Cv Mutiara_InterntM u t i a r a 5

4 Keharusan Manusia

Al-Ghazali adalah seorang ulama besar dan penulis yang sangat produktif. Pandangan-pandangan yang ditulis pada masa hidupnya, 1058-1111 M, sanggup menembus zaman dan sangat menakjubkan. Di samping itu ia juga seorang filosuf, sufi, sosiolog, psikolog dan sederet keahlian lainnya, yang semuanya dituangkan dalam ratusan karya tulisnya.

Beliau dapat berkisah tentang berbagai hal kehidupan, yang hampir semuanya amat me­narik. Pernahkah anda merenungkan dan mengkaji secara mendalam dan rinci mengenai tubuh anda sendiri? Tentang anatomi, bentuk, fungsi dan cara kerja mata, mulut, lidah, tenggo­rokan, isi perut dan lain-lain?

Dalam bukunya yang berjudul Keajaiban Makhluk Allah (Al Hikamu fii Makhluuq aatil-laahi). Ia menulis tentang alam raya, tentang hikmah penciptaan manusia, hewan, burung, semut, ulat, kutu, ikan dan tumbuh-tumbuhan.

Kita yang bukan dokter, pernahkah menghi­tung berapa banyak tulang yang mem­bentuk kepala? Sembilan ratus tahun yang lalu tatkala ilmu bedah kedokteran belum semaju sekarang, Al-Ghazali telah menulis, Allah menciptakan kepala yang tersusun dari 55 tulang. Bentuk tulang-tulangnya berbeda-beda. Lalu dia me­nyusun sebagian dengan sebagian yang lain yang membentuk bulatan kepala sebagaimana yang kita lihat. Di antara tulang-tulang itu ada 6 tulang yang khusus untuk tulang tengkorak, 24 tulang untuk dagu atas, 2 tulang untuk dagu bawah, dan sisanya untuk gigi. Sebagian gigi-gigi itu berbentuk lebar yang cocok untuk menggerus makanan. Sebagian lagi tajam, cocok untuk memotong-motong makanan.

Menurut Al-Ghazali, Allah menjadikan leher sebagai tempat pemusatan kepala. Dia menyusunnya dari 7 lubang yang melingkar bulat dari sisi-sisinya, ada tambahan-tambahan dan pengurangan-pengurangan, agar sebagian bisa saling menutup pada sebagian yang lain.

Allah meletakkan leher di atas punggung. Dari pangkal bawah leher hingga ujung tulang yang paling bawah, Allah menyusunnya dari 24 ruas tulang belakang dan 3 tulang bawah yang berbeda-beda. Tulang belakang yang paling bawah disambung dengan tulang ekor, dan tulang ini juga tersusun dari 3 jenis tulang yang lain. Kemudian Dia menyambungkan tulang punggung dengan tulang dada, tulang pundak, tulang dua tangan, tulang bawah perut, tulang yang paling ujung, tulang dua paha dan dua betis, dan jari-jari dua kaki. Seluruh tulang dalam badan manusia dijadikan Allah dalam jumlah  248 tulang, diluar tulang-tulang kecil yang menempel di sela-sela persendian. Maasyaa Allah.

Itulah sebagian kecil, sedikit dari keisti­mewaan Al-Ghazali. Lantaran sikap, perjuangan hidup, karya dan khazanah pengetahuannya yang begitu luas, maka umat Islam memberi gelar Hujjatul Islam, Sang Pembela Akidah dan Moral Islam.

Dari ratusan karya tulisnya, Al-Ghazali menyatakan dalam pengantar sebuah bukunya, “Allah memberiku ilham untuk dapat mengarang kitab dengan susunan yang indah. Belum pernah kutemui dalam karangan-karanganku sebelum­nya. Kitab baru itu adalah kitab Minhajul ‘Abidin yang kusajikan kini.”

Dalam kesimpulan Minhajul ‘Abidin atau Menuju Mukmin Sejati, Al-Ghazali mengajarkan empat keharusan manusia.

1.     Harus mempunyai ilmu yang bermanfaat

2.     Harus mempunyai amal

3.     Harus mempunyai ikhlas

4.     Harus mempunyai khouf atau rasa takut

Surga menurut Al-Ghazali, dikepung dengan berbagai kesusahan. Sebaliknya neraka dike­lilingi dengan segala macam kemudahan dan pesona dunia. Oleh karena itu manusia yang ingin selamat dari godaan dunia dan berhasil meraih kemuliaan akhirat, harus memiliki ilmu yang dapat mengetahui semua penghalang surga dan pembujuk neraka. Ilmu yang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Ilmu yang dapat membimbing manusia menuju ketaatan kepada Gusti Allah dan Kanjeng Nabi. Sebab kalau tidak, maka kita ibarat orang buta yang berjalan tertatih-tatih di tengah keramaian dan hiruk pikuk jalan raya.

Ilmu adalah permata yang lebih mulia daripada ibadah, tapi ibadah harus menyertai ilmu. Bagaimana mungkin kita beribadah secara baik dan benar, jika tidak mengetahui ilmu ibadahnya? Ilmu itu ibarat pohon, sementara ibadah ibarat salah satu buah yang menjadikan pohon itu lebih mulia dan bermanfaat.

