KYAI JAWA BERDAKWAH

Ana kidung rumeksa ing wengi

teguh ayu luputa ing lara

luputa bilahi kabeh

jim setan datan purun

paneluhan tan ana wani

miwah penggawe ala

gunaning wong luput

geni temahan tirta

maling adoh tan ana ngarah ing mami

tuju duduk pan sirna.

Bait 1 dari  Kidung Kawedar Sunan Kalijaga yang terjemahan bebasnya adalah sebagai berikut:

Ada kidung pujian sebagai mantera pelindung

di gulita malam

kokoh kuat membendung penyakit dan marabahaya

jin setan tak kan mampu menembus

apalagi segala guna-guna dan sihir

juga segala perbuatan jahat

dari orang-orang dengki

api terasa dingin bagaikan air

pencuri menjauh tiada berani mengincar

segala mara bahaya sirna

MESKIPUN sering risih mendengar orang-orang tua Jawa mengklaim memiliki budaya adiluhung, hati kecil saya terkadang membenarkan juga. Cobalah perhatikan bekas peninggalan Keraton Boko di Prambanan,  Jawa Tengah serta ratusan candi lainnya, terutama Candi Prambanan dan Borobudur, yang merupakan bukti kejayaan sebuah peradaban pada sekitar abad ke-8 yang telah diakui dunia. Candi-candi tersebut bukan sekedar bongkahan batu. Tapi batu yang tersentuh peradaban dan teknologi yang amat sempurna. Diangkat dan disusun di daerah perbukitan. Dipahat dan diberi relief nan indah. Melebar, menjulang tinggi tak terperikan mengagumkannya. Ketinggian Candi Prambanan, mencapai 47 meter.

Bukti tentang peradaban yang cukup maju lainnya juga ditemukan melalui berbagai prasasti dan kondisi lapangan, yang menjelaskan mengenai setidaknya  lima sistem irigasi yang tertata baik, yang dibangun pada rentang periode abad 9 sampai dengan 14 di lembah Sungai Brantas, Jawa Timur.

Sejarah peradaban Jawa mencatat pula, pada masa Kerajaan Islam I, yaitu Demak Bintoro sekitar abad 15 sampai awal abad 16, Kesultanan Demak tersebut pernah membangun armada angkatan laut dengan mega proyek galangan kapalnya di Semarang, untuk melawan Portugis yang sudah menguasai Malaka. Tidak tanggung-tanggung, mega proyek tersebut merencanakan dalam tempo lima tahun akan membangun 1000 (seribu) kapal perang masing-masing berkapasitas 400 tentara. Itu berarti sama dengan 400.000 balatentara. Kapal perang yang dibangun mengkombinasikan model jung Cina dengan jung Aceh, guna menghasilkan bentuk kapal yang kokoh seperti jung Cina tapi memiliki laju kecepatan tinggi seperti jung Aceh. Sayang sekali, baru berhasil membuat 100 kapal untuk menyerbu Portugis di Malaka, mega proyek itu dibumihanguskan oleh perang saudara.

Kondisi masyarakat yang bangga dengan peradabannya yang maju seperti itulah, yang dihadapi para kyai atau ustadz khususnya yang dikenal sebagai “Wali Songo” (Wali Sembilan), dalam menyebarkan agama Islam pertama kali di tanah Jawa. Para feodal dan pemuka masyarakat Jawa berpendapat, tidak ada kelebihan orang Arab atas orang Jawa. Sejalan dengan bunyi sebuah hadis, para ulama menyetujui pandangan tersebut dan melengkapi, demikian pula orang Jawa atas orang Arab. Serta tidak ada kelebihan orang kulit hitam atas orang kulit putih dan sebaliknya, kecuali taqwa. Kita semua berasal dari Adam, dan Adam dari debu.

( Foto :  Sunan Kalijaga, dari Google Images)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s