KEPEMIMPINAN SBY CERMINAN RAKYATNYA

Ada nasihat dari seorang ulama sekaligus filsuf, pemikir dan konseptor besar Al Ghazali (1058 – 1111M) tentang pemimpin dan rakyatnya, yang relevan dengan keadaan kita sekarang, yaitu: “Pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya”. Ini sejalan dengan nasihat leluhur kita dulu yang menyatakan, pemimpin para harimau adalah harimau; pemimpin para monyet adalah monyet; pemimpin para kerbau adalah kerbau.

Almarhumah ibu saya sering membuat tamsil serta penjabaran yang mudah atas nasihat tadi, dengan mengatakan: “ Burung emprit berkumpul dengan sesama emprit. Burung gagak sesama burung gagak. Rajawali berkumpul dengan sesama rajawali. Demikian pula para emprit dipimpin burung emprit, para rajawali dipimpin rajawali. Tidak mungkin para emprit dipimpin rajawali atau sebaliknya.”

Demikianlah, ibu mengajarkan dua hal dari tamsil di atas. Pertama, makna yang tersurat sebagaimana adanya. Kedua, makna yang lebih luas dan dalam. Manusia adalah makhluk utama, yang dilahirkan bagaikan kain putih bersih. Kehidupannya di kemudian hari bak lukisan yang ditorehkan oleh orang tua-guru-masyarakat dan dirinya sendiri di atas kain putih tersebut. Lukisan itu bisa bergambar harimau, rajawali, gagak, emprit atau kerbau. Karena itu kalau kita ingin menjadi rajawali, goreskanlah rajawali. Tempalah diri kita menjadi rajawali, dan bergaulah dengan para rajawali, bukan dengan kerbau, gagak apalagi emprit. Ini sejalan dengan nasihat Kanjeng Nabi Muhammad, kalau ingin bau wangi maka bergaulah dengan pembuat atau penjual minyak wangi. Sedangkan jika dengan pandai besi maka badan kita akan bau asap dan jelaga besi.

Mengenai tamsil burung gagak berkumpul dengan sesama gagak, dimaksudkan agar kita bisa menilai sesorang dari teman bergaulnya, dari kawanannya. Setiap jenis, mencari teman sejenisnya. Maka jangan heran jika punya kenalan yang berwatak tidak terpuji, sudah bisa dipastikan sebagian besar teman bergaul kenalan tersebut adalah orang-orang yang berwatak tidak terpuji. Teman main penjudi adalah penjudi. Teman pembual adalah pembual.

Nah, kini Indonesia memiliki pemimpin yang oleh banyak pengamat dinilai peragu dan cengeng bahkan nyinyir plus sejumlah hal buruk lainnya. Sebetulnya penilaian ini juga bak menepuk air di dulang terpercik muka sendiri. Muka kita semua.

Bulan lalu, sahabat saya Beta Ketaren menulis di fesbuk grup Forum Studi Nusantara Raya, “Tujuh Ciri Budaya & Karakter Bangsa Indonesia”, dengan mengutip pandangan tokoh pers almarhum Mochtar Lubis yaitu: (1) hipokrit, (2) enggan bertanggungjawab bahkan suka mencari kambinghitam, (3) feodalis, (4) percaya takhayul, (5) artistik dan dekat dengan alam, (6) berwatak lemah, kurang kuat mempertahankan pendapat dan suka meniru, (7) kurang sabar, cepat cemburu dan dengki.

Dalam buku “Pengembaraan Batin Orang Jawa Di Lorong Kehidupan”, saya juga banyak menulis mengenai pengalaman hidup saya, dan dalam hal pergaulan sosial serta karakter bangsa, kesimpulan saya sebagian sama dengan Mochtar Lubis. Orde Baru di samping menghasilkan sejumlah keberhasilan, ternyata juga telah mengabaikan pembangunan karakter bangsa, bahkan mengobarkan nilai-nilai materialisme, hedonis-individualis yang menggilas-meluluhlantakkan nilai-nilai idealis. Hasilnya adalah manusia-manusia (insya Allah tidak semua) yang oportunis, munafik, tidak peduli halal haram, mau cepat dan enaknya sendiri, melupakan budi luhur tapi juga suka opera sabun yang dangkal. Uniknya, secara umum masyarakat kita masih tetap masyarakat yang soft-culture, yang lembek, nrimo sekaligus juga suka ngegrundel di belakang. Kalau hanya soal ekonomi, kelaparan, dibohongi atau nggak diurusin Pemimpinnya, jangan harap masyarakat menjadi marah dan mudah dihasut. Tapi kalau soal ketidakadilan dan kezoliman, lebih-lebih harga diri, suku dan agama, awas hati-hati, mula-mula bisa keluar kata-kata: “ora pateken (nggak bakal kudisan)”. Namun jika berlanjut, maka bisa menimbulkan amuk massa yang mengerikan. “Sedumuk batuk senyari bumi, tak labuhi pecahing dada wutahing ludiro (jika menyangkut penghinaan dan harga diri, rela dada pecah dan darah tumpah)”. Naudzubillah.

Marilah kita jujur, mawasdiri mengakui segala kelemahan kita, karena yakinlah, kita juga masih punya sejumlah nilai positif yang jika dibangkitkan, akan membuat kita menjadi bangsa yang besar, sejahtera-jaya-sentosa. Dengan memahai kelemahan, kekuatan, ancaman dan peluang kita, Allahuma amien, kita bisa mengobati penyakit sosial-budaya kita, memperbaiki kelemahan dan menggalang kekuatan guna merebut peluang masa depan nan gemilang.
Kembali tentang halnya kepemimpinan nasional dewasa ini, yaaa begitulah adanya. Para emprit akan dipimpin emprit. Para rajawali dipimpin rajawali. Para kerbau? Ya dipimpin kerbaulah. Mosyok mau dipimpin macan atau rajawali, ya mustahil. Karena itu kalau ingin dipimpin macan, marilah kita bersama-sama memperbaiki diri, bermetamorfosa bagai ulat menjadi kupu-kupu, meninggalkan ciri kerbau yang kata Pak SBY, gemuk, bodoh dan lamban, menjadi harimau yang atletis, cekatan dan garang.  Mumpung sekarang masuk tahun macan, mengaumlah sekuat-kuatnya wahai macan-macan Indonesia Raya! Amin. (B.Wiwoho, 04/02.2010).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s