TEMBANG YANG MENGGAMBARKAN TAHAPAN KEHIDUPAN

Tembang-tembang Jawa terdiri dari beberapa jenis. Yang paling popular adalah tembang dolanan atau tembang untuk bermain anak-anak yang bernada gembira, serta tembang macapat yang bernada serius. Tembang macapat digunakan untuk menyampaikan cerita dan ajaran supaya tidak membosankan, tapi sebaliknya menyenangkan dan mudah dihafal serta dipahami.

Para wali yang sekaligus pujangga, menciptakan tembang-tembang macapat dengan berbagai irama agar kisah dan ajaran yang disampaikan tidak membosankan. Ada sebelas irama tembang macapat yang sekaligus menggambarkan tahap-tahap perjalanan kehidupan manusia, yaitu :

1.   Mijil (keluar atau kelahiran)

2.   Sinom (asal kata enom atau muda)

3.   Maskumambang (masa penuh gejolak hidup)

4.   Asmaradana (ulah asmara atau masa jatuh cinta)

5.   Dhandanggula (dendang tentang kemanisan hidup)

6.   Durmo (saatnya untuk mengundurkan diri alias masa pensiun)

7.   Pangkur (masa untuk meninggalkan pesona dunia)

8.   Gambuh (saat untuk memahami hakekat kehidupan dan hidup sesudah mati)

9.   Megatruh (saat ruh meninggalkan jasad)

10. Pocung (saat kita sudah dipocong atau dibungkus kain kafan)

11. Kinanti (amalan yang perlu ditingggalkan)

Dalam perkembangannya irama-irama tersebut bertambah dua lagi  yaitu:

12. Wirangrong (untuk menggambarkan peringatan atau kehati-hatian agar kita tidak wirang atau malu di kemudian hari)

13. Girisa (untuk menguraikan hal-hal yang tidak boleh dilanggar dalam kehidupan serta doa-doa pujian, agar kita takut atau giris berperilaku buruk)

 

Untuk tembang-tembang pendek yang tidak merupakan rangkaian cerita, jenis-jenis irama tersebut sering digunakan sesuai tahapan keadaan seperti yang digambarkan tadi. Namun dalam kitab-kitab yang panjang baik untuk cerita maupun ajaran, para pujangga tidaklah harus terpaku pada tahapan keadaan, melainkan bebas sesuai dengan cita rasa keindahan yang diinginkan. Kitab Wulangreh atau ajaran tentang perilaku karya Sunan Pakubuwono IV (1768-1820) misalkan, diawali dengan tembang Dhandanggula, kemudian diakhiri dengan Sinom dan Girisa.

Demikianlah, ada alur kehidupan yang seyogyanya dijalani. Namun juga ada keleluasaan dan keluwesan dalam menyikapi keadaan. Masya Allah.

(Foto:  Sunan Kudus dari Google images)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s