APA YANG SUDAH ANDA PERBUAT DALAM USIA SEKARANG?

Berapa usia anda sekarang? 25 tahun? 50 tahun? 60 tahun? 70 tahun? Masih ingatkah anda perilaku dan kebiasaan sewaktu balita? Semua orang menyenangi anda, mencoba menggendong, menciumi. Semua menyayangi anda. Bahkan tetap tertawa gembira meskipun anda mengompol dan mengencinginya. Tapi cobalah kencingi kembali orang yang sama itu 20 tahun kemudian. Maka yang keluar dari mulutnya adalah “kurang ajar” atau “gila”. Dan coba kembali anda mengompol di atas usia 60-an. Komentarnya “sudah pikun”.

Usia ternyata mengubah persepsi orang, dan juga perilaku. Contoh yang paling sederhana adalah kegiatan fisik, psikis dan makanan. Saya misalkan, sewaktu SD sampai dengan mahasiswa senang olah raga keras. Senam palang dan ring, bela diri serta naik gunung. Semuanya dilakukan dengan senang hati, tak kenal waktu, tak kenal takut. Tanpa beban perasaan, dan makan apa saja tanpa pantangan. Di usia 40-an, olah raga saya beralih ke pusat-pusat kebugaran dan selanjutnya senam ringan, jogging dan sesekali  cross country di perbukitan. Makan pun sudah mulai pilih-pilih. Menghindari makanan yang banyak mengandung gula, kolesteros dan asam urat. Sejalan dengan bertambahnya usia, beban psikis pun berubah. Perilaku dan pergaulan juga berubah. Jika dulu senang ke diskotik dan pesta pora, sekarang bahkan bisa pusing mendengar musik yang hiruk pikuk. Saya yakin anda dan kita semua, dalam kadar yang berbeda mengalami hal seperti itu.

Oleh sebab itu, sungguh tepat Al-Mawardi mengajarkan kita semua untuk mencermati 5 hal yang dapat dengan cepat mengubah perilaku manusia, yaitu kekuasaan, harta benda, teman pergaulan, penyakit dan usia. Dengan mengutip ajaran Kanjeng Nabi Muhammad dan gurunya, Al-Ghazali menyimpulkan bahwa kehidupan dunia ini sesungguhnya  hanya terdiri dari tiga nafas saja. Satu nafas telah lewat membawa amal perbuatan yang dikerjakan tatkala menarik nafas itu. Satu nafas sedang dijalankan, dan satu nafas lagi belum tahu apakah kita bisa melaksanakan karena kemungkinan datangnya ajal saat sedang bernafas yang kedua tadi. Jika demikian halnya,  maka secara hakikat, sesungguhnya hanya satu tarikan nafas saja yang kita miliki, bukan jam, bukan hari. Umur kita sesungguhnya hanyalah satu tarikan nafas.

Sehubungan dengan itu, orang tua Jawa sering bilang, kita harus senantiasa eling, tobat dan nyebut. Maknanya ialah selalu ingat kepada Gusti Allah. Bertobat terus menerus, dan meski hanya dalam hati, menyebut asma Allah dalam setiap tarikan nafas, dalam setiap gerak dan langkah. Inilah cara kita dalam berlatih untuk selalu menghadirkan Allah pada diri kita, di sepanjang usia kita. Berlatih “manunggaling kawula gusti”, berlatih menyatukan diri dengan kehendak dan ketentuan-ketentuan Illahi. Berlatih dalam menyelaraskan diri dengan sifat-sifat mulia Allah. Dengan demikian, Allahumma amiin, kita dapat memperoleh anugerah umur yang berkah, kesehatan yang berkah, teman pergaulan yang berkah, harta benda dan kekuasaan yang berkah. Memperoleh kebahagian dan kemuliaan hidup di dunia maupun di akhirat. Amiin.

Seri  terakhir dari (Seri 5 HAL YG DAPAT DGN CEPAT MENGUBAH PERILAKU)

Beji : 08 Nopember 2010

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s