MENUJU MANUNGGALING KAWULA GUSTI

Perpaduan atau sinergi antara ruh yang memiliki Pikiran Bawah Sadar dengan tubuh yang dilengkapi nafsu, akal dan kalbu, menghasilkan jiwa. Jiwa inilah yang kelak kembali ke Kerajaan Akhirat untuk mempertanggungjawabkan kehidupan kita.

Demikianlah, apabila segenap komponen manusia dapat berfungsi serta bersinergi dengan baik, dan mampu membangun diri menjadi jagad besar, maka jiwa mampu masuk ke alam jabarut dan berlangsunglah apa yang kemudian disebut manunggaling kawulo-Gusti. Manusia menyatu dengan Tuhannya, dalam arti jiwa manusia mampu menyatu dengan kehendak Allah, mampu melaksanakan tugas-tugasnya selaku wakil dan utusan Allah di muka bumi. Kehidupannya di dunia bagaikan lahan pertanian yang diolah dengan baik sehingga menghasilkan panen sebagai bekal kehidupan abadi di Kerajaan Akhirat.

Dalam cerita wayang semua itu digambarkan dengan tokoh Bima yang tinggi besar, masuk ke dalam tubuh tokoh seorang dewa yang berbentuk dan rupanya sama seperti Bima tapi sangat kecil, yaitu Dewa Ruci.

Jiwa akan memiliki energi kehidupan yang besar dan efektif luar biasa, bila Pikiran Bawah Sadar dari ruh dapat bersinergi dengan Pikiran Sadar dari akal pikiran. Akan tetapi sinergi keduanya tidak akan mampu mencapai tahap manunggaling kawulo-Gusti, tidak akan bisa membuat manusia menjadi jagad besar, bila sinergi itu tidak didukung oleh komponen-komponen dasar kehidupan lainnya sesuai dengan jalan dan kehendak Allah.

Untuk itu Pikiran Bawah Sadar tanpa jemu harus sering kita format ulang atau selalu disegarkan, diberi landasan pikiran tentang nilai-nilai kebajikan. Terus menerus diisi dengan kalimat-kalimat zikrullah. Harus senantiasa dibuat eling, diingatkan perjanjiannya dengan Gusti Allah, khususnya mengenai tugas dan fungsi kemanusiannya untuk memayu hayuning bawono. Setiap hari di kala tidur, ruh dengan Pikiran Bawah Sadarnya seyogyanya kita tugasi untuk sejenak pulang Kampung melepas kerinduan ke Sang Maha Pencipta sekaligus memohon mandat, taufiq, hidayah, berkah, rahmat dan ridho-Nya agar dapat lulus melampaui ujian-ujian perjalanan kehidupan.

Sering orang menyalahartikan, manunggaling kawulo-Gusti sebagai menyatunya Zat Allah ke dalam diri manusia yang bersangkutan. Keadaan yang seperti itu membuat yang bersangkutan sakti penuh karomah, dan masya Allah, karena Tuhan dan dirinya sudah menyatu maka sudah tidak perlu mengerjakan shalat lagi. Nauzdubillah.

Orang awam hanya melihat sang hamba, lebih pada kesaktian dan karomahnya saja. Memang, makhluk mana yang berani kepada sang hamba yang sudah menyatu dengan Tuhannya? Dan Pangeran mana yang tidak sayang serta menuruti permohonan hamba kinasih-Nya? Sayangnya, hamba yang benar-benar seperti itu, sesungguhnya dia tidak butuh apa-apa lagi di dunia ini, kecuali kasih dan ridho-Nya. Dia sudah amat puas dengan dirinya, apa adanya. Sudah tidak terpengaruh dengan gelombang perubahan keadaan.

Yang justru selalu diinginkan adalah agar Tuhan melalui segala kehendak dan sifat-sifat kemulian-Nya, senantiasa bersemayam dalam dirinya. Ia senantiasa khawatir tapi penuh harap, agar tanpa henti terus bisa meneladani sifat-sifat Pangerannya, sesuai dengan kemampuannya sebagai makhluk.

Menyatukan kehendak, menyatukan segala pikiran, hawa nafsu dan perbuatan dengan kehendak, dengan perintah dan sifat-sifat Allah inilah yang dimaksudkan dengan manunggaling kawulo-Gusti. Jadi ada upaya aktif terus-menerus dari sang hamba sampai ajal menjemput untuk taat, tunduk dan patuh, mengerjakan tugas dan perintah Allah serta meneladani sifat-sifat-Nya.

Sunan Kalijaga, salah seorang wali keramat di tanah Jawa mengajarkan, untuk mencapai tingkat manunggaling kawulo-Gusti, orang harus mengerjakan shalat daim, ingat akan Allah terus-menerus, shalat terus-menerus tanpa henti, sambil bekerja, sambil bersilaturahmi, sambil makan, sambil tidur, serta berbagai aktivitas kehidupan lainnya.

Cara melatihnya dilakukan dengan senantiasa membiasakan berzikir, bertahlil, laailaaha illallah atau boleh ya-hu Allah, saja. Mula-mula secara lisan, namun selanjutnya lebih banyak di dalam hati, mengiringi denyut nadi kita, menyertai detak jantung kita. Menyertai seluruh pikiran, gerak-gerik, ucapan, perbuatan dan pekerjaan kita.

Apakah boleh berzikir dengan kalimat-kalimat zikir yang lain? Tentu saja boleh, karena sebenarnya maksud dan tujuan, atau bahkan yang dimaksud dengan shalat daim di sini ialah senantiasa mengingat Allah serta melibatkan-Nya dalam setiap pikiran, perbuatan dan urusan. Seorang hamba akan selalu memperoleh perkenan Tuannya, apalagi melibatkan Tuannya dalam setiap denyut kehidupan sang hamba, adalah apabila sang hamba mampu menyatukan kehendaknya dengan kehendak sang Tuan.

Maka marilah kita senantiasa berlatih untuk memandang semua yang tergelar di jagad raya ini, dengan pandangan-Nya yang penuh limpahan kasih sayang, dan memikirkan, memperlakukannya dengan memohon hidayah keagungan ilmu serta limpahan kekuasaan-Nya.

Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallaah, Allahu Akbar. Walaahaula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhim.

(Gambar : Bima & Dewa Ruci dari Google images).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s