Ulama-ulama abad permulaan Islam di Jawa, dengan hebat dan berani telah melakukan interpretasi dan transformasi ruh Islam ke dalam bahasa dan budaya Jawa, membentuk peradaban baru, peradaban Jawa yang bernafaskan Islam.

Cara yang hampir sama ternyata juga dilakukan oleh para ulama dan juru dakwah di Cina, yang mengajarkan Islam dengan mengambil terminologi-terminologi yang lazim digunakan dalam ajaran-ajaran agama Tao dan Khonghucu. Tokoh sufi Cina Liu Chih, dalam karyanya yang amat terkenal “Menguak Misteri Alam Hakiki sebagaimana tokoh sufi Wang Tai Yu bahkan menghindari penyebutan kata-kata Arab, dengan satu-satunya pengecualian adalah Allah dan Adam, masing-masing sekali.2)

Ruh Islam yang menjunjung tinggi persamaan derajat dan kedudukan di hadapan Sang Maha Kuasa, segera memperoleh tempat di hati masyarakat Jawa, khususnya penduduk pesisir pantai utara yang sebelumnya dibeda-bedakan dalam kasta-kasta dan derajat sosial ekonomi.

Para ulama melakukan revolusi kebudayaan yang menyeluruh. Seluruh sendi kehidupan masyarakat disusupi ruh Islam. Secara sadar mereka tidak membuat syariat-syariat baru, melainkan memanfaatkan dan mendaya-gunakan tradisi dan event-event atau agenda masyarakat yang sudah ada. Suatu metode komunikasi massa yang hebat,  yang bahkan para ahli komunikasi massa modern banyak yang kurang memahami dan tidak memanfaatkan secara baik.

Prosesi-prosesi terutama yang mengiringi perjalanan kehidupan manusia dari semenjak lahir sampai meninggal tetap dipertahankan dengan diberi ruh Islam, dan dijadikan sebagai sekedar adat serta tradisi, dan bukan syariat. Sesaji-sesaji diubah niat, maksud dan tujuannya menjadi sedekah. Sesaji kepada Dewi Sri, dewa yang menguasai bidang pertanian, diubah menjadi sedekah bumi yang merupakan manifestasi dari zakat pertanian. Sedekah serta silaturahmi sangat dianjurkan. Peristiwa-peristiwa yang bisa dimanfaatkan untuk mengumpulkan orang banyak didorong dan dimanfaatkan sebagai wahana untuk berdakwah.

Kesenian-kesenian asli dikembangkan sehingga lahirlah wayang kulit dan gamelan dengan gending-gending atau lagu-lagu khas Jawa sebagaimana kita kenal sampai sekarang ini. Keris-keris Jawa yang bentuknya berlekuk atau berkelok-kelok dan diisi dengan kekuatan magis dari bangsa jin, oleh empu-empu Islam disederhanakan menjadi “jalan lurus” seperti mata tombak. Para jin diusir dan posisinya di dalam keris digantikan oleh hikmah doa-doa dan asmaul husna.

(dikutip dari buku “Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan” hal 58)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s