Bagaimana dan mengapa para ulama, para kyai, para wali berhasil mengislamkan Pulau Jawa? Tentu banyak jawabannya. Dari segi politik pemerintahan misalnya, agama Islam mulai berkembang dibawa oleh para pedagang Gujarat, Campa dan Cina di ibukota Kerajaan Majapahit, tatkala masa kejayaan Majapahit mulai menurun akibat konflik – konflik internal para bangsawannya.

Namun saya tidaklah hendak menulis mengenai hal itu. Sebagai santri abangan yang menjadi wartawan dan praktisi komunikasi massa, saya lebih tertarik mengkaji cara berdakwah para kyai sebagaimana saya uraikan di depan.

Para ulama yang dimotori oleh Wali Songo itu sungguh-sungguh menguasai ilmu komunikasi massa serta berbagai ilmu sosial pendukung lainnya seperti psikologi, sosiologi, ilmu pendidikan, ilmu bahasa dan kebudayaan target sasaran dakwahnya. Mereka kaya perbendaharaan kata-kata dan mampu mengungkapkan firman-firman Tuhan dalam bahasa rakyat secara indah, sehingga menembus hati, serta menggugah perasaan target sasaran dakwahnya. Mereka pandai melukiskan berbagai sifat mulia Allah, menden-dangkan dan menceritakan kepada masyarakat secara menawan. Allah dan Islam digambarkan sebagai sesuatu yang penuh pancaran kasih sayang nan mengagumkan. Welas asih, pengampun, dan memiliki kasih sayang yang tak terhingga. Yang Maha Suci dan Maha Kuasa. Yang Maha Tahu dan patut menjadi dambaan setiap insan.

Dalam berdakwah mereka menghindari kata-kata kotor, ancaman dan gambaran-gambaran yang menyeramkan. Tidak ada nuansa pedang dan darah. Tidak ada gambaran siksa kubur dan api neraka seperti sinetron-sinetron televisi di tahun 2005-2006 ini. Juga tidak ada gambaran tentang jin setan yang menyeramkan, meskipun masyarakat sangat mempercayai keberadaannya. Sebab para wali sudah memberi sugesti dengan mantera-mantera penolak, antara lain ayat Kursi.

Yang lebih penting lagi, di samping menggunakan media kebudayaan secara baik dan tepat guna, kepribadian para ulama juga sangat mendukung. Mereka memahami bahwa orang Jawa khususnya para priyayi diatur serta menjunjung tinggi ajaran budi pekerti dan tata susila. Oleh sebab itu baik dalam berdakwah maupun kesehariannya, para ulama masa itu mengokohkan dirinya sebagai tokoh teladan, sebagai panutan. Ajaran budi pekerti dan tata susila Jawa diterima dan dijalankan dengan diberi ruh Islam, dengan landasan sifat-sifat mulia Tuhan serta hadis-hadis Baginda Rasul.

(dikutip dari buku “Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan” hal 65)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s