Memang menarik, bagaimana cara para ulama sekaligus pujangga-pujangga di masa lalu dalam berdakwah. Pujangga Keraton Surakarta Yasadipura dalam Kitab Nitiprana misalkan, mengajarkan larangan riba dengan menggambarkan pahitnya kehidupan orang yang suka riba, yaitu hidupnya tidak akan tenteram, sulit tatkala menghadapi sakaratul maut, dan gelap dalam kehidupan di akherat kelak.

Tentang riba saya mengamati semenjak kecil kehidupan rumah tangga kenalan dan sanak saudara yang melakukannya. Mereka hidup tidak tenteram, penuh percekcokan dan kesulitan, meskipun secara materi berkecukupan.

Serat atau Kitab Nitiprana selanjutnya mengajarkan hal yang perlu dipahami dan dijadikan sebagai pedoman hati untuk mengembangkan budi pekerti serta perilaku terpuji. Kitab ini juga menerangkan 20 sifat Allah.

Di samping dikemas dalam berbagai bentuk tembang atau nyanyian, mulai dari nyanyian kanak-kanak yang jenaka dan gembira, nyanyian-nyanyian populer untuk masyarakat kebanyakan serta nyanyian halus berkelas atas bagaikan musik klasik, dakwah juga disampaikan dalam bentuk aneka seni pertunjukan dan mendongeng dengan iringan alat-alat musik yang sangat sederhana misalkan alat musik perkusi atau terbang dan kendang.

(dikutip dari buku “Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan” hal 77)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s