SHOLAT DAN MANUNGGALING KAWULA GUSTI

Orang Jawa sebagaimana suku-suku bangsa lain, memiliki banyak pertuah. Salah satu diantaranya yang sangat populer, yaitu sugih tanpa banda (kaya tanpa harta), nglurug tanpa bala (menyerbu tanpa perlu membawa pasukan) dan menang tanpo ngasorake (menang tanpa membuat musuh merasa dikalahkan). Esensi dari petuah ini ternyata saya jumpai dalam buku kumpulan hadis Nasehat Penguni Dunia (Nashaihul Ibad), karya Imam Ibnu Hajar Al Asqalaniy dan Imam Nawawi Al-Banteniy.   Yang terakhir adalah  ulama terkenal asal Banten yang bermukim di Mekah pada abad ke-19. Hadis tersebut berbunyi: “Barang siapa keluar dari kehinaan maksiat menuju kemuliaan taat, maka Allah akan menjadikan ia kaya tanpa harta, kuat tanpa tentara dan menang tanpa pasukan.”

Kalau pada masa kejayaan Majapahit kita telah memiliki beberapa karya satra tulis, sayang sekali pada masa awal penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa abad ke-15, kecuali beberapa ”Suluk Demak”, kita sulit menemukan peninggalan karya tulis. Karya tulis Jawa baru kembali berkembang pada masa Mataram II, khususnya di masa Kasunanan Surakarta abad ke-18. Itu pun kita belum biasa menggunakan kelaziman sumber kutipan. Akibatnya banyak ajaran agama Islam yang tidak diketahui atau tidak disebutkan sumber asal-usulnya, dan beberapa di antaranya kemudian diklaim sebagai ajaran Kejawen.

Ironisnya pula ajaran-ajaran yang didakwahkan secara lisan dari generasi ke generasi tersebut, sebagian telah menyimpang sehingga belakangan ini banyak ajaran Kejawen yang kembali sarat dengan klenik dan mistis, memuja roh halus dan para jin. Sementara itu ada pula penganut aliran Kebatinan, yang pada dasarnya menjalani ilmu tasawuf yang berusaha menghayati makna hakikat dan ma’rifat, mengambil jalan pintas, karena merasa Gusti Allah telah menyatu dalam dirinya, manunggaling kawulo-Gusti, maka menganggap tidak perlu menjalankan solat lima waktu. Tanpa perlu melaksanakan syariat. Mereka mungkin lupa bahwa Kanjeng Nabi pun sampai di akhir hayatnya tetap solat lima waktu. Padahal, adakah pengikutnya yang dapat menandinginya dalam hal keimanan dan kedekatannya dengan Allah? Saya yakin tidak. Masya Allah.

(Gbr : Cover buku Nashaihul Ibad dari Google Images)

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “SHOLAT DAN MANUNGGALING KAWULA GUSTI

  1. islamjawa

    Subhanallah walhamdulillah mas Sakhuri. Salam ta’zim.
    B.Wiwoho.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s