M u t i a r a 4

Cv Mutiara_InterntBergaullah Dengan Orang-orang Baik

Duhai tali jiwaku,

Pahami dan renungkanlah sebuah nasihat tua ini, dan janganlah engkau anggap remeh. Yaitu jika ingin menguasai ilmu maling, ber­gaulah dengan para maling. Jika ingin pandai berjudi, bergaulah dengan para penjudi. Ingin pandai menipu, bergaulah dengan para penipu. Ingin menjadi saudagar, bergaulah dengan para saudagar. Ingin menjadi ksatria bergaulah dengan para ksatria.

Nasihat tersebut sesuai dengan hadis Kanjeng Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Musa. Beliau bersabda, “Sesungguhnya perumpamaan berkawan dengan orang saleh dan berkawan dengan orang jahat, adalah seperti seseorang yang membawa minyak misik (minyak wangi) dan sese­orang yang meniup dapur tukang besi. Berga­ul dengan pembawa minyak wangi, ada kemung­kinan ia akan memberimu, atau kamu ingin mem­belinya, atau sekurang-kurangnya engkau mem­peroleh keharuman aroma minyak wangi itu. Sedangkan bergaul dengan tukang besi, pakaian­mu bisa terpercik apinya atau sekurang-kurang­nya terkena abunya atau bau­nya yang tak sedap.”

Berdasarkan dua nasihat itu pula ustadz Abah Endang Bukhari dari  Conggeang, Sume­dang, menyuruh saya untuk sering berziarah, sering berkunjung ke para ulama baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Berziarah ke makam   orang yang sudah meninggal, di samping mengi­ngatkan kita akan datangnya kematian, juga perlu untuk mengenang dan menghargai jasa-jasa almarhum. Penting untuk mempelajari sejarah hidup dan perjuangannya, mengambil intisari yang positif dan membuang yang negatif. Demikian pula berziarah kepada orang-orang baik, para ulama yang masih hidup. Di samping memperoleh berkah dan hikmah bersilaturahmi, insya Allah dapat menimba ilmu dan pengalaman dari yang bersangkutan.

Namun demikian ijinkan saya berwanti-wanti. Dalam bersilaturahmi dengan para ulama, janganlah sampai kita terjebak untuk me­nempatkan dan menjadikan beliau bagaikan dukun, dimana orang-orang yang tersesat mengadukan kesulitan hidupnya, meminta pertolongan.

Jadikanlah beliau sebagai guru, tempat menimba ilmu dan pengalaman hidup. Sebab, “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin. Hanya kepada Engkaulah (Allah) kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Allahu Akbar.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s