DAKWAH TANPA GAMBARAN API NERAKA

Kidung Kawedar Sunan Kalijaga yang saya kutip dalam tulisan terdahulu   adalah bait pertama dari yang keseluruhannya berjumlah 45 bait. Masyarakat Jawa yang senang dengan mantera-mantera gaib, diajak melantunkan tembang-tembang indah yang diberi sugesti kekuatan gaib melalui penyerahan diri kepada Gusti Allah Yang Maha Kuasa. Diberi sugesti dari fadilah, keutamaan, hikmah dan manfaat surat Al-Fatihah, ayat Kursi, surat Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Naas.

Kidung Kawedar mewedarkan, menguraikan, menjelaskan tentang ajaran Islam. Tentang Nabi-nabi, tentang Kanjeng Nabi Muhammad, para sahabat dan Fatimah anaknya. Tentang manfaat dan keutamaan bagi siapa yang memeluk agama Islam. Tentang beberapa surat dalam Al-Quran. Tiada ancaman, tiada momok yang menakutkan, tiada cambuk api di tangan kiri dan bara neraka di tangan kanan dalam mereka berdakwah. Baik Kidung Kawedar maupun tembang-tembang lainnya, semua penuh hiburan, bermain gembira ria dan penuh sugesti untuk menyongsong kemuliaan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.

Memang sempat pula para wali dan pengikutnya berperang mengangkat senjata menyerbu kerajaan Majapahit. Tetapi hal itu karena dilatarbelakangi oleh persoalan keturunan dan bukan agama. Majapahit yang dipimpin Kertabhumi (Raja Brawijaya) adalah ayah kandung Raden Fatah, Adipati Demak Bintoro, telah mengalami perpecahan dan perang saudara. Di kancah perang saudara itulah kemudian Raden Fatah yang didukung para wali berhasil mengalahkan para pemberontak yang sebelumnya telah mengalahkan ayahandanya.

Seperti tokoh sufi dari Bagdad di akhir abad ke-9, Al-Junayd, para Kyai Jawa juga menggabungkan ilmu tasawuf dengan keyakinan ahlusunah.

Dengan metode dakwah yang modest, dan transformatif seperti itu, para Wali telah sukses mengislamkan pulau Jawa. Tentu tidak semuanya berlangsung mulus. Ada onak dan duri. Ada gunung terjal yang harus didaki. Ada lembah dan jurang yang harus diseberangi. Ada aliran mistis Kejawen yang mengarus kuat dan bergabung dengan faham “wahdatul wujud” serta ”manunggaling kawulo – Gusti” yang dikembangkan oleh penghulu gerakan sufi di Bagdad awal abad ke-10, Al-Hallaj.

Di Jawa, faham tersebut disebarkan oleh Syeh Siti Jenar dan didukung oleh Ki Ageng Pengging atau Kebo Kenanga, pangeran darah biru trah Majapahit. Meskipun Syeh Siti Jenar dan Kebo Kenanga dihukum mati (menurut legenda, mereka membunuh dirinya sendiri dengan cara meditasi menutup jalan nafas) seperti   Al-Hallaj oleh Sultan Demak Raden Fatah dan para wali, tetapi di kemudian hari putera Kebo Kenanga, Jaka Tingkir yang pada saat itu baru lahir, berhasil mempersunting puteri Sultan Demak Pangeran Trenggono, dan selanjutnya menduduki tahta menggantikan mertuanya.

Di tangan Jaka Tingkir yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya, pusat kerajaan dipindah ke pedalaman di Pajang, Surakarta. Perpindahan ini membawa dampak besar. Pertama, kejayaan sebagai negara maritim hancur dan berganti dengan negara agraris. Kedua, aliran kejawen memperoleh pengaruh yang lebih besar di pusat kerajaan. Walaupun  demikian syiar Islam para wali tidak terhenti, terutama di daerah-daerah pesisir, di Jawa Barat, Jawa Timur dan Indonesia Timur. Bahkan di pusat Kerajaan Mataram (Yogya dan Solo), lahir karya-karya sastra tulis dengan ruh keislaman yang cukup indah.

Bagaimana dan mengapa para ulama, para kyai, para wali berhasil mengislamkan Pulau Jawa? Tentu banyak jawabannya. Dari segi politik pemerintahan misalnya, agama Islam mulai berkembang dibawa oleh para pedagang Gujarat, Campa dan Cina di ibukota Kerajaan Majapahit, tatkala masa kejayaan Majapahit mulai menurun akibat konflik – konflik internal para bangsawannya.

Namun saya tidaklah hendak menulis mengenai hal itu. Sebagai santri abangan yang menjadi wartawan dan praktisi komunikasi massa, saya lebih tertarik mengkaji cara berdakwah para kyai sebagaimana saya uraikan di depan.

(Gambar: Syeh Siti Jenar, dari Google Images)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s