Kelahiran Sang Jabang Bayi membawa ruh memasuki Stasiun Ketiga, yakni kehidupan manusia di dunia. Kehidupan dunia inilah yang diandaikan dengan singgah sejenak untuk istirahat minum. Singgah sejenak dari suatu perjalanan panjang, dari stasiun Pertama ke Stasiun Kelima.

Dalam istirahat sejenak inilah manusia diuji apakah taat dan teguh pada perjanjian, serta menjalankan peran sesuai yang digariskan dalam skenario Pangeran Yang Maha Agung. Untuk itu seperti dalam kisah-kisah pengembaraan seorang ksatria di cerita pewayangan, Gusti Allah memberikan mandat dan kuasa kepada jin–setan–peri perayangan, kepada para raksasa jahat buat menggoda. Menciptakan hawa nafsu serta pesona dunia guna menguji apakah manusia goyah atau tidak. Apakah kita benar-benar memainkan peran dengan baik selaku utusan-Nya, ataukah lalai berasyik masyuk dengan bujuk rayu setan, terlena oleh buaian hawa nafsu, tenggelam dalam gemerlap dunia nan mempesona? Asyik sendiri dengan godaan harta, tahta kekuasaan dan sang rupawan?

Adakah tatkala di Stasiun Ketiga, kita tetap khusyuk menghayati peran kita? Tetap eling, tetap mengingat perjanjian kita dengan Gusti Allah Sang Maha Sutradara? Adakah kita menjaga kebersihan, keindahan, ketertiban, keharmonisan dan kelestarian Stasiun Ketiga yang kita singgahi? Ataukah kita mengotori, merusak dan menimbulkan kegaduhan?

Adakah kita melestarikan dan menegakkan rahmat bagi alam semesta dengan segenap isinya, ataukah justru menghancurkannya, membabat porak-porandakan hutan, mengaduk bumi, menggempur gunung sesuka kita, membunuh sesama makhluk, merusak berbagai ciptaan Tuhan untuk memuaskan dahaga angkara murka dan keserakahan?

Sangkan paraning dumadi harus dapat senantiasa mengingatkan, bahwa kita lahir ke dunia sebagai bayi nan suci dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Demikian pula tatkala meninggal dunia, kita hanya di bungkus dengan selembar kain putih, tidak lebih. Lantas untuk apa serakah menumpuk harta benda dengan mengorbankan tata nilai, etika, persahabatan dan merusak alam semesta yang seharusnya kita rawat dan jaga? Takut anak keturunan menjadi miskin? Toh hal itu sudah digariskan oleh Gusti Allah. Mereka anak kita tapi bukan milik kita. Mereka akan berkiprah sesuai skenario kehidupan yang sudah digariskan oleh Sang Dalang, Sutradara Yang Maha Agung, Allah Swt. dan bukan sesuai skenario kita. Kewajiban kita hanyalah merawat, membesarkan, membimbing dan mendidik mereka(dikutip dari buku “Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan” hal 97)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s