Kehidupan seseorang kata ibu, berasal dari Tuhan, dari Gusti Allah dengan perantaraan ayah bunda, kemudian tumbuh bersama masyarakat dan kelak akan kembali lagi kepada Tuhan. Lantaran diri kita berasal dari Tuhan, maka kita pun memiliki sifat-sifat Tuhan. Meskipun demikian janganlah sekali-kali kita pernah punya pikiran bahwa diri kita bisa disebut Tuhan.

Sebagai ciptaan-Nya, sebagai sesuatu yang berasal dari Gusti Allah, seharusnya ada hubungan emosional yang indah antara ciptaan dan Sang Pencipta. Hubungan vertikal antara seorang hamba dengan Tuan Besar Sang Maha Pencipta. Habluminallah. Sayang sekali, karena pesona dunia dan bisikan setan, manusia sering melupakan hubungan tersebut. Ini dapat terjadi lantaran kita melupakan asal mula kejadian kita. Sementara itu karena tumbuh bersama di masyarakat, manusia juga wajib membina hubungan horizontal di antara sesamanya, yang dikenal sebagai habluminannas.

Mengetahui dan selanjutnya memahami asal mula dan tujuan mengapa kita dijadikan, menurut ibu amat sangat penting agar kita selamat di dalam menjalani kehidupan, sehingga tiba dengan bahagia serta memperoleh derajat yang mulia di kampung akhirat kelak. Untuk itu komunikasi vertikal dengan Sang Pencipta dan komunikasi horizontal dengan sesama umat manusia, bahkan dengan sesama makhluk Allah yang lain apa pun jenis dan wujudnya juga harus dibina.

Kedua jenis komunikasi tersebut wajib dibina dengan baik dan tidak boleh diabaikan meskipun hanya salah satu. Tidak ada artinya kata almarhumah ibu yang hanya seorang guru Sekolah Dasar, merasa dekat dengan Gusti Allah, tetapi tidak tahu berterima kasih, tidak berani membalas budi ataupun tidak bisa menjalin silaturahmi terhadap sesamanya. Anjing saja, menurut ibu untuk memberi contoh ekstrim, sangat setia dan tahu berterima kasih. Maka manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia tidak boleh kalah dengan anjing. Manusia yang berbudi bawa laksana, yaitu yang diamanahi untuk mengamalkan budi luhur, harus jauh lebih pandai bersyukur dibanding anjing.

Bahkan lebih dari itu, jangan sekali-kali kita pernah mengkhianati dan menzalimi orang yang memberikan amanah, yang pernah menolong, membantu atau berjasa kepada kita. Sebab, demikian nasihat ibu, menurut kepercayaan Jawa, orang yang pernah menolong kita secara tulus ikhlas, sesungguhnya tanpa dia sadari juga memperoleh anugerah dari Yang Maha Kuasa kemampuan untuk mengutuk kita sebanding dengan jasa atau pertolongannya. Kutukannya itu bisa menimpa kita seperti doa yang manjur dari orang yang dizalimi. Kutukan itu bisa keluar menimpa kita jika kita menyakiti hatinya, dan kemudian tanpa sadar dia menangis mengadukan perbuatan buruk kita kepada Gusti Allah. Dan Tuan Besar mana yang menegakan anak buahnya dipermainkan orang? Tuhan Yang Maha Adil, Yang Maha Pengasih dan Tidak Pernah Tidur, Gusti Allah ora sare, akan mendengar tangisan pilu hamba-Nya. Naudzubillah.

(dikutip dari buku “Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan” hal 93)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s