Di masa kecil, saya senang sekali mendengarkan para pendongeng kisah Kanjeng Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya, yang dilantunkan secara indah di perhelatan-perhelatan keluarga misalkan acara khitanan dan perkawinan. Pendongeng-pendongeng itu amat menyentuh perasaan saya, karena mereka seperti betul-betul menghayati tokoh serta kisah-kisah yang dituturkannya. Seni pertunjukan tersebut kami sebut kentrung, lantaran sebentar-sebentar sang pendongeng mengiringi penuturannya sembari memukul perkusi yang berbunyi trung-trung.

Sayang sekali, seni kentrung ini sekarang sudah hilang dari keseharian. Karena itu tatkala saya memperoleh kesempatan menjadi salah satu panitia inti Festival Istiqlal tahun 1990 dan 1995, saya menikmati betul acara-acara seni pertunjukan rakyat yang bernafaskan Islam, yang sudah sulit dijumpai termasuk seni kentrung tersebut.

Dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional tanggal 10 Pebruari 2001, saya mendapat amanah dari Panitia untuk menyelenggarakan acara “Renungan & Doa Untuk Bangsa”. Dalam acara yang berlangsung di bangsal utama Istana Keraton Kasunanan Surakarta itu kami tampilkan seni pertunjukan karawitan, atau seni musik Jawa, khas keraton yang sudah lama tidak dipertontonkan. Dengan latihan intensif tidak lebih dari 1 (satu) minggu, karawitan dengan kidung-kidung dakwahnya itu memperoleh aplaus gegap gempita dari hadirin yang berasal dari berbagai suku bangsa.

(dikutip dari buku “Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan” hal 78)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s