Sering orang menyalahartikan, manunggaling kawulo-Gusti sebagai menyatunya Zat Allah ke dalam diri manusia yang bersangkutan. Keadaan yang seperti itu membuat yang bersangkutan sakti penuh karomah, dan masya Allah, karena Tuhan dan dirinya sudah menyatu maka sudah tidak perlu mengerjakan salat lagi. Nauzdubillah.

Orang awam hanya melihat sang hamba, lebih pada kesaktian dan karomahnya saja. Memang, makhluk mana yang berani kepada sang hamba yang sudah menyatu dengan Tuhannya? Dan Pangeran mana yang tidak sayang serta menuruti permohonan hamba kinasih-Nya? Sayangnya, hamba yang benar-benar seperti itu, sesungguhnya dia tidak butuh apa-apa lagi di dunia ini, kecuali kasih dan ridho-Nya. Dia sudah amat puas dengan dirinya, apa adanya. Sudah tidak terpengaruh dengan gelombang perubahan keadaan.

Yang justru selalu diinginkan adalah agar Tuhan melalui segala kehendak dan sifat-sifat kemulian-Nya, senantiasa bersemayam dalam dirinya. Ia senantiasa khawatir tapi penuh harap, agar tanpa henti terus bisa meneladani sifat-sifat Pangerannya, sesuai dengan kemampuannya sebagai makhluk.

Menyatukan kehendak, menyatukan segala pikiran, hawa nafsu dan perbuatan dengan kehendak, dengan perintah dan sifat-sifat Allah inilah yang dimaksudkan dengan manunggaling kawulo-Gusti. Jadi ada upaya aktif terus-menerus dari sang hamba sampai ajal menjemput untuk taat, tunduk dan patuh, mengerjakan tugas dan perintah Allah serta meneladani sifat-sifat-Nya.

Sunan Kalijaga, salah seorang wali keramat di tanah Jawa mengajarkan, untuk mencapai tingkat manunggaling kawulo-Gusti, orang harus mengerjakan salat daim, salat terus-menerus tanpa henti, sambil bekerja, sambil bersilaturahmi, sambil makan, sambil tidur, serta berbagai aktivitas kehidupan lainnya.

Cara melatihnya dilakukan dengan senantiasa membiasakan berzikir, bertahlil, laailaaha illallah atau boleh ya-hu Allah, saja. Mula-mula secara lisan, namun selanjutnya lebih banyak di dalam hati, mengiringi denyut nadi kita, menyertai detak jantung kita. Menyertai setiap gerak-gerik, ucapan, perbuatan dan pekerjaan kita.

Apakah boleh berzikir dengan kalimat-kalimat zikir yang lain? Tentu saja boleh, karena sebenarnya maksud dan tujuan, atau bahkan yang dimaksud dengan salat daim di sini ialah senantiasa mengingat Allah serta melibatkan-Nya dalam setiap pikiran, perbuatan dan urusan. Seorang hamba akan selalu memperoleh perkenan Tuannya, apalagi melibatkan Tuannya dalam setiap denyut kehidupan sang hamba, adalah apabila sang hamba mampu menyatukan kehendaknya dengan kehendak sang Tuan.

Maka marilah kita senantiasa berlatih untuk memandang semua yang tergelar di jagad raya ini, dengan pandangan-Nya yang penuh limpahan kasih sayang, dan memikirkan, memperlakukannya dengan memohon hidayah keagungan ilmu serta limpahan kekuasaan-Nya.

Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallaah, Allahu Akbar. Walaahaula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhim.

(dikutip dari buku “Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan” hal 111)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s