KISAH AL-QAMAH & KEWAJIBAN BERBAKTI SUAMI ISTRI KEPADA ORANG TUA

Saudaraku,

Dalam hukum pergaulan ada beberapa hal, yang sering dianggap sepele tapi terjadi dan dapat merusak keutuhan rumahtangga.  Salah satu diantaranya adalah hubungan dua Keluarga Besar, yaitu Keluarga Besar Isteri dan Keluarga Besar Suami.

Perkawinan bukanlah sekadar perkawinan dari sepasang anak manusia, melainkan per­kawinan dari dua keluarga besar yang mungkin berbeda tata nilai dan budayanya. Hubungan keduanya insya Allah akan berlangsung baik, tenteram dan harmonis, apabila semua unsur dari kedua belah pihak saling memahami satu sama lain, saling asih-asah-asuh serta juga mengikuti kaidah dan tata pergaulan yang lazim lagi terpuji. Satu sama lain memegang kunci sukses kerja­sama tim.

Satu hal teramat penting yang tidak boleh dilupakan adalah sepasang suami isteri harus tetap bakti kepada ibundanya. Kisah Alqamah, sahabat Rasulullah saw, kiranya patut men­jadi cermin diri untuk memperoleh hikmah darinya.

Alqamah mengalami kesulitan dalam menghadapi sakaratul maut, bahkan Baginda Rasul pun tak kuasa menuntunnya untuk menggumamkan kalimat tauhid. Alqamah hanya mampu dan selalu mengerang kesakitan. Mengapa? Ternyata lantaran ia mendapat murka serta tidak memperoleh rida dan maaf dari ibundanya. “Alqamah dulu memang anakku yang sangat kusayangi,” kata ibunya yang sudah tua renta, “tapi itu dulu, sewaktu belum menikah. Sesudah dewasa dan punya isteri, bukan anakku lagi. Alqamah terlalu sibuk dengan urusannya, terlalu gandrung kepada isterinya, sampai tidak punya waktu untuk berkunjung menengokku. Apalagi nafkah, salam pun tidak pernah dikirim­kannya lagi kepadaku.”

Alqamah yang menderita akhirnya dapat mengucapkan kalimat tauhid, karena Kanjeng Nabi mengancam untuk membakarnya hidup-hidup demi memohonkan maaf dan rida ibunda­nya, dan kemudian sang ibu memang meridai serta memaafkannya. Sebab mana ada seorang ibu yang tega menyaksikan anak kandungnya di­bakar hidup-hidup, meskipun sang anak durhaka kepadanya. Seperti halnya dalam kisah menge­nai kearifan dan keadilan Nabi Sulaiman tatkala menghadapi dua orang ibu yang berebut seorang bayi, si ibu kandung, tidak tega melihat anaknya akan dibelah dibagi dua, dan lebih memilih mengijin­kan anak kandungnya diaku anak oleh ibu yang lain.

Kisah hikmah lainnya, seorang anak kecil melihat ibunya yang kaya raya melayani makan neneknya yang uzur dan pikun menggunakan piring dan cangkir seng. “Mengapa piring dan cangkir nenek dari seng, bukan keramik seperti kita mama?” Tanya sang anak, yang dijawab, “Ya, nenek sudah tua dan suka menjatuhkan piring, maka supaya tidak pecah kalau jatuh, piring dan cangkirnya dari seng saja.”

“Kalau begitu, nanti kalau mama sudah tua, piring dan cangkirnya juga dari seng ya mah?” sahut sang anak lagi. Tak ayal sang ibu terpana, piring yang sedang dipegangnya jatuh berkerontang, pecah berantakan berkeping-keping. Tangannya gemetar, mukanya pucat-pasi, keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya. Ia sadar dan menyesal, selama ini telah tidak berbakti, tidak tahu membalas budi, bahkan memberikan pendidikan yang salah kepada anaknya dalam menghormati orang tua.

Mengenai bakti seorang anak, Kanjeng Nabi memang menegaskan siapakah yang pantas memperolehnya, yakni ibumu, ibumu, ibumu kemudian ayahmu. Penegasan Rasulullah ini, di lain pihak juga menuntut kita sebagai orang tua untuk hati-hati dalam bertutur kata dan bersikap terhadap anak-anak kita. Marilah kita peli­ha­ra dan pupuk terus sikap ikhlas kasih abadi seorang ibu kepada anaknya, dengan selalu menahan diri, menjaga mulut dan tidak menuntut dari anak-anak kita. Allahu­ma amin, semoga anak cucu dan keturunan kita senantiasa dalam hidayah dan rida-Nya, serta dimasukkan dalam golongan hamba-hamba-Nya yang senan­tiasa beriman dan beramal saleh. Aamiin.

(FOTO :  ANAK/PENGANTIN SUNGKEM KE ORANGTUANYA dr Google Images).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s