MATI SAK JERONING URIP

“Mati sak jeroning urip” atau mati dalam hidup, adalah suatu ungkapan yang sangat dalam maknanya. Ungkapan ini seringkali dirangkai dengan ungkapan berikutnya, “urip sak  jeroning mati”,  dan tahap pembelajarannya  mengikuti ungkapan yang telah dibahas sebelumnya, yaitu “tapa ngrame”, bertapa di tengah keramaian.

Dari kecil saya sudah pernah mendengar ungkapan tersebut. Beranjak dewasa saya makin sering mendengar diucapkan oleh orang-orang tua yang menganut faham Kejawen, bahkan pernah beberapa kali mendengar diucapkan sebagai “cangkriman”, sebagai tebak-tebakan, yang terkesan menunjukkan kehebatan ilmu kebatinan yang bersangkutan.

Faham Jawa khususnya Islam Kejawen meyakini adanya 5 (lima) stasiun pengembaraan manusia. Stasiun Pertama, adalah stasiun  Kota Asal yang disebut Alam Ruh. Di Alam Ruh ini semua ruh berkumpul. Jika Gusti Allah berkehendak menugaskan satu ruh untuk turun ke bumi, maka diperintahkan dewa atau malaikat meniupkan ruh ke dalam janin seorang ibu yang merupakan Stasiun Kedua. Sebelum ditiupkan, dibuatlah perjanjian antara ruh dengan Gusti Allah tentang keesaan Tuhan (Sang Hyang Tunggal), tentang kemahakuasaan Allah (Sang Hyang Wenang), tentang  pengertian baik dan buruk, tentang tugas-tugas di dunia dan alam raya. Bagaikan sebuah pertunjukkan sandiwara, Sang Dalang Maha Sutradara memberikan briefing  mengenai peran yang akan dilakoni oleh sang ruh, dan semua itu  dituliskan dalam sebuah kitab yang dalam cerita wayang dijaga oleh para dewa yang dipimpin Betara Indra, sedangkan yang kuat keislamannya meyakini dijaga malaikat.

Kelahiran Sang Jabang Bayi membawa ruh memasuki Stasiun Ketiga  yaitu kehidupan di dunia. Di Stasiun Ketiga manusia diuji apakah taat dan teguh dalam perjanjian, serta menjalankan peran sesuai skenario yang telah digariskan. Untuk itu Gsti Allah memberikan mandat  kepada setan – jin peri perayangan buat menggoda. Menciptakan hawa nafsu serta pesona dunia guna menguji apakah manusia goyah imannya atau tidak. Apakah kita benar-benar memainkan peran dengan baik selaku khalifatullah fil ard, selaku wakil dan utusan  Sang Pangeran Yang Maha Agung, ataukah lalai lantaran asyik sendiri bersama rayuan setan dan buaian hawa nafsu, tenggelam dalam gemerlap pesona dunia?  Asyik sendiri dalam godaan harta, tahta, kekuasaan dan sang rupawan? Apakah tatkala singgah sejenak untuk  “mampir ngombe (singgah untuk minum)”, kita “amemayu hayuning bawana” melestarikan dan menegakkan rahmat bagi alam semesta dengan segenap isinya, ataukah justru menghancurkannya, menebang hutan, mengaduk bumi, menggempur gunung sesuka kita, membunuh sesama makhluk guna memuaskan dahaga angkara murka dan keserakahan?

Kematian membawa jiwa kita, yaitu hasil sinergi ruh dan tubuh memasuki Stasiun Keempat di Alam Kubur. Di sini kita boleh beristirahat sejenak sambil menunggu pengadilan akhirat. Tentang Stasiun Keempat ini,faham Jawa terbelah dalam dua aliran. Pertama, aliran yang mempercayai bahwa ruh orang yang sudah meninggal dapat menyaksikan perilaku ahli warisnya di dunia, bahkan masih dapat berkomunikasi secara gaib. Ia juga membawa serta berbagai kesaktian dan kekuatan gaibnya yang dimiliki selama hidup di dunia, sehingga keturunannya di samping harus tetap berbakti, juga bisa meminta restu dan pertolongan darinya. Sedangkan meminta tolong kepada ruh maupun balatentara Allah yang gaib, menurut penganut faham ini adalah perkara tolong-menolong biasa di antara sesama hamba Allah dan tidak berarti menyekutukan Allah.

Aliran kedua berpendapat, orang yang sudah meninggal bisa melihat seni peran ahli warisnya di Stasiun Ketiga, namun sudah tak berdaya  memperbaiki dengan mengulang kembali seperti anak sekolah ikut ujian ulangan. Bahkan buat memoles wajah dunianya, yang dapat memperbaiki serta menambah nilai atas seni perannya sewaktu di Stasiun Ketiga,  hanyalah ilmunya yang bermanfaat bagi makhluk Allah yang lain, sedekah jariah dan doa anak-anaknya yang soleh.

Kedua aliran tersebut memiliki persamaan dalam berbakti kepada keluarga yang sudah meninggal, oleh karena itu mereka sama-sama senang melakukan ziarah kubur dan mengirim doa dengan tahlilan serta membacakan Surat Yaasiin.

