Kesalehan sosial yang lebih merupakan tanggungjawab para guru dan pemimpin negara (ulama dan umaroh) akan mudah terwujud apabila kesalehan pribadi, pola hidup sederhana dan qanaah menjadi inti dari pakaian keimanan orang perorang. Sayangnya, kesalehan pribadi itupun kini memudar tatkala pola hidup sederhana dan nrimo atau qanaah telah diluluhlantakkan oleh budaya modern yang mengutamakan materialisme. Prestasi kehidupan tidak lagi diukur dari pencapaian idiil, tetapi dari harta benda atau materi.

Akibat selanjutnya adalah rancunya, untuk tidak mengatakan rusak, budi pekerti luhur atau pun akhlak mulia. Orang tidak lagi peduli pada etika dan tata cara, melainkan hanya mengutamakan hasil. Orang tidak lagi peduli baik dan buruk sampai-sampai timbul ungkapan “Biar dari setan belang pun nggak peduli” atau “Cari yang haram saja susah apalagi yang halal”.

Materi, pesona dunia, harta, tahta dan wanita, sesungguhnyalah telah menjadi berhala-berhala modern yang sering mampu mengalahkan ketaatan umat manusia kepada Sang Penciptanya. Maka tidak mengherankan jika di era ke-sejagadan ini seorang koruptor atau pemakan riswa, pelaku suap-menyuap, dengan bangganya bisa menyombongkan diri sebagai seorang dermawan pembangunan masjid atau sejumlah kesalehan palsu lainnya. Atau lantang berteriak berantas korupsi, namun diam-diam senang menerima hadiah dan sumbangan dari pejabat yang patut diduga sebagai koruptor, dengan dalih demi kemaslahatan umum.

(dikutip dari buku “Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan” hal 85)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s