M u t i a r a 7

Cv Mutiara_InterntTawakal dan Penuh Syukur

Kita sering mendengar empat kata yang di­ucapkan untuk menasihati orang yang sedang tertimpa musibah yaitu ingat, nyebut, sabar dan tawakal. Ingat, maksudnya ingat kepada Allah Sang Maha Pencipta, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Adil, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Demikian pula nyebut, maksudnya menye­but, menzikirkan asma Allah. Pada umumnya melafazkan kalimat tahlil, laa illaaha illallah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.

Ada pun sabar dan tawakal, sesungguhnya merupakan satu rangkaian yang terkait erat satu sama lain. Sabar adalah ibadah batin yang dalam keseharian membentuk tahan uji, tahan men­derita, tahan susah payah dalam mengerjakan taat kepada Gusti Allah. Sedangkan tawakal artinya hanya menggantungkan diri kepada Allah. Mempercayakan dan mewakilkan segala urusan kita kepada Allah.

Tetapi tawakal tidak berarti harus ber­pangku tangan, duduk bersimpuh menunggu datangnya milik tanpa diusahakan. Tawakal juga mengandung pengertian berusaha dengan sungguh-sungguh sambil menyandarkan, me­ngan­dalkan Allah semata-mata. Tawakal adalah penuh keyakinan bahwa hanya per­tolongan Allah jua yang dapat mensukseskan usaha kita. Hasbu­nallaaha wa ni’mal wakiil.

Orang yang tidak tawakal menurut para ulama sufi, tidak akan bisa beribadah secara sungguh-sungguh. Mereka hanya sibuk me­mikirkan rejeki dan berbagai pesona dunia saja. Dan orang seperti itu adalah orang yang lemah, yang tidak akan dapat menyempurnakan, tidak akan dapat secara amanah menyelesaikan berbagai urusan besar dunia, apalagi akhirat.

Orang yang asyik dengan pesona dunia, tidak akan bisa memikul amanah jabatan, pangkat dan kedudukan yang terhormat. Bahkan mereka tidak akan bisa memperoleh pangkat dan jabatan tinggi kecuali dengan melupakan harga diri serta mengorbankan harta benda dan keluarganya.

Sebaliknya orang yang bertawakal tidak akan terpengaruh dengan kesusahan dan kepayahan. Mereka lapang dada, jauh dari pikiran kusut yang merepotkan dirinya. Ia ten­teram dan tidak menjadi boyongan makhluk, tidak terbenam pada ombak perobahan  tempat, masa dan keadaan. Semua itu tidak membawa pengaruh apa-apa baginya. Orang ini kuat dan bebas, sebab ia memiliki modal yang sangat besar yakni tawakal kepada Allah, Maha Raja Diraja.

Maka tidaklah berlebihan bila ulama sufi di abad permulaan Islam, Syeikh Sulaiman al-Khowwas mengatakan, “Jika sekiranya orang tawakal kepada Allah dengan niat jujur dan tulus, niscaya para pemegang kekuasaan mem­butuhkan dia dan bukan yang tawakal yang membutuhkan orang lain. Sebab ia sudah mempunyai harapan perlindungan, pertolongan dan pembelaan dari Allah Yang Maha Kaya lagi berhak dipuji.

Orang yang tawakal adalah orang yang sabar sekaligus pandai bersyukur. Ia menghayati firman Allah dalam  Surat Ali-Imran ayat 26 : ‘Katakanlah : “Wahai Tuhan Yang memiliki segala kekuasaan. Paduka berikan kerajaan kepada siapa yang Paduka kehendaki, dan Paduka cabut kerajaan dari siapa yang Paduka kehendaki dan Paduka muliakan siapa yang Paduka kehendaki, dan Paduka hinakan siapa yang Paduka ke­hendaki. Di tangan Padukalah segala kebaikan karena sesungguhnya Paduka berkuasa atas tiap-tiap sesuatu.”

Karena memahami dan menghayati firman Allah itu, maka ia pun selalu sabar dan ikhlas, bahkan selalu bersyukur atas segala apa yang dihadapi dan diterimanya. Bila diberi selalu bersyukur. Bila dihalangi, bila diuji selalu sabar. Apa saja, berapa saja rezeki yang dite­rimanya selalu ia syukuri. Buah syukurnya adalah ridho, suka cita atas apa pun pemberian Allah. Tidak menggerutu. Tidak mengeluh. Ia mantap dan percaya bahwa segala yang dipero­lehnya adalah dari Allah Yang Maha Kuasa, sedangkan manusia, termasuk boss atau sang majikan, hanyalah sekedar alat, sekedar peran­tara dari Allah.

Tidaklah berlebihan kebiasaan orang Jawa bila tertimpa musibah, yang selalu mengucapkan, “untung masih selamat”, misalkan.

Imam Nawawi Al-Bantaniy dalam kitab Nasihat Penghuni Dunia meriwayatkan reaksi Khalifah Umar jika menghadapi hal demikian, “Demi Allah, setiap kali aku tertimpa bencana maka di situ selalu terdapat empat nikmat karena Allah: pertama, untunglah bencana itu tidak me­nyantap agamaku; kedua, untunglah bencana itu tidak lebih besar lagi; ketiga, untunglah bencana itu tidak menutup limpahan ridho Allah; dan keempat, untunglah lantaran bencana itu saya dapat mengharap pahala dari Allah”.

Seorang kyai terantuk batu sehingga ujung jempol kakinya berdarah. Secara spontan ia mengucapkan “Alhamdulillah”, sehingga seorang santri yang menyertainya tercengang. Mengapa abah mengucapkan hamdallah, bukan istighfar atau masya Allah?, tanya sang santri yang kemudian dijawab: “Siapa yang tidak senang, yang tidak bersyukur jika Sang Kekasih Yang Maha Agung, menegurnya, menyapanya, me­ngingatkannya. Dengan rasa sakit di ujung kakiku, aku menjadi ingat kepadaNya. Ingat kekuasaan-Nya. Aku menjadi bisa mengadu dan bermanja-manja dengan-Nya”.

Manusia memang wajib senantiasa ber­syukur. Bersyukur lantaran telah terpilih menjadi khalifatullah fil ard-Nya. Menjadi wakil dan utusan-Nya di muka bumi. Bersyukur diberi nikmat sehat. Bersyukur diberi kesempatan bisa menikmati keindahan alam raya. Bersyukur masih diberi kesempatan menebus dosa, me­mohon ampun kepada-Nya. Bersyukur dengan mengenang dan menghargai perhatian atau pun jasa pihak lain kepada dirinya, meskipun amat kecil. Lebih-lebih kepada Allah Yang Maha Pengasih. Kepada orang yang pandai bersyukur, niscaya Allah menambahkan berkah dan rahmat-Nya. Sebaliknya Allah Yang Maha Kaya tidak akan rugi, bila ada hamba-hambanya yang tidak pandai bersyukur, yang kufur nikmat.

Orang yang tawakal juga tidak akan mengeluh, mengadukan nasibnya kepada orang lain, sesama hamba Allah. Orang yang tawakal tidak akan menangis, menyesali, meratapi kemalangan atau musibah yang dideritanya. Sebab itu, berarti tidak ridho, tidak bisa me­nerima ujian dan cobaan Allah. Meratapi, mengadukan kesusahan dan nasib buruk kepada orang lain berarti pula tidak rela, tidak senang dan protes atas perlakuan Allah kepadanya. Naudzubillahimindzalik.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s