M u t i a r a 2

Cv Mutiara_InterntBerusaha Agar Dicintai Allah

K.H. Abdurrahman Arroisi (almarhum) ada­lah se­orang juru dakwah yang hebat di jaman orang sibuk dengan dirinya sendiri, dan gampang ber­prasangka buruk terhadap yang lain seperti sekarang ini. Melalui kepandaiannya menulis, ia berdakwah secara populer dengan menerbitkan suatu seri buku, yang dicetak ulang berkali-kali. Buku itu terdiri dari dua belas jilid berjudul “30 KISAH TELADAN”. Setiap jilid berisi 30 kisah pendek, setiap kisah tak lebih dari 5 menit untuk membacanya, dan memang enak dibaca untuk di­teladani. Jumlah keseluruhannya mencapai 360 kisah.

Dalam salah satu kisahnya di jilid 5 ia me­nu­lis antara lain: “Petang itu, selepas menunai­kan shalat Ashar, Rasulullah SAW duduk-duduk di dalam masjid bersama sejumlah sahabat. Tiba-tiba terdengar hentakan kaki-kaki unta menjejak tanah di luar masjid. Seperti tergesa-gesa unta itu dihentikan mendadak. Lalu pe­nunggangnya melom­pat sigap dan langsung memburu ke dalam masjid.

Rasulullah terperanjat. Begitu pula para sahabatnya. Sebab laki-laki itu sudah membuka mulut sebelum berbasa-basi. Bahkan ia tak memperkenalkan diri lebih dulu ketika berkata: ‘Aku sudah melakukan perjalanan selama sembilan hari, siang dan malam. Aku menahan dahaga di waktu siang, aku menahan kantuk di waktu malam. Dan untaku di luar itu telah kulecut agar berlari lebih cepat, ujar lelaki tersebut dengan nafas tersengal-sengal.

Rasulullah menerimanya dengan ramah. Dipersilahkan lelaki itu agar duduk bersamanya. Namun dengan masih tetap berdiri ia melanjut­kan bicaranya:

‘Semua itu kulakukan  karena aku ingin menanyakan dua perkara kepadamu’.

‘Silakan’, jawab Nabi.

‘Pertama, katakan kepadaku bagaimana ciri-ciri manusia yang disukai Allah. Kedua, bagai­mana pula ciri-ciri manusia yang dibenci Allah’.

Para sahabat saling berpandangan. Selama ini pada mereka tak terpikirkan untuk mena­nyakan masalah itu. Rasulullah mengangguk-angguk. Ia mengagumi keterbukaan lelaki itu. Maka ia ingin tahu, siapakah dia sebenarnya.

‘Boleh saya mengetahui nama anda?’ Tanya Rasulullah.

‘Hem’, lelaki itu mendengus. Kasar perangai­nya, tetapi lembut roman mukanya. ‘Orang sekampung memanggilku Zaidulkhail, Zaid si Kuda Jalang’.

Rasulullah menduga namanya cuma Zaid. Lantaran tindak tanduknya bagaikan kuda liar, maka oleh masyarakat diberi gelar khail, kuda. ‘Namamu yang layak adalah Zaidulkhair, yang bertambah kebaikannya. Bukan Zaidulkhail’.

‘Apa pun julukan itu, tidakkah terlalu penting’, sanggah orang aneh itu tanpa peru­bahan roman muka. Tetap kekar dan keras. ‘Yang terpokok, jawab dulu pertanyaanku. Apakah ciri-ciri orang yang disukai Allah dan apa saja ciri-ciri orang yang dimurkai Allah’.

Nabi tidak menjawab serentak. Ia balik bertanya, ‘Dapatkah kau ungkapkan bagaimana perasaanmu ketika bangun tidur?’

