Dari Bedah Buku : KALAU DAKWAH “HITAM – PUTIH” ORANG JAWA LARI SEMUA

Alhamdulillah semenjak diluncurkan 06 Januari 2009, buku ”Pengembaraan Batin Orang Jawa Di Lorong Kehidupan” telah dua kali dibedah dalam dua forum yang dihadiri sejumlah tokoh senior.

Bedah buku pertama (BB I) diselenggarakan oleh Yayasan Bhineka Tunggal Ika yang dipimpin oleh DR. Sulastomo, MPH di Pondok Indah Jakarta, sedangkan bedah buku kedua (BB II) diselenggarakan oleh Majelis Taklim Masjid Al-Kautsar yang dipimpin oleh Moehammad Amin di Masjid Al-Kautsar Kompleks Danau Bogor Raya, Bogor.

Dalam BBI, diskusi mengarus pada dua topik utama, yaitu metode dakwah dan tasawuf khususnya tentang hakikat kehidupan dan ma’rifat.

Mengenai metode dakwah, Sekretaris Umum Dewan Masjid Natsir Zubaidi misalkan, menyambut baik buku yang sangat kontemplatif ini. Dari buku ini dapat diketahui bagaimana Islam menyebar luas di pulau Jawa dengan menghargai kearifan lokal yang ada. Agama pada hakikatnya jangan hanya sekedar dijadikan ilmu dan keyakinan, tapi harus dihayati dan diamalkan dalam perilaku. Agar proses tersebut berjalan baik, maka dewasa ini kita perlu mengkaji secara mendalam kearifan-kearifan lokal masyarakat dan metode-metode dakwah yang kontemplatif.

Tentang tasawuf, para peserta pada umumnya mengajak agar kita senantiasa mengingatkan masyarakat bahwa syariat, tarekat, hakikat dan ma’rifat itu merupakan satu paket dan jangan dipisah-pisah. Yang juga sangat penting adalah bagaimana kita dapat memaknai kehidupan ini secara hakiki serta berani melakukan nahi munkar dan jangan hanya sekedar amar ma’ruf.

BB II diawali pembahasan oleh Rektor Universitas Ibnu Khaldun, Prof. DR. Didin Buchori yang mengatakan, kesan pertama tatkala membaca judul buku adalah untuk mempopulerkan synkretisme, tapi ternyata tidak. Ia menghargai keterusterangan penulis yang menggambarkan perjalanannya dalam kehidupan beragama, dan pada hematnya telah menemukan Islam dan Gusti Allah.

Tentang syiar Islam, Prof. Didin membandingkan penyebaran Islam ke Andalusia dan Eropa dengan penyebaran ke Nusantara khususnya Jawa. Penyebaran ke Andalusia dan Eropa dilakukan melalui peperangan, sedangkan yang ke Nusantara dilakukan  melalui 6 hal yaitu :

  1. jalur ekonomi khususnya perdagangan;
  2. jalur politik antara lain mendirikan Kesultanan Demak;
  3. jalur perkawinan;
  4. jalur pendidikan;
  5. jalur kebudayaan;
  6. bercorak tasawuf;

Tokoh senior Yusuf Syakir menggarisbawahi uraian Prof. Didin, dakwah dan syiar Islam di Nusantara  khususnya Jawa berlangsung secara evolutif. Kalau dakwahnya hitam putih, ya orang Jawa akan lari semua. Contoh Sekaten di Yogya dan Solo adalah cara-cara evolutif kultural dan bukan revolusi. Dengan cara evolutif seperti itu maka sebagian besar orang Jawa dan Indonesia sekarang masuk Islam. Kalau toh ada yang Islamnya belum sempurna ya mari kita sempurnakan.

Cara evolutif terbukti jauh lebih bagus dibanding hasil syiar ke Andalusia dan Eropa. Oleh sebab itu ia menganjurkan agar dalam berdakwah para da’i sebaiknya, ”lihat audiens, kultural dan pelan-pelan”.

Tentang buku, ia menyatakan apa yang dialami dan dikemukakan penulis, dialami pula oleh orang Jawa pada umumnya termasuk dirinya sendiri. Ungkapan Yusuf Syakir disambut oleh Wisnu Garjito dengan menyatakan, baru membaca ringkasannya saja bulu romanya merinding, terharu teringat pengalaman yang sama, yang selama beberapa tahun terakhir sempat terlupakan dalam hiruk pikuk kehidupan metropolitan.

Ketua Pengurus Besar Nadhatul Ulama Masdar F. Mas’udi, memberikan apresiasi kepada penulis dan menyatakan kehadiran buku ini tepat waktu. Ia yakin buku ini akan memberikan manfaat kepada kita semua khususnya umat Islam, untuk lebih melihat kembali hubungan antara agama dan budaya secara positif. Lebih-lebih setelah belakangan ini ada kesan kecenderungan untuk membawa ke satu budaya dan bangsa tertentu.

Dakwah agama pada hematnya adalah penyadaran. Oleh karena itu harus dilakukan dengan persuasi, penalaran dan menyentuh akal budi, dan bukan semata-mata syariat. Memang semenjak awal perkembangannya, ada tiga macam aliran yang jika disederhanakan terdiri dari kiri, tengah dan kanan. Ketiganya sama-sama mengklaim menegakkan hukum Allah, namun aliran kanan sangat anti pada tradisi. Tatkala Islam masuk ke Jawa, masyarakat Jawa sudah memiliki tata nilai, tradisi dan budaya yang mapan. Oleh sebab itu para wali berdakwah tidak pada harfiahnya tapi dengan esensinya.

Muhammad Amin menutup diskusi dengan menyatakan, proses akulturisasi tidak bisa dihindari dalam kehidupan. Karena itu kita harus berani untuk terus mengkaji dan memperbaiki metode dakwah yang bisa membawa umat pada pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari yang rahmatan lil alamin, dan bukan untuk membuat umat menjadi seperi ”orang-orangan.***

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s