MEMAHAMI MUSIBAH YANG DATANG BERUNTUN, BERGULUNG-GULUNG BAGAIKAN GELOMBANG DI LAUTAN

Dalam beberapa tahun belakangan ini, bangsa Indonesia seperti tak henti dirundung malang, dilanda bencana dan atau musibah bertubi-tubi. Manusia yang seharusnya “hamemayu hayuning bawono”, yaitu mensyukuri, menjaga dan melestarikan anugerah keindahan serta keharmonisan alam raya, justru digempur oleh alam raya itu sendiri.

Alam raya termasuk angin, air, tanah dengan segala kandungan dan yang melekat padanya adalah makhluk Tuhan, sekaligus juga Balatentara-Nya. Al-Qur’an telah mengisahkan, betapa dahsyat akibat yang diderita oleh sesuatu kaum karena mengamuknya Balatentara Allah tersebut. Dan bukan hanya terhadap kaum-kaum terdahulu saja balatentara Alllah tadi menerjang. Bahkan terhadap kaum-kaum yang akan datang pun, Kanjeng Nabi Muhammad memperingatkan kemungkinan datangnya azab Gusti Allah melalui Balatentara-Nya.

Guna memahami apa dan bagaimana musibah yang sering kita hadapi, penulis akan menurunkan 3 seri tulisan pendek sebagaimana yang diajarkan oleh orang tua sekaligus  guru kita Prof. K.H. Ali Yafie, yang juga sudah penulis terbitkan di dalam buku “ Zikir & Doa Persembahan Anak Saleh” seperti di bawah ini.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menghadapi dua hal yang berbeda. Dalam bahasa agama hal-hal yang menyangkut ungkapan syukur terhadap sesuatu nikmat seperti misalnya perpanjangan usia dan lain sebagainya, disebut tahni’ah, pemberian ucapan selamat atas sesuatu nikmat yang diperoleh seseorang. Kemu­dian, lawannya adalah takziah, penyampaian ungkapan duka dan belasungkawa, penyampaian doa untuk yang berduka dan berbelasungkawa. Jadi yang pertama terkait dengan ni’mah, yaitu sesuatu yang sangat menyenang­kan dalam kehidupan manusia, yang kedua berkaitan dengan niqmah – jadi hurufnya satu saja bedanya, yaitu sesuatu yang sangat tidak diharapkan terjadi di dalam kehidupan, ya itulah yang disebut musibah.

Dengan merangkum dua hal yang berbeda, yaitu ungkapan kegem­biraan menyam­but ni’mah dan ungkapan duka dan belasung­kawa karena terjadinya niqmah, maka saya ingin mengemukakan gambaran nyata dari hakekat kehidup­an manusia, karena setiap manusia selama hidupnya pasti mengalami dua hal ini. Satu ke­tika dia mendapatkan ni’mah, berbagai macam hal yang menyenangkan, tapi satu ketika dia juga mendapatkan niqmah, sesuatu hal yang tidak mengenakkan, tidak ingin terjadi tapi terjadi. Itulah yang kita sebutkan bala bencana atau musibah.

Sekali lagi ini gambaran kehidupan setiap manusia. Memang ada ungkapan dari para ulama yang memberikan gambaran bagaimana kita memahami kehidupan itu. Hakekat kehidupan, “Al hayaatu silsilaton minal imtihanat”, adalah mata rantai, yang sambung menyambung antara berbagai macam ujian kesenangan dan ujian kesusahan. Itulah hakekat kehidupan. Tidak ada seseorang yang hidup sepanjang umurnya senang terus menerus, tapi sebaliknya juga tidak ada orang sepanjang hidupnya mulai lahir sampai tutup usia susah terus menerus. Pasti ada selang seling antara susah dan senang. Itulah hakekat kehidupan.

Lalu Allah SWT memberikan penjelasan yang lebih mantap lagi, lebih sempurna lagi. Di dalam banyak ayat-ayat Allah, digambarkan dengan  kata-kata “Li yablu­wakum ayyukum ahsanu ’amalan”. Kaitannya dengan memahami kehidupan di dunia ini, yaitu bahwa kita hidup di sini, di dunia ini, sebelum hidup abadi di akhirat ialah “Lii yabluwakum ayyukum ahsanu ’amalan”, agar supaya kalian itu diuji. Di situlah timbul kata-kata “balaa, li yabluwakum”. Bala artinya ujian, agar supaya dengan ujian-ujian itu bisa berupaya lebih meningkat­kan kualitas hidupnya.

Namun sebagian manusia hanya merasa diuji kalau mendapat kesusahan. Ketika dia sakit, ketika dia rugi, ketika macam-macam hal terjadi yang disebutnya musibah, di saat itu manusia menyadari dia diuji. Tapi ketika dia senang, ketika dia jaya, ketika dia kaya, dia tidak merasa dirinya diuji. Padahal Allah menjelaskan “Wanablukum bil khairi wa syarri fitnah” (Q.S. 21:35). Itu penegasan Allah, “Wanablukum bil khairi wa syarri fitnah”. Allah berfirman: “Sepanjang hidup kalian, manusia, kami akan menguji kamu, bil khairi, dengan macam-macam kesenangan, wa syarri, dengan macam-macam yang buruk-buruk, yang sulit-sulit.

Jadi menurut Al Qur’an ujian itu dua macam, ujian kesenangan dan ujian kesusahan. Tapi manusia menang­kap separuh saja. Pada waktu sulit dia merasa diuji, tapi pada waktu senang dia tidak sadar bahwa sebenarnya dia juga diuji. Di kala inilah banyak manusia terjerumus ke dalam kesalahan dan dosa. Pada saat diuji dengan kesenangan, tidak sedikit manusia yang lupa daratan. Inilah yang perlu kita pahami, hakekat dari kehidupan.

SERI : MEMAHAMI MUSIBAH (1)

Beji, 01/11/2010.

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “MEMAHAMI MUSIBAH YANG DATANG BERUNTUN, BERGULUNG-GULUNG BAGAIKAN GELOMBANG DI LAUTAN

  1. Edy Darmono

    Penjelasan yang mudah diterima dan dipahami….lanjut…..

  2. islamjawa

    Aswrwb.
    Mas Edy Darmono,
    Alhamdulillah, matur nuwun.
    Salam bahagia.
    B.Wiwoho.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s