Kedahsyatan dari tauhid dengan dua kalimat syahadat dijabarkan dalam cerita wayang Perang Bharatayudha. Perang antara Ksatria Pandawa yang berjuang menegakkan kebenaran melawan kebatilan dan keangkaramurkaan keluarga Kurawa, akhirnya dapat dimenangkan oleh Pandawa setelah Prabu Puntadewa dengan Pusaka Kalimasada atau Kalimat Syahadat mengalahkan Panglima Perang Kurawa yaitu Prabu Salya yang sakti mandraguna karena memiliki ajian Candrabirawa, yang berupa kekuatan dahsyat jin setan peri perayangan.

Adapun Prabu Puntadewa, digambarkan sebagai seorang raja yang tidak mau mengenakan mahkota. Rambutnya digelung sederhana. Mukanya senantiasa menunduk. Perilakunya lemah lembut bagaikan orang yang tiada daya, sehingga dianggap tidak mampu berperang, tidak bisa berkelahi. Ia tidak pernah marah, hatinya suci bersih sehingga digambarkan darahnya tidak berwarna merah melainkan putih. Namun tatkala pasukannya terdesak dan tiada satu pun perwira perangnya yang mampu menandingi Panglima Perang musuh, Puntadewa maju ke medan laga, turun dari kereta perang berjalan kaki me-nyerbu lawan dengan menenteng busur panah serta keyakinan mutlak terhadap kekuatan syahadat. Akibatnya, para jin setan peri perayangan, meledak hancur berkeping-keping dan kemudian lenyap satu persatu. Sementara anak panahnya melesat bagaikan kilat menembus jantung Prabu Salya, lawan tandingnya.

Puntadewa adalah ciri seorang pemimpin satria pinandita, seorang satria atau umara yang berjiwa pendeta atau ulama. Ia rendah hati, tawadu, ikhlas, tidak riya dan ujub. Tidak sombong, tidak suka pamer dan tidak suka dipuji. Hidup dan tampil amat sederhana, sangat jujur dan adil serta mengabdi untuk kesejahteraan rakyat. Pemimpin yang seperti itulah yang oleh Sunan Kalijaga, digambarkan sebagai pemimpin yang selalu diridhoi, diberkahi dan dirahmati Gusti Allah. Pemimpin yang seperti inilah yang dapat melindungi, menyejahterakan dan memakmurkan rakyatnya. Pemimpin yang bisa membuat negeri dan rakyatnya disegani serta dihormati oleh para raja dan rakyat negeri-negeri tetangga.

(dikutip dari buku “Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan” hal 73)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s