100 HARI SBY – NAPOLEON – ROOSEVELT

Dalam 5 tahun terakhir ini kita sering mendengar istilah Program 100 Hari SBY. Dari mana istilah ini? Ternyata istilah ini berasal dari Jenderal Perancis yg amat terkenal yaitu, Napoleon Bonaparte. Begitu ia dapat meloloskan diri dari pengasingannya di Pulau Elba Maret 1815, ia merancang program perang 100 hari.

Dalam kemiliteran, program perang harus dirancang secermat mungkin, karena menyangkut banyak aspek dan jiwa manusia. Napoleon boleh merencanakan, tapi Gusti Allah yang menentukan. Di tengah cuaca Eropa yg mulai nyaman itu. Tuhan Sang Maha Sutradara punya skenario lain, yaitu memerintahkan balatentaranya dari kepulauan Nusantara, Gunung Tambora, agar meletus sedahsyat-dahsyatnya. Maka selama periode 10 – 15 April1815 Tambora meletus, dengan puncak letusan pada 12 April 1815. Inilah menurut para ahli, letusah terdahsyat selama 10.000 tahun, empat kali lipat dari letusan Gunung Krakatau. Letusan ini menimbulkan gempa vulkanik sebesar 7 SR serta memuntahkan asap pekat setinggi 43 km. Akibatnya selama tahun 1816 terjadi dunia tanpa musim panas. Di seluruh dunia matahari tertutup, bahkan di sebagian Eropa curah hujan dingin hampir berlangsung sepanjang tahun.

Bagi Jenderal Napoleon, sungguh itu merupakan bencana. Prajuritnya yg sedang bergerak dalam Pertempuran Waterloo, menjadi tak berdaya, sehingga akhirnya pada 18 Juni 1815 ia kembali tertangkap. Bagitulah, Program Perang 100 Hari Napoleon, dikalahkan sesungguhnya bukan oleh tentara Inggris dan Rusia, tapi oleh Balantera Allah dari Nusantara.

Tokoh dunia berikutnya yang menggunakan istilah Program 100 Hari adalah Presiden Amerika Serikat ke 32: Franklin D. Roosevelt, dikenal dengan FDR. Apakah FDR sedang menghadapi situasi perang? Jawabnya ya. AS tengah menghadapi perang besar dibidang sosial ekonomi, “Great Depression”, yang mengancam kehidupan rakyat dan bangsanya. Demikianlah, pada tahun 1933, dalam pidato pelantikannya sebagai Presiden, ia melancarkan program-program pemulihan situasi, agar AS keluar dari jurang resesi dengan melakukan reformasi ekonomi, sosial dan politik.

Apakah Program 100 hari yang kemudian dikenal sebagai New Deal, segera dapat mengentaskan AS dari resesi besar? Tentu saja tidak. Program 100 Hari FDR dipakai pertama-tama untuk mengokohkan kepemimpinannya, menggalang dukungan rakyat, menegakkan disiplin masyarakat, membangun harapan dan membuat 15 Undang-Undang
yang akan dijadikan sebagai arah dan pedoman bergerak bersama keluar dari jurang resesi.

FDR yang fisiknya lemah karena terserang folio pada tahun 1921, ternyata berhasil membawa negara raksasa AS mengalahkan “Great Depression”, dengan melancarkan program-program penghematan nasional yang dimulai dari atas, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan harga-harga produk pertanian, meningkatkan daya beli rakyat, membangun infrastrukstur dan menghentikan spekulasi pasar uang. Semboyannya yang amat terkenal adalah: “ Action now. We must act and act quickly.” Model Program 100 Hari ini selanjutnya dipakai oleh Presiden-Presiden AS berikutnya sampai dengan Obama sekarang.

Bagaimana SBY. Tatkala pada masa Kepresidenannya yang pertama tahun 2004 ia mengumumkan Program 100 Hari, saya sungguh terkejut. Perang apa gerangan yang hendak dia lancarkan? Siapa musuhnya? Globalisasi, Neolib, kemelaratan, kesenjangan sosial, mafia hukum ataukah masa lalu? Bukankah SBY adalah produk masa lalu? Taruna militer yang dididik dan dibesarkan oleh Orde Baru? Menjadi salah satu tokoh kunci dalam Kabinet-Kabinet Orde Reformasi? Ataukah retorika ala AS semata-mata? Hanya beliau dan Gusti Allah yang tahu. Tapi yang jelas, situasi yang dihadapinya selaku Presiden adalah situasi produk masa lalu dimana beliau bersama para pembantu dekatnya juga berasal mula.

Kini dalam masa jabatannya yang kedua, SBY bersama sejumlah arsitek kepercayaannya selama lebih 5 tahun terakhir, kembali melancarkan Program 100 Hari. Saya berprasangka baik saja, dengan berharap, karena sebelumnya banyak kecaman terhadap langkah-langkah kebijakan yang dianggap neolib, SBY akan seperti FDR, memberikan keteladanan dalam penghematan nasional serta melakukan perombakan besar terhadap sejumlah Undang-Undang produk Orde Reformasi yang pada hematnya saya, telah menempatkan Indonesia pada Gelombang Liberalisme III. Gelombang Liberalisme I berlangsung pada tahun 1870 – 1900, Gelombang Liberalisme II adalah
periode Orde Baru.

Gelombang Liberalisme III menurut saya lebih mengerikan dibanding dua gelombang sebelumnya. Karena tekanan kapitalisme global dengan strategi globalismenya, para elit Orde Reformasi telah membuat beberapa UU dan kebijakan yang bertentangan dengan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan, bahkan menyerahkan begitu saja tanah air (bumi dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya termasuk air tanah) pada cengkeraman neoliberalisme dan globalisme serta takluk pada instrument mekanisme pasar bebasnya.

Hal ini mengakibatkan negara tidak cukup lagi memiliki kuasa atas pengelolaan kekayaan kita yang melimpah, dan telah mulai mengakibatkan perusakan serta eksploitasi besar-besaran untuk kepentingan kekuatan modal semata-mata.

Saya boleh berharap dari Program 100 Hari SBY. Tapi entah ini kehendak Gusti Allah atau kebetulan (tapi adakah kebetulan secara ilmu fikih?), harapan saya telah dibuyarkan oleh Kasus Bibit – Chandra, Kasus Bank Century, pembelian mobil mewah untuk para menteri, renovasi pagar Istana, renovasi rumah dinas DPR hampir sebesar Rp.1milyar,- per rumah, pembelian komputer anggota DPR Rp.20 juta per orang, rencana pembelian pesawat terbang Kepresidenan dan kenaikan gaji pejabat negara.
Duuuhhh Gusti……..
01/02.2010. (B. Wiwoho)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s