SETIAP ORANG MENGALAMI MUSIBAH

Bagaimana kita memahami musibah itu? Apa arti sesungguhnya musibah? Dan bagaimana kalau kita sendiri yang tertimpa musibah, apa yang harus ki­ta lakukan, dan bagaimana kalau orang lain yang tertimpa musibah, apa yang kita harus perbuat? Jadi ada tiga pertanyaan pokok untuk kita coba soroti.

Apa yang disebut musibah? Kata musibah ini adalah dari kata kerja ashaaba, yus­hiibu. Artinya segala sesuatu yang kita alami, apakah itu baik atau buruk, itu musibah. Akan tetapi sudah menjadi kelaziman di dalam pembicaraan sehari-hari, musibah itu hanya yang buruk-buruk, yang sulit-sulit. Sedang yang baik-baik tidak kita sebut musibah. Pada­ hal sesungguhnya semuanya itu mu­sibah, karena itulah yang kita alami dalam kehidupan kita. Ashaaba. (Maa ashaabka min hasanatin fa min­nallah. Wamaa ashaa­baka min sayyi’atin fa min nafsik (Q.S.4 : 79). “Apa yang kamu alami sehingga menimbulkan dampak kese­nangan dalam hidup, itu harus kamu sadari bahwa itu dari Allah. Tapi apa yang kamu alami yang ber­dampak atau mengakibatkan kesulitan bagi kamu, cobalah terlebih dahulu periksa diri kamu”.

Ada suatu nyanyian yang di da­lamnya dipertanyakan “Apa salah saya sehingga tertimpa musibah ini”. Tapi selengkapnya ungkapan itu harus dibaca lebih sempurna, yaitu “mu­sibah yang menimpa saya itu terkait dengan kesalahan apa yang saya lakukan”.

Jadi sekali lagi musibah yang tadi itu, baik yang menyenangkan maupun yang menyusahkan, harus kita pahami bahwa itu adalah bagian dari yang kita baca di dalam surat Yaasin, “dzaalika taqdirrul aziizil ‘aliim”. Jadi dari segi pandangan keimanan itu kembali kepada takdir Allah. Allah yang Maha Perkasa. Allah yang Maha Mengetahui.

Oleh sebab itu, peringatan tadi kita harap­kan dapat menimbulkan suatu kesadaran beriman yang baru, sekaligus untuk kembali kepada Allah SWT, yang dalam kehidupan beragama kita, disebut muhasabah, muraqabah. Itu yang sangat sedikit kita lakukan. Kalau kita sudah keenakan hidup, apalagi kalau jarang ditimpa musibah pribadi seperti­nya kita lupa dua hal itu. Oleh Allah menurut ajaran agama kita disuruh sewaktu-waktu melaku­kannya, yaitu muhasabah dan mura­qabah. Rasulullah mengatakan “Hasibuu anfusakum qabla antu­hasaabuu”, cobalah adakan perhitungan dengan dirimu sendiri, karena menga­da­kan perhitungan dengan orang lain paling gampang. Mengadakan perhitungan dengan diri sendiri, tak banyak orang yang berani bertanya ke­pada dirinya “apa salah saya”. Nah itu namanya muhasabah. Kemudian yang kedua, muraqabah, yaitu melangkah dan bertutur berhati-hati. Memperhitungkan segala akibat dari langkah dan tutur kata kita.

Kalau dua hal ini kita lakukan, maka itulah kunci kebahagiaan hidup, baik kita mengalami musibah yang tidak menyenangkan, maupun musibah yang menge­nakkan. Pasti kita akan tetap mempunyai sumber kebahagiaan yaitu ketenangan jiwa dan kelapangan dada. Kalau itu tidak dimiliki, pada saat kita diuji dengan kesenangan kita lupa daratan. Tapi kalau kita diuji dengan kesulitan maka kita akan frustasi, kehi­langan semangat, kehilangan harapan, bahkan ada kalanya kehilangan akal waras, itu kita namakan stress. Itulah kalau tidak ada muraqabah.

 

SERI : MEMAHAMI MUSIBAH (2)

Beji, 02/11/2010

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s