MEMBANGUN KERJASAMA TIM DALAM RUMAH TANGGA

Di samping mawadah dan rahmah, sabda Kanjeng Nabi, pernikahan adalah amanah Allah. Isteri adalah amanah Allah kepada suami, suami adalah amanah Allah kepada isteri. Oleh karena itu keduanya harus memiliki tekad dan semangat yang tulus dan jujur untuk memenuhi tanggung­jawab, hak dan kewajiban masing-masing dalam rumah tangga.

Di dalam masyarakat kini sedang ber­kem­bang pelatihan untuk membangun kerjasama tim. Perkawinan adalah juga sebuah tim, yang kunci suksesnya ada lima yaitu; pertama, tidak ada benih permusuhan, sebalik­nya yang ada adalah kasih sayang.

Kedua, tidak ada paksaan dalam rumah tangga, baik ketika memasuki bahtera rumah tangga maupun selama di dalam bahtera melayari lautan kehidupan. Kehidupan rumahtangga diwarnai oleh saling asih, asah dan asuh. Tidak ada dominasi dari yang satu atas yang lain. Tidak ada kamus menang-menangan, tetapi justru saling memberi dan saling menerima.

Ketiga, ada ketulusan, kejujuran, saling percaya dan menghormati.

Keempat, bertanggungjawab sesuai posisi masing-masing.

Kelima, mempraktekkan dan mengembangkan kepemimpinan. Ada nakhoda yang jelas. Suami adalah nakhoda dalam keluarga yang harus dipatuhi dan dihormati oleh seluruh anggota keluarga. Oleh karena itu suami harus teguh, kokoh dan berwibawa. Tapi untuk dihormati, tidak boleh dengan cara memaksakan kehendak dan semena-mena. Sebaliknya anggota keluarga, khususnya isteri harus ikut menjaga wibawa sang nakhoda. Tidak boleh ada dua nakhoda dalam satu kapal. Ini tidak berarti isteri tidak berperan. Peranan isteri atau ibu sangat besar. Ia adalah Managing Director yang mengelola bahtera rumahtangga.

Sebagai manajer, isteri wajib tahu arus kas dan sumber perekonomian rumahtangga, serta mengelolanya secara baik dan seimbang. Jangan sampai seorang isteri menutup mata tidak peduli dari mana dan bagimana sang suami memperoleh penghasilan. Tidak peduli suami membawa pulang penghasilan yang melebihi kewajaran atau yang seharusnya. Janganlah sampai kita termasuk dalam golongan orang-orang yang di­kuatirkan Kanjeng Nabi, yaitu tidak peduli lagi dengan harta yang ia ambil, apakah dari halal atau dari haram (Hadis Bukhari).

Harta yang haram, demikian Abah Thoyib berpesan, jika kita konsumsi akan menjadi sumber malapetaka dalam kehidupan. Ia akan menghasilkan pikiran yang kotor, energi atau kekuatan tubuh yang panas yang siap membakar dan meledakkan apa saja terutama diri kita sen­diri, menjadi darah, tulang dan daging yang kotor. Semuanya bergolak mencari pelampiasan yang bisa mengakibatkan rumahtangga beran­takan. Suami ke mana, isteri ke mana, anak ke mana, masing-masing bisa rusak tidak karuan. Sungguh tidak ada hasil yang baik yang berasal dari suatu yang tidak baik. Naudzu­billahi mindzalik.

 

(FOTO : Perahu Layar dari Google Images)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s