M u t i a r a 9

Cv Mutiara_InterntTokoh Idola

Anak-anak yang baru lahir ibarat kain putih bersih yang siap dilukis. Lukisan apakah yang akan digoreskan pada kain tersebut? Gajah, harimau, anjing, burung merak, danau, gunung, naturalis, abstrak, atau apa saja, tergantung pelukisnya. Siapakah gerangan pelukisnya? Kedua orang tua, sanak saudara, pengasuh, guru dan masyarakat pergaulannya.

Oleh sebab itu sangatlah tepat kebiasaan di kalangan umat Islam untuk segera melantunkan adzan di telinga anak yang baru lahir. Itulah suara pertama, setidak-tidaknya paket suara pertama, yang terekam di pita atau disket memori di otak sang anak, yang insya Allah akan mewarnai perjalanan hidupnya.

Allah Sang Maha Pencipta menciptakan manusia terdiri dari jasad, badan atau jasmani, dan ruh atau jiwa. Jasad ini dimotori oleh otak dengan Pikiran Sadarnya, sedangkan ruh memi­liki Pikiran Bawah Sadar. Pikiran Sadar mengen­dalikan panca indera dan gerakan otot, sementara Pikiran Bawah Sadar mengendalikan seluruh urat syaraf melalui urat syaraf tulang belakang dan sistem susunan saraf otonomik.

Pikiran Bawah Sadar sebagai bagian ruh suci yang ditiupkan Allah ke dalam jasad manusia, memiliki kemampuan dan kekuatan luar biasa. Tetapi secara umum ia bertindak bagaikan kom­puter yang hanya akan menghasilkan keluaran sesuai masukan yang diberikan oleh Pikiran Sadar. Sebagai contoh, Pikiran Sadar selama ini telah melatih Pikiran Bawah Sadar buat me­ngingat letak bagian-bagian tubuh kita. Jika mata kita ditutup dan Pikiran Sadar memerintah­kan Pikiran Bawah Sadar agar menggerakkan tangan untuk meraba seluruh atau setiap bagian tubuh, maka akan dilakukannya dengan tepat.

Contoh lain adalah pemain bola yang otomatis bergerak dan lari begitu mendengar bola ditendang, karena Pikiran Bawah Sadar si olah ragawan telah dilatih terus menerus oleh Pikiran Sadar. Sebaliknya Pikiran Bawah Sadar juga akan memberikan keluaran, melakukan tindakan negatif apabila Pikiran Sadar selalu memberikan masukan negatif.

Maka yakinlah wahai pembaca, hamba Allah yang mampu menyinergikan Pikiran Sadar dengan Pikiran Bawah Sadarnya, yang mampu menyelaraskan akal, otak dan nafsunya dengan ruh suci, akan menjadi manusia yang istimewa, yang efektif luar biasa.

Tetapi sedari awal Pikiran Bawah Sadar juga harus diformat, diberi landasan pikiran tentang tugas dan fungsi kemanusiaan. Mula-mula harus menyadari dan memahami tugasnya selaku khalifatullah fil ard, wakil atau utusan Allah di muka bumi. Sebagai wakil Allah, maka tindakan dan perilakunya harus mencerminkan yang diwakilinya. Sebagai wakil Allah maka ia harus berakhlak mulia. Sebagai utusan Allah maka ia harus taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Untuk itu pula harus berani menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Menegakkan kebaikan dan me­nolak keburukan, menolak kemungkaran, melawan kejahatan.

Di dalam keluarga, seorang khalifatullah fil ard harus dapat mewujudkan keluarga yang sakinah, mawadah, penuh rahmah dan amanah. Kehidupan rumah tangga yang tenteram, penuh rasa cinta dan kasih sayang satu sama lain. Di dalam hidup bertetangga dan lingkungan kerja, ia harus pandai bergaul, bersilaturahmi dan bekerja sebagai ibadah. Untuk itu harus memiliki ilmu-ilmu yang wajib diamalkan secara ikhlas, disertai rasa takut dan penuh harap yang terus menerus kepada Allah. Di dalam masyarakat luas, maka ia harus berusaha mewujudkan masyarakat adil dan makmur, mewujudkan rah-mat bagi alam semesta dan seluruh isinya, dalam suatu negeri yang baldatun, thoyibatun wa robbun ghofur. Senan­tiasa dalam ampunan dan naungan Illahi. Mewu­judkan rahmat bagi sesama umat manusia. Bagi sesama ciptaan Allah. Bagi gunung, sungai, lembah, ngarai, hutan, lautan, bebatuan, air, binatang, tumbuh-tumbuhan, jazad renik, meja kursi, pakaian kerja bahkan sandal jepit kita dan lain sebagainya. Bukan hanya demi memuaskan hawa nafsu semata-semata.

