SENTUHAN SUNAN BONANG MEMBUAT GAMELAN JAWA MENJADI ORKESTRA YANG MEDITATIF & KONTEMPLATIF

Sunan Bonang yang melegendaris bagi masyarakat Jawa khususnya bagi orang-orang Pantura (Pantai Utara Jawa), Madura dan pulau-pulau di perairan Jawa Timur, ternyata belum menarik minat para peneliti khususnya peneliti nasional, sehingga agak sulit menemukan referensi tertulis yang mendalam mengenainya. Padahal bagi masyarakat Pantura khususnya para penghayat tasawuf, Sunan Bonang dihormati sebagai ulama perintis yang berhasil mengislamkan masyarakat Jawa yang Hindu/Syiwa-Budha dengan menyusupkan secara halus, lembut dan indah, nilai-nilai keislaman dalam budaya Jawa, memasukkan nama-nama nabi dan malaikat dalam mitologi Jawa pada posisi yang mulia di atas nama dewa-dewa Hindu dan pewayangan.

Beliau juga telah menciptakan gerakan-gerakan beladiri 28 jurus yang diberi nama huruf-huruf Arab, mulai dari Alif sampai dengan Ya’. Melalui jurus-jurus tersebut ia mengajarkan baca-tulis Arab dan Al Qur’an.   Jurus-jurus itu “diisi” dengan dzikir yang dikombinasikan dengan olah pernapasan yang dinamakan “Rahasia Alif Lam Mim”. Ilmu-ilmu ini oleh para pengikutnya dilestarikan dalam Padepokan Ilmu Sujud Tenaga Dalam Silat Tauhid Indonesia.

Dalam sejarah kebudayaan Jawa, beliau dikenal sebagai budayawan yang produktif dengan karya-karya yang digemari masyarakat sampai sekarang, mulai dari menciptakan alat musik atau instrumen gamelan Jawa yang disebut Bonang, aneka tembang, irama gending atau komposisi musik gamelan dan cerita wayang yang bernafaskan Islam. “Di bawah pengaruh wawasan estetika sufi yang diperkenalkan para wali termasuk Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, gamelan Jawa berkembang menjadi orkestra polyfonik yang sangat meditatif dan kontemplatif. Sunan Bonang pula yang memasukkan instrumen baru seperti rebab Arab dan kempul Campa — yang kemudian disebut bonang untuk mengabadikan sebutan nama populernya —  ke dalam susunan gamelan Jawa” (http://setyodh.wordpress.com).

Tembang “Tombo Ati” gubahannya yang dilantunkan oleh penyanyi Opick 7 (tujuh) abad kemudian, digemari masyarakat luas dan menjadi penggganti dering nada sambung telpon genggam.

Dalam karya sastra, ia merupakan penulis risalah tasawuf yang ulung. Ia menggubah tembang-tembang tamzil menjadi suluk-suluk tasawuf yang kental dengan budaya Jawa. Suluk adalah jalan menuju atau untuk mendekat kepada Gusti Allah. Jadi arti sesungguhnya juga sama dengan tarekat. Namun dalam pemahaman dan praksis,  suluk adalah suatu latihan guna mencapai ihwal dan maqam tertentu dalam tarekat.

Di jejaring sosial atau internet dewasa ini, kita bisa menemukan sejumlah tulisan yang menyebutkan suluk-suluk karya beliau antara lain Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Kaderesan, Suluk Regol, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat dan Gita Suluk Latri.

Semoga kita bisa mempelajari, memahami, menghayati serta mengamalkan hakekat suluk-suluknya, sehingga kita bisa menghambur dalam pelukan dan belaian kasih sayang Gusti Allah yang Maha Pengasih. Aamiin. (disunting kembali menjadi seri Orang Jawa Belajar Mengenal Gusti Allah ‘2’).

 

(Gambar dari Google Images)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s