KEHIDUPAN BERAGAMA MENURUT FAHAM JAWA

Inti dari kehidupan beragama menurut faham Jawa adalah akhlak atau budi pekerti luhur, antara lain hidup secara jujur, benar dan adil, berbuat kebaikan serta menghindari perbuatan buruk dan jahat. Salah satu manifestasi hidup secara benar yaitu memayu hayuning bawono, mensyukuri, menjaga dan melestarikan anugerah keindahan serta keharmonisan alam raya. Apa guna salat semalam suntuk jika dirusak dengan satu niat yang buruk? Apa guna puasa sepanjang hari bila dirusak dengan satu perkataan buruk? Dengan dusta dan pergunjingan? Oleh sebab itu jauhilah segala yang harus dijauhi. Jauhilah segala maksiat dan kejahatan. Hal ini lebih baik dan lebih selamat dibanding salat, puasa dan haji. Faham ini ternyata diambil dari ajaran tasawuf Al-Ghazali tentang taqwa (kitab Minhajul ‘Abidin), yang sayangnya dihayati secara ekstrim sehingga jika seseorang sudah sampai tingkat ketaqwaan yang sejati itu, maka sudah tidak perlu lagi mengerjakan salat lima waktu, tidak perlu lagi mengikuti syariat.

Sebagian manusia Jawa terutama rakyat kecil, menganut faham Islam Jabariah yang berujung pada fatalistis, dengan mengandaikan manusia bagaikan wayang yang perannya diatur serta dimainkan sepenuhnya oleh Sang Dalang – Allah Yang Maha Kuasa. Oleh sebab itu manusia hidup harus pasrah, menerima nasib dan menjalani kehidupan sebagaimana adanya, tanpa harus berjuang memperbaiki atau mengubah nasib.

Tentang isi alam  raya, diyakini semua itu adalah ciptaan Tuhan. Gusti Allah menciptakan alam raya dengan segenap isinya itu sekecil apa pun wujudnya, bukan untuk main-main, bukan asal mencipta, akan tetapi semuanya mengemban misi atau tugas dan fungsi masing-masing. Oleh sebab itu manusia harus memahami hal tersebut melalui semangat “memayu hayuning bawono”, menjaga kelestarian serta kehidupan alam semesta.

Lebih dari itu, terhadap setiap ciptaannya, sebagian orang Jawa juga percaya bahwa Tuhan menugaskan balatentara-Nya yang gaib atau malaikat dan makhluk halus untuk menjaganya. Penjaga itu disebut danyang. Sebagian orang Jawa lagi bahkan yakin alam semesta dengan segenap isinya itu, misalkan gunung Merapi dengan lava panasnya adalah juga balatentara Allah.

Oleh karena itu pula kita harus menghargai dan tidak boleh semena-mena terhadap ciptaan Tuhan, meski itu hanya berupa batu dan pohon misalnya. Sebab bukan tidak mungkin makhluk gaib atau danyang yang menjaganya, yang membantu mengatur urusan fungsi pohon atau bebatuan tersebut marah terhadap kita. Yang lebih celaka adalah jika penjaga itu mengadukan perbuatan kita kepada Tuhan, sehingga Tuhan murka kepada kita. Maka itu pula, meski tidak suka dan kecewa kita tidak boleh merendahkan apalagi menghina dan memaki, lebih-lebih menyebut seseorang sebagai binatang, karena itu sama dengan menghina Sang Pencipta Yang Maha Agung yang telah menciptakan seseorang tersebut sebagai manusia dan bukan sebagai binatang.

Karena percaya yang demikian maka sebagian orang Jawa mencoba berkomunikasi dan berbuat baik kepada para penjaga gaib tadi, antara lain dengan memberi nama kepada beberapa benda atau binatang yang dihormati dan disayangi, misalkan dengan nama Kyai Slamet, bahkan memberikan sesaji bunga-bungaan dan lain-lain. Itu pulalah sebabnya, di beberapa kota di Jawa, khususnya di Solo dan Yogya ada daerah yang dinamakan Pasar Kembang, yang khusus menjual kembang untuk sesaji dan ziarah kubur.

(foto: Dalang wayang kulit dari google images)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s