu apa namanya itu, seorang Abu Dzar. Abu Dzar, ku kenang kau di pagi hari ini, sudah satu kali, kemudian timbul lagi masalah lain, aku tulis lagi Abu Dzar, timbul lagi masalah, aku tulis lagi Abu Dzar. Kutulis lagi untuk mengingatkan kita semua, tolonglah jadikan Abu Dzar sebagai pedoman hidup kita, baik sebagai pejabat atau pun bukan. Abu Dzar yang tidak bisa disogok, ia ikhlash mati di tengah padang pasir bersama istri dan anaknya, dibuang oleh pejabat pemerintah, itulah Abu Dzar.

Yang kedua ialah, Bilal Berkisah Di Hari Tuanya. Indah sekali Bilal ini, tidak pernah tersimpan dendam di dalam dirinya. Adakah kita tidak ingin setelah membaca buku dari Pak Wiwoho, menyampingkan kalau ada dendam di dalam hati kita, hapuskan dendam itu lihatlah semuanya dengan akhlak yang baik. Bilal berkata, tidak sehari pun dalam hidupku aku merasa, merasa dianiaya walaupun di tengah padang pasir, di tengah panas matahari, diancam dan disiksa dan seterusnya. Namun dia mengatakan tidak ada dendam di dalam hatiku terhadap siapa pun juga. Umayah yang menganiayanya dia bunuh. Dia menangis seakan berkata betulkah bukan karena dendamku membunuh dia?

Masih ada lagi Pak Wiwoho, yang saya anggap sangat baik sekali, karena seminggu yang lalu waktu ta’ziah saya sebut Muhammad Rasulullah. Selesai, datanglah kawan saya orang Jawa, dia bukan orang Sumatera. Di bilang, Pak Bismar jangan Rasulullah saja. Sallahu Alaihi Wassalam itu yang saya baca di buku. Kalau Gusti, Gusti dan seterusnya, dan seterusnya. Memang bahasa Jawa dipenuhi dengan sebutan-sebutan yang mengagungkan seseorang. Tapi kami orang Sumatera tidak ada yang demikian itu. Oleh karena itu saya melihat salah satu buku yang indah sekali, saya bawa dan saya serahkan buku-buku itu nanti untuk yaitu pesantren kita. Muhammad Rasulullah juga manusia biasa. Adakah kita tidak tersentuh mendengar kata-kata demikian? Muhammad Rasulullah juga manusia biasa. Saya tidak mengurangi hormat orang Jawa menyebut junjungan Kanjeng dan seterusnya. Mari kita jadikan itu juga ciri dari kebangsaan budaya kita. Tapi biarkan pula si Bismar kalau berucap lupa Sallahu Alaihi Wassalam, bukan kurang imannya di dalam memberikan penghargaan terhadap Rasul kita.  

Mudah-mudahan inilah, akhir dari pesan-pesan saya pada waktu peluncuran buku yang sangat indah dan bersejarah nanti. Mudah-mudahan Pak Wiwoho, saya juga ikut nanti menikmati mengenai desa, apa namanya? Desa buku, karena beliau menawarkan, Pak Bismar, kalau engkau mau melukis, datanglah ke sana, disiapkan di sana, silahkan datang, Memang saya suka melukis dan itu pun karena rahmat Illahi Robbi. Menulis alhamdulillah, berbicara pun alhamdulillah. Melukis pun alhamdulillah, sayangnya menyanyi tidak. Orang Batak biasanya suka menyanyi. Terima kasih, dan ijinkan saya menyerahkan buku Surat-Surat Kepada Pemimpin, saya serahkan kepada Pak Mubarok, supaya disampaikan nanti kepada Pak SBY. Karena saya katakan SBY bertobatlah, bertobatlah. Mudah-mudahan nanti disampaikan. Karena terus terang saya bilang, setiap surat yang saya kirimkan kepada SBY nggak pernah dijawab, ndak pernah. Kalau setiap surat saya kirimkan kepada Gus Dur, dijawab walaupun dia tidak membaca, sekretarisnya membaca. Saya tidak tau akhlak siapa yang paling baik, Gus Dur atau SBY?***

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s