JAGAD KECIL JAGAD BESAR

Guna melatih mengenali dan mengendalikan hawa nafsu, sekaligus memahami kehidupan serta membangun kepedulian terhadap sesamanya, ayah dan ibu melatih melakukan berbagai puasa semenjak saya berusia lima tahun. Dengan aneka macam puasa seperti puasa Ramadhan, puasa mutih dengan hanya semata-mata makan nasi putih dan minum air putih, puasa ngrowot dengan hanya memakan buah-buahan segar, semua pemahaman tadi diajarkan kepada kami.

Dalam beberapa hal pelajaran itu bisa langsung saya cerna dan pahami. Namun ada satu hal yang ternyata baru bisa saya mengerti setelah dewasa, yaitu pemahaman tentang pengibaratan manusia sebagai jagad (alam) kecil dan jagad besar.

Dalam buku “Memaknai Kehidupan” saya telah menulis, paham Jawa sering menyebut manusia dan alam raya sebagai jagad kecil dan jagad besar. Tetapi kadang-kadang juga disebut kebalikannya. Akibatnya saya pun jadi bingung.

Alhamdulillah, uraian Prof.Dr.KH. Muhibbuddin Wally dalam buku “Hakikat Hikmah Tauhid dan Tasawuf” yang membahas Kitab Al Hikam yang tersohor karya Al-Iman Ahmad Abul Fadhal gelar Tajuddin bin Muhammad bin Abdul Karim bin Athaillah Askandary, kemudian dapat menjawab kebingungan saya selama ini. Padahal sebelumnya saya telah mencoba mendalami berbagai buku tentang hal tersebut, baik buku-buku asli seperti Kidung Kawedar, Centini, Wedhatama, Wulangreh, Serat Nitiprana, Cipta Waskita, Dewa Ruci dan lain-lain, maupun tulisan-tulisan pengamat zaman sekarang.

Menurut pembahasan kitab Al Hikam tersebut, manusia akan menjadi copy dari alam atau jagad raya, atau menjadi alam kecil apabila rohaninya tidak dapat mengalahkan kemanusiaannya. Sebaliknya jika rohaninya bisa menundukkan unsur kemanusiaannya, unsur lahiriah-nya, atau hakikat dirinya lebih menonjol dibanding jangkauan pancainderanya, maka masuklah ia ke dalam “alam malakut yang jabarut”. Dalam keadaan yang seperti itu manusia menjadi jagad besar, sedangkan alam yang kita lihat justru menjadi copy dari manusia. Begitu besar rohani kita sehingga tidak dapat ditampung oleh bumi dan langit.

Kita semua sependapat bahwa manusia terdiri dari dua unsur yaitu ruh dan tubuh. Tetapi mengenai ruh dan jiwa, sulit dipisahkan dan dibedakan. Meskipun demikian, sebagian penganut tasawuf membedakan ruh dengan jiwa. Sebab jiwa itu merupakan perpaduan antara ruh dengan tubuh, dengan jasad lahir. Jadi jiwa adalah hasil kinerja antara ruh dengan jasad.

Jiwa manusia menurut Al Hikam, apabila suci dari segala kekeruhan yang datang dari alam lahiriah, maka naiklah jiwa tersebut ke alam jabarut, yaitu alam dimana malaikat termasuk dalam salah satu jenisnya. Dalam keadaan seperti ini tidak ada dinding penghalang antara sang jiwa dengan Sang Pencipta. Di mata orang yang memiliki jiwa seperti itu, alam raya nampak begitu kecil bagaikan sebutir biji sawi. Alam raya yang tertangkap oleh pancainderanya menjadi alam kecil, sedangkan dirinya menjadi alam besar.

Manusia yang seperti itu memperoleh sebutan Rohaniyin Malakutiyin, manusia-manusia rohani yang berada dalam alam malaikat, yang  tidak dapat dijangkau oleh panca indera manusia. Tubuh manusia yang seperti itu meskipun berada di kalangan manusia dan makhluk-makhluk lain, tetapi jiwanya melakukan perjalanan yang tidak terbatas lagi, tiada ujung, untuk senantiasa berada di sisi Allah Yang Maha Agung. Demikian pula sebaliknya, manusia disebut alam kecil yang merupakan copy dari alam mayapada, karena berbagai hakikat alam makhluk terkumpul padanya. Ada sifat setan yang keras kepala dan senang berbuat dosa. Ada sifat binatang, yang mudah marah dan kalap seperti singa buas, atau selalu berkobar nafsu syahwatnya tanpa mengenal malu dan membedakan sanak saudara seperti babi. Ada anjing yang meskipun sudah diberi makanan yang bagus-bagus toh masih tetap rakus akan bangkai, atau serigala yang penuh tipu daya dan suka main keroyok.

Manusia juga memiliki sifat tumbuh-tumbuhan, yang semula kecil, subur dan indah, menjadi besar, tua dan layu kemudian mati. Memiliki sifat langit yang dapat menjadi tempat rahasia dan cahaya dari ilmu, akal dan nuraninya. Memiliki sifat bumi, sifat Al-Qalam, sifat Lauhil Mahfuz sebagai tempat menyimpan ilmu, serta sifat-sifat ketuhanan.

Hatta, jika manusia tidak dapat mengelola dengan baik berbagai sifat tersebut, bahkan sebaliknya diperbudak, maka dirinya hanyalah merupakan alam kecil. Naudzubillah.

(Gambar : Alam Semesta dari Google images)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s