TIADA PESTA YANG TAK BERAKHIR

Seorang sahabat fesbuker mengadu, betapa sulit menasihati sahabatnya yang tengah bergelimang kekuasaan dan kekayaan, padahal kesalahan yang diperbuatya “ceto-welo-welo”, kesalahannya nyata lagi terang benderang. Bukannya berterima kasih tatkala dinasihati, itu pun sudah dilakukan secara empat mata, bahkan berbalik membencinya.

Demikianlah pada umumnya orang yang sedang mabuk kekuasaan dan kekayaan. Oleh karena itu pula beberapa waktu yang lalu kami buat catatan pendek berseri tentang sebuah nasihat dari Prof. Kyai Ali Yafie yang berbunyi  “Jangan dekat-dekat Raja Muda dan juga jangan dekat-dekat orang kaya baru”. Yang dimaksud Raja Muda adalah orang yang  sedang  terbuai dengan dahsyatnya kekuasaan, baik Sang Penguasa itu sendiri maupun orang-orang di sekelilingnya. Sementara orang kaya baru, adalah orang yang sedang mabuk bergelimang harta benda atau kekayaan.

Belajar dari nasihat Lukman, Sang Ahli Hikmah yang namanya diabadikan menjadi salah satu nama surat dalam Al Qur’an, pengemban kekuasaan dan kekayaan adalah kedudukan yang paling sulit dan paling keruh. Kezaliman menyelebunginya dari segala penjuru. Kekuasaan mudah menjerumukan sang pengemban menjadi merasa paling hebat, paling bisa dan paling tahu segalanya. Bisa menentukan hitam-putih, merah-biru nasib orang lain. Kekayaan  bisa menjerumuskan si pemilik merasa dengan harta bendanya bisa menguasai, bisa menundukkan, bisa mengendalikan, bisa membeli, menyuap dan membungkam siapa saja. Kekuasaan dan kekayaan itu bagaikan pisau tajam yang tak bermata, maksudnya tak bisa melihat, sehingga tidak bisa membedakan tenggorokan saudara sendiri.

Dalam kondisi yang seperti itu, bagaimana mereka bisa mendengar dan menerima nasihat? Bagaimana mungkin mereka bisa menerima kebenaran? Apalagi jika jalan menuju kekuasaan dan kekayaannya penuh ambisi yang menggelegak, penuh tipu daya, tak peduli halal haram, tak mengingat baik-buruk (boleh dibaca menjilat, memfitnah, menyuap-disuap, komisi, mark-up serta aneka macam korupsi).

Lantas bagaimana kita harus menyikapinya? Yang pertama, dengan berbekal kesabaran, tetap harus memberikan nasihat sebagaimana dianjurkan dalam surat Al ‘Ashri. Kedua, harus berusaha mengubahnya sesuai nasihat Kanjeng Nabi, yaitu jika mungkin dengan perbuatan, jika tidak bisa dengan ucapan (atau tulisan) dan yang paling lemah adalah dengan hati saja. Ketiga, jika yang pertama dan kedua sudah tidak mempan, lebih baik menjauh saja darinya. Seraya itu tetaplah berbesar hati, karena yakinlah, tiada kekuasaan dan kekayaan yang kekal. Demikian pula tiada kesusahan yang abadi. Tak selamanya langit itu mendung. Dan tiada pesta tanpa akhir.

Apakah kalau begitu kita juga tak usah  memiliki kekuasaan dan kekayaan? Tidak juga, asalkan kita selalu ingat, bahwa kekuasaan dan kekayaan itu penting, tapi keduanya bukan tujuan hidup. Keduanya hanyalah alat, hanya sarana demi mewujudkan cita-cita atau tugas mulia, sebagaimana kita ikrarkan sebelum ruh kita ditiupkan ke dalam janin kita,  yakni melaksanakan tugas selaku wakil dan utusan Gusti Allah di muka bumi dalam rangka menebarkan rahmat bagi alam semesta dengan segenap penghuninya, bukan semata-mata bagi diri kita sendiri. Bukan semata-mata bagi keluarga dan golongan kita.

Kekuasaan dan kekayaan yang diusahakan dengan niat serta tekad seperti itu, insya Allah akan disertai dengan rido, rahmat dan berkah Allah Swt. Sementara itu demi menjaganya agar kita senantiasa amanah dalam mengembannya, senantiasa ingatlah akan hadis Kanjeng Nabi Muhammad saw yang menyatakan bahwa neraka itu dikepung dengan segala kemudahan dan kenikmakan, sedangkan surga dikepung dengan segala kesusahan. Maka jika kita tahu banyak kemudahan dan kenikmatan, sadarlah bahwa sesungguhnya neraka sedang berada sangat dekat dengan diri kita. Sebab itu, hati-hati dan jagalah kekuasaan  serta kekayaan yang sesungguhnya adalah milik Gusti Allah yang tengah diamanahkan kepada kita. Insya Allah selamat sejahtera dunia dan akhirat.

Beji, 22 April 2012

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s