MENILAI ORANG, LIHATLAH TEMANNYA

Waktu kecil, asal mendengar almarhum ayah nembang mocopat, terutama yang berkisah tentang ajaran-ajaran hidup, saya menganggap Jawa adalah pusat dunia dan kebudayaan Jawa adalah kebudayaan adiluhung. Demikianlah, ajaran-ajaran kehidupan tersebut saya pikir khas Jawa. Misalkan saja ajaran tentang jenis makhluk memilih teman dari jenisnya sendiri. Sapi berkumpul dengan sesama sapi. Serigala dengan sesama serigala. Burung dengan sesama burung. Bahkan lebih khas lagi, burung pemakan bangkai berkumpul dengan sesama burung pemakan bangkai. Burung gagak dengan burung gagak, burung perkutut dengan sesama perkutut.

Orang pun kata ayah, berkumpul dengan orang-orang yang sama kelakuannya. Maling kumpul maling, peminum kumpul peminum, pembohong kumpul pembohong, preman kumpul preman, kyai kumpul kyai.

Ketika beranjak remaja, Jawa “centris” saya mulai memudar. Hakekat ajaran yang sama ternyata saya temukan pada ajaran-ajaran Islam, termasuk kisah-kisah Kanjeng Nabi Muhammad. Guru agama saya pernah menceritakan anjuran Kanjeng Nabi untuk pandai-pandai memilih teman, dengan mengibaratkan kalau mau bau wangi bergaullah dengan pedagang atau pembuat minyak wangi. Kalau bergaulnya, kalau temannya pandai besi, maka jangan kaget jika bau badan kita “sangit” atau bau khas asap pembakaran, bahkan mungkin wajah kita pun bisa hitam dengan coreng-moreng jelaga.

Masuk dewasa, Presiden Amerika Serikat Jhon F.Kennedy dan keluarga besarnya termasuk sang ibu Rose Kennedy, sedang sangat popular dan menjadi pembicaraan hangat orang-orang terpelajar waktu itu. Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah nasihat Rose Kennedy kepada anak-anaknya, yaitu jika ingin menjadi negarawan maka berteman dan bergaullah dengan para negarawan. Kalau mau jadi pedagang, ya berteman dan bergaul dengan para pedagang.

Ternyata ajaran hidup tentang mencari teman tersebut, bukanlah khas atau monopoli ajaran Jawa. Ada nilai-nilai kearifan universal yang sama di mana-mana. Meskipun demikian ajaran tentang kehidupan yang banyak diuraikan oleh Serat Wulangreh karya Sinuhun Pakubuwono IV, tetap melekat pada benak saya. Mari kita coba sama-sama mengkaji Pupuh II (Kinanti) bait 3 dan 4 berikut ini: “ Yen wis tinitah wong agung, aja sira nggunggung dhiri, aja leket lan wong ala, kang ala lakunireki, nora wurung ngajak-ajak, satemah anulari” (3), disambung “Nadyan asor wijilipun, yen kalakuane becik, utawa sugih carita, carita kang dadi misil, iku pantes raketana, darapon mundhak kang budi”.

Terjemahan bebas dan tafsirnya adalah, jika sudah ditakdirkan jadi orang besar,orang yang dianugerahi kelebihan dibanding orang lain, janganlah menjadi sok. Jangan adigang-adigung-adiguna. Punya kekuasaan, digunakan semena tanpa peduli aturan dan tata krama, tanpa peduli etika, tanpa peduli hak orang lain. Merasa punya kewenangan lantas sewenang-wenang. Dianugerahi kekayaan lantas berlagak bisa membeli semua orang. Merasa bisa menghadiahi kiri kanan, mentraktir banyak orang, sudah merasa dirinya hebat dan dihormati orang. Janganlah lalai, teman senang itu mudah didapat. Sebaliknya teman duka susah dicari.

Bait ini juga mengajarkan agar kita pandai-pandai memilih teman. Jangan dekat atau bergaul dengan orang-orang yang berperilaku buruk. Sebab perilaku orang itu mudah menular ke kita. Maka sungguh tepatlah ajaran jenis memilih jenis, negarawan berkumpul dengan negarawan, pendosa dengan pendosa.

Bait selanjutnya menganjurkan, meskipun keturunan orang kecil, namun jika berperilaku baik, atau memiliki pengalaman yang patut diteladani, orang seperti ini pantas diakrabi, agar bisa meningkatkan budi baik kita.

Secara hakekat, inti ajaran tersebut diatas, adalah pandai-pandailah memilih teman. Jangan sampai salah gaul. Selanjutnya, cobalah dipakai untuk menilai orang termasuk mawas diri menilai diri sendiri. Siapa dan bagaimana sih seseorang itu? Lihatlah teman bergaulnya. Siapa dan bagaimana diri kita sekarang? Lihatlah teman kita. Ini sangat sangat penting, karena biasanya kita sulit menilai diri, apalagi kesalahan kita sendiri. Lebih celaka, biasanya kalau kita sedang terperosok dalam perilaku dan pergaulan buruk, mata seperti terbutakan dan telinga tertulikan. Apalagi jika makanan dan minuman yang kita konsumsi pun berasal dari pekerjaan dan tindakan yang tidak thoyib, lebih-lebih yang diharamkan dan dilarang agama. Maka cara mengontrol dan mengoreksinya adalah dengan menilai ulang siapa saja teman-teman kita sehari-hari, siapa-siapa yang sebaliknya jauh atau tidak akrab dengan kita.

Islam mengajarkan, yang bisa melihat seseorang itu wali, adalah juga seorang wali. Yang mampu meniai seseorang itu baik, adalah juga orang baik. Bagaimana kita? Bagaimana Nakmas sekalian. Sumonggo.

Bangsalono, Kaki Gunung Lawu, 20 Juli 2010
(Sumbangan tulisan dari Ki Agung Watugunung untuk SERI : 5 HAL YANG DAPAT DENGAN CEPAT MENGUBAH PERILAKU)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s