Hariman Siregar : OBAMA ITU JAWA

dsc_6653

Pertama-tama saya ucapkan selamat dulu kepada pimpinan Badan Pengelola Pesantren Kepemimpinan Amanah yang meluncurkan buku. Kemarin mas Wiwoho sudah bilang sama saya, kalau menyambut jangan bicara tentang mas Wiwohonya atau membahas bukunya, karena ini bukan tinjauan ilmiah. Tapi saya pikir-pikir, kalau bicara mengenai orang Jawa dalam pengembaraannya di lorong kehidupan, yang saya ingat adalah kata-kata seorang teman saya seorang profesor di Berkley. Teman ini adalah seorang aktivis sama-sama saya zaman mahasiswa. Dia ke Amerika jadi profesor di Berkley, dan dia teman dari ibunya Presiden Obama yang terpilih kemarin ini.

Dia katakan kepada saya, ”Sebenarnya Man, kalau saya melihat Obama ini saya ingat bukan presidennya, tapi dia ini adalah anaknya si Ann, itu adalah ibunya Obama”.

Menurut teman saya, profesor ini, Obama ini adalah seorang Jawa. Kalau kita lihat definisi Pak Ali Yafie tadi, karena kalau menurut Sylvia Gunawan, Profesor kita ini, dia tahu betul karena dia bergaul dekat sekali sama si Ann itu, bagaimana Ann ini mengagumi Jawa dan mempelajari Jawa.

Jadi Obama ini, menurut itu profesor, dikagumi oleh orang-orang Amerika, terutama dalam perdebatannya, dengan Mc Cain dll, bisa sabar begitu, orang-orang Amerika kagum, kalau Syvie nggak kagum, karena dia mengikuti di Amerika, karena ini sebenarnya orang Jawa yang berdebat gitu lho. Jadi orang Jawi.

Kalau tentang Jawa, sebelum ketemu mas Wiwoho, saya sudah ketemu dengan mas Willy, mas Willy itu Rendra, dialah yang selalu membriefing saya sejak 1970, apa Jawa itu. Karena dianggap saya ini belum jadi Jawa waktu itu. Dia merasa saya mesti kenal Jawa kalau mau ngalahkan Jawa. Jadi karena itu waktu Pak Ali Yafie tadi berbicara mengenai definisi sosiologinya, definisi politiknya dan definisi lainnya mengenai Jawi, mengenai kepribadiannya, saya betul-betul  teringat Obama.

Jadi kelemahan kita sekarang ini, kalau kita bicara dengan konsep mas Wiwoho, sebenarnya yang mau dibicarakan oleh mas Wiwoho dalam bukunya ini kan sederhana, bahwa dalam keadaan yang penuh dengan globalisasi, kemajuan teknologi dan lain-lain sebenarnya yang diingatkan oleh mas Wiwoho, jangan lupa bahwa kita itu adalah manusia, kita itu adalah individu, jadi keindividuan kita, kemanusiaan kita nggak boleh dikalahkan oleh segala macam kemajuan teknologi dan lain sebagainya, apalagi dengan institusi-institusi yang baru dibangun untuk demokrasi, atas nama negara. Kalau itu menekan kehidupan kita sebagai manusia, sia-sia gitu lho.

Lembaga-lembaga yang kita bangun,  dan memang itu, saya kira yang mesti menjadi perdebatan kita terus menerus, apakah peraturan, apakah lembaga, itu sejauh mana, akhirnya, itu mensejahterahkan hidup kita apa tidak.

Karena itu, kalau kita melihat krisis besar yang sekarang dihadapi dunia, maka itulah tantangan yang dihadapi oleh Obama. Kita bisa bayangkan juga keadaan kita yang akan datang dalam tempo 3 bulan, dan 6 bulan lagi, yaitu dari pemilihan legislatif dan pemilihan presiden. Apakah memang dari sistem lembaga-lembaga politik, lembaga-lembaga negara yang kita buat ini. KPU-nya dan sebagainya, apa memang bisa melahirkan pemimpin yang amanah tadi, termasuk juga apakah seorang Obama yang dididik oleh kehidupan Jawi ini nanti, bisa mengatasi krisis yang besar di Amerika. Apakah dia nanti bisa menang melawan lembaga-lembaga resminya, melawan parlemennya, melawan persnya, Karena kalau saya lihat sekarang ini, hampir dari semua lingkungan, tidak ada lagi keberanian dari seorang individu untuk keluar dari lingkungannya, untuk berperang dengan lingkungannya. Hampir semua mengumpet dalam lingkungannya, melakukan, incest lah kalau menurut saya sekarang ini, nggak ada yang berani. Ini kan nggak bener, apalagi orang Jawa yang menjadi Presiden kita sekarang ini. Betul-betul menurut saya, dia, apa ini yang disebut tradisi. Jadi apa ini orang Jawa. Kalau ini, kalau Obama seperti SBY ini, dia juga pasti gagal. Karena memang tantangan kita nanti, sebenarnya adalah bagaimana, yang mau saya katakan tadi seperti Mas Wiwoho dalam concernnya itu, yang dia bicarakan dalam bukunya itu kan, bahwa pada akhirnya kita ini manusia. Kita ini mempunyai keberanian. Kita mempunyai tradisi. Kita mempunyai apa, mempunyai tujuan. Tujuan itu kan, mati itu pasti ya kan. Maka selama dalam kehidupan ini, itu yang Mas Wiwoho bilang, adalah demi kemanusiaan kita sendiri, manusia yang besar ini.

Jadi saya tutup dengan itu aja, bahwa sebenarnya buku ini saya kira sangat pas kalau kita bayangin dengan tantangan yang kita hadapi dan kita lihat juga nanti di dalam skope besarnya seorang Jawi yang memimpin Amerika, karena ini betul-betul, saya kira.  Obama ini nggak punya tradisi negro. Dia dibesarkan dan sering ke sini. Jadi walaupun dia pulang umur 10 tahun ke Amerika, tapi ibunya sering bawa dia libur ke sini, jadi kalau si Ann itu katanya ke Indonesia, Obama itu ikut. Dan Obama pun nulis buku yang terakhir itu di Bali, Indonesia. Jadi, walaupun mungkin pada masa kampanyenya nggak banyak bicara mengenai Indonesia, tapi mungkin karena bagi dia nggak perlu. Dan di situ saya duga SBY nggak Jawa, waktu bawa-bawa foto Obama waktu kecil ke Amerika.  Sama seperti kalau kita datang ke SBY, kita bawa foto dia lagi telanjang di SD, kan dia juga nggak senang. Saya kira itu aja menurut saya, komentar saya  mengenai buku ini. ***

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s