HARUS INGAT ASAL MULA

Dalam buku “Memaknai Kehidupan” halaman 14 saya menulis tentang wasiat ibu saya kepada anak cucunya agar senantiasa ingat sangkan paraning dumadi. Asal mula dan tujuan penciptaan manusia.

Wasiat seperti itu tentu bukan monopoli dan asli dari ibu saya, tapi sesungguhnya sudah turun-temurun dan menjadi ajaran tentang kehidupan orang Jawa pada umumnya.

Dalang wayang kulit ternama, almarhum ki Nartosabdo, juga sering mengajarkan agar manusia selalu ingat asal mula kejadiannya, dengan melantunkan tembang Dhandanggula yang amat merdu sebagai berikut:

Kawruhana sajatining urip

manungsa urip ana ing donya

prasasat mung mampir ngombe

umpama manuk mabur

oncat saking kurunganeki

ngendi pencokan benjang

ywa kongsi keliru

Upama wong lunga sanja

njan sinanjan nora wurung mesthi mulih

mulih marang mulanira

(Ketahuilah perihal hakikat hidup

manusia hidup di dunia

ibarat hanya singgah untuk minum

ibarat burung terbang

lepas dari sangkar

akan hinggap di mana nanti

jangan sampai salah

Ibarat orang bertandang

kunjung-mengunjungi tapi toh akhirnya harus pulang

pulang ke tempat asal mula)

Kalimat yang menyatakan orang hidup itu ibarat sekedar singgah untuk minum, sangat populer bagi orang Jawa. Sama populernya dengan kalimat, Gusti Allah “ora sare”, Gusti Allah tidak tidur. Yang pertama berasal dari sabda Kanjeng Nabi Muhammad, sedangkan yang kedua berasal dari Al Quran ayat Kursi. Karena hanya sekedar singgah minum dari suatu perjalanan panjang seorang musafir, maka waktu untuk singgah adalah pendek. Waktu yang pendek ini harus digunakan dengan sebaik-baiknya, serta diisi dengan kegiatan dan hal-hal yang bermanfaat bagi sukses dan tercapainya maksud dan tujuan perjalanan.

Bait kedua dari tembang di atas selanjutnya menyatakan, manusia dan semua makhluk diciptakan oleh Sang Maha Pencipta Alam Raya Yang Maha Agung. Dialah asal mula sekaligus tujuan akhir dari semua yang ada.

Kehidupan seseorang berasal dari Tuhan, dari Gusti Allah dengan perantaraan ayah bunda, kemudian tumbuh bersama masyarakat dan kelak akan kembali lagi kepada Tuhan. Lantaran diri kita berasal dari Tuhan, maka kita pun memiliki sifat-sifat Tuhan. Meskipun demikian janganlah sekali-kali kita pernah punya pikiran bahwa diri kita bisa disebut Tuhan.

Sebagai ciptaan-Nya, sebagai sesuatu yang berasal dari Gusti Allah, seharusnya ada hubungan emosional yang indah antara ciptaan dan Sang Pencipta. Hubungan vertikal antara seorang hamba dengan Tuan Besar Sang Maha Pencipta, habluminallah. Sayang sekali, karena pesona dunia dan bisikan setan, manusia sering melupakan hubungan tersebut. Ini dapat terjadi lantaran kita melupakan asal mula kejadian kita. Sementara itu karena tumbuh bersama di masyarakat, manusia juga wajib membina hubungan horizontal di antara sesamanya, yang dikenal sebagai habluminannas.

(Gambar : Burung Terbang dari Sangkar  dr Google images)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s