Perpaduan atau sinergi antara ruh yang memiliki Pikiran Bawah Sadar dengan tubuh yang dilengkapi nafsu, akal dan kalbu, menghasilkan jiwa. Jiwa inilah yang kelak kembali ke kampung akhirat untuk mempertanggungjawabkan kehidupan kita.

Demikianlah, apabila segenap komponen manusia dapat berfungsi serta bersinergi dengan baik, dan mampu membangun diri menjadi jagad besar, maka jiwa mampu masuk ke alam jabarut dan berlangsunglah apa yang kemudian disebut manunggaling kawulo-Gusti. Manusia menyatu dengan Tuhannya, dalam arti jiwa manusia mampu menyatu dengan kehendak Allah, mampu melaksanakan tugas-tugasnya selaku wakil dan utusan Allah di muka bumi. Kehidupannya di dunia bagaikan lahan pertanian yang diolah dengan baik sehingga menghasilkan panen sebagai bekal kehidupan abadi di Kampung Akhirat.

Dalam cerita wayang semua itu digambarkan dengan tokoh Bima yang tinggi besar, masuk ke dalam tubuh tokoh seorang dewa yang berbentuk dan rupanya sama seperti Bima tapi sangat kecil, yaitu Dewa Ruci.

Jiwa akan memiliki energi kehidupan yang besar dan efektif luar biasa, bila Pikiran Bawah Sadar dari ruh dapat bersinergi dengan Pikiran Sadar dari akal pikiran. Akan tetapi sinergi keduanya tidak akan mampu mencapai tahap manunggaling kawulo-Gusti, tidak akan bisa membuat manusia menjadi jagad besar, bila sinergi itu tidak didukung oleh komponen-komponen dasar kehidupan lainnya sesuai dengan jalan dan kehendak Allah.

Untuk itu Pikiran Bawah Sadar tanpa jemu harus sering kita format ulang atau selalu disegarkan, diberi landasan pikiran tentang nilai-nilai kebajikan. Terus menerus diisi dengan kalimat-kalimat zikrullah. Harus senantiasa dibuat eling, diingatkan perjanjiannya dengan Gusti Allah, khususnya mengenai tugas dan fungsi kemanusiannya untuk memayu hayuning bawono. Setiap hari di kala tidur, ruh dengan Pikiran Bawah Sadarnya seyogyanya kita tugasi untuk sejenak pulang Kampung melepas kerinduan ke Sang Maha Pencipta sekaligus memohon mandat, hidayah, berkah, rahmat dan ridho-Nya agar dapat lulus melampaui ujian-ujian perjalanan kehidupan.

(dikutip dari buku “Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan” hal 109)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s