Menuju Manunggaling Kawulo – Gusti

TONGGAK-TONGGAK perjalanan keagamaan
saya, khususnya di masa kecil, amat berbeda dengan anak-anak keluarga muslim dewasa ini, termasuk kedua orang anak saya sendiri. Anak-anak keluarga muslim zaman sekarang mempelajari Islam langsung dengan belajar Al Quran dan huruf Arab. Mereka mengikuti Taman Pendidikan Al Quran (TPA) bahkan memanggil guru mengaji khusus ke rumah. Ada diantara mereka yang mengandalkan hafalan dan kemudian lebih mengenal budaya Arab dibanding budaya bangsanya sendiri. Tidak bisa membedakan antara budaya dan agama.

Akan halnya saya, tidak demikian. Saya tidak mengenal TPA. Tidak memiliki guru ngaji. Pelajaran formal tentang agama saya diperoleh hanya sekitar dua jam dalam seminggu sejak Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Menengah Atas, itupun digabung dalam pelajaran “Agama dan Budi Pekerti”.

Saya masih ingat betul, kedua orangtua saya marah karena pernah suatu saat nilai saya untuk pelajaran tersebut merah (warna merah untuk menandai nilai 5 ke bawah). Pasalnya karena saya mendebat pak guru yang menyatakan Islam mengijinkan poligami, sedangkan saya menyatakan pada dasarnya tidak. Pak guru pun marah besar dan kemudian mengatakan saya tidak punya sopan santun karena berani membantah guru.

Di rumah, kedua orangtua juga marah begitu melihat angka merah untuk pelajaran “Agama dan Budi Pekerti”, sebab mata pelajaran tersebut dianggap yang paling penting diantara semua mata pelajaran yang ada. Orang yang budi pekertinya jelek, kata ibu, pada hakikatnya adalah sampah masyarakat. Dia hanya akan bikin onar, bikin kotor, bikin rusak kehidupan dalam berkeluarga, dan selanjutnya juga dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sementara itu tentang agama ibu berkata, apa gunanya ibu mengajarkan mantera atau doa harian: “Cis Alif tekenku Muhammad payungku Allah”, kalau kamu tidak memahami makna dan hakikatnya? Dan bagaimana kamu dapat memahami makna dan hakikatnya kalau nilai pelajaran agamamu jeblok?

(dikutip dari buku “Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan” hal 102)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s