Untuk memberantas korupsi, pada bulan Maret 2005 saya bahkan pernah mengusulkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Kepresidenan, agar dibuat Undang-Undang Perlindungan Saksi Pengungkap Kejahatan Korupsi, di luar negeri dikenal sebagai Whistle Blower Act, serta Undang-undang Pembuktian Terbalik Asal Usul Harta Kekayaan. Tanpa kedua undang-undang tersebut, rasanya mustahil kita dapat memberantas korupsi, yang menurut saya bukan sekedar sudah membudaya, tapi mulai mendarah daging, nyaris menjadi DNA, terkandung secara genetika. Naudzubillahi mindzalik.

Sebelumnya bersama sejumlah tokoh masyarakat antara lain K.H. Ali Yafie, mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, Rektor Universitas Gajah Mada Prof. Dr. Sofian Effendi, tokoh intelijen Monang Siburian, aktivis Hariman Siregar dan Lily Ch. Wahid, K.H. Moehammad Zain serta Suhari Sargo, kami juga telah merumuskan secara tertulis beberapa saran termasuk hal tersebut, dan oleh Pak Try telah diserahkan kepada Pak SBY segera setelah Pemilihan Presiden.

Bagaimana hasilnya? Prof. K.H. Ali Yafie dalam pidato memperingati Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 09 Ramadhan 1364 (17 Agustus 1945) – 09 Ramadhan 1426H (12 Oktober 2005) masih sangat prihatin dan menyatakan:

Krisis multidimensi yang besar, berat dan kompleks yang kita derita selama ini, secara keimanan bersumber dari krisis moral. Oleh sebab itu upaya penanggulangannya harus bertitiktolak dari reformasi moral kepemimpinan. Upaya ini harus dimulai dari pembersihan niat, perilaku dan moralitas pemimpin masyarakat atau para pemegang kendali di sektor-sektor kehidupan masyarakat, termasuk di dalamnya para ulama dan umaro.” 3)

Al-Ghazali dalam bukunya yang sangat terkenal, Nasihat Bagi Penguasa, menekankan pula bahwa negara bermoral dan akhlak mulia para pemimpin perlu diutamakan, karena watak dan perangai rakyat merupakan buah atau hasil dari watak dan perangai para pemimpinnya. Sebab keburukan yang dilakukan orang awam hanyalah meniru dan mengikuti perbuatan para pemimpinnya. Orang awam belajar dari mereka, serta meniru watak dan kebiasaan mereka. Rusak rakyat karena rusak penguasa, dan rusak penguasa karena rusak ulamanya.

Pandangan Al-Ghazali ini jelas menunjukkan bahwa kelompok yang paling bertanggung jawab atas kerusakan bangsa adalah kelompok ulama, kemudian disusul umaro atau penguasa. Masya Allah.

(dikutip dari buku “Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan” hal 49)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s