Oleh karena itu pantaslah bila kita memang harus selalu menuntut ilmu semenjak dari buaian hingga ke liang lahat. Menuntut ilmu sepanjang hidup, di mana dan ke mana pun, walau jauh ke negeri Cina. Marilah kita jadikan alam semesta dan kehidupan masyarakat sebagai kampus kehidupan, di mana kita harus selalu menyerap ilmu darinya.

Selanjutnya ilmu itu harus diamalkan. Dan dalam beramal haruslah dengan keikhlasan. Sebab kalau tidak maka kita akan rugi, karena amal kita sia-sia. Ikhlas yang sebenar-benarnya yaitu meninggalkan riya dalam beramal dan beribadah. Ikhlas bahwa apa yang kita kerjakan, yang kita lakukan adalah semata-mata demi Allah, bukan demi yang lain. Bukan agar dikagumi orang. Bukan agar dipuji orang.

Sebagaimana firman Allah dalam Surat At-Talaq 2-3, “Barang siapa yang ikhlas benar-benar kepada Allah SWT, niscaya akan ditanggung segala urusannya dan diberi rezeki dari jalan yang tidak di sangka-sangka.”

Demikianlah, manusia harus memiliki ilmu yang harus diamalkan secara ikhlas, dengan maksud semata-mata karena Allah, disertai khouf, perasaan untuk senantiasa takut dan ber­hati-hati. Takut salah jalan, takut riya dan ujub. Takut melanggar dan melawan perintah Allah.

Imam Dzunnun al Mishry, di masa sebelum Al-Ghazali mengatakan, manusia semuanya mati kecuali ulama. Ulama pun semuanya tidur, ke­cuali ulama yang mengamalkan ilmunya. Dan yang menga­malkan ilmunya pun semuanya tertipu oleh dirinya dan oleh setan kecuali yang ikhlas. Dan sekali pun ikhlas tapi masih tetap dalam keadaan bahaya yang sangat besar.

Berdasarkan peringatan Dzunnun tersebut maka Al-Ghazali berpesan agar mewaspadai empat macam orang, yakni :

1.  Orang yang cerdas tapi tidak mau belajar.

Orang seperti ini merasa sudah me­nge­tahui apa saja, sehingga enggan mende­ngarkan peringatan dan ayat-ayat. Mereka bahkan menolak lintasan pikiran yang ada pada dirinya. Padahal Gusti Allah telah berfirman, “Apakah kamu tidak memikirkan kerajaan yang ada di langit dan di bumi dan apa-apa yang diciptakan oleh Allah SWT?” (Al-Araaf: 185), dan “Apakah mereka tidak menyangka bahwa mereka itu bakal dibang­kitkan dari kubur (Al-’Adiyaat :9), untuk menemui Tuhannya” (Yaasiin : 51).

2. Orang-orang yang mempunyai ilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya.

Pada bagian depan Minhajul ‘Abidin, Al-Ghazali juga mengingatkan adanya orang-orang yang tertipu dalam kehidupan, yaitu mereka yang hanya mementingkan ilmu lahir dan akal sampai mendalam tapi melupakan ilmu batin dan tidak memper­hatikan pemeliharaan batinnya. Celakanya, mereka merasa bangga dengan ilmu lahir dan ilmu akal karena menyangka sudah menggenggam segalanya, menyangka sudah mendapatkan kedudukan dan pangkat di sisi Allah. Mereka bahkan menyangka sudah dapat memberi syafaat kepada orang lain. Naudzubillahimindzalik.

Ingatlah wahai saudara-saudaraku, Al-Qur’an pun telah memberikan pelajaran tentang orang berilmu yang merasa paling hebat, berupa tegoran keras Allah kepada Musa. Tatkala menyatakan dirinya paling hebat dalam sebuah khotbah, kontan Allah mewahyukan bahwa Khidir lebih hebat, lebih berilmu dibanding Musa. Inilah awal dari kisah “nabi” Khidir yang kesohor.

3. Orang yang beramal namun tidak ikhlas.

Pikiran orang seperti ini hanyalah selalu mengajak kepada riya dan ujub. Beramal dan beribadah untuk pamer, untuk kebanggaan dan untuk dikagumi serta dipuji oleh orang lain. Orang seperti ini selalu berpikir untuk membaik-baikan dirinya sendiri. Mereka beramal bukan maksud karena Allah semata-mata. Abu Umamah, Abu Dawud dan Nasa’i meriwayatkan sabda Kanjeng Nabi, “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla tidak menerima amal perbuatan kecuali yang ikhlas dan semata-mata dimaksudkan untuk memohon keridhoan Allah”.

4. Orang yang mukhlis, yang sudah ikhlas tapi tidak merasa takut.

Mereka tidak memikirkan apa yang seha­rusnya dikerjakan sebagai bekal di hari kemudian (kiamat). Mereka tidak takut ke­pada Allah, padahal Allah sangat dekat dan mengetahui, melihat sangat jelas apa-apa yang mereka kerjakan. Bahkan Dia menge­tahui apa-apa yang tersembunyi, kata-kata nan berserakan di dalam hati. Menge­tahui apa-apa yang di hadapan mereka dan apa-apa yang di belakang mereka (Al-Baqarah: 255/ayat Qursi dan Al Anbiyaa’: 28).

Oleh karena itu wahai saudara dan anak-anakku, marilah kita patuhi firman Allah di Surat Al-A’raaf ayat 56, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) mem­perbaiki dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan penuh harap (akan dikabulkan). Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s