SYNKRETISME JAWA

Prinsip hidup harmonis, toleran dan akomodatif orang Jawa juga menghasilkan synkretisme antar agama dan perkayaan sesuatu agama dengan adat dan budaya Jawa atau sebaliknya. Maka tidak mengherankan kalau di Jawa ada candi-candi pemeluk Syiwa Budha sebagaimana candi-candi di Jawa Timur, ada candi Budha yang dibangun oleh raja Hindu yaitu candi Plaosan di Prambanan, Jawa Tengah, ada penganut Islam Kejawen, yaitu orang Islam yang juga sekaligus memuja roh-roh gaib, atau orang Islam yang menganut paham kebatinan yang meyakini jika ia sudah sangat percaya kepada Allah Yang Maha Kuasa, maka tidak wajib lagi untuk melaksanakan salat lima waktu.

Synkretisme yang amat kental yang melibatkan multi agama dan kepercayaan adalah peringatan 1 Muharam, yaitu awal tahun Hijriyah dalam kalender Islam menjadi 1 Suro, awal tahun baru Jawa yang dirayakan baik oleh orang Jawa Islam-kepercayaan-kebatinan maupun Kristen. Kata Suro itu sendiri berasal dari kata Asyura yang merupakan peristiwa bersejarah yang sangat dimuliakan pemeluk Islam mazhab Syiah guna memperingati terbunuhnya cucu Nabi Muhammad. Peringatan 1 Suro dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta dan Cirebon. Mereka melakukan berbagai acara ritual di tempat keramat misalkan Gunung Lawu di Surakarta dan Pantai Parangtritis di Yogya, juga di Istana Mangkunegaran dan Kesunanan di Solo serta Kasultanan di Yogyakarta. Di Jakarta pada masa Orde Baru, biasanya dirayakan dengan menggelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk di gedung DPR/MPR-RI dan Taman Mini Indonesia Indah.

Bagi orang Jawa dari agama apapun, bahkan kini meluas pula kepada suku-suku bangsa lain, roh orang yang sudah meninggal perlu dihormati sekaligus dibantu agar diterima di sisi Tuhan dengan baik. Caranya adalah dengan menyelenggarakan serangkaian acara selamatan yang dimulai dan dihitung sejak hari meninggalnya, yaitu hari ke 1-7, 40, 100, 1 tahun, 2 tahun, 1.000 hari, haul atau peringatan tahunan berikutnya dan nyadran atau sadranan. Acara nyadran berupa ziarah kubur pada bulan Sya’ban, bulan ke-8 dalam kalender Islam atau bulan terakhir menjelang bulan Puasa atau Ramadhan, sama dengan bulan Ruwah dalam kalender Jawa (juga bulan ke-8). Ruwah berasal dari kata arwah yang diilhami oleh bahasa Arab roh. Sedangkan kata Sadran berasal dari istilah pesta serada, yaitu pesta besar untuk menghormati dan menyenangkan roh orang yang sudah meninggal, sebagaimana pernah dilakukan oleh raja Hindu Majapahit – Hayam Wuruk tahun 1362. Meskipun menggunakan hitungan waktu, hari dan tahun yang sama, tetapi prosesi ritual selamatan orang meninggal tersebut berbeda satu sama lain tergantung pada agama yang dianutnya.

Tuhan dan agama di mata orang Jawa, menarik untuk dikaji sekaligus merupakan tantangan bagi para juru dakwah, terutama faham kebatinan yang dalam kehidupan sehari-hari lebih mengutamakan kesempurnaan batin di banding syariat agama, sedangkan kesempurnaan batin dapat dicapai jika berpegang teguh pada budi dan etika. Oleh sebab itu orang Jawa khususnya para priyayi,sangat diatur oleh ajaran budi pekerti dan tata susila, misalkan adab menghormati orangtua dan guru, ajaran mawas diri, jangan sok dan mentang-mentang, ajaran untuk memegang teguh janji atau kata-kata yang sudah terlanjur diucapkan, ajaran untuk satunya kata dengan perbuatan dan lain-lain. Ajaran budi pekerti dan etika tersebut sudah menyatu dengan tata nilai, etos bahkan etika, sehingga dalam beberapa hal sulit dibedakan satu sama lain.

Tetapi zaman terus berubah. Interaksi budaya, konsumerisme dan materialisme serta globalisasi pasti memiliki pengaruh dalam kehidupan sesuatu masyarakat, termasuk masyarakat Jawa. Seperti apa dan sejauh mana pengaruhnya? Yang jelas, belum lama berselang, tatkala berziarah ke makam beberapa Wali, saya melihat para peziarah menyemut dan datang berbondong-bondong dari berbagai kota dan daerah termasuk dari luar Jawa. Sementara itu seorang juru kunci di sebuah makam mempersilahkan saya mengajukan permohonan kepada almarhum, yang justru saya yakin almarhum sang Wali, kekasih Allah, tidak akan suka jika saya melakukan itu.

Allahumma puji langgeng

sukma mulya kumpula badan sarira

oleha marga sing gampang

gampang saking kersaning Allah.

Allah iku Maha Mulya

Maha Adil lan Maha Uninga

kabeh pada den percaya

marang pungaose Allah

Sembah sujud ting kawula

kunjung mring kang Maha Minulya

tansah paring sandang teda

adil makmur kerta raharja

Hu la ila ha illallah

Muhammad dar rasulullah

Hambrasta sakehing lara

Hayem tentrem wong sanegara

Duh Gusti, yang Maha Kekal Abadi

jiwa nan mulia menyatulah di raga kami

semoga memperoleh jalan yang lempang

Kemudahan karena kehendak Paduka

Astaghfirullahal ‘azhiim, masya Allah laquwwata illabillah.

(foto: kerbau bule atau albino yang mengiringi upacara 1 Muharam di Keraton Kasunanan Surakarta, dr google images)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s