Mutiara Kehidupan Untuk Anak

Cv MutiaraMutiara Kehidupan

yang dikemas menjadi buku kenangan dan

souvenir ini sangat bermanfaat

terutama dalam membina, mendidik dan

membekali anak-anak kita

dengan nasihat-nasihat keagamaan.

Sebagai orang tua, hal ini juga merupakan

pemenuhan kewajiban kita terhadap anak.

[ Prof. KH. Ali Yafie ]

Mutiara adalah lambang keindahan

yang tahan terhadap perubahan.

Meski terendam dalam lumpur

selama ratusan tahun, mutiara itu tetap indah.

Buku kecil karya B. Wiwoho ini

berfungsi sebagai mutiara, jika direnungkan isinya

dan dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari.

[ DR. Achmad Mubarok, MA ]

Pendahuluan

Bulan Juni 2004 ini usia saya genap lima puluh enam tahun. Bulan depan insya Allah saya akan menikahkan putera saya yang pertama. Terhadap kesibukan rencana pernikahan itu sendiri saya tidak pernah risau, bahkan mungkin agak kurang peduli. Pasalnya, saya punya prinsip hidup untuk tidak ingin merepotkan orang lain, dan berjalan sesuai kewajaran. Sepanjang menyangkut diri pribadi, hal itu saya pegang teguh.

Tatkala melamar seorang gadis yang kini menjadi istri saya pada bulan September 1976, saya melakukannya seorang diri. Sedangkan tawaran untuk menyelenggarakan pesta pernikahan dari Jenderal M. Yusuf, waktu itu Menteri Perindustrian dan juga dari seorang rekan pengusaha, almarhum Pak Rustam, saya muliakan tetapi juga sekaligus saya tolak dengan halus. Sementara itu kami cukup puas dengan membuat selembar pemberitahuan kepada handai tolan sekaligus permohonan doa restu atas pernikahan kami, Senin 13 Juni 1977 di Klaten tanpa alamat.

Demikian pula tatkala beberapa bulan yang lalu saya sakit tifus hampir sebulan penuh, hanya anak istri, pengemudi dan dua orang sahabat kepercayaan di kantor yang boleh tahu. Tentu saja juga dokter dan para perawat. Itu pun mereka hanya masuk ke kamar pada saat memeriksa, memberi obat atau mengantar makanan. Sakit dalam sunyi seperti itu sungguh saya nikmati sebagai sarana latihan olah jiwa, olah batin.

Tetapi atas pernikahan anak saya, telah be­berapa bulan ini istri saya mendesak supaya saya melakukan sesuatu, yaitu membuat semacam buku kenang-kenangan kecil, minimal berupa kumpulan beberapa ayat atau surat dalam Al-Qur’an. Permintaan tersebut tentu tidak bisa saya abaikan begitu saja. Persoalannya kalau hanya sekedar kumpulan surat atau ayat suci, kenapa mesti membuat buku sendiri? Kenapa tidak satu set Al-Qur’an secara lengkap?

Sementara itu, mau membuat tulisan sendiri, semula agak aneh. Seorang awam, muslim abangan yang selama ini menjadi obyek dan sasaran dakwah para ustadz dan kyai, kok mau sok-sokan memberikan nasihat keagamaan. Di lain pihak, walau secara pribadi saya masih jauh dari puas, kedua anak saya telah memperoleh kesempatan mempelajari Islam secara formal lebih baik dibanding saya. Semenjak balita untuk mereka telah kami panggilkan guru ngaji ke rumah. Selanjutnya Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atasnya di Pesantren Islam Al-Azhar.

Namun demikian, setelah saya timbang-timbang, akhirnya saya beranikan juga untuk meng­himpun Mutiara Kehidupan ini. Saya yakin, anda para orang tua, pasti akan me­nyadari betapa pun kita memiliki usia dan pengalaman hidup yang lebih banyak dibanding­kan anak-anak kita. Kita pernah menjadi muda, dan sekarang sudah tua. Sementara anak kita baru sedang menjadi muda, dan belum pernah menjadi tua. Di samping itu bukankah Kanjeng Nabi Muhammad senantiasa menganjurkan agar kita mau mengajarkan ilmu pengetahuan kepada orang lain, apalagi kepada anak sendiri.

Semula saya bermaksud menuliskan pencarian dan pengembaraan spiritual saya sebagai orang awam yang selama ini menjadi sasaran aneka, sasaran sejuta dakwah. Saya telah menulis beberapa topik, bahkan telah memberi judul kumpulan tulisan saya tersebut: “Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan”. Tetapi berbagai pesona dunia telah melalaikan saya, sehingga setelah beberapa bulan saya masih belum bisa menye-lesaikan, apalagi memintakan konfirmasi dan koreksi dari sejumlah guru dan kyai yang saya kutip nasihat serta ajaran-ajarannya. Maka saya beranikan menulis khu­sus, dengan cara menghimpun beberapa butir mutiara, ruh, semangat, etika dan moral keagamaan, yang kemudian saya beri judul “MUTIARA KEHIDUPAN UNTUK ANAK”.