Demikianlah, tatkala Sangkakala ditiup, maka peradilan Tuhan dimulai, sepak terjang kita selama di Stasiun Ketiga dinilai. Vonis dijatuhkan dan kita harus melanjutkan perjalanan ke Stasiun Kelima, yaitu Kampung Akhirat yang terdiri dari dua bagian, yaitu surga dan neraka. Nah, silahkan menerima  vonis dengan kunci rumah akhirat kita, apakah Istana di surga dengan pesona abadinya, ataukah neraka jahanam. Masya Allah.

Kembali pada ungkapan “mati sak jeroning urip”, ungkapan ini merupakan sesanti sekaligus pepeling,  merupakan nasihat sekaligus peringatan bagaimana kita berperilaku di Stasiun Ketiga, agar kelak kita bisa membangun Istana Akhirat dalam keabadian kita, yakni “urip sak jeroning mati (hidup dalam kematian).  Orang yang mati, tidak berarti tamat sama sekali kehidupan ruhnya. Ia hanya pindah dimensi, yang keadaannya ditentukan oleh amal perbuatannya tatkala di dunia.

Kehidupan di dunia dibandingkan dengan kehidupan di alam keabadian, diibaratkan Kanjeng Nabi Muhammad bagaikan seorang musafir yang singgah sejenak untuk istirahat minum. Tetapi meskipun “hanya sejenak”, banyak hal bisa terjadi. Godaan setan, hawa nafsu dan pesona dunia bisa membuat kita mabok duniawi, melupakan Sang Khalik berikut misi dan peran yang diamanahkan untuk kita kerjakan sewaktu dalam persinggahan.

Selama di dunia, orang harus memilih seperangkat pakaian dengan segala perhiasannya, dari dua perangkat yang ada. Satu perangkat terlihat sangat gemerlap dan sering dikenakan oleh sebagian besar penguasa. Perangkat ini penuh dengan pernik-pernik antara lain kemungkaran, takabur, ujub, riya, kemunafikan dan berbagai sifat yang dalam tata kehidupan dikategorikan sebagai hal buruk. Perangkat yang satunya lagi terlihat amat sederhana dengan pernik-pernik misalkan kema’rufan, tawadhu, dzikrul minnah atau ingat jasa Allah, ikhlas, sabar, tawakal, taat serta berbagai sifat yang dikategorikan baik. Dengan pakaian itu ia kemudian dihadapkan pada berbagai pesona dunia seperti harta, tahta dan daya tarik lawan jenisnya. Selanjutnya digoda oleh panas dan dingin, lapar dan haus, nikmat dan sengsara, sedih dan bahagia, kesulitan dan kemudahan, keraguan dan keyakinan.

Demi membentengi manusia agar tidak melalaikan amanah yang diembannya, dan agar ia senantiasa tegar menjejakkan langkahnya pada jalan menuju dekapan kasih sayang Allah, ia dibekali mantera hakekat : “ Inna shalaati wa nusuki wa mahyaya wa mamaati lillahi Rabbil ‘alamin (sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku, semata-mata hanya bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam)”. Inilah bekal utama para musafair dalam menapaki jalan tasawuf, jalan sufisme. Dengan bekal ini, meskipun ia harus mengemban amanah menebarkan rahmat bagi alam semesta dan segenap isinya, tapi dunia dan akhirat sama saja baginya.

Pesona dunia dengan pakaiannya yang gemerlapan serta berbagai godaan, takkan menggangu langkah-langkahnya untuk senantiasa tekun dan menaati skenario perjalanannya. Karena dunia dan akhirat hanyalah makhluk Allah jua. Dengan keyakinan yang teguh seperti itu, ia memotong dan menghancurkan nafsunya dari segala ketergantungan dan sifat tercela, serta berpaling dari segala makhluk, sampai ia mati dari nafsunya dalam keadaan hidup. Ia menjadi “suwung”, jiwanya bagaikan berada di alam kekosongan, lantaran ia telah “mati sak jeroning urip”, mati dalam hidup. Semua apa yang dipikirkan dan dikerjakan, semua apa yang “dimiliki” sebagai titipan Allah, sungguh semata-mata karena dan bagi Allah.  Hidup dan matinya, apa yang ada dalam pikirannya, apa yang dikerjakan semata-mata karena Allah.  Sementara  pikiran, perbuatan dan badan kasarnya bergerak, jiwanya kosong dari segala pesona dunia yang bisa membuatnya menjadi tawanan hawa nafsu dan setan.

Itulah makna hakiki dari ungkapan tadi. Semoga kita semua dianugerahi taufik dan hidayah untuk menghayati serta mengamalkannya, sehingga kita dapat senantiasa dengan mudah menghambur dalam pelukan Sang Maha Pengasih. Aamiin.

Beji, 13 Mei 2012

(Gbr : dari Google Images)

4 Comments

Filed under Uncategorized

4 responses to “MATI SAK JERONING URIP

  1. setuju mbah. .nyuwun sewu. . . Matur suwun. .

  2. islamjawa

    Matur nwn mas Aries. Salam takzim.

  3. Injih mniko ingkang kulo padosi ..maturnuwun sanget

  4. islamjawa

    Alhamdulillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s