Tanpa berpikir lagi orang itu, yang telah menempuh perjalanan sembilan kali seratus kilometer, segera menjawab : ‘Setiap bangun tidur di pagi hari, yang mula-mula kurasakan adalah keinginan untuk melakukan kebajikan, dan rindu hendak berkumpul dengan orang-orang yang senang berbuat baik. Lalu aku menginginkan, seandainya aku bisa mengerjakan kebajikan, hendaknya yang kuharapkan hanya pahala dari Allah semata, dan bukan balasan manusia. Sebaliknya, jika aku tidak dapat menanamkan kebajikan, remuklah dadaku, redamlah hatiku. Aku amat berduka cita bila tidak bisa menjumpai orang-orang yang saleh’.

Nabi tersenyum dan berkata, “Kalau benar keadaanmu demikian, itulah ciri-ciri manusia yang disukai Allah. Adapun yang dibenci-Nya adalah mereka yang ketika bangun tidur sudah berencana hendak berbuat maksiat  serta ingin bersuka ria bersama para ahli maksiat”.

Wahai Anak-anakku, hamba-hamba Allah yang diamanahkan kepadaku,

Esensi dari kisah di atas sesungguhnya banyak pula didakwahkan oleh para ustadz dan khotib Jum’at. Namun harus diakui gaya tulisan Kyai Arroisi sangat menarik. Karena sering mendengar nasihat seperti itu, maka dengan sekeras usaha saya telah mencoba memprak­tekkannya. Memang berjalan bak gelombang air laut. Kadang-kadang menggebu-gebu bergulung-gulung, kadang surut bagaikan tiada beriak. Pengaruh malaikat dan godaan setan memang suka silih berganti. Dan siapa yang mampu melawan godaan setan yang telah memperoleh hak, mandat dan kuasa dari Allah untuk menggoda manusia? Kecuali, demikian nasihat ustadz Kyai Mufasir dari Barubug, Serang, jika kita pun selalu memohon mandat dan kuasa dari Allah untuk melawan dan mengalahkannya.

Demikianlah, mulai Desember 1983 bersama beberapa orang sahabat, kami mendirikan sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang pengabdian masyarakat, yaitu Yayasan Bina Pembangunan (YBP). Di dalam menangani berbagai kegiatan pengabdian, kami menganut prinsip tidak meminta-minta. Ini tidak berarti kami menolak sumbangan, tetapi kami tidak meminta-minta. Untuk itu di dalam YBP ada dua sifat kegiatan. Satu bersifat bisnis sehingga bisa menjadi sapi perah bagi kegiatan lain yang bersifat cost center alias uang keluar untuk pengabdian masyarakat. Alhamdulillah kami memiliki tim personal yang solid, yang mantap dan teguh pendirian. Yang tidak tergoda meski­pun bekerja keras sekaligus dengan dua wajah, mencari sesuatu guna dipersembahkan kepada sesamanya, kepada orang lain.

Atas jerih payah perjuangan yang seperti itu seorang sahabat semenjak kecil, yang sudah seperti saudara sendiri, mas Arifin Mochtar, sering mem­berikan semangat dan salut, karena pada hemat­nya kami telah berhasil memadu­kan “dunia dan akhirat” dalam satu langkah. Subhanallah.

Kisah nyata menarik lainnya adalah apa yang dialami oleh kakak kandung saya almar­humah Hidayati. Beliau seorang guru Sekolah Dasar yang tidak pernah menikah, dan juga hampir selama hidupnya tidak pernah seratus persen sehat. Beliau menderita penyakit bron­kritis kronis semenjak kecil, sehingga batang tenggorokannya nyaris lengket. Meskipun demikian tidak pernah mengeluh menyesali hidupnya. Bahkan perhatian dan keprihatinan-nya terhadap kesusahan serta penderitaan orang lain, selalu mengalahkan penderitaannya sendiri. Selalu merasa kasihan dan ingin membantu    orang lain. Perhatiannya kepada orang tua, sembilan saudara kandung, ipar-ipar, puluhan keponakan, para tetangga dan handai tolan, kadang-kadang membuat saya kesal, lantaran mengabaikan dirinya sendiri.

