Demikianlah, kedua orangtua saya mengajarkan kehidupan beragama dengan keteladanan dan interaksi dari waktu ke waktu dalam kehidupan sehari-hari. Lantaran ayah saya pendiam sedangkan ibu pandai bercerita, saya kemudian menjadi “anak ibu”, karena saya dan ibu menjadi selalu sangat dekat.

Kisah keluarga Kanjeng Nabi Muhammad dan para sahabat dituturkan dalam seri dongeng seni pertunjukan ketoprak (teater tradisional) yang pada masa itu dikenal dengan lakon “Wong Agung Menak”.

Mengenai hal-hal gaib dan Gusti Allah Yang Maha Gaib, dibangun dalam suatu dialog tentang kegelapan malam dengan aneka suara binatang malam yang saya dengar tetapi tidak saya lihat wujudnya. Itulah salah satu pencerminan dari kegaiban Gusti Allah, yang tidak bisa saya lihat, tidak bisa saya tembus dengan mata, tapi harus saya akui keberadaan beserta kekuasaan-Nya. Untuk itu ibu memperkuat dengan memberikan mantera-mantera, yang tidak lain adalah zikir dan atau penyerahan diri secara total kepada Gusti Allah. Mantera untuk memohon pertolongan dari Gusti Allah Sang Maha Raja di Raja Yang Maha Kuasa Atas Segala Hal misalkan, dilakukan dengan berkonsentrasi penuh dan melafalkan zikir asmaul husna “Ya Maliku”. Ibu memberi contoh, dan saya percaya serta takjub, beberapa kali dengan zikir tersebut ternyata bisa memohon untuk antara lain menolak dan menunda hujan yang mulai turun. Wallahualam.

(dikutip dari buku “Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan” hal 104)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s