Pengejawantahannya adalah dengan me­num­­pahkan rasa kepedulian dan kasih sayang, menghargai serta menjaga semua – sesama cip­ta­an Allah. Pandanglah  apa saja yang diciptakan Allah bagaikan memandang Sang Penciptanya sendiri, Allah yang Maha Kuasa lagi Maha Tahu. Merendahkan, merusak dan semena-mena ter­ha­dap ciptaan Allah apapun itu bentuk dan jenisnya, lebih-lebih sesama manusia, adalah sama dengan merendahkan siapa yang menciptakan, yang menghendaki keberadaannya di muka bumi, di jagat raya, yakni Allah yang Maha Agung.

Menurut para ahli kepribadian dan psikologi, semangat untuk memperjuangkan semua cita-cita luhur dapat ditanamkan, ditorehkan pada jiwa, pada Pikiran Bawah Sadar manusia di masa kanak-kanak, melalui cetak biru tokoh idola.

Oleh sebab itu rajin-rajinlah mendo-ngengkan kepada anak-anak kita, anak-anakmu kelak, kisah para Rasul, para Nabi khususnya Kanjeng Nabi Muhammad, sahabat-sahabat beliau, para ulama besar, para ksatria utama, para pahlawan.

Tanamkanlah nilai-nilai kejujuran, keluhur­an dan keutamaan dari tokoh-tokoh tersebut. Ajarkanlah anak-anak kita untuk mendongeng­kannya kembali kepada kita. Latihlah mereka untuk secara ksatria berani mengakui kelemahan, kekurangan maupun kesalahannya. Jangan kita latih mereka mencari kambing hitam. Sebagai contoh, anak kita yang baru belajar ber­jalan ter­jatuh, kaget dan kemudian menangis. Untuk menghi­­burnya, janganlah mengarang cerita atau mencari alasan yang tidak-tidak, misalkan menya­­lahkan sang kodok nun jauh di sawah. Apalagi menyalahkan lantai. Menyalah­kan bumi tempat kita berpijak, yang selama ini telah dan akan selalu banyak jasanya bagi kita. Ajari dia memahami kenyataan yang sebenarnya. Ajari anak-anak kita berlatih untuk berani menga­kui kesalahan. Besarkanlah hatinya agar bangun, melangkah hati-hati dan tidak perlu takut jatuh lagi.

Wahai anak-anakku,

Perkenankanlah saya meneruskan nasihat kedua orangtua saya sebagai­­­mana telah saya tulis dalam buku Zikir dan Doa Persembahan Anak Saleh.

Almarhum Ayah telah mengajarkan ke­pada kami anak-anaknya, untuk sesuai nasihat Ba-ginda Rasul, berlatih diam dan mengendalikan mulut, mengendalikan lisan menghindari ghibah atau pergunjingan. Untuk itu beliau sering pergi menyingkir bila ada orang bergunjing.

Almarhumah Ibu yang seorang guru Sekolah Dasar telah:

•     Meninabobokan dan mengajarkan kami tentang kematian semenjak kanak-kanak melalui tembang :

ana tangis layung-layung

tangise wong,

wedi mati,

gedongono

kuncenono,

mongso wurungo wong, mati ….

(ada tangis sayup-sayup, tangis dari orang yang takut mati, biar dilindungi dalam ge­dung kokoh terkunci rapat, takkan mungkin, manusia menghindar dari kematian)

•     Yang mengajarkan untuk menegakkan semangat keadilan tiada tara dari Ratu Sima, bagaikan ajaran Rasulullah SAW, agar memotong tangan anaknya yang mencuri.

•     Yang mengajarkan kemumpunian, kearifan, kewelasasihan dan ketegaran Raja Ang­lingdarmo yang tak goyah oleh rengekan keluarganya.

•     Yang mengajarkan sisi baik dan buruk dari kehidupan manusia, Ken Arok, anak kasta terendah yang berjuang menembus kung­kungan zaman sehingga menjadi raja di raja Sang Rajasa, tapi juga sekaligus perlu dipelajari untuk jangan ditiru, “tujuan, cita-citanya yang menghalalkan segala cara.”

•     Yang mendidik anak keturunannya agar dapat hidup bahagia dan mulia, menjadi tempat berteduh bagi yang kehujanan dan kepanasan. Pemberi minum bagi yang kehausan. Pemberi makan bagi yang kela­paran. Yang belas kasih kepada sesamanya. Memaafkan siapa yang menyakitinya.

Duhai saudara dan anak-anakku, anak manusia, anak semua bangsa, sesama hamba Allah.

Apa yang saya tuangkan dalam Mutiara Kehidupan ini mungkin bukan sesuatu yang baru. Hanya sekedar himpunan dari materi-materi yang berserakan. Juga bukan sesuatu yang sangat berharga dari sudut pandang pe­-sona dunia. Namun insya Allah bermanfaat sebagai bekal dalam mengemban tugas selaku khalifatullah fil ard.

Maha Agung Allah yang kasih sayang dan karunia-Nya tiada terbilang

Maha Luar Biasa Allah yang ilmu-Nya cukup untuk mengetahui apa-apa yang ada di dalam hati hamba-hamba-Nya

Maha Kaya Allah yang kedermawanannya  cukup untuk memenuhi segala hajat dan kebutuhan hamba-hamba-Nya.

Beji, 13 Juni 2004

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s