Mu t i a r a  1

Taat Kepada Gusti Allah dan Kanjeng Nabi

Saya berharap anda para orang tua, setuju jika Mutiara 1 untuk anak-anak kita adalah mereka harus senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mengapa? Karena Gusti Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi, bahkan di seluruh jagad raya ini telah berulang kali menjanjikan di dalam Al-Qur’an, akan menganugerahkan kebahagiaan dan kemuliaan di dunia maupun di akhirat, untuk mewariskan bumi ini kepada hamba-hamba Nya yang senan­tiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Marilah kita renungkan beberapa contoh berikut ini. “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya agar kamu diberi rahmat.” (Ali Imran : 132)

Kemudian Al-Anbiyaa’: 105, “Dan sungguh kami telah menetapkan di dalam Zabur sesudah peringatan (Taurat) bahwa sesungguhnya bumi akan diwarisi hamba-hambaku yang saleh.”

Selanjutnya lebih tegas lagi adalah An Nur: 52, 54 dan 55. Ayat 52 dan 54 memerintahkan agar kita taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kemudian ayat 55 menegaskan sebagai berikut : “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara kamu, sungguh Dia akan menjadikan mereka pimpinan di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan pemimpin orang-orang sebelum me­reka, dan sungguh Dia meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan sungguh Dia akan menggantikan ketakutan mereka dengan keamanan. Mereka menyembah-Ku, tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu. Dan barang siapa yang ingkar sesudah demikian itu, maka mereka itulah orang yang fasik.”

Masih banyak lagi ayat-ayat yang memuat janji-janji Allah untuk memudahkan jalan keluar dari berbagai kesulitan, memberi rezeki yang tiada disangka-sangka datangnya, melimpahkan barokah-Nya dari langit dan dari bumi, membuat hamba-hamba-Nya tidak akan merasa khawatir dan tidak pula bersedih hati, memberikan per­bedaan yang benar dan yang salah, menghapus­kan dosa-dosa dan kesalahan serta menga­nugerahkan pahala yang baik di akhirat kelak. Dan, “Tidak ada perubahan dari janji-janji Allah. (Yunus : 64)

Demikian tegas janji-janji Allah, bahkan diulang-ulang. Tetapi wahai anak-anakku, cin­dur­mata dalam hidupku, mengapa banyak umat Islam yang terpuruk kehidupannya di dunia?*) Mengapa banyak di antara kita yang hidup men­derita, miskin dan papa? Bodoh dan terbelakang? Didera berbagai wabah penyakit dan bencana? Jawab­annya hanya satu. Kita tidak sungguh-sungguh taat kepada Allah dan Rasulullah.

Camkanlah itu. Carilah kesalahan, keku­rangan serta penyebabnya pada diri kita sendiri dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah Pangeran Yang Maha Agung dan juga ketaatan kepada Baginda Rasul. Jangan mencari-cari ke tempat lain, ke orang lain, ke sebab-sebab yang lain. Lebih-lebih meragukan kemahaadilan Allah Swt. Naudzubillahimindzalik.

*) Kenapa Umat Islam Terpuruk, dalam “Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan”

Bagaimana kita menaati Allah? Dari mana sumber ajaran dan hukumnya? Dari Al-ur’an. Ikutilah apa yang diuraikan Allah di dalam Al-Qur’an tersebut secara sepenuh-penuh ke­yakinan. Secara mantap, jangan ragu dan bimbang. Jangan berkilah, jangan berdalih untuk mengelaki-Nya. Sebab inilah modal pokok, inti­sari beragama, percaya kepada yang gaib. Bisa dirasakan di dalam batin, di dalam jiwa, tetapi tidak bisa diraba, tidak bisa dipandang secara langsung, tidak nyata secara fisik.

Di dalam memahami Al-Qur’an, usahakan­lah untuk juga mempelajari sejarah dan sebab-sebab yang melatarbelakangi atau menyertai turunnya sesuatu ayat (asbabun nuzul), sehingga dengan demikian kita bisa menangkap ruh dan semangat dari ayat tersebut. Demikian pula dalam mem­pelajari hadis atau sunah Rasul. Yang terakhir ini disebut asbabul wurud?

Akan lebih elok pula jika kita menambah pengetahuan dengan membaca berbagai kitab tafsir. Di negeri kita, Tafsir Al-Azhar karya ulama sekaligus pujangga besar almarhum Buya Hamka, enak dibaca dan perlu.

Adapun ketaatan kepada Kanjeng Nabi, dilakukan dengan jalan mematuhi hukum dan nasihat-nasihatnya yang bersumber dari hadis atau ucapan-ucapan beliau, serta memahami, meniru perilaku beliau yang selama ini kita kenal sebagai sunah Rasul.

Semangat atau ruh sesuatu ajaran sangatlah penting untuk dipahami agar kita tidak terjebak pada dogma kata-kata, perangkap zaman dan tem­pat. Sebagai contoh perintah untuk mem­bayar zakat. Kalau kita memaknai dan menelan mentah-mentah pelaksanaan zakat di zaman Kanjeng Nabi, mana mungkin kita di Indonesia bisa menirunya? Mana mungkin di Indonesia ini banyak pembayar zakat? Siapa yang memiliki kebun kurma, kebun zaitun dan sejumlah onta sebagai kendaraan seperti di jazirah Arab di masa lalu? Lantas bagaimana dengan para hartawan pemilik kebun kelapa sawit, real estate, pabrikan-industrialis, pemilik kapal-kapal pesiar, mobil Mercy, Jaguar dan pesawat terbang pribadi? Padahal nilainya jauh lebih besar dibanding harta benda orang-orang kaya di zaman Rasulullah.

Maka wahai saudara-saudaraku, wahai anak-anakku, cermatilah sungguh-sungguh mana yang api, ruh atau semangat dari sesuatu faham dan ajaran, mana pula yang sekedar abu, sekedar adat dan budaya. Ambilah apinya. Ambilah semangatnya, bukan abunya. Sekarang ini ada saudara-saudara kita yang senang memakai jubah dan gamis ala orang Arab, meme­lihara jenggot, kawin lebih dari satu dan harus mencampuri istri di malam Jum’at. Alasannya, mengikuti sunah Rasul. Subhanallah. Sesung­guhnya itu hak mereka dan syah-syah saja.

Tapi pernahkah terpikirkan di benak kita bahwa Abu Jahal, Abu Lahab dan musuh-musuh Kanjeng Nabi yang lain, juga berjubah dan ber­jenggot? Haruskah kita meniru menikah pertama kali dengan seorang janda kaya yang usianya jauh lebih tua dibandingkan kita, sebagaimana Rasulullah menikahi Siti Khadijah? Sabarkah anda menunggu (dan berharap?) dapat menikah lagi setelah istri pertama anda meninggal? Sanggup­kah kita menikah lagi dengan alasan perikemanusiaan dan amanah kepemimpinan semata-mata, bukan lantaran hawa nafsu? Kenapa bukan justru shalat malam dan berzikir sebanyak-banyaknya di malam Jum’at yang kita utamakan, dan bukan yang lain?

Anak-anak dan saudaraku,

Saya yakin anda sudah tahu, karena itu maaf­kanlah jika saya sekedar mengajak mengi­ngat kembali bahwa berbeda dengan Al-Qur’an yang diturunkan langsung oleh Allah dan senan­tiasa dijaga kemurniannya oleh Allah, hadis banyak ragam­­nya. Ada yang hasan dan sahih, ada pula yang oleh para ulama dianggap menyesatkan ka­rena memang palsu (maudhu’). Maka bagi orang awam seperti kita ini janganlah buru-buru menelan dan menge­kornya sebelum melakukan penge­cekan. Sumber pengecekan yang utama adalah Al-Qur’an. Jika bertentangan, buanglah jauh-jauh. Sumber kedua adalah logika dan akal sehat. Ini­lah keisti­mewaan agama kita, Islam. Dewasa ini banyak ahli-ahli ilmu pengetahuan yang takjub karena penemuan-penemuan ilmiah­nya telah disinggung di dalam Al-Qur’an lebih 14 abad yang lalu, tat­kala ilmu pengetahuan masih belum ber­kembang pesat seperti sekarang.Tetapi dasar logi­ka dan akal sehat masih perlu dicek silang dengan para ulama yang terpercaya, atau yang paling seder­­ha­na dengan buku kumpulan hadis sahih terutama yang dirawikan oleh Bukhari dan Muslim. Jika tidak juga ditemukan kebenarannya di dalam bu­ku hadis Bukhari atau Muslim, di Indonesia juga telah diterbitkan buku Himpunan Hadits Lemah dan Palsu yang ditulis oleh A Yazid dan Qasim Koho, diterbitkan oleh PT. Bina Ilmu  Sura­baya. Dengan buku ini hadis tersebut bisa kita cek termasuk yang lemah, palsu atau yang baik.

Sementara itu ulama yang terkenal ce­merlang dan rendah hati, Prof. K.H. Ali Yafie, membesarkan hati saya dalam mengambil sikap awal terhadap sesuatu hadis yang baru saya dengar dan ketahui. Jika hadis tersebut me­nyangkut hukum, maka harus hasan dan sahih. Sedangkan yang menyangkut sejarah dan pendidikan, bisa diteliti pelan-pelan. Bahkan untuk yang bersifat pendidikan seperti, “Tuntut­lah ilmu walau sampai ke negeri Cina”, ambilah manfaat semangatnya bak sebuah kata-kata mutiara yang kita tidak harus mengetahui siapa yang mengucapkan pertama.

Demikianlah jika kita sudah benar-benar taat kepada Gusti Allah dan Kanjeng Nabi, maka sesungguhnya ini sudah lebih dari cukup sebagai bekal kehidupan. Adapun yang lain-lain, adapun Mutiara 2 dan selanjutnya hanya merupakan uraian pelengkap dari Mutiara 1, dapat dikurangi dan ditambah, dapat dipanjangkan atau di­pendekkan.

Semoga anda para pembaca, senantiasa memperoleh taufiq dan hidayah dari Allah Yang Maha Kuasa. Amiin.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s