JANGAN PERNAH BERHENTI MERAWAT POHON CINTA

Saudara-saudaraku,

Anda semua pasti sudah sering mendengar dan membaca tiga kata doa dan harapan yang sudah bak slogan dalam nasihat perkawinan, yaitu membentuk keluarga yang sakinah (tenteram), mawadah (cinta) dan rahmah (kasih sayang). Kami senang menambah­kan satu kata lagi yakni amanah (jujur dan ber­tanggungjawab). Empat kata yang merupakan idaman dan cita-cita ideal inilah yang menjadi tolok ukur keselamatan serta kebahagiaan material – spiritual dalam kehidupan rumah­tangga.

Ketiga tolok ukur yang pertama, sering kita jumpai tertera dalam undangan pernikahan, sebagaimana kutipan surat Ar-Rum (30:21) sebagai berikut: “Di antara tanda-tanda kebesar­an dan kekuasaan Allah adalah Dia menciptakan dari sejenismu pasangan-pasangan agar (kamu) masing-masing memperoleh ketenteraman dari (pasangan)nya, dan Dia jadikan diantara kamu cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.

Prof. Dr. Achmad Mubarok, MA menggam­bar­kan manusia pada dasarnya adalah makhluk yang memiliki tabiat mesra, tapi suka lupa dan memiliki gejolak keinginan yang tak pernah berhenti. Padahal jika demikian halnya, ia tidak akan dapat merasakan ketenangan dan keten­teraman hidup.

Guna memperoleh sakinah atau keten­teraman hidup dalam rumahtangga, maka sepasang suami isteri harus bisa menyatu dalam satu ikatan, yang tali perekatnya adalah mawa­dah dan rahmah, cinta dan kasih sayang, yang dilandasi oleh perasaan amanah, perasaan yang tulus dan jujur serta kerelaan untuk saling bertanggungjawab satu sama lain.

Cinta – mawadah, adalah perasaan cinta yang mendalam, luas dan bersih dari pikiran serta kehendak buruk. Sedangkan rahmah mengan­dung pengertian dorongan psikologis untuk melindungi orang yang tak berdaya.

Rumahtangga yang direkat oleh mawadah dan rahmah menurut Prof. Mubarok dalam buku saku Nasehat Perkawinan, adalah rumah­tangga dengan pasangan dimana masing-masing secara naluriah memiliki gelora cinta mendalam untuk memiliki, tapi juga memiliki rasa iba dan sayang sehingga masing-masing terpanggil untuk berkorban serta melindungi pasangannya dari segala hal yang tidak disukainya.

Di zaman dulu, banyak pasangan suami isteri yang menikah karena dijodohkan oleh orang tua. Pasangan seperti ini sering tidak memiliki atau diawali oleh gelora cinta yang membara. Tetapi kata orang Jawa, witing tresno jalaran soko kulino, benih pohon cinta tumbuh karena bergaul tiap hari, tiap saat. Begitu pula ada pasangan suami isteri yang gelora cintanya meredup. Namun karena pasangan ini memiliki rahmah, memiliki rasa kasih sayang dalam diri pribadi masing-masing, maka rumahtangganya selamat dan akhirnya memperoleh berkah dari Allah Yang Maha Pengasih. Terkumpullah segala kebaikan ilahiyah pada keluarga tersebut.

Cinta dan kasih sayang dalam rumahtangga juga tepat bila diibaratkan pepohonan. Agar pohon itu tumbuh subur, kokoh rindang dan lebat berbuah aneka hikmah dan kebajikan, setiap saat perlu dirawat, dipupuk dan disiram. Janganlah pernah beranggapan bila sudah menikah ya sudah, harus cinta sehidup semati dengan sendirinya, jangan macam-macam, titik.

Tidak anak-anakku, tidak seperti itu. Pohon yang tidak dirawat dengan baik akan tumbuh merana diserang berbagai hama dan akhirnya mati. Oleh karena itu janganlah pernah berhenti merawat pohon cinta dan kasih sayang dalam rumahtangga kalian. Allahumma amin.

(FOTO : POHON SEDANG DISIRAM AIR dr Google Images)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s