Beberapa saat menjelang akhir hayatnya, beliau duduk di kursi besar menghadap kiblat dengan keringat mengucur deras dari tubuhnya. Di kursi itu pula ia sering melakukan shalat jika badannya lemah. Siang menjelang Ashar itu, beliau memberitahukan kepada kaum kerabat di rumah, telah mendengar makin lama makin dekat suara suatu majelis taklim yang terus menerus mengumandangkan tahlil. Tentu saja omongannya dianggap aneh. Namun begitu yang lain selesai mengambil wudhu dan adzan Ashar berkumandang, mereka melihat kakak saya seperti mendadak tertidur nyenyak dengan tetap tegak di kursi. Ternyata begitulah cara ia kembali ke haribaan Sang Maha Pengasih, dijemput suatu majelis taklim yang terus menerus mengu­mandangkan tahlil yang tidak bisa didengar dan dilihat orang lain. Beliau telah mengajarkan kepada kami kerelaan mem­beri tanpa meminta balas. Semoga Allah SWT memberikan derajat dan kedudukan yang mulia di sisi-Nya.

Upaya dan langkah-langkah yang bagai­manakah yang dapat membuat kita teguh? Yakin­lah wahai para kekasih Allah, anda pun bisa dengan mudah melakukannya.

Di pagi hari, begitu terbangun dari tidur, duduklah diam di tempat tidur. Bertafakur, ber­meditasi sejenak. Berfikir dan berniatlah untuk berbuat baik bagi sesamanya. Rencanakan dan susunlah langkahmu hari ini. Mohonlah mandat dan kuasa dari Allah agar dapat me­wujudkan­nya. Selanjutnya mulailah dengan mengucapkan Bismillahirrahmannirrahiim, dengan sepenuh pemahaman dan penghayatan akan maknanya.

Di siang hari, tetaplah berusaha untuk berbuat baik dengan cara yang halal dan thoyib, tanpa risau tentang bagaimana hasilnya. Sebab soal hasil bukanlah urusan kita, tetapi itu urusan atau hak Gusti Allah sepenuhnya.

Di malam hari, menjelang tidur kembali bertafakur sejenak, membuat kalkulasi kehi­dupan sehari. Bersyukur jika bisa berbuat baik, dan mohonlah ampun kepada Allah jika justru berbuat sebaliknya. Berjanjilah untuk mem­perbaiki diri. Jangan bosan selalu memohon mandat dan kuasa dari Allah Yang Maha Kuasa untuk dapat melakukan kebaikan. Mohonlah pertolongan dari Nya agar besok dapat berbuat lebih baik lagi.

Tentang niat, bersumber dari Abu Hurairah, Bukhari dan Muslim meriwayatkan sabda Kanjeng Nabi, Allah Azza Wajalla berfirman : “Apabila hamba-Ku berniat akan melakukan perbuatan baik dan tidak melaksanakannya, maka Aku mencatatnya sebagai satu kebaikan baginya. Jika dia melaksanakan maka Aku mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat. Dan apabila hamba-Ku berniat akan melakukan perbuatan jelek dan tidak jadi mengerjakannya, maka Aku tidak mencatatnya. Jika dia mengerjakannya, maka Aku mencatatnya sebagai satu kejelekan”. Menurut kedua perawi hadis ini Rasulullah juga bersabda, “Sesungguhnya amal perbuatan itu dinilai hanya dengan niatnya”.

Begitulah anakku, senantiasa jaga dan perbaikilah niatmu. Insya Allah kita tergolong sebagai manusia yang memperoleh karunia nur dari Allah, yaitu orang yang selalu lapang dan lega hatinya, yang jauh dari negeri kepalsuan. Amiin.

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “M u t i a r a 2

  1. 36B7BA lqeoyyjqszor, [url=http://xrpymjzusvlm.com/]xrpymjzusvlm[/url], [link=http://upyybfgeivyr.com/]upyybfgeivyr[/link], http://ecfveddeugrn.com/

  2. islamjawa

    Mohon maaf pesan tidak jelas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s