Pada bulan Nopember 1998, di Hotel Ambhara Jakarta, sahabat-sahabat saya yang tergabung dalam Kelompok Editor, meluncurkan buku saya yang berjudul “Untuk Presiden Habibie, Menyapulah Dengan Sapu Yang Bersih”. Dalam buku tersebut saya menggambarkan  betapa mempri-hatinkannya kehidupan kita dalam bermasyarakat, dalam berbangsa dan bernegara. Betapa sangat memprihatinkan-nya sistem birokrasi kita dengan sebagian para birokratnya yang hidup di atas penghasilan resminya. Bagaimana kita harus mewaspadai kecenderungan maraknya petualang dan pedagang politik. Bagaimana memprihatinkannya praktek-praktek moral dan etika keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.

Kepedihan saya mengenai keadaan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara juga pernah saya kemukakan dalam acara bedah buku “Kepemimpinan Jawa — Falsafah dan Aktualisasinya”, di gedung Yayasan Bina Pembangunan, Jakarta 23 Pebruari 1998, tiga bulan sebelum Presiden Soeharto lengser. Dalam ulasan yang kemudian diterbitkan dengan judul “Cermin Diri Orang Jawa” tadi, saya menggambarkan bahwa keadaan di Indonesia di bawah kepemimpinan Pak Harto sudah bagaikan babak akhir kerajaan Majapahit. Nuansanya, atmosfir kehidupannya sudah sama. Untuk itu saya kutip rintihan satria Damarwulan sebagai berikut:

Apa gunanya Majapahit ditolong lagi?

Agama sekarang sudah takhayul, pendetanya semua ganas dan buas,

memeras rakyat sekuat-kuatnya

Apa terjadi di daerah rumah sembahyang, baik jangan kuterangkan

Agama dulu meninggikan budi pekerti, sekarang sudah jadi penjara

Orang melihat lahirnya saja, tidak tahu akan batinnya

Arca disembah seperti dewa sebab tak bisa

berpikir lagi

Pendeta menambah kebodohan lagi, supaya

kuasa makin luas,

supaya berwujud keinginan rendah

Kesatria, namanya saja tinggal kini, sifatnya sudah sebagai perampok

Rakyat kurus, tidak bisa ditolong lagi

Walau pun keadaan dapat diubah, apakah gunanya, apakah gunanya 2)

Cobalah bandingkan keadaan Majapahit tersebut dengan Indonesia sekarang. Para pendeta dengan ulama dan pemuka agama, kesatria dengan pejabat Negara, dengan para birokrat sipil maupun militer.

(dikutip dari buku “Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan” hal